Anda di halaman 1dari 17

DI SUSUN OLEH :

FITRIYANTI
MEI FERIZAL
MOCHAMAD AZHAR PANE
UPI SARIPAH
Dekarboksilasi Oksidatif

Setelah melalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul oksigen


yang cukup maka asam piruvat akan menjalani tahapan reaksi
selanjutnya, yaitu siklus Krebs yang bertempat di matriks
mitokondria. Jika tidak terdapat molekul oksigen yang cukup
maka asam piruvat akan menjalani reaksi Fermentasi. Akan
tetapi, asam piruvat yang mandapat molekul oksigen yang cukup
dan akan meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja
masuk ke dalam siklus Krebs, karena asam piruvat memiliki
atom C terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan molekul yang
dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus
mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat akan
menjalani reaksi dekarboksilasi oksidatif.
Pengertian
Dekarboksilasi Oksidatif

Dekarboksilasi oksidatif adalah reaksi yang


mengubah asam piruvat yang beratom 3 C
menjadi senyawa baru yang beratom C dua
buah, yaitu asetil koenzim-A (asetil ko-A).
Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini (disingkat
DO) sering juga disebut sebagai tahap
persiapan untuk masuk ke siklus Krebs. Reaksi
DO ini mengambil tempat di intermembran
mitokondria.
Tahapan –Tahapan
Dekarboksilasi Oksidatif
Proses
Dekarboksilasi Oksidatif

Pertama-tama, molekul asam cuka yang dihasilkan reaksi


glikolisis akan melepaskan satu gugus karboksilnya yang
sudah teroksidasi sempurna dan mengandung sedikit energi,
yaitu dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2 atom karbon
yang tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat
(bentuk ionisasi asam asetat). Selanjutnya, asetat akan
mendapat transfer elektron dari NAD+ yang tereduksi
menjadi NADH. Kemudian, koenzim A (suatu senyawa yang
mengandung sulfur yang berasal dari vitamin B) diikat oleh
asetat dengan ikatan yang tidak stabil dan membentuk
gugus asetil yang sangat reaktif, yaitu asetil koenzim-A,
yang siap memberikan asetatnya ke dalam siklus Krebs
untuk proses oksidasi lebih lanjutnya.
Siklus Krebs
Daur krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan pembongkaran
asam piruvat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia.
Pertama-tama, asetil ko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi oksidatif)
masuk ke dalam siklus dan bergabung dengan asam oksaloasetat membentuk
asam sitrat. Setelah “mengantar” asetil masuk ke dalam siklus krebs, ko-A
memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami
pengurangan dan penambahan satu molekul air sehingga terbentuk asam
isositrat. Lalu asam isositrat mengalami oksidasi dengan melepas ion H+, yang
kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan melepas satu molekul CO2 dan
membentuk asam a-ketoglutarat (asam alpha ketoglutarat).
Setelah itu, asam a-ketoglutarat kembali melepaskan satu molekul CO2, dan
teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+ yang kembali mereduksi NAD+ menjadi
NADH. Selain itu, asam a-ketoglutarat mendapatkan satu ko-A dan membentuk
suksinil ko-A.
Setelah terbentuk suksinol ko-A, molekul ko-A kembali
meninggalkan siklus, sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan
ko-A dan perubahan suksinil ko-A menjadi asam suksinat
menghasilkan cukup energi untuk menggabungkan satu molekul ADP
dan satu gugus fosfat anorganik menjadi molekul ATP.
Kemudian, asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua
ion H+, yang kemudian diterima oleh FAD dan membentuk FADH2, dan
terbentuklah asam fumarat. Satu molekul air kemudian ditambahkan
ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan susunan (ikatan)
substrat pada asam fumarat, karena itu asam fumarat berubah menjadi
asam malat. Terakhir, asam malat mengalami oksidasi dan kembali
melepaskan satu ion H+, yang kemudian diterima oleh NAD+ dan
terbentuk NADH, dan asam oksaloasetat kembali terbentuk. Asam
oksaloasetat ini kemudian akan kembali mengikat asetil ko-A dan
kembali menjalani siklus krebs.
Dari siklus krebs ini, setiap molekul glukosa akan dihasilkan 2 ATP,
6 NADH, 2 FADH2, dan 4 CO2. selanjutnya, molekul NADH dan FADH2
yang terbentuk akan menjalani rangkaian terakhir respirasi aerob,
yaitu rantia transpor elektron.
Runtutan Siklus Krebs
1. Asam Piruvat yang berasal dari proses glikolisis masuk
ke siklus krebs setelah bereaksi dengan NAD+ dan ko-
enzim A (ko-A), membentuk senyawa asetil ko-A. dalam
peristiwa ini CO2 dan NADH dibebaskan. Perubahan
kandungan C adalah dari 3C (asam piruvat) menjadi 2C
asetil ko-A.
2. Perisriwa berikutnya adalah reaksi antara asetil ko-A (2C)
dengan asam oksaloasetat (4C), dan terjadilah asam
sitrat (6C). Dalam peristiwa ini ko-A dibebaskan.
3. Reaksi berukit adalah antara asam sitrat (6C) dengan
NAD+ dan membentuk asam alfa ketoglutarat (5C)
dengan membebaskan CO2.
4. Reaksi berikut agak kompleks, yaitu pembentukan
asam suksinat (4C) setelah bereaksi dengan NAD+ dan
membebaskan NADH, CO2, dan menghasilkan ATP
setelah bereaksi dengan ADP dan asam fosfat
anorganik.
5. Asam suksinat yang terbentuk kemudian akan bereaksi
dengan FAD dan membentuk asam malat (4C), dengan
membebaskan FADH2.
6. Asam malat (4C) kemudian bereaksi dengan NAD+ dan
membentuk asam oksaloasetat (4C) dengan
membebaskan NADH, karena asam oksaloasetat akan
kembali bereaksi dengan asetil ko-A seperti pada
langkah kedua di atas.
Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah
dihasilkan NADH dan FADH2 sebanyak 10 dan 2
molekul. Dalam transpor elektron ini, kesepuluh
molekul NADH dan kedua molekul FADH2
tersebut mengalami reaksi oksidasi.
Transfor Elektron
• Rantai transpor elektron adalah tahapan
terakhir dari reaksi respirasi aerob.
Transpor elektron sering disebut juga
sistem rantai respirasi atau sistem
oksidasi terminal. Transpor elektron
berlangsung pada krista (membran dalam)
dalam mitokondria.
• Pada transfor elektron Molekul yang
berperan penting dalam reaksi ini adalah
NADH dan FADH2, yang dihasilkan pada
reaksi glikolisis, dekarboksilasi oksidatif,
dan siklus Krebs. Selain itu, molekul lain
yang juga berperan adalah molekul
oksigen, koenzim Q (Ubiquinone),
sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a.
Runtunan transpor elektron
1. NADH dan FADH2 mengalami oksidasi, dan elektron
berenergi tinggi yang berasal dari reaksi oksidasi ini
ditransfer ke koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika
NADH dan FADH2 melepaskan elektronnya cukup
besar untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik
menjadi ATP. Kemudian koenzim Q dioksidasi oleh
sitokrom b. Selain melepaskan elektron, koenzim Q
juga melepaskan 2 ion H+.
2. Setelah itu sitokrom b dioksidasi oleh sitokrom c.
Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi sitokrom b
oleh sitokrom c juga menghasilkan cukup energi untuk
menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP.
3. Kemudian sitokrom c mereduksi sitokrom a,
dan ini merupakan akhir dari rantai transpor
elektron. Sitokrom a ini kemudian akan
dioksidasi oleh sebuah atom oksigen, yang
merupakan zat yang paling elektronegatif
dalam rantai tersebut, dan merupakan
akseptor terakhir elektron.
4. Setelah menerima elektron dari sitokrom a,
oksigen ini kemudian bergabung dengan ion
H+ yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q
oleh sitokrom b membentuk air (H2O).
5. Oksidasi yang terakhir ini lagi-lagi
menghasilkan energi yang cukup besar
untuk dapat menyatukan ADP dan gugus
fosfat organik menjadi ATP.
6. Jadi, secara keseluruhan ada tiga
tempat pada transpor elektron yang
menghasilkan ATP.
Hasil keseluruhan proses respirasi
aerob
Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira 3
ATP, dan kira-kira 2 ATP untuk setiap oksidasi
FADH2. Jadi, dalam transpor elektron dihasilkan
kira-kira 34 ATP. Ditambah dari hasil glikolisis
dan siklus Krebs, maka secara keseluruhan
reaksi respirasi seluler menghasilkan total 38
ATP dari satu molekul glukosa. Akan tetapi,
karena dibutuhkan 2 ATP untuk melakukan
transpor aktif, maka hasil bersih dari setiap
respirasi seluler adalah 36 ATP.