Anda di halaman 1dari 5
8 Baletio FRI-UGM 6, 1588 PENGARUH INOKULASI ISOLAT LOKAL LEPTOSPIRA @IDUGA L, TARASSOVI) TERHADAP PANAS BADAN DAN "DAILY WEIGHT GAIN” MARMOT Oleh: Bambang Sumiarto*) ‘Setyawan Budiharta *) Bambang Warudju *) ABSTRACT ‘This study was carried out.to investigate the effects of artificial inoculation of local isolate of Leptospira interrogans suspected of tarassovi on temperatures and daily weight gain of local guinea pigs. Five guinea pigs as controls and 25 as treated group were used throughout the study. Inoculation ‘sas performed subcutaneously with either 1 ml of 8-day old culture of sterile EMJH medium. Temperatures and body weights of the animals were taken every morning and afternoon daily 7 days before and after inoculation. It was shown that the isolate caused fever in 23 of the 25 treated. guina pigs, of Which6 (20%) showed the temperatutes of 40°C or higher. Decreases in daily weight gain as much as 3.15% were observed among the treated group. INTISARI ‘Telah diteliti pengaruh inokulasi isolat lokal Leptas- ira terduga tarassovi tethadap kenaikan panas badan dan penurunan berat badan marmot. Penelitian dilaku- kan dengan menggunakan 30 ekor marmot, dibagi 2 ke- Jompok masing-masing 25 ekor sebagai kelompok perla- kuan dan 5 ekor sebagai kelompok kontrol. Marmot kelompok perlakuan diinokulasi dengan isolat lokal Leptospira terduga tarassovi umur 8 hari se- banyak 1 mililiter setiap ekor secara subcutan. Marmot kelompok kontrol diinokulasi dengan 1 mililiter media EMgHsteril-Pengukuran Panas badan danpenimbangan berat badan dilakukan 7 hari sebelum inokulasi dan 7 hari sesudiah inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan babwa inokulasi Lep- tospira tetduga tarassovi menimbulkan respon demam selama fase leptospiremia, yaitu 23 ekor marmot (92°%) membefikan respon demam nyata dan 2 ekor marmot {8%) tidak memberikan respon demam. Sedang dari 23 kor marmot, 6 ekor marmot (26%) memberikan respon demam mencapai 40°C atau lebih. ‘Terjedi penurunan Tata-rata persentase “daily weight gain” sebesar 3,15% dibanding sebelum inokulasi. PENDAHULUAN Leptospirosis adalah penyakit bakterial bersifat zoonosis yang dapat menimbulkan gangguan keseharan manusia, disebabkan oleh bakteri spirochaeta dari genus Leptospira. Di Indonesia penyakit ini tidak begitu opuler karena kurangnya penelitian dan publikasi. Berdasarkan Uji Aglutinasi mikroskopik Leptospira patogen dapat dibagi dalam 18 serogrup, yang kemudi- an di bagi dalam 200 serovar berdasarkan Uji Aglutinasi Absorpsi (Anonimus, 1980). Sejak tahun 1967 oleh WHO Comitte, semua Leptospira diklasifikasi dalam satu species yaitu Lepfaspira interrogans terdiri Leptas- ira interrogans strain patogen dan Leptospira bifleksa yang betsifat saprotitik. Selanjutnya Leptospira interro- ‘gans dibagi lagi ke dalam 16 serogrup yang kira-kira ada 130 serotipe Leptospira patogen. dan ini telah ditetapkan ‘ole WHO (Hungerford, 1975; Hanson dan Ferguson, 1975). Genus Leptospira berbentuk filamen tipis ukuran 0,1 mikron x 6-20 mikron, dengan ujung-ujung membeng- kok membentuk kait, badannya bergelombang tidak teratur dengan amplitudo berukuran 0,4 - 0,5 mikron. ‘Organisme ini mempunyai amplop luar sebagai pelin- dung protoplasma dengan dua flagella untuk alat gerak yang terletak di bawah amplop luar (Johnson, 1981). ‘Leptospirosis menyebabkan kerugian ekonomi di bidang peternakan akibat gangguan reproduksi, pemeli- haraan hewan yang tidak produktif, penurunan berat badan, mastitis, nephritis interstitialis, dan kematian akibat anemia hemolitika dan septisemia (Partoatmo- jo, 1964; Johnson, 1981; Blood et af., 1983). Di Indonesia leptospirosis sudah lama dikenal di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan dapat