Anda di halaman 1dari 4

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri

Indonesia

Posted on JurnalPhobia

in Uncategorized

on January 13, 2010

6 Comments.

Devania Annesya
PENGERTIAN
Setiap entitas Negara yang berdaulat memiliki kebijakan yang mengatur hubungannya
dengan dunia internasional, begitu pula Indonesia. Kebijakan tersebut merupakan bagian
dari politik luar negeri yang merupakan pencerminan dari kepentingan nasionalnya.
Seperti yang telah kita ketahui, landasan konstitusional Indonesia adalah UUD 1945. Pasalpasal UUD 1945 mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara dengan memberikan garisgaris besar dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Sementara itu, Pancasila sebagai
landasan idiil Indonesia berisi pedoman dasar bagi pelaksanaan kehidupan berbangsa dan
bernegara yang ideal dan mencakup seluruh sendi kehidupan manusia. Dan politik bebas
aktif pun ditetapkan sebagai landasan operasional politik luar negeri Indonesia.
PRINSIP POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA DAN PERKEMBANGANNYA
Sebagai sebuah landasan operasional, politik luar negeri Indonesia (PLNRI) yang bebas
aktif pun senantiasa berubah sesuai kepentingan nasional. Misalnya selama masa orde
lama, PLNRI yang sebagian besar dinyatakan melalui maklumat dan pidato-pidato Presiden
Soekarno tersebut masih menekankan kebijakan hidup bertetangga dengan negara-negara
kawasan, tidak turut campur tangan urusan domestik negara lain dan selalu mengacu pada
piagam PBB[1].
Pada masa Orba, landasan operasional PLNRI semakin dipertegas dengan beberapa
peraturan formal, diantaranya: Ketetapan MPRS no.XII/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966,
Ketetapan MPR tanggal 22 Maret 1973, Petunjuk Presiden 11 April 1973, Petunjuk bulanan
Presiden sebagai ketua Dewan Stabilitasi Politik dan Keamanan, serta KeputusanKeputusan Menteri Luar Negeri. Jika dulu Soekarno mendengung-dengungkan anti-

kolonialisme dan anti-imperialisme, maka Soeharto memfokuskan pada upaya


pembangunan bidang ekonomi dan peningkatan kerja sama dengan dunia internasional.
Perbedaan ini seiring dengan pergantian rezim dari Soekarno ke Soeharo.
Pasca-Orde Baru terjadi perubahan pemerintahan secara cepat mulai dari B.J. Habibie
sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Setidaknya dua kabinet yang memerintah pasca-Orde
Baru ini saling substansif dalam landasan luar negerinya. Pertama adalah Kabinet Gotong
Royong (2001-2004) yang mengoperasionalkan PLNRI melalui: Ketetapan MPR
No.IV/MPR/1999 yang menekankan pada faktor-faktor yang melatarbelakangi krisis
ekonomi dan krisis nasional pada tahun 1997, UU no.37 tahun 1999 tentang pengaturan
aspek penyelenggaraan hubungan luar negeri, UU No.24 tentang Perjanjian Internasional
yang menekankan pada pentingnya penciptaan suatu kepastian hukum dalam perjanjian
internasional, dan perubahan UUD 1945 pada beberapa pasal.
Kabinet selanjutnya adalah Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009). Kabinet ini meletakkan
landasan operasional PLNRI pada tiga Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJM), yang isinya: pertama, pemantapan PLNRI dan optimalisasi diplomasi
Indonesia; kedua, peningkatan kerjasama internasional; ketiga, penegasan komitmen
perdamaian dunia.
PRINSIP PLNRI
Kemerdekaan yang telah diperoleh tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai sebuah
negara berdaulat. Namun upaya Indonesia untuk mencari pengakuan internasional
tampaknya tidak didukung oleh perkembangan politik internasional yang tengah terjadi saat
itu. Perang Dunia II telah menjadikan situasi persaingan tajam antara blok barat dan timur.
Namun pemimpin Indonesia saat itu menunjukkan sikap dan orientasi politik luar negerinya
yang independen. Indonesia berpendapat bahwa timbulnya blok-blok raksasa di dunia ini
dengan persekutuan-persekutuan militernya tidak akan menciptakan perdamaian, malah
sebaiknya akan merupakan benih-benih ancaman terhadap perdamaian.[2]
Pendapat tersebut memuat dasar prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Menurut Hatta, politik Bebas berarti Indonesia tidak berada dalam kedua blok dan memilih
jalan sendiri untuk mengatasi persoalan interasional. Istilah Aktif berarti upaya untuk
bekerja lebih giat guna menjaga perdamaian dan meredakan ketegangan kedua blok.
[3] Dalam arti yang lebih luas, bebas berarti menunjukkan tingginya nasionalisme dan

menolak keterlibatan atau ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi
kedaulatan Indonesia.[4] Karena itu sikap Indonesia kerap disebut netral, tidak memihak
kedua blok. Aspek ini kemudian dikenal dengan non-alignment policy. Prinsip non blok ini
kemudian menjiwai beberapa Negara Asia dan Afrika. Kesadaran itulah yang mendorong
terselenggaranya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 di Bandung.
KESIMPULAN
Dalam setiap periode kepemimpian nulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang
Yudhoyono, terdapat warisan mengenai faktor-faktor domestik yang paling menonjol saat
itu. Misalkan pada kepemimpian Soeharto (1966-1998), PLNRI lebih fokus pada kondisi
ekonomi dan kepemimpinan politik atau persepsi elit. Hal tersebut karena Soeharto
mewarisi kebobrokan ekonomi di masa Soekarno. Sementara di era Susilo Bambang
Yudhoyono (2004-sekarang), sifat dari tatanan politik dalam negeri adalah tentang
perguliran proses demokrasi.
PENDAPAT
Roeslan Abdulgani menyatakan bahwa PLN dari tiap-tiap Negara adalah lanjutan dan
merupakan refleksi dari politik dalam negeri.[5] Saya sependapat dengan hal tersebut.
Menurut pendapat saya PLN suatu negara sebenarnya merupakan perpaduan antara
kepentingan nasional, tujuan nasional bangsa, kedudukan atau konfigurasi geopolitik dan
sejarah nasionalnya, dipengaruhi oleh faktor domestik (internal) dan faktor faktor
internasional (eksternal). Dengan kata lain, politik luar negeri merupakan suatu upaya untuk
mempertemukan kepentingan nasioal dengan perkembangan dan perubahan lingkungan
internasional. Sekian.
SUMBER:

Alami, Athiqah. Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia. Hlm. 27-54

Abdulgani, Ruslan.1988.Sejarah Asal Mula Rumusan Haluan Politik Luar Negeri

Bebas Aktif. Departemen Luar Negeri & UGM.

[1] Hal ini dapat kita lihat pada Maklumat Politik Pemerintah 1 November 1945, pidato
kepresidenan 17 Agustus 1960 (Jarek), dan Keputusan Dewan Pertimbangan Agung
No.2/Kpts/Sd/I/61 tanggal 19 Januari 1961

[2] Abdulgani,Mendayung dalam, hlm.10.


[3] Mohammad Hatta, Mendayung Antara Dua Karang, Cet. Pertama, Jakarta, Bulan
Bintang, 1976, hlm. 17.
[4] Dewi Fortuna Anwar, Hatta dan
[5] Abdulgani, Mendayung dalam, hlm. 11.