Anda di halaman 1dari 12

2.1 Faktor yang Menjadi Penyebab Konflik antara India dan Pakistan.

India dan Pakistan merupakan dua Negara di kawasan Asia Selatan yang
selalu dirundung konflik diantara keduanya. Pada mulanya dua Negara ini
merupakan daerah kolonialisasi Inggris. Kemudian, mendapat kemerdekaan dari
Inggris pada tahun 1947 dan secara resmi pada tahun itu juga India terpecah
menjadi dua, yakni India dan Pakistan.
Suasana tegang menyelimuti India hingga awal 1947. Para pemimpin
Inggris tidak dapat mengatasi jalan buntu politik di India. Pada 20 Februari 1947,
Atlee mengumumkan kebijakan bahwa Inggris akan memberikan kemerdekaan
dan meninggalkan India paling lambat Juni 1948. Kemudian disusul dengan
pergantian Viceroy dari tangan Lord Earl Wavell ketangan Lord Mountbatten.
Secara resmi pada 24 Maret 1947 Lord Mountbatten diangkat menjadi Viceroy. Ia
menyaksikan realitas komunitas Hindu dan Muslim di India yang tidak dapat di
damaikan, sehingga tidak ada alternatif lain kecuali pembagian anak Benua India
menjadi dua negara India dan Pakistan. Pada tanggal 3 Juni 1947, Viceroy Lord
Mountbatten mengeluarkan deklarasi tentang dasar-dasar pembagian India. Isi
dari deklarasi tersebut antara lain: status dominiom akan diberikan kepada
pemerintah pengganti pada 15 Agustus 1947. Wakil-wakil golongan Hindu di
dalam Dewan Perwakilan Provinsi, di Punjab dan Benggala harus menentukan
apakah masuk India atau Pakistan. North West Frontier Province dan Sylhet
menentukan masa depannya sendiri dengan cara referendum. Baik Kongres
maupun Liga Muslim menerima deklarasi ini. Parlemen Inggris mengesahkan UU
Kemerdekaan (the India Independence Bill) pada Juli 1947. UU tersebut
terlaksana pada 14 dan 15 Agustus 1947, dengan itu secara resmi India terpecah
menjadi dua dominion, yakni India dan Pakistan. Mayoritas penduduk India
beragama Hindu sesuai perjuangan Kongres, dan sebaliknya mayoritas penduduk
Pakistan beragama Islam sesuai perjuangan Liga Muslim. (Suwarno, 2012:137
138).
Dengan pembelahan India menjadi dua negara ini ternyata tidak
menjadikan kerusuhan-kerusuhan menjadi padam begitu saja. Malah timbul
kerusahan-kerusuhan yang baru. Kerusuhan ditimbulkan akibat pecahnya Provinsi
Punjab dan Benggala. Mulai persoalan perebutan Kashmir, juga pemisahan
Provinsi Pakistan Timur.

Pembelahan anak Benua India menjadi dua negara disusul dengan


kerusuhan-kerusuhan besar yang diakibatkan oleh pecahnya Provinsi Punjab dan
Benggala. India dan Pakistan menjadi musuh bebuyutan, khususnya dalam hal ini
adalah persoalan yang menyangkut Kashmir. Persoalan ini terjadi karena
penguasa Kashmir seorang Maharaja Hindu yang secara sepihak menggabungkan
diri dengan India. Sementara itu mayoritas penduduk Kashmir beragama Islam.
Tidak hanya konflik yang menyangkut soal Kashmir yang sampai sekarang masih
belum terselesaikan, pemisahan Provinsi Pakistan Timur yang sekarang menjadi
Bangladesh dari Pakistan pada tahun 1971 yang dibantu oleh India juga telah
menyebabkan perang India dan Pakistan. (Suwarno, 2012:138).
Sejak mendapat kemerdekaan dari Inggris tahun 1947, India dan Pakistan
telah empat kali berperang. Penyebab awalnya yaitu ketika India tetap mengklaim
seluruh wilayah Kashmir adalah teritorinya dan Pakistan menolaknya. Kashmir
sendiri merupakan simbol bagi identitas nasional India sekaligus Pakistan,
menjadi kendala dalam urusan politik dalam negeri, serta kompromi bagi kedua
negara

sulit

terwujud.

(http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-

perpecahankonflik-india.html).
Ada beberapa penyebab mengapa wilayah Kashmir diperebutkan oleh
India dan Pakistan :
Berdasarkan latar belakang Geografis Kashmir: Wilayah kashmir sangat
strategis karena rangkaian pegunungan Kashmir membentuk pintu gerbang alami
antara Cina, India dan Pakistan. Wilayah Kashmir bagi Pakistan adalah soal hidup
dan mati. Sebab wilayah Khasmir sangat vital karena beberapa Sungai utama
sebagai pemasok air untuk pengairan lahan pertanian mengalir lewat Khasmir.
Tiga anak sungai Indus, yakni Jhelum, Chenab, dan Ravi bermata air di Khasmir.
Meskipun Sungai Indus berhulu di Tibet tetapi mengalir ke Pakistan melalui
Kashmir. Sehingga apabila seluruh wilayah Kashmir dikuasai India maka Pakistan
khawatir suplai air dari empat sungai tersebut akan dibendung dan dialirkan ke
India. (Suwarno, 2012:176).
Berdasarkan faktor Geopolitik Kashmir: Bagi India, wilayah Kashmir
sangat penting untuk dikuasai. Kashmir meupakan bagian yang tak terpisahkan
dari India. Dengan dikuasainya Khasmir akan memungkinkan India memiliki
akses terhadap wilayah strategis di bagian Barat Daya, di samping Kashmir
menyediakan

rangkaian

hubungan

tradisional

antara Asia Tengah

dan

Subkontinen. Hubungan India dan ketiga negara tetangganya yang terpenting


yakni, Rusia, Cina, Afghanistan sangat tergantung pada luasnya wilayah Kashmir
yang dapat dikuasai. (http://arvinradcliffe.blogspot.com/2012/06/konflik-indiadan-pakistan-dalam.html)
Wilayah Kashmir yang sangat penting bagi ke dua negara, baik India
maupun Pakistan. Kedua negara, yakni India dan Pakistan sama-sama mempunyai
hak atas wilayah Kashmir. Menyebabkan persoalan ini tidak kunjung dapat
terselesaikan. Ketegangan antara kedua negara masih terus berlanjut hingga
sekarang.
Selain faktor itu, faktor agama juga mempengaruhi konflik diantara
Pakistan dan India. Di bawah Ali Zinah, mengambil jalan sendiri memisahkan
diri dari India karena merasa bahwa aspirasi politik umat Islam saat itu tak bisa
disalurkan. Oleh karena itu karena dukungan masyarakat penganut Islam maka
lahir Pakistan bebas dari India. Selanjutnya adalah faktor keamanan, karena
merasa adanya ancaman terutama dari negara besar seperti India di Asia Selatan,
Pakistan ataupun Sri Lanka merasakan betapa perlunya mempersenjatai diri.
Pakistan terutama sering merasa ancaman ideologi yang dilatarbelakangi agama
Hindu terus membayang-bayangi. Oleh karena itu interaksi yang terjadi di
kawasan pun lebih dilandasi oleh kecurigaan dan kehati-hatian terutama melihat
gerakan India yang tak bisa dipercaya begitu saja. Pacuan senjata di Asia Selatan
dipicu oleh kecurigaan terutama dari Pakistan ke India dan sebaliknya. Tidak
mengherankan apabila Pakistan berusaha mencari senjata pamungkas yakni nuklir
sebagai kekuatan penggetar yang kemudian justru mempercepat kelahiran
program senjata nuklir India. Meskipun kedua negara belum secara terus terang
menggelar senjata nuklirnya namun sudah menjadi pendapat umum bahwa baik
Pakistan maupun India memiliki kemampuan membuat bom atom. Adanya faktor
persaingan juga berpengaruh diantara dua negara besar ini. Dua Negara di
kawasan ini berusaha saling memantapkan pengaruhnya di Asia Selatan maupun
ikut mempengaruhi negara besar di luar kawasan untuk masuk ke wilayah itu.
(http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-perpecahankonflik-india.html).
Campur tangan India terhadap perang yang terjadi di antara Pakistan
dengan Pakistan Timur. Menyebabkan timbulnya masalah baru diantara dua
negara tersebut semakin parah. Dengan adanya campur tangan tersebut membuat

Pakistan terpecah menjadi dua, karena tidak dapat mempertahankan Pakistan


Timur yang sekarang menjadi negara merdeka bernama Bangladesh.
Seperti menurut Suwarno (2012:196) sebagai berikut,
Jalannya perang saudara di Pakistan Timur berubah ketika
India campur tangan dengan mengirim pasukan untuk
membantu kaum nasionalis Bengali, pada November 1971.
Hanya dalam waktu sekitar satu bulan, tentara Pakistan berhasil
dilumpuhkan oleh kekuatan gabungan tentara India dan kaum
nasionalis Bengali. Pada 16 Desember 1971, tentara Pakistan
terpaksa menyerah kepada kekuatan gabungan tersebut. Hal ini
berakibat pemerintahan rezim militer Yahya Khan di Pakistan
ambruk dan Bangladesh menjadi negara tersendiri, yang
merdeka dan berdaulat.
Faktor politik, setelah Pakistan memisahkan diri dari India menjadi
Pakistan timur dan barat, pada perjalanan sejarahnya Pakistan timur tidak
tertampung aspirasi politiknya. Dengan dukungan India, Pakistan timur berpisah
dari Pakistan barat yang kemudian melahirkan negara baru, Banglades.
Kepentingan Pakistan timur akan penampungan aspirasi politiknya menjadi
pendorong terjadinya kelahiran baru Bangladesh meskipun tidak ada persoalan
agama

karena

keduanya

mayoritas

penduduknya

Muslim. (http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-perpecahankonflikindia.html).
Sebagai musuh sejak awal kemerdekaannya, tentulah tidak mengherankan
jika India membantu Pakistan Timur untuk kemerdekaannya. Dengan berdirinya
negara Bangladesh kekuatan Pakistan diharapkan semakin melemah. Di samping
karena jutaan pengungsi Bengali yang masuk ke India, sehingga India harus
menghentikan arus pengungsian dan ketika negara Bangladesh berhasil didirikan
mereka mengembalikannya dengan segera. (Suwarno, 2012:197).
2.2 Konflik atau Perpecahan yang Terjadi Antara India dan Pakistan
Terdapat 4 Perang Sengit antara India - Pakistan yang pernah terjadi .
Ketiganya disebabkan masalah utama yaitu perebutan wilayah Kashmir dan yang
satunya disebabkan oleh masalah wilayah Pakistan timur (Mashad, 2004).
Wilayah Khasmir terbagi oleh tiga negara: Pakistan mengontrol barat laut, India

mengontrol tengah dan bagian selatan Jammu dan Kashmir, dan Republik Rakyat
Cina menguasai timur laut (Aksai Chin). Pakistan memandang seluruh wilayah
Kashmir sebagai wilayah yang dipertentangkan, dan tidak menganggap klaim
India atas wilayah ini. Sebuah pilihan yang disukai banyak orang Kashmir adalah
kemerdekaan, namun baik Pakistan dan India menentang hal ini.
Untuk bergabung dengan India atau Pakistan, di samping faktor agama
yang dianut rakyatnya, faktor geografis juga perlu untuk dipertimbangkan.
Menurut Musidi (2012: 176) tiga perempat dari empat juta penduduk Kashmir
beragama Islam. Penguasanya bernama Hari Singh beragama Hindu, memerintah
Kashmir dengan dukungan kaum Brahmana Kashmir. Namun, Hari Singh tidak
bersedia untuk bergabung baik dengan India maupun Pakistan. Kompleksitas
rakyat, jaringan jalan menuju ke Pakistan, dan Kashmir mengontrol mata air
Indus, merupakan alasan yang bagus untuk menarik Kashmir ke Pakistan. Bila
pertimbangan geografis dan kepercayaan penduduk diterapkan di Kashmir
menjadi dilemma karena menjadi kelanjutan baik dari India maupun Pakistan.
1.Perang India-Pakistan 1947 (21 Oktober 1947 - 31 Desember 1948)
Perang India-Pakistan 1947, kadang-kadang disebut sebagai Perang
Kashmir Pertama, adalah perang yang terjadi antara India dan Pakistan terhadap
wilayah Kashmir dari tahun 1947 sampai 1948. Perang ini merupakan perang
pertama dari empat perang yang terjadi antara India dan Pakistan. Akibat perang
ini masih memengaruhi geopolitik kedua negara. Pada akhir bulan Agustus dan
awal bulan September pecah pemberontakan di provinsi Poonch. Kaum Muslim
memberontak para tuan tanah Dogra Rajput. Pemberontakan ini mendapatkan
dukungan dari Pakistan. Orang-orang Kashmir menghendaki kemerdekaan
sebelum adanya penggabungan, tetapi pada saat itu orang-orang Pathan yang
bersenjata lengkap telah menyerbu ke ibukota Kashmir, yaitu Srinagar. Pada
tanggal 26 Oktober, Hari Singh secara resmi bergabung ke India dan meminta
dukungan untuk mempertahankan Srinagar. Dijelaskan Musidi (2012: 176)
pertempuran memperebutkan Kashmir pada akhir tahun 1948 berakhir dengan
pembagian de facto yaitu sebelah timur Uri dan Poonch. Di daerah yang diduduki
Pakistan dibentuk pemerintahan Azaf Kashmir, meliputi seperempat wilayah
kerajaan, dengan ibu kota Muzaffarabad dan bergabung ke Pakistan.

Ketika perang India-Pakistan berlangsung, para pengungsi Hindu


berdatangan ke Delhi dan Calcutta. Di Panipat, sebelah utara Delhi dibangun
kamp pengungsi yaitu di Kurukhsetra
2.Perang India-Pakistan 1965
Perang India-Pakistan 1965, juga disebut Perang Kashmir Kedua, adalah
perang yang terjadi antara India dan Pakistan pada Agustus 1965 sampai
September 1965. Perang ini adalah pertempuran kedua antara India dan Pakistan
terhadap wilayah Kashmir. Perang pertama telah terjadi pada tahun 1947. Perang
ini terjadi selama lima minggu, yang berakhir dengan ribuah korban jiwa pada dua
belah pihak dan gencatan senjata oleh PBB. Perang ini dimulai dengan kegagalan
Pakistan dalam operasi Gibraltar yang bertujuan untuk menyusupi dan menyerang
Jammu dan Kashmir.
3.Perang India-Pakistan 1971
Perang India-Pakistan 1971 adalah konflik utama antara India dan
Pakistan. Perang ini berhubungan dengan Perang Kemerdekaan Bangladesh
(kadang-kadang disebut Perang Saudara Pakistan). Terdapat argumen tentang
tanggal perang. Namun, serangan dilancarkan antara India dan Pakistan pada sore
tanggal 3 Desember 1971. Konflik bersenjata front barat India selama periode 3
Desember 1971 dan 16 Desember 1971 disebut Perang India-Pakistan oleh
Bangladesh dan India. Perang ini berakhir dengan kekalahan Pakistan.
4.Perang India-Pakistan 1999 (Perang Kargil)
Perang Kargil, juga disebut Konflik Kargil, adalah konflik bersenjata
antara India dan Pakistan yang terjadi antara Mei dan Juli 1999 di distrik Kargil,
Kashmir. Penyebab perang ini adalah masuknya pasukan Pakistan dan militan
Kashmir ke wilayah India pada Line of Control, yang merupakan perbatasan de
facto antara kedua negara.Keinginan Pakistan untuk mengambil alih Kashmir dari
India tidak pernah lenyap. Bagi Pakistan, dengan berpegang pada Two-Nation
theory (Teori Dua Bangsa) yakni satu Muslim dan satu Hindu, masuknya Kashmir
kedalam wilayahnya adalah merupakan keharusan karena mayoritas penduduk
Kashmir adalah beragama Islam. Teori Dua Bangsa adalah merupakan suatu
reaksi negative terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang membentuk nasib Asia
Selatan dalam pertengahan abad ke-20.

2.3 Penyelesaian Konflik antara India dan Pakistan


Ketegangan antara India dengan Pakistan pada dasarnya terjadi sejak
terpisahnya Pakistan dari India.

Perbedaan

ideologi

yang

akhirnya

telah

memisahkan kedua negara, dimana keinginan India untuk menjadi negara yang
sekuler sangat bertentangan dengan keinginan kaum muslim di India yang ingin
menjadikan India sebagai negara Islam. Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu
sedang menjajah India, malah memanfaatkan situasi ini untuk menguasai
pemerintahan

di India. India dan Pakistan sebenarnya

pernah

menjadi

satu

wilayah.
Terdapat tiga perang utama dan satu perang kecil antara kedua negara,
serta beberapa perkelahian dan pertikaian di perbatasan. Setiap perang yang
berlangsung disebabkan oleh wilayah Kashmir yang diperdebatkan. Sengketa
Kashmir muncul saat India dan Pakistan ikut campur. Secara geografis, Kashmir
seharusnya masuk wilayah Pakistan. Tapi, konspirasi jahat para pemimpin India
dan sejumlah tokoh Kashmir sukses menghentikan deklarasi wilayah ini sebagai
bagian dari Pakistan. India dan Pakistan, masing-masing, menguasai sebagian
wilayah di Himalaya itu tapi mengklaimnya secara keseluruhan. Percekcokan
tersebut telah membuat hubungan antara kedua negara bertetangga itu tegang
selama hampir enam dasawarsa dan menyulut dua dari tiga perang mereka sejak
1947.
Konflik Kashmir menjadi masalah internasional pada bulan Januari 1948,
perhatian masyarakat dunia sesungguhnya tertuju kepada masalah tersebut. Tetapi
perlahan-lahan

kasus

tersebut menjadi

dingin setelah

timbul

indikator

bahwa India dan Pakistan cenderung menyelesaikan sengketa Kashmir melalui


perundingan-perundingan bilateral. Hal ini bermula pada tahun 1953, Perhatian
masyarakat

internasional

baru

tergugah

jika

terjadi

peristiwa-peristiwa

menegangkan, seperti perang, yang bakal mempengaruhi situasi dunia, misalnya


pada tahun 1965 dan 1971 ketika kedua negara itu terlibat perang. Perundingan
yang sempat dilakukan dalam usaha penyelesaian sengketa Kashmir adalah
melalui pembentukan organisasi regional Asia Selatan (SAARC). Organisasi
regional ini juga berusaha menengahi ketegangan antara India dan Pakistan yang

telah terjadi sejak lama. Kehadiran SAARC telah membantu terciptanya dialog
antar negara-negara Asia Selatan termasuk juga antara India dan Pakistan. Hal ini
termasuk pada salah satu karakteristik periode damai, yaitu terbentuknya
mekanisme kelembagaan internasional yang mampu menyelaraskan kepentingan
antar negara.

Upaya PBB dalam menyelesaikan konflik kashmir


PBB sebagai organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak hanya lepas

tangan soal konflik antara India dan Pakistan. PBB berusaha menyelesaikan
konflik dengan cara damai agar konflik yang terjadi antara kedua negara tersebut
tidak berlarut-larut. Dalam perebutan wilayah Kashmir antara India dan Pakistan,
keterlibatan PBB adalah sebagai aktor non-negara yang dibentuk oleh negarabangsa atau yang dikenal dengan Intergovernmental Organization (IGOs).
Walaupun terdiri dari negara-bangsa, PBB tetap berada pada posisi yang tidak
memihak negara manapun. Walaupun dalam konflik Kashmir, PBB membentuk
United Nation Comission for India and Pakistan (UNCIP) yang terdiri dari lima
negara anggota yaitu yang anggotanya terdiri dari Amerika Serikat, Belgia dan
Argentina. Namun pada 21 April 1948, PBB memutuskan untuk menambah dua
anggota baru UNCIP, yaitu Kolombia dan Cekoslowakia., hal tersebut tetap tidak
menghapuskan posisi netral PBB. Keterlibatan PBB merupakan sebagai aktor
non-negara yang menjalankan upaya diplomasinya melalu jalur second track
diplomacy. Selain itu, diputuskan pula bahwa India dan Pakistan harus menarik
pasukan, berhenti perang, mengembalikan pengungsi, membebaskan tahanan
politik, serta secepatnya melaksanakan referendum atas status Kashmir.
PBB meminta agar Pakistan dan India menarik pasukannya di Kashmir.
Dalam resolusi tersebut dinyatakan bahwa "Pemerintah India dan pemerintah
Pakistan menegaskan kembali bahwa status masa depan Jammu-Kashmir akan
ditentukan sesuai dengan kehendak rakyat dan untuk mencapai tujuan tersebut,
atas penerimaan Perjanjian Genjatan Senjata, kedua pemerintah menyetujui untuk
memulai konsultasi dengan Komisi untuk menentukan syarat-syarat yang adil,
seimbang, bebas dan terjamin".
Pada 5 Januari 1949, PBB kembali mengeluarkan resolusi yang
menyebutkan bahwa "the question of accession of the state of Jammu and

Kashmir to India or Pakistan will be decided through the democratic method of a


free and impartial plebiscite. Resolusi tersebut juga menyatakan untuk penarikan
pasukan Pakistan dari Kashmir, mengukuhkan hak tentara India dalam
mempertahankan Kashmir, dan segera melaksanakan referendum di Kashmir
secara independen. Setelah usaha-usaha memaksa India untuk menaati resolusi
PBB tidak pernah terwujud, maka pada tahun 1957, Pakistan mencoba kembali
mengangkat isu Kasmir ke PBB, yang kemudian hasilnya adalah PBB menolak
ratifikasi Instrument of Accession, namun hasil tersebut ditolak India. Resolusi
tersebut juga mengulangi resolusi sebelumnya yang menyatakan bahwa masa
depan Kashmir harus diputuskan sesuai kehendak rakyat melalui cara-cara yang
demokratis dengan melaksanakan referendum yang bebas dan tidak memihak di
bawah pengawasan PBB.
Pada tahun 1962, Dewan Keamanan PBB berusaha melakukan hak veto
namun hal tersebut gagal. Upaya PBB dalam menyelesaikan masalah ini terlihat
melemah ketika dikeluarkannya resolusi tahun 1964 yang menyatakan bahwa
permasalahan Kashmir antara India dan Pakistan sebaiknya diselesaikan dahulu
secara bilateral. Berbagai resolusi yang dikeluarkan tidak juga menyelesaikan
permasalahan Kashmir. Bahkan India dan Pakistan kembali terlibat perang
terbuka pada tahun 1965 dan tahun 1971, yang mengakibatkan ratusan ribu
korban jiwa, korban terluka dan tertangkap.

Upaya SAARC (South Asian Association of Regional Cooperation) dalam


penyelesaian konflik Kashmir
Permusuhan antara India dan Pakistan merupakan salah satu hubungan

persengketaan yang paling awet yang pernah terjadi di antara dua negara
bertetangga. Di beberapa masa jeda damai, persengketaan di antara mereka sudah
hampir berumur 57 tahun, sama tuanya dengan usia kedua negara itu sendiri.
Konflik India-Pakistan merupakan konflik yang sangat berpengaruh dan
mengganggu di kawasan Asia Selatan, karena konflik tersebut melibatkan dua
Negara besar yaitu India dan Pakistan. Konflik India-Pakistan juga berdampak
buruk bagi organisasi SAARC (South Asian Association of Regional
Cooperation), yaitu organisasi internasional regional yang beranggotakan negaranegara Asia Selatan, dimana India dan Pakistan juga merupakan anggota dari

SAARC. Kemelut ini akan mengganggu kemajuan dan eksistensi SAARC di masa
mendatang, karena selain mereka sebagai negara-negara dominan juga sangat
tidak mungkin apabila Negara-negara yang berada dalam satu organisasi terlibat
konflik atau perang dengan negara lain sesama anggota.
Jalan menuju perdamaian antara India dan Pakistan sangatlah panjang,
setelah menyepakati gencatan senjata pada awal tahun 1949, menyusul perang
pertama pada tahun 1947, hubungan antara kedua negara kembali memburuk.
Ketegangan mencapai klimaks pada September 1965 ketika pasukan India dan
Pakistan kembali dikerahkan ke medan perang. Kesepakatan damai akhirnya
ditandatangani pada tahun 1966, tetapi lima tahun kemudian, tahun 1971 mereka
kembali bertempur, kali ini karena sengketa soal wilayah Pakistan Timur, yang
kemudian menjadi Bangladesh. Perdamaian terjadi lagi pada tahun 1972, yang
diikuti masa tenang yang relatif panjang, hingga dilakukannya berbagai kegiatan
uji coba rudal nuklir di kedua negara, yang dimulai pada dekade 1990-an.
Tahun 1985 Negara-negara di Asia Selatan, membentuk organisasi
internasional regional Asia Selatan atau SAARC ( South Asian Association of
Regional Cooperation), dimana India dan Pakistan adalah anggota dari organisasi
ini. Dan konflik yang terjadi antara India dan Pakistan menjadi agenda SAARC
untuk ikut membantu menyelesaikannya yaitu sebagai mediator dari India dan
Pakistan. Dari semua hal yang di upayakan oleh SAARC, sampai saat ini SAARC
belum menemukan titik terang dalam penyelesaian konflik Kasmir. Dengan kata
lain selama ini SAARC hanyalah wadah bagi wakil baik dari India maupun
Pakistan untuk berunding dan mencoba menyelesaikan pertikaian mereka.
Dalam sengketa India Pakistan terhadap Kashmir dunia internasional
telah beberapa kali melakukan upaya-upaya agar terselesaikan dengan harapan
Kashmir akan berdiri sendiri atau berintegrasi kedalam salah satu negara, namun
upaya-upaya tersebut lebih sering dilakukan dalam forum kerjasama regional
(SAARC) atau forum-forum internasional lainnya (OKI, KTT Non Blok). Selalu
ada

pihak

yang

tidak

merasa

terakomodir

kepentingannya

baik

itu India atau Pakistan, sehingga segala upaya-upaya yeng pernah dilakukan tetap
saja gagal. Pos perbatasan yang dibuat di sepanjang wilayah perbatasan juga
menjadi penyebab mengapa penyelesaian sengketa ini selalu berakhir dengan

perang terbuka dan menelan korban. Hal ini harus terus dimonitoring dengan
mendorong adanya pertemuan berkala antara pemimipin militer kedua negara.

DAFTAR RUJUKAN
Mashad, D. 2004. Kashmir: Derita yang Tak Kunjung Usai. Jakarta: Khalifa
Musidi, B. 2012. India: Sejarah Ringkas Dari Prasejarah sampai Terbentuknya
Bangladesh. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Suwarno. 2012. Dinamika Sejarah Asia Selatan. Yogyakarta: Ombak.
(http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-perpecahankonflik-india.html)
(Online) diakses 26 Februari 2015.
(http://arvinradcliffe.blogspot.com/2012/06/konflik-india-dan-pakistan-dalam.html)
(Online) diakses 26 Februari 2015.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_India-Pakistan_1947) (Online) diakses 27


Februari 2015
(http://www.lihat.co.id/2013/01/4-perang-sengit-antara-india-pakistan.html)
(Online) diakses 27 Februari 2015
(http://fleepzfloopz.blog.com/2010/09/27/sengketa-india-pakistan-di-wilayahkashmir/) (Online) diakses pada tanggal 1 Maret 2015
(http://tulisanachie.blogspot.com/2012/12/perebutan-wilayah-kashmir-antaraindia.html) (Online) diakses pada tanggal 1 Maret 2015