Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PROSES-PROSES PELURUHAN RADIOAKTIF


1. PROSES PROSES PELURUHAN RADIASI ALPHA
Nuklida yang tidak stabil (kelebihan proton atau neutron) dapat memancarkan
nukleon untuk mengurangi energinya dengan energi pemisah rata MeV/nukleon. Partikel
alpha tersusun dan 2 neutron dan 2 proton, 2 dan nomor massa 4, memiliki energi ikat kirakira 28 MeV. Inti atom memancarkan partikel alpha akan berkurang nomor atomnya sebesar
2 dan massanya 4. Peluruhan alpha dinyatakan sebagai berikut :

Berdasarkan neraca dan energy dapat disusun persamaan untuk menghitung


energy peluruhan, yaitu :

dimana :
Mi

: massa nuklida induk

Ma

: masaa nuklida anak

: massa partikel alpha

me

: Massa rehat elektron

: kecepatan cahaya

: energi peluruhan

Berdasarkan energi peluruhan yang dikeluarkan selama proses peluruhan radiasi


alpha, maka energi kinetik dan partikel alpha dapat ditentukan, yaitu :

Energi pental (recoil energy) dan nuklida anak adalah selisih antara energi dengan
energi kinetik atau (Q EQ). Beberapa contoh peluruhan partikel alpha adalah sebagai
berikut :

Universitas Gadjah Mada

Energi partikel alpha yang dipancarkan oleh radionuklida berkisar antara (44Nd)
sampai dengan 11,7 MeV (212Pm), dan sebagian terbesar 4 sampai dengan 8 MeV. Jangkau
energi yang relatif pendek ini dihubungkan dengan jangkau umur paro yang cukup besar,
yaitu 10-7 (misalnya sampai dengan 1016 tahun (misalnya

148

Sm). Hubungan antara

kanstanta dengan jangkauan partikel alpha di udara telah diformulasikan oleh dan J. M.
Nuttall (1911),

dimana :

: konstanta peluruhan

: jangkauan di udara

a dan b : konstanta

Variasi sistematik umur paruh peluruhan alpha dengan energi peluruhan dinyatakan
dengan berbagai cara, salah satunya adalah dalam bentuk kurva peluruhan keadaan dasar
terhadap logaritmik umur paruh pemancar alpha sampai dengan nobelium.
Untuk memahami tentang pancaran radiasi alpha, maka persamaan Schrodinger
untuk partikel alpha berenergi E yang berada dalam potensial inti harus disusun dan
diselesaikan.
Fungsi gelombang yang mewakili partikel alpha tidak dengan tiba-tiba nol di dinding
sumur penghalang potensial (pada jarak R1) dan memiliki nilai tertentu (meskipun kecil) di
luar jarak radial R1. Dengan menerapkan kondisi batas bahwa fungsi gelombang dan
derivatif pertamanya harus kontinyu di R1 dan R2, maka persamaan gelombang untuk daerah
antara R1 dan R2 dapat diselesaikan, yaitu di dalam penghalang yang energi potensialnya U
(r) lebih besar dan energi kinetik total T (jumlah energi kinetik partikel alpha dan inti yang
terpental). Probabilitas (P) partikel alpha bermassa Ma untuk menembus penghalang
potensial disebut sebagai faktor kemampuan menembus penghalang dan besarnya adalah

Dan persamaan (2-6) diketahui bahwa probabilitas untuk menembus penghalang


akan berkurang dengan kenaikan nilai integral yang berada dalam suku eksponensial, yang
artinya kenaikan tinggi dan lebar penghalang (semakin tinggi penghalang, semakin besar
perbedaan (selisih) U(r) dengan T, dan semakin lebar penghalang, semakin besar jangkauan
integrasinya).
Universitas Gadjah Mada

Konstanta peluruhan dianggap sebagai hasil perkalian antara P dengan frekuensi (f)
partikel alpha mengenai (menumbuk) penghalang potensial. Besarnya f dapat ditentukan
dengan menggunakan panjang gelombang de Broglie yang besarnya adalah h/., dengan
adalah kecepatan partikel alpha dan . adalah momentum di dalam inti, sehingga

Jika partikel alpha dianggap memantu bolak balik diantara dinding dinding potensial,
maka :

Dengan demikian konstanta peluruhannya adalah :

Nilai jari-jari R1 dan R2 dapat diperoleh dan energi kinetik total (T) dan tinggi penghalang (B),

Dengan mensubstitusi batas-batas integrasi dan manipulasi aijabar, maka diperoleh

Jika T = .2 dan substitusi persamaan (2-8) ke dalam persamaan (2-7) diperoleh

Hasil perhitungan persamaan (2-9) dengan R1 = (1,3.A1/3 + 1,2) x 10-13 cm telah


dibandingkan dengan hasil eksperimen. Selain keteraturan pada waktu hidupnya, pemancar
partikel alpha menunjukkan kecenderungan sistematik pada energi peluruhan.

Universitas Gadjah Mada

2. PROSES PELURUHAN RADIASI BETA


Suatu proses peluruhan radioaktif yang tidak mengubah nomor massanya tetapi
mengubah nomor atomnya digolongkan sebagai peluruhan beta. Dan persamaan (1-13)
dapat disimpulkan bahwa untuk setiap A ganjil terdapat hanya satu nuklida stabil-beta dan
untuk setiap A genap terdapat paling banyak tiga nuklida stabil-beta. Pada sisi yang kaya
neutron terjadi pancaran - (elektron), pada sisi yang kaya proton terjadi pancaran +
(positron) atau tangkapan elektron (electron capture). Inti ganjil-ganjil di dekat lembah
kestabilan (misalnya

64

Cu) dapat meluruh dengan kedua arah, menuju sebelahnya yang

stabil, inti genap genap kestabilan (misalnya

64

Cu) dapat meluruh dengan kedua arah,

menuju sebelahnya yang stabil, inti genap-genap.


Radioaktivitas beta merupakan pengurangan kelebihan energi radionuklida dengan
perubahan neutron menjadi proton atau sebaliknya, disertai pancaran elektron, positron atau
tangkapan elektron.
Kondisi energetik untuk ketiga jenis peluruhan beta dan nuklida dengan nomor atom
Z dan nomor massa MZ adalah :
a. Peluruhan -

MZ > MZ +1

b. Tangkapan electron

MZ > MZ -1

c. Peluruhan +

MZ > MZ -1 + 2me

a. Peluruhan Peluruhan - terjadi jika dalam inti atom terdapat kelebihan neutron, yang
dinyatakan dalam reaksi berikut ini.

Peristiwa yang terjadi di dalam inti adalah :

Dengan mengguankan neraca massa dan energy, maka :

Karena massa elektron sangat kecil dibandingkan dengan massa nuklida induk dan anak,
maka besarnya energy peluruhan (Q-) adalah

Universitas Gadjah Mada

Energi kinetik dan radiasi tersebut adalah

Contoh radionuklida yang memancarkan radiasi - adalah

Partikel 13 yang dipancarkan oleh suatu radionuklida tidak memiliki erni yang diskrit,
tetapi memiliki distribusi energi yang kontinyu dan nol sampai dengan energi maksimum.
Energi maksimum partikel - berkisar dan beberaa keV sampai dengan 15 MeV. Spektrum
sinar beta telah diteliti dengan metode defleksi magnetik. Energi rata-rata partikel - dapat
ditentukan dan persamaan berikut,

Sebagai pendekatan, energi rata-rata partikel - sekitar sepertiga (1/3) dari energi
maksimumnya.
Telah dibahas pada BAB I bahwa semua inti bernomor massa genap memiliki spin
bilangan bulat (integral) dan statistik mengikuti Bose, sedangkan semua inti bernomor massa
ganjil memiliki spin bilangan pecahan dan statistik mengikuti Fermi. Karena nomor massa
peluruhan adalah tetap (tidak berubah), maka spin inti awal dan akhir memiliki kelompok
yang sama, bilangan bulat atau pecahan dan statistiknya tidak berubah. Pada kenyataannya
elektron dan positron memiliki spin setengah dan statistik mengikuti Fermi, sehingga
momentum angularnya dan statistiknya tidak memenuhi kekekalan peluruhan beta.
Pada tahun 1930 Pauli menyusun postulat yang menyatakan bahwa dalam setiap
peluruhan beta terdapat tambahan partikel yang tidak teramati. Sifat - sifat dan partikel
hipotesis ini (yang kemudian dikenal sebagai neutrino) adalah sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kekekalan. Partikel neutrino adalah partikel yang tidak bermuatan, memiliki
spin setengah, statistik mengikuti Fermi, dan membawa sejumlah energi dan momentum
dalam setiap proses beta. Karena sulit dideteksi, maka partikel neutrino memiliki massa
rehat yang sangat kecil atau nol dan momen magnetik yang sangat kecil atau nol. Dengan

Universitas Gadjah Mada

demikian setiap terjadi proses peluruhan beta selalu disertai oleh neutrino, untuk peluruhan
- selalu disertai oleh antineutrino.
b. Peluruhan +
Jika di dalam inti atom terdapat kelebihan proton dan energi sebesar 2 maka mec
kelebihan energi akan dilepas dalam bentuk pancaran partikel + Keberadaan positron telah
dipostulatkan oleh P. A. M. Dirac. Ia menemukan bahwa persamaan gelombang
relativitasnya untuk elektron memiliki penyelesaian yang berhubungan dengan elektron
dalam tingkat energi negatif yang sama dengan tingkat energi positif, tetapi besarnya energi
selalu lebih dari mec2. Karena untuk memenuhi arti fisis dan tingkat energi negatif elektron
yang tidak teramati, maka Dirac mengemukakan bahwa secara normal semua tingkat energi
negatif harus terisi. Naiknya elektron dan tingkat energi negatif ke tingkat energi positif
(dengan adanya tambahan energi lebih dari 2 mec2) seharusnya dapat diamati tidak hanya
dalam penampakan elektron seperti biasanya tetapi juga dalam penampakan secara
simultan dan kekosongan (hole) dalam sekumpulan elektron berenergi negatif yang
jumlahnya tidak berhingga. Kekosongan ini memiliki sifat-sifat partikel bermuatan positif,
tetapi identik dengan elektron biasa. Penemuan positron berikutnya adalah dalam sinar
kosmis kemudian dalam peluruhan radioaktif dan diikuti penemuan pada proses produksi
pasangan serta anihilasi positron-elektron (akan dibahas pada BAB IV). Yang kesemuanya
itu dianggap sebagai pembuktian secara eksperimen terhadap teori Dirac.
Peluruhan + dinyatakan dalam reaksi berikut ini.
(2 - 10)
Peristiwa yang terjadi di dalam inti adalah
(2 - 11)
Dengan menggunakan neraca massa dan energy, maka
(2 12)
Besarnya energi peluruhan (Q) adalah
(2 13)
Contoh peluruhan + adalah sebagai berikut :

Universitas Gadjah Mada

c. Tangkapan Elektron (Electron Capture atau EC)


Jika inti atom kelebihan proton tetapi tidak memiliki energi lebih dari 2 mec2, maka
terjadi proses tangkapan elektron. Pada proses ini elektron yang terikat dalam kulit atom
dengan energi ikat EB akan ditangkap oleh inti atom dan akan dipancarkan neutrino dengan
energi sebesar E0 (MeV) yang merupakan selisih (perbedaan) massa nuklida induk dan
anak.
Proses tangkapan elektron dinyatakan dalam reaksi berikut ini.
(2-14)
Peristiwa yang terjadi di dalam inti adalah
(2-15)
Energi peluruhan pada proses tangkapan elektron sepenuhnya dibawa oleh neutrino.
(2-16)
Contoh proses tangkapan elektron adalah
(2-17)

Meskipun tangkapan elektron merupakan cara peluruhan yang sangat biasa, tetapi
baru tahun 1934 ditemukan oleh L. Alvarez, karena proses ini tidak disertai oleh pancaran
radiasi inti yang dapat terdeteksi, kecuali pada saat inti produk dalam keadaan tereksitasi
sehingga harus mengalami proses de-eksitasi dengan memancarkan radiasi gamma.
Radiasi karakteristik yang paling banyak menyertai proses tangkapan elektron adalah
pancaran sinar X, akibat adanya kekosongan pada kulit atom yang elektronnya telah
ditangkap oleh inti.
Spektrum kontinyu radiasi elektromagnetik dengan intensitas yang sangat rendah
sering dijumpai dalam proses tangkapan elektron dan proses peluruhan beta lainnya. Kuanta
ini disebut sebagai inner bremsstrahlung. Jumlah total kuanta per tangkapan elektron
adalah mendekati 7,4. 10-4E20. Apabila radiasi gamma dipancarkan inti atom, maka inner
bremsstrahlung biasanya tidak dapat dideteksi karena intensitasnya yang rendah. Tetapi
untuk tangkapan elektron yang tidak disertai pancaran gamma, pengukuran batas energi
yang lebih tinggi dan spektrum inner bremsstrahlung merupakan metode yang sangat
bermanfaat untuk menentukan energi transisi dan metode ini merupakan cara langsung
untuk mengukur energi peluruhan dalam. proses tangkapan elektron. Neutrino yang
dipancarkan pada proses tangkapan elektron bersifat monoenergetik.
Komparasi umur paruh pada peluruhan beta dapat ditentukan dari persamaan berikut
ini.
Universitas Gadjah Mada

Tangkapan elektron pada kulit K mendominasi dibandingkan pada kulit lainnya,


karena elektron kulit K memiliki amplitudo paling besar di inti atom. Tetapi pada energi
peluruhan di bawah energi ikat elektron kulit K, tangkapan elektron hanya mungkin berasal
dari L(2s+2p), M(3s, 3p, 3d) dan seterusnya. Perbandingan antara tangkapan L1 dengan
tangkapan K sebagai fungsi energi peluruhan telah dihitung untuk transisi yang diijinkan.
Untuk Z 14 dapat diwakili dengan formula pendekatan berikut ini.

(2-19)
Dimana

EL0(v)

dan E 0(v) adalah energi neutrino yang menyertai dua proses, EL0(v) melebihi

EK0(v) dengan perbedaan antara energi ikat kedua kulit.


3. TRANSISI GAMMA
Proses peluruhan alpha atau beta kemungkinan meninggalkan produk inti baik dalam
keadaan dasar maupun keadaan tereksitasi. Keadaan tereksitasi kemungkinan juga muncul
karena reaksi inti atau eksitasi langsung dan keadaan dasar. Pada bagian ini akan dibahas
tentang fenomena terjadinya de-eksitasi dan keadaaneksitasi.
a. Proses De-eksitasi
Inti dalam keadaan tereksitasi kemungkinan memberikan energi eksitasinya dan kembali
ke keadaan dasar dengan berbagai cara. Tansisi yang paling banyak terjadi adalah
pemancaran gelombang elektromagnetik. Radiasi semacam ini disebut sebagai radiasi
gamma, sinar gamma memiliki frekuensi yang ditentukan dan energinya E = h.. Seringkali
transisi tidak terjadi secara langsung dari tingkat yang lebih tinggi menuju tingkat dasar tetapi
kemungkinan berlangsung tahap demi tahap yang meliputi tingkat eksitasi intermediet. Sinar
gamma dengan energi beberapa keV sampai dengan 7 MeV telah diamati pada proses
radioaktif.
Pancaran sinar gamma kemungkinan disertai atau bahkan diganti dengan proses lain,
yaitu pancaran elektron konversi internal. Konversi internal (internal conversion) terjadi
karena interaksi antara gelombang elektromagnetik dan inti atom dengan elektron di kulit
atom sehingga menyebabkan pancaran elektron dengan enegi kinetik sebesar selisih antara
energi transisi inti dan energi ikat elektron dalam atom.

Universitas Gadjah Mada

Proses ketiga dan de-eksitasi inti terjadi jika terdapat energi lebih dari 1,02 MeV. Energi
ini ekivalen dengan massa dua elektron. Proses yang kemungkinan terjadi adalah inti atom
yang berada dalam keadaan tereksitasi akan menghasilkan secara simultan satu elektron
baru dan satu positron baru, keduanya akan dipancarkan dengan energi kinetik sebesar
selisih antara energi eksitasi total dikurangi dengan 1,02 MeV.
Semua proses di atas disebut dengan transisi gamma, meskipun hanya proses pertama
saja yang memancarkan gamma dan inti atom. Semua proses tersebut ditandai dengan
adanya perubahan energi tetapi tidak terjadi perubahan A dan Z.
b.

Waktu hidup tingkat eksitasi


Sebagian besar transisi gamma terjadi dengan skala waktu yang sangat singkat untuk

pengukuran langsung, yaitu kira-kira kurang dan 10-12 detik, seperti yang diharapkan untuk
dimensi dipol inti dan satuan muatan elektronik. Proses de-eksitasi gamma merupakan
sesuatu yang penting pada semua jenis pengukuran radioaktivitas dan pada pembuatan
skema tingkat inti, apakah waktu hidup dapat diukur atau tidak. Pada bagian ini hanya
dibahas faktor yang mempengaruhi waktu hidup transisi gamma dan kemungkinan
menyebabkan keberadaan tingkat metastabil atau transisi isomeris. Definisi isomer inti
dalam istilah umur paruh yang terukur menjadi sesuatu yang samar-samar, karena
perkembangan teknik langsung dan tidak langsung yang baru dapat mengukur sampai batas
yang lebih rendah. Untuk skala yang lebih tinggi kemungkinan tidak ada batasnya,

2l0

Bim

memiliki umur paruh 3,5 x 106 tahun.


Peluruhan gamma dari tingkat isomeris disebut dengan transisi isomeris (isomeric
transition atau IT), dibatasi untuk transisi dengan umur paruh lebih dari atau sama dengan
10-6 detik.

c.

Radiasi multipol dan aturan seleksi


Transisi

gamma

adalah

gelombang

elektromagnetik

yang

dihasilkan

dengan

mengosilasi muatan listrik sehingga membentuk medan listrik yang berosilasi, disebut
dengan radiasi multipol elektrik (E), dan mengosilasi arus listrik sehingga membentuk medan
magnet yang berosilasi disebut sebagai radiasi multipol magnetik (M). Suatu multipol elektrik
atau magnetik memancarkan foton dengan momentum sudut orbital sebesar lh. Nomenklatur
radiasi yang memiliki 1 = 1, 2, 3, 4, 5 satuan dan h adalah radiasi dipol, quadrupol, oktupol,
24-pol, dan 25-pol. Notasi singkatan untuk radiasi elektrik (atau magnetik) 21-pol adalah E1
(atau Ml). Dengan demikian E2 adalah radiasi quadrupol elektrik, M4 adalah radiasi 24-pol
magnetik, dan sebagainya.
Ada dua aturan seleksi yang harus dipenuhi pada transisi gamma, yaitu
i). Aturan seleksi momentum sudut
Universitas Gadjah Mada

Ii : keadaan spin awal


1: keadaan spin akhir
ii). Aturan seleksi paritas
Apabila

Aturan seleksi paritas:

dimana,
I : paritas awal
f : paritas awal
Jika keadaan awal dan akhir mempunyai paritas sama, maka multipol elektrik adalah
untuk 1 genap dan multipol magnetik adalah untuk 1 ganjil. Jika keadaan awal dan akhir
mempunyai paritas berlawanan, maka multipol elektrik adalah untuk 1 ganjil dan I genap
untuk multipol magnetik.
Sebagai contoh :
transisi dari 4+ ke 2+ memiliki 1 = 2, 3, 4, 5, 6, paritas awal dan akhir adalah sama (+),
maka radiasi yang mungkin dipancarkan adalah E2, M3, E4, M5, dan E6.
Transisi dan 3+ ke 1- memiliki 1 = 2, 3, 4, paritas awal berlawanan dengan paritas akhir,
sehingga radiasi yang mungkin dipancarkan adalah M2, E3, danM4.
d.

Radiasi multipol elektrik


Daya yang dipancarkan radiasi multipol elektrik (El) adalah

(2-20)

dimana,
r

: panjang gelombang radiasi yang dipancarkan

Q1

: momen multipol : fraksi dari ZeR1

P(EI) sebanding dengan atau( )21 atau ( )21


Universitas Gadjah Mada

10

Laju pancaran foton adalah

(2-21)

Jika Q1 diketahui, maka umur paruh dapat dihitung. Paritas radiasi E1 adalah (-1)1. Jika
transisi antar keadaan inti hanya melibatkan proton tunggal, maka untuk nilai partikel tunggal

(2-22)
Jika persamaan (2-18) clisubstitusikan ke dalam persamaan (2-17), maka akan diperoleh
laju transisi partikel tunggal atau laju transisi Weisskopf

e.

Radiasi multipol magnetik


Analog dengan radiasi multipol elektrik, maka laju pancaran foton adalah

(2-23)

A1 adalah amplitudo momen multipol magnetik yang berosilasi. Paritas radiasi Ml (-1)1-1 atau
-(-1)1. Jika transisi antar keadaan inti hanya melibatkan partikel maka untuk nilai partikel
tunggal, maka untuk nilai partikel tunggal
Al orde dari

dan jika disubstitusikan ke dalam persamaan (2-23) akan diperoleh

laju transisi Moszkowski.


Perbandingan antara laju peluruhan partikel tunggal untuk radiasi elektrik magnetik
adalah sebagai berikut,

(2-24)

Nilai

aka berkurang jika I semakin besar.

Universitas Gadjah Mada

11

f.

Konversi Internal
Medan Coulomb inti dapat memindahkan semua energi eksitasi secara langsung

pada elektron orbital atom. Inti berubah (kembali) ke keadaan dasar tanpa adanya pancaran
sinar gamma dan atom akan melepaskan elektronnya. Probabilitas terbesar adalah
mengeluarkan elektron dari kulit K, yaitu yang terdekat dengan inti atom. Besarnya energi
kinetik elektron konversi internal adalah
= E* - EK

(2-25)

dimana,
E* : energi eksitasi
EK : energi ikat aelektron pada kulit K
Jika E*<EK, maka pelepasan elektron kulit K kelihatannya tidak mungkin terjadi, tetapi
dapat terjadi juga hanya elektron tersebut akan berpindah ke kulit berikutnya. Pancaran
elektron konversi internal merupakan mekanisme pembebasan kelebihan energi oleh inti,
tetapi bukan merupakan konversi (perubahan) kuanta gamma sebelum dipancarkan,
meskipun secara prinsip proses seperti ini mungkin terjadi.
Elektron konversi internal menunjukkan spektrum garis (diskrit) dengan garis yang
berhubungan dengan energi transisi gamma dikurangi energi ikat pada K, L, M, N, dan
seterusnya, yaitu terjadinya konversi internal. Perbedaan energi antara garis-garis yang
bertumtan dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan untuk mengelompokkan garis-garis
yang dihasilkan dan transisi gamma yang berbeda.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa konversi internal merupakan alternatif pemancaran
sinar gamma. Perbandingan antara laju proses konversi internal dengan laju pemancaran
gamma atau perbandingan jumlah elektron konversi internal dengan jumlah kuanta gamma
yang dipancarkan disebut sebagai koefisien konversi internal (cx), yang bernilai antara 0
sampai dengan oo. Besarnya koefisien konversi internal dapat ditentukan dengan
persamaan berikut.

Jika nilai semakin besar, maka semakin lama waktu hidup, Z inti semakin besar sehingga
elektron kulit atom semakin dekat dengan inti, energi akan berkurang, dan 1 semakin besar.

Universitas Gadjah Mada

12