Anda di halaman 1dari 10

Abstrak:

Telah dilakukan percobaan tentang penentuan konstanta laju reaksi hidrolisis


sukrosa atau laju inversi gula. Larutan sukrosa yang akan ditentukan konstanta
laju hidrolisisnya dilakukan variasi waktu(0 m; 15 m; 30 m; 45 m dan 60 m).
Penentuan konstanta laju hidrolisis dilakukan dengan metode penentuan jumlah
fruktosa yang bertambah yang diidentifikasi dengan reagen Selliwanof dan
analisis spektrofotometri untuk menentukan konsentrasi frutosa yang bertambah..
Panjang gelombang maksimum ( maks) yang didapat dari proses scanning adalah
pada 300 nm dan nilai konstanta laju yang dihasilkan yaitu -0.0061 dengan
regresi 0.927. Dengan demikian rekasi hidrolisis sukrosa merupakan rekasi orde
pertama.
Kata Kunci: Laju Inversi gula, spektrofotometri, panjang gelombang, Selliwanof

I.

Data Pengamatan
No

V. HCl

V. KOH

V.Sukrosa

Waktu

Absorbansi

Perubahan

(ml)

(ml)

(ml)

(m)

0.031

Bening

15

0.127

Bening

30

0.177

Kuning

Warna

muda
4

45

0.212

Kuning
muda

II.

60

2.360

Coklat

Hasil dan Pembahasan


Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif pada

penentuan kadar suatu senyawa dalam jumlah kecil berdasarkan absorbansi


senyawa berwarna terhadap cahaya, dimana absorbansinya akan sebanding
dengan konsentrasi senyawa tersebut. Spektrofotometri dapat digunakan untuk
menentukan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa
pemisahan terlebih dahulu. Terdapat dua macam spektrofotometri berdasarkan

panjang gelombang, yaitu spektrofotometri sinar tampak (Visible) dan


spektrofotometri sinar ultraviolet (UV) (Karinda, dkk., 2013 ; Triyati, 1985).
Tabel 2.1 Daerah Spektrum Gelombang Elektromagnetik (Triyati, 1985).

Tabel 2.2 Warna Komplementer (Jeffery, dkk., 1989)

Spektrofotometri diaplikasikan dalam bidang analisis kimia terutama


farmasi (Karinda, dkk., 2013). Selain itu juga diaplikasikan dalam analisis kadar
suatu senyawa dalam jumlah yang sangat kecil (Triyati, 1985).

Inversi gula adalah proses hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
dengan bantuan katalis asam atau enzim invertase. Gula hasil invertasi yang
mengandung glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang sama dinamakan gula
invert (Razak, dkk., 2012). Sukrosa dengan rumus molekul C12H22O11
merupakan disakarida yang akan terhidrolisis dengan bantuan asam
menghasilkan dua monosakarida (C6H12O6) yaitu glukosa dan fruktosa. Reaksi
penguraian / hidrolisis sukrosa ini merupakan reaksi orde pertama yang ditulis
(Siddiqui, 2010):

Analisis Prosedur
Pada penambahan HCl pada larutan sukrosa adalah sebagai katalis asam
untuk menguraikan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Penambahan KOH pada
campuran HCl dan sukrosa bertujuan untuk menghentikan reaksi hidrolisis karena
HCl dinetralkan oleh KOH. Pencampuran antara HCl dan sukrosa menggunakan
variasi waktu yang digunakan bertujuan untuk menentukan berapa besar perubahan
konsentrasi sukrosa dalam waktu tertentu untuk menentukan laju reaksi
hidrolisisnya.
Pada hidrolisis HCl hanya sebagai katalis sehingga jumlahnya tidak
berubah saat reaksi maupun setelah reaksi selesai. Untuk menetralkan HCl supaya
reaksi hidrolisis berhenti diperlukan jumlah basa KOH yang ekivalen sehingga pada
konsentrasi HCl dan KOH yang sama maka gunakan dengan volume yang sama
juga.
Pada variasi waktu 60 menit, sebelum dinetralkan dengan KOH, campuran
sukrosa dan HCl dipanaskan terlebih dahulu supaya reaksi berjalan cepat sehingga
mudah dilihat perubahan konsentrasi sukrosa yang terurai. Penambahan reagen
Selliwanof. Reagen ini terdiri dari senyawa resorsinol (Benzene- 1,3- diol) dan HCl
pekat. Berikut strukture dari reagen Selliwanof:

Gambar 2.1 Struktur Resorsinol


Reaksi antara Selliwanof dan Fruktosa:

Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert-Beer, bila


cahaya monokromatik (I0),melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It).
Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang di transmisikan ketika
melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel
(I0). Persyaratan hokum Lambert-Beer antara lain : Radiasi yang digunakan harus
monokromatik, rnergi radiasi yang di absorpsi oleh sampel tidak menimbulkan
reaksi kimia, sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogeny, tidak terjadi
flouresensi atau phosphoresensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap
konsentrasi, jadi larutan harus pekat (tidak encer).

Sebelum melakukan pengukuran absorbansi larutan, dilakukan proses


Scanning terlebih dahulu pada salah satu variasi larutan yang bertujuan untuk
menentukan panjang gelombang pada saat absorbansi maksimum atau yang disebut
panjang gelombang maksimum(

maks).

Pada proses pengukuran absorbansi

digunakan blanko. Blanko adalah suatu larutan pembanding yang tidak


mengandung senyawa yang dianalisis, hanya mengandung pelarut atau senyawa
lain yang tidak berpengaruh terhadap serapan cahaya oleh sampel.
Analisis Hasil
Berikut ini adalah reaksi hidrolisis sukrosa dengan bantuan katalis asam
beserta strukturnya:

Pada penetralan asam oleh basa. HCl dinetralkan oleh KOH sesuai reaksi:
HCl(aq) + KOH(aq) KCl(aq) + H2O(l)
Setelah dilakukan pengukuran panjang gelombang maksimum, didapat

maks

sebesar 300 nm. Absorbansi yang didapat pada 5 variasi larutan yaitu 0.031, 0.127,
0.177, 0.212, dan 2.360. setelah dilakukan perhitungan dihasilkan konstanta laju
sebesar -0.0061 dengan nilai regresi sebesar 0.927 yang mendekati 1 yang berarti
reaksi ini adalah reaksi orde pertama atau orde 1.

III.

Penutup

a. Simpulan
-

Tetapan laju reaksi hidrolisis sukrosa adalah -0.0061

Katalisa sukrosa oleh ion hidrogen dengan reaksi orde pertama

b. Saran
Sebaiknya menggunakan bahan lain seperti amilum yang akan ditentukan
reaksi hidrolisisnya menggunakan katalis asam menghasilkan glukosa.
Daftar Pustaka
Chang, R., 2010, Chemistry, 10th Edition, McGrawHill, New York
Chang, R. dan Overby, J., 2011, General Chemistry, 6th Edition, McGrawHill, New
York
Daintih, J., 2005, A Dictionary of Science, 5th Edition, Oxford University press,
New York
Jeffery, G.H, Mendham, J., Basset, J. Dan Denney, R.C., 1989, Vogels: Textbook
of Quantitative Chemical Analysis, 5th Edition, Longman Group, UK
Karinda, M., Fatimawati dan Citraningtyas, G., 2013, Perbandingan Hasil
Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan
Metode Spetrofotometri UV-Vis dan Iodometri, J. Ilmiah Farmasi,
UNSRAT, Vol. 2 (1), ISSN: 2302-2493
Pudjaatmaka, A.H., 2002, Kamus Kimia, Balai Pustaka, jakarta
Razak, A.R., Sumarni, N.K. dan Rahmat, B., 2012, Optimasi Hidrolisis Sukrosa
Menggunakan Resin Penukar Ion Tipe Sulfonat, J. Natural Science, Vol.
1(1), 119-131
Siddiqui, I., 2010, Polarographic Investigation of Kinetics of Inversion of Sucrose,
J. Chem. Rasayan, Vol. 3(2), 255-259

Triyati, E., 1985, Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak Serta


Aplikasinya dalam Oseanologi, Oseana, Vol. X(1):39-47, ISSN: 02161822

Jawaban Pertanyaan

Pertanyaan:
1. Terangkan dengan singkat istilah-istilah berikut tentang:
a. Metode coba-coba
b. Metode isolasi
c. Metode kecepatan isolasi
2. Reaksi inversi gula ini merupakan eaksi orde pertama semu,
apakah maksudnya ?
3. Turunkan persamaan reaksi orde satu dimana laju reaksi
ditentukan berdasarkan besaran fisik absorbansi.
Jawaban:
1. a . Metode coba-coba yaitu penetuan orde reaksi dengan
perhitungan dari data konsentrasi dan laju reaksi sutu zat.
Pada metode ini dilakukan trial dan error dengan
membandingkan data 1 dengan suatu data lainnnya dan
diperkirakan berapa orde reaksi yang tepat untuk bisa
menghasilkan perbandingan laj dari kedua data yang sesuai.
b. Metode isolasi adalah orde reaksi A dilakukan dengan
menggunakan data saat B tetap sehingga dapat diketahui
pengaruh A pada laju reaksi. Begitu punla sebaliknya untuk
B.
c. Metode kecepatan awal yaitu menggunakan persamaan
log v = log k + n log C. Tangen dari awal reaksi sebagai laju

awal. Dibuat kurva v Vs log C sehingga diperoleh orde


reaksi dan tetapan laju.
2. Reaksi antara sukrosa dan katalis asam tersebut
menyebabkan sukrosa terhidrolisis oleh air. Inversi sukrosa
mengikuti hukum laju berikut:
d[sukrosa] / dt = k [H+][H2O][sukrosa]
Berdasarkan persamaan tersebut seharusnya orde reaksinya
seharnya orde tiga akan tetapi karena nilai [H+] dan [H2O]
tetap. Sehingga dianggap konstanta dan reaksi ini adalah
orde pertama semu.
3. laju reaksi
AP
v= k [A]o
-d [A] / dt = d[P] / dt = laju reaksi