Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang bersifat zoonosis
(menular ke manusia).. Rabies disebabkan oleh virus rabies, dari genus Lyssavirus, famili
Rhabdoviridae (OIE, 2008). Virus rabies termasuk virus yang memiliki genom RNA untai
tunggal berpolaritas negatif (ss-RNA virus), memiliki ukuran diameter 75 nm dan panjang
180 nm. Virus rabies memiliki lima jenis partikel protein yang berbeda yakni glikoprotein
(G), matrik protein (M), RNA polymerase (L), nukleoprotein (N), dan phosphoprotein (P)
(Coll, 1995). Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan ditularkan
melalui gigitan, cakaran atau melalui kulit yang terluka (Bingham, 2005; Kang et al.,
2007).
Menurut laporan WHO (2005), penyakit rabies dapat timbul akibat kelalaian
manusia neglected disease karena penyakit ini sebenarnya dapat dicegah sebelum
muncul. Penyakit rabies tersebar di seluruh dunia dengan perkiraan 55.000 kematian
pertahun, hampir semuanya terjadi di negara berkembang. Jumlah yang terbanyak dijumpai
di Asia sebesar 31.000 jiwa (56%) dan Afrika 24.000 jiwa (44%). Diperkirakan 30% 50%
proporsi dari kematian yang dilaporkan terjadi pada anak-anak di bawah usia 15 tahun
(WHO, 2006).
Kasus klinis rabies pada hewan maupun manusia selalu berakhir dengan kematian.
Penyakit Rabies menimbulkan dampak psikologis seperti kepanikan, kegelisahan,
kekhawatiran, kesakitan dan ketidaknyamanan pada orang-orang yang terpapar. Kerugian
ekonomi yang ditimbulkan pada daerah tertular terjadi karena biaya penyidikan,
pengendalian yang tinggi, serta tingginya biaya postexposure treatment. Disamping itu,
kerugian akibat pembatalan kunjungan wisatawan, terutama di daerah yang menjadi tujuan
wisata penting di dunia, seperti Bali, dapat saja terjadi jika tingkat kejadian rabies sangat
tinggi.

Rabies telah ada di Indonesia sejak abad ke-19 dan telah tersebar di sebagian besar
wilayah. Rabies dilaporkan pertama kali oleh Stchorl pada tahun 1884, yaitu pada seekor
kuda di Bekasi, Jawa Barat. Selanjutnya kasus rabies pada kerbau dilaporkan pada tahun
1889, kemudian rabies pada anjing dilaporkan oleh Penning tahun 1890 di Tangerang.
Kasus rabies pada manusia dilaporkan oleh Eilerts de Haan pada seorang anak di Desa
Palimanan, Cirebon tahun 1894. Selanjutnya rabies dilaporkan semakin menyebar
kebeberapa wilayah di Indonesia, yaitu Sumatra Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun
1953, Sulawesi Selatan tahun 1959, Lampung 1969, Aceh tahun 1970, Jambi dan DI
Yogyakarta tahun 1971. Rabies di Bengkulu, DKI Jakarta, dan Sulawesi Tengah di laporkan
tahun 1972, Kalimantan Timur tahun 1974 dan Riau tahun 1975. Pada dekade 1990-an dan
2000-an rabies masih terus menjalar ke wilayah yang sebelumnya bebas historis menjadi
tertular, yaitu Pulau Flores tahun 1998, Pulau Ambon dan Pulau Seram tahun 2003,
Halmahera dan Morotai tahun 2005, Ketapang tahun 2005, serta Pulau Buru tahun 2006.
Kemudian Pulau Bali dilaporkan tertular rabies tahun 2008, Pulau Bengkalis dan Pulau
Rupat di Propinsi Riau tahun 2009 (Direktorat Kesehatan Hewan, 2006; Kepmentan, 2008).
Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) rabies merupakan salah satu upaya
preventif yang berperan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat gigitan
anjing yang sampai saat ini masih belum dapat dituntaskan. Pelaksanaan program ini
merupakan program yang melibatkan multi sektoral baik oleh seluruh unit pelayanan
kesehatan (UPK) seperti Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta, Instansi dan
Organisasi lain yang turut mendukung program ini, di samping juga peran serta masyarakat
secara paripurna dan terpadu (Depkes RI, 2001).
Pengendalian penyakit rabies umumnya dilakukan dengan vaksinasi dan eliminasi
anjing liar/diliarkan, disamping program sosialisasi, dan pengawasan lalu lintas hewan
penular rabies (HPR). Vaksinasi massal merupakan cara yang efektif untuk pencegahan dan
pengendalian rabies.Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan serta tindakan-tindakan
preventif terkait bahaya yang ditimbulkan akibat penyakit anjing gila ini sehingga
dimungkinkan penyakit anjing gila ini dapat diatasi dan sebagai informasi untuk
mengambil kebijakan pengendalian wabah penyakit rabies dalam program pencegahan

penyakit rabies. Selanjutnya dapat meningkatkan surveilance terpadu dengan Dinas


Peternakan dan Pertanian dalam penanganan kasus tersangka maupun penderita rabies.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian penyakit rabies ?
2. Apakah etiologi (virus penyebab) penyakit rabies ?
3. Bagaimanakah tanda-tanda dan gejala penyakit rabies ?
4. Bagaimana cara penularan penyakit rabies ?
5. Apakah akibat dan bahaya dari penyakit rabies ?
6. Bagaimanakah cara penanggulangan penyakit rabies ?
7. Bagaimanakah peraturan perundang-undangan tentang penyakit rabies ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa pengertian penyakit rabies.
2. Mengetahui apa etiologi (virus penyebab) penyakit rabies.
3. Mengetahui tanda-tanda dan gejala penyakit rabies.
4. Mengetahui cara penularan penyakit rabies.
5. Mengetahui akibat dan bahaya dari penyakit rabies
6. Mengetahui cara penanggulangan penyakit rabies.
7. Mengetahui peraturan perundang-undangan tentang penyakit rabies.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyakit Rabies
Rabies adalah penyakit menular khas pada hewan tertentu khusunya anjing dan
srigala yang disebabkan oleh virus dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan
hewan yang tertular (Kamus Kedokteran : 295)
Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari
hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh
anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.
2.2 Etiologi Penyakit Rabies
Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan
genus Lysavirus. Karakteristik utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki
satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen.Virus ini hidup pada beberapa jenis hewan
yang berperan sebagai perantara penularan. Spesies hewan perantara bervariasi pada
berbagai letak geografis. Hewan-hewan yang diketahui dapat menjadi perantara rabies
antara lain rakun (Procyon lotor) dan sigung (Memphitis memphitis) di Amerika Utara,
rubah merah (Vulpes vulpes) di Eropa, dan anjing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki tingkat rabies yang masih tinggi.
Hewan perantara menginfeksi inang yang bisa berupa hewan lain atau manusia
melalui gigitan. Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang
terluka. Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang
belakang dan otak dan bereplikasi di sana. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui
saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur. Hewan yang
terinfeksi bisa mengalami rabies buas/ ganas ataupun rabies jinak/ tenang. Pada rabies buas/
ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam
barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati.

Pada rabies jinak/tenang, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau
kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas,
serta menunjukkan kegalakan.
Virus Rabies selain terdapat di susunan syaraf pusat, juga terdapat di air liur hewan
penderita rabies. Oleh sebab itu penularan penyakit rabies pada manusia atau hewan lain
melalui gigitan. Gejala-gejala rabies pada hewan timbul kurang lebih 2 minggu (10 hari - 8
minggu). Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun. Masa tunas ini dapat lebih
cepat atau lebih lama tergantung pada :

Dalam dan parahnya luka bekas gigitan.

Lokasi luka gigitan.

Banyaknya syaraf disekitar luka gigitan.

Pathogenitas dan jumlah virus yang masuk melalui gigitan.

Jumlah luka gigitan.

Di Indonesia hewan-hewan yang biasa menyebarkan penyakit rabies adalah :

Anjing

Kucing

Kera
Meskipun sangat jarang terjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara

yang tercemar virus rabies. Dua pekerja laboratorium telah mengkonfirmasi hal ini setelah
mereka terekspos udara yang mengandung virus rabies. Pada tahun 1950, dilaporkan dua
kasus rabies terjadi pada penjelajah gua di Frio Cave, Texas yang menghirup udara di mana
ada jutaan kelelawar hidup di tempat tersebut. Mereka diduga tertular lewat udara karena
tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda bekas gigitan kelelawar.
2.3 Tanda-tanda dan Gejala Penyakit Rabies
Gejala yang terlihat pada umumnya adalah berupa manifestasi peradangan otak
(encephalitis) yang akut baik pada hewan maupun manusia. Pada manusia keinginan untuk
menyerang orang lain pada umumnya tidak ada.

Masa inkubasi rabies pada anjing dan kucing berkisar antara 10 sampai 8 minggu.
Pada sapi, kambing, kuda dan babi berkisar antara 1 sampai 3 bulan.
Tanda klinis pada hewan pemamah biak dapat dilibat seperti gelisah, gugup, liar dan
adanya rasa gatal pada seluruh tubuh, kelumpuhan pada kaki belakang dan akhirnya hewan
mati. Pada hari pertama atau kedua gejala klinis terlihat biasanya temperatur normal,
anorexia, eskpresi wajah berubah dari biasa, sering menguak dan ini merupakan tanda yang
spesiftk bagi hewan yang menderita rabies.
Gejala-gejala rabies pada hewan ada dua :
1. Rabies Ganas
o

Pada anjing, dari ramah menjadi penakut dan tidak menurut lagi pada
tuannya.

Selalu bersembunya di tempat gelap dan dingin.

Nafsu makan berkurang.

Suara menjadi parau.

Memakan benda-benda asing, batu, kayu, dsb.

Ekornya ada diantara kedua pahanya.

Menyerang dan mengigit siapa saja (menjadi lebih agresif).

Kejang yang disusul dengan kelumpuhan.

Biasanya akan mati 4-5 hari setelah timbul gejala pertama.

2. Rabies Tenang
o

Pada jenis ini, kejang-kejang berlangsung singkat dan sangat jarang terlihat.

Kelumpuhan sangat menonjol pada rabies jenis ini.

Tidak dapat menelan.

Mulut terbuka dan air liur keluar terus-menerus, disusul kematian dalam
waktu singkat.

Gejala-gejala rabies pada manusia dibagi menjadi empat stadium :


1. Stadium Prodromal

Tidak khas seperti gejala sakit biasa seperti, demam, sakit kepala, malaise,
anoreksia, nausea, mual dan rasa nyeri ditenggorokan selama beberapa hari,
dsb.

2. Stadium Sensoris
o

Biasanya terasa nyeri di daerah bekas gigitan, paraesthesia, panas, gugup,


anxietas. Kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan
terhadap rangsang sensorik.

3. Stadium Eksitasi
o

Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala


hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.

Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya, yang


sangat khas pada stadium ini ialah adanya macam-macam phobi, yang
sangat terkenal diantaranya ialah hidrofobi (takut dengan air).

Kontraksi otot-otot Faring dan otot-otot pernapasan dapat pula ditimbulkan


oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara kemuka penderita atau
dengan menjatuhkan sinar kemata atau dengan menepuk tangan didekat
telinga penderita.

Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsa da tahikardi.


Tindak-tanduk penderita tidak rasional kadang-kadang maniakal disertai
dengan saat-saat responsif.

Gejala-gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita


meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otototot melemah, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.

4. Stadium Paralitic
o

Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadangkadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis
otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang
belakang, yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

2.4 Cara Penularan Penyakit Rabies

Masa inkubasi pada anjing dan kucing kurang lebih dua minggu (10 hari sampai 8
minggu). Pada manusia 2 sampai 3 minggu, yang paling lama satu tahun tergantung pada
jumlah virus yang masuk melalui luka gigitan, dalam atau tidaknya luka, luka tunggal atau
banyak dan dekat atau tidaknya luka dengan susunan syaraf pusat.
Virus ditularkan terutama melalui luka gigitan, oleh karena itu bangsa carnivora
adalah hewan yang paling utama (efektif) sebagai penyebar rabies antara hewan dan
manusia.
Pada hewan percobaan virus masih dapat ditemukan ditempat suntikan selama 14
hari. Virus menuju ke susunan syaraf pusat melalui syaraf perifer dengan kecepatan 3mm
per jam (dean dkk, 1963) kemudian virus berkembang biak di sel-sel syaraf terutama di
hypocampus, sel purkinye dan kelenjar ludah akan terus infektif selama hewan sakit.
2.5 Akibat dan Bahaya Penyakit Rabies
Rabies hampir selalu berakibat fatal jika post-exposure prophylaxis tidak diberikan
sebelum onset gejala berat. Virus rabies bergerak ke otak melalui saraf perifer. Masa
inkubasi dari penyakit ini tergantung pada seberapa jauh jarak perjalanan virus untuk
mencapai sistem saraf pusat, biasanya mengambil masa beberapa bulan. Setelah mencapai
sistem saraf pusat, orang yang terinfeksi rabies akan mulai menunjukkan gejala yang kita
kenali sebagai fase prodromal. Tahap awal gejala rabies adalah malaise, sakit kepala dan
demam, kemudian berkembang menjadi lebih serius, termasuk nyeri akut, gerakan dan
sikap yang tidak terkendali, depresi dan ketidakmampuan untuk minum air (hydrophobia).
Akhirnya, pasien dapat mengalami periode mania dan lesu, diikuti oleh koma. Penyebab
utama kematian biasanya adalah gangguan pernapasan.
2.6 Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Rabies
Untuk melakukan pencegahan penyebaran virus rabies ini, ada baiknya kita
mengenali ciri-ciri anjing piaraan maupun anjing liar yang terjangkit virus rabies atau
anjing gila. Agar kita tidak menjadi korban gigitan anjing rabies, ada baiknya kita perlu
lebih waspada dengan melakukan berbagai upaya pencegahan. Upaya pertama adalah
merawat anjing kesayangan kita dengan baik dan rutin melakukan vaksinasi ke dokter
8

hewan minimal 1- 2 kali dalam setahun, mengikat atau memberi kandang anjing piaraan
kita. Jangan biarkan anjing kesayangan kita berkeliaran di jalanan dan bergaul dengan
anjing-anjing liar agar terhindar dari penularan virus rabies.
Agar terhindar dari gigitan binatang yang terjangkit virus rabies, alangkah baiknya
kita tidak berada terlalu dekat dengan binatang seperti anjing, kucing, dan kera liar, karena
ketiga hewan ini merupakan hewan yang dapat menularkan panyakit rabies (HPR). Selain
itu, kita sebaiknya bisa mengetahui sedini mungkin ciri-ciri anjing yang terjangkit virus
rabies atau anjing gila. Ciri-ciri tersebut antara lain terjadi perubahan perilaku pada anjing
yang sebelumnya jinak berubah menjadi galak, dan sebaliknya dari galak menjadi jinak.
Anjing yang terjangkit penyakit rabies biasanya menggigit benda apa saja baik
kayu, karet, besi, dan benda lainnya, mengeluartkan air liur yang menetes berlebihan,
melompat-lompat seperti menangkap lalat, takut air dan cahaya, serta senang bersembunyi
di tempat gelap dan dingin. Anjing yang sudah gila juga tidak mau menuruti perintah
majikannya serta hilang nafsu makan. Anjing yang mengidap rabies, setelah menggigit
akan mati maskimal dua minggu setelah menggigit orang.
Apabila ada informasi hewan tersangka rabies atau menderita rabies, maka Dinas
Peternakan harus melakukan penangkapan atau membunuh hewan tersebut sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Apabila seteh melakukan observasi selama lebih kurang dua
minggu ternyata hewan itu masih hidup, maka diserahkan kembali kepada pemiliknya
setelah divaksinasi, atau dapat dimusnahkan apabila tidak ada pemiliknya.
Sementara ciri-ciri orang terkena penyakit rabies antara lain nafsu makannya hilang
yang disertai sakit kepala, tidak bisa tidur, demam tinggi, mual, dan muntah-muntah. Selain
itu, penderita rabies juga takut dengan air maupun cahaya, air liur dan mata keluar
berlebihan, kejang-kejang yang disusul dengan kelumpuhan sebelum akhirnya meninggal
jika tidak segera diobati ke dokter.
Langkah yang perlu ditempuh jika kita maupun orang di sekitar kita digigit anjing
adalah mengambil langkah cepat yaitu mencuci luka gigitan hewan tersebut dengan sabun
selama kurang lebih 5-10 menit di bawah air mengalir atau di guyur. Kemudian memberi
luka gigitan dengan alkohol 70 persen atau yodium tincture, serta segera pergi ke

puskemas, rumah sakit, atau dokter terdekat untuk mendapatkan pengobatan yang lebih
optimal.
A. PENANGANAN LUKA GIGITAN
Setiap luka gigitan oleh hewan yang tertular penyakit rabies harus segera diambil
tindakan yang efektif karena penyebaran virus yang cepat. usaha yang paling efektif untuk
mengurangi/mematikan virus rabies ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air
mengalir) dan sabun atau diteregent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik
(alkohol 70 %, betadine, obat merah dan lain-lain).
Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit, kecuali jahitan situasi. Bila memang
perlu sekali untuk dijahit (jahitannya jahitan situasi), maka diberi Serum Anti Rabies (SAR)
sesuai dengan dosis, yang disuntikan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin dan
sisanya disuntikan secara intra muskuler. Disamping itu harus dipertimbangkan perlu
tidaknya pemberian serum/vaksin anti tetanus, anti biotik untuk mencegah infeksi dan
pemberian analgetik.
B. PENCEGAHAN PENULARAN RABIES
Pencegahan rabies pada hewan adalah tanggung jawab Dinas Peternakan dan dalam
pelaksanaannya akan bekerja sama dengan semua instansi. Pencegahan dilakukan dengan
menghindari gigitan anjing atau binatang-binatang liar. Bila sudah terjadi maka binatang
tersebut harus diobservasi oleh dokter hewan untuk kemungkinan rabies. Bila binatang
tersebut menunjukkan tanda-tanda rabies atau bahkan mati dalam waktu 10 hari maka harus
dilakukan pemeriksaan laboratorik terhadap otak binatang tersebut untuk memastikan
diagnosa.
Agar pencegahan dan pemberantasan lebih efektif, maka disusun pedoman khusus
berlandaskan pada surat keputusan bersama antara Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian
dan Menteri Dalam Negeri tentang pencegahan dan penanggulangan rabies.
Adapun langkah-langkah pencegahan rabies dapat diihat dibawah ini:

Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing, kucing, kera
dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.

10

Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang masuk tanpa izin
ke daerah bebas rabies.

Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah-daerah


bebas rabies.

Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing, dan kera. 70% populasi
yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
Sedangkan langkah sederhana yang dapat anda lakukan adalah sebagai berikut:

Pastikan bahwa Anda vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan. Dalam beberapa
tahun terakhir, rabies pada kucing telah melampaui jumlah kasus rabies pada anjing.
Oleh karena itu, mencari tahu dari departemen kesehatan setempat apakah mereka
mempunyai klinik vaksinasi untuk kucing dan anjing. Atau yang lain, Anda dapat
meminta dokter hewan Anda memberi vaksin kepada hewan peliharaan Anda.

Pastikan Anda tidak membiarkan hewan peliharaan anda untuk menjalankan


longgar. Ini akan membantu untuk menjauhkan mereka dari binatang liar, yang bisa
menjadi potensi pembawa rabies.

Jika hewan peliharaan Anda telah digigit oleh binatang liar, pastikan Anda
memberitahukan departemen kesehatan setempat dan pengendalian hewan segera.

Jika Anda melihat binatang liar di daerah Anda, pastikan Anda memberitahukan
departemen kesehatan sehingga petugas pengendali binatang dapat memeriksa hal.

Pernah makan binatang liar, terutama yang tampak agresif atau sakit.

Jika hewan liar seperti kelelawar, rakun, rubah, sigung atau Groundhog menggigit
orang atau binatang peliharaan, maka harus segera meletakkan. Kemudian kepala
binatang itu harus diserahkan kepada negara untuk pemeriksaan laboratorium
pengujian. Vaksinasi rabies akan tergantung pada hasil pemeriksaan.

Jika hewan peliharaan Anda jatuh sakit setelah digigit anjing liar atau hewan liar,
pastikan Anda segera bawa ke dokter hewan Anda.

Pengobatan. Pengobatan dilakukan dengan memberikan imunisasi pasif dengan


serum anti rabies, dan pengobatan yang bersifat suportif dan simtomatik. Luka
gigitan dirawat dengan tehnik tertentu dengan tujuan menghilangkan dan
11

menonaktifkan virus. Immunisasi aktif dengan vaksin anti rabies sebelum tandatanda dan gejala muncul sekaligus merupakan usaha pencegahan bila ada
kecurigaan binatang yang menggigit mengidap rabies.
Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi gigitan
oleh hewan yang berpotensi rabies, karena bila tidak dapat mematikan (letal).
Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau
segera setelah terkena gigitan. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang
yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:

Dokter hewan.

Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.

Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies
pada anjing banyak ditemukan.

Para penjelajah gua kelelawar.

C. VAKSINASI RABIES DAN MANFAATNYA TERHADAP ANJING, KUCING, DAN


KERA
Vaksin rabies dikenal sejak tahun 1879 dibuat pertama kali oleh Victor Galtier.
Selanjutnya pada tahun 1884 vaksin tersebut dikembangkan oleh Louis Pasteur membuat
vaksin rabies menggunakan virus yang berasal dari sumsum tulang belakang anjing yang
terkena rabies kemudian dilintaskan pada otak kelinci dan diatenuasikan dengan pemberian
KOH.
Pada tahun 1993 Kliger dan Bernkopf berhasil membiakkan virus rabies pada telur
ayam bertunas. Cara pembiakan virus tersebut dipakai oleh Koprowski dan Cox untuk
membuat vaksin rabies aktif strain flury HEP pada tahun 1955.
Dengan berkembangnya cara pengembangbiakan virus dengan biakan sel, Naguchi
pada tahun 1913 dan Levaditi pada tahun 1914 berhasil membiakan virus rabies secara in
vitro pada biakan gel.
Pada tahun 1958 Kissling membiakan virus rabies CVS pada biakan sel ginjl anak
hamster. Selanjutnya pada tahun 1963 Kissling dan Reese berhasil membuat vaksin rabies
inaktif menggunakan virus rabies yang dibiakan pada sel ginjal anak hamster (BHK).

12

Dengan metoda pembuatan vaksin dengan biakan sel ini dapat dihasilkan titer virus yang
jauh lebih tinggi dibandungkan dengan biakan virus memakai otak hewan yang ditulari
virus rabies.
Disamping itu metode biakan sel dapat menghasilkan virus dengan jumlah yang
lebih banyak untuk produksi vaksin rabies dengan skala besar.
Pengendalian penyakit rabies dapat dilakukan antara lain dengan jalan
mengusahakan agar hewan yang peka terhadap serangan rabies kebal terhadap serangan
virus rabies. Oleh karena itu sebagian besar populasi hewan harus dokebalkan melalui
vaksin yang berkualitas baik. Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur
hidup. Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang
berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun.
Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah
satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.
2.7 Peraturan Perundang-Undangan tentang Penyakit Rabies
Sejak tahun 1926 pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang rabies pada
anjing, kucing, dan kera. Yaitu Hondsdol heid Ordonantie Staatblad No. 452 tahun 1926
dan pelaksanaannya termuat dalam Staatblad No. 452 tahun 1926.
Selanjutnya Ordonantie tersebut tersebut mengalami perubahan/penambahan-penambahan
yang disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Di DKI Jakarta terdapat SK Gubernur
No. 3213 tahun 1984 tentang Tatacara Penertiban Hewan Piaraan Anjing, Kucing dan Kera
di wilayah DKI Jakarta yang antara lain berisi :
1. Kewajiban pemilik hewan piaraan untuk memvaksin hewannya dan
menggantungkan peneng tanda lunas pajak.
2. Menangkap dan menyerahkan hewannya apabila mengigit orang untuk
diobservasi.
3. Hewan yang dibiarkan lepas dan dianggap liar atau tersangka menderita rabies
akan ditangkap oleh petugas penertiban.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh virus rabies. Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga
Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan
dari hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya
oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.
Gejala yang terlihat pada umumnya adalah berupa manifestasi peradangan otak
(encephalitis) yang akut baik pada hewan maupun manusia. Pada manusia keinginan untuk
menyerang orang lain pada umumnya tidak ada.
Pencegahan rabies dapat dilakukan dengan memvaksinasi hewan peliharaan secara
rutin, menghindari memelihar hewan liar di rumah, dan jika berpergian ke daerah yang
terjangkit rabies segera ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan
vaksinasi rabies. Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin
setelah terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi rebies, kerena apabila tidak dapat
berakibat fatal bahkan mematikan.
3.2 Saran
Adapun saran dari penulis dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat
mengetahui penyakit rabies dan dapat mencegah penyakit tersebut. Dan terhadap pembaca
khususnya yang memiliki hewan peliharaan yakni kucing, anjing, dll agar dapat menjadi
seorang pemelihara yang baik dengan selalu melakukan pemeriksaan hewan peliharaan
mengingat penyakit-penyakit yang dapat menyerang hewan tersebut yang tidak menutup
kemungkinan mendatangkan bahaya terhadap pemelihara itu sendiri.

14

DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM Jilid I Edisi ketiga FKUI 1996
Dr. Med Ahmad Ramali, K.St. Pamoentjak. KAMUS KEDOKTERAN. Djambatan
2000

Drh. HISWANI, Mkes, PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN RABIES,


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2003

http://www.antaranews.com/berita/1256562409/waspadai-rabies
http://dewabenny.com/2009/04/23/penatalaksanaan-gigitan-hewan-mencegah-

rabies/
http://www.scumdoctor.com/Indonesian/research/2009/august/How-Can-You-

Prevent-Rabies.html
http://sbhkotamjk.blogspot.com/2011/12/skk-penanggulangan-penyakit-rabies.html
http://hanyauntukanda123.blogspot.com/2011/03/pencegahan-ciri-danpenanggulangan.html

LAMPIRAN-LAMPIRAN

15

GAMBAR-GAMBAR

Gejala rabies pada manusia

struktur rabies virus

Masa inkubasi virus rabies

anjing terkena rabies

16

Cara Pengobatan Tradisional Jika Di Gigit Anjing

Etiologi rabies

17