Anda di halaman 1dari 12

STRUKTUR GEOLOGI JAWA TENGAH

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Geologi Indonesia
Yang dibina oleh Drs. Mustofa, M.Si.

Oleh
Ahmad Fathoni
Dila Dwi Nur Cahyati
Retno Diah Suryani
Sefrilla Syah Malida

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
Februari 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara fisiografi dan struktural Van Bemelen membagi Pulau Jawa
menjadi empat bagian antara lain, sebelah barat Cirebon (Jawa Barat), Jawa
Tengah (antara Cirebon dan Semarang), Jawa Timur (antara Semarang dan
Surabaya), dan cabang sebelah timur Pulau Jawa yang meliputi Selat Madura dan
Pulau Madura.

Keempat bagian Pulau Jawa tersebut memiliki karakteristik

kondisi geologis yang berbeda-beda. Begitu juga bagian Jawa Tengah.


Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua
provinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Letaknya antara 540' dan
830' LS dan antara 10830' dan 11130' BT (termasuk Pulau Karimunjawa).
Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan 226 km
(tidak termasuk Pulau Karimunjawa). Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi
29 kabupaten dan 6 kota. Luas wilayah Jawa Tengah pada tahun 2009 tercatat
sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas Pulau Jawa
(1,70 persen dari luas Indonesia). Jawa Tengah juga merupakan bagian yang
sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, dengan lebar pada arah utaraselatan sekitar 100 120 km.
Jawa Tengah memiliki karakteristik fisik yang bervariasi. Hal tersebut
tidak lepas dari proses geologi yang dialami maupun yang terjadi di Jawa Tengah.
Di Jawa Tengah terdapat busur gunung api yang tumbuh pada zona lemah
sehingga terdapat beberapa gunung api di atasnya. Selanjutnya juga terdapat
tumbukan lempeng tektonik yang berdampak pada terjadinya pengangkatan dan
pelipatan lapisan geologi pembentuk pulau sehingga membentuk geomorfologi
yang bervariasi seperti dataran landai, perbukitan dan dataran tinggi. Kondisi
geologi yang demikian menjadikan Jawa Tengah mempunyai potensi ancaman
bencana alam. Bencana gempa bumi di Klaten, tsunami di Pantai Selatan Jawa,
erupsi gunung berapi Merapi dan tanah longsor di Banjarnegara merupakan
sebagian bukti kebencanaan yang pernah terjadi di Jawa Tengah.

Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang kondisi geologi dan sedikit
fisiografi tentang Jawa Tengah. Selain itu juga akan dijelaskan tentang
kenampakan-kenampakan alam yang ada di Jawa Tengah akibat proses geologi
yang telah terjadi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kondisi fisiografis Jawa Tengah?
2. Bagaimanakah struktur geologi Jawa Tengah?
3. Bagaimanakah kenampakan alam di Jawa Tengah akibat proses geologi?

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Fisiografis di Jawa Tengah
Buranda (TT:84-89) secara fisiografi, jawa tengah dibagi menjadi 4
bagian:
1.
2.
3.
4.

Pegunungan Selatan
Pegunungan Serayu Selatan
Pengungan Serayu Utara
Dataran Pantai Utara

1. Pegunungan selatan
Pegunungan selatan di Jawa Tengah sisa-sisanya dapat ditemukan di peg.
Progo barat, Karangbolong, Selok atau G. Srandil, dan Nusa Kambangan.
Pegunungan Progo Barat terdiri dari batuan vulkanik andesit tua yang tertutup
oleh batuan gamping. Di sebelah timur pegunungan Progo barat, sebelah utara
Sentolo terdapat bukit Nanggulan yang terdiri dari batuan sedimen eosen. Bukit
Nanggulan ini terbentuk sebagai hasil squeezing out lapisan sedimen klastis
berumur eosen karena tekana tertutup dengann lapisan breksi yang ada di atasnya.
Pegunungan karang bolong terdiri dari batuan breksi andesit tua yang tertutup
dengan limestone. Daerah pantai selatan Jawa Tengah dijumpai serangkaian
gosong pasir misalnya di Parangtritis dengan ketinggian 5-15 meter dan lebarnya
sekitar 100-500 meter.
Dataran pantai selatan ini oleh Pannekoeck dikatakan berupa teluk ketika
pegunungan selatan meluncur ke dasar lautan Hindia. Endapan sungai di lautan
Hindia dihempaskan oleh gelombang ke pantai sehingga lama kelamaan menjadi
daratan. Dilihat dari hubungannya dengan unut-unit struktural di Jawa Timur, Van
Bemmelen menganggap dataran pantai selatan Jawa Tengah posisinya sama
dengan subzone Blitar.

2. Pegunungan Serayu Selatan


Zona Pegunungan Serayu Selatan terletak diantara Pegunungan Serayu
Utara dan Zona Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah dan punggungan.

Pegunungan Serayu Selatan memanjang dari arah Timur ke Barat dengan jarak
lebih dari 100 kilometer, dengan bagian terlebar daerah ini adalah terletak di
daerah Loh Ulo. Loh Ulo terletak di sebelah selatan Banjarnegara dan sebelah
utara Kebumen. Di daerah Loh Ulo ini dijumpai singkapan batuan pratersier
seperti Jiwo Hill (Bayat) dan Pelabuhan Ratu (Ciletuh). Di daerah Loh Ulo ini
juga dijumpai batuan campur aduk (melange) berumur Cretaceous seperti sekis
mika di Sadang, lava bantal dan rijang di kali Muncar, Seboro, serpentit di
Pucangan, marmer di Totogan, filt di Sungai Loh Ulo, batu gamping numulit di
utara kampus LIPI, konglomerat di depan kampus LIPI, rijang di Wagirsambeng,
batu pasir greywacke di kali Cacaban, breksi di Waturanda, gabro di sebelah barat
sekitar 5 kilometer dan lain-lain.
3. Pegunungan Serayu Utara
Pegunungan Serayu Utara memiliki luas 30-50 km. Zona Serayu Utara ini
pada bagian utara dibatasi oleh Dataran Aluvial Utara Jawa. Pada bagian barat
dibatasi oleh Gunung Slamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan gunung
api muda dari Gunung Rogojembangan, Gunung Prahu dan Gunung Ungaran.
Pegunungan serayu utara merupakan lanjutan dari kendeng ridge di Jawa
Timur yang oleh Stille dikatakan terangkat lebih awal yaitu pada plio-pleistosen.
Sedimen di geosinklin Jawa Utara mengalami gaya kompresi dari selatan yang
menyebabkan terlipat-lipat dan terjadi patahan serta terangkat diatas permukaan
laut.
Gunung Ungaran merupakan gunung api kuarter yang menjadi bagian
paling timur dari Pegunungan Serayu Utara. Daerah Gunung Ungaran ini di
sebelah utara berbatasan dengan dataran aluvial Jawa bagian utara, di bagian
selatan merupakan jalur gunung api Kuarter (Sindoro, Sumbing, Telomoyo,
Merbabu), sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Pegunungan
Kendeng. Bagian utara Pulau Jawa ini merupakan geosinklin yang memanjang
dari barat ke timur (Bemmelen, 1970).
Gunung Ungaran mengalami collapse sehingga pecah dan runtuh ke
bawah sepanjang patahan-patahan yang tidak beraturan. Akibatnya daerah bukit
Candi di Semarang selatan terlipat-lipat. Patahan dan runtuhan di puncak Ungaran

bermula di bagian selatan sehingga ketika runtuh menekan lapisan sedimen di


kaki utaranya sehingga terlipat.
4. Dataran pantai utara
Dataran pantai utara merupakan hasil sedimentasi dari pegunungan serayu
utara di sebelah selatannya. Dataran pantai ini bersambung dengan depresi
Semarang sampai Rembang. Pengendapan di muara-muara sungai mempercepat
perluasan pantai misalnya di muara kali pemali, kali comang, kali bodri dan kali
semarang mencapai 12 meter/tahun.

2.2 Struktur Geologi Jawa Tengah


Struktur geologi Jawa Tengah mengacu kepada Asikin (1974). Seperti
umumnya perkembangan tektonik di Jawa, evolusi tektonik di Jawa Tengah juga
dapat dibagi tiga, yaitu tektonik akhir paleogen, tektonik intra neogen dan
tektonik akhir neogen. Tektonik akhir paleogen seperti di tempat tempat lain
hampir di seluruh Daratan Sunda (Lempeng Mikro Sunda), dicirikan oleh
pembentukan sesar sesar regangan yang menghasilkan tinggian dan deperesi.
Berdasarkan data seismik dimana dapat diamati dengan jelas adanya gejala
gejala ketidakselarasan, maka diyakini bahwa pada akhir paleogen hampir
sebagian besar daerah mengalami pengangkatan dan muncul dipermukaan dan
mengalami pengikisan yang kuat.
Juga mengemukakan bahwa pada eosen akhir, pusat kegiatan magma
berada di Pegunungan Serayu Selatan hingga ke Bayat dan Parangtritis di selatan.
Kegiatan magma eosen ini ditandai dengan dijumpainya singkapan singkapan
batuan beku dan vulkanik berupa aliran lava, jenjang, sumbat vulkanik dan
sejumlah korok yang memotong batuan Pra Tersier dan Eosen. Di Bayat dan
Parangtritis, terdapat sejunlah singkapan korok dan intrusi yang sebagian besar
bersusunan basaltis yang memotong batuan Pra Tersier dan batu gamping Eosen.
Penentuan umur secara radiometri memberikan angka yang berkisar antara 33,1
24,3 Ma. Susunan kimiawinya menunjukkan asosiasi batuan kalk alkalin andesit
basaltis.

Pusat kegiatan magma Eosen Akhir-Miosen Awal ini sekaligus merupakan


pusat tinggian di Jawa Selatan (Busur magmatis). Kegiatan magma yang lebih
muda lagi (Miosen Akhir-Pliosen) nampaknya agak bergeser keutara dengan
dijumpainya singkapan batuan volkanik di daerah Karangkobar (sebelah Utara
Luh-Ulo, daerah Banjarnegara). Dijumpai dalam bentuk korok-korok, jenjang dan
sumbat vulkanik, aliran lava serta intrusi-intrusi dangkal. Umurnya secara
radiometrik berkisar antara 11.16 Ma, 8.9 Ma dan 3 Ma. Batuan vulkanik Tersier
muda juga didapatkan di daerah Cilacap berupa korok dan sill yang memotong
formasi Halang yang berumur N16-N18. Secara petrografis memperlihatkan
kesamaan dengan batuan andesit dan basalt di daerah Karangkobar. Penentuan
umur memberikan angka 8.7 dan 5.1 Ma.
Pada Tersier Awal, pusat pengendapan terjadi di utara (Depresi Bobotsari)
sebagai cekungan belakang busur dan di selatan (Depresi Kebumen) sebagai
cekungan depan busur dengan diisi oleh endapan gravitasi (turbidit) yang
sebagian besar terdiri dari bahan klastika gunung api. Kegiatan vulkanisme Tersier
tersebut berlangsung hingga Pliosen dengan pergeseran lebih ke utara.
Dari data gaya berat, pola struktur Jawa Tengah memperlihatkan adanya 3
(tiga) arah utama, yaitu : barat laut tenggara di dekat perbatasan dengan Jawa
Barat, timurlaut barat daya di selatan sekitar G. Muria, dan barat timur yang
umumnya berupa perlipatan. Hal ini juga diungkapkan Putrisiwi dkk, 2014)
bahwa pola struktur di Jawa Tengah memperlihatkan adanya 3 arah utama
yaitu baratlaut-tenggara, timurlaut-barat daya, timur-barat. Di daerah loh ulo
dimana batuan pra-terser dan tersier tersingkap dapat dibedakan menjadi 2 pola
struktur utama yaitu arah timurlaut-baratdaya, dan barat-timur. Hubungan antar
satu batuan dengan yang lainnya mempunyai lingkungan dan ganesa pembentukan
yang berbeda yang terdapat didalam melange.
Struktur geologi Jawa Tengah dapat dikenali dengan adanya kenampakan
pegunungan yang dikelilingi oleh dataran alluvial. Secara umum struktur geologi
yang bekerja adalah sebagai berikut:
1.

Struktur Dome

Menurut Van Bemellen (1948) (dalam Anonim, 2012) pegunungan Kulon


Progo secara keseluruhan merupakan kubah lonjong yang mempunyai diameter
32 km mengarah NE SW dan 20 km mengarah SE NW. Puncak kubah lonjong
ini berupa satu dataran yang luas disebut Jonggrangan plateu. Kubah ini
memanjang dari utara ke selatan dan terpotong dibagian utaranya oleh sesar yang
berarah tenggara barat laut dan tertimbun oleh dataran magelang, sehingga
sering disebut oblong dome. Pemotongan ini menandai karakter tektonik dari zona
selatan Jawa menuju zona tengah Jawa. Bentuk kubah tersebut adalah akibat
selama pleistosen, di daerah yang mempunyai puncak yang relative datar dan
sayap sayap yang miring dan terjal. Dalam kompleks pegunungan Kulon Progo
khususnya pada lower burdigalian terjadai penurunan cekungan sampai di bawah
permukaan laut yang menyebabkan terbentuknya sinklin pada kaki selatan
pegunungan Menoreh dan sesar dengan arah timur barat yang memisahkan
gunung Menoreh denagn vulkan gunung Gadjah. Pada akhir miosen daerah Kulon
Progo merupakan dataran rendah dan pada puncak Menoreh membentang
pegunungan sisa dengan ketinggian sekitar 400 m. secara keseluruhan kompleks
pegunungan Kulon Progo terkubahkan selama pleistosen yang menyebabkan
terbentuknya sesar radial yang memotong breksi gunung ijo dan Formasi Sentolo,
serta sesar yang memotong batu gamping Jonggrangan. Pada bagian tenggara
kubah terbentuk graben rendah.
2.

Unconformity
Di

daerah

Kulon

Progo

terdapat

kenampakan

ketidakselarasan

(disconformity) antar formasi penyusun Kulon Progo. Kenampakan tersebut


berupa formasi andesit tua yang diendapkan tidak selaras di atas formasi
Nanggulan, formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras diatas formasi
Andesit Tua, dan formasi Sentolo yang diendapkan secara tidak selaras diatas
formasi Jonggrangan (Anonim, 2013).

2.3 Kenampakan Alam Di Jawa Tengah Akibat Proses Geologi

2.3.1

Karangsambung
Ilham (2013) mengemukakan bahwa Karangsambung menjadi daerah

yang menjadi perhatian bagi para ahli geologi, karena ada beberapa fenomena
geologi yang jarang tersingkap di Pulau Jawa, yaitu antara lain :
1. Tersingkap berbagai jenis batuan mulai dari yang berumur Pra-Tersier
(Kapur Atas) hingga Kuarter. Untuk daerah Pulau Jawa, batuan berumur
pra-Tersier sangat jarang dijumpai.
2. Adanya percampuran berbagai jenis batuan Pra-Tersier hingga Paleosen,
yang

proses

pembentukannya

dikontrol

oleh

aktifitas

tektonik.

Bercampurnya berbagai jenis batuan oleh proses tektonik ini dikenal


sebagai batuan bancuh atau Melange.
3. Ukuran dan jenis bongkah di dalam Melange ini sangat bervariasi. Ukuran
komponen mulai dari yang berukuran kerikil hingga bongkah bahkan di
beberapa lokasi bongkah tersebut membentuk bukit yang soliter. Seluruh
bongkah tersebut tertanam dalam masa dasar lempung bersisik yang
berwarna hitam dan mengkilap (Scally clay). Selanjutnya jenis batuan
(jenis bongkah) di dalam melange ini juga bervariasi, terdiri atas batuan
ofiolit (batuan beku basa dan ultra basa), sedimen laut dalam (Pelagik),
sedimen laut dangkal hingga transisi dan sedimen darat.
Fenomena geologi tersebut diatas sangat jarang ditemukan di Pulau Jawa.
Hingga saat ini hanya ada tiga lokasi yang memiliki karaketristik yang sama yaitu
daerah Bayat (Jawa Tengah), Ciletuh (Jawa Barat) dan Karangsambung sendiri.
Dari seluruh peneliti ini semuanya sepakat bahwa batuan pra-tersier hingga
Paleosen

merupakan

batuan

bancuh

(Melange),

yang

pembentukannya

dipengaruhi oleh aktivitas tektonik yang sangat kuat. Dikaitkan dengan teori
tektonik lempeng, salah satu proses pembentukan melange ini disebabkan oleh
adanya tumbukan dua buah lempeng atau lebih, yang akhirnya di dalam zona
tumbukan (Trench) terjadi percampuran berbagai macam batuan yang satu sama
lain saling tergeruskan.
Berdasarkan peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa (S. Asikin, A.
Handoyo, H. Busono, S. Gafoer, 1992) (dalam Ilham, 2013) dapat diketahui

bahwa batuan di daerah ini mulai dari yang tertua (Paleosen) hingga termuda
(Pliosen) terdiri dari :
1. Kompleks Melange Luk Ulo yang berupa bongkah-bongkah batuan Pra
Tersier dengan massa dasar serpih hitam (berumur Kapur Atas)
2. Formasi Karangsambung yang tersusun oleh batulempung bersisik dengan
bongkah batugamping , konglomerat, batupasir, batugamping dan basal
(berumur Eosen). Dalam formasi ini terdapat pula batugamping terumbu
yang berupa olistolit.
3. Formasi Totogan yang tersusun oleh breksi dengan komponen
batulempung, batupasir, batugamping dan basal (berumur Oligo-Miosen)
4. Formasi Waturanda yang tersusun oleh batupasir kasar, makin ke atas
berubah menjadi breksi dengan komponen andesit, basal dan massa dasar
batupasir tuf. Dalam Formasi ini terdapat anggota tuf yang tersusun oleh
perselingan tuf kaca, tuf kristal, batupasir gampingan dan napal tufaan
(berumur Miosen Awal).
5. Formasi Penosogan yang teridiri dari perselingan batupasir gampingan,
batulempung, tuf, napal dan kalkarenit (berumur Miosen Tengah).
6. Diabas yang merupakan batuan beku intrusi hasil aktivitas volkanik
(Miosen Tengah)
7. Formasi Halang yang tersusun oleh perselingan batupasir, batugamping,
napal dan tuf dengan sisipan breksi (berumur Pliosen)
8. Formasi Peniron yang terdiri dari breksi dengan komponen andesit,
batulempung, batugamping, serta massa dasar batupasir tufan bersisipan
tuf.
9. Endapan Pantai yang berupa pasir lepas
10. Alluvium yang berupa lempung, lanau, pasir, kerikil dan kerakal.

BAB III
KESIMPULAN

Secara fisiografi Jawa Tengah dibagi menjadi empat bagian antara lain,
Pegunungan Selatan, Pegunungan Serayu Selatan, Pengungan Serayu Utara, dan
Dataran Pantai Utara. Masing-masing bagian tersebut terbentuk karena aktivitas
geologi khususnya akibat dampak tektonik.
Struktur geologi Jawa Tengah berdasarkan masanya dapat dibagi tiga,
yaitu tektonik akhir paleogen, tektonik intra neogen dan tektonik akhir neogen.
Masa-masa tersebut dapat dikatakan sebagai evolusi tektonik di Jawa Tengah.
Karena aktivitas tersebut Jawa Tengah kaya dengan berbagai bentuk atau
kenampakan alam hasil dari evolusi tektonik. Sehingga di Jawa Tengah juga
banyak ditemui berbagai jenis batuan bahkan jenis batuan melang atau batuan
yang bercampur aduk. Secara umum struktur geologi yang bekerja di daerah Jawa
Tengah adalah struktur dome dan struktur unconformity (ketidakselarasan).
Sehingga di Jawa Tengah memiliki beberapa kenampakan alam yang tidak
dijumpai di daerah Jawa lainnya.
Karangsambung merupakan kawasan yang menjadi laboratorium alam.
Banyak peneliti geologi yang memusatkan perhatian pada daerah tersebut karena
kenampakan alam di Karangsambung sangat jarang ditemui di bagian Pulau Jawa
lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2012. Geologi Regional Kulon Progo. (Online),


(http://geologitfugm.blogspot.com/2012/11/geologi-regional-kulonprogo_13.html), diakses 30 Januari 2015.
Buranda, J.P. TT. Geologi Indonesia.
Ilham. 2013. Karangsambung-Kebumen-Jawa Tengah. (Online),
(http://aingdesob.blogspot.com/2013/01/karangsambung.html), diakses
30 Januari 2015.
Putrisiwi, dkk. 2014. Pengaruh Tektonik Terhadap Pembentukan Jawa Tengah.
(Online), (http://blog.ub.ac.id/nara/2014/04/14/tugas-anlan-minggu2_tektonik/), diakses 30 Desember 2015.