Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

ALKIL HALIDA
1. Pendahuluan
1.1. Deskripsi
Bab keempat ini membahas tentang alkil halida, tata nama, klasifikasi, sifat fisika, reaksi substitusi
dan eliminasi.
1.2. Manfaat/ Relevansi
Alkil halida terutama klorida dan bromida merupakan reagen yang berguna dalam sintesis. Melalui
reaksi substitusi halogen dapat digantikan oleh berbagai gugus fungsional, sehingga konsepnya
dapat diaplikasikan untuk senyawa-senyawa yang lain.
1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah membaca bab IV ini, mahasiswa mampu menjelaskan tentang sifat fisika, penggunan, reaksi
pembuatan dan perubahan senyawa alkil halida.
1.4. Petunjuk Mempelajari
a. Baca dan pahami semua yang ada dalam bab ini dengan teliti.
b. Tingkatkan pemahaman dengan menambah bahan bacaan lain yang relevan.
c. Diskusi dengan teman untuk meningkatkan pemahaman.
d. Berlatih dengan tekun untuk meningkatkan pemahaman.
e. Jika ada kesulitan, bertanya kepada dosen atau narasumber lain yang relevan.
2. Penyajian
2.1 Tata nama dan Klasifikasi Alkil Halida
Menurut sistem IUPAC alkil halida diberi nama dengan awalan halo-. Sedangkan menurut
sistem trivial didahului oleh nama gugus alkil, diikuti nama halidanya.
Contoh:
Cl
Br
CH3CH2CHCH3
bromosikloheksana
sikloheksil bromida

IUPAC : 2-klorobutana
trivial : sec-butil klorida

Dalam reaksi kimia, struktur alkil halida sangat berperanan. Oleh karenanya perlu dibedakan empat
tipe alkil halida (RX) : metil, primer, sekunder dan tersier.

H3C

metil halida

RCH2 X

R2CH X

R3C

RX primer
1o RX

RX sekunder
2o RX

RX tersier
3oRX

Metil halida : halida terikat pada ujung metil


CH3F (fluorometana), CH3Cl (klorometana), CH3Br (bromometana), CH3I (iodometana).
Alkil halida primer (1oRX) : halida terikat pada C yang terikat pada 1 gugus alkil.
CH3

CH2Br

bromoetana
(etilbromida)

(CH3)3

CH2Cl

1-kloro-2,2-dimetilpropana
(neopentilbromida)

Alkil halida sekunder (2oRX) : halida terikat pada C yang terikat pada 2 gugus alkil.
CH3
CH3CH2CH

Cl
Br

2-bromobutana
sec-butilbromida)

klorosiklopentana
(siklopentil klorida)

IV-1

Alkil halida tersier (3oRX): halida terikat pada C yang terikat pada 3 gugus alkil.
CH3
CH3 C

Cl
CH3

Cl

CH3
2-kloro-2-metilpropana
(t-butil klorida)

1-bromo-1-metilsiklopentana

Contoh soal
Klasifikasikan alkil halida beriku sebagai primer(1o), sekunder (2o) atau tersier (3o)
CH3
a. CH3CHCH2Cl

b. CH3CHCl
CH2CH2CH3

Penyelesaian:
a. primer

b. sekunder

Soal latihan 4.1


(1) Tulislah dua nama untuk: a. (CH3)3CI

b. (CH3)2CHI

c. (CH3)2CHCH2I

(2) Tuliskan rumus bangun untuk 1,1-dibromobutana.


2.2 Pengantar Reaksi Substtitusi dan Eliminasi
2.2.1 Reaksi Substitusi Nukleofilik
Karbon yang terikat langsung atom halogen dalam suatu alkil halida bermuatan positif parsial.
Karbon ini mudah diserang oleh anion dan spesi apa saja yang mempunyai pasangan elektron
menyendiri (unshared). Ditinjau reaksi bromoetana dengan ion hidroksida sebagai berikut:

..
HO
.. :

+
H3C-CH2

..
Br
.. :

H3C-CH2

OH

..
+ : Br
.. :

etanol
nukleofil

bromoetana

Reaksi ini merupakan reaksi substitusi yaitu reaksi dalam mana satu atom ion atau gugus
disubstitusi (diganti) oleh atom, ion atau gugus lain. Ion hidroksida adalah nukleofil yang
menggantikan ion bromida dari bromoetana. Nukleofil (pecinta nukleus) dilambangkan dengan
Nu-; yang tertarik ke suatu pusat positif. Nukleofil adalah anion (misal: OH- dan CH3O-) atau
molekul netral yang memiliki pasangan elektron menyendiri seperti H2O, CH3OH. Substitusi oleh
nukleofil disebut substitusi nukleofilik. Ion bromida dinamakan gugus pergi.
Dalam reaksi jenis ini, suatu ikatan kovalen putus dan terbentuk ikatan kovalen baru. Gugus pergi
(bromida) mengambil kedua elektron ikatan C-Br dan nukleofil OH- memasok kedua elektron untuk
ikatan karbon oksigen yang baru.
Generalisasi persamaan reaksi substitusi nukleofilik adalah sebagai berikut:
Nu:- +

R:X

anion

Nu:

R-Nu + Xproduk

R:X

gugus pergi

R-Nu+ + X-

netral

Reaksi berjalan ke arah kanan dengan memilih nukleofil yang lebih kuat dari pada gugus pergi.
..
..
..
..
..
..
..
:
:C N :
:
:
:
OR
:
:
:
H2O:
ROH
Cl
OH
Br
..
..I :
..
..
..
..
nukleofilitas naik

IV-2

2.2.2 Reaksi Eliminasi


Bila alkil halida direaksikan dengan basa kuat, dapat terjadi reaksi eliminasi. Dalam reaksi ini
molekul kehilangan atom H dan X. Oleh karenanya disebut juga reaksi dehidrohalogenasi.
..
: Br : H
H3C

CH2

..
HO
.. :

CH3

..
CH2 + H2O + :Br
.. :

H
basa

2-bromopropana

propena

2.2.3 Reaksi-reaksi Bersaingan


Bila ion hidroksida atau alkoksida (RO-) bereaksi dengan alkil halida, maka dapat bertindak
sebagai nukleofil dalam reaksi substitusi maupun sebagai basa dalam reaksi eliminasi. Tipe reaksi
mana yang terjadi bergantung pada berbagai faktor, salah satu faktornya adalah struktur alkil halida.
Metil dan alkil halida primer cenderung menghasilkan produk substitusi. Pada kondisi yang setara,
alkil halida tersier terutama menghasilkan produk eliminasi. Sedangkan alkil halida sekunder
bersifat diantaranya.
Primer :

CH3CH2OH

CH3CH2Br + CH3CH2O-

CH3CH2OCH2CH3
hampir 100%

Sekunder : (CH3)2CHBr + CH3CH2O-

CH3CH2OH

(CH3)2CHOCH2CH3 + CH2 CHCH3


(20%)

Tersier :

(CH3)3CBr + CH3CH2O-

CH3CH2OH

(80%)

(CH3)3COCH2CH3 + CH2 C(CH3)2


(95%)

(5%)

Karena dapat terjadi lebih dari satu reaksi (dalam hal ini substitusi dan eliminasi), maka disebut
reaksi bersaingan.

2.2.4 Nukleofilitas Lawan Kebasaan


Nukleofilitas : kemampuan untuk menyebabkan reaksi substitusi
Kebasaan : kemampuan untuk menerima proton pada reaksi asam-basa.
Semua nukleofil dapat bersifat basa. Pada suasana yang sesuai semua basa dapat bertindak sebagai
nukleofil.

..
:I :
..

..
: Br
.. :

..
: Cl
.. :

..
ROH
..

..
H2O:

:C

N:

..
:OR
..

..
:OH
..

kebasaan naik

..
H2O:

..
ROH
..

..
: Cl
.. :

..
: Br
.. :

..
:OH
..

..
:OR
..

..
: ..I :

:C

N:

nukleofilitas naik

Beberapa alkil halida dapat mengalami reaksi substitusi dan eliminasi sekaligus, maka pereaksi
seperti OH- dapat bertindak sebgagai nukleofil maupun basa dalam satu tabung reaksi.

(CH3)2CHBr + OH

H2O

(CH3)2CHOH
t erbentuk oleh OHsebagai nukleofil

CH2 CHCH3
terbentuk oleh OHsebagai basa

IV-3

2.3 Reaksi SN-2


Reaksi bromoetana dengan ion hidroksida yang menghasilkan etanol dan ion bromida adalah suatu
reaksi SN-2 yang khas. SN-2 berarti substitusi nukleofilik bimolekular.
2.3.1 Mekanisme Reaksi
Mekanisme reaksi adalah uraian terinci tentang bagaimana reaksi berlangsung. Syarat supaya
terjadi reaksi adalah: molekul saling bertabrakan, dengan energi energi potensial untuk
mematahkan ikatan (E aktivasi) dan dengan sikap (orientasi) tertentu yang tepat.
Pada reaksi SN-2 antara bromoetana dan ion hidroksida, ion hidroksida menabrak bagian belakang
karbon ujung dan menggantikan ion bromida :
CH3

..
HO
.. :

C
H

H3C
..
HO
..

..
Br
.. :

H
+

..
:Br
.. :

H
etanol

bromoetama

Jika nukleofil menabrak dari sisi belakang suatu karbon ujung yang terikat pada halogen, dua
peristiwa terjadi sekaligus: yaitu (1) suatu ikatan baru mulai terbentuk dan (2) ikatan C-X mulai
patah. Proses ini disebut proses serempak/concerted (satu tahap).
Pereaksi diubah menjadi produk harus melalui suatu keadaa antara yang disebut keadaan
transisi (transition state) atau kompleks teaktifkan. Keadaan transisi melibatkan dua spesi yaitu
Nu- dan RX, maka reaksi SN-2 disebut reaksi bimolekuler.
ikatan parsial

..
HO
.. :

CH3
C

+
H

..
Br
.. :

HO

H3C

CH3
C

Br

..
HO
..

..
:Br
.. :

H
keadaan transisi
energi tinggi

Pada mekanisme ini terjadi inversi konfigurasi.


2.3.2 Energi pada Reaksi SN-2
Molekul bertabrakan membutuhkan energi untuk bisa bereaksi. Molekul yang bergerak di dalam
suatu larutan memiliki sejumlah tertentu energi potensial dalam ikatan merekan dan sejumlah
tertentu energi kinetik dalam gerakan mereka. Energi potensial dan kinetik molekul ini tidak eksak
sama, namun dapat digunakan pengertian energi rata-rata molekul. Bila dipanasi, molekul mendapat
tambahan energi kinetik, bertabrakan lebih sering dan lebih bertenaga dan mengubah energi kinetik
menjadi energi potensial.
Agar reaksi dapat mulai terjadi, beberapa molekul dan ion yang bertabrakan harus mempunyai
cukup energi untuk mencapai keadaan transisi. Gambar 4.1 menunjjukkan diagram energi untuk
berlangsungnya reaksi SN-2. Agar alkil halida dan nukleofil yang bertabrakan dapat mencapai
keadaan transisi, diperlukan sejumlah energi yang disebut energi pengatifan (Eakt). Pada keadaan
transisi molekul-molekul mempunyai pilihan yang sama mudahnya, kembali menjadi pereaksi atau
terus menjadi produk. Selisish antara energi potensial rata-rata pereaksi dan produk, adalah
perubahan entalpi (H) untuk reaksi itu
energi keadaan
transisi

energi rata-rata
pereaksi

Gambar 4.1 Diagram energi untuk reaksi SN-2


IV-4

2.3.3 Laju Reaksi SN-2


Tiap molekul yang bereaksi dan menghasilkan produk harus melewati keadaan transisi, baik
struktur maupun energinya.karena energi molekul-molekul tidak sama, maka diperlukan waktu agar
semua molekul itu bereaksi. Persyaratan waktu ini menimbulkan pengertian dan besaran yang
disebut laju reaksi. Laju reaksi kimia adalah ukuran seberapa cepat reaksi itu berlangsung, yakni
berapa cepat pereaksi itu habis dan produk terbentuk. Kinetika reaksi mempelajari dan mengukur
laju reaksi.
Laju reaksi dipengaruhi banyak variabel yaitu: suhu, pelarut, konsentrasi, struktur pereaksi dll.
Variabel yang khusus diperhatikan pada pembahasan ini adalah (1) konsentrasi dan (2) struktur
pereaksi.
(1) Pengaruh Konsentrasi pada laju Reaksi
Menambah konsentrasi pereaksi akan menambah seringnya tabrakan antar molekul, sehingga
menambah laju terbentuknya produk.
Nu- + RX

RNu + X-

Laju reaksi SN-2 dipengaruhi oleh konsentrasi Nu dan RX.


Laju reaksi SN-2 = k[RX][Nu]
k adalah tetapan laju yang harganya konstan untuk reaksi yang sama pada kondisi yang identik
(suhu, pelarut dll). Karena laju reaksi SN-2 bergantung pada 2 partikel (RX dan Nu-), maka lajunya
dikatakan berorde 2 dan bimolekuler.
Contoh soal
Bagaimana efek terhadap laju reaksi SN-2 antara CH3I dan CH3O-, jika konsentrasi kedua pereaksi
diduakalikan sementara variabel lain dijaga konstan?
Penyelesaian:
Jika konsentrasi CH3I dan CH3O- diduakalikan, maka laju akan menjadi 4 kali lebih cepat.
(2) Pengaruh Struktur pada Laju Reaksi
Perhatikan 2 reaksi berikut:
OH- + CH3Br

CH3OH + Br-

suatu metil halida

OH- + CH3CH2Br

CH3CH2OH + Br-

suatu alkil halida primer

Kedua reaksi hanya berbeda dalam bagian alkil dari alkil halida. Dalam suatu studi dijumpai bahwa
CH3Br bereaksi 30 kali lebih cepat dari pada CH3CH2Br.
Reaksi SN-2 adalah reaksi serempak (satu tahap). Dengan bertambahnya jumlah gugus alkil yang
terikat pada karbon yang mengikat halogen, keadaan transisinya bertambah berjejal dengan atom.
Jejalan dalam ruang disebut rintangan sterik. Dalam reaksi SN-2, energi suatu keadaan transisi yang
berjejal lebih tinggi dari pada energi keadaan transisi dengan rintangan sterik rendah. Karena itu
maka laju reaksi makin menurun dari metil, primer, sekunder dan tersier.
Urutan laju reaksi relatif alkil halida adalah sebagai berikut.
3oRX

2o RX

1o RX

CH3X

laju reaksi SN-2 meningkat

Jadi semakin banyak gugus alkil maka rintangan sterik makin besar, maka laju reaksi makin kecil;
perhatikan Gambar 4.2..

IV-5

CH3O-

CH3O-

CH3O-

CH3O-

Gambar 4.2 Rintangan Sterik dalam reaksi SN-2


2.3.4 Pengaruh Energi Aktivasi (Ea) pada Laju Reaksi dan Produk
Ea adalah energi keadaan transisi relatif terhadap pereaksi. Apabila suatu reaksi merupakan
reaksi bersaing, dengan pereaksi yang sama, maka reaksi dengan Ea lebih rendah adalah reaksi yang
lebih cepat dan akan menghasilkan produk lebih banyak.

Gambar 4.3 Diagram energi untuk reaksi bersaingan


2.4 Reaksi SN-1
Karena rintangan sterik, t-butil bromida tidak bebeaksi secara SN-2. namun bila t-butil bromida
direaksikan dengan nukleofil berupa basa lemah (misal : air atau CH3CH2OH) terbentuk produk
substitusi bersama-sama dengan produk eliminasi.
..
CH3CH2OH
..

(CH3)3COCH2CH3 + CH2 C(CH3)2


metilpropena
t-butil etil eter
80%

(CH3)3CBr
..
H2O:

20%

(CH3)3COH + CH2 C(CH3)2


metilpropena
t-butil alkohol
70%

30%

Bagaimana produk substitusi itu terbentuk, padahal tidak mungkin bereaksi secara SN-2? Ternyata
alkil halida tersier mengalami substitusi dengan mekanisme yang berbeda yang disebut dengan
reaksi SN-1 (reaksi substitusi nukleofilik unimolekuler).
Berikut ini adalah contoh reaksi SN-1 dari t-butil bromida dengan air (reaksi eliminasi diabaikan
dulu).
..
(CH3)3CBr + H2O :

(CH3)3COH + H+ + Br-

IV-6

2.4.1 Mekanisme reaksi SN-1


Reaksi SN-1 merupakan reaksi bertahap (stepwise reaction) dan merupakan reaksi ion.
Tahap 1 : merupakan tahap lambat. Pada tahap ini terjadi pembentukan karbokation (ionisasi)
..
Br
.. :

(CH3)3C

(CH3)3C

(CH3)3C+

Br

..
+ : Br
.. :

zat antara (intermediet)


karbokation

keadaan transisi 1

Tahap 2: Pada tahap ini terjadi penggabungan karbokation dengan nukleofil (berlangsung cepat)
(CH3)3C+

OH
..

(CH3)3C

keadaan transisi 2

nukleofil

..
+ H2O :

(CH3)3C

OH
..

t-butilalkohol berproton

Tahap 3: merupakan reaksi asam-basa.,H+ lepas.(berlangsung cepat)

H
(CH3)3C

OH
..

..
(CH3)3OH
+
..

..
+ H2O:

H3O:

berlebih

2.4.2 Energi pada reaksi SN-1


Perhatikan diagram energi reaksi SN-1, tahap 1 adalah tahap lambat, mempunyai Ea tinggi.
Karbokation adalah zat antara (intermediet) memiliki usia yang terhingga sedang keadaan transisi
tidak. Intermediet adalah produk sementara yang reaktif. Energi potensial intermediet lebih rendah
dari pada keadaan transisi.

Gambar 4.4 Diagram energi untuk reaksi SN-1


Contoh soal
Tulis tahap-tahap
deprotonisasi).

reaksi SN-1 dari 2-kloro-2-metilbutana dengan metanol (termasuk tahap

Penyelesaian:
tahap 1 (ionisasi)

..
:Cl :

(CH3)2CCH2CH3

(CH3)2CCH2CH3

..
+ :Cl
.. :

suatu k arbok ation

IV-7

tahap 2 (kombinasi dengan Nu: -

(CH3)2CCH2CH3

+
..
CH3OH

..
CH3OH
..

(CH3)2CCH2CH3

suatu k arbokation

eteter berproton

tahap 3 (lepasnya H+ ke pelarut):


+
..
CH3O

..
CH3O:

H
..
+ CH3OH
..

(CH3)2CCH2CH3

(CH3)2CCH2CH3

H
+ H3C-OH
..
+

sebuah eter

suatu karbok ation

Soal Latihan 4.2


1. Tuliskan persamaan reaksi untuk tahap-tahap dalam reaksi SN-1 dari 2-kloro-2-metilbutana
dengan metanol.
2. Lengkapi persamaan reaksi berikut :
(CH3CH2)3Cl + H2O

2.4.3 Laju reaksi SN-1


Reaksi antara karbokation (R+) dan Nu (tahap 2 dari reaksi SN-1) berlangsung sangat cepat
sehingga tahap penentu laju (rate determining step) atau tahap pembatas laju (rate limiting step)
adalah tahap 1 yaitu reaksi lambat atau tahap ionisasi. Laju reaksi SN-1 tergantung pada konsentrasi
alkil halida (RX), tidak tergantung pada konsentrasi nukleofil (Nu).
Laju reaki SN-1 = k [RX]; disebut juga reaksi orde satu. Reaksi ini unimolekuler, karena
hanya ada satu molekul yang terlibat dalam tahap penentu laju.
Tahap penentu laju :

R+ + X-

2.4.4 Pengaruh Stabilitas Karbokation terhadap Laju reaksi SN-1


Karbokation adalah gugus yang tidak stabil dan dengan cepat bereaksi lebih lanjut, namun
demikian masih mungkin membahas stabilitas relatifnya. Stabilitas karbokation mempengaruhi
laju reaksi SN-1.
+CH
3

metil

CH3CH2
primer

(CH3)2CH
sekunder

R+ metil

1o R+

2o R+

(CH3)3C +
tersier
31o R+

naiknya stabilitas karbokation


laju reaksi SN-1 dari RX meningkat

Yang dapat meningkatkan stabilitas muatan positif adalah apa saja yang dapat menyebarkan muatan
positif. Dalam kation alkil yang menyebarkan muatan adalah efek induktif yaitu polarisasi ikatan
oleh atom-atom elektronegatif atau elektropositif didekat muatan itu.
Faktor lain yang mungkin meningkatkan kestabilan karbokation tersier adalah bantuan sterik. Tolak
menolak antara gugus-gugus dalam suatu alkil halida menambah energi pada molekul netral. Akibat
lebih tingginya energi keadaan dasar dari 3oRX yang disebabkan oleh bantuan sterik ini, adalah
diperlukannya hanya sedikit tambahan energi untuk membentu 3oRX+.

IV-8

2.4.5 Penataan Ulang Karbokation


Alkil bromida sekunder (2oRX) dapat mengalami reaksi pelarutan dengan metanol. Disamping
produk yang diharapkan, dijumpai pula produk substitusi lain akibat terjadinya penataan ulang
karbokation sekunder. Contoh:
CH3 Br
CH3 C

CH3

- Br-

CHCH3

CH3 C

CH3

CH3OH
-H+

CHCH3

CH3

2-bromo-3,3-dimetilbutana

CH3 OCH3
CH3 C

CHCH3

CH3
2-etoksi-3,3-dimetilbutana (4%)
produk yang diharapkan

karbokation sekunder
penataan ulang

CH3

CH3 C

CH3OH
-H+

CHCH3

CH3
karbokation tersier

CH3O
CH3 C

CH3
CHCH3

CH3
2-etoksi-2,3-dimetilbutana (41%)
produk penataan ulang

Rendemen total produk substitusi tidak 100% karena terbentuk juga alkena dari reaksi eliminasi.
Terjadinya penataan ulang karbokation dapat dijelaskan sebagai berikut: adanya karbokation
sekunder dan primer dalam larutan menghasilkan kedua produk yang teramati, yaitu produk normal
dan produk penataan ulang (rearangement product) suatu produk dimana kerangka atau posisi
gugus fungsional berbeda dari kerangka/posisi bahan awalnya.
Penataan ulang berikut ini menggambarkan geseran 1,2 (1,2-shift) dan pembentukan karbokation
yang lebih stabil.
Geseran metida :
CH3
+

CH3 C

CHCH2CH3

CH3 C

CH3

CH3
CHCH2CH3

CH3

karbokation sekunder

karbokation tersier (lebih stabil)

Geseran hidrida :
H
+

CH3 C

CHCH3

CH3 C
CH3

CH3

karbokation sekunder

H
CHCH3

karbokation tersier (lebih stabil)

Soal Latihan 4.3


1. Tidak semua karbokation dapat mengalami penataan ulang. Karbokation manakah dari struktur
berikut yang dapat mengalami penataan ulang. Tuliskan reaksi penataan ulangnya.
+

a. CH3CH2CHCH3
2. Produk

b. (CH3)2CHCHCH3

SN-1 apa saja yang terbentuk dari reaksi berikut :


Cl

(CH3)2CHCHCH3 + CH3CH2OH

IV-9

2.5 Reaksi E1
Suatu karbokation dapat mengalami bereaksi lebih lanjut dengan lebih dari satu cara. Salah satu
cara adalah bereaksi dengan nukleofil (pada reaksi SN-1) [lihat bagian sebelumnya tentang reaksi
SN-1]. Ada alternatif lain yaitu karbokation memberikan satu proton pada suatu basa, reaksi ini
disebut eliminasi (E1), membentuk sebuah alkena.
Mekanisme reaksi E1
Tahap pertama dalam reaksi E1 identik dengan tahap pertama reaksi SN-1 yaitu ionisasi alkil halida.
Tahap ini berlangsung lambat, menjadi penentu laju dari reaksi keseluruhan.
Tahap 1 : ionisasi (lambat)
H3C

..
Br
.. :

(CH3)3C

C
H3C

CH3

..
+ : Br
.. :

karbokation

t-butilbromida

Tahap 2 : cepat
H

H3C

CH2

H3C

H3C

..
H2O:

H3C

CH2

H3O :

2-metilpropena
(alkena)

Dalam tahap kedua, basa merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak
berdampingan dengan karbon positif, terbentuk sebuah alkena.
Kondisi reaksi E1 sama dengan reaksi SN-1, oleh karena itu reaksi E1 dan SN-1 adalah reaksi
bersaingan.
Soal latihan 4.4
Beberapa alkil halida tersier menghasilkan campuran alkena disamping produk substitusi, apabila
senyawa ini ditaruh dalam kondisi SN-1. Ramalkan produk-produk yang kira-kira terjadi bila 2bromo-2-metilbutana direaksikan dengan etanol pada kondisi SN-1.
2.6 Reaksi E2
Reaksi eliminasi RX yang paling berguna adalah reakksi E2 (eliminasi bimolekuler). Reaksi
cenderung dominan bila digunakan basa kuat seperti OH- dan OR dan suhu tinggi, secara khas
reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan RX dengan KOH atau NaOC2H5 dalam etanol.
Mekanismenya adalah reaksi serempak (concerted reaction) dan satu tahap seperti pada reaksi SN-2.
1

..
RO
.. :

..
: Br :
..
ROH
+ CH2 CHCH3
..
propena

CH2 CHCH3
2-bromopropana

+ Br-

(1) basa membentuk ikatan dengan hidrogen


(2) pembentukan ikatan pi C-C
(3) brom bersama sepasang elektron meninggalkan ikatan sigma C-Br
Naiknya laju reaksi E2
primer

sekunder

tersier

laju reaksi E2 meningkat

IV-10

2.6.1 Campuran Alkena


Reaksi E1 dan E2 sering disebut sebagai eliminasi beta (). Istilah ini merujuk pada hidrogen
yang dibuang dalam reaksi ini. Karbon yang mengikat gugus fungsional utama disebut karbon alfa
() dan karbon berikutnya adalah karbon beta (). Hidrogen yang terikat pada karbon disebut
hidrogen , hidrogen yang terikat pada karbon disebut hidrogen . Dalam eliminasi , sebuah
atom hidrogen dibuang dan terbentuk alkena. Alkil halida yang tidak memiliki atom H tidak
dapat melangsungkan reaksi eliminasi .
Karbon dan hidrogen dilingkari :

CH3

Br

CH3 C

CH3 CH CH3

CH3
Br

CH3 CH2

CH3

Br

CH3

Bila alkil halida memiliki satu macam H maka bila mengalami eliminasi hanya diperoleh satu
macam produk, namun jika ada lebih dari satu macam H maka akan diperoleh produk lebih dari
satu produk.
Satu macam H
HO-

CH3
CH3 C

Br

CH2 C

CH3

CH3
CH3

+ H2O + Br-

Dua macam H
HO H

-H+

CH3CH2CH CH2
1-butena

-H+

CH3CH CHCH3
2-butena

CH3CHCHCH2
Br

Soal Latihan 4.5


(1) Lingkari karbon dan hidrogen beta dalam struktur berikut ini
Br
CH3CH2CHCH2CH2CH3

(2) Tuliskan alkena yang dihasilkan dalam reaksi E2 dari alkil bromida pada soal (1).

2.6.2 Alkena mana yang Terbentuk Lebih banyak?


Menurut Saytseff (1875): alkena yang memiliki gugus alkil terbanyak pada atom karbon
berikatan rangkap (alkena tersubstitusi lebih tinggi) terdapat dalam jumlah terbesar dalam campuran
produk eliminasi. Ini dikarenakan alkena yang tersubstitusi lebih tinggi lebih stabil dari pada yang
kurang tersubstitusi.
Br
CH3CH2CHCH3

Na+-OCH2CH3
CH3CH2OH

CH3CH2CH CH2
1-butena (20%)

CH2

CH2

CH3 CH2

CH2

CH3CH CHCH3

CH3CH CHCH3
2-butena (80%)

(CH3)2C

C(CH3)2

kestabilan bertambah

IV-11

Contoh soal
Ramalkan produk utama dari dehidrohalogenasi E2 CH3CH2C(CH3)2Cl.
Penyelesaian:
Produk alkena yang mungkin adalah: CH3CH=C(CH3)2 dan

CH3CH2CH CH2
CH3

Yang pertama lebih melimpah, karena merupakan alkena yang lebih tersubstitusi.

2.6.3 Produk Hofmann


Kebanyakan reaksi dehidrohalogenasi tunduk pada aturan Saytseff, namun dalam suatu keadaan,
produk utama dari suatu dehidrohalogenasi justru berlawanan dengan aturan Saytseff, dikatakan
reaksi menghasilkan produk Hofmann.
Kapan alkena yang kurang tersubstitusi merupakan produk yang melimpah? Hal ini terjadi karena
rintangan sterik. Rintangan sterik disebabkan oleh:
1. Ukuran Basa yang menyerang
CH3CH2Okecil

Br

CH3CH2CH CH2

2-butena

1-butena

CH3CH2CHCH3

CH3CH CHCH3

20%

(CH3)3COmeruah

CH3CH2CH CH2

80%

CH3CH CHCH3

1-butena

2-butena

50%

50%

2. Meruahnya gugus yang mengelilingi gugus pergi


H yang berjejalan

H yang k urang berjejalan

CH3

Br
CH3 C CH2 C CH3
CH3
CH3

CH3CH2O-

2-bromo-2,4,4-trimetilpentana

(CH3)3CCH2C CH2
CH3
2,4,4-trimetil-1-pentena

3. Gugus pergi besar dan meruah

Soa latihan 4.5


1. Tulis produk Hofmann dan Saytseff reaksi E2 dari :
a. 3-bromo-2-metilpentana
b. 1-kloro-1-metilsikloheksana
2. Ramalkan produk alkena utama dari reaksi E2 berikut :
a. CH CH CHBrCH + - OH
3

b. CH3CH2CH2CHBrCH3 + - OC(CH3)3
Soal Untuk dipelajari
1. Beri nama masing-masing senyawa berikut ini menurut sistem IUPAC.
a. CCl3CH=CH2

b. CH3CHBrCH2CH2Br
IV-12

2. Kelompokkan senyawa organohalogen berikut ini sebagai metil, primer sekunder atau tersier jika
sesuai.
a. (CH3)3CCH2Cl

b. (CH3CH2)3CCl

3. Dari masing-masing pasangan berikut ini, senyawa mana yang akan lebih cepat bereaksi SN-2
a. (CH3)3CI atau (CH3CH2)2CHI

b. (CH3CH2)2CHI atau (CH3)2CHCl

4. Dari dua sintesis t-butil eter dibawah ini, mana yang lebih disukai dan terangkan mengapa
demikian?
a. (CH3)3 CO - + CH3CH2Br

b. (CH3)3 CBr + CH3CH2O-

5. Karbokation di bawah ini dapat mengalami penataan ulang menjadi suatu karbokation yang lebih
stabil. Tuliskan hasil penataan ulangnya.
+

a. (CH3)3C+HCH2CH3

CHCH3

b.

6. Reaksi berikut berjalan dengan penataan ulang. Tunjukkan karbokation awal, karbokation
penataan ulang dan semua produknya.
a. (CH3)3CCHI CH3 + H2O
b. (CH3)2CHCHICH2CH3 + CH3CH2OH
7. Tuliskan reaksi eliminasi:
a). 1-kloro-1-metilsikloheksana

b) 3-bromo-2-metilpentana

8. Apabila senyawa 2-bromo-3,3-dimetilpentana direaksikan dengan air akan mengalami reaksi


substitusi (SN-1).
a. Tulis mekanisme reaksinya.
b. Tulis reaksi penataan ulang karbokationnya bila ada. Produk apa saja yang terbentuk ?
Jelaskan pula produk mana yang dominan.
9. Tuliskan persamaan reaksi pembuatan senyawa berikut ini, dengan substritusi nukleofilik (SN-2).
a. CH3CH2CH2CH2OH

b. (CH3)2CHCH2CN

10. Menurut perkiraan anda, reaksi berikut ini mengikuti mekanisme reaksi SN-2 atau SN-1? Jelaskan
jawaban anda.
(CH3)3CBr + NaOCH3

(CH3)3COCH3 + HBr

3. Penutup
3.1 Rangkuman
Suatu alkil halida mengandung gugus pergi X- yang baik dan mudah diserang oleh nukleofil
(Nu). Reaksi berlangsung menurut salah satu atau lebih dari 4 cara berikut: SN-1, SN-2, E1, E2.
Reaksi SN-2 adalah reaksi serempak. Reaksi E2 juga reaksi serempak dengan mekanisme
pendorongan elektron. Reaksi SN-1 dan E1 berjalan lewat zat antara karbokation.

RX

-X-

Nu:SN

RNu

-H+
E

alkena

R+

IV-13

Zat antara karbokation menghasilkan produk substitusi, suatu alkena dan produk penataan ulang.
Produk penataan ulang terjadi bila karbokation dapat membentuk karbokation yang lebih stabil
dengan suatu geseran 1,2 dari H atau R. Urutan kestabilan karbokatioan adalah
tersier>sekunder>primer>metil. Kemungkinan RX mengalami reaksi SN-1 atau E1 adalah
tersier>sekunder>primer>CH3X.
3.2 Tes Mandiri
1. Dari masing-masing pasangan berikut ini, senyawa mana yang akan lebih cepat bereaksi SN-2
a. (CH3)3CI atau (CH3CH2)2CHI

b. (CH3CH2)2CHI atau (CH3)2CHCl

2. Dari dua sintesis t-butil eter dibawah ini, mana yang lebih disukai dan terangkan mengapa
demikian?
a. (CH3)3 CO - + CH3CH2Br

b. (CH3)3 CBr + CH3CH2O-

3. Tuliskan reaksi eliminasi: 3-bromo-2-metilpentana


4. Senyawa 2-bromo-3,3-dimetilpentana direaksikan dengan air akan mengalami reaksi substitusi
(SN-1). Tulis mekanisme reaksinya, beserta penataan ulang karbokationnya bila ada. Produk apa
saja yang terbentuk ? Jelaskan pula produk mana yang dominan.
5. Menurut perkiraan anda, reaksi berikut ini mengikuti mekanisme reaksi SN-2 atau SN-1? Jelaskan
jawaban anda.
(CH3)3CBr + NaOCH3
(CH3)3COCH3 + HBr
6. Tulis produk Hofmann dan Saytseff reaksi E2 dari: 3-bromo-2-metilpentana
7. Ramalkan produk alkena utama dari reaksi E2 berikut :

a. CH CH CHBrCH + - OH
3
2
3
b. CH3CH2CH2CHBrCH3 + - OC(CH3)3
4. Pustaka
a. Fessenden, R.J. dan J. S. Fessenden, 1986, Organic Chemistry 3rd edition. Wadsworth, Inc.,
Belmont, California. Alih bahasa : Pudjatmaka, A.H. 1999, Kimia Organik. Penerbit Erlangga,
Jakarta, Jilid 1
b. Solomons, T.W.G., 1988, Organic Chemistry 3 rd edition, John Wiley & Sons, Inc., New York
c. Hart, H., L.E. Craine dan D.J. Hart, 2003, Organic Chemistry 11th edition. Wadsworth, Inc.,
Belmont, California. Alih bahasa : Suminar S.A., 2003, Kimia Organik, edisi 11, Penerbit
Erlangga, Jakarta

IV-14