Anda di halaman 1dari 6

Obat saluran cerna

1 Pepsin (Enzynorm)
Enzim yang dikeluarkan oleh selaput lendir ini bersifat proteolitik yang akan menguraikan
protein menjadi peptida-peptida. Pada defisiensi pepsin tidak ditemukan gejala yang serius
karena ada enzim proteolitik lain.
Indikasi : untuk defisiensi enzim Pepsin.
Dosis : Sehari 3 kali @ 100 300 mg.
2 Enzim-Enzim Pankreas (Pankreatin, Cotazym Forte, Pankreon, Enzyport)
Indikasi : Enzim-enzim ini terdiri dari Amilase, Tripsin
dan Lipase yang digunakan pada
keadaan
dimana sekresi enzim dari pankreas tidak
mencukupi.
Dosis : Sehari 3 kali @ 500 mg
1.3 Empedu dan Asam Empedu (Chenofalk, Ursofalk).
Empedu terdiri dari Asam Empedu dan persenyawaan- persenyawaannya serta garam-garamnya.
Dalam keadaan normal hati mengeluarkan cairan empedu 700 ml 1000 ml per 24 Jam.
Fungsi terpenting dari empedu adalah membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Preparat
empedu yang digunakan dalam pengobatan mengandung persenyawaan asam empedu sintetis.
Indikasi : Defisiensi Asam Empedu
Dosis

: sehari 2 kali @ 300 mg

ULCUS PEPTIKUS (Tukak Peptik)


Manifestasi : Tukak bisa terjadi di daerah lambung, esofagus, atau duodenum
Sebab
: imbangan yang buruk antara asam,
pepsis, empedu, enzim, dll).
Sasaran Farmakoterapi :
a. Mengatasi gejala (perih, nyeri, mual, muntah,
kembung, spasme).
b. Kesembuhan tukak.
c. Mencegah komplikasi ; pendarahan, obstruksi,
d. Menghindari kambuh.
Obat / Kelompok Obat :

perforasi.

-Antagonis reseptor H2
-Antasida dosis tinggi
-Sukralfat
-Antikolinergik
-Simetikon
1. ANTASIDA DAN KOMBINASI ANTASIDA-SEDATIF
Farmakologi :
Antasida adalah golongan obat-obat yang bekerja menetralisir asam lambung yang berlebihan.
Dalam sediaan farmasi antasida sering dikombinasi dengan obat-obat lain seperti obat-obat
sedatif dan antispasmodik.
Magnesium trisilikat dan Alimunium hidroksida adalah antasida non sistemik yang bekerja
lambat menetralkan kelebihan asam lambung. Kedua antasida ini bila digabungkan bekerja
lebih efektif dari sediaan tunggalnya.
Klordiazepoksida sering dikombinasi dengan antasida karena efektif terutama pada keadaan
neurotik, stres, tekanan, dan ansietas yang mengakibatkan produk asam lambung meningkat.
Papaverin dan Extraks Belladon bekerja sebagai anti spasme untuk meredakan kejang dan
kolik di lambung dan usus.
Efek Samping :
1. Magnesium trisilikat dalam dosis tinggi dapat menyebabkan diare serta dapat membentuk
batu ginjal bila digunakan dalan jangka waktu lama.
2. Aluminium hidroksida mempunyai efek samping berupa mual, muntah, usus tersumbat dan
gangguan penyerapan senyawa Fosfat sehingga menimbulkan gejala kekurangan fosfat pada
tulang (Osteomalsia), juga dapat mengurangi penyerapan berbagai vitamin dan tetrasiklin.
3 Klordiazepoksida pada pemakaian yang berlebihan dapat menekan fungsi susunan syaraf
pusat.
4. Extraks Belladon dan papaverin mempunyai efek samping berupa mulut kering, kulit kering,
panas dan merah terutama pada bagian muka dan leher.
Indikasi : Untuk pengobatan tukak lambung, tukak duodenum dan gastritis akibat kelebihan
asam lambung.
Fosologi : Pemberian secara oral sehari 3 kali setara dengan 300 mg Magnesium trisilikan,
300 mgh Alimunium hidroksida, yang diberikan sesudah makan dan sebelum tidur.
Cara penggunaan :
Untuk sediaan tablet kunyah sebaiknya dikunyah dahulu sebelum ditelan.

Kontra indikasi :
Sediaan yang mengandung antispasmodik dikontra indikasikan bagi penderita penyakit jantung
yang payah.
Interaksi Obat :
Obat yang efeknya diturunkan bila diminum bersama antasida antara lain : Antipsikotik,
Antikolinergik, Aspirin, B-Bloker, Simetidin, Digoxin, Besi, INH, Tetrasiklin, dll.
Peringatan :
1. Untuk wanita hamil : Antasida yang mengandung Alumunium menyebabkan meningkatnya
reflek tendon, hyperlaksemia pada fetus, masih cukup aman pada 2 trimester terakhir.
2. Magnesium trisilikat menyebakan hyper magnesemia dengan disertai kantuk, menurunnya
tonus otot dan terganggunya kardiovascular dan sistem respirasi.
3. Antasida tidak boleh diberikan pada anak dibawah 6 tahun bila tanpa petunjuk dokter, karena
dapat menyebabkan hypermagnesemia khususnya pada anak dalam keadaan dehidrasi atau
pada kerusakan ginjal.
2. ANTIHISTAMIN PENGHAMBAT RESEPTOR H2
Histamin berinteraksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor histamin
dibagai 2 yaitu ;
Reseptor Histamin 1 ( H1).
Reseptor Histamin 2 ( H2).
Pengaruh histamin terhadap sel dari berbagai jaringan tergantung pada fungsi dari sel dan rasio
reseptor H1:H2.
Aktivasi Reseptor H1 menyebabkan :
Kontraksi otot polos.
Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.
Meningkatkan sekresi mukus.
Vasodilatasi Kapiler.
Aktivasi Reseptor H2 menyebabkan :
Sekresi Asam lambung.
Relaksasi Otot Polos.
Vasodilatasi Kapiler.
2.1 CIMETIDIN
Cimetidin mulai digunakan pada tahun 1977 sebagai H2 blocker, sehingga histamin tidak dapat
melakukan efeknya terhadap produksi asam lambung. Pada borok usus, Cimetidin sangat
efektif dengan presentase penyembuhan > 80 %.
Absorpsinya dari usus baik ( lebih kurang 90 %), plasma t 1/2 nya pendek yaitu hanya 2 jam,

dalam hati hanya 25 % dimetabolisme menjadi sulfoksida dan bersama sisanya yang tidak
diubah dikeluarkan terutama melalui ginjal.
Pemberian obat bersama makanan memberikan efek yang lebih baik karena absorpsinya
dihambat dan efeknya bisa lebih lama.
Interaksi :
Cimetidin menghambat enzim oksidatif hati sehingga dapat menaikkan efek obat tertentu
seperti : Nifedipin, propanolol, teofilin, diazepam, dan klordiazepoksida, jika digunakan
bersamaan, sehingga dosis obet-obat tersebut perlu dikurangi.
Efek samping :
jarang terjadi yaitu berupa diare, nyeri otot, pusing- pusing, dan reaksi-reaksi kulit. Cimetidin
dapat melintasi plasenta maka sebaiknya tidak digunakan untuk wanita hamil dan menyusui.
Dosis : Pengobatan : Sehari 3-4 kali @ 200 mg 400 mg
Pencegahan : Sehari 1 kali @ 400 mg , malam hari
2.2 RANITIDIN
Ranitidin merupakan H2 blocker baru (1981) dengan struktur mirip Cimetidin, khasiat
menghambat sekresi asam lambungnya lebih kuat dari Cimetidin dan tidak merintangi
metabolisme oksidatif dari obat-obat lain, sehingga tidak terjadi interaksi yang tidak diinginkan.
Absorpsinya dari usus pesat dan baik, tidak dipengaruhi oleh makanan, dieksresi dalam
keadaan utuh melalui ginjal.
Efeksamping : jarang terjadi, berupa ;
nyeri kepala, mual. muntah, reaksi-reaksi kulit.
Interkasi :

dengan obat lain belum dilaporkan.

Dosis
: Pengobatan : Sehari 2 kali @ 150 mg
Pencegahan : Sehari 2 kali @ 150 mg
2.3 FAMOTIDIN
Famotidin merupakan H2 blocker dengan efek 3 kali lebih kuat dibanding Ranitidin dan 20 kali
lebih kuat dibanding Cimetidin.

Efeksampingn : nyeri kepala, mual. muntah, reaksiIndikasi

reaksi kulit.

: Tukak usus duodenun

Dosis
: Pengobatan : Sehari 2 kali @ 20 mg
Pencegahan : Sehari 1 kali @ 20 mg
3. LAIN LAIN
3.1 OMEPRAZOL
Omeprazol merupakan penghambat sekresi asam lambung yang lebih kuat dibandingkan
Cimetidin maupun Ranitidin. Obat ini bekerja pada proses terakhir produksi asam lambung.
Absorpsinya di lambung kurang baik karena berinteraksi dengan makanan sehingga sediaanya
sebaiknya sebagai tablet salut enterik. Omeprazol dimetabolisme lengkap dan diekskresi melalui
ginjal sehingga tidak ditemukan di urine dalam bentuk utuhnya.
Efek samping ; Omeprazol belum dilaporkan karena dalam uji klinik efek sampingnya tidak
berbeda dengan plasebo.
Interaksi : dengan obat lain tidak terjadi.
Dosis
: Sehari 1 kali @ 20 mg
3.2 LANSOPRAZOL (Lanprazide)
Lansoprazol merupakan penghambat sekresi asam lambung seperti halnya omeprazol.
Absorpsinya di lambung kurang baik karena berinteraksi dengan makanan sehingga sediaanya
sebaiknya sebagai tablet salut enterik. Lansoprazol dimetabolisme dan diekskresi melalui ginjal.
Efek samping ; belum dilaporkan karena dalam uji klinik efek sampingnya tidak berbeda dengan
plasebo.
Indikasi : Tukak duodenun, dispepsia, refluk gastroesofagus
Dosis
: Sehari 1 kali @ 20 mg
3.3 SUKRALFAT (Ulsanic, Ulcogant)
Senyawa Aluminium Sukrosa Sulfat ini membentuk polimer seperti lem dalam suasana asam dan
terikat pada jaringan nekrotik tukak secara selektif.

Sukralfat hampir tidak diabsorpsi secara sistemik. Obat ini bekerja sebagai pelindung terhadap
asam lambung dan pepsin serta efektif untuk tukak duodenum
Efek samping dari Sukralfat adalah : konstipasi, hati-hati pada pasien gagal ginjal, sebaiknya
tidak untuk wanita hamil karena data keamanannya belum ada.
Interaksi dengan obat lain bahwa Sukralfat mengganggu absorpsi Tetrasiklin, fenitoin, digoxin,
sehingga jangan diberikan bersamaan.
Dosis : Sehari 4 kali @ 1 gram