Anda di halaman 1dari 102
Kode Etik dan Standar Audit Intern PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN

Kode Etik dan Standar Audit Intern

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

2014

Kode Etik dan Standar Audit Intern

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Fungsional Auditor – Pembentukan Auditor Terampil dan Ahli

Edisi Pertama

: Tahun 2014

Penyusun

:

Narasumber :

R. Mauro Nugroho Putro, Ak., M.A. John Elim, Ak., M.B.A.

Pereviu

:

Dr. Trisacti Wahyuni, Ak., M.Ak.

Penyunting

:

F. Titik Oktiarti, Ak.

Penata Letak

:

Didik Hartadi, S.E.

Pusdiklatwas BPKP Jl. Beringin II, Pandansari, Ciawi, Bogor 16720

Telp. (0251) 8249001 8249003 Fax. (0251) 8248986 8248987

Email

: pusdiklat@bpkp.go.id

Website

: http://pusdiklatwas.bpkp.go.id

eLearning : http://lms.bpkp.go.id

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Kata Pengantar

Peran dan fungsi aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) dalam rangka membantu manajemen untuk mencapai tujuan organisasi dilaksanakan melalui pemberian jaminan ( assurance activities) dan layanan konsultansi ( consulting activities) sesuai standar, sehingga memberikan perbaikan efisiensi dan efektivitas atas tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern organisasi. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah mengatur bahwa pelaksanaan audit intern di lingkungan instansi pemerintah dilaksanakan oleh pejabat yang mempunyai tugas melaksanakan pengawasan yang telah memenuhi syarat kompetensi keahlian sebagai auditor. Hal tersebut selaras dengan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel serta bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme pada berbagai aspek pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan yang dituangkan dalam Undang Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN.

Untuk menjaga tingkat profesionalisme aparat pengawasan, salah satu medianya adalah pendidikan dan pelatihan (diklat) sertifikasi auditor yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap/perilaku auditor pada tingkat kompetensi tertentu sesuai dengan perannya sesuai dengan keputusan bersama Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor dan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor KEP82/JF/1/2014 dan Nomor KEP168/DL/2/2014 tentang Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Auditor.

Guna mencapai tujuan di atas, sarana diklat berupa modul dan bahan ajar perlu disajikan dengan sebaik mungkin. Evaluasi terhadap modul perlu dilakukan secara terus menerus untuk menilai relevansi substansi modul terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Modul ini ditujukan untuk memutakhirkan substansi modul agar sesuai dengan perkembangan profesi auditor, dan dapat menjadi referensi yang lebih berguna bagi para peserta diklat sertifikasi auditor.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi atas terwujudnya modul ini.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

Ciawi, 30 April 2014 Kepala Pusdiklat Pengawasan BPKP

Nurdin, Ak., M.B.A.

i

Daftar Isi

Kata Pengantar

 

i

Daftar

Isi

iii

Daftar Gambar

 

iv

Bab I PENDAHULUAN

 

1

 

A. Latar Belakang

 

1

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Keberhasilan

2

C. Sistematika Modul

 

2

D. Metodologi Pembelajaran

3

Bab II ETIKA PROFESI, STANDAR AUDIT, DAN JAMINAN MUTU

5

 

A. Pengertian Profesi

 

5

B. Pengertian dan Tujuan Kode Etik

6

C. Pengertian

dan

Tujuan

Standar Audit

10

D. Kode Etik, Standar Audit, dan Program Jaminan Mutu

11

E. Kode Etik dan Standar Audit APIP

12

F. Latihan Soal

 

12

Bab III

KODE ETIK APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH

15

A. Landasan Hukum

 

15

B. Kode Etik APIP

16

C. Pelanggaran

 

22

D. Sanksi atas Pelanggaran

 

23

E. Kode Etik Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal

23

F. Kode Etik

Akuntan Indonesia

 

25

G. Latihan Soal

 

26

H. Bahan Diskusi

 

27

Bab IV

STANDAR AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH

33

A. Pendahuluan

 

33

B. Standar Audit Auditor Intern Pemerintah Indonesia (SA AIPI)

33

C. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)

72

D. Standar Profesi Audit Internal (SPAI)

76

E. Latihan Soal

 

86

Bab V PENUTUP

89

Daftar Pustaka

 

91

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

iii

Daftar Gambar

Gambar 4.1

Sistematika Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia.…………………………… 37

Bab I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi ditentukan oleh keandalan, kecermatan, ketepatan waktu, dan mutu jasa atau pelayanan yang dapat diberikan oleh profesi yang bersangkutan. Kata ”kepercayaan” demikian pentingnya karena tanpa kepercayaan masyarakat maka jasa profesi tersebut tidak akan diminati, yang kemudian pada gilirannya profesi tersebut akan punah. Untuk membangun kepercayaan tersebut, perilaku dan kualitas hasil pekerjaan para pelaku profesi perlu diatur agar dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi ini menuntut penetapan standar tertentu sebagai alat bagi masyarakat untuk dapat meyakini kualitas pekerjaan seorang profesional.

Pekerjaan audit adalah pekerjaan profesi. Auditor yang bekerja di sektor publik, selain dituntut untuk mematuhi ketentuan dan peraturan kepegawaian sebagai seorang pegawai negeri sipil, juga dituntut untuk menaati kode etik Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) serta Standar Audit APIP atau standar audit lainnya yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bagaimana seharusnya perilaku seorang auditor pemerintah serta apa saja yang harus dilakukan agar hasil kerjanya memenuhi standar mutu yang harus dicapai, perlu diketahui oleh setiap mereka yang berprofesi sebagai aparat pengawasan intern pemerintah.

Modul Kode Etik dan Standar Audit Intern ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang seharusnya dimiliki dan dilaksanakan oleh seorang auditor sebagai aparatur pengawasan intern pemerintah, khususnya yang terkait dengan kode etik dan standar audit. Modul ini disusun berdasarkan Kode Etik dan Standar Audit yang disusun oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI), walaupun pada saat revisi, kedua dokumen ini belum disahkan. Tindakan merevisi berdasarkan dokumen terbaru dari AAIPI dimaksudkan untuk mengantisipasi pemberlakuan aturan baru tersebut mengingat PP Nomor 60 Tahun 2008 pasal 53 mengamanatkan kepada Asosiasi Profesi Auditor untuk menetapkan standar yang berlaku untuk Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

1

B.

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR KEBERHASILAN

Kompetensi Dasar

Setelah mempelajari mata diklat ini, peserta pelatihan diharapkan mampu menerapkan Kode Etik dan Standar Audit dalam rangka pelaksanaan tugasnya selaku auditor pemerintah.

Indikator Keberhasilan

Setelah mempelajari mata diklat ini, peserta pelatihan diharapkan mampu:

1. menjelaskan pentingnya jasa profesi memperoleh kepercayaan masyarakat;

2. menerapkan Kode Etik APIP;

3. menerapkan Standar Audit APIP; dan

4. menjelaskan pentingnya kendali mutu bagi auditor.

C. SISTEMATIKA MODUL

BAB I

Pendahuluan

Bab ini menguraikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sistematika modul, dan metodologi pembelajaran.

BAB II

Etika Profesi, Standar Audit, dan Kendali Mutu

Dalam bab ini diuraikan pengertian profesi, pengertian dan tujuan kode etik, pengertian dan tujuan standar audit, hubungan antara kode etik, standar audit dan kendali mutu. Dalam bab ini juga disinggung sepintas mengenai pelaksanaan kode etik dan standar audit bagi APIP dan pada akhir bab diberikan soal soal latihan.

BAB III

Kode Etik Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

Pada bab ini diuraikan kode etik yang berlaku di kalangan APIP yang ditetapkan oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI). Sebagai bahan perbandingan, pada bab ini juga akan diuraikan Kode Etik bagi auditor internal yang diterbitkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal. Selain itu, Kode Etik Akuntan

Indonesia juga diuraikan dan menjadi lampiran 2. Di akhir bab juga diberikan soalsoal latihan/bahan diskusi.

BAB IV

Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

Pada bab ini diuraikan secara rinci standar audit yang berlaku bagi APIP yang ditetapkan oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI) beserta penjelasannya. Sebagai tambahan bahan perbandingan, pada bab ini akan dijelaskan secara ringkas Standar Profesi Audit Internal yang disusun oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal. Pada akhir bab diberikan latihan soal/bahan diskusi.

BAB V

Penutup

Pada bab ini, sebagai penutup disampaikan himbauan moral agar para auditor APIP umumnya dan peserta diklat khususnya senantiasa mematuhi aturan perilaku atau kode etik yang berlaku serta standar audit yang telah ditetapkan dan dipelajari dalam diklat yang bersangkutan.

D. METODOLOGI PEMBELAJARAN

Metodologi pembelajaran untuk mata diklat ini menggunakan metode ceramah, diskusi, simulasi, dan pembahasan kasus. Ceramah diberikan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta pelatihan tentang kode etik dan standar audit, sedangkan diskusi dan pembahasan kasus dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan penerapan kode etik dan standar audit bagi peserta pelatihan. Simulasi dilakukan untuk memberi contoh tentang konsistensi dalam bertindak sehingga terdapat satu kesatuan antara kata dan perbuatan serta untuk menumbuhkan keinginan yang kuat bagi APIP dalam mengembangkan kompetensinya melalui pengembangan profesional berkelanjutan. Dengan demikian diharapkan para peserta dapat lebih memahami materi ini, yang pada gilirannya mampu menerapkannya dalam pelaksanaan tugas audit secara baik.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

3

Bab II ETIKA PROFESI, STANDAR AUDIT, DAN JAMINAN MUTU

Indikator Keberhasilan Setelah mempelajari bab ini, peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan pentingnya jasa profesi memperoleh kepercayaan masyarakat.

A. PENGERTIAN PROFESI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu, sedangkan profesional menurut KBBI adalah:

1. bersangkutan dengan profesi;

2. pekerjaan yang memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya;

3. mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan dari amatir).

Definisi tersebut memberi implikasi bahwa persyaratan utama dari suatu profesi adalah tuntutan kepemilikan keahlian tertentu yang unik. Dengan demikian, setiap orang yang mau bergabung dalam suatu profesi tertentu dituntut memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh orang awam atau orang kebanyakan. Selain itu, para anggota profesi dituntut untuk memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan karena adanya kompensasi berupa pembayaran untuk melakukannya. Hal ini mewajibkan adanya komitmen terhadap kualitas hasil pekerjaan.

Suatu pekerjaan keahlian dapat digolongkan sebagai suatu pekerjaan profesi jika memenuhi persyaratan tertentu. Prof. Welenski di dalam buku Sawyers Internal Auditanng menyebutkan tujuh syarat agar suatu pekerjaan disebut sebagai pekerjaan profesi, yaitu:

1. pekerjaan tersebut adalah untuk melayani kepentingan orang banyak (umum);

2. bagi yang ingin terlibat dalam profesi dimaksud harus melalui pelatihan yang cukup dan berkelanjutan;

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

5

3.

adanya kode etik dan standar yang ditaati di dalam organisasi tersebut;

4. menjadi anggota dalam organisasi profesi dan selalu mengikuti pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi tersebut;

5. mempunyai media massa/publikasi yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan anggotanya;

6. kewajiban menempuh ujian untuk menguji pengetahuan bagi yang ingin menjadi anggota;

7. adanya suatu badan tersendiri yang diberi wewenang oleh pemerintah untuk mengeluarkan sertifikat.

Dikaitkan dengan tugas auditor internal pemerintah yang terhimpun dalam APIP, timbul pertanyaan apakah pekerjaan audit yang dilakukan oleh auditor pemerintah dapat digolongkan sebagai pekerjaan profesi. Jika dilihat dari rumusan atau pengertian profesi menurut KBBI dan pendapat Prof. Welenski, pekerjaan audit yang dilakukan auditor APIP dapat digolongkan ke dalam pekerjaan profesi/profesional. Karena tergolong sebagai pekerjaan profesi, pekerjaan audit yang dilakukan oleh auditor pemerintah memerlukan suatu standar dan kode etik sebagai pedoman atau pegangan bagi seluruh anggota profesi tersebut. Kode etik dan standar tersebut bersifat mengikat dan harus ditaati oleh setiap anggota agar setiap hasil kerja para anggota dapat dipercaya dan memenuhi kualitas yang ditetapkan oleh organisasi.

B. PENGERTIAN DAN TUJUAN KODE ETIK

1. Pengertian Etik dan Kode Etik

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, mendefinisikan etik sebagai (1) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; (2) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Menurut Eric L. Kohler dalam buku A Dictionary for Accountants, edisi kelima, 1979 – ethic adalah a system of moral principles and their application to particular problems of conduct; specially, the rules of conduct of a profession imposed by a professional body governing the behavior of its member.

Etika menurut Dictionary of Accounting karangan Ibrahim Abdulah Assegaf, cetakan I tahun 1991, adalah disiplin pribadi dalam hubungannya dengan lingkungan yang lebih daripada apa yang sekedar ditentukan oleh undang undang.

Jadi, kode etik pada prinsipnya merupakan sistem dari prinsip prinsip moral yang diberlakukan dalam suatu kelompok profesi yang ditetapkan secara bersama. Kode etik suatu profesi merupakan ketentuan perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap mereka yang menjalankan tugas profesi tersebut, seperti dokter, pengacara, polisi, akuntan, penilai, dan profesi lainnya.

2. Dilema Etika dan Solusinya

Dalam hidup bermasyarakat perilaku etis sangat penting, karena interaksi antar dan di dalam masyarakat itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai nilai etika. Kesadaran semua anggota masyarakat untuk berperilaku secara etis dapat membangun suatu ikatan dan keharmonisan bermasyarakat. Namun demikian, kita tidak bisa mengharapkan bahwa semua orang akan berperilaku secara etis. Terdapat dua faktor utama yang mungkin menyebabkan orang berperilaku tidak etis, yakni:

a. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandar udara (bandara). Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat terbuka. Pada kesempatan berikutnya, pada saat bertemu dengan keluarga dan temantemannya, yang bersangkutan dengan bangga bercerita bahwa dia telah menemukan dompet dan mengambil isinya.

b. Orang tersebut secara sengaja bertindak tidak etis untuk keuntungan diri sendiri. Misalnya, seperti contoh di atas, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandara. Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat tersembunyi dan merahasiakan kejadian tersebut.

Dorongan untuk berbuat tidak etis mungkin diperkuat oleh rasionalisasi yang dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan berdasarkan pengamatan dan pengetahuannya. Rasionalisasi tersebut mencakup tiga hal sebagai berikut.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

7

a. Setiap orang juga melakukan hal (tidak etis) yang sama. Misalnya, orang mungkin berargumen bahwa tindakan memalsukan perhitungan pajak, menyontek dalam ujian, atau menjual barang yang cacat tanpa memberitahukan kepada pembelinya bukan perbuatan yang tidak etis karena yang bersangkutan berpendapat bahwa orang lain pun melakukan tindakan yang sama.

b. Jika suatu perbuatan tidak melanggar hukum berarti perbuatan tersebut tidak melanggar etika. Argumen tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa hukum yang sempurna harus sepenuhnya dilandaskan pada etika. Misalnya, seseorang yang menemukan barang hilang tidak wajib mengembalikannya kecuali jika pemiliknya dapat membuktikan bahwa barang yang ditemukannya tersebut benarbenar milik orang yang kehilangan tersebut.

c. Kemungkinan bahwa tindakan tidak etisnya akan diketahui orang lain serta sanksi yang harus ditanggung jika perbuatan tidak etis tersebut diketahui orang lain tidak signifikan. Misalnya penjual yang secara tidak sengaja terlalu besar menulis harga barang mungkin tidak akan dengan kesadaran mengoreksinya jika jumlah tersebut sudah dibayar oleh pembelinya. Dia mungkin akan memutuskan untuk lebih baik menunggu pembeli protes untuk mengoreksinya. Sedangkan jika pembeli tidak menyadari dan tidak protes maka penjual tidak perlu memberi tahu.

Kenyataan ini menimbulkan dilema etika. Muncul pertanyaan tentang bagaimana seseorang seharusnya menyikapi suatu keadaan untuk menetapkan apakah suatu tindakan merupakan perbuatan etis atau tidak etis. Pada tahun 1930an, organisasi pengusaha Rotary International, mengembangkan kode etik untuk kalangannya. Dalam menetapkan apakah suatu tindakan digolongkan etis atau tidak etis, organisasi tersebut menggunakan empat pertanyaan yang biasa dikenal dengan the four way test , yakni:

a. Apakah tindakan tersebut benar?

b. Apakah tindakan tersebut adil untuk semua pihak?

c. Apakah tindakan tersebut dapat membangun kesan baik dan pertemanan yang lebih baik?

d. Apakah tindakan tersebut menguntungkan semua pihak?

Saat ini, telah dikembangkan rerangka pemikiran untuk membantu setiap orang memecahkan dilema etika. Rerangka pemikiran tersebut dapat membantu masyarakat mengidentifikasi masalah etika dan menetapkan tindakan yang tepat sesuai dengan nilai pribadi yang dimilikinya. Rerangka tersebut dikenal sebagai the six step approach , yang meliputi langkah langkah sebagai berikut.

a. Identifikasikan kejadiannya.

b. Identifikasikan masalah etika berkaitan dengan kejadian tersebut.

c. Tetapkan siapa saja yang akan terpengaruh serta tetapkan apa konsekuensi yang akan diterima/ditanggungnya berkaitan dengan kejadian tersebut.

d. Identifikasikan alternatifalternatif tindakan yang dapat ditempuh pihak yang terkait dengan dilema tersebut.

e. Identifikasikan konsekuensi dari tiap tiap alternatif tersebut.

f. Tetapkan tindakan yang tepat berdasarkan pertimbangan tentang nilai nilai etika yang dimiliki dan konsekuensi serta kesanggupan menanggung konsekuensi atas pilihan tindakannya. Pilihan tindakan tersebut sifatnya sangat individual sehingga sangat tergantung pada nilai etika yang dimiliki oleh yang bersangkutan serta kesanggupannya menanggung akibat dari pilihan tindakannya.

Enam langkah tersebut akan mengarah pada ketidakseragaman perilaku karena nilai yang diyakini oleh masing masing individu mungkin berbeda. Oleh karena itu, untuk tercapainya keseragaman ukuran perilaku, apakah suatu tindakan etis atau tidak etis, maka kode etik perlu ditetapkan bersama oleh seluruh anggota profesi.

3. Perlunya Kode Etik bagi Profesi

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, kode etik yang mengikat semua anggota profesi perlu ditetapkan bersama. Tanpa kode etik, maka setiap individu dalam satu komunitas akan memiliki tingkah laku yang berbeda beda yang dinilai baik menurut anggapannya dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Tidak dapat dibayangkan betapa kacaunya apabila, misalnya, setiap orang dibiarkan dengan bebas menentukan mana yang baik dan mana yang buruk menurut kepentingannya masing masing, atau bila menipu dan berbohong dianggap perbuatan baik, atau setiap orang diberi kebebasan untuk

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

9

berkendaraan di sebelah kiri atau kanan sesuai keinginannya. Oleh karena itu, nilai etika atau kode etik diperlukan oleh masyarakat, organisasi, bahkan negara agar semua berjalan dengan tertib, lancar, teratur dan terukur.

Kepercayaan masyarakat dan pemerintah atas hasil kerja auditor ditentukan oleh keahlian, independensi, serta integritas moral/kejujuran para auditor dalam menjalankan pekerjaannya. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap satu atau beberapa auditor dapat menghancurkan citra profesi auditor secara keseluruhan. Oleh karena itu, organisasi auditor berkepentingan untuk mempunyai kode etik yang dibuat sebagai prinsip moral atau aturan perilaku yang mengatur hubungan antara auditor dan auditan, antara auditor dan auditor, serta antara auditor dan masyarakat. Kode etik atau aturan perilaku dibuat untuk dipedomani dalam berperilaku atau melaksanakan penugasan sehingga menumbuhkan kepercayaan dan memelihara citra organisasi di mata masyarakat.

C. PENGERTIAN DAN TUJUAN STANDAR AUDIT

Salah satu pengertian standar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Standar antara lain diperlukan sebagai:

1. ukuran mutu;

2. pedoman kerja;

3. batas tanggung jawab;

4. alat pemberi perintah;

5. alat pengawasan;

6. kemudahan bagi umum.

Standar yang digunakan sebagai ukuran pada umumnya diperlukan pada pekerjaan yang memiliki ciri:

1. menyangkut kepentingan orang banyak;

2. mutu hasilnya ditentukan;

3. banyak orang (pekerja) terlibat;

4. sifat dan mutu pekerjaan sama;

5. ada organisasi yang mengatur.

Standar merupakan kriteria atau ukuran mutu kinerja yang harus dicapai. Berbeda dengan prosedur yang merupakan urutan tindakan yang harus dilaksanakan untuk mencapai suatu standar tertentu. Standar audit merupakan ukuran mutu pekerjaan audit yang ditetapkan oleh organisasi profesi audit, yang merupakan persyaratan minimum yang harus dicapai auditor dalam melaksanakan tugas auditnya. Standar audit diperlukan untuk menjaga mutu pekerjaan auditor. Mutu audit perlu dijaga supaya profesi auditor tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. Untuk meyakinkan pembaca laporan audit, maka auditor harus mencantumkan dalam laporannya bahwa auditnya telah dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku.

D. KODE ETIK, STANDAR AUDIT, DAN PROGRAM JAMINAN MUTU

Dasar pemikiran yang melandasi penyusunan kode etik dan standar setiap profesi adalah kebutuhan dari profesi untuk dipercaya oleh masyarakat dalam hal mutu jasa yang diberikan oleh profesi. Terkait dengan profesi auditor, pada umumnya tidak semua pengguna jasa audit memahami hal hal yang berkaitan dengan auditanng. Mereka yang memahami auditanng adalah kalangan profesi itu sendiri. Oleh karena itu, profesi tersebut perlu mengatur dan menetapkan ukuran mutu yang harus dicapai oleh para auditornya. Aturan yang ditetapkan oleh profesi ini menyangkut aturan perilaku, yang disebut dengan kode etik, yang mengatur perilaku auditor sesuai dengan tuntutan profesi dan organisasi pengawasan serta standar audit yang merupakan ukuran mutu minimal yang harus dicapai auditor dalam menjalankan tugas auditnya. Apabila aturan ini tidak dipenuhi berarti auditor tersebut bekerja di bawah standar dan dapat dianggap melakukan malpraktik.

Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa profesi juga harus dijaga. Karena itu setiap profesi harus membangun dan melaksanakan program jaminan mutu. Program ini harus dilakukan dalam upaya pemenuhan standar audit yang mengharuskan auditor menggunakan keahlian profesional dengan cermat dan saksama. Program jaminan mutu harus diciptakan untuk mempertahankan profesionalisme dan kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa audit. Program jaminan mutu untuk masingmasing APIP dapat dibangun sendiri sesuai dengan karakteristik APIP yang bersangkutan. Sebagai contoh, langkah langkah pengendalian mutu dalam penugasan audit di lingkungan BPKP, sebagai bagian dari program jaminan mutu, dituangkan dalam 12 (dua belas) formulir kendali mutu (KM1 s.d. KM12) sebagaimana ditetapkan Surat Edaran Kepala BPKP Nomor SE 448/K/1990 tanggal 11 September 1990. Contoh lain ialah Standar Pengendali Mutu yang harus dibuat menurut ketentuan Ikatan Akuntan Indonesia yang dapat dilihat di Lampiran 1.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

11

E.

KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP

Auditor APIP adalah pegawai negeri yang mendapat tugas antara lain untuk melakukan audit. Karena itu, auditor pemerintah dapat diibaratkan sebagai seseorang yang kaki kanannya terikat pada ketentuanketentuan sebagai pegawai negeri sedangkan kaki kirinya terikat pada ketentuanketentuan profesinya. Pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa bagi pegawai negeri yang bertugas sebagai auditor posisinya sebagai pegawai negeri adalah lebih utama dari tugas profesinya, tetapi menyatakan ruang lingkup kode etik yang harus diperhatikannya lebih luas dari profesi tertentu yang lain.

Auditor APIP yang meliputi auditor di lingkungan BPKP, inspektorat jendral kementerian, unit pengawasan LPNK, dan inspektorat provinsi, kabupaten, dan kota dalam menjalankan tugas auditnya wajib menaati Kode Etik APIP yang berkaitan dengan statusnya sebagai pegawai negeri dan Standar Audit APIP sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. PER/04/M.PAN/03/2008 dan No. PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008. Dengan terbentuknya Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI), Kode Etik dan Standar Audit APIP yang menjadi acuan dalam melaksanakan tugas audit intern ialah Kode Etik Auditor Intern Pemerintah Indonesia (KE AIPI) dan Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SA IPI).

Di sisi lain, terdapat pula auditor pemerintah, khususnya auditor BPKP, adalah akuntan, anggota Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang dalam keadaan tertentu melakukan audit atas entitas yang menerbitkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip prinsip akuntansi yang berlaku umum (BUMN/BUMD) sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Karena itu, auditor pemerintah tersebut wajib pula mengetahui dan menaati Kode Etik Akuntan Indonesia dan Standar Audit sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Kutipan Kode Etik ini dimuat dalam Lampiran 2.

F. LATIHAN SOAL

1. Sebutkan 5 macam profesi yang Saudara ketahui dan jelaskan pengertian profesional!

2. Menurut pendapat Saudara apakah pekerjaan APIP termasuk pekerjaan profesional? Jelaskan alasan Saudara!

3. Mengapa kode etik diperlukan dalam organisasi profesi auditor?

4.

Bagaimana sikap Saudara selaku auditor pada APIP, jika melihat auditor APIP lainnya dalam tingkah lakunya tidak sesuai dengan yang diatur oleh organisasi profesinya?

5. Apa perlunya standar audit? Apa yang dimaksud dengan pengendalian mutu dalam kaitannya dengan penugasan audit?

6. Mengapa setiap organisasi auditor perlu membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu audit?

7. Apa bedanya standar audit dengan prosedur audit? Jelaskan hubungan keduanya!

8. Harap Saudara jelaskan hubungan kode etik, standar audit, dan pengendalian mutu audit!

9. Pada umumnya, apabila personil yang ditugaskan semakin cakap dan berpengalaman, maka supervisi secara langsung terhadap personil tersebut semakin tidak diperlukan. Demikian salah satu pernyataan dalam standar pengendalian mutu akuntan publik. Tanpa memperhatikan standar yang lain, bagaimana komentar Saudara mengenai pernyataan tersebut?

10. Apakah hasil audit yang dilakukan oleh seorang auditor yang pandai pasti bermutu? Jelaskan jawaban Saudara!

11. Sebutkan unsur kebijakan dan prosedur pengendalian mutu audit menurut Ikatan Akuntan Indonesia?

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

13

Bab III KODE ETIK APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH

Indikator Keberhasilan Setelah mempelajari bab ini, peserta diklat diharapkan mampu menerapkan Kode Etik APIP.

Kode etik APIP dimaksudkan sebagai pegangan atau pedoman bagi para pejabat dan auditor APIP dalam bersikap dan berperilaku agar dapat memberikan citra APIP yang baik serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap APIP. Sebagai bahan perbandingan, modul ini akan menguraikan secara singkat mengenai kode etik yang diterapkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal yang antara lain termasuk Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern BUMN/BUMD (FKSPI BUMN/BUMD).

A. LANDASAN HUKUM

Kode Etik Auditor Intern Pemerintah Indonesia (KE AIPI) yang ditetapkan oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI), yang dilandasi oleh ketentuan hukum sebagai berikut.

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2010.

4. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) AAIPI pasal 8 bahwa Komite Standar Audit bertugas merumuskan dan mengembangkan standar audit.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

15

B.

KODE ETIK APIP

Kode etik AIPI diberlakukan bagi seluruh auditor dan pegawai negeri sipil yang diberi tugas oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) untuk melaksanakan pengawasan dan pemantauan tindak lanjutnya. Kode etik AIPI terdiri dari dua komponen, yaitu prinsip prinsip etika yang merupakan pokok pokok yang melandasi perilaku auditor dan aturan perilaku yang menjelaskan lebih lanjut prinsip prinsip perilaku auditor.

1. Prinsip Etika

Tuntutan sikap dan perilaku auditor dalam melaksanakan tugas pengawasan dilandasi oleh beberapa prinsip perilaku, yaitu: integritas, objektivitas, kerahasiaan, kompetensi, akuntabel, dan perilaku profesional. Dibandingkan dengan Permenpan Nomor PER/04/M.PAN/03/2008, AAIPI menambahkan prinsip akuntabel dan perilaku profesional dalam KE AIPI.

a. Integritas

Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Integritas auditor intern pemerintah membangun kepercayaan, dan dengan demikian memberikan dasar untuk kepercayaan dalam pertimbangannya. Integritas tidak hanya menyatakan kejujuran, namun juga hubungan wajar dan keadaan yang sebenarnya.

b. Objektivitas

Objektivitas adalah sikap jujur yang tidak dipengaruhi pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dalam mengambil putusan atau tindakan.

Auditor intern pemerintah menunjukkan objektivitas profesional tingkat tertinggi dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi tentang kegiatan atau proses yang sedang diaudit. Auditor intern pemerintah membuat penilaian berimbang dari semua keadaan yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingankepentingannya sendiri ataupun orang lain dalam membuat penilaian.

Prinsip objektivitas menentukan kewajiban bagi auditor intern pemerintah untuk berterus terang, jujur secara intelektual dan bebas dari konflik kepentingan.

c. Kerahasiaan

Kerahasiaan adalah sifat sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya.

Auditor intern pemerintah menghormati nilai dan kepemilikan informasi yang diterima dan tidak mengungkapkan informasi tanpa kewenangan yang tepat, kecuali ada ketentuan perundang undangan atau kewajiban profesional untuk melakukannya.

d. Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang, berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.

Auditor intern pemerintah menerapkan pengetahuan, keahlian dan keterampilan, serta pengalaman yang diperlukan dalam pelaksanaan layanan pengawasan intern.

e. Akuntabel

Akuntabel adalah kemampuan untuk menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

Auditor intern pemerintah wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas kinerja dan tindakannya kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

f. Perilaku Profesional

Perilaku profesional adalah tindak tanduk yang merupakan ciri, mutu, dan kualitas suatu profesi atau orang yang profesional yang memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

17

Auditor intern pemerintah sebaiknya bertindak dalam sikap konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menahan diri dari segala perilaku yang mungkin menghilangkan kepercayaan kepada profesi pengawasan intern atau organisasi.

2. Aturan Perilaku

Aturan perilaku mengatur setiap tindakan yang harus dilakukan oleh auditor dan merupakan pengejawantahan prinsip prinsip perilaku auditor. Kode Etik AIPI menetapkan aturan perilaku untuk empat area perilaku auditor, yaitu aturan perilaku individu auditor intern, aturan perilaku dalam organisasi, aturan perilaku menyangkut hubungan sesama auditor, serta aturan perilaku untuk hubungan antara auditor dan auditan.

Aturan Perilaku untuk Individu Auditor Intern

a. Integritas

Dalam prinsip ini auditor intern pemerintah wajib:

1)

melakukan pekerjaan dengan kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab;

2)

menaati hukum dan membuat pengungkapan yang diharuskan oleh ketentuan perundang undangan dan profesi;

3)

menghormati dan berkontribusi pada tujuan organisasi yang sah dan etis;

4)

tidak menerima gratifikasi terkait dengan jabatan dalam bentuk apapun. Bila gratifikasi tidak bisa dihindari, auditor intern pemerintah wajib melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) paling lama dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah gratifikasi diterima atau sesuai ketentuan pelaporan gratifikasi.

b. Objektivitas

Dalam prinsip ini auditor intern pemerintah wajib:

1) tidak berpartisipasi dalam kegiatan atau hubungan apapun yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan organisasinya, atau yang dapat menimbulkan prasangka, atau yang meragukan kemampuannya untuk dapat

melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab profesinya secara objektif;

2)

tidak menerima sesuatu dalam bentuk apapun yang dapat mengganggu atau patut diduga mengganggu pertimbangan profesionalnya;

3)

mengungkapkan semua fakta material yang diketahui, yaitu fakta yang jika tidak diungkapkan dapat mengubah atau memengaruhi pengambilan keputusan atau menutupi adanya praktik praktik yang melanggar hukum.

c. Kerahasiaan

Dalam prinsip ini auditor intern pemerintah wajib:

1)

berhati hati dalam penggunaan dan perlindungan informasi yang diperoleh dalam tugasnya;

2)

tidak menggunakan informasi untuk keuntungan pribadi atau dengan cara apapun yang akan bertentangan dengan ketentuan perundang undangan atau merugikan tujuan organisasi yang sah dan etis.

d. Kompetensi

Dalam prinsip ini auditor intern pemerintah wajib:

1)

memberikan layanan yang dapat diselesaikan sepanjang memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan, serta pengalaman yang diperlukan;

2)

melakukan pengawasan sesuai dengan Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia;

3) Terusmenerus meningkatkan keahlian serta efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugasnya, baik yang diperoleh dari pendidikan formal, pelatihan, sertifikasi, maupun pengalaman kerja.

e. Akuntabel

Dalam prinsip ini auditor intern pemerintah wajib menyampaikan pertanggungjawaban atau jawaban dan keterangan atas kinerja dan tindakannya

Kode

Etik

dan

Standar

Audit

Intern

19

secara sendiri atau kolektif kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta