Anda di halaman 1dari 31

Emfisema

Lailaturrahmi
0811012047

Definisi
Pembesaran permanen yang abnormal dari

ruang udara pada posisi distal terhadap


bronkiol terminal disertai kerusakan
dindingnya, tetapi tanpa fibrosis yang jelas
Emfisema merupakan salah satu penyakit
yang tergolong dalam COPD (Chronic
Obstructive Pulmonal Disease)

Etiologi
Paparan terhadap asap rokok dan gas asing

menstimulasi aktivasi neutrofil, makrofag,


dan limfosit CD8+ yang membebaskan
sejumlah mediator : TNF, IL-8, leukotrien B4
Stres oksidatif dan ketidakseimbangan sistem
pertahanan protektif dan agresif di paru-paru

Manifestasi Klinik
Batuk kronik dan produksi sputum
Barrel chest, peningkatan laju ekspirasi

istirahat, nafas dangkal, penggunaan otot


ekspirasi pelengkap
Dispnea yang lebih parah, peningkatan
volume sputum, peningkatan kandungan
nanah pada sputum. Tanda lain : dada
sempit, peningkatan kebutuhan bronkodilator,
tidak enak badan, lelah, penurunan toleransi
latihan fisik

Tujuan terapi
Mencegah perkembangan penyakit
Meredakan gejala
Peningkatan kesejahteraan fisik dan psikis
Mengurangi angka kematian

Terapi Non-Farmakologik

Berhenti merokok
Imunisasi
Rehabilitasi pulmonal
Terapi oksigen jangka panjang

Terapi Farmakologik

Terapi Emfisema Kronik


Simpatomimetik
Antikolinergik
Metilxantin
Kortikosteroid

Simpatomimetik
Menyebabkan

relaksasi otot polos


bronkial dengan menstimulasi enzim
adenilat siklase untuk meningkatkan
produksi cAMP
Juga meningkatkan klirens mukosiliar
Pemberian melalui metered-dose
inhaler atau dry-powder inhaler lebih
disukai

Albuterol,

levalbuterol, bitolterol,
pirbuterol, dan terbutalin lebih selektif
dan durasi kerja lebih panjang (4-6 jam)
Formoterol dan salmoterol merupakan
agonis 2 aksi panjang (long-acting),
diberikan setiap 12 jam

Antikolinergik
Menghambat

reseptor kolinergik secara


kompetitif pada otot polos bronkial.
Memblok asetilkolin, sehingga cGMP
(yang menyebabkan bronkokonstriksi)
berkurang

Ipratropium bromida

memiliki onset yang lebih lambat


dibandingkan agonis 2 aksi pendek,
tetapi efeknya lebih lama.
Dosis : 2 hirup sampai 24 hirup/hari
(dengan MDI)
Efek samping : mual, muntah, mulut
kering, rasa seperti logam,
pandangan kabur, retensi urin,
takikardia juga dapat terjadi

Tiotropium bromida

Durasi kerja lebih lama, sampai 24 jam


Onset 30 menit
Diberikan menggunakan HandiHaler, alat nafas
beraktuator untuk sekali isi serbuk kering.
Dosis : inhalasi isi 1 kapsul 1 kali sehari
Bekerja lokal, sehingga dapat ditoleransi dengan
baik

Metilxantin
Menghambat fosfodiesterase, inhibisi ion Ca +2

ke dalam otot polos, antagonis prostaglandin,


stimulasi katekolamin endogen, antagonis
reseptor adenosin, inhibitor pelepasan
mediator dari sel mast
Teofilin

Menunjukkan peningkatan fungsi paruparu bila digunakan kronik

Sediaan teofilin lepas lambat lebih disukai


karena efek bertahan lebih lama
Teofilin digunakan dalam terapi
pemeliharaan pada pasien non-akut
Dosis : awal 200 mg 2x sehari, ditingkatkan
bertahap 3-5 hari sampai dosis target,
kebanyakan pasien memerlukan dosis
harian 400-900 mg

ESO : dispepsia, mual, muntah, sakit


kepala, pusing, takikardia. Aritmia dan
seizure dapat muncul pada konsentrasi
toksik
Faktor yang menyebabkan kebutuhan
dosis menurun : bertambahnya usia,
pneumonia akibat bakteri/virus, gagal
jantung, disfungsi hati, hipoksemia dari
dekompensasi akut, penggunaan antibiotik
makrolida, fluorkuinolon, dan simetidin

Faktor yang menyebabkan peningkatan


kebutuhan dosis : merokok
tembakau/marijuana, hipertiroid,
penggunaan fenitoin, fenobarbital, dan
rifampicin

Kortikosteroid
Menurunkan permeabilitas kapiler untuk

mengurangi mukus, inhibisi pelepasan


enzim proteolitik, inhibisi prostaglandin
Peranannya dalam penyakit COPD kronik
masih diperdebatkan
ESO kortikosteroid inhalasi : suara parau,
tenggorokan kering, kandidiasis oral,
memar pada kulit. Supresi adrenal,
osteoporosis, dan pembentukan katarak
jarang dilaporkan

Beberapa studi menunjukkan adanya efek

adiktif pada kombinasi kortikosteroid dan


bronkodilator aksi panjang.

Terapi pada Emfisema


yang memburuk

Bronkodilator
Dosis dan frekuensi ditingkatkan
Agonis 2 kerja pendek lebih dipilih karena

onset yang lebih cepat


Nebulisasi dapat dipertimbangkan untuk
pasien dengan dispnea parah
Teofilin dapat dipertimbangkan untuk pasien
yang tidak merespon terapi lain

Kortikosteroid
Pasien dapat menerima kortikosteroid oral

atau intravena dalam jangka pendek


Terapi jangka pendek (9-14 hari) sama
efektifnya dengan terapi jangka panjang
Jika terapi dilanjutkan untuk lebih dari 2
minggu, sebaiknya dosis diturunkan bertahap
untuk menghindari supresi adrenal

Antimikroba
Dibutuhkan karena bakteri berperan dalam

memburuknya COPD
Antibiotik paling menguntungkan, sebaiknya
dimulai jika dua dari gejala berikut ini
tampak : peningkatan dispnea, peningkatan
volume sputum, peningkatan kandungan
nanah pada sputum

Organisme yang paling umum untuk COPD

memburuk akut adalah Haemophilus


influenzae, Moraxella catarrhalis,
Streptococcus pneumoniae, dan
Haemophilus parainfluenzae
Terapi sebaiknya dimulai dalam 24 jam
setelah munculnya gejala dan dilanjutkan
selama 7-10 hari.

Pada keadaan memburuk tanpa komplikasi,

terapi yang direkomendasikan : makrolida


(azitromisin, klaritromisin), sefalosporin
generasi kedua atau ketiga, atau doksisilin.
Trimetoprim-sulfametoksazol sebaiknya tidak
digunakan karena meningkatkan resistensi
pneumococcus

Eritromisin tidak direkomendasikan karena

insufisiensi aktivitas melawan H. influenzae.


Amoksisilin dan sefalosporin generasi
pertama tidak direkomendasikan karena
kerentanan enzim -laktamase

Pada keadaan memburuk dengan komplikasi,

terapi yang direkomendasikan adlah


amoksisilin/asam klavulanat, atau
fluorokuinolon (levofloksasin, gatifloksasin,
moksifloksasin)
Pada keadaan memburuk dengan komplikasi
dan risiko Pseudomonas aeruginosa,
fluorokuinolon di atas dapat diberikan.

Bila terapi IV diperlukan, penisilin resisten

enzim -laktamase atau sefalosporin


generasi keempat dengan aktivitas
antipseudomonal dapat diberikan.

Terima Kasih