Anda di halaman 1dari 5

Pembuatan Kurva standar

Dalam praktikum adsorpsi fisika, digunakan suatu alat yg disebut


spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat untuk mengukur transmitan
suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri dari dua
buah instrumen, yaitu : spektrometer berfungsi untuk menghasilkan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu, dan sebuah fotometer yang berfungsi untuk
mengukur instensita cahaya. Instrumen ini diatur sedemikian rupa sehingga sebuah
kuvet yang berisi cairan dapat ditempatkan diantara spektrometer dan fotometer
untuk diukur nilai transmitannya. (sumber>> http://www.chem-is-
try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/spektrofotometri/)
Untuk menggunakan spektrofotometer, terlebih dahulu praktikan harus
menyalakan dahulu kurang lebih sekitar 15-20 menit, hal ini dimaksudkan agar
sinar yang dihasilkan oleh spektrometer mempunyai intensitar yang stabil,
sehingga sinar monokromatis dan hasil percobaan dapat lebih akurat. Sebelum
spektrofotometer digunakan, terlebih dahulu harus dilakukan kalibrasi dengan
menggunakan larutan blanko. Larutan blanko yang digunakan dalam percobaan ini
adalah aquadest. Aquadest dipilih karena, aquadest relatif dianggap kosong atau
tidak mengandung analit yang akan di analisa. Blanko juga digunakan sebagai
faktor koreksi,Karena kosentrasi sampel akan dikuranggkan dengan kosentrasi
blanko pada akhirnya. Selain itu hal lain yg harus diperhatikan adalah kuvet,
permukaan kuvet yang akan digunakan harus tidak boleh terdapat sidik jari. Hal ini
dimaksudkan agar tidak ada kotoran yang menempel sehingga dapat
mempengaruhi perhitungan.
Dalam percobaan ini zar warna yang digunakan sebagai sampel adalah zat
warna merah. Zat warna ini ditimbang dengan berat tertentu dan kemudian
dilarutkan dalam 100 ml aquadest untuk membuat larutan induk. Dari larutan induk
ini diambil sedikit sampel kemudian dimasukan kedalam kuvet. Kuvet kemudian di
masukan kedalam spektrofotometer yang telah di kalibrasi terlebih dahulu dengan
larutan blanko. Pengukuran ini dimaksudkan untuk menentukan panjang gelombang
maksimum untuk larutan sampel yang akan digunakan. Dari hasil percobaan
didapatkan panjang gelombang maksimum sebesar 500 nm, panjang gelombang ini
selanjutnya akan digunakan terus untuk menghitung absoran sampel-sampel zat
warna dengan konsentrasi berbeda yg akan diujikan. Jika dibandingkan dengan
literatur (sumber>> http://asyafe.wordpress.com/2008/07/18/spektrum-cahaya/),
maka terdapat perbedaan panjang gelombang maksimum. Dari literatur, warna
merah memilik panjang gelombang dengan rentang 620nm sampai 750nm
(maksimum). Penggunaan panjang gelombang maksimum dimaksudkan agar
larutan zat warna menyerap sinar atau energi secara maksimum sehingga hasil
pengukuran yang didapatkan, dapat lebih akurat.

Pada spetrofotmeter pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran nilai %T


larutan sampel, bukan nilai adsorban. Hal ini disebabkan karena tingkat ketelitian
%T lebih tinggi dibandingkan dengan nilai A, dimana pada pengukuran %T range
nilainya antar 0-100 merupakan angkat yang lebih speksifik bila dibandingkan
dengan nilai a yang range nya antara 0 sampai tak hingga. Dengan menggunakan
%T maka hasil yang didapat lebih akurat. Nilai absorban dapat dihitung dari setiap
nilai %T yang didapatkan. Setelah nilai adsorban diketahui, maka praktikan dapat
membuat kurva standar, dengan mengalurkan nilai absorban pada sumbu Y
terhadap konsentrasi sampel zat warna pada sumbu X. Pembuatan kurva standar
bertujuan untuk mendapatkan hubungan atara konsentrasi dengan adsorban,
sehingga konsentrasi larutan sampel dapat diketahui. Terdapat dua Metode yang
digunakan untuk mendaptkan persamaan kurva standar, yaitu: metode grafik dan
metode least square.

Pembuatan kurva isoterm adsorpsi Freundlich


Adsorpsi adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase
fluida berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap (adsorben). Biasanya
partikel-partikel kecil zat penyerap dilepaskan pada adsorpsi kimia yang merupakan
ikatan kuat antara penyerap dan zat yang diserap sehingga tidak mungkin terjadi
proses yang bolak-balik . Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban,
dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan
dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media
penyerap. Adsorpsi yang terjadi pada perumakan adsorben dibagi dalam dua jenis,
yaitu:
• Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisik terjadi karena adanya gaya van der walls dan biasanya
adsorpsi ini berlangsung secara bolak-balik. Ketika gaya tarik-menarik molekul
antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari gaya tarik-menarik zat
terlarut dengan pelarut, maka zat terlarut akan cenderugn teradsorpsi pada
permukaan adsorben.
• Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia terjadi karena adanya rekasi kimia antara zat padat
dengan adsorbat larut dan reaksi ini tidak berlangsung bolak-balik. Interaksi
suatu senyawa organik dan permukaan adsorben dapt terjadi melauli tarikan
elektrostatik atau pembentukan ikatan kimia yang spesifik misalnya ikatan
kovalen. Sifat-sifat molekul organik seperti struktur, gugus fungsional dan sifat
hidrofobik berpengaruh pada sifat-sifat adsorpsi.
(sumber>> http://nuphynonoto.blogspot.com/2009/06/bagian-dari-laporan-kp-
kuwh.html)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu


adsorben diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap,
sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter
partikel maka semakin luas permukaan adsorben.
2. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan
adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1 mm,
sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh.
3. Waktu kontak
Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan
penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. KOnsentrasi zat-zat
organic akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar
10-15 menit.
4. Distribusi ukuran pori
Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang
masuk kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengasorpsi atau adsorben
merupakan bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada
dinding-dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel tersebut
(sumber>> http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi_27.html)
Zat yang dapat digunakan sebagai adsorben sangat beragam jenisnya, dan
masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri. Adsorben yang banyak
digunakan dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu:
• Adsorben Organik
Adsorben organik adalah adsorben yang berasal dari bahan-bahan yang
mengandung pati. Adsorben ini sudah mulai digunakan sejak tahun 1979 untuk
mengeringkan berbagai macam senyawa. Beberapa tumbuhan yang biasa
digunakan untuk adsorben diantaranya adalah ganyong, singkong, jagung, dan
gandum. Kelemahan dari adsorben ini adalah sangat bergantung pada kualitas
tumbuhan yang akan dijadikan adsorben. Oleh karena itu, adsorben ini tidak
dipilih dalam penelitian
yang akan dilakukan. Sebagai contohnya : arang aktif/ karbon aktif dan beberapa
senyawa polimer.

• Adsorben Anorganik
Adsorben ini mulai dipakai pada awal abad ke-20. Dalam
perkembangannya, pemakaian dan jenis dari adsorben ini semakin beragam dan
banyak dipakai orang. Penggunaan adsorben ini dipilih karena berasal dari
bahan-bahan non pangan, sehingga tidak terpengaruh oleh ketersediaan pangan
dan kualitasnya cenderung sama. Dalam penelitian ini, adsorben yang dipakai
adalah silika gel dan molucular sieve.
(sumber>> http://www.harnovi.co.cc/2009/12/adsorben-zat-yang-
diadsorbsi.html)
Dalam percobaan ini adsorben yang digunakan adalah karbon aktif. Karbon
aktif digunakan dalam percobaan ini karena, karbon aktif memiliki luas permukaan
yang sangat besar untuk mengadsorpsi bahan organik. Karbon aktif kemudian
ditimbang dengan berat tertentu, kemudian dimasukan pada labu elenmeyer yang
sudah berisi larutan dengan konsentrasi zat warna tertentu. Setelah dimasukan,
elenmeyer ditutup dengan ‘clin wrap’ dan diikat dengan karet, Tujuan penutupan ini
agar didapatkan hasil percobaan yang lebih akurat. Dapat lebih akurat karena
karbon aktif bersifat hirgroskopis dan memiliki selektivitas rendah sehingga dapat
menyerap uap air dan komponen lain dalam udara, maka itu karbon aktif tidak
boleh dibiarkan lama kontak dengan udara luar. Dengan membiarkan karbon aktif
kontak dengan udara dalam waktu yang lama dapat menyebabkan karbon aktif
menjadi jenuh dan massanya berkurang. Setelah diikat oleh karet, maka labu
elenmeyer dikocok dalam wadah yang konstan. Pengadukan/pengocokan ini
bertujuan untuk memaksimalkan proses penyerapan zat warna oleh karbon aktif
dan juga agar karbon aktif tidak mengendap dan dapat menyebar ke seluruh
larutan. Semakin lama waktu pengocokan maka proses adsorpsi oleh karbon aktif
semakin baik, hal ini dikarenakan semakin banyak kapiler yang terbentuk sehingga
zat warna semakin mudah terserap. Selain itu pengocokan konstan dilakukan agar
pada setiap labu memiliki laju reaksi yang sama antara zat warna dengan karbon
aktif. Penambahan karbon aktif kedalam setiap labu juga dilakukan secara
bersamaan, hal ini agar waktu tinggal karbon aktif disetiap labu menjadi kurang
lebih sama. Setelah dilakukan pengocokan, labu yg berisi larutan dan karbon aktif
disaring menggunakan kertas saring whatman 40, tujuan dari penyaringan ini
adalah untuk memisahkan larutan dari karbon aktif, sehingga pada saat sampel
larutan ini diukur dengan spektrofotometer, yang terukur hanya %T larutan yang
sebagian zat warnanya sudah diadsorp oleh karbon aktif. Dengan mendapatkan %T
maka nilai absorban (A) dapat dihitung. Setelah itu praktikan dapat menghitung
nilai w dari data-dat yang didapat dari percobaan, Kemudian kurva isoterm adsorpi
dapat dibuat dengan mengalurkan nilai log C (konsentrasi) sebagai sumbuh X
terhadap log w pada sumbu Y. Untuk perhitungan untuk mendapatkan persaaman
kurva, metode yang digunakan adalah metode grafik dan metode least square.
Pada percobaan dengan menggunakan karbon aktif sejumlah 50 mg dan
waktu pengocokan 25 menit, didapatkan hasil perhitung persamaan kurva : Y =
0.2017X - 0.8011. Sedangkan untuk praktikan kelompok lain (Riviani-Oktivani) yang
menggunakan karbon aktif sejumlah 100 mg dan waktu pengocokan 25 menit,
didapatkan persamaan kurva : Y = 0.3262X - 0.8218 dan untuk praktikan kelompok
(Rony-Adriana) yang menggunakan karbon aktif sejumlah 100 mg dan waktu
pengocokan 35 menit, didapatkan persaamaan kurva : Y = -0.5815X - 0.8191. Jika
membandingkan data dari kelompok lain, maka didapatkan perbedaan, perbedaan
ini dapat terjadi karena jumlah karbon aktif yang digunakan berbeda-beda dan juga
waktu pengocokan yang dilakukan berbeda-beda.