Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Stilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu “Style” yang berarti gaya dan dari bahasa serapan
“linguistic” yang berarti tata bahasa. Stilistika menurut kamus Bahasa Indonesia yaitu Ilmu
Kebahasaan yang mempelajari gaya bahasa. Sedangkan menurut C. Bally, Jakobson, Leech,
Widdowson, Levin, Ching, Chatman, C Dalan, dan lain-lain menentukan stilistika sebagai suatu
deskripsi

linguistik dari bahasa yang digunakan dalam teks sastra. Bagi Leech, stilistik adalah simple
defind as the (linguistic) study of style. Wawasan demikian sejalan dengan pernyataan
Cummings dan Simmons bahwa studi bahasa dalam teks sastra merupakan…branch of linguistic
called stylistic. Dalam konteks yang lebih luas, bahkan Jakobson beranggapan bahwa poetics
(puitika) sebagai teori tentang system dan kaidah teks sastra sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari Linguistic. Bagi jakobson

Poetics deals with problem of verbal structure, just as he analysis of painting is concered
with pictorial structure since linguistics is the global science of verbal structur, poetics may be
regarded as an integral of linguistic (Amminuddin :1995 :21).

Berbeda dengan wawasan di atas, Chvatik mengemukakan Stilistika sebagai kajian yang
menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagai kode estetik dengan kajian stilistik yang menyikapi
bahasa dalam teks sastra sebagaimana bahasa menjadi objek kajian linguistik (Aminuddin :
1995 :22). Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika perhatian utamanya
adalah kontras system bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren : 1990 : 221).

Bertolak dari berbagai pengertian di atas, Aminuddin mengartikan stilistika sebagai studi
tentang cara pengarang dalam menggunakan system tanda sejalan dengan gagasan yang ingin
disampaikan dari kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk itu yang dijadikan sasaran kajian
hanya pada wujud penggunaan system tandanya. Walaupun fokusnya hanya pada wujud system
tanda untuk memperoleh pemahaman tentang ciri penggunaan system tanda bila dihubungkan
dengan cara pengarang dalam menyampaikan gagasan pengkaji perlu juga memahami (i)
1
gambaran obyek/peristiwa, (ii) gagasan, (iii) ideologi yang terkandung dalam karya sastranya
(Aminuddin : 1995 :46).

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkenalan Dengan Stilistika


Stilistika ialah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi
penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam kesusastraan (Junus, 1989:xvii). Sejalan dengan
pendapat di atas, stilistika ialah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya
sastra, dan (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa (Kridalaksana, 1982:157).
Beberapa pengertian itu dapat diringkas: stilistika adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika
itu sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga
dalam bahasa pada umumnya. Namun, perlu diingat bahwa karya sastra merupakan kesatuan
wacana yang memuat seluruh gagasan atau ide pengarangnya. Selain itu, karya sastra juga
memiliki gaya bahasa yang umumnya mencerminkan totalitas karya, tidak hanya sekedar bagian-
bagian dari aspek bahasa. Dengan demikian, analisis stilistika secara umum dilakukan sebagai
upaya untuk menggali totalitas makna karya sastra dan analisis secara khusus yang mencoba
melihat gaya bahasa bagian perbagian.

Telah diungkapkan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa (style). Dari definisi
tersebut kemudian muncul pertanyaan: apakah gaya bahasa? Gaya bahasa ialah (1) pemanfaatan
kekayaan bahasa oleh seorang penutur dalam bertutur atau menulis, (2) pemakaian ragam
tertentu untuk memperoleh efek tertentu pula, dan (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok
penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50; Mas, 1990:13-14; Suwondo, 2003:151-152). Dalam
buku On Defining Style, Enkvist (Junus, 1989:4), menyatakan bahwa gaya adalah (1) bungkus
yang membungkus inti pemikiran yang telah ada sebelumnya; (2) pilihan antara berbagai-bagai
pernyataan yang mungkin; (3) sekumpulan ciri pribadi; (4) penyimpangan norma atau kaidah; (5)
sekumpulan ciri kolektif; dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang
lebih luas daripada kalimat.

Dengan demikian, stilistika adalah ‘jembatan’ yang memanfaatkan aspek-aspek linguistik (di
satu pihak) untuk mengkaji atau melakukan kritik terhadap karya sastra (di pihak lain).
3
Hubungan itu tercipta karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan oreintasi linguistik.
Stilistika mengkaji cara sastrawan dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang
ditimbulkan oleh penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam
wacana sastra, ciri yang membedakannya dengan wacana nonsastra, dan meneliti deviasi
terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Dengan kata lain, stilistika meneliti fungsi puitik
bahasa (Sudjiman, 1993:3; Suwondo, 2003:152).

Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakupi diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal),
struktur kalimat, majas, citraan, pola rima dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau
yang terdapat dalam karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). Selain itu, aspek-aspek bahasa yang
ditelaah dalam studi stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya
intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat (Pradopo dalam Suwondo, 2003:152).

B. Prsoedur Kajian Stilistika


Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif.
Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian
stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan system tanda dalam karya
sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empiric
merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila
dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian.

Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan


menikmati,memahami,dan menghayati system tanda yang digunakan dalam karya sastra yang
berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang.

Dari penjelasan selintas di atas dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan
apresiasi sastra meliputi :

1. Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.


2. Analisis hubungan antara system tanda yang satu dengan yang lainnya.

4
3. Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan
bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin : 1995 :98).

Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari
kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan
dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin :1995 :
42).

Pada kritik sastra ini prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :

1. Analisis aspek gaya dalam karya sastra.


2. Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda
baca dan cara penulisan.
3. Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra (Aminuddin : 1995 :
42-43).

C. Kajian Stilistika Puisi 1/2 Cangkir Kopi di Situ Gintung.

Stilistika puisi adalah telaah penggunaan bahasa dalam prinsip stilistika sastra. Oleh karena
itu, yang menjadi fokus dalam stilistika puisi adalah bagaimana penggunaan bahasa dalam puisi-
puisi penyair, apakah ciri bahasa dalam puisi (bahasa puisi) apa sajakah unsur/komponen
stilistika puisi, bagaimanakah hubungan bahasa dengan puisi ?

Berikut adalah puisi 1/2 cangkir kopi di Situ Gintung.

1
/2 Cangkir Kopi di Situ Gintung

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di kumuh pucat situ gintung
Membanjiri rumah malammu, seribu jari hitamya mencekik sudut parum.

Dengarlah degup jantung planet gelisah. Pada hitam lumpur situ gintung kuciumi jejak sirna
airmata matahari, menjelma burung hantu menukik rebah berdarah di ulu hati.
5
Sepasang ikan mas bergelingan di kabut basah, bernyanyi di sinar bulan, mengigit kenangan
terbakar, lalu tertawa menumpang bintang jatuh ke surga terjauh.

Ketika jam meleleh menjemput huruf kedinginan yang memaksa abadi di kamar kematian, tawa
kecilmu menjelma fajar melayarkan puisi mimpi kanak-kanakmu

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di situ gintung. Wajah mungilmu
mengapung di koran pagi, “kabarkan, aku bersama Tuhan, tak sendirian.”

Komponen-komponen stilistika yang akan dibahas dari puisi ini antara lain bunyi, irama,
kata, kosa kata, pemilihan kata, denotasi dan konotasi, bahasa kiasan.

1. Bunyi
Dalam puisi bersifat estetik, merupakan unsure puisi untuk mendapatkan keindahan dan
tenaga ekspresif. Misalnya, lagu, melodi, irama, dan sebagainya. Bunyi di damping hiasan dalam
puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu untuk memperdalam ucapan,
menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang
khusus, dan sebagainya.

Karena pentingnya peranan bunyi ini dalam kesusastraan, bunyi ini pernah menjadi
kepuitisan yang utama dalam sastra romantik yang timbul di Eropa Barat. Menurut teori
simbolisme, tugas puisi adalah mendekati kenyataan ini, dengan cara tak usah memikirkan arti
katanya, melainkan mengutamakan suara, lagu, irama, dan rasa yang timbul karenanya dan
tanggapan-tanggapan yang mungkin dibangkitkannya. Baik dalam aliran simbolisme maupun
romantic arti kata terdesak oleh bunyi atau suaranya. Dengan begitu, kesusastraan telah
kemasukan aliran seni music (Slametmuljana, 1956:59).

Kombinasi bunyi-bunyi vokal dan bunyi-bunyi konsonan menimbulkan bunyi merdu yang
mendukung suasana mesra, bahagia, kasih sayang, gembira, dan bahagia. Namun ini kontras atau
berlwanan dengan puisi 1/2 Cangkir Kopi di Situ Gintung. Puisi di atas menceritakan mengenai
kejadian bencana yang terjadi di Situ Gintung. Pada bencana itu, Tuhan tidak pandang bulu
6
terhadap manusia baik maupun yang buruk. Seluruhnya dihancurkan oleh Tuhan. Namun penulis
puisi berorientasi kepada seseorang yang meninggal pada bencanamu itu yang dapat
dikategorikan baik dan itu adalah seseorang yang ia kenal di pagi hari ketika pada sast itulah,
orang mulai meminum kopi.

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di kumuh pucat situ gintung
Membanjiri rumah malammu, seribu jari hitamya mencekik sudut parum.

Permainan bunyi dalam sajak itu tidak mengatasi sebuah keburukan atau kecemasan, yang
disebabkan ada tidaknya sebuah kepuasan dalam hubungan pencitraan keadaan. Unsur puisi yang
lain adalah sajak. Sajak bukan semata-mata untuk hiasan saja, melainkan untuk mempertinggi
kualitas bila mempunyai daya eevokasi, yaitu daya kuat untuk menimbulkan pengertian. Sajak
itu berupa ulangan suara, tetapi bila tidak diusahakan dengan kesadaran dan tidak dijadikan dasar
ciptaan, maka ulangan itu bukan sajak. Pada puisi 1/2 Cangkir Kopi di Situ Gintung karya M.
Fadjroel Rachman terdapat bagian yang bukan berupa sajak, dan hanya sebuah kebetulan.

Dengarlah degup jantung planet gelisah. Pada hitam lumpur situ gintung kuciumi jejak sirna
airmata matahari,
menjelma burung hantu menukik rebah berdarah di ulu hati.

2. Irama
Hal yang masih erat berhubungan dengan pembicaraan bunyi adalah irama. Unyi-bunyi yang
berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang
hidup, seperti gemercik air yang mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang teratur itulah yang
disebut irama. Irama dalam bahasa asingnya rhytm (Inggris), rhytme (Prancis), berasal dari kata
Yunani reo, yang berarti riak air. Gerakan-gerakan air yang teratur, terus, menrus, dan tidak
putus-putus. Itulah barangkali setiap gerak yang terartur disebut reo. (gerakan air mengalir).
Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan
bunyi bahasa dengan teratur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa iramaitu pergantia berturut-
turut secara teratur. Irama ini tidak terbatas hanya pada kesusastraan saja, melainkan juga pada
seni rupa, dan terlebih lagi pada seni musik. Dalam pusisi timbulnya irama itu, karena

7
perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.
Begitu juga karena adanya paralelisme-paralelisme, ulangan-ulanagan bait. Juga disebabkan oleh
tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemah, disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan
vokalnya atau panjang pendek kata, juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis: gatra
atau kelompok kata.

Sesungguhnya irama itu dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metrum dan ritme.yaitu
metrum adalah irama yang tetap. Artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal
ini disebabkan oleh jumlah suku kata yang sudah tetap dan tekanannya yang tetap hingga alun
suara yang menaik dan menurun itu tetap saja. Ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan
atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang
tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.

Pada puisi 1/2 Cangkir di Situ Gintung, terdapat sebauh irama yang membuatnya terasa
merdu, mudah dibaca, juga menjadi sebuah hal menyebabkan pembaca berkonsentrasi penuh
terhadapnya, dan menimbulkan bayangan-bayangan angan yang jelas dan hidup.

Sepasang ikan mas bergelingan di kabut basah, bernyanyi di sinar bulan, mengigit kenangan
terbakar, lalu tertawa menumpang bintang jatuh ke surga terjauh.

Ketika jam meleleh menjemput huruf kedinginan yang memaksa abadi di kamar kematian, tawa
kecilmu menjelma fajar melayarkan puisi mimpi kanak-kanakmu

Puisi yang merdu bunyinya dikatakan melodius: berlagu seolah-olah seperti nyanyian yang
mempunyai melodi, layaknya puisi di atas. Melodi adalah paduan susunan deret suara yang
teratur dan berirama (Kusbini, 1953:62). Melodi itu timbul karena pergantian nada kata-katanya,
tinggi rendah bunyi yang berturut-turut. Makin kuat melodi nyanyian kian liris sajak itu.
Bedanya melodi nyanyian dengan melodi puisi itu ada pada bagian nada yang terdapat pada
sajak itu tidak seberapa banyaknya dan jarak interval (jarak nada) itu juga terbatas.

3. Kata

8
Satuan arti yang menentukan structural formal linguistic karya sastra adalah kata. Dalil seni
sastra J. Elena menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang
menjadi dasarnya dapat dijilmakan ke dalam kata. Untuk mencapai ini pengarang
mempergunakan berbagai cara. Terutama alatnya yang terpenting adalah kata.

Dalam pembicaraan ini akan ditinjau arti kata dan efek yang ditimbulkannya. Kata-kata yang
telah dipergunakan oleh penyair, oleh SlametMuljana disebut kata berjiwa (1956:4), yang tidak
sama (artinya) dengan kata dalam kamus, yang masih menunggu pengolahan. Penyair tampaknya
mempergunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari belum cukup dapat melukiskan
apa yang dialami jiwanya (1956:5). Dalam puisi belum cukup bila hanya dikemukakan
maksudnya saja, yang dikehendaki penyair ialah supaya siapa yang membaca dapat turut
merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan dan dialami oleh penyair.

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di situ gintung. Wajah mungilmu
mengapung di koran pagi, “kabarkan, aku bersama Tuhan, tak sendirian.”

Kata “mengapung’ itu mengkonkretkan sebuah anggapan, bahwa wajah dari orang tersebut
terlihat oleh si pembaca dan seolah-olah mengatakan kalau dia tidak sendirian di sebuah tempat
bersama Tuhan.

4. Kosa Kata
Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan dalam bahasa. Baik tidaknya
tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata. Kehalusan perasaan
sastrawan dalam mempergunakan kata-kata sangat diperlukan. Juga diperbedaan arti dan rasa
sekecil-kecilnyapun harus dikuasai pemakaiannya. Sebab itu pengetahuan tentang leksikografi
sastrawan merupakan syarat mutlak.
Seorang penyair dapat juga mempergunakan kata-kata kuno yang telah punah, seperti yang
ditunjukkan oleh Amir Hamzah yang menpergunakan kata marak dan kata leka, yang
keberadaannya tidak pernah kedengaran lagi. Pengarang sering mempergunakan kata-kata bahsa
daerah, misalnya penyair dari Jawa, penyair dari Padang, dan sebagainya. Pemakaian kata daerah
ini secara estetis harus juga dapat dipertanggungjawabkan, artinya penggunaannya harus dapat

9
menimbulkan efek puitis, atau memang dalam bahasa Indonesia, kata-kata daerah tidak ada.
Begitu juga halnya penggunaan kata-kata asing harus dapat menimbulkan efek puitis, seperti
dalam sajak-sajak Chairil Anwar, namun tidak banyak.

Ketika jam meleleh menjemput huruf kedinginan yang memaksa abadi di kamar kematian, tawa
kecilmu menjelma fajar melayarkan puisi mimpi kanak-kanakmu

Penggunaan kata dalam bahasa sehari-hari dapat menimbulkan efek realistis, dan kata-kata
yang digunakan mengandung kesan estetis, maka akan menimbulkan efek yang romantis. Dalam
penggalan puisi di atas terdapat kesan estetis yang menampilkan kesan yang begitu romantis,
namun tidak terlalu. Karena penulis hanya sekedar membayangkannya.

5. Pemilihan Kata
Penyair hendaknya mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya
seperti yang dialami batinnya. Selain itu, ia juga mengekspresikan dengan ekspresi yang dapat
menjilmakan pengalaman jiwanya tersebut. Pemilihan kata dalam sajak disebut diksi.
Diksi puitis seperti yang diungkapkan oleh Barfield (2952:41) bertujuan untuk mendapatkan
kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik.
Untuk ketepatan pemilihan kata seringkali penyair menggantikan kata yang dipergunakan
berkali-kali, yang dirasa belum tepat, bahkan meskipun sajaknya telah disiarkan (atau dimuat di
majalah.) Bahkan ada juga yang menghilangkan baris atau susunannya.

Ketika jam meleleh menjemput huruf kedinginan yang memaksa abadi di kamar kematian,
tawa kecilmu menjelma fajar melayarkan puisi mimpi kanak-kanakmu

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di kumuh pucat situ gintung
Membanjiri rumah malammu, seribu jari hitamya mencekik sudut parum.

Kata melayarkan di atas merupakan sebuah prumpamaan yang menjelaskan tentang rasa
berduka ketika ia tahu bahwa anak kecil tersebut telah tiada dan mimpi-mimpinya telah berlalu

10
bersama dirinya yang juga telah tiada, Sedangkan kata tumpah menggambarkan air bah itu
seolah-olah air dalam gelas yang tumpah dan meluluhlantakkan seluruhnya tanpa pandang bulu.

6. Denotasi dan Konotasi


Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi ialah artinya menunjuk, dan
konotasi, yaitu arti tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah defeinisi kamusnya, yaitu
pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu, disebabkan, atau
diceritakan (Altenberd, 1970:9). Bahasa yang denotatif, adalah bahasa yang menuju kepada
korespondensi satu lawan satu antara tanda dengan yang ditunjukkan.

Namun dalam puisi, sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja. Bukan
hanya berisikan sebuah arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya, yang ditimbulkan
oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya.

Bahasa sastra mempunyai srgi ekspresifnya membawa nada dan sikap si pembicara atau
penulis.

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di kumuh pucat situ gintung
Membanjiri rumah malammu, seribu jari hitamya mencekik sudut parum.

1/2
Cangkir Kopi Tumpah menandaka bahwa air bah yang yang menghajar Situ Gintung
belum semuanya yang “tumpah”, melainkan hanya sebagian. Seribu Jari Hitamnya, diandaikan
kepada kopi yang bewarna hitam pekat dan air dari Situ Gintung itu juga mengandung lumpur
yang warnanya kecoklat-coklatan mirip kepada hitam yang menghantam rumah malam yang
bermakna mimpi.
7. Bahasa Kiasan
Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan
kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini
mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih
menarik, dan hidup.

11
Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di kumuh pucat situ gintung
Membanjiri rumah malammu, seribu jari hitamya mencekik sudut parum.(merupakan sebuah
personifikasi)

Dengarlah degup jantung planet gelisah. Pada hitam lumpur situ gintung kuciumi jejak sirna
airmata matahari, menjelma burung hantu menukik rebah berdarah di ulu hati. (Merupakan
sebuah metafora)

Sepasang ikan mas bergelingan di kabut basah, bernyanyi di sinar bulan, mengigit kenangan
terbakar, lalu tertawa menumpang bintang jatuh ke surga terjauh.(Merupakan sebuah sinekdoki)

Ketika jam meleleh menjemput huruf kedinginan yang memaksa abadi di kamar kematian, tawa
kecilmu menjelma fajar melayarkan puisi mimpi kanak-kanakmu. (Merupakan sebuah metafora)

Rara, rara, aku mengenangmu karena 1/2 cangkir kopi tumpah di situ gintung. Wajah mungilmu
mengapung di koran pagi, “kabarkan, aku bersama Tuhan, tak sendirian.” (Merupakan sebuah
personifikasi).

D. Kajian Stilistika Lolongan Di Balik Dinding


Cerita pendek ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang selalu merasa kesepian. Dia
bahkan meninggalkan ibunya dan pindah ke apartemen yang tidak seorang pun dia kenal, dan
memang tempat seperti itulah yang dia harapkan.

Malam hari, dia selalu memandang dirnya yang memeluk guling di cermin lemari pakaian
yang bisa memperlihatkan dirinya yang memang sangat kesepian. Dia tidak ingin lagi melihat
dirinya dicermin itu, dan memindahkan lemari tersebut kesisi ruang lain.

Sejak lemari itu dipindahkan, pada malam hari dia selalu mendengar lolongan dibalik
dinding yang mengairahkan, yang membuatnya terangsang. Dia tidak mengenal wanita di
sebelah apartemenya. Tapi perempuan di kamar sebelah itu bersuara karena sentuhan laki-laki.

12
Sementara ia bersuara karena sentuhan perempuan, sentuhannya sendiri untuk menghilangkan
kesunyiaanya.

Yang dia tahu bahwa setiap malam hari akan ada seorang laki-laki masuk ke kamar wanita
itu dan setelah lolongan di balik dindingnya hilang laki-laki itu akan pergi dan mengingalkan
wanita itu terisak.

Karena keingintahuannya dia ingin menyelidiki lelaki seperti apa yang rela membuat wanita
disebelah apartemenya menunggu setiap malam, hanya untuk beberapa jam. Akhirnya dia
melihat lelaki yang membuat wanita disebelah apartemenya menangis. Dia sangat terkejut,
karena dia sangat mengenal lelaki itu. Lelaki yang membuat ibunya menunggu sama halnya
dengan wanita itu. Menunggu ayahnya yang tidak pernah pulang dari dia berumur tujuh hingga
dua puluh lima tahun. Ibunya tetap menunggu. Tapi ia sudah tidak mau. Ia meninggalkan rumah
masa kecilnya satu bulan yang lalu. Berniat mencari sentuah laki-laki yang selama ini ia rindu.

“Lolongan Di Balik Dinding” menggambarkan ia yang diceritakan ingan sekali mendamba


sentuhan laki-laki, karena ia ditinggal ayahnya sejak berumur tujuh tahun. Di tengah kesepian
yang ia rasakan, ia melihat ayah yang selama ini membuat ibunya menunggu, juga membuat
menunggu seorang wanita disebelah kamarnya. Dan mulail saat itu dia benci lolongan di balik
dinding kamarnya karena laki-laki itu adalah ayahnya.

1. Tema
Dalam cerita ini penulis ingin mengisahkan seorang perempuan yang selalu merasa
kesepian. Dia mengharapkan sentuhan laki-laki. Dia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah
sejak berumur tujuh tahun, hingga sampai umur dua pulu lima tahun.

Dia tidak lagi tinggal dengan ibunya, yang selalu menunggu ayahnya kembali, dia
akhirnya tinggal disebuah apartemen yang tidak seorangpun dikenalnya, begitu juga sebaliknya.
Namun dalam cerita ini Djenar membuat si pelaku berani melanggar konvensi-konvensi
tradisional. Dia berani melanggar tabu-tabu budaya. Bahkan dia menghindari kesepiaanya
dengan memuaskan dirnya dengan sentuhannya sendiri, dia meninggalkan ibunya, dan tinggal
disebuah apartemen.

13
Ketika dia melihat kembali ayahnya pada apartemenya dia sangat remuk dan sedih. Tidak
tau harus berbuat apa. Dia bingung apa yang ditawarkan ayahnya apakah hanya kebutuhan seks?
Yang membuat ibu dan perempuan yang ada disebelah apartemenya selalu menanti kedatangan
laki-laki tersebut yang juga ayahnya. Bahkan ibunya hampir berpuluh-puluh tahun menunggu
tanpa kepastian. Dan dia sangat membenci makhluk yang bernama lelaki.

2. Seeting dan Penokohan


Ada beberapa tanda yang langsung menyatakan bahwa seeting cerita “Lolongan Di Balik
Dinding” adalah daerah perkotaan, diantaranya apartemen yang ditinggali olehnya. Kafe dan
diskotik yang dia datangi. Perusahan tempat dia bekerja, kemacetan yang dirasakanya di dalam
taksi yang mengantarnya.

Kehidupan di apartemen yang saling cuek dan tidak peduli dengan orang lain juga
dialami olehnya. Dia tidak mengenal siapa tetangganya. Kompleks apartemen dipandang sebagai
tempat yang bisa menghilangkan kesepian yang dia alami.

Dia digambarkan tinggal disebuah apartemen, namun bukan tempat tinggal biasa. Yang
dikemukakan oleh Djenar adalah apartemen yang tidak peduli dengan orang lain.lolongan
disebelah kamarnya akibat sentuhan laki-laki yang dirasakan oleh wanita disebelah kamarny a
yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan laki-laki yang membuat wanita itu menunggu adalah
ayahnya sendiri, yang sudah meninggalkan ia dan ibunya sejak bertahun-tahun lainnya.

3. Pengacuan
Pengacuan (referensi) merupakan salah satu alat kohesi wacana. Dalam cerpen Lolongan
di balik dinding terdapat dua pengacuan yaitu pegacuan demonstratif.

Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua pronominal
demonstratif waktu dan pronominal demonstratif tempat. Demonstratif waktu terdiri atas waktu
sekarang, lampau, akan dating, dan waktu netral. Demonstratif tempat terdiri dari tempat yang
dekat, jauh, agak jauh, dan eksplisit. Pada cerpen “Lolongan Di Balik Dinding” banyak terdapat
demonstrative waktu lampau dan tempat yang eklisit seperti data berikut.

1. sebulan yang lalu, bukan telinganya namun lemari yang menempel di dinding itu.

14
2. sosok tubuh laki-laki yang dulu pernha begitu ia kenal dan masih ia tunggu melilntas didepan

pintunya.

3. Menunggu ayahnya yang hanya pulang sekali seminggu.

4. Lalu sekali dua minggu

5. Lantas tiga kali seminggu.

6. Berminggu-minggu

7. Berbulan-bulan

8. Bertahun-tahun

9. ia meninggalkan rumah masa kecilnya

Data (1) sebulan yang lalu menunjuk demonstratif waktu yang menyatakan
kepindahannya ke apartemen. (2) dulu menunjuk masa lalunya yang sangat mengenal laki-laki
yang dilihatnya.

Data (3) sekali seminggu, (4) sekali dua minggu, (5) tiga kali seminggu, (6) berminggu-minggu,
(7) berbulan-bulan, (8) bertahun-tahun menunjuk dalam demonstratif waktu yang membuat
ibunya menunggu kedatangan ayahnya. Adapaun pronominal demonstrative tempat secara
eksplisit terdapat pada data (9) rumah masa kecilnya yang mengacu pada tempat ia dan ibunya
menunggu kedatangan ayahnya.

4. Komparatif
Salah satu bentuk kohesi gramatikal adalah komparatif yaitu membandingkan dua hal
atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak,
perilaku, dan sebagainya. Cerpen “Lolongan di Balik Dinding” mempunyai satu kohesi
gramatikal yang perupa pengacuan komparatif yaitu sama (10),

15
10. Suara yang halus sama pada kalimat itu membandingkan suara yang halus dengan lolongan

di kamar sebelah.

5. Penyulihan (Subsitusi)
Penyulihan atau subsitusi adalah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian
satuan lingual (tertentu yang telah disebutkan) dengan satuan lingual lailn dalam wacana untuk
memperoleh unsure pembeda. Pada cerpen Lolongan di Balik Dinding terdapat beberapa bentuk
penyulihan seperti data berikut.

a. Subsitusi Verbal
Terdapat subsitusi satuan lingual verbal dalam cerpen ‘Lolongan di Balik Dinding”
antara lain:

11. Menyelinap di helai uang perusahaan yang harus ia setor. Menguntitnya ke keramaian kantin

karyawan.

12. Merangkulnya di bangku kafe sambil mendelik ke arah teman-temanya yang tertawa

menggelegar dengan kepala tanpa beban. Meliuk bersama tubuhnya di lantai dansa maupun meja

bar.

Pada (11) satuan lingual verba menyelinap disubsitusi dengna satuan lingual
menguntitnya. Pada (12) satuan lingual verbal merangkulnya disubsitusi satuan lingual verba
meliuk.

b. Subsitusi Frasa/ Klausa


Dari analisi pada cerpen ‘Lolongan di Balik Dinding” terdapat subsitusi frasa dan frasa
seperti terlihat dalam kutipan berikut.

(13). Ia sering tidak ingain bangun. Ia ingin mampus.

16
Data (13) menampilkan subsitusi satuan lingual yang berupa frasa tidak ingin bangun dengan
satuan lingual frasa ingin mampus.

Pada tingkat kalimat atau klausa ternyata cerpen ‘Lolongan di Balik Dinding” terdapat
subsitusi satuan lingual yang berbentuk klausa oleh satuan lingual berbentuk klausa.

(14). Begitu Dekat. Seperti tak ada sekat

Pada data (14) satuan lingual Begitu dekat menjadi subsitusi seperti tak ada sekat.

6. Elips (pelesapan)
Pelesapan (ellips) merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa
penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya.
Pelesapan dapat berbentuk kata, frasa, atau klausa. Pada cerpen “Lolongan di Balik Dindin”
terdapat beberapa pelesapan seperti data berikut.

a. Ellips Kata
(15). a. Ia sering tidak ingin bangun. Ia O ingin mampus

b. Ia sering tidak ingin bangun. Ia sering ingin mampus.

b. Pelesapan Frasa
(16). a. Selama itu berlangsung, bulu-bulunya merinding. O Mengeras pula kedua puting.

b.Selama itu berlangsung, bulu-bulunya merinding. Selama itu berlangsung mengeras pula

kedua puting.

(17). a. Mau tak mau ia jadi peduli. O ia jadi memperhatikan

b. Mau tak mau ia jadi peduli. Mau tak mau ia jadi memperhatikan.

c. Pelespan Klausa/Kalimat
(18). a. Mungkin ia hanya sekedar tertidur.
17
O Mendengkur

O Berliur

b. Mungkin ia hanya sekedar tertidur

Mungkin ia hanya sekedar mendengkur

Mungkin ia hanya sekedar berliur.

(19). a. Kesunyaian yang selalu membuntutinya ke kantor. O Menyelinap di helai uang

perusahaan yang harus ia setor.

b. Kesunyian yang selalu membuntutinya ke kantor. Kesunyian yang selalu menyelinap di

helai uang perusahaan yang harus ia setor.

7. Perangkaian/Konjungsi
(20). Tapi lemarinya tidak semua terdir dari kayu

(21). Jika ia sedang tertidur di atas ranjangnya lalu berbalik kekanan ketiga cermin itu serempak

menampilkan tubuhnya.

(22). Dan membimbingnya yang berjalan terseok sepanjang lorong apartemen menuju kamar.

(23). Sementara ia bersuara karena sentuhan perempuan. Sentuhanya sendiri.

(24). Lalu Hilang

(25). Sore hari ketika ia pulang kerja, kertas itu masih tergantung di sana.

Adapun analisis leksikal dari cerpen Lolongan Di Balik Dinding, antara lain :

8. Repetisi
18
Ada 8 jenis repetisi menurut Sumarlan (2003:34) yaitu repetisi epizeuksis tautotes,
anaphora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalesis, anadiplosis, dan repetisi utuh. Repetisi
dimaksudkan untuk memberikan tekanan pada sebuah konteks yang sesuai. Hasil analisis
terhadap cerpen “Lolongan di Balik Dinding” terdapat beberapa jenis repetisi walaupun tidak
semua repetisi tersebut di atas.

a. Repetisi Epizeukis
(26). Tapi perempuan di kamar sebelah itu bersuarak karena sentuhan laki-laki. Sementara ia

bersuara karena sentuhan perempuan . sentuhanya sendiri.

(27). Ia merasa punya teman. Teman yang sama-sama merasa sunyi setelah sentuhan laki-lakidi

tubuhnya berhenti dan tak melolong lagi ketika ditinggal pasangannya pergi. Teman yang

membuatnya iri karena paling tidak mendapat kesempatan melolong akibat sentuhan laki-laki di

malam hari.

b. Repetisi Epistrofa
(27). Sampai dering weker yang itu-itu lagi membuatnya bangun. Dengan guling yang itu-itu

lagi ketika ia bangun.

9. Sinonim
Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal guna mendukung kepaduan wacanan.
Sinonimi dipakai untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan ligngual tertentu
dengan satuan lingual lain dalam wacana. Dalam cerpen “Lolongan di Balik Dinding “ terdapat
sinonimi kata pada data.
(28). Ia meninggalkan rumah masa kecilnya satu bulan yang lalu.

10. Antonim
(29). Kesunyian itu menjadi teman dalam keramaian.

Oposisi mutlak antara kesunyian >< keramaian


19
(30). Lolongan panjang. Lolongan pendek

Oposisi mutlak antara panjang >< pendek

(31). Tapi perempuan di kamar sebelah itu bersuara karena sentuahan laki-laki. Sementara ia

bersuara karena sentuah perempuan.

E. Kajian Stilistika Kembang Jepun

1. Sistemika Pemaparan

Novel “Kembabg Jepun” ini cenderung termaksud wacana jenis naratif dan deskriptif.
Wacana naratif merupkan rangkaian tuturan yang menceritakan kejadian melalui penonjolan
tokoh atau pelaku (orang pertama atau orang ketiga), sementara wcana deskriptif adalah
merupakan rangkaian tuturan yang memaparkan atau melukiskan sesuatu , baik berdasarkan
pengalaamn maupun pengetahuanpenuturnya, sehingga tercapai pengamatan yang angak
imajinatif terhadap suatu dan pendengar atau pembaca seolah mengalamai secara langsung.

Berdasarkan pada pemikiran tersebut, isi novel akan dicermati dengan pendekatan teks
dan konteks. Dengan demikian analisis yang dipakai adalah Analisis Mikrotekstual yang
berkaitan erat kohesi tekstual dalam urutan kalimat sehingga membentuk koherensi dan Analisis
Makrotekstual yang berkaitan dengan factor-faktor di luar kebahasan. Berkaitan dengan
keunikan bahasa yang dipaparkan dalam novel ini, analisis berikutnyua adalah mengenai
Pemakaian Bahasa.

2. Analisis Mikrotekstual

Dalam analisis ini, teks ditinjau dari dua aspek utama yaitu aspek gramatikan dan aspek
leksikal.. pendekatan melalui aspek grmatikal berate mencermati struktur lahir bahasa, sementara
pendekatan melalui aspek leksikal berarti mencermati struktur batin atau hubungan antar unsure
dalam wacana secara semantik.

a. Aspek Gramatikal

20
b. Aspek Leksikal

3. Analisis mikrotekstual.

1. Prinsip Penafsiran Personal : Tokoh-tokoh dalam novel “Kembang Jepun”

Novel ini mengeisahkan petualangan tokoh –saya, yang diperankan oleh Keke gadis yang
bekerja sebagai Geisha yang berasal dari Sulewesi. Keke diubah namanya menjadi Keiko agar
mirip menjadi seorang gadis Jepang. Keke sebenarnya tidak tahu kalo dirinya akan menjadi
Geisha karena dia dibawa dari kampung oleh kakanya untuk bersekolah.

Tokoh-tokoh yang mempengaruhi tokoh –saya adalah orang-orang di sekitar lingkungan


tempat kerjanya sebagai geisha, kekasihnya, dan masyarakat.

a. Tjak Broto (kekasih Keke), dialah kunci perjalanan kisah perjalanan hidup Keke (saya),
karena Tjak Broto adalah kekasih Keke dan menjadi suaminya.

b. Kataro Takamaru, dialah pemilik shiju atau tempat Keke bekerja sebagai Geisha.
Diistilahkan dialah orang menjebak kakak Keke untuk menjual Keke menjadi Geisha dan
mengubah nama tokoh –Saya menjadi Keiko.

c. Yoko, adalah tokoh yang mengajari tokoh –Saya. Guru Geisha bagi anak-anak yang dijual
oleh kakak tokoh utama yakni Keke. Yoko pertama sanggat jahat kepada Keke karena rasa
cemburu terhadap kecantikan dan kepopulerannya tetapi di akhir cerita dia menjadi tokoh
pendukung untuk perjalanan tokoh- saya.

d. Jatje, adalah kakak kandung Keke. Dialah tokoh yang memulai perjanan hidup Keke singga
menjadi seorang Geisha dan bertemu dengan Tjak Broto.

e. Rahajoe, dia adalah adiknya Tjak Broto yang nantinya melahirkan seorang anak laki-laki.
Dan pada akhirnya anak laki-lakinya itu yang menolong perjalan hidup Keke, setelah tua
dan mempertemukan dia dengan Tjak Broto kekasihnya.

f. Ibu Tjak Broto Ranggoningsih, dialah tokoh yang membuat Keke menjadi bimbang dan
merasa tidak berharga karena menolak dia menjadi seorang istri bagi Tjak Broto yang pada
akhirnya disetujui juga, tetapi Keke kehidupannya hilang dengan hadirnya kisah lain.

21
g. Mbah Soelis, tokoh yang berperan untuk membantu perkawinan cucunya Tjak Broto dengan
Keke (tokoh utama –saya).

h. Tante Mar adalah tante dari Tjak Broro. Tokoh ini yang berperan sebagai orang yang
membuat Keke kesal karena sikapnya yang cerewet dan banyak bicara dan mengurusi
perkawinan keke.

i. Tjo Tji Liang, tokoh yang berperan sebagai pemimpin redaksi Koran dimana Tjak Broto
bekerja. Dialah yang membantu Keke dan Tjak Broto untuk keluar dari Surabaya dan
menikah di Belitar.

j. Tjik Entin, adalah istri dari Tjo Tji Liang. Dia berperan juga dalam membantu Tjak Broto
untuk pergi keluar dari Surabaya. Dan dia tokoh yang membuat cerita Keke seakan dramatis
karena pernah salah menjawab pertanyaan kepada Kataro Takamaru ketika ingin mencari
Keke.

k. Paimin, adalah tokoh yangmenjebat suami Keke. Sehingga Tjak Broto di penjara dan di
sanalah Keke akhirnya di perkosa oleh Kobayasi.

l. Kobayashi adalah tokoh pertama yang membuat perjanan hidup Keke semakin dramtis
karena telah memperkosanya ketika dia ingin menjenguk suaminya.

m. Hiroshi Masuki adalah tokoh selanjutnya yang membuat Keke harus berpisah dengan
suaminya dan berpisah selama 8 tahun. Horshi Masuki termaksud tokoh yang mencintai
Keke.

n. Roeslan adalah tokoh yang berperan sebagai sahabat Tjak Broto, yang akan menikah
dengan Raharjoe dan anak mereka yang membantu Keke di masa tuanya.

o. Anggota Ludruk Moro Tresno, adalah tokoh yang membatu Tjak Broto untuk mencari
Keke dan berperan sebagai pejuang mencapai kemerdekaan.

p. Ibu Hiroshi Masuki. Adalah tokoh yang membuat hidup Keke semakin tersiksa di Jepang
karena Keke tidak bisa memberikan keturunan. Tetepi akhirnya Keke bisa lepas dari siksaan
itu karena anaknya Hirosi Masuki telah meninggal ketika dikirim ke Korea untuk berpereng.

22
q. Henk Tambawanas dan Otto Walilangit (anggota parmesta) adalah tokoh yang membuat
Keke semakin tersiksa karena dia di perkosa di Hutan Sulewesi karena ingin pulang ke tanah
kelahirannya ketika pulang dari Jepang.

r. Kurniasih adalah tokoh yang menjadi istri ke-dua dari Tjak Broto. Karena Tjak Broto
mengira istrinya sudah meninggal. Dan pada akhir cerita Kurniarsih juga tidak bisa
memberikan keturunan dan meninggal karena mengidap penyakit kangker payudara.

s. Ismail Roesland adalah anak dari Rahajoe dan Roeslan keponakan Tjak Broto. Dialah
tokoh yang menyelamatkan Keke dan mempertemuklan Keke dengan Tjak Broto setelah tua.

Untuk beberapa tokoh, karakter masing-masing diperkenalkan tokoh –saya berdasarkan


identitas cultural tokoh yang bersangkutan. Misalnya Tjik Entin identik dengan kehidupan
orang cina dan budaya dan agama yang dianutnya. Tokoh lainnya adalah Ibu Tjak Broto
Ranggoningsih identik dengan sikap latar belakang budaya Jawa.

2. Prinsip Penafsiran Lokasional : Latar Tempat Novel “Kemabang Jepun”

a. Surabaya, adalah latar dimana “kembang Jepun” yang disebut dengan Shiju berada. Dan di
Surabayalah Keke bertemu dengan Tjak Broto yangmengubah hidupnya dan menikah
dengannya. Sebagian cerita Kembang Jepun ini berlatar di Surabaya.

(halaman 5) Tapi orang-orang di Surabaya pada Tahun 1930-40an ketika saya tinggal di
sebuah jalan raya kota itu, tak jauh dari jembatan Merah itu bernama Roode Brug No. 72,
lebih biasa menyerbit saya dengan teman-teman saya di shiju sebgai Kembang Jepun.

b. Blintar. Adalah tempat Mbah Soelis tinggal dan disanlah Tjak Broto menikahi Keke dan
disana juga Keke dan suaminya hidup dan akhirnya berpisah, sampai 25 tahun. (hal 149-
201)

c. Jepang, (desa Takaesi, okasa. Tokyo) adalah tempat dimana Keke tinggal disana selama 5
tahun karena dibawa oleh Hirosi Masakuni, dan Keke menjadi istrinya. Tetapi ibunya Hirosi
Masakuni sangat kejam dan tidak suka dengan Keke. dan di Jepang dia bertemu dengan

23
Yoko, teman dan pernah menjadi guru Geishanya. Dan setelah Hirosi meninggal dalam
perang dengan Korena Keke pulang ke Indonesia. (hal249-258)

d. Sulewesi Utara, Bandar Kuandang. Tanah kelahiran Keke, disanalah Keke tinggal selama
25 tahun dan pertama dating kesana dia diperkosa oleh tantara Parmesta karena dianggap
mata-mata. Tetapi karena ada perlawanan dari pusat para tantara tersebut banyak yang
tewas, selain Henk Tambawanas dan Otto Walilangit (anggota parmesta) yang pada
akhir cerita sebagai tokoh yang mengingatkan Keke pada masa dia diperkosa oleh ke dua
orang ini. (hal. 269-319)

3. Prinsip Penafsiran Temporal : Latar Waktu Yang Menyertai peristiwa novel “


Kembang Jepun”

o 1920 (hal 6) Kataro Takamura membuka Shiju, tempat Keke menjadi Geisha.

o Tahun 1930-40an, adalah waktu perjalanan Keke sebagai Geisha sampai akhirnya bertemu
dengan Tjak Broto.

o 1929. Waktu Katara Takamaru pergi dari Jepan dan hidup senang di Indonesia dengan
membangun sebuah tempat yang dinamakan shiniju. (Hal 13-26)

o Janwari 1930. Awal pertama kalinya Keke meminjakkan kaki di Surabaya dan ditepatkan
dibelakang bagunan, suatu tempat khusus untuk para geisha, disebut Okiya. (halaman 27)

o 20 Juni 1936, adalah waktu ketika Tjak Broto disidang karena menghina pemerintahan
Belanda. (halaman87)

o 31 Agustus 1939, adalah dimana rakyat Indonesia ketika di jajah Belanda harus
memperingati hari lahir ke 59 Ratu Wilhelmina. Dan pada tahun itu juga Tjak Broto
melamar keke untuk menjadi istrinya. (Hal 115)

o 1940. Adalah waktu Tjak Broto membawa Keke ke rumahnya untuk memperkenalnya
dengan ibunya Ranggoningsih. (hal129)

24
o 3 Februari 1942. Awal penjajahan Jepan masuk ke Indonesia. Di tahun inilah awal
kesengsaraan perjalanan hidup Keke semakin hancur dan di pisahkan dari Tjal Broto
suaminya . (171)

o 14 Februari 1945. Terjadi pemberontakan pada Jepang, sehingga pada Tahun inilaj Keke
atau Keiko dibawa oleh Hiroshi Masuki ke Jepang karena dia menginginkan dia menjadi
istri.

o 12 Juli 1945. Dimana Tjak Broto sudah hidup sendiri dan mulai berusaha mencari istrinya
Keke dan bekerja mengikuti rombongan Moro Tresno sekaligus untuk berjuang
menyadarkan rakyat Indonesia atas penjajahan yang dilakukan Jepang. (Halaman 223-231)

o 6 Agustus 1945. Penjajahan Jepan berakhir karena Amerika membom Hiroshima. Dan pada
tahun ini Keke sebagai tokoh utama dibawa oleh Hirosi ke Jepan dan meninggalkan Tjak
Broto.(hal233-246)

o Juni 1950. Hirosi Meninggal di perang Korea dan pada tahun itu juga Keke ingin pulang ke
tanah air yang dibantu oleh Yoko. (hal249-258)

o 17 Agustus 1958. Keke pulang ke Indonesia dan mencari Tjak Broto tetapi ketiak bertemu
dengan Tante Mar ternyata Tjak Broto sudah menikah lagi dengan Kurniasih dan tinggal di
Bandung. Dan pada Tahun ini juga Keke memutuskan untuk kembali ke Sulewesi tempat
kelahirannya, walaupun disana sedang terjadi pemberontakan Permesta. (hal. 261-268)

o Novemberr 1958. Tjak Broto tahu bahwa Keke belum meninggal. Informasi itu diperoleh
ketika kembali ke Blitar dan bertemu dengan Tante Mar. (hal 285-288)

o 1965. Istri ke-dua ytjak Broto meninggal karena mengidap kangker payudara. (hal 291)

o 1966. Tempat usaha Tjak Broto ditutup dikarenakan adanya pemberontakan G 30 S/PKI.
(Hal 291)

o 1983. Awal baru bagi Keke yang umurnya sudah mencapai 64 tahun dan hidup di hutan
selama 25 tahun. Dan pada usianya dia kembali bertemu dengan Tjak Broto dikarenakan
adanya peninjauan wilayah oleh Henk Tambawanas yang sudah bekerja dengan

25
pemerintah. Di hutan tersebutlah salah satu wartawan anak dari Roeslan dan Raharjoe yang
bernama Ismail Roeslen memaksanya dan menyelamakankan untuk bertemu dengan Tjak
Broto. (halaman295-319)

4. Prinsip Analogi Dalam Novel “Kembang Jepun”

Analogi yang terdapat pada novel “Kembang Jepun” adalah analogi pada judlnya terdapat
pada hal 5.

Tapi orang-orang di Surabaya pada Tahun 1930-40an ketika saya tinggal di sebuah
jalan raya kota itu, tak jauh dari jembatan Merah itu bernama Roode Brug No. 72, lebih
biasa menyerbit saya dengan teman-teman saya di shiju sebgai Kembang Jepun.

Halaman 13

Demikian popular tempat ini sebagai rumah pelacuran, menyebabkan orang lain lebih
suka menyebut jalan raya tempat shinju berdiri sebagai kembang Jepun sampai
sekarang.

Halaman 54

“o iya bu, seleranya mas Broto itu bukan seperti putrinya pak Sastrmoeljono yang
luwes, tapi kembang Jepun Sing mlauke koyot bekicot”

5. Pemakaian Bahasa dalam Novel “Kembang Jepun”

Berikut ini beberapa pemakaian bahasa dalam novel “Kembang Jepun” yang didapatkan melalui
analisis Wacana, yakni

1. Campur Kode

• Bahasa Indonesia

26
Sebagaian besar dalam novel ini yang diperguanakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan
masih baku. Dari Bahasa Indonesia tersebut juga dapat diketahui tahun berapa cerita ini di
terjadi dan Tokoh-saya dalam novel ini adalah asli Indonesia dan berasal dari Sulewesi.

Ini dapat dilihat pada keseluruhan dialog dalam novel tersebut, seperti:

“kau terus terbayang-banyang dalam pikiran saya,” katanya

“sama,”kata saya dengan lugu dan barang kali juga jujur.

“ah, masa? Kalau bukan terhadap semua tamu kau bilang bgeitu, alangkah senangnya saya.”

“memang tidak,” kata saya.

(hal49)

Dialog siatas terjadi antara tokoh-saya dengan Tjak Broto kekasihnya

2. Bahasa Jawa

Mengingat bahwa latar belakang Tjak Broto dari keluarga Jawa, maka dialog yang digunakan
dalam keluarganya dipengaruhi oleh bahasa Jawa.

Seperti halaman halaman 53.

Dan Raharjoe, dengan leluasa, berkata sambil membawa dua buah cangkir ke dapur. “Bengok
yang pakek merah itu marah.”

“ah, arek cilik melok-melok,” kata Tjak Broto, dan pada saat itu Raharjoe telah berada di
dapur.

“o iya bu, seleranya mas Broto itu bukan seperti putrinya pak Sastrmoeljono yang luwes, tapi
kembang Jepun Sing mlauke koyot bekicot” Halaman 54

Halaman 65

27
“Kuno!” sangah Tjak Broto. “Sing ngomono iku ngak mathuk,” bu. Pepatah sekarang
bunyinya harus ‘tresna merga sreg’!”

“tapi memang gambar ini adalah rangkaian kata-kata. Ini bunyinya, “bismilah, ingsun kang
jumenang ratu sesotya kang linuwih, ules wulan angambara, anerus pitung bumi, pitung
langit, amadangi jagad iki kabeh, saking karsening gusti allah,”

3. Bahasa Sulewesi

Karena Tokoh saya berlatar belakang dari Sulewesi maka pada awalcerita ketika masih anak-
anak bahasa yang digunakan bahasa Sulewesi seperti halaman 25.

‘‘ngana bae-bae jo di sini. Broer ada mo pigi dulu di Batavia,” kata Jatje dengan ramah sekali.

4. Bahasa Asing

• Bahasa Belanda

Bahasa Belanda juga mempengaruhi novel tersebut dikarenakan konteks cerita ini berhubungan
dengan penjajahan Belanda.

Halaman 76.

‘‘verder hed ik ook gezien onder de zon, ter paatse des gerichtsh, aldaar was goddeloosheid,
en ter pleatse des gerechtigheit, aldaar was goddeloosheids”

Dalam halaman 142.

Tjol tjie Liang bertanya, juga dalam bahasa Belanda, ‘‘what is er eigenlijk?’’

‘‘Mijn moeder hound niet van haar”

“Waarom houd cij niet?”

“omdat cij is een geisha. Mijn moeder beschow een geisha evennals een hoer. Ik heb haar al
gezedg dat het niet waar is Maar U weet toch, oude vrouw.”

28
“Ah, dat is gewoon.”

“Hoe zo?”

“Omdat van af vroeger kunnen de ouders niet gedachte van de jongeren ontvangen.”

‘dus hoe is ‘t beste. Ik vraag U advies.”

“De voornaamste is aan jou eigen beslissing,

“ik wil haar als mijn vrouw hebben.”

• Bahasa Jepang

Bahasa Jepang Juga mempengaruhi Novel “Kembang Jepun” karena tokoh dan konteks
berhubungan dengan budaya Jepang dan tokoh orang Jepang dan pekerjaan sebagai Geisha
bersal dari Jepang serta masa cerita ini terjadi adalah masa penjajahan Jepang.

Hal 5

Saya pandai menyanyi, memaikan shamisen dan taiko.

Hal 10.

Pameo yang umu di ucapkan para Geisha adalah, “sanbon ga areba, taberareru,” artinya “jika
kau meimilki tiga dawai maka kamu bisa makan”

Dengan alat musik berdawai tiga inilah Yoko menyanyikan syair lama tentang bulan :

Arashi fuku

Oto mo ayo banu

Kumo mo ue wa

Ikana shizukeku

Tsuki no Sumeren

29
DAFTAR BACAAN

http://www.infoskripsi.com/Theory/Kajian-Penelitian-Stilistika.html

http://remmysilado.blogspot.com/2008/01/analisis-stilistika.html

http://asepyudha.staff.uns.ac.id/tag/stilistika/

http://www.kendaripos.co.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=4621

http://shodiq.com/2009/06/07/cerpen-malam-pertama-calon-pendeta/

http://book.store.co.id/Perempuan_Suci_buku_4033.html

Purba, Antilan. 2009. Stilistika Kaji Bahasa Karya Sastra. Medan: FBS-UNIMED

30
31