Anda di halaman 1dari 27

3

Kursus Dharma Universal

PERKEMBANGAN
AGAMA BUDDHA
DI INDONESIA
AGAMA NENEK MOYANG

• Sumber sejarah: Catatan LN, a.l. perjalanan


biksu-biksu Tionghoa; prasasti-prasasti,
candi-candi, kitab-kitab berbahasa Kawi.

• Agama Buddha pernah menghantarkan


Nusantara menjadi negara kesatuan yang
besar: Sriwijaya dan Majapahit.

• Kemudian, sekitar 5 abad tertidur….


ZAMAN KERAJAAN DI JATENG

• 418 - Biksu Fa-hien di Rembang 5 bln, melihat


sedikit penganut agama Buddha
• 423 - Biku Gunawarman (Kashmir, Sri Lanka)
• 664 - Biksu Hwi-ning di Kaling 3 th
menerjemahkan kitab Hinayana dibantu biksu
lokal Jnanabhadra
• 778 - Raja Rakai Panangkaran
(Sanjaya/Mataram) mendirikan Candi Kalasan
bagi Dewi Tara
• 824 - Raja Samaratungga (Syailendra)
mendirikan Candi Borobudur
• Candi Mendut, Pawon, Sewu dll.
SRIWIJAYA

• 671, 685, 695 - Biksu I-tsing menerjemahkan


Kitab Suci
• Universitas dengan lebih dari 1.000 biksu, di
antaranya banyak orang asing
• Guru terkenal Sakyakirti
• Abad ke-11 Biksu Atisa Dipankara belajar pada
Biksu Darmakirti, pergi ke Tibet membawa 9
kitab yg sekarang masuk dalam Kanjur
• Candi-candi: Muara Takus, Gunung Tua
ZAMAN KERAJAAN DI JATIM

• Akulturasi kebudayaan – sinkretisme Siwa


Buddha
• Konsep Dewa-Raja, integrasi negara kerajaan &
agama
• 1268 - Raja Wisnuwardhana meninggal, dipuja
sbg Siwa di Candi Waleri, Amoghapaca di Candi
Jago
• 1292 - Raja Kertanegara meninggal, dipuja sbg
Siwa & Buddha di Candi Jawi, Wairocana di
Sagala (istrinya sbg Locana), Bhairawa di
Singasari.
SINKRETISME
DALAM KARYA TULIS

• Cerita Bubuksah di Candi Hindu Panataran


• Kertanegara = Siwa Buddha dlm Kitab Pararaton
• Arjunawijaya: Buddha menurut penjuru alam =
Siwa
• Kunjarakarna: Tiada kesempurnaan jika
memisahkan Siwa Buddha
MAJAPAHIT

• Paralelisme/koalisi
• Negarakretagama: Siwa Buddha berbeda ajaran,
berbeda pendeta dan tempat peribadatan,
mengatur daerah binaan, Dharmadhyaksa
Kasogatan beda dengan Kasiwan
• Sutasoma (Mpu Tantular): Siwa Buddha
“bhinneka tunggal ika tan hana Dharmma
mangrwa”
KONSEP ADI BUDDHA
DAN BUDDHAYANA

• Namasangiti versi Chandrakirti (Sriwijaya)


• Sanghyang Kamahayanikan (zaman Mpu Sindok)
• Negarakretabhumi karya P. Wangsakerta:
wangsa Syailendra penganut Buddhayana
• Candi Borobudur, cerminan Therawada,
Mahayana, Wajrayana menyatu.
SIRNANYA PENGANUT BUDDHA
SETELAH MAJAPAHIT

• Agama menyatu dengan kekuasaan negara


• Merosot seiring dengan jatuhnya Majapahit (1429)
• Perang saudara
• Sila/Winaya tidak dipertahankan, pengetahuan
tentang Dharma minim dan keliru
• Munculnya kerajaan Islam
• Yang tertinggal hanya tradisi: Kejawen
ZAMAN PENJAJAHAN
• Belanda tidak mengakui agama Buddha
• Peran dari Perkumpulan Teosofi (1883, saat
kedatangan Blavatsky)
• Di kota: orang Tionghoa mendirikan klenteng.
1650 - Klenteng Jin-de-yuan (Dharma Bhakti) di
Batavia. Biksu/biksuni/caici Tionghoa
• Di desa: tradisi domestik sporadis.
1935 - diberitakan selamatan jangkar kuno
Majapahit, di Kp. Petenon Surabaya ada 1,500
penganut
ORGANISASI BUDDHIS
• 1929 - Association for the Propagation of
Buddhism in Java (pusat di Htathon Myanmar)
→ Java Buddhist Association (Ernest Erle Power
& Josias van Dienst) → 1934 - Central
Buddhistische Institut voor Java.
• Peran Kwan Im Tong Prinsenlaan & Kwee Tek
Hoay, Penerbitan Moestika Dharma (1932)
• Sam Kauw Hwee (SKH) dg media Sam Kauw
Gwat Poo bhs Melayu
• 1934 - Biku Narada diundang Teosofi
• Batavia Buddhist Association (KTH)
SETELAH KEMERDEKAAN RI

• Kemerdekaan memberi kebebasan beragama


Buddha
• 1952 - SKH + Thian Li Hwee, Sin Ming Hui,
Buddha Tengger → Gabungan Sam Kauw
Indonesia
• 1953 - Kebangkitan kembali agama Buddha di
Indonesia → Upacara Waisak Nasional I di Candi
Borobudur, dipelopori Tee Boan An
• 1955 - Biku pertama putra Indonesia: Ashin
Jinarakkhita (tradisi Therawada & Mahayana)
CIKAL BAKAL BUDDHAYANA
• 1955 - Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia
(PUUI), ketua Mangunkawatja
• 1956 - 2500 Tahun Buddha Jayanti
• 1957 - Persatuan Buddhis Indonesia (Sosro
Utomo), 1958 menjadi Perhimpunan Buddhis
Indonesia (Perbudhi), pusat di Semarang
• Jajaran Perbudhi: Gerakan Pemuda Buddhis
Indonesia (GPBI), Wanita Buddhis Indonesia
1973
• Non-sektarian, teis, berkepribadian nasional
PERIODE MULTI-ORGANISASI
• 1962 - sebagian aktivis Perbudhi Jawa Tengah
mendirikan Musyawarah Umat Buddha Seluruh
Indonesia (MUBSI).
• 1963 - DPP Perbudhi pindah ke Jakarta.
• 1964 - Nichiren Shoshu Indonesia (NSI)
• 1965 - Buddhis Indonesia (Semarang)
• 1966 - Dewan Wihara Indonesia (DEWI)
• 1967 - Musyawarah Besar Federasi Umat Buddha
Indonesia tdd Buddhis Indonesia, Gabungan
Tridharma, MUBSI, Agama Hindu Buddha
Tengger, Agama Buddha Wisnu Indonesia →
anggota Sekber Golkar.
USAHA KE ARAH PERSATUAN?

• 1972 - PUUI & Perbudhi menyatu, ganti nama


menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia
(MUABI)
• 1972 - Bersama dg Buddhis Indonesia, MUBSI,
GTI, Persaudaraan Umat Buddha Salatiga
mendirikan Budha Dharma Indonesia (BUDDHI).
Majelis BUDDHI menampung pemuka agama
Buddha berbagai sekte
• GPBI (biro pemuda Perbudhi) lenyap, MUABI
dan GTI masih berdiri sendiri
DARI MAJELIS KE WALUBI
• 1975 - Majelis Dharmaduta Kasogatan,
Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia
• 1976 - Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia
• 1976 - MUABI → Majelis Upasaka Pandita Agama
Buddha Indonesia
• 1977 - Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia
• 1978 - Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia
• Semua majelis kecuali MUABI bergabung dalam Majelis
Agung Agama Buddha Indonesia (MABI)
• 1979 - Kongres Umat Buddha Indonesia mendirikan
WALUBI dg anggota 7 majelis & 3 Sanggha
• 1979 - MUABI ganti nama menjadi Majelis Buddhayana
Indonesia (MBI)
WADAH NON-WALUBI
• 1973 - Pemuda Buddhis Indonesia (Pembudi)
• 1976 Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia
(GUBSI)
• Musyawarah Kekeluargaan Buddhis Indonesia
(MKBI/MKGR)
• Rumpun Guru Agama Buddha (Rugabi)
• 1981 - Sekber PMVBI
• 1986 - Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi)
• 1987 - Keluarga Besar Wanita Buddhis Indonesia
• 1988 - Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmah
Budhi, asal KMBJ 1971)
• 1980 Gabungan Vihara/Klenteng/Rumah Abu (GAVIKRA)
• 1992 Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis
ORGANISASI SANGGHA
• 1959 - Ashin Jinarakkhita mengundang Biku
Narada dan belasan biku Sri Lanka, Myanmar,
Thailand, Kamboja menahbiskan biku (Jinaputta)
dan samanera (Ktut Tangkas & Sonto)
• 1963 - Sangha Suci Indonesia ganti nama
menjadi Maha Sangha Indonesia beranggota
biku Therawada dan biksu Mahayana
• 1966 - Samanera Jinagiri dan Jinaratana
ditahbiskan menjadi biku di Thailand.
• 1969 - MSI mengundang 4 biku Thailand
• 1970 - penahbisan 5 biku Indonesia di
Borobudur
• 1972 - 5 biku memisahkan diri → Sangha
Indonesia
• 1974 - Organisasi Sanggha dipersatukan →
Sangha Agung Indonesia (Sagin)
• 1976 - Sangha Theravada Indonesia
• 1978 - Sangha Mahayana Indonesia
• 1979 - Sanggha-Sanggha ikut mendirikan Walubi
• 1994 - Sagin (& MBI) dikeluarkan dari Walubi
• 1998 - Sagin diterima kembali dlm Walubi (3
Nov), & Walubi membubarkan diri (6 Nov)
• 1998 - Konferensi Agung Sangha Indonesia
(KASI) dg anggota 3 Sanggha
KRITERIA AGAMA BUDDHA
DI INDONESIA

• Konsensus 14 Des 1978; Ketetapan Kongres


Umat Buddha Indonesia 8 Mei 1979

• Kriteria adanya: Tuhan Yang Maha Esa, Triratna,


Hukum Trilaksana, Catur Arya Satyani, Pratitya
Samutpada, Karma, Punarbhava, Nirvana,
Bodhisattva
AGAMA BUDDHA
BERKEPRIBADIAN NASIONAL
• Lokakarya Pemantapan Ajaran Agama Buddha
dengan Kepribadian Nasional Indonesia 20 Feb
1979, Ketetapan Kongres Umat Buddha
Indonesia 8 Mei 1979
• Tuhan Yang Maha Esa: sebutan berbeda-beda
• Guru Agung: Nabi Buddha Gotama
• Kitab Suci: Tripitaka/Tipitaka
• Semua sekte mempunyai umat yang berbeda-
beda di seluruh pelosok Tanah Air Indonesia
• Melaksanakan Pedoman Penghayatan &
Pengamalan Pancasila
KODE ETIK
Ketetapan Kongres Umat Buddha Indonesia 8 Mei 1979

1. Menyadari menganut ajaran/sekte berbeda-beda,


namun merupakan suatu keluarga besar yg
mempunyai Guru Agung yang sama
2. Membabarkan ajaran sekte dihindarkan ucapan,
sikap, tindakan yg merugikan sekte lain
3. Setiap pembina umat Buddha dianjurkan
mempelajari pula secara positif ajaran sekte lain
4. Dalam setiap kegiatan keagamaan,
dikesampingkan pertimbangan pribadi, kelompok
atau keuntungan materiil
5. Saling menolong mengadakan prasarana &
sarana, dan mengembangkan agama Buddha
6. Menjauhkan diri dari tindakan yang dapat
merusak kekeluargaan & kerukunan
7. Menyebarkan Dharma sesuai dg Kitab Suci,
tidak mencampuri urusan rumah tangga
anggota Walubi
8. Kode Etik anggota Walubi merupakan sikap
mental yg senantiasa dipelihara &
dikembangkan di lingkungan anggota demi
terwujudnya suasana kekeluargaan yg
harmonis & lestari
SEKILAS BIMBINGAN
MASYARAKAT BUDDHA
• Pembinaan oleh pemerintah, praktiknya oknum
• PP No 21/ 1975 tt Sumpah/Janji PNS: Demi Allah
diganti Demi Sang Hyang Adi-Buddha → UU No
43/ 1999 ttg Pokok-Pokok Kepegawaian
• Direktorat Urusan Agama Buddha dibentuk 16
Des 1980
• 1983 - Waisak libur nasional
• Inmendagri No. 455.2-360 ttg Penataan Klenteng
(berdasar Inpres No 14/ 1967 ttg Agama,
Kepercayaan & Adat istiadat Cina → Walubi
menyatakan Imlek bukan hari raya Buddha
KONFLIK-KONFLIK

• 1987 - NSI tidak diakui termasuk rumpun agama


Buddha, dikeluarkan dari Walubi
• 1992 - Munas II Walubi → konflik perumusan
AD/ART, penyetruman 3 tokoh MBI & Tridharma
• 1994 - Sagin & MBI dikeluarkan dari Walubi dg
alasan disiplin organisasi, sinkretisme besar (Sai
Baba), sinkretisme kecil (intersekte),
menghidupkan adat Cina
• Dirjen Bimas Hindu & Buddha tidak melayani
Sagin & MBI sp 27 Des 1999
• 1999 - Konflik pengusulan calon anggota MPR
utusan golongan antara MBI/KASI & Walubi
PARADIGMA BARU

• Kembalikan agama pada pemeluknya


• Pemerintah tidak mencampuri urusan intern
setiap agama
• Demokratis, tidak otokratis
• Inklusif, tidak eksklusif
• Pluralisme
• Wadah tunggal bukan lagi keharusan