Anda di halaman 1dari 2

Sebagian besar dari kita akrab dengan obat tradisional.

Bahkan, banyak yang mengandalkan obat


semacam ini untuk menjaga kesehatan atau mengobati penyakit. Sebetulnya, bagaimana cara memilih
obat tradisional yang aman?
Beberapa waktu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sedikitnya 93 jenis obat
tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras di sejumlah pasar tradisional. Obat-obat itu
biasanya dijual di gerai-gerai jamu atau dijajakan oleh tukang jamu gendong (dengan sebutan jamu
setelan). Kabar tersebut tentu saja menambah kekhawatiran bagi pecinta obat-obat tradisional, karena
bahan kimia obat keras jika dikonsumsi akan membahayakan kesehatan.
"Mengonsumsi obat tradisional berbahan kimia obat keras bukan saja membahayakan kesehatan, tapi
juga bisa mematikan. Pemakaian obat keras harus melalui pengawasan dan resep dokter," tandas
Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib, Selasa (5/12). Berbagai bahan kimia obat keras yang
ditemukan BPOM itu antara lain fenilbutason, metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol,
sildenafil sitrat, sibutramin hidroklorida, dan parasetamol.
Misalnya, metampiron dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, perdarahan lambung dan gangguan
syaraf. "Fenilbutason dapat menyebabkan rasa mual, ruam kulit, retensi cairan, dan gagal ginjal.
Deksametason dapat menyebabkan trombositopenia, anemia plastis dan gangguan fungsi ginjal,
sedangkan Sibutramin Hidroklorida dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung."
REAKSI
LAMBAT
Menurut Dr. Dyah Iswantini, MAgr. dari Pusat Studi Biofarmaka IPB, prinsip kerja jamu salah satunya
adalah proses (reaksinya) yang lambat, tidak seperti obat dari bahan kimia yang bisa langsung bereaksi.
"Ini karena jamu bukan senyawa aktif. Kalau senyawa aktif (parasetamol, misalnya), butuh proses yang
panjang."
Jamu biasanya berasal dari simplisia (tanaman obat kering), yaitu daun/umbi yang diiris, dikeringkan, dan
dihancurkan. "Jamu diambil dari daun tanaman obat. Kalau mau diambil senyawanya, harus diekstrak,
dipisahkan dulu, dimurnikan, difraknisasi, baru dapat senyawanya," papar Dyah. Tentu saja proses
tersebut butuh jumlah bahan baku yang sangat banyak. Misalnya, dari satu ton daun sambiloto yang
diekstrak, baru bisa didapat bahan aktifnya.
Itulah sebabnya, jika efek sembuh langsung muncul begitu jamu diminum, konsumen layak curiga,
karena pasti ada sesuatu. "Itu yang terjadi pada jamu-jamu yang diberi obat-obat kimia tadi. Tanpa
penelitian, hanya dimasukkan begitu saja. Kalau gatal-gatal, diberi CTM. Pusing-pusing, diberi antalgin
atau parasetamol. Untuk asam urat, diberi allupurinol. Ya, jelas manjur. Tapi, menjadi berbahaya karena
dosisnya tidak diketahui dan tanpa pengawasan dokter. Jamunya hanya sebagai penampakan, padahal
isinya bahan kimia."
Peneliti yang juga dosen di Departemen Kimia IPB ini melanjutkan, "Bahaya sekali kalau ada bahan
kimia, tanpa tahu dosisnya. Padahal, yang namanya obat (kimia), dosis sangat menentukan. Kalau
melebihi dosis bisa berakibat fatal, atau kalau dipakai dalam waktu tertentu, bisa merusak organ vital."
Namun, Dyah menekankan, tentu saja tidak semua jamu tidak baik.
Dosis biasanya tertera pada kemasan, kecuali jamu gendong. "Dosis, kan, sebenarnya tidak
sembarangan ditentukan. Harus sampai penelitian preklinis (uji coba ke hewan)," jelas Dyah. Dosis di sini
dalam arti berkhasiat. Tapi, dosis juga dalam arti jangan sampai melebih toksisitasnya. Misalnya dosisnya
satu sachet sehari. Berarti kalau lebih dari satu sachet, sudah melampaui batas yang ditentukan.
PASCA
PANEN
Aman dikonsumsi memang menjadi syarat utama jamu, seperti yang ditentukan oleh BPOM. Untuk

menguji keamanan, biasanya dilihat kandungannya. Misalnya dengan melihat tingkat toksisitasnya.
Contohnya buah mahkota dewa. "Dosisnya harus sekian, tidak boleh melebihi sekian, karena toksik."
Selain soal toksisitas, yang juga memengaruhi keamanan jamu adalah faktor penanganan pascapanen.
"Bagaimana cara mencuci, mengeringkan, dan menyimpan sampai menjadi jamu atau produk tertentu
(misalnya kapsul atau minuman instan) sangat berpengaruh. Kalau tidak benar, maka mikroba dan
aflatoksin jamur, justru bisa berakumulasi di dalam tubuh dan bisa berbahaya," lanjut Dyah.
Penanganan pascapanen harus berdasarkan standar yang benar. "Cara membersihkan, mengiris,
mengeringkan pun ada standarnya (Standar Nasional Indonesia). Temulawak dan jahe, misalnya, sudah
ada SNI-nya. Jadi, bagaimana penanganan pascapanen dan budidaya sudah ada standarnya."
Lebih lanjut Dyah mencontohkan mengenai ketebalan irisan. "Tak bisa sembarangan. Tergantung apa
yang diinginkan. Misalnya, kalau yang diinginkan minyak atsirinya, berarti irisan harus lebih tebal, dan
sebagainya." Begitu pula dengan cara mengeringkan dan menyimpan, juga tak boleh dianggap remeh.
"Kalau sudah lembap, bukannya mengobati atau mencegah, tapi mikroba yang masuk ke tubuh malah
akan bertambah. Kalau yang masuk mikroba yang patogen, bisa merusak," kata Dyah melanjutkan.
Yang jelas, Dyah menyarankan untuk tidak meninggalkan jamu. "Tidak semua industri jamu seperti itu,
kok. Banyak produk jamu yang bagus. Konsumen harus jeli memilih, mana jamu yang aman dan mana
yang tidak. Lagipula, negara kita ini sangat kaya dengan tanaman obat. Jadi, kitalah yang harus
memberdayakan."
LAYAK
KONSUMSI
Selain soal khasiat, yang juga harus diperhatikan sebelum mengonsumsi jamu adalah sisi keamanan.
"Memang sulit untuk mengetahui apakah ada kandungan bahan kimia di dalam produk jamu. Harus
melewati penelitian," jelas Dyah. Tapi, untuk melihat apakah jamu masih bagus (layak konsumsi) atau
tidak, bisa dilakukan. Salah satunya dengan melihat tanggal kadaluwarsa. "Juga dari penampakkan
serbuk jamunya sendiri. Serbuk yang bagus biasanya kering, tidak lembap."
Dyah juga menyarankan untuk memilih jamu yang sudah teregistrasi. "Ini paling tidak akan mengurangi
kemungkinan meminum jamu yang tidak jelas kandungannya. Akan lebih baik kalau minum jamu yang
diproduksi berdasarkan hasil penelitian dan proses pembuatannya benar (experiment-based dan
knowledge-based).
Minum jamu sebaiknya juga jangan sampai menjadi suatu ketergantungan. "Meskipun sifatnya lebih
untuk pencegahan, sebaiknya jangan setiap hari. Diberi selang waktu, misalnya minum dua hari sekali."
Yang tak kalah penting adalah konsumsi gizi yang baik, olahraga dan istirahat teratur. "Itu juga membantu
mencegah penyakit."