Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

PROBLEM BASED LEARNING SKENARIO I


BLOK SISTEM RESPIRASI
Rhinofaringitis

Tutor: dr. HM Mambodyanto SP, SH. MMR


Disusun Oleh:
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Naelin Nikmah
Dhita Hestilana
Ratih Paringgit
Partogi Andres
Widya Kusumastuti
Nurvita Pranasari
Meta Mukhsinina P.
Rhani Shabrina
Dessriya Ambar

G1A010001
G1A010011
G1A010023
G1A010030
G1A010040
G1A010054
G1A010064
G1A010076
G1A010086

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

BAB I
PENDAHULUAN
PBL KASUS KE

:1

JUDUL SKENARIO

: RHINOFARINGITIS

KELOMPOK

:1

HARI/TANGGAL TUTORIAL

: KAMIS, 8 MARET 2012


JUMAT, 9 MARET 2012

Informasi I :
Seorang anak laki-laki umur 10 tahun datang ke UGD diantar oleh ibunya
dengan keluhan mimisan. Ibunya menceritakan bahwa sang anak mengalami
panas sejak kemarin pagi, pusing, pilek, bersin-bersin, batuk, dan tenggorokan
sakit.
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan hasil :
Keadaan umum

: baik, compos mentis

BB

: 25 kg

Suhu

: 37,8C

Respirasi

: 20x/menit

Denyut nadi

: 84x/menit

Kepala :

Thoraks :

Hidung

: Konkha udem (+), Hiperemi(+) , discharge serous (+)

Faring

: hiperemi (+)

Tonsil

: T1-1, hiperemi (-)

Inspeksi

: simetris, retraksi (-), tidak ada gerak dada yang


tertinggal

Palpasi

: hantaran paru kanan = kiri

Perkusi

: sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : suara dasar vesikuler, ronchi (-)


Abdomen

: dalam batas normal

Ekstermitas

: dalam batas normal

Informasi II :
Anak sudah diberi obat flu di warung tapi belum membaik. Mimisan
dialami 1 jam yang lalu, jumlahnya kira-kira 1 sendok, dapat berhenti sendiri.
Riwayat mimisan sebelumnya disangkal.
Informasi III :
Hasil pemeriksaan darah :
Hb

: 12 gr%

Hematokrit

: 42%

Eritrosit

: 4,2 juta

Leukosit

: 6800

Trombosit

: 190.000

PTT

: 10 detik

aPTT

: 35 detik

Informasi IV :
Diagnosis : epistaxis
Rhinopharingitis akut e/c viral (common cold)
Mendapatkan terapi :
1. Antipiretik
2. Dekongestan + antihistamin (dalam 1 sediaan)
3. Edukasi : cukup istirahat + perbanyak cairan : sup hangat, jus buah, dsb.

BAB II
PEMBAHASAN
Kejelasan Istilah
1. Unit Gawat Darurat (UGD) :
Salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi
pasien yang menderita sakit dan cedera. Yang dapat mengancam
kelangsungan hidupnya (Morgan dkk, 2003).
2. Mimisan (epistaksis)
a. Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung,
rongga hidung atau nasofaring dan mencemaskan penderita serta para
klinisi. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu
kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti sendiri. Pada orang yang
lebih muda, pemeriksaan di lokasi perdarahan setelah terjadinya epistaksis
memperlihatkan area yang tipis dan lemah. Kelemahan dinding pembuluh
darah ini disebabkan oleh iskemia lokal atau trauma. Epistaksis dapat
terjadi setelah trauma ringan misalnya mengeluarkan ingus dengan kuat,
bersin, mengorek hidung atau akibat trauma yang hebat seperti kecelakaan
lalulintas (Munir dkk, 2006).
b. Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung,
rongga hidung atau nasofaring dan mencemaskan penderita serta para
klinisi. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu
kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti sendiri (Abelson, 1998).
c. Epistaksis anterior merupakan jenis epistaksis yang paling sering dijumpai
terutama pada anak-anak dan biasanya dapat berhenti sendiri. Perdarahan
pada lokasi ini bersumber dari pleksus Kiesselbach (little area), yaitu
anastomosis dari beberapa pembuluh darah di septum bagian anterior tepat
di ujung postero superior vestibulum nasi. Perdarahan juga dapat berasal
dari bagian depan konkha inferior. Mukosa pada daerah ini sangat rapuh
dan melekat erat pada tulang rawan dibawahnya. Daerah ini terbuka
terhadap efek pengeringan udara inspirasi dan trauma. Akibatnya terjadi

ulkus, ruptur atau kondisi patologik lainnya dan selanjutnya akan


menimbulkan perdarahan (Ballenger, 1994).
3. Pusing :
Nyeri difus di berbagai bagian kepala yang bervariasi dalam intensitas, sisi,
dan durasi (Morgan, 2003).
Batasan masalah
1. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun
2. Keluhan utama mimisan.
3. Keluhan penyerta panas dengan onset 1 hari, pusing, pilek, bersin-bersin,
batuk, dan tenggorokan sakit.
Analisis Masalah
Keadaan umum

: baik, sadar penuh

BB

: 25 kg

Suhu

: 37,8C. Interpretasi : demam

Respirasi

: 20x/menit. Interpretasi : normal

Denyut nadi

: 84x/menit. Interpretasi : normal

Kepala :

Thoraks :

hidung

: konkha membesar dan meradang, terdapat sekret

Faring

: merah karena meradang

Tonsil

: membesar tetapi tidak meradang

Inspeksi

: simetris, tidak retraksi, tidak ada gerak dada yang

Palpasi

: hantaran paru kanan=kiri

Perkusi

: sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: suara dasar vesikuler, tidak ada ronchi

tertinggal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

Hipotesis :
1.

Rinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen
yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan
ulangan dengan alergen spesifik tersebut. Rhinitis alergi dibagi menjadi dua,
yaitu :
a. Spesifik: debu rumah atau di tempat pekerjaan, bulu binatang, asap
rokok, kabut, tepungsari, makanan
b. Non spesifik : ganguan metabolic, gangguan saraf otonom yang
terpusat di thalamus, hipotalamus, dan nukleus basalis (Adam,
1997).

2.

Faringitis akut.
Faringitis adalah peradangan pada faring, yang ditandai dengan kering
dan sakit tenggorokan, malaise, sakit kepala, suhu tubuh meningkat, batuk,
disfagia, serta nyeri alih ke telinga. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan
eksudat faring yang menebal, adanya adenopati cervical, serta dinding faring
yang memerah (Alsagaff, 2009).

Merumuskan Tujuan belajar


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Fisiologi nasal-faring
Definisi
Epidemiologi
Etiologi
Faktor predisposisi
Cara penularan
Patogenesis patofisiologi
Manifestasi klinis
Gambaran patologi anatomi
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Pencegahan
Komplikasi
Prognosis

Menarik atau mengambil sistem informasi yang dibutuhkan dari informasi


yang ada

1. Fisiologi nasal-faring
A. Nasal
Bila udara mengalir melalui hidung, akan ada 3 fungsi tertentu
yang dikerjakan oleh rongga hidung:
a) Udara dihangatkan oleh permukaan konka dan septum yg luas
b) Udara dilembabkan sampai hampir lembab sempurna sebelum
udara meninggalkan hidung
c) Udara disaring
Ketiga fungsi ini disebut fungsi pelembab udara. Biasanya,
suhu udara inspirasi menigkat sampai 1oF melebihi suhu tubuh dan
dengan kejenuhan uap air 2 sampai 3 persen sebelum udara mencapai
trakea (Guyton&Hall, 2007).
Fungsi penyaring Hidung
Bulu-bulu pada pintu masuk lubang hidung penting untuk
menyaring partikel-partikel besar. Jauh lebih penting adalah
mengeluarkan partikel melalui presipitasi turbulen. Artinya, udara
yang mengalir melalui saluran hidung membentur banyak dinding
penghalang; konka (disebut juga turbinates sebab konka menimbulkan
turbulensi udara), septum dan dinding faring. Tiap kali udara
membentur udara ini, udara harus mengubah alirannya; partikelpartikel yang tersuspensi dalam udara, mempunyai momentum dan
massa yang jauh lebih besar daripada udara, maka tidak dapat
mengubah arah perjalanannya secepat udara. Oleh karena itu, partikelpartikel tersebut terus maju ke depan, membentur permukaan
penghalang-penghalang ini dan kemudian dijerat oleh mukus pelapis
dan dibawa oleh silia ke faring untuk ditelan (Guyton&Hall, 2007).

Fisiologis Penghidu
a) Epitelium olfaktorius sensori menempati beberapa sentimeter
persegi di atap hidung
b) Udara yang baru masuk tidak melewati sel-sel sensori secara
langsung, tetapi udara berputar-putar untuk mencapai tujuannya
c) Untuk dapat tercium, zat-zat harus mudah menguap, dan juga dapat
larut dalam lemak.
d) Molekul-molekul zat yg tercium terlarut dalam sekresi kelenjar
mukus lokal dan terdeteksi oleh sel-sel olfaktoris sensori yang
mempunyai rambut-rambut tumpul silia dan terletak ditengahtengah sel-sel penyokong.
e) Stimulasi menyebabkan impuls-impuls untuk menjalar sepanjang
serabut saraf sel-sel sensori.
f) Serabut saraf ini menembus atap hidung untuk masuk ke rongga
kranial tempat mereka bergabung dengan bulbus olfaktorius.
g) Dari bulbus olfaktorius saraf-saraf di dalam traktus olfaktorius
melewati inti sel tertentu pada dasar otak, area piriformis dan
kemuadian melalui jaras yang kompleks ke area korteks serebri di
celah antara hemisfer, girus singulet (Guyton&Hall, 2007).
B. Faring
Sebagai pipa atau saluran pernapasan.
Terdapat 3 bagian :
a) Nasofaring, bagian dari faring yang berperan sebagai pemisah antara
cavum oral dengan cavitas nasal melalui palatum mole. Pada nasofaring
terdapat struktur khas yaitu tuba eustachii sebagai penghubung telinga
bagian tengah (cavum timpani) dengan rongga di belakang hidung
(nasofaring). Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada
dalam keadaan tertutup dan akan membuka bila kita menelan. Tuba
Eustachius ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara telinga
tengah dengan tekanan udara luar (tekanan udara atmosfer).
b) Orofaring, pada bagian ini terjadi perubahan epitel dari columner
pseudokompleks menjadi skuamous kompleks.
c) Laringofaring, bagian inferior dari laring ini merupakan gerbang
masuk menuju laring dan esofagus. Epitel yang melapisi laringofaring
sama dengan orofaring yang fungsinya melawan abrasi, zat-zat kimia
berbahaya dan invasi patogen (Martini&Nath, 2009).

2. Definisi
Rhinofaringitis (juga dikenal sebagai nasofaringitis, coryza akut, atau
common cold) adalah penyakit menular virus dari sistem pernapasan
bagian atas yang mempengaruhi terutama hidung. Gejala termasuk batuk,
sakit tenggorokan, pilek, dan demam yang biasanya selesai dalam tujuh
sampai sepuluh hari, dengan beberapa gejala yang berlangsung sampai tiga
minggu. Lebih dari 200 virus yang terlibat dalam penyebab flu biasa, yang
rhinoviruses adalah yang paling umum (Behrman et al, 2000).
Common cold atau salesma merupakan infeksi primer di nasofaring
dan hidung yang sering dijumpai pada bayi dan anak. Dibedakan istilah
nasofaring akut untuk anak dan common cold untuk orang dewasa oleh
karena manisfetasi klinis penyakit ini pada orang dewasa dan anak
berlainan. Pada anak infeksi lebih luas, mencakup daerah sinus paranasal,
telinga tengah di samping nasofaring, disertai demam yang tinggi. Pada
orang dewasa infeksi mencakup daerah terbatas dan biasanya tidak disertai
demam yang tinggi (Behrman et al, 2000).
3. Epidemiologi
Kerentanan terhadap agen yang menyebabkan rhinofaringitis akut
adalah universal, tetapi karena alasan yang kurang dimengerti kerentanan
ini bervariasi pada orang yang sama pada waktu ke waktu. Walaupun
infeksi terjadi sepanjang tahun, di belahan bumi utara ada puncak kejadian
pada bulan Januari, akhir bulan April dan bulan September saat musim
sekolah dimulai. Anak menderita rata-rata lima sampai delapan infeksi
setahun, dan angka tertinggi terjadi selama umur 2 tahun pertama.
Frekuensi rhinofaringitis akut berbanding langsung dengan angka
pemajanan dan pada sekolah taman kanak-kanak serta pusat perawatan
merupakan epidemi yang sesungguhnya. Kerentanan dapat bertambah
karena malnutrisi (Behrman et al, 2000).
4. Etiologi

Penyakit yang disebabkan oleh lebih dari 200 agen virus yang berbeda
secara serologis. Agen utamanya adalah rhinovirus, lebih dari 100 jenis
rhinovirus dengan DNA maupun RNA yang berbeda yang menyebabkan
lebih dari sepertiga semua kasus cold dengan prosentase 25-80%.
Koronavirus merupakan penyebab terbanyak selesma yang kedua dengan
persentase 10-20%, virus influenza 10-15% dan virus jenis lain seperti
adenovirus, myxovirus, echovirus, serta respiratory syncytial virus (RSV).
Masa infektivitas berakhir dari beberapa jam sebelum munculnya gejala
sampai 1-2 hari sesudah penyakit nampak. Streptococcus grup A adalah
bakteri utama yang menyebabkan nasofaringitis akut. Bakteri lain
umumnya

menyebabkan

infeksi

sekunder

pada

jaringan

saluran

pernapasan atas seperti Staphylococcus aureus dan Haemophylus


influenza.dan menyebabkan komplikasi pada sinus, telinga, mastoid,
limfonodus dan paru-paru (Behrman et al, 2000).
5. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya rhinofaringitis adalah kelelahan, gizi
buruk, anemia dan kedinginan, walaupun umur bukan faktor yang
menentukan daya rentan, namun infeksi sekunder purulen lebih banyak
dijumpai pada anak kecil. Penyakit ini lebih sering diderita pada
pergantian musim. Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa
jam, didapatkan rasa panas, kering dan gatal di dalam hidung. Kemudian
akan timbul bersin berulang-ulang, hidung tersumbat dan ingus encer,
yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala. Permukaan
mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Sumbatan hidung
menyebabkan anak bernafas melalui mulut dan anak menjadi gelisah. Pada
anak yang lebih besar kadang-kadang didapat rasa nyeri pada otot, pusing
dan anoreksia. Kongesti hidung disertai selaput lendir tenggorok yang
kering menambah rasa nyeri.
6. Cara penularan
Reservoir penyakit common cold atau selesma adalah manusia. Cara
penularan penyakit ini diduga melalui kontak langsung atau melalui

droplet, yang lebih penting lagi penularan selesma ini tidak langsung dapat
terjadi melalui tangan dan barang-barang yang baru saja terkontaminasi
oleh kotoran hidung dan mulut orang yang terinfeksi, melainkan
Rhinovirus serta kemungkinan virus-virus lainnya ditularkan melalui
tangan yang terkontaminasi yang kemudian terbawa ke membran mukosa
hidung.
7. Patogenesis patofisiologi
Rhinovirus masuk dan menginfeksi hidung

Mendapat respon dari sistem imun

Menginduksi
mediator-mediator
inflamasi

Konka
hiperemi,
udem

Produksi
sekret
seromukus

Sekret
menumpuk

Pilek

Tekanan dalam
hidung
meningkat

Demam,
panas

Pembuluh
darah pecah

Menyebar dan
menginfeksi faring

Rhinovirus
benda asing

Bersinbersin

Pusing

Mengenai
reseptor
batuk

Produksi mukus
di faring

Batuk

Sakit
tenggorok

Epistaksis

(George dkk, 1989).


8. Manifestasi klinis
Menifestasi klinis pada selesma dibagi dalam dua stadium, yaitu
stadium awal yang disebabkan oleh virus, yang selanjutnya berlanjut
dengan infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri pada stadium
invasive (George, 1989).
Pasien dengan selesma pada stadium awal ditandai dengan keluhan
berupa sumbatan hidung, bersin-bersin, sedikit batuk yang terkadang

disertai dengan nyeri kepala, peningkatan suhu atau bisa juga normal serta
keadaan sekret yang berlebih dan bersifat encer yang kemudian berubah
menjadi mukoid hingga lengket dan kental. Pada keadaan sekret yang
lengket dan kental umumnya merupakan puncak dari stadium awal yang
berlanjut pada penyembuhan. Stadium ini mencapai waktu 3 5 hari
(George, 1989).
Stadium invasif merupakan infeksi sekunder yang diakibatkan oleh
kolonisasi bakteri yang umumnya merupakan bakteri flora normal yang
berada pada nasofaring yang telah berubah menjadi oportunis karena
perubahan pada daerah tersebut. Ciri khas pada stadium ini adalah
penderita selesma ditandai dengan adanya rinore yang bersifat purulen,
demam, sakit tenggorok, serta gambaran mukosa hiperemis, oedem dan
ditutup oleh sekret. Pada stadium ini biasanya berlangsung hingga 2
minggu dan perlu penanganan adekuat agar tidak terjadinya komplikasi
akibat kolonisasi bakteri oortunis tersebut (George, 1989).
Secara umum tanda yang terlihat maupun gejala yang dikeluhkan pada
pasien selesma adalah bersin-bersin, post nasal drip, rinore, rasa gatal,
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantai oleh
IgE (Adam,1997)
9. Gambaran patologi anatomi
Gambaran patologi anatomi pada penderita selesma adalah dengan
adanya edematosa pada lapisan submukosa hidung disertai vasodilatasi
pembuluh darah pada lamina propria. Terdapat infiltrasi leukosit yang
mula-mula sel mononukleus, kemudian polimorfonukleus

sebagai

mekanisme pertahanan sebagai akibat dari adanya patogen yang masuk


secara inhalasi. Sel epitel superfisial yang sebagai ephitelial barier banyak
yang lepas dan sebagai kompensasinya terjadinya regenarasi sel epitel baru
terjadi setelah lewat stadium akut (Behrman et al, 2000).
10. Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis pada selesma umumnya hanya bisa dilihat dari
tanda dan gejala serta ditunjang dengan pemeriksaan fisik (George, 1989).

11. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada selesma dibagi menjadi 2, yaitu secara
medikamentosa dan nonmedika mentosa.
1. Medikamentosa
a) Antipiretik berfungsi untuk menurunkan demam
b) Dekongestan dicampur dengan antihistamin (dalam 1 sediaan)
c) Mencuci rongga hidung menggunakan larutan garam isotonik untuk
mengeluarkan sekret yang kental
2. Non medikamentosa
a) Edukasi
Cukup istirahat, perbanyak cairan seperi sup hangat, vitamin C
(buah-buahan, jus buah)
b) Pola hidup bersih serta nutrisi cukup (Saunders et al, 1997).
12. Pencegahan
Upaya pencegah penyakit rhinofaringitis harus dilakukan oleh kedua
belak pihak, baik dari pihak penderita maupun komunitas sosialnya.
Adapun dari pihak penderita bisa melaukan isolasi diri agar mengurangi
penyebaran virus yang ada pada orang lain, selain itu konsumsi gamma
globulin atau vitamin C dosis tinggi (2000 mg) ataupun sumber-sumber
vitamin C dapat membantu mengurangi penyebaran rhinofaringitis dengan
cara meminimalisir virus yang dikeluarkan oleh penderita. Perlu
diperhatikan juga adalah imunitas host, prinsip yang paling penting dari
host adalah menghambat rantai penularan penyakit tersebut yang dapat
dilakukan dengan dekontaminasi dan prinsip hidup sehat (Behrman et al,
1999).
Salah satu prinsip pencegahan penyebaran penyakit yang dilakukan
oleh penderita selesma yaitu dengan memperhatikan etika bersin dan batuk
yang benar. Berikut adalah hal-hal perlu diperlukan yaitu :
1. Lengan baju
2. Tissue
3. Sabun dan air
4. Gel pembersih tangan
Langkah 1
Sedikit berpaling dari orang yang ada disekitar anda dan tutup hidung
dan mulut anda dengan menggunakan tissue atau saputangan atau lengan

dalam baju anda setiap kali anda merasakan dorongan untuk batuk atau
bersin.
Langkah 2
Segera buang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah.
Langkah 3
Tinggalkan ruangan/tempat anda berada dengan sopan dan mengambil
kesempatan untuk pergi cuci tangan di kamar kecil terdekat atau
menggunakan gel pembersih tangan.
Langkah 4
Gunakan masker
Selain itu juga perlu dipertimbangkan tips & Peringatan dibawah ini :
1.

Ajarkan anak-anak cara yang tepat untuk batuk dan bersin untuk
membantu mengurangi penyebaran penyakit di udara.

2.

Bersin pada lengan baju bagian dalam adalah cara penting untuk
membantu mengurangi penyebaran penyakit udara di seluruh dunia.

3.

Jika menggunakan tissue, itu hanya boleh digunakan sekali dan diikuti
segera dengan mencuci tangan dan membuang tissue pada tempat
sampah.

13. Komplikasi
Adanya agen infeksi sekunder pada jaringan saluran pernapasan atas,
seperti Hemophilus influenza, Streptococcus

pneumonia, Moraxel

catarrhalis, Staphylococcus aureus, dapat menyebabkan komplikasi pada


sinus, telinga, mastoid, limfonodus, dan paru-paru (Behrman et al, 1999).
Komplikasi sekunder juga mungkin terjadi sebagai hasil dari adanya
infeksi saluran pernapasan atas lain, seperti asma, cystic fibrosis, chronic
bronchitis, infeksi saluran pernapasan bawah pada bayi, orang tua, dan
pasien dengan imunokompromise. Viral pneumonia kadang bisa menjadi
komplikasi potensial lainnya (Yenny, 2008).
14. Prognosis
Common cold sebenarnya merupakan penyakit yang dapat sembuh
dengan sendirinya. Namun, bila tidak ditangani secara tepat dapat
mengakibatkan perburukan keadaan atau komplikasi.

BAB III
Kesimpulan
1. Dari masalah di atas ditentukan diagnosis penyakitnya adalah epistaksis
dan rhinofaringitis akut atau nasofaringitis atau common cold atau salesma.
2. Epistaksis terjadi karena adanya infeksi di nasal dan faring yang
menyebabkan pecahnya pembuluh darah.
3. Rhinofaringitis dapat sembuh sendiri, namun dapat terjadi komplikasi
apabila tidak ditangani secara adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Abelson TI. 1998. Epistaksis dalam: Scaefer, SD. Rhinology and Sinus Disease
Aproblem- Oriented Aproach. St. Louis: Mosby Inc.
Alsagaff, Hood & H. Abdul Mukty. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.
Surabaya : Airlangga University Press.
Ballenger JJ. 1994. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Alih
bahasa staf ahli bagian THT FK UI. Jilid 1. Edisi 13. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Behrman, Richard E., dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 2, Edisi
15. Jakarta: EGC
George L. Adams M.D, Lawrence R. Boies Jr. M.D, Peter A. Higler M.D. 1989.
Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC
Guyton, Arthur, dkk. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Martini, Frederic H. Seiger, Charles. Nath, Judi L. 2008. Fundamentals of
Anatomy & Physiology. San Fransisco: Benjamin-Cummings Publishing
Company.
Morgan, Geri, Hamilton, Carole. 2003. Obtetri dan Ginekologi: Panduan Praktik,
Edisi 2. Jakarta: EGC.
Munir, Delfitri, dkk. 2006. Epistaksis. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok, Bedah Kepala leher. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2005. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta: Infomedika.