Anda di halaman 1dari 96

Model Pengintegrasian Nilai Pendidikan Karakter

Standar Kompetensi
1. Memahami struktur atom
untuk meramalkan sifatsifat periodik unsur,
struktur molekul, dan
sifat-sifat senyawa.

Kompetensi Dasar
1.1

Menjelaskan teori
atom Bohr dan mekanika kuantum untuk
menuliskan konfigurasi elektron dan
diagram orbital serta
menentukan letak
unsur dalam tabel
periodik.

Nilai

Indikator

Kreatif

Berpikir kreatif dengan membuat peraga secara


konkret untuk mempermudah mempelajari materi.

Gemar
membaca

Mengembangkan sikap gemar membaca buku


pelajaran dan artikel-artikel di internet mengenai
struktur atom dan sistem periodik unsur sehingga
menguasai materi.

Pada bab ini akan dipelajari:


1. Perkembangan Teori Atom Modern
2. Sistem Periodik Unsur Modern

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

Menjelaskan perkembangan teori atom modern

Menjelaskan teori atom Bohr dan mekanika


kuantum
Menjelaskan pengertian bilangan kuantum
Menentukan bilangan kuantum (kemungkinan
elektron berada)
Menjelaskan kulit dan subkulit serta hubungannya
dengan bilangan kuantum
Menggambarkan bentuk-bentuk orbital
Menggunakan prinsip Aufbau, aturan Hund, dan
asas larangan Pauli untuk menuliskan konfigurasi
elektron dan diagram orbital

Menjelaskan sistem periodik unsur modern

Menghubungkan konfigurasi elektron suatu unsur


dengan letaknya dalam sistem periodik

Siswa mampu menentukan letak suatu unsur dalam


sistem periodik unsur berdasarkan penjabaran
konfigurasi elektron

Siswa mampu menjelaskan perkembangan teori atom


modern, serta menuliskan konfigurasi elektron,
diagram orbital, dan bilangan kuantum

Siswa dapat menjelaskan teori atom Bohr dan mekanika kuantum untuk
menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital serta menentukan letak
unsur dalam tabel periodik

Kimia Kelas XI

A.

Pilihan Ganda

tidak boleh ada dua elektron yang mempunyai


empat bilangan kuantum yang sama.

1. Jawaban: a
Neils Bohr berhasil mengungkapkan teori kuantum
melalui eksperimen dan pengamatan pada
spektrum unsur hidrogen. Eksperimen ini digunakan untuk menggambarkan struktur elektron.

8. Jawaban: e
Bilangan kuantum spin (s) menyatakan arah
putaran elektron terhadap sumbunya sewaktu
elektron berputar mengelilingi inti atom.

2. Jawaban: e
Bilangan kuantum adalah suatu bilangan yang
digunakan untuk menyatakan kedudukan elektron
dalam atom, meliputi orbital, subkulit, dan kulit.

9. Jawaban: b
Subkulit d mempunyai harga = 2. Dengan
demikian harga m untuk tiap-tiap orbitalnya adalah
2, 1, 0, +1, +2 atau berkisar dari 2 sampai +2.

3. Jawaban: e
Elektron tidak jatuh ke dalam inti karena hal ini
berhubungan dengan teori model atom menurut
Niels Bohr bahwa elektron-elektron bergerak
mengelilingi intinya pada lintasan dan jarak tertentu
dan elektron ini mempunyai tingkat energi tertentu
pula sehingga tidak akan jatuh ke inti. Elektron bisa
berpindah dari lintasannya ke lintasan elektron yang
lain dengan melepaskan atau menyerap energi,
tetapi tidak berpindah ke inti.
4. Jawaban: c
Demokritus dan Leukipus mengemukakan bahwa
penyusun materi bersifat diskontinu. Sementara
materi bersifat kontinu dikemukakan oleh
Aristoteles.
5. Jawaban: a
Elektron yang menempati bilangan kuantum utama
(n) = 1, berarti elektron tersebut berada di kulit K.
Sementara itu, elektron berada di kulit L jika elektron
menempati bilangan kuantum (n) = 2. Elektron
berada dikulit M jika elektron menempati bilangan
kuantum (n) = 3. Elektron berada di kulit N jika
elektron menempati bilangan kuantum (n) = 4, dan
elektron berada di kulit O jika elektron menempati
bilangan kuantum (n) = 5.
6. Jawaban: b
Kulit L merupakan kulit ke-2. Jumlah orbital dihitung
dengan n2. Dengan demikian, jumlah orbital pada
kulit L adalah 22 = 4.
7. Jawaban: a
Hund menyatakan bahwa pengisian elektron ke
dalam satu subkulit, pada awalnya elektron
menempati seluruh orbital dengan spin sama, baru
kemudian berpasangan (penuh). Aufbau
menyatakan aturan pengisian elektron. Urutan
pengisian elektron dalam subkulit dimulai dari
subkulit dengan energi yang lebih rendah. Jika
elektron pada subkulit tersebut telah penuh,
elektron baru mengisi subkulit yang energinya lebih
tinggi. Pauli menyatakan bahwa dalam satu atom
2

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

10. Jawaban: b
2
2
2p6 3s2 3p6 4s2
27X : 1s 2s
hj hj hj hj hj hj hj hj hj hj
1 orbital di kulit K
4 orbital di kulit M
4 orbital di kulit L
1 orbital di kulit N
Jumlah orbital di semua kulit = 10.
11. Jawaban: d
Menurut Aufbau, pengisian elektron ke dalam
orbital selalu dimulai dari orbital dengan tingkat
energi rendah ke yang lebih tinggi. Sementara
menurut Hund, jika terdapat orbital-orbital dengan
energi yang sama maka orbital akan terisi
sebuah elektron dengan spin sama, baru
kemudian berpasangan. Pengisian elektron yang
sesuai dengan aturan-aturan tersebut yaitu unsur
III dan V. Seharusnya, pengisian elektron unsur I :
1s2 2s2 2p4, unsur II : 1s2 2s2 2p3, unsur IV : 1s2
2s2 2p6 3s2 3p6.
12. Jawaban: c
51
= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d3 4s2
23 V
K
L
M
N
Jumlah elektron di kulit M = 2 + 6 + 3 = 11.
13. Jawaban: b
2
2
6
2
6
2
2
22Ti = 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
3+
Ti = kehilangan 3 elektron, nomor atomnya
menjadi 19.
Konfigurasi elektron Ti3+: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s0 3d1
Diagram orbital elektron terakhir:
h
4s0
3d1
Ada satu elektron tidak berpasangan.
14. Jawaban: d
Konfigurasi elektron:
X3+ = 1s2 2s2 2p6
X = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p1
Bilangan kuantum elektron terakhir atom X
= 3p1 h
n = 3

= 1 m = 1 s = + 

15. Jawaban: b
Dalam penulisan konfigurasi elektron perlu
diperhatikan bahwa atom lebih stabil jika kulit atau
subkulit terisi penuh atau setengah penuh.
hj hj hj hj h

hj

hj hj hj hj hj

4d9

5s2

4d10

5s1

Atom akan lebih stabil jika kulit atau subkulit terisi


penuh atau setengah penuh. Elektron pada subkulit
5s tereksitasi ke 4d sehingga konfigurasi 4d
menjadi penuh 4d10.
B.

b.

c.

5. a.

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2


Kulit terbesar = 4, terisi 2 elektron
Elektron valensi 20Ca = 2
2 2s2 2p6 3s2 3p1
Al
:
1s
13
Kulit terbesar = 3, terisi 3 elektron
Elektron valensi = 3
2
2
6
2
6
2
10
5
35Br : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p
Kulit terbesar = 4, terisi 7 elektron
Elektron valensi = 7
20Ca

22Ti

Uraian

1. a.
b.
c.

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d1


atau [Ne] 3s1
2
2
6
2
6
1
10
29Cu : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
atau [Ar] 4s1 3d10
2
: Jumlah elektron dalam ion S2 = 18
16S
: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
21Sc

2. Ion 35X mempunyai elektron sebanyak 35 + 1 =


36.
Konfigurasi elektron 35X :1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
3d10 4p6.
Kulit terluar 35X adalah 4s2 dan 4p6, diisi oleh
2 dan 6 elektron. Dengan demikian, jumlah
elektron valensi 35X adalah 8 elektron.
3. n = 2,

= 1, m = 1, dan s = 

Konfigurasi elektron terakhir : hj hj h


Konfigurasi elektron lengkapnya: 1s2 2s2 2p5


Karena s =  , elektron tersebut merupakan


elektron ke-8.

A.

4. a.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: e
Periode 1 dan 3 merupakan periode pendek, periode
4 merupakan periode panjang, periode 6 merupakan
periode sangat panjang, dan periode 7 merupakan
periode belum lengkap.
2. Jawaban: a
Blok s dalam sistem periodik ditempati oleh unsurunsur golongan IA, IIA, dan helium. Sementara
itu, unsur IIIA sampai VIIIA dalam sistem periodik
menempati blok p.

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d2


Elektron valensi terletak pada subkulit
4s2 dan 3d2, tiap-tiap subkulit berisi 2
dan 2 elektron.
Diagram orbitalnya:
hj

4s2

b.

3d2

Ada 2 elektron tidak berpasangan.


2
2
6
2
6
1
10
29Cu : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
Elektron valensi terletak pada subkulit 4s1
dan 3d10, berisi 1 dan 10 elektron (aturan
penuh)
Diagram orbitalnya:
h

hj hj hj hj hj

4s1

3d10

Ada 1 elektron tidak berpasangan


c.

42Mo

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s1 4d5
Elektron valensi terletak pada subkulit
5s1 dan 4d5, berisi 1 dan 5 elektron


(aturan  penuh).
Diagram orbitalnya:
h
5s1

4d5

Ada 6 elektron tidak berpasangan.

3. Jawaban: d
Unsur-unsur dalam satu golongan mempunyai
elektron valensi sama. Unsur-unsur dengan
elektron valensi sama, mempunyai kemiripan sifatsifat kimia.
4. Jawaban: e
Susunan elektron stabil dimiliki oleh unsur-unsur
pada golongan gas mulia. Unsur golongan gas
mulia menempati golongan VIIIA.
5. Jawaban: b
Nomor atom X = 16
Konfigurasi elektron = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4

Kimia Kelas XI

Jumlah elektron valensi = 6, terletak di subkulit


s dan p gol VIA
Kulit terbesar = 3 periode 3
Jadi, unsur X terletak pada golongan VIA, periode 3.
6. Jawaban: b
Jumlah elektron valensi = 6, menempati subkulit
s dan p, berarti Y golongan VIA. Kulit terbesar = 4.
Jadi, unsur Y dalam sistem periodik terletak di
periode 4, golongan VIA.
7. Jawaban: c
Unsur yang terletak pada periode dua berarti kulit
elektron valensi unsur tersebut = 2, kulit no 2
mempunyai dua subkulit, yaitu s dan p. Unsur yang
terletak pada golongan VIIA, mempunyai elektron
valensi 7. Konfigurasi unsur tersebut adalah
1s2 2s2 2p5. Jumlah elektron = 9. Jadi, unsur
tersebut adalah 9F.
8. Jawaban: d
Konfigurasi elektron L3+ = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
Konfigurasi elektron L = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d1
n terbesar: 4 periode 4
Jumlah elektron pada subkulit s dan d = 2 + 1 = 3
(golongan III), blok d unsur transisi (golongan B).
Jadi, unsur L terletak pada periode 4 golongan IIIB.
Unsur yang terletak pada periode 3 dan golongan
IIIA mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6
3s2 3p1. Unsur yang terletak pada periode 3 dan
golongan IVA mempunyai konfigurasi elektron 1s2
2s2 2p6 3s2 3p2. Unsur yang terletak pada periode
4 dan golongan IIB mempunyai konfigurasi elektron
1s 2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10. Unsur yang terletak
pada periode 4 golongan VIIIA mempunyai
konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10
4p6.
9. Jawaban: b
Konfigurasi elektron Y: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
n terbesar = 4 periode 4
Jumlah elektron valensi pada subkulit s = 2
(golongan II), blok s (golongan A).
Jadi, unsur Y terletak pada periode 4 golongan IIA.
10. Jawaban: e
Kulit terbesar = 5. Berarti unsur tersebut berada
pada periode 5. Elektron valensi terletak pada 4d7
5s2. Jumlah elektron valensi 9 terletak pada
subkulit s dan d sehingga termasuk golongan B.
Unsur tersebut terletak pada golongan VIIIB. Jadi
dalam SPU unsur tersebut terletak pada golongan
VIIIB dan periode 5.
11. Jawaban: b
Nomor atom unsur X = 34. Konfigurasi elektron,
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 4p4 3d10. Jumlah elektron
valensi unsur X = 6 berada disubkulit s dan p.

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

Kulit terbesar = 4, berarti unsur X terletak pada


golongan VIA dan periode 4. Golongan VIA disebut
juga golongan oksigen atau khalkogen.
12. Jawaban: e
Nomor atom ion A2+ = 10, berarti nomor atom unsur
A = 12. Konfigurasi unsur A = 1s2 2s2 2p6 3s2.
Nomor atom ion B2+ = 18, berarti nomor atom unsur B
= 20. Konfigurasi unsur B = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2.
Nomor atom ion C3+ = 18, berarti nomor atom unsur
C = 21. Konfigurasi unsur C = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
4s2 3d1.
Nomor atom ion D3+ = 22, berarti nomor atom unsur
D = 25. Konfigurasi unsur D = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
3d5.
Unsur yang terletak dalam satu blok adalah C dan
D, terletak di blok d, atau A dan B, terletak di blok s.
13. Jawaban: a
Konfigurasi X: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5
n terbesar: 3 periode 3
Jumlah elektron valensi pada subkulit s dan
p = 2 + 5 = 7 (golongan VII), blok p (golongan A).
Jadi, unsur X terletak pada golongan VIIA dan
periode 3.
14. Jawaban: a
Bilangan kuantum:


= 0 m = 0 s = +  3s1:
n terbesar: 3 periode 3
Elektron valensi terletak pada subkulit s = 1 (golongan I), pada blok s (golongan A).
Jadi, unsur X terletak pada golongan IA (golongan
alkali) dan periode 3.
n=3

15. Jawaban: c
Konfigurasi elektron tiap-tiap unsur tersebut adalah:
1
periode 4 golongan IA
19A : [Ar] 4s
2
B
:
[Ar]
4s
periode 4 golongan IIA
20
2 3d10 4p1 periode 4 golongan IIIA
C
:
[Ar]
4s
31
2
3
periode 3 golongan VA
15D : [Ne] 3s 3p
2
5
E
:
[Ne]
3s
3p
periode 3 golongan VIIA
17
B.

Uraian

1. Blok p adalah jenis orbital dalam sistem periodik


tempat unsur-unsur dengan elektron pada tingkat
energi tertinggi berada pada orbital p atau
konfigurasi elektron berakhir di orbital p.
2. a. 12Mg : [Ne] 3s2
Elektron pada tingkat energi tertinggi berada
pada orbital s sehingga unsur 12Mg termasuk
blok s.

b.

c.

3. a.

b.

c.

4. a.

A.

: [Ne] 3s2 3p5


Elektron pada tingkat energi tertinggi berada
pada orbital p sehingga unsur 17Cl termasuk
blok p.
1
19K : [Ar] 4s
Elektron pada tingkat energi tertinggi berada
pada orbital s sehingga unsur 19K termasuk
blok s.
2
7 elektron valensi 2 + 7
27X: [Ar] 4s 3d
= 9, subkulit elektron
terakhir: s dan d.
Kulit (n) terbesar = 4.
Jadi, unsur 27X terletak pada golongan VIIIB
periode 4.
2
10
3
51Y: [Kr] 5s 4d 5p elektron valensi
2 + 3 = 5, subkulit
elektron terakhir:
s dan p.
Kulit (n) terbesar = 5.
Jadi, unsur 51Y terletak pada golongan VA
periode 5.
2
8
subkulit
elektron
64Z: [Xe] 6s 4f
terakhir: f.
Kulit (n) terbesar = 6.
Jadi, unsur 64 Z terletak pada golongan
lantanida periode 6.
17Cl

Unsur A terletak pada periode 5, berarti


elektron terakhir pada konfigurasi elektronnya
berada pada kulit ke-5.
Golongan IVA, berarti elektron valensinya
= 4, berada pada subkulit s dan p.
Konfigurasi elektronnya:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d10 5p2
Elektron valensi: 4, subkulit s, p golongan
IVA
n terbesar = 5 periode 5.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: d
Menurut Aufbau, pengisian elektron ke dalam
orbital selalu dimulai dari orbital dengan tingkat
energi rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Apabila terdapat 2 subkulit dengan harga n +
sama, elektron akan mengisi subkulit yang harga
n-nya lebih kecil terlebih dahulu sehingga suatu
atom selalu berada pada tingkat energi minimum.

nomor atom = jumlah elektron


= 2 + 2 + 6 + 2 + 6 + 2 + 10 + 6
+ 2 + 10 + 2 = 50
Jadi, unsur A yang terletak pada golongan IIIA
dan periode 6 mempunyai nomor atom
sebesar 81.
b.

Unsur B terletak pada periode 4, berarti


elektron terakhir pada konfigurasi elektronnya
berada pada kulit ke-4.
Golongan VIB berarti elektron valensinya =
6, berada pada subkulit terakhir d dan s
terdekat subkulit d.
Konfigurasi elektronnya:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5
Elektron valensi: 1 + 5 = 6
subkulit d dan s golongan VIB
n terbesar = 4 periode 4.
nomor atom = jumlah elektron
= 2 + 2 + 6 + 2 + 6 + 1 + 5 = 24
Jadi, unsur B yang terletak pada golongan
VIB dan periode 4 mempunyai nomor atom
sebesar 24.

5. Orbital yang ditempati elektron Z sebagai berikut.


hj

hj

1s2

2s2

hj hj hj

hj hj hj hj hj
3d10

hj hj hj

hj

2p6

3s2

hj hj hj
4p6

hj hj hj
3p6

hj
4s2

hj
5s2

4d8

a.
b.

Elektron terakhir pada subkulit s, d


Jumlah elektron valensi = 2 + 8 =10
sehingga unsur Z berada pada golongan VIIIB
c. n terbesar = 5 sehingga unsur Z berada pada
periode 5.
Jadi, unsur Z dalam sistem periodik terletak pada
golongan VIIIB periode 5.

2. Jawaban: d
Bilangan kuantum utama (n) = 4, berarti elektron
menempati kulit N. Kulit K, n = 1; kulit L, n = 2;
kulit M, n = 3; dan kulit O, n = 5.
3. Jawaban: d
Elektron dengan bilangan azimut = 3, berarti
elektron tersebut berada pada subkulit f.
Sementara itu, untuk subkulit s, = 0; untuk
subkulit p, = 1; untuk subkulit d, = 2; dan
untuk subkulit g, = 5.

Kimia Kelas XI

4. Jawaban: a
Jika n = 2, tidak mungkin = 2 karena tidak ada
subkulit d pada kulit kedua.
Jika n = 3, tidak mungkin = 3 karena tidak ada
subkulit f pada kulit ketiga.
Jika = 0, tidak mungkin m = +1.

b.

5. Jawaban: c
Konfigurasi elektron X+ : 1s2 2s2 2p6
Konfigurasi elektron X : 1s2 2s2 2p6 3s1
Bilangan kuantum elektron valensi:

e.

3s1: h

n = 3, = 0, m = 0, s = + 

6. Jawaban: b
Sesuai aturan Hund, saat elektron mengisi orbital
dalam suatu subkulit, elektron-elektron tidak
berpasangan terlebih dahulu, tetapi mengisi
semua subkulit hingga penuh baru kemudian
berpasangan.
7. Jawaban: b
Jumlah elektron di subkulit 3d = 8.
Konfigurasi elektron unsur keseluruhan elektron:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d8. Jumlah total elektron
unsur tersebut adalah 28.
8. Jawaban: a
Orbital dyz ditunjukkan oleh gambar a. Sementara
itu, gambar b = dxz; c = dxy; d = dz2; e = dx2 y2.
9. Jawaban: a
3+
24Cr

2+
30Zn

4s0 3d3

18[Ar]

4s0 3d10 hj hj hj hj hj

2+
26Fe

18[Ar]

4s0 3d6

hj h

2+
28Ni

18[Ar]

4s0 3d8

hj hj hj

3+
27Co

18[Ar]

4s0 3d6

hj h

13. Jawaban: d
Aturan Hund menyatakan bahwa pengisian elektron
pada orbital tidak berpasangan terlebih dahulu
sebelum semua orbital terisi penuh dari kiri ke
kanan dengan arah ke atas. Sementara itu, prinsip
Aufbau menyatakan bahwa pengisian elektron
harus dimulai dari tingkat energi terendah ke tingkat
energi yang lebih tinggi, 4s 3d, seperti ditunjukkan oleh pengisian elektron no 2) dan 4).
14. Jawaban: c
Konfigurasi elektron ion Co2+ : [Ar] 3d7
Pengisian elektron valensi pada orbitalnya:
[Ar] 3d7 : hj hj h h h
Pada orbital tersebut ada 3 elektron yang tidak
berpasangan dan 2 elektron berpasangan.
15. Jawaban: e
Konfigurasi elektron 25X : [18Ar] 3d5 4s2
Pengisian elektron ke orbitalnya :
[Ar] h h h h h
hj

10. Jawaban: b
Nomor atom T = 7. Konfigurasi elektron 7T = 1s2
2s2 2p3 = [He] 2s2 sp3.
11. Jawaban: d
Nomor atom = massa atom jumlah neutron
= 56 30 = 26
Konfigurasi elektron 26 A = [Ar] 4s2 3d6
A3+ = kehilangan 3 elektron, nomor atomnya
menjadi 23.
Jadi, konfigurasi elektron A3+ = [Ar] 3d5.
12. Jawaban: c
Konfigurasi elektron ion-ion sebagai berikut.
a. 20Ca = [Ne] 3s2 3p6 4s2
2+
2
6
20Ca = [Ne] 3s 3p

d.

3d

18[Ar]

c.

[Ar] 4s2 3d2


= [Ar] 3d2
1
5
24Cr = [Ar] 4s 3d
2+ = [Ar] 3d4
24Cr
2
5
25Mn = [Ar] 4s 3d
2+
5
25Mn = [Ar] 3d
2
6
26Fe = [Ar] 4s 3d
2+
6
26Fe = [Ar] 3d

22Ti =
2+
22Ti

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

4s

16. Jawaban: b
Dalam penulisan konfigurasi elektron perlu
diperhatikan bahwa atom lebih stabil jika kulit
atau subkulit terisi penuh atau setengah penuh.
Jadi, konfigurasi elektron 29 X = [Ne] 3s2 3p6 4s1
3d10.
17. Jawaban: c
Konfigurasi elektron dengan nomor atom 25
= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d5
hj

hj

1s2

2s2

hj hj hj

hj

2p6

3s2

hj hj hj
3p6

hj

h
4s2

3d5

Jumlah orbital yang terisi elektron penuh adalah 10.


18. Jawaban: c
Konfigurasi elektron 38Rb = [Kr] 5s2
Pengisian elektron dalam orbitalnya:
5s2 : hj
Dengan demikian, bilangan kuantum yang dimiliki
oleh elektron valensi 38Rb adalah n = 5, = 0,


m = 0, s = 

19. Jawaban: e
Konfigurasi elektron A : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
3d4. Jumlah elektron valensi unsur A = 6 terdapat
pada subkulit 4s dan 3d sehingga A berada pada
golongan VIB. Kulit terbesar dari elektron valensi
= 4. Dengan demikian A berada pada periode 4.
20. Jawaban: b
Bilangan kuantum unsur X : n = 3,
s =




3d

hj h

= 2, m = 2,

24. Jawaban: d
Bilangan kuantum elektron terluar atom X:
3p1: h
n = 3,

= 1, m = 1, s = + 

25. Jawaban: d
Konfigurasi elektron X2+ = 1s2 2s2 2p2
X = 1s2 2s2 2p4
Bilangan kuantum elektron terakhir atom X
= 2p4 hj h h


n = 2, = 1, m = 1, s = 

2 1 0 +1 +2
3d6

Konfigurasi elektron unsur


X = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6
X3+ terjadi karena X kehilangan 3 elektron.
Konfigurasi elektron unsur
X3+ = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5
21. Jawaban: c
Ion Y terjadi karena Y menangkap 1 elektron
sehingga jumlah elektron pada ion Y menjadi 18.
Konfigurasi ion 17Y : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6. Atom
unsur Y terbentuk jika elektron yang ditangkap
tersebut dilepaskan, sehingga jumlah elektronnya
menjadi 17. Konfigurasi elektronnya 17Y : 1s2 2s2
2p6 3s2 3p5. Jumlah elektron valensi = 7, menempati
subkulit 3s dan 3p sehingga unsur Y terletak pada
golongan VIIA. Kulit terbesar dari elektron valensi
Y = 3 sehingga Y yang terletak pada periode 3.
Jadi unsur Y, dalam sistem periodik terletak pada
golongan VIIA dan periode 3.
22. Jawaban: e
Konfigurasi elektron unsur X: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4
n terbesar = 3 periode 3
Jumlah elektron valensi pada subkulit s dan
p = 2 + 4 = 6 (golongan VI), blok p (golongan A).
Jadi, unsur X terletak pada golongan VIA,
periode 3.

26. Jawaban: b
1
19A, konfigurasi elektron: [Ar] 4s periode 4
2
12B, konfigurasi elektron: [Ne] 3s periode 3
2
10 4p5
35C, konfigurasi elektron: [Ar] 4s 3d
periode 4
2
2
3
7D, konfigurasi elektron: 1s 2s 2p periode 2
2
38E, konfigurasi elektron: [Kr] 5s periode 5
Jadi, unsur-unsur yang berada dalam satu periode
pada sistem periodik adalah unsur A dan C.
27. Jawaban: a
Jumlah elektron pada unsur X = 27. Ion X+ terbentuk
jika unsur X melepas 1 elektron sehingga jumlah
elektron X+ menjadi 26. Konfigurasi elektron ion
+
2
2
6
2
6
2
6
27X : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d . Jumlah elektron
+
valensi ion X = 2.
28. Jawaban: a
Konfigurasi unsur X berdasarkan tabel pengisian
elektron pada orbital : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5.
Jumlah elektron valensi unsur X = 6, terletak pada
subkulit 3d dan 4s. Dengan demikian, X terletak
pada golongan VIB. Kulit terbesar elektron valensi
= 4 sehingga X terletak pada periode 4. Jadi, unsur
X dalam sistem periodik terletak pada golongan
VIB, periode 4.

= 2, m = +2,

29. Jawaban: d
Konfigurasi elektron ion Cl : [Ne] 3s2 3p6
Konfigurasi elektron ion S2 : [Ne] 3s2 3p6
Konfigurasi elektron ion Ca2+ : [Ne] 3s2 3p6
Konfigurasi elektron unsur Ar : [Ne] 3s2 3p6
Konfigurasi elektron unsur Kr : [Ne] 3d10 4s2 4p6
Konfigurasi elektron ion K+ : [Ne] 3s2 3p6
Jadi, yang tidak sesuai dengan konfigurasi elektron
ion Cl adalah konfigurasi elektron unsur Kr.

Unsur X terbentuk dari ion X2+ yang menangkap


2 elektron 3d7
Konfigurasi elektron
X = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d7
n = 4 periode 4
Elektron valensi terletak pada subkulit s dan d =
2 + 7 = 9 (golongan VIII), pada blok d (golongan B).
Jadi, unsur X terletak pada periode 4 golongan
VIIIB.

30. Jawaban: e
P periode 3, golongan IA, termasuk unsur
logam
Q periode 3, golongan IIA, termasuk unsur
logam
R periode 3, golongan VIIA, termasuk unsur
nonlogam

23. Jawaban: e
Bilangan kuantum X2+ : n = 3,


s = +  3d

2 1 0 +1 +2
3d5

Kimia Kelas XI

S periode 4, golongan VB, termasuk golongan


unsur transisi
T periode 4, golongan VIIIB, termasuk
golongan unsur transisi

5. a.

: [He] 2s2 2p6 hj hj hj


2p6

3 elektron berpasangan
b.

B.

2+
12Mg

2+
29Cu

: [Ar] 4s0 3d9

+
19K

4 elektron berpasangan
hj hj hj
: [Ne] 3s2 3p6

hj hj hj hj h

Uraian

1. Kulit ke n mempunyai subkulit sebanyak n.


a. Kulit L, kulit ke-2, memiliki subkulit sebanyak
2, dengan jumlah orbital 22 = 4.
b. Kulit M, kulit ke-3, memiliki subkulit sebanyak
3, dengan jumlah orbital 32 = 9.
c. Kulit O, kulit ke-5, memiliki subkulit sebanyak
5, dengan jumlah orbital 52 = 25.
d. Kulit K, kulit ke-1, memiliki subkulit sebanyak
1, dengan jumlah orbital 12 = 1.
e. Kulit P, kulit ke-6, memiliki subkulit sebanyak
6, dengan jumlah orbital 62 = 36.

3d9

c.

3p6

d.

22

Ti4+

3 elektron berpasangan
: [Ne] 3s2 3p6 hj hj hj
3p6

e.

30

Zn2+

3 elektron berpasangan
: [Ar] 3d10 hj hj hj hj hj
3d10

5 elektron berpasangan

2. a.
b.
c.
d.

13Al

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p1


2
2
6
2
6
2
3
23V : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
2+
2
2
6
: 1s 2s 2p
12Mg
2+
: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d4
26Fe

6. Atom Cr akan berada dalam keadaan yang lebih


stabil apabila subkulit 4s dan 3d keduanya terisi
elektron setengah penuh daripada subkulit 4s terisi
elektron penuh dan subkulit 3d terisi empat
elektron.

3. a.

Konfigurasi [Ne] 3s2 3p2, jumlah elektron


= 14. Elektron valensi berjumlah 4, berada
pada subkulit 3s dan 3p, berarti golongan
IVA. Kulit terbesar = 3, berarti periode 3.
Unsur yang memiliki jumlah elektron 14 dan
berada pada golongan IVA periode 3 adalah
unsur Si.
Konfigurasi [Ar] 4s2 3d5, jumlah elektron =
25. Elektron valensi berjumlah 7, berada pada
subkulit 4s dan 3d, berarti golongan VIIB.
Kulit terbesar 4, berarti periode 4. Unsur yang
memiliki jumlah elektron 25 dan berada pada
golongan VIIB periode 4 adalah unsur Mn.
Konfigurasi [Ar] 4s2 3d10, jumlah elektron = 30.
Elektron valensi berjumlah 12, berada pada
subkulit 4s dan 3d, berarti golongan IIB. Kulit
terbesar 4, berarti periode 4. Unsur yang
memiliki jumlah elektron 30 dan berada pada
golongan IIB periode 4 adalah unsur Zn.
Konfigurasi [Ar] 4s2 3d10 4p6, jumlah elektron
= 36. Elektron valensi berjumlah 8, berada
pada subkulit 4s dan 4p, berarti golongan
VIIIA. Kulit terbesar 4, berarti periode 4.
Unsur yang memiliki jumlah elektron 36 dan
berada pada golongan VIIIA periode 4 adalah
unsur Kr.

7. Periode dapat ditentukan dari konfigurasi elektron


unsur yang bersangkutan. Kulit terbesar yang
ditempati elektron terakhir menyatakan periode.
Konfigurasi elektron unsur-unsur tersebut sebagai
berikut.
a. 9R : 1s2 2s2 2p5
periode 2
b. 12X : 1s2 2s2 2p6 3s2
periode 3
c. 18Y : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
periode 3
d. 20Z : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 periode 4
Unsur yang terletak dalam satu periode adalah
X dan Y.

b.

c.

d.

4. Konfigurasi elektron X = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3


n terbesar = 3 periode 3
Elektron valensi terletak pada subkulit s2 p3 =
golongan VA.
Jadi, unsur X dalam sistem periodik unsur terletak
pada periode tiga dan golongan VA.

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

8. a.

Konfigurasi elektron 32G : 1s2 2s2 2p6 3s2


3p6 4s2 3d10 4p2
Pengisian elektron valensi pada orbital:
h

h
4p2

b.

Jumlah elektron tidak berpasangan = 2,


orbital kosong = 1
Konfigurasi elektron 45Y : [Kr] 5s1 4d8
Pengisian elektron valensi pada orbital:
hj hj hj h
4d8

h
5s1

Jumlah elektron tidak berpasangan = 3,


orbital kosong = 0
9. a.

n = 2, kulit terbesar = 2
= 0; m = 0, orbital s.


s = +  , elektron menghadap ke atas. Berarti,


elektron valensi disubkulit 2s1.

Konfigurasi elektron : 1s2 2s1 atau [He] 2s1.


Nomor atomnya 3.
b.

39
19 K

s =  , elektron menghadap ke bawah.


Berarti, elektron valensi disubkulit 3p6.
Konfigurasi elektron : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 atau
[Ne] 3s2 3p6. Nomor atomnya 18.

b.

n = 3, kulit terbesar = 3
= 2; m = 0, orbital d.

c.

s =  , elektron menghadap ke bawah. Berarti,


elektron valensi disubkulit 3d8.
Konfigurasi elektron : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
3d8 atau [Ar] 3d8 4s2. Nomor atomnya 28.

hj

hj

1s

n = 3, kulit terbesar = 3
= 1; m = +1, orbital p.


c.

10. a.

45 Sc
21

hj hj hj

2s

hj hj hj

3p

4s

: hj
1s

hj
2s

hj

hj hj hj

2p

3s

3p

hj
3d

: hj
1s

3s

hj hj hj

h
59 Ni
28

hj

2p

hj

4s

hj hj hj

2s

hj hj hj
3d

hj

2p

hj hj hj

3s

3p

hj
4s

Kimia Kelas XI

Model Pengintegrasian Nilai Pendidikan Karakter


Standar Kompetensi
1. M e n d e s k r i p s i k a n
struktur atom dan sifatsifat periodik unsur
serta struktur molekul
dan sifat-sifatnya.

Kompetensi Dasar
1.2

1.3

Menerapkan teori domain elektron dan teori


hibridisasi untuk meramalkan
bentuk
molekul.
Menjelaskan interaksi
antarmolekul (gaya
antarmolekul) dengan
sifatnya.

Nilai

Indikator

Rasa ingin
tahu

Mengembangkan rasa ingin tahu tentang bentuk


orbital hibrida suatu senyawa.

Pada bab ini akan dipelajari:


1. Berbagai Bentuk Molekul
2. Gaya Antarmolekul

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

Menjelaskan tentang bentuk


molekul

Menjelaskan tentang gaya


antarmolekul

Menjelaskan tentang teori domain elektron.


Menjelaskan tentang teori
hibridisasi.
Membuat bentuk molekul
suatu senyawa.

Siswa mampu menjelaskan teori


domain elektron dan teori
hibridisasi untuk meramalkan
bentuk molekul

Siswa mampu menjelaskan


tentang hubungan gaya
antarmolekul dengan sifatnya

Siswa mampu menerapkan teori domain elektron untuk


meramalkan bentuk molekul dan menjelaskan hubungan
antarmolekul dengan sifatnya.

10

Menjelaskan tentang gaya Van


der Waals.
Menjelaskan tentang ikatan
hidrogen.

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

A.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: b
Molekul yang mempunyai bentuk T mempunyai
rumus AX3E2. X merupakan pasangan elektron
ikatan, sedangkan E merupakan pasangan
elektron bebas. Dengan demikian, jumlah
pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron
bebas berturut-turut 3 dan 2. Jika PEI = 4 dan
PEB = 0 maka rumusnya AX4 (tetrahedral). Jika
PEI = 2 dan PEB = 2 maka rumusnya AX2E2
(bentuk V). Jika PEI = 4 dan PEB = 1 maka
rumusnya AX4E (bentuk timbangan/tetrahedral
terdispersi). Jika PEI = 5 dan PEB = 1, rumusnya
AX5E (piramida segi empat).
2. Jawaban: d
Gambar tersebut menunjukkan molekul yang
mempunyai bentuk T.
H2Te
 

Pasangan elektron =
=4

PEI = 3 1 = 2
Pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 2 = 2
Jadi, rumusnya AX2E2 (bentuk V).
CHCl3

    
 

Pasangan elektron =

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 13 (3 3) = 4
PEB = 4 4 = 0
Jadi, rumusnya AX4 (tetrahedral).
IF3

= 13

 
 

Pasangan elektron =
= 14

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 14 (3 3) = 5
PEB = 5 3 = 2
Jadi, rumusnya AX3E2 (bentuk T).
CCl4
   

Pasangan elektron =
= 16

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 16 (3 4) = 4
PEB = 4 4 = 0
Jadi, rumusnya AX4 (tetrahedral).
AlCl3

3. Jawaban: e
NO3
Pasangan elektron
   
  



= 12


=
=

PEI = jumlah atom 1 = 4 1 = 3


Pasangan pusat = pasangan elektron (3 jumlah
atom ujung kecuali H)
= 12 (3 3) = 12 9 = 3
PEB = pasangan pusat PEI = 3 3 = 0
Jadi, notasinya AX3 = segitiga datar.
4. Jawaban: b
  

Pasangan elektron =
= 20

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 20 (3 5) = 5
PEB = 5 5 = 0
Jadi, notasi VSEPRnya AX5 (trigonal bipiramida).
5. Jawaban: a
Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan bahwa
sudut ikatan HOH dalam air sebesar 104,5,
sedikit lebih kecil daripada sudut tetrahedral
(109,5). Hal ini terjadi karena adanya desakan
pasangan elektron bebas. Dengan demikian, gaya
tolak PEB lebih besar daripada PEI.
6. Jawaban: e
 

Pasangan elektron =
= 20

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 20 (3 5) = 5
PEB = 5 5 = 0
Jadi, AX5 = trigonal bipiramida

7. Jawaban: e
2
4
16S : [Ne] 3s 3p
2
4
0
16S : [Ne] 3s 3p 3d

hj

hj h h

h hx hx hx hx



 

Pasangan elektron =
= 12

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 12 (3 3) = 3
PEB = 3 3 = 0
Jadi, rumusnya AX3 (segitiga datar).
Oleh karena bentuk molekul tersebut adalah tetrahedral, senyawanya adalah CCl4.

promosi
x

p3

d2

x = elektron atom F

Kimia Kelas XI

11

8. Jawaban: a
a. BF4 5B : [He] 2s2 2p1

hj

Atom S (dalam SF6)

hx hx hx hx hx hx

sp3d2

x = elektron atom F

ion B : [He] 2s2 2p2

hj

h h

hj

h h

e.

promosi

Atom B (dalam BF4)

hx hx hx

h h h

hj

h h h

p3

sp 3d

BCl3 5B : [He] 2s2 2p1

hj

h h h

hx hx hx hx hx

x = elektron atom F

Atom P (dalam PCl5)

sp 3

hj

= [Ne] 3s2 3p3

promosi

p3

hx

15P

hj

h h h

b.

PCl5

x = elektron atom Cl
9. Jawaban: d
Atom pusat dalam molekul SCl4 adalah S.
2
2
6
2
4
16S : 1s 2s 2p 3s 3p
2
2
6
2
4
0
16S : 1s 2s 2p 3s 3p 3d

promosi

hj

h h
p2

promosi

Atom B (dalam BCl3)

hx

hx hx

17Cl

: [Ne] 3s2 3p5

hj

hj

: [Ne] 3s2 3p4

hj h h
promosi

12

p3

h h h

h h

p3

d2

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

hx hx hx
p3

x = elektron atom Y
Orbital hibrida XY3 adalah sp3.

hj hj hx

x = elektron atom H
16S

hj

atom Cl (dalam HCl)

SF6

hj

hj hj h
hibridisasi

d.

h h h

10. Jawaban: c
2
3
15X : [Ne] 3s 3p

x = elektron atom Cl
HCl

hj

= elektron atom Cl

sp 2

c.

hj h h

B.

Uraian

1. a.

PO43

   

Pasangan elektron =

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 16 (3 4)
= 16 12 = 4
PEB = 4 4 = 0
Jadi, notasi VSEPR-nya AX4.

= 16

b.

I3

adanya pasangan elektron bebas pada orbital


hibrida atom pusat. Pada molekul air, pasangan
elektron bebas atom O pada orbital 2s dan 2px
akan berdesakan dengan pasangan elektron ikatan
pada orbital 2py dan 2pz sehingga sudut ikatannya
menjadi lebih kecil dari 109,5. Hal ini juga terjadi
pada molekul NH3, tetapi sudut ikatan molekul NH3
lebih besar daripada H2O karena pasangan elektron
bebasnya hanya satu yaitu hanya pada orbital 2s
saja, sedangkan H2O memiliki dua pasang elektron
bebas.





Pasangan elektron =
= 11
PEI = 3 1 = 2
Pasangan pusat = 11 (3 2)
= 11 6 = 5
PEB = 5 2 = 3
Jadi, notasi VSEPR-nya AX2E3.
c.

AsF5

  

Pasangan elektron =

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 20 (3 5)
= 20 15 = 5
PEB = 5 5 = 0
Jadi, notasi VSEPR-nya AX5.
d.

NH3

= 20
5.

a.

 


Pasangan elektron =
=4

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 3 = 1
Jadi, notasi VSEPR-nya AX3E.
2. a.

b.
c.

Molekul yang mempunyai notasi VSEPR


AX5E berbentuk piramida segi empat.
Dalam notasi tersebut, pasangan elektron
bebas (PEB) disimbolkan E, sedangkan
pasangan elektron ikatan (PEI) disimbolkan
X. Jadi, jumlah pasangan elektron bebas = 1,
sedangkan jumlah pasangan elektron ikatan
= 5.
Jumlah pasangan elektron yang berada di
sekitar atom pusat = PEB + PEI = 1 + 5 = 6
Contoh senyawanya adalah IF5 dan BrF5.

3. Bentuk molekul dipengaruhi oleh susunan ruang


pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron
bebas atom pusat suatu molekul.
SO2 PEI = 2
bentuk molekul: bentuk V
PEB = 1
BeCl2 PEI = 2
bentuk molekul: linear
PEB = 0
(tidak mempunyai PEB)

BCl3
2
2
1
5B = 1s 2s 2p

hj

h h

p2

= elektron atom Cl
Orbital hibrida = sp2
Bentuk molekul: segitiga datar.
Gambar molekulnya sebagai berikut.

b.

PF5
2
2
6
2
3
15P = 1s 2s 2p 3s 3p

hj

h h h

hx

hx hx hx hx

p3

x = elektron atom F
Orbital hibrida = sp3d
Bentuk molekul: trigonal bipiramida.
Gambar molekulnya sebagai berikut.

4. Sudut ikatan orbital sp3 pada umumnya sebesar


109,5. Molekul H2O dan NH3 memiliki orbital sp3.
Namun, sudut ikatan H 2 O hanya 104,5,
sedangkan NH3 107. Hal ini disebabkan oleh

Kimia Kelas XI

13

A.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: d
Ikatan hidrogen antarmolekul mengakibatkan titik
didih senyawa relatif lebih tinggi dibandingkan
senyawa lain yang mempunyai berat molekul
sebanding. Oleh karena itu, titik didih alkohol yang
memiliki ikatan hidrogen menjadi lebih tinggi
daripada eter. Ikatan hidrogen sangat kuat sehingga
dibutuhkan lebih banyak energi untuk memisahkan
molekul-molekul alkohol. Alkohol pada suhu biasa
berwujud cair yang mudah menguap, mudah
terbakar, dan tidak berwarna. Metanol bersifat
mudah menguap, berwujud cair, tidak berwarna,
mudah terbakar, beracun dengan bau khas (berbau
lebih ringan daripada etanol). Sebagian kecil alkohol
larut dalam air karena gugus hidroksi pada alkohol
dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul
air. Reaksi antara alkohol dan logam akan
menghasilkan gas hidrogen dan larutan alkoksida.
2. Jawaban: e
Senyawa kovalen yang bersifat polar mempunyai
harga momen dipol atau perbedaan keelektronegatifan lebih besar dari nol. Sementara itu, senyawa
kovalen yang bersifat nonpolar mempunyai keelektronegatifan atau momen dipol sama dengan nol.
H F = 4,1 2,1 = 2,0 HF polar
O Cl = 3,5 2,8 = 0,7 OCl polar
F Cl = 4,1 2,8 = 1,3 FCl polar
Br Cl = 2,8 2,7 = 0,1 BrCl polar
P H = 2,1 2,1 = 0 PH nonpolar
3. Jawaban: a
Jika unsur yang sama-sama diikat yaitu unsur H,
perbedaan keelektronegatifan terbesar dimiliki oleh
senyawa yang dibentuk dari unsur yang paling
elektronegatif. Dalam sistem periodik, keelektronegatifan unsur dari kiri ke kanan pada satu periode
semakin besar dan dari bawah ke atas pada satu
golongan juga semakin besar. Unsur O terletak pada
periode paling kanan dan pada golongan paling atas
dibanding unsur N, P, S, dan C. Oleh karena itu,
unsur O merupakan unsur yang paling elektronegatif
sehingga jika berikatan dengan H memiliki perbedaan keelektronegatifan paling besar (paling polar).
4. Jawaban: a
Senyawa dengan Mr tinggi dan bentuk molekul
panjang akan semakin mudah terpolarisasi
sehingga gaya London yang dihasilkan semakin
kuat. Dengan demikian, pada pilihan jawaban
tersebut rantai yang mempunyai atom C paling
banyak dan berbentuk lurus mempunyai gaya
London paling kuat, yaitu n-heptana.

14

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

5. Jawaban: a
Gaya London merupakan gaya tarik yang sangat
lemah. Gaya London umumnya terjadi di antara
molekul-molekul kovalen nonpolar. Misal N2, H2,
atau CH4.
6. Jawaban: a
Air (H2O) yang keluar dari biuret dapat dibelokkan
oleh batang bermuatan karena air bersifat polar.
Senyawa polar terjadi jika pasangan elektron yang
digunakan untuk membentuk ikatan kovalen
tertarik lebih kuat pada salah satu atom. Pada
senyawa polar, distribusi muatan terjadi tidak
seimbang sehingga terbentuk suatu kutub (dipol)
dalam molekul. Sebaliknya CCl4 yang keluar dari
biuret tidak dibelokkan oleh batang bermuatan
karena CCl4 bersifat nonpolar. Senyawa nonpolar
terjadi jika pasangan elektron yang dipakai secara
bersama-sama dalam ikatan kovalen tertarik sama
kuat ke semua atom. Senyawa nonpolar meliputi
senyawa yang beratom sejenis dan senyawa yang
distribusi muatannya simetris.
7. Jawaban: d
Titik didih dan titik leleh H2O lebih tinggi daripada
H2S meskipun MrH2O lebih kecil daripada H2S. Hal
ini karena adanya ikatan hidrogen di dalam molekul
H2O. Ikatan hidrogen bersifat sangat kuat serta
terjadi antara atom hidrogen dan atom yang sangat
elektronegatif (F, O, atau N).
8. Jawaban: b
Ikatan hidrogen jauh lebih kuat daripada gaya Van
der Waals. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya energi
yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan. Energi
untuk memutuskan ikatan hidrogen sekitar 1540
kJ/mol, sedangkan energi untuk memutuskan
gaya Van der Waals hanya sekitar 220 kJ/mol.
9. Jawaban: b
Polarisabilitas merupakan kemudahan suatu
molekul menghasilkan dipol sesaat yang dapat
mengimbas ke molekul di sekitarnya. Semakin
besar massa molekul relatif dan semakin tinggi
titik didih serta titik lelehnya, molekul semakin
mudah mengalami polarisasi. Bentuk molekul yang
panjang (lonjong) juga mempermudah polarisasi.
10. Jawaban: b
Senyawa kovalen nonpolar terbentuk antara
molekul-molekul unsur (atomnya sejenis) atau
molekul-molekul senyawa yang simetris, yaitu
molekul yang atom pusatnya tidak mempunyai
pasangan elektron bebas (PEB).

: 1s2 2s2 2p2


2
2
4
8B : 1s 2s 2p
2
2
6
1
11C : 1s 2s 2p 3s
2
2
6
2
5
17D : 1s 2s 2p 3s 3p
2
2
6
2
6
1
19E : 1s 2s 2p 3s 3p 4s

6A

B.

Uraian

1. Gaya London yaitu gaya tarik-menarik antardipol


sesaat. Gaya London terjadi pada molekul nonpolar. Dipol sesaat tersebut terbentuk saat elektronelektron dalam atom saling bergerak sehingga
sewaktu-waktu elektron berada lebih dekat ke salah
satu atom. Meskipun dipol sesaat tidak bersifat
permanen, namun mampu mengimbas ke molekul
nonpolar di sekitarnya sehingga antardipol terimbas
dapat menghasilkan gaya London. Gaya tarik dipol
yaitu gaya yang terjadi karena kutub positif dari
molekul satu akan tertarik oleh kutub negatif
molekul yang berdekatan. Gaya tersebut terjadi pada
molekul polar.
2. Aseton atau propanon dengan rumus struktur:
O
||
CH3 C CH3 mempunyai titik didih lebih tinggi
daripada n-butana yang mempunyai rumus struktur:
CH3 CH2 CH2 CH3. Hal ini karena aseton
merupakan senyawa polar, sedangkan
n-butana merupakan senyawa nonpolar. Senyawa
polar saling berikatan dengan gaya tarik dipol.
Sementara itu, senyawa nonpolar saling berikatan
dengan gaya London. Kekuatan gaya tarik dipol

A.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: c
Struktur Lewis CH4:
H

H
Di sekeliling atom pusat CH4 terdapat 4 domain
yang merupakan pasangan elektron ikatan
sehingga bentuk geometri dasar dan molekulnya
tetrahedral. BeCl2 mempunyai bentuk geometri
dasar linear. SO2 mempunyai bentuk geometri
dasar segitiga. PCl5 mempunyai bentuk geometri
dasar trigonal bipiramida. SF6 mempunyai bentuk
geometri dasar oktahedral.

lebih besar daripada gaya London sehingga energi


yang diperlukan untuk memutuskan gaya tarik
dipol pun lebih besar daripada gaya London.
3. Gaya Van der Waals mengakibatkan sifat-sifat
ketidaksempurnaan suatu gas. Pada suhu yang
rendah, molekul-molekul gas tidak mempunyai
energi untuk melepaskan diri dari gaya dipol sesaat
dan gaya tarik dipol tetangganya. Dengan demikian,
molekul-molekul gas akan mengumpul dan
membentuk tetesan zat cair.
4. Setiap organisme tersusun dari air dan DNA.
Struktur DNA mengandung empat basa organik,
yaitu adenin, guanin, timin, dan sitosin. Keempat
basa ini saling berpasangan dalam ikatan hidrogen.
Adenin berpasangan dengan timin membentuk dua
ikatan hidrogen, sedangkan guanin dengan sitosin
membentuk tiga ikatan hidrogen. Oleh karena itu,
ikatan hidrogen sangat memengaruhi kehidupan
organisme.
5. Dalam keadaan padat (es), molekul-molekul air
membentuk struktur ruang. Atom hidrogen
dikelilingi oleh atom-atom oksigen. Dua atom
hidrogen yang dekat dengan atom oksigen terikat
secara ikatan kovalen. Sementara itu, dua atom
hidrogen lain yang berjauhan terikat secara ikatan
hidrogen. Terbentuknya struktur ruang dalam es
tersebut mengakibatkan es mempunyai struktur
terbuka dengan rongga kosong. Hal inilah yang
mengakibatkan kerapatan es menjadi lebih kecil
daripada air.

2. Jawaban: b
2
2
6
2
3
15P = 1s 2s 2p 3s 3p elektron valensi = 5
2
2
5
9F = 1s 2s 2p elektron valensi = 7
Pasangan elektron
=      
    
=

  



= 13

PEI = jumlah atom 1 = 4 1 = 3


Pasangan pusat = pasangan elektron (3
jumlah atom ujung (kecuali
atom H))
= 13 (3 3) = 4
PEB = pasangan pusat PEI = 4 3 = 1
Jadi, PEB pada atom pusat = 1.

Kimia Kelas XI

15

3. Jawaban: c
2
3
7N = [He] 2s 2p
2
5
9F = [He] 2s 2p

PEI = 3
PEB = 1

AX3E (trigonal piramida)

4. Jawaban: b
Pasangan elektron =

 
  


= 12

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 12 (3 3) = 3
PEB = 3 3 = 0
Notasi VSEPR-nya adalah AX3 (bentuk segitiga
datar).
Gambar molekulnya sebagai berikut.

8. Jawaban: e
Berdasarkan orbital hibrida, elektron terluar unsur
tersebut harus berada pada kulit atom ke-3. Hal ini
karena kulit atom tersebut mengandung orbital d
yang akan digunakan sebagai tempat elektron yang
dipromosikan dari orbital s dan orbital px. Dengan
demikian, dua elektron tersebut akan menempati
orbital d dan terdapat 6 elektron tidak berpasangan
dalam orbital sp3d2. Selanjutnya, unsur tersebut
dapat mengikat 6 atom lain yang kekurangan satu
elektron.

hj

hj h h

3s

3p

hj

hj h h
promosi

5. Jawaban: e
Berdasarkan gambar molekul tersebut, notasi
VSEPR-nya AX4E2.
PEB = 2
PEI = 4
Pasangan pusat = PEB + PEI = 2 + 4 = 6
Pasangan pusat = pasangan elektron (3
jumlah atom ujung)
6 = pasangan elektron (3 4)
Pasangan elektron = 12 + 6 = 18
Pasangan elektron
        

     
18 =


36 = elektron valensi A + 28
elektron valensi A = 8
Jadi, unsur A dalam tabel periodik terletak pada
golongan VIII.
6. Jawaban: b
1

1H = 1s
H S H
2
4

16S = [Ne] 3s 3p
PEI = 2
bentuk molekul
PEB = 2
bentuk V
7. Jawaban: a
PO43
Pasangan elektron pada semua atom
=

  

= 16

Pasangan elektron ikatan (PEI) = 5 1 = 4


Pasangan pusat = 16 (3 4) = 4
Pasangan elektron bebas
(PEB) = 4 4 = 0 (tidak punya)
Notasi VSEPR = AX4
Bentuk molekulnya tetrahedral
16

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

h h h

h h

p3

d2

9. Jawaban: b
2
2
2
6C = 1s 2s 2p

hj

h h
promosi

h h h

p3

x = elektron atom Cl
Jadi, orbital hibrida CCl4 adalah sp3.
10. Jawaban: d
54X

= [Kr] 5s2 4d10 5p6

5s

5p

5d

hj

hj hj hj
promosi

hj

hj h h

p3

hj
s

h h
d2

hj h h h h
p3

d2

= elektron dari atom Y


2
10
6
54X = [Kr] 5s 4d 5p

2
2
5
Y
Y
9Y = 1s 2s 2p
X merupakan unsur gas mulia dengan elektron
valensi 8 yang mengalami penyimpangan aturan
oktet karena berikatan dengan Y membentuk XY4.
PEI = 4
Bentuk molekul
PEB = 2 segi empat datar

11. Jawaban: d
2
2
4
8O = 1s 2s 2p

hj

hj h h

hj

hj h h

p3

c.

h
hx

h h
promosi

h h h
h h h

p3

= elektron dari atom Cl


Molekul senyawa SnCl4 mempunyai orbital
hibrida sp3.
b.

d2

51Sb

= [Kr] 5s2 4d10 5p3

h h h
promosi

P
Pada senyawa QP3 terdapat 3 domain yang terdiri
atas 3 PEI dan tidak ada PEB. Notasinya AX3.
Bentuknya segitiga datar atau segitiga planar.

p3

13. Jawaban: e
a. 50Sn = [Kr] 5s2 4d10 5p2

d2

hx hx hx hx hx

hj

h h

x = elektron dari atom F


Molekul senyawa SeF6 mempunyai orbital
hibrida sp3d3.

p3

p3

d.

Struktur Lewis P Q

h h h

= 1s1

hj h h
promosi

12. Jawaban: b
2
2
1
5Q = 1s 2s 2p

hj

= [Ar] 4s2 3d10 4p4

hj

Jadi, orbital hibrida sp 3 pada molekul H 2 O


didukung oleh adanya 2 elektron tunggal pada
orbital p atom oksigen. Setelah terisi elektron, akan
ada dua buah orbital yang mempunyai pasangan
elektron dan membentuk dua ikatan kovalen.
Bentuk dasar tetrahedral akan berubah menjadi
huruf V. Sudut ikatan H O H sebesar 104,31.

1P

34Se

h h h
p3

hx

h
d

hx hx hx hx
p3

x = elektron dari atom Cl


Molekul senyawa SbCl5 mempunyai orbital
hibrida sp3d.
Jadi, senyawa yang pasangan elektronnya
mempunyai orbital hibrida sp3d dengan bentuk
molekul trigonal bipiramida adalah PCl5 dan SbCl5.
Sementara itu, SnCl4 mempunyai orbital hibrida
sp3 dengan bentuk molekul tetrahedral. SeF6
mempunyai orbital hibrida sp3d2 dengan bentuk
molekul oktahedral.
14. Jawaban: b
Y dengan elektron terluar ns2 np1.

hj

2
3
15P = [Ne] 3s 3p

hj

promosi

h h h
h

h
s

h
s

h h h
p3

p2

hx

hx hx

p2

h h h h
p3

h h

promosi

x = elektron dari atom X


Jadi, hibridisasi yang terjadi adalah sp2

= elektron dari atom Cl


Molekul senyawa PCl5 mempunyai orbital
hibrida sp3d.

15. Jawaban: c
Pada hibridisasi senyawa kompleks, atom
pusatnya (atom dari unsur transisi) harus
menyediakan orbital kosong sejumlah ligan yang
akan bergabung.

Kimia Kelas XI

17

sudutnya membentuk sudut sebesar 120 terhadap


atom pusat.

[Zn(NH3]4]2+
NH3 = molekul netral
Zn bermuatan +2
2
10
30Zn = [Ar] 4s 3d
2+
0
Zn = [Ar] 4s 3d10

20. Jawaban: e
Gaya antarmolekul yang paling kuat adalah yang
di dalamnya terdapat ikatan hidrogen. Ikatan
hidrogen terbentuk dalam molekul HF dan
CH3COOH.

hj hj hj hj hj
3d10

4s 0

4p0

Ion Zn2+ berhibridisasi dengan menyediakan empat


ruang kosong untuk ditempati oleh NH3.
Zn
xx

hj hj hj hj hj

xx

xx xx xx

= NH3

Jadi, jenis hibridisasi [Zn(NH3)4]2+ adalah sp3.


16. Jawaban: e
Zat A merupakan zat yang mempunyai jenis ikatan
kovalen polar karena titik didihnya rendah, tidak
dapat menghantarkan arus listrik dalam bentuk
lelehannya, tetapi dapat menghantarkan arus listrik
dalam bentuk larutannya. Zat B merupakan zat
yang mempunyai jenis ikatan kovalen nonpolar
karena titik didihnya rendah dan tidak dapat
menghantarkan arus listrik baik dalam bentuk
lelehan maupun larutannya. Senyawa yang
berikatan ion mempunyai titik didih tinggi dan dapat
menghantarkan arus listrik dalam bentuk lelehan
maupun larutannya.
17. Jawaban: c
CO dan N2, keduanya mempunyai gaya Van der
Waals, tetapi CO mengalami gaya tarik dipol,
sedangkan N2 mengalami gaya London. CO
merupakan senyawa polar sehingga gaya Van der
Waals-nya (gaya tarik dipol) lebih kuat daripada
gaya Van der Waals (gaya London) molekul N2 yang
bersifat nonpolar meskipun Mr-nya sama.
18. Jawaban: b
Molekul CH4 dan SiH4 sama-sama berbentuk
tetrahedral. Dalam molekul CH4 terdapat 4 momen
dipol yang sama besar dari atom C dan H yang
saling menyudut sama besar sehingga resultan dari
keempat momen dipol ini mendekati nol. Demikian
pula dengan SiH4. Dengan demikian, molekul CH4
dan SiH4 sama-sama bersifat nonpolar. Perbedaan
titik didih, yaitu titik didih senyawa CH4 lebih rendah
daripada SiH4 karena massa molekul relatif CH4
lebih kecil daripada SiH4.
19. Jawaban: c
Di sekeliling atom pusat molekul AlCl3 terdapat 3
domain elektron yang semuanya merupakan PEI.
Dengan demikian, AlCl3 mempunyai notasi VSEPR
AX3. Bentuk molekulnya segitiga datar dan ketiga

18

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

21. Jawaban: e
n-butana mempunyai titik didih 0C yang lebih tinggi
daripada 2-metil propana yang mempunyai titik
didih 12C. Hal ini karena n-butana mempunyai
rantai lurus, sedangkan rantai 2-metil propana
bercabang. Rantai lurus lebih berdekatan daripada
rantai cabang sehingga gaya tariknya lebih kuat.
Pada rantai lurus, inti atom lebih mudah
menginduksi awan elektron sehingga memiliki gaya
tarik-menarik dipol sesaat yang lebih besar. Pada
senyawa yang bercabang, inti atom sukar
menginduksi awan elektron sehingga gaya London
lebih lemah. Jadi, untuk massa molekul relatif yang
sama, bentuk molekul yang tidak bercabang
mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada
bentuk molekul bercabang. Akibatnya, bentuk
molekul lurus mempunyai gaya London yang lebih
besar daripada bentuk molekul bercabang.
22. Jawaban: b
Kelompok senyawa yang memiliki ikatan hidrogen
merupakan kelompok senyawa yang mengalami
penyimpangan titik didih dalam grafik dari senyawa
segolongannya. H2O, HF, dan NH3 memiliki ikatan
hidrogen karena titik didihnya paling tinggi di antara
senyawa segolongannya, padahal Mr-nya paling
kecil. Hal ini karena ikatan hidrogen lebih kuat
daripada ikatan Van der Waals sehingga untuk
memutuskannya diperlukan energi yang lebih
tinggi.
23. Jawaban: b
Molekul bersifat polar karena pasangan elektron
yang digunakan untuk membentuk ikatan kovalen
tertarik lebih kuat pada salah satu atom. Molekul
polar bersifat tidak simetris dan mempunyai
pasangan elektron bebas. Molekul yang mengikuti
kaidah oktet artinya atom molekul tersebut
dikelilingi 8 elektron sehingga bersifat stabil seperti
gas mulia. Jadi, rumus molekul AB3 sebagai
berikut.

B
Pada molekul tersebut terdapat satu pasangan
elektron bebas.

24. Jawaban: b
PCl 3 mempunyai bentuk yang tidak simetris
sehingga bersifat polar. Molekul-molekul polar
cenderung saling mendekatkan kutub positifnya
dengan kutub negatif molekul lain membentuk gaya
tarik-menarik yang disebut gaya tarik dipol.
25. Jawaban: c
Oksigen yang bersifat nonpolar atau merupakan
molekul yang tidak mempunyai dipol dapat larut
dalam air (molekul yang mempunyai dipol). Hal ini
karena gas oksigen membentuk dipol sesaat dalam
air. Dipol sesaat terbentuk ketika molekul yang
tidak mempunyai dipol saling tarik-menarik dengan
molekul yang mempunyai dipol. Interaksi tersebut
terjadi secara induksi. Ujung molekul dipol yang
bermuatan positif menginduksi awan elektron
molekul yang tidak mempunyai dipol. Setelah
terbentuk dipol sesaat, akan terjadi ikatan antara
molekul dipol dan molekul dipol sesaat. Hal inilah
yang mengakibatkan oksigen dapat larut dalam air.

30. Jawaban: a
Gaya London merupakan gaya yang relatif lemah
dan terjadi pada sesama senyawa nonpolar. Zat
yang molekulnya saling tarik-menarik hanya
dengan gaya London akan mempunyai titik leleh
dan titik didih yang rendah jika dibandingkan
dengan zat lain yang massa molekul relatifnya
sama. Jika molekul-molekulnya kecil, zat-zat
tersebut biasanya berbentuk gas pada suhu kamar.
Misal H2, N2, CH4, He, O2, Br2, dan I2.
B.

Uraian

1. a.

Pasangan elektron =

28. Jawaban: b
Dalam satu golongan dari atas ke bawah pada
sistem periodik, massa atom relatif unsur semakin
besar. Massa molekul relatif F 2 < Cl 2 < Br 2.
Semakin besar massa molekul relatif suatu
molekul, semakin tinggi titik didihnya sehingga
semakin kuat gaya Londonnya. Jadi, urutan
kekuatan gaya London Br2 > Cl2 > F2.
29. Jawaban: d
Sudut ikatan H2O sebesar 104,5 karena adanya
pasangan elektron bebas pada orbital hibrida atom
pusat, yaitu pada orbital 2s dan 2px. Pasangan
elektron bebas ini akan berdesakan dengan
pasangan elektron ikatan pada orbital 2py dan 2pz
sehingga sudut ikatannya mengecil.

    


= 16

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 16 (3 4) = 4
PEB = 4 4 = 0
PEI = 4 dan PEB = 0.
Notasi VSEPR: AX4.
Jadi, bentuk molekul ion ClO4 adalah tetrahedral.

26. Jawaban: d
Ikatan hidrogen terjadi oleh gaya tarik-menarik
antara atom hidrogen dari molekul yang satu dengan
atom molekul lain yang sangat elektronegatif (F,
O, atau N) pada senyawa NH3, H2O, dan HF.
27. Jawaban: d
Ikatan hidrogen terbentuk antara atom hidrogen
dan atom yang sangat elektronegatif (F, O, atau
N). Adanya ikatan hidrogen mengakibatkan titik
didih senyawa semakin tinggi. Oleh karena itu,
senyawa yang mempunyai ikatan hidrogen paling
kuat adalah HF. Ikatan hidrogen pada senyawa HF
lebih kuat daripada ikatan hidrogen pada senyawa
H2S. Sementara itu, pada senyawa HI, HBr, dan
HCl terjadi gaya Van der Waals.

ClO4

b.

NH4

Pasangan elektron =

   


=4

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 4 = 0
PEI = 4 dan PEB = 0.
Notasi VSEPR: AX4.
Jadi, bentuk molekul ion NH4+ adalah tetrahedral.

c.

AlF6

Pasangan elektron =


  

= 24

PEI = 7 1 = 6
Pasangan pusat = 24 (3 6) = 6
PEB = 6 6 = 0
PEI = 6 dan PEB = 0.
Notasi VSEPR: AX6.
Jadi, bentuk molekul ion AlF63 adalah oktahedral.

Kimia Kelas XI

19

2. a.

XeF2;
Pasangan elektron =

b.

5.
 


= 11

PEI = 3 1 = 2
Pasangan pusat = 11 (3 2) = 5
PEB = 5 2 = 3
Jadi, PEI = 2 dan PEB = 3
XeF4;
Pasangan elektron =

  


= 18

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 18 (3 4) = 6
PEB = 6 4 = 2
Jadi, PEI = 4 dan PEB = 2.
c.

XeO3;
Pasangan elektron =





= 13

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 13 (3 3) = 4
PEB = 4 3 = 1
Jadi, PEI = 3 dan PEB = 1.
3. PEI = 5
PEB = 1
Notasi VSEPR = AX5E
Bentuk molekul = Piramida segi empat
Contoh molekul = IF5
Gambar molekulnya sebagai berikut.

4. a.

b.

c.

20

Molekul yang memiliki sudut ikat 180


berbentuk linear. Linear yaitu bentuk molekul
yang disusun oleh tiga atom yang berikatan
dalam satu garis lurus dan sebuah atom
sebagai pusatnya, contoh: ZnCl2 dan BeCl2
Molekul yang memiliki sudut ikat 109,5
berbentuk tetrahedral. Tetrahedral yaitu
bentuk molekul yang tersusun atas lima atom
yang berikatan dengan empat pasang elektron
ikatan, contoh: CH4 dan CCl4.
Molekul yang memiliki sudut ikat 90
berbentuk oktahedral. Oktahedral yaitu bentuk
molekul yang terdiri atas delapan bidang yang
merupakan segitiga sama sisi, contoh: SF6.

Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul

15A

hj

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3

h h h
promosi

h
s

hx
s

h h h
p3

h
d

hx hx hx hx
p3

x = elektron dari atom B


Orbital hibridanya sp3d. Bentuk molekulnya trigonal bipiramida.
6. Ikatan bersifat nonpolar jika molekulnya dibentuk
dari atom pusat yang terikat pada atom-atom lain
yang sama sehingga dipol-dipol ikatan yang ada
saling meniadakan, contoh CO2. Sebaliknya, jika
atom pusat terikat pada atom lain yang tidak sama,
molekul akan bersifat polar.
7. Gaya London lebih lemah daripada gaya tarik dipol
karena gaya London terjadi dalam molekul nonpolar.
Sementara itu, gaya tarik dipol terjadi pada molekul
polar. Ikatan hidrogen paling kuat di antara ketiga
ikatan tersebut.
8. Senyawa yang terbentuk berupa HCl dan HI. HCl
akan lebih polar daripada HI. Hal ini karena dalam
satu golongan, dari atas ke bawah elektronegativitasnya semakin kecil sehingga elektronegativitas Cl lebih besar daripada elektronegativitas I. Akibatnya, HCl bersifat lebih polar
daripada HI.
9. Gaya Van der Waals menentukan kuat lemahnya
gaya tarik-menarik molekul dalam senyawa nonpolar ataupun polar. Hal ini berakibat pada tinggi
rendahnya titik didih suatu senyawa. Jika gaya Van
der Waals senyawa kuat maka titik didihnya juga
tinggi. Titik didih ini menggambarkan energi yang
diperlukan untuk memutuskan ikatan dalam suatu
molekul. Semakin banyak energi yang diperlukan,
titik didihnya semakin tinggi.
10. Titik didih senyawa sebanding sekaligus
mencerminkan kekuatan gaya London. Gaya
London semakin besar jika distribusi elektron
semakin besar, jumlah elektron semakin banyak,
Mr semakin besar, dan elektron terikat lemah oleh
inti. Jadi, urutan gas mulia dalam segolongan
semakin ke bawah, titik didih semakin besar (He
< Ne < Ar < Kr).

Model Pengintegrasian Nilai Pendidikan Karakter


Standar Kompetensi
2.

Kompetensi Dasar

Memahami perubahan
energi dalam reaksi
kimia dan cara pengukurannya.

Nilai

2.1

Mendeskripsikan
perubahan entalpi
suatu reaksi, reaksi
eksoterm, dan reaksi
endoterm.

2.2

Menentukan H reaksi
berdasarkan percobaan, hukum Hess,
data perubahan entalpi
pembentukan standar,
dan data energi ikatan.

Bekerja
sama

Indikator
Bekerja sama dengan teman sesama anggota
kelompok dalam melaksanakan praktikum.

Pada bab ini akan dipelajari:


1. Reaksi Termokimia dan Perubahan Entalpi
2. Macam-Macam Perubahan Entalpi
3. Penentuan Perubahan Entalpi Reaksi

Termokimia

Menjelaskan tentang reaksi


termokimia dan perubahan entalpi

Menjelaskan macam-macam
perubahan entalpi

Menjelaskan cara menentukan


perubahan entalpi reaksi

1. Membedakan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm


2. Menuliskan persamaan
termokimia

Menuliskan definisi dan contoh


dari:
1. Hf
2. Hd
3. Hc
4. Hn
5. Hv
6. Hfus
7. Hsub
8. Hsol

Menghitung perubahan entalpi


reaksi (H) dengan:
1. kalorimeter
2. data entalpi pembentukan
standar
3. diagram siklus energi
(hukum Hess)
4. energi ikatan

Siswa mampu mendeskripsikan


perubahan entalpi suatu reaksi, reaksi
eksoterm, dan reaksi endoterm

Siswa mampu mendeskripsikan


perubahan entalpi suatu reaksi, reaksi
eksoterm, dan reaksi endoterm

Siswa mampu menentukan H reaksi


berdasarkan percobaan, hukum Hess,
data perubahan entalpi pembentukan
standar, dan data energi ikatan

Siswa dapat menjelaskan reaksi termokimia dan perubahan


entalpinya, macam-macam perubahan entalpi, serta menentukan
perubahan entalpi reaksi

Kimia Kelas XI

21

A.

Pilihan Ganda

8. Jawaban: a


H2(g) +  O2(g) H2O( ) H = 287,3 kJ


Massa O2 = 20 gram

1. Jawaban: a
Dalam percobaan tersebut, yang merupakan
sistem adalah larutan HCl dan KOH. Tabung reaksi
merupakan lingkungan.
2. Jawaban: e
Reaksi kimia yang ditunjukkan oleh diagram reaksi
tersebut merupakan eraksi endoterm. Entalpi zat
yang bereaksi lebih kecil daripada entalpi zat hasil
reaksi. H berharga positif menunjukkan reaksi
endoterm.
3. Jawaban: e
Pada reaksi eksoterm terjadi perpindahan kalor dari
sistem ke lingkungan, perubahan entalpi negatif,
reaksi melepas kalor, berlangsung spontan, dan
terjadi kenaikan suhu.
4. Jawaban: d
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g) H = +435 kJ
Pernyataan yang tepat untuk persamaan
termokimia tersebut yaitu:
1) kalor penguraian 2 mol CaCO3 sebesar 870 kJ;
2) pada penguraian 1 mol CaCO3 diperlukan
kalor sebesar 435 kJ;
3) dalam penguraian 1 mol CaCO3 sebanyak
435 kJ kalor mengalir dari lingkungan ke sistem.
5. Jawaban: a
Proses endoterm merupakan proses yang
membutuhkan kalor sehingga terjadi perpindahan
kalor dari lingkungan ke sistem. Suhu setelah
reaksi lebih kecil daripada suhu sebelum reaksi.
Proses endoterm ditunjukkan oleh gambar 1) dan
2). Sebaliknya, gambar 3) dan 4) merupakan
gambar proses eksoterm. Pada reaksi ini sistem
melepaskan kalor ke lingkungan. Suhu setelah
reaksi lebih besar daripada suhu sebelum reaksi.
6. Jawaban: b
Besarnya perubahan entalpi reaksi sama dengan
kalor reaksinya dengan tanda berlawanan untuk
reaksi endoterm, H = + kkal atau kalor reaksinya
. Sebaliknya jika reaksi eksoterm, H = kkal
atau kalor reaksinya .
7. Jawaban: b
Pada diagram entalpi tersebut, entalpi produk lebih
kecil dari entalpi reaktan sehingga perubahan
entalpinya berharga negatif. Dengan demikian
diagram tersebut merupakan diagram reaksi
eksoterm. Pada reaksi eksoterm kalor berpindah
dari sistem ke lingkungan.

22

Termokimia

Mol O2 =

 
 !"

= 1,25 mol

Mol H2O = 2 mol O2 = 2 1,25 mol = 2,5 mol


DH = 2,5 mol (287,3 kJ) = 718,25
9. Jawaban: d
Reaksi endoterm menyerap kalor dari lingkungan
sehingga suhu lingkungan berkurang. Pada reaksi
ini suhu setelah reaksi lebih kecil dari sebelum
reaksi. Jadi, peristiwa yang merupakan reaksi
endoterm terjadi pada nomor 3) dan 4).
10. Jawaban: e
Pernyataan yang benar tentang reaksi tersebut
adalah:
1) merupakan reaksi eksoterm karena H
berharga negatif;
2) dilepaskan kalor ketika molekul HBr terbentuk;
3) pada pembentukan 2 mol gas HBr dilepaskan
kalor sebesar y kJ;
4) diperlukan kalor untuk memutuskan ikatan
hidrogen dan bromin.
B.

Uraian

1. a.
b.
c.

Sistem: CaC2(s), H2O( ), Ca(OH)2(s), dan


C2H2(g)
Lingkungan: gelas beker dan udara
Diagram tingkat energinya:
H
Ca(OH)2(s) + C2H2(g)
H > 0
CaC2(s) + 2H2O( )

d.

Kalor berpindah dari lingkungan ke sistem


(reaksi endoterm)

2. Reaksi eksoterm adalah reaksi yang berlangsung


spontan, mengalami perpindahan kalor dari sistem
ke lingkungan, mengalami kenaikan suhu, melepaskan kalor, dan perubahan entalpinya berharga
negatif (H < 0).
Contoh:
a. CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O( )
H = x kJ/mol
b. 4Fe(s) + 3O2(g) + 2xH2O( ) 2Fe2O3 xH2O(s)
H = y kJ/mol
c. H2SO4(aq) + CuO(s) CuSO4(aq) + H2O( )
H = z kJ/mol

3. Reaksi a dan b merupakan reaksi endoterm karena


memerlukan kalor dan H berharga positif.
Sementara itu, reaksi c, d, dan e merupakan
reaksi eksoterm karena melepaskan kalor dan H
berharga negatif.

5. a.

b.

Pada reaksi tersebut terjadi perpindahan kalor


dari sistem ke lingkungan sehingga merupakan
reaksi eksoterm.
Persamaan termokimia dari reaksi tersebut:


Ag(s) +  Cl2(g) AgCl(s) H = 127 kJ/mol

4. Reaktan: CO2


Produk: CO(g) +  O2(g)


Entalpi reaktan (awal) lebih kecil dari entalpi produk
(akhir). Dengan demikian, perubahan entalpinya
berharga positif (H > 0) dan reaksi tersebut
termasuk reaksi endoterm.

A. Pilihlah jawaban yang tepat!


1. Jawaban: b
Definisi dari kalor pembakaran standar yaitu kalor
yang dilepaskan atau diserap pada pembakaran
1 mol senyawa pada kondisi standar, atau pada
suhu 25C dan tekanan 1 atm.
2. Jawaban: d
Perubahan entalpi netralisasi standar (Hc) adalah
perubahan entalpi yang dihasilkan atau diperlukan
pada penetralan 1 mol zat basa oleh asam atau 1
mol asam oleh basa pada suhu 25C dan tekanan
1 atm seperti pada reaksi d. Sementara itu, reaksi
c merupakan reaksi pembentukan, reaksi b
merupakan reaksi fermentasi, reaksi a merupakan
reaksi pembakaran, dan reaksi e merupakan reaksi
hidrolisis.
3. Jawaban: d
Penguraian 1 mol AgNO3 memerlukan energi
sebesar 95 kJ. Dengan demikian, pada penguraian
2 mol AgNO3 diperlukan kalor sebesar 2 95 kJ
= 190 kJ. Persamaan termokimianya:
2AgNO3 2Ag + N2 + 3O2 H = +190 kJ
Reaksi a merupakan reaksi ionisasi.
Reaksi b merupakan penguraian AgNO3, tetapi
bukan ke unsur-unsur pembentuknya.
Reaksi c bukan reaksi penguraian karena N dan O
seharusnya diatomik. Reaksi e seharusnya nilai
H reaksi sebesar 95 kJ karena AgNO3 yang
diuraikan sebesar 1 mol.
4. Jawaban: d
Pada reaksi 2NO(g) N2(g) + O2(g) H = +y kJ
berarti:
a. H pembentukan 2NO = y kJ
b. H pembakaran N2 = y kJ
c. H penguraian 2NO = +y kJ
d. pada pembentukan 2 mol NO dibebaskan kalor
sebesar y kJ

e.

pada penguraian 14 gram N2 diperlukan kalor





mol


y kJ =  y kJ

sebesar:  =  mol


5. Jawaban: c
Hf merupakan perubahan entalpi pembentukan
standar 1 mol senyawa. Reaksi pembentukan
1 mol senyawa ditunjukkan oleh reaksi 1) dan 2).
Hf adalah perubahan entalpi penguraian standar
1 mol senyawa. Reaksi penguraian ditunjukkan
oleh reaksi 3) dan 4). Hc adalah perubahan
entalpi pembakaran standar 1 mol senyawa,
ditunjukkan oleh reaksi 5). Oleh karena itu, reaksi
H f , H d , dan H c secara berturut-turut
ditunjukkan oleh nomor 1), 3), dan 5).
6. Jawaban: d
mol bahan bakar =
=

" #$ #


% #$ #
& "
 "!"

= 0,05 mol
Entalpi pembakaran yang dihasilkan
= mol entalpi
=
=

&



&


5,460 kJ
5,460 kJ

7. Jawaban: b
H = Hf produk Hf reaktan
= {(4 H CO2 + 2 H H2O) (2 H C2H2 +
5 H O2)}
2.600 = {(4(395) + 2(285)) (2(H C2H2) + 5(0))}
2.600 = {(2.150) 2(H C2H2)}
2(H C2H2) = 450 kJ
Hf C2H2 =

'


= +225 kJ

Kimia Kelas XI

23

8. Jawaban: d
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)
H = 802 kJ/mol

mol H2 ~ mol H2O ~ 0,25 mol


H = mol H2O Hf H2O
= 0,25 mol (241,8) kJ/mol = 60,45 kJ

&

mol CH4 =  = 0,3 mol


Kalor yang dibebaskan pada pembakaran 4,8 g
CH4 = 0,3 mol 802 kJ.
= 240,6 kJ
9. Jawaban: c
Reaksi pembakaran standar berarti jumlah gas
metana yang dibakar sebanyak 1 mol.
mol CH4 pada 5 gram CH4:
mol CH4 =
=

"
%

3. Massa NaCl = 1 gram


Mol NaCl =
=

= 0,017 mol
Entalpi pembentukan standar ditentukan pada
1 mol NaCl, sehingga massa NaCl yang diperlukan
harus sebanyak 58,5 gram.
a. Entalpi pembakaran pada 1 mol NaCl
=




b.

= 0,3125 mol
Kalor yang dibebaskan pada pembakaran 1 mol
CH4 =


&


278 kJ = 889,6 kJ/mol

Persamaan termokimia reaksi pembakaran standar


CH4 sebagai berikut.
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g) Hc = 889,6 kJ
10. Jawaban: d
4Li(s) + O2(g) 2Li2O(s) Hf = 598,8 kJ/mol
2 mol Li2O = 598,8
Kalor yang dilepas =
150 =

" *


" *


Hf Li2O

598,8

mol Li2O = 0,5 mol


mol Li = 2 mol Li2O = 1 mol
massa Li = mol Ar Li = 1 7 = 7 g
B.

Uraian

1. Persamaan termokimia reaksi-reaksi pembentukan


zat-zat tersebut sebagai berikut.
a.




H (g) +  N2(g) +  O2(g) HNO3(g)


 2

Hf = 135 kJ mol1
b.

Na(s) + P(s) + 2O2(g) NaPO4(s)

c.

C(s) +

CH3NO2( )

2. Reaksi:

24

Termokimia

H2O(g) Hf = 241,8 kJ/mol


= 0,25 mol

7,024 kJ = 413,18 kJmol1

Na(s) +  Cl2(g) NaCl(s) Hc = 413,18 kJ/mol


4. Diketahui: Hf H2O(g) = 245 kJ
Hf H2O( ) = 287 kJ


mol H2O =  = 3,5 mol




H2 +  O2 H2O(g)

H = 245 kJ

H2O( ) H2 +  O2 H = +287 kJ
+
H = +42 kJ
H2O( ) H2O(g)
Persamaan termokimia: H2O( ) H2O(g) 42 kJ.
Untuk menguapkan 1 mol H2O diperlukan kalor
sebesar 42 kJ. Dengan demikian, untuk
menguapkan 3,5 mol H 2O diperlukan kalor
sebanyak 3,5 42 kJ = 147 kJ.
Jadi, kalor yang diperlukan untuk menguapkan
63 gram air sebanyak 147 kJ.
5. Diketahui entalpi pembakaran isooktana yaitu
5.460 kJ mol1 dan massa jenis isooktan = 0,7 kg L1.
Dengan demikian massa isooktan dalam 1 L bensin
= 87% 1 L 0,7 kg L1
= 0,609 kg = 609 gram
mol isooktana =
=

Hf = 1.134 kJ mol1

H2(g) +  O2(g)
& *
mol H2 =
& *


&

Persamaan termokimia pembentukan standar


NaCl

Hf = 1.917,4 kJ mol1


H (g) +  N2(g) + O2(g)
 2

" ?
% ?

& !"

" 
% 
\
= 5,34
 !"

mol

Kalor yang dibebaskan pada pembakaran 1 L bensin


=

&



mol 5.460 kJ mol1

= 29.156,4 kJ
Jadi, kalor yang dibebaskan pada pembakaran
1 L bensin sebesar 29.156,4 kJ.

A. Pilihlah jawaban yang tepat!


1. Jawaban: d
Hf NH3(g) = 46 kJ/mol
Persamaan termokimia:


N (g) +  H2(g) NH3(g)


 2

H = 46 kJ/mol

Besarnya perubahan entalpi untuk reaksi:


2NH3(g) N2(g) + 3H2(g) yaitu 2 (46) = 92 kJ.
Karena reaksi tersebut kebalikan dari reaksi pembentukan NH3, maka harga perubahan entalpinya
juga kebalikan sehingga H = +92 kJ/mol.
2. Jawaban: b
Hc CH4 merupakan reaksi pembakaran metana:
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)
H = 890 kJ/mol
Hf CO2 merupakan reaksi pembentukan CO2:
C(s) + O2(g) CO2(g)
H = 393,5 kJ/mol
Hf H2O merupakan reaksi pembentukan air:


H2(g) +  O2(g) H2O(g) H = 285,8 kJ/mol


Reaksi pembentukan gas metana:
C(s) + 2H2(g) CH4(g)
H = . . . ?
Perubahan entalpi pembentukan gas metana dapat
diperoleh dari penjumlahan reaksi pembakaran
metana, pembentukan CO2, dan pembentukan air.
Pada penggabungan reaksi tersebut, reaksi
pembakaran metana dibalik untuk mendapatkan
gas metana di ruas kanan, sedangkan reaksi
pembentukan air dikalikan dua. Penggabungan
reaksi-reaksi tersebut sebagai berikut.
CO2(g) + 2H2O(g) CH4(g) + 2O2(g) H = 890 kJ
C(s) + O2(g) CO2(g)

H = 393,5 kJ

2H2(g) + O2(g) 2H2O(g)


H = 571,6 kJ
+
C(s) + 2H2(g) CH4(g)
H = 75,1 kJ

3. Jawaban: c
Reaksi pembakaran CH4:
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g) H = 80 kJ/mol
mol CH4 =
=

" ?_
% ?_
 "
=
 !"

0,5 mol

4. Jawaban: b
Reaksi yang diminta:
2NO2(g) N2O4(g)
H = . . . ?
Untuk mendapatkan reaksi tersebut, persamaan
reaksi 1) dibalik dikalikan dua, sedangkan reaksi
2) tetap. Penggabungan kedua persamaan reaksi
tersebut menjadi sebagai berikut.
1) 2NO2(g) 2NO(g) + O2(g) H = 2a kJ
2) 2NO(g) + O2(g) N2O4(g) H = b kJ
+
2NO2(g) N2O4(g)
H = 2a + b kJ
Jadi, besarnya perubahan entalpi untuk reaksi
2NO2(g) N2O4(g) adalah (2a + b) kJ.
5. Jawaban: c
H = m c T
= (50 + 50) g 4,2 J g1 C1 6C
= 25,2 J
6. Jawaban: c
Persamaan reaksi:
2Al(s) + Fe2O3(s) 2Fe(s) + AI2O3(s)
diperoleh dari penggabungan kedua reaksi di atas,
dengan cara membalik persamaan reaksi (1) dan
menjumlahkannya dengan reaksi (2). Persamaan
reaksinya menjadi sebagai berikut.
1) Fe2O3(s) 2Fe(s) +
2) 2Al(s) +

kJ/mol) = 40 kJ

Jadi, perubahan entalpi pembakaran 8 gram CH4


sebesar 40 kJ.

O2(g)

O2(g) Al2O3(s)

H = +840 kJ
H = 1.680 kJ

2Al(s) + Fe2O3(s) 2Fe(s) + Al2O3(s) H = 840 kJ

Jadi, harga perubahan entalpi untuk reaksi


2Al(s) + Fe2O3(s) 2Fe(s) + Al2O3(s)
sebesar 840 kJ.
7. Jawaban: a
Massa larutan = volume massa jenis air
= (2 1.000) ml 1 g/ml
= 2.000 g
T = (75-27)C = 48C
c = 4,2 J g1 C1
q = m c T
= 2.000 4,2 48
= 403.200 J
= 403,2 kJ
Mol elpiji =

Jika kalor pembakaran 1 mol CH4 sebesar 80 kJ/mol


maka perubahan entalpi 0,25 mol CH4:
&
(80


" ?
_
% ?
_

= = 1 mol
H =
=

`
"

&


= 403,2 kJ/mol

Kimia Kelas XI

25

8. Jawaban: b
Persamaan reaksi pembentukan Ca(OH) 2(s)
sebagai berikut.
Ca(s) + O2(g) + H2(g) Ca(OH)2(s)
Reaksi tersebut dapat diperoleh dengan menggabungkan ketiga reaksi di atas, yaitu reaksi 2)
dan 3) dibagi dua sedangkan reaksi 1) tetap. Penggabungan ketiga reaksi tersebut sebagai berikut.
1)

CaO(s) + H2O( ) Ca(OH)2(s)

2)

H2(g) +




Diagram tingkat energinya sebagai berikut.


H
CaO(s) + H2O( )
H = 258 kJ
Ca(OH) 2(aq)

H = 64 kJ

O2(g) H2O( )

H = 285,5 kJ

3)
Ca(s) +  O2(g) CaO(s)
H = 634,5 kJ
+
Ca(s) + H2(g) + O2(g) Ca(OH)2(s) H = 984 kJ

13. Jawaban: c
H ={(DC = C + 4(DC H) + 2(DO H)) (DC C +
5(DC H) + DC O + DO H)}
= {(607 + 4(410) + 2(460)) (343 + 5(410) +
351 + 460)}

Jadi, harga H untuk reaksi pembentukan


Ca(OH)2(s) sebesar 984 kJ/mol.
9. Jawaban: b
Reaksi pembakaran (Hc) 2 mol C:
2C + 2O2 2CO2, H = 790,4 kkal
Reaksi pembakaran (Hc) 2 mol CO:
2CO + O2 2CO2, H = 568,6 kkal
Reaksi pembentukan (Hf) CO:
2C + 2O2 2CO2 H = 790,4 kkal
2CO2 2CO + O2 H = +568,6 kkal
+
2C + O2 2CO
H = 221,8 kkal
H untuk 1 mol CO =

&


kkal = 110,9 kkal.

10. Jawaban: e
Perubahan entalpi pada pembakaran 1 mol propana
sebesar 2.220 kJ. Persamaan reaksi:
C3H8(g) + 5O2(g) 3CO2 (g)+ 4H2O(g)
mol CO2 =

"? 
% ? 



= 37 kJ/mol
14. Jawaban: e
H4 = H1 + H2 + H3
22,6 = H1 228,2 kJ 110,2 kJ
H1 = 22,6 kJ (228,2 kJ) (110,2 kJ)
= 361 kJ
15. Jawaban: c
Reaksi pembakaran etanol merupakan reaksi
eksoterm karena Hreaksi berharga negatif. H
reaksi diperoleh dari pengurangan Hproduk dengan
Hreaktan. Karena Hreaksi berharga negatif maka
Hproduk < Hreaktan.
Jadi, grafik persamaan reaksi pembakaran etanol
sebagai berikut.
Energy/Energi
C2H5OH( ) + 3O2(g)
2CO2(g) + 3H2O( )

mol

Banyak kalor untuk 3 mol CO2 =  (2.220) kJ




Banyak kalor untuk mol CO2:




 (2.220) kJ = (2.220) kJ

11. Jawaban: a
H1 = H2 + H3
H2 = H1 H3
= 66 kJ (114 kJ)
= 180 kJ
12. Jawaban: d
Reaksi pembentukan Ca(OH)2(aq):
CaO(s) + H2O( ) Ca(OH)2(aq) H = 258 kJ
Oleh karena pada reaksi tersebut dibebaskan kalor,
maka perubahan entalpinya berharga negatif.
Dengan demikian, entalpi produk Ca(OH)2 lebih
kecil daripada entalpi reaktan (CaO(s) + H2O( )).
26

Termokimia

B.

Uraian

1. Persamaan termokimia pembakaran 2 mol gas


etuna sebagai berikut.
2C2H2(g) + 5O2(g) 4CO2(g) + 2H2O(g)
H = 2.372 kJ
mol C2H2 pada kondisi standar (STP)
=
=

 " ?_
 " 
& *
= 0,125
& *

mol

Kalor yang dilepas pada STP


=
=

" ?_ 
H
" ?_
&
(2.372) kJ


= 148,25 kJ

Jadi, kalor yang dilepaskan pada pembakaran


2,8 L C2H2 sebanyak 148,25 kJ .

2. T1 = 20C
T2 = 35C
T = (35 20)C = 15
a. Kalor reaksi total pada reaksi diperoleh dari
penjumlahan kalor reaksi larutan dan kalor
reaksi kalorimeter.
1) Kalor reaksi larutan (H1)
H1 = m c T
= (250 + 250) ml 1 kal/gramC 15C
= 7.500 kal
2) Kalor reaksi kalorimeter (H2)
H2 = C T
= 120 kal/gramC 15C
= 1.800 kal
Kalor reaksi total = H1 + H2
= (7.500 + 1.800) kal
= 9.300 kal
= 9,3 kkal
1 kal = 4,2 joule
Kalor reaksi total = 9,3 kkal 4,2 J
= 39,06 kJ
Jadi, jumlah kalor reaksi total yang diperlukan pada reaksi tersebut sebesar
39,06 kJ.
b. Persamaan termokimia:
HBr(aq) + NaOH(aq) NaBr(aq) + H2O(aq)
H = 39,06 kJ/mol

mol =

`
_

mol cuplikan =
Mr cuplikan =

 &

&

& 
& "

= 5,44 mol

= 46

Jadi, Mr cuplikan yang dibakar 46 g/mol.


4. Reaksi penguapan 2 mol air:
2H2O( ) 2H2O(g)
H = Hf H2O(g) Hf H2O( )
= 484 kJ (570) kJ
= +86 kJ
Persamaan termokimia penguapan 2 mol air;
2H2O( ) 2H2O(g)
H = +86 kJ
Kalor yang dilepaskan/diserap pada proses


penguapan 1 mol air adalah  86 kJ = 43 kJ.


Jadi, kalor yang diserap pada proses penguapan
1 mol air sebesar 43 kJ.
5. H2C = CH2 + Cl2 ClH2C CH2Cl
Hreaksi = {(DC = C + 4 DC H + DCl Cl) (DC C +
2 DC Cl + 4 DC H)}
= {(612 + 4(414) + 243) (347 + 2(331) +
4(414))}

3. Cuplikan + O2 2CO2 + 3H2O


q = 7.464,77 kJ

= 154 kJ/mol

H = {(2 HfCO2 + 3 HfH2O) (Hf cuplikan


+ Hf O2)}
= {(2(395,2) + 3(286,9)) (278,9 + 0)}
= 1.372,2 kJ/mol

A.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: d
Reaksi di atas merupakan reaksi penguraian
1 mol CaCO3, dengan menyerap kalor sejumlah
y kkal. Dengan demikian, y disebut sebagai kalor
penguraian CaCO3.
2. Jawaban: d
Perubahan entalpi pembentukan standar gas HI


berasal dari  mol gas H2 dan  mol gas I2


membentuk 1 mol gas HI. Persamaan reaksinya


dituliskan  H2(g) +  I2(g) HI(g).

3. Jawaban: d
Persamaan reaksi 2CO + O2 2CO2 merupakan
reaksi pembakaran 2 mol CO. Oleh karena itu,
perubahan entalpinya merupakan kalor pembakaran 2 mol CO, yaitu sebesar x kJ/mol, sedangkan
untuk pembakaran 1 mol CO kalor pembakarannya


sebesar  x kJ/mol = 0,5x kJ/mol.


4. Jawaban: a
Persamaan termokimia pembentukan CO:


C(s) +  O2(g) CO(g)


H = x kkal/mol
Persamaan termokimia pembakaran CO:


CO(g) +  O2(g) CO2(g)

H = y kkal/mol

Kimia Kelas XI

27

Persamaan termokimia pembentukan CO2:


C(s) + O2(g) CO2(g)
H = . . . kkal/mol
Reaksi pembentukan CO2 dapat diperoleh dari
penjumlahan reaksi pembentukan CO dan pembakaran CO dengan persamaan sebagai berikut.

C(s) +  O2(g) CO(g)

CO(g) +  O2(g) CO2(g)

H = x kkal/mol

H = y kkal/mol
+
C(s) + O2(g) CO2(g)
H = (x + y) kkal/mol
Jadi, kalor pembentukan CO 2 yang diserap
(x + y) kkal/mol.

5. Jawaban: c
Reaksi penguraian NO:
2NO(g) N2(g) + O2(g) H = 43,2 kkal
Untuk menguraikan 2 mol gas NO dilepaskan kalor
43,2 kkal.
mol NO =

"
% 


 

= 1,5 mol
&"

kalor yang dilepas = " 43,2 kkal


= 32,4 kkal
Jadi, pada penguraian 45 g NO akan dilepaskan
kalor sebesar 32,4 kkal.
6. Jawaban: b
Pada reaksi termokimia:
2HBr(g) H2(g) + Br2(g) H = +x kJ/mol
1) diperlukan energi sebesar x untuk menguraikan 2 mol HBr;
2) merupakan reaksi endoterm karena H positif;
3) diperlukan panas untuk memutuskan ikatan
molekul HBr.
7. Jawaban: d
Reaksi pembakaran gas etana:

C2H6(g) +  O2(g) 2CO2(g) + 3H2O(g) H = . . . ?


Hr =Hproduk Hreaktan
=(2 Hf CO2 + 3 Hf H2O) (Hf C2H6
+


Hf O2)


= (2 (393,5) + (3 (285,8)) ((84,7) +0)


= (787) + (857,4) + 84,7
= 1.644,4 + 84,7
= 1.559,7
Jadi, banyaknya kalor yang dilepas pada pembakaran gas etana tersebut sebesar 1.559,7 kJ/mol.

28

Termokimia

8. Jawaban: e
Reaksi penguapan air: H2O( ) H2O(g)
Dengan demikian reaksi 1) pada soal dibalik.


H2O( ) H2(g) +  O2(g)

H = 286 kJ/mol

H2(g) +  O2(g) H2O(g) H = 242 kJ/mol


+
H2O( ) H2O(g)
H = 44 kJ/mol
H > 0 berarti menyerap kalor.
Jika massa air 2,25 gram, besarnya kalor yang
diserap =

&
!"

44 kJ/mol = 5,5 kJ

Jadi, besarnya kalor yang diserap pada proses penguapan 2,25 gram air dari tubuh kita adalah 5,5 kJ.
9. Jawaban: d
Persamaan termokimia penguraian natrium
bikarbonat sebagai berikut.
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + H2O( ) + CO2(g)
H = . . . ?
Hreaksi = Hproduk Hreaktan
= (Hf Na2CO3 + Hf H2O + Hf CO2)
(2 Hf NaHCO3)
= (120 + 80 + 75) (2 95)
= 275 190
= 85
Jadi, perubahan entalpi reaksi penguraian NaHCO3
tersebut sebesar 85 kJ.
10. Jawaban: a
Persamaan termokimia dari pembakaran C, H, dan
C2H5OH berturut-turut sebagai berikut.
C + O2 CO2
H2 +




O2 H2O

C2H5OH + 3O2 2CO2 + 3H2O

H = 393 kJ
H = 286 kJ
H = 1.368 kJ

Reaksi pembentukan etanol berdasarkan reaksi


pembakaran tersebut sebagai berikut.
2C + 2O2 2CO2
3H2 +

O2 3H2O

H = 786 kJ
H = 858 kJ

2CO2 + 3H2O C2H5OH + 3O2 H = +1.368 kJ


+


2C + 3H2 +  O2 C2H5OH H = 276 kJ


Jadi, entalpi pembentukan etanol dari data reaksi
pembakaran tersebut sebesar 276 kJ mol1.

Perubahan entalpi untuk reaksi tersebut diperoleh


dari penjumlahan kedua reaksi pembakaran
tersebut. Caranya persamaan reaksi 1) dibalik
dikalikan dua, sedangkan persamaan reaksi 2)
tetap.

11. Jawaban: a
Grafik pengembunan air sebagai berikut.
2H 2O(g)

484

1)

2)
C6H12O6(s) + 6O2(g) 6CO2(g) + 6H2O(g) H = 2.820
+
H = 60
C6H12O6(s) 2CO2(g) + 2C2H5OH(aq)

2H 2 O( )

570

Persamaan termokimianya:
H = 86 kJ
2H2O(g) 2H2O( )
H = Hproduk Hreaktan
= 570 (484) kJ = 86 kJ
Energi sebesar 86 kJ tersebut digunakan untuk mengembunkan 2 mol air. Maka energi yang dilepaskan
untuk mengembunkan 1 mol air adalah 86 : 2 = 43 kJ.
12. Jawaban: b
Untuk mendapatkan reaksi:
Cu(s) + Cl2(g) CuCl2(s) maka reaksi 1 dibalik
dan dibagi 2. Reaksi 2 tetap dan dibagi 2, keduanya
menjadi:


Cu(s) +  Cl2(g) CuCl(s)

H = 137,2 kJ


Cl (g)
 2

CuCl(s) +
CuCl2(s) H = 82,9 kJ

Cu(s) + Cl2(g) CuCl2(s) H = 220,1 kJ/mol


13. Jawaban: a


Mg(s) +  O2(g) MgO(s)



%

mol MgO =

&\
&

= 0,3 mol
Hf MgO =

`
" %

Hf MgO =

& '
&
"

4CO2(g) + 6H2O(g) 2C2H2OH(aq) + 6O2(g) H = +2.760

= 601,8 kJ/mol
14. Jawaban: b
H = {(4 DC H + 2 DO = O) (2 DC = O +

Jadi, perubahan entalpi pada reaksi fermentasi


glukosa sebesar 60 kJ.
16. Jawaban: e
Persamaan reaksi pembakaran gas C2H2:


C2H2(g) +  O2(g) 2CO2(g) + H2O(g)


Hreaksi = Hproduk Hreaktan
= (2 Hf CO2 + Hf H2O) Hf C2H2
= (2 (394) + (242)) 52
= ((788) + (242)) 52
= 1.030 52
= 1.082
mol C2H2 =
=

4 DC H = 1.435
DC H = 358,75 kJ mol1
15. Jawaban: b
Persamaan reaksi fermentasi glukosa sebagai
berikut.
C6H12O6(s) 2C2H5OH(aq) + 2CO2(g)

 "
 !"

= 2 mol
Hreaksi = mol C2H2 Hc


=  (1.082)
= 2.164
Jadi, banyaknya kalor yang dibebaskan pada pembakaran 52 gram gas etuna sebesar 2.164 kJ.
17. Jawaban: c
Persamaan reaksi pembentukan Mg3N2:
3Mg(s) + N2(g) Mg3N2(s) H = 28 kJ
" %


=  = 0,125 mol
 %
   %

mol Mg3N2 =    % mol Mg

=
0.125

mol Mg =

= 0,0417 mol
Hf Mg3N2 =

4 DO H)}
109 = {(4 DC H + 2(335)) (2(243) + 4(432))}

" ?_
% ?_


" %
 Hr

(28)
& 

= 671,5
Jadi, perubahan entalpi pada pembentukan standar
Mg3N2 sebesar 671,5 kJ/mol.
18. Jawaban: a
Reaksi pembentukan karbon monoksida:


C(s) +  O2(g) CO(g)

Kimia Kelas XI

29

Reaksi ini dapat diperoleh dari penjumlahan kedua


reaksi pembakaran tersebut sesuai hukum Hess.
Untuk mendapatkan persamaan reaksi pembentukan CO, reaksi 1) dibalik dibagi dua, sedangkan reaksi 2) tetap.




N +  O2
 2

NO

H = Epemutusan reaktan Epenggabungan produk




CO2(g) CO(g) +  O2(g) H = +284,5 kJ/mol

90 kJ/mol = {(  (DN N) +  (DO = O)) (DN = O)}

C(s) + O2(g) CO2(g)


H = 394 kJ/mol
+

90 kJ/mol = {(  (941) +  (499)) (DN = O)}

C(g) +  O2(g) CO(g)


mol CO =
=

H = 109,5 kJ/mol

" ?
% ?

 
 !"

= 3 mol

19. Jawaban: d
Sesuai dengan hukum Hess:
H2 + H3 = H1
H2 = H1 H3
20. Jawaban: d
H = {2(2(DO H)) (2(DH H) + DO = O)}
= {2(2(464)) (2(436) + 500)}
= 484 kJ/mol
H = 484 kJ/mol

\
!"

= 242 kJ

21. Jawaban: d
Reaksi pembentukan standar C4H10 sebagai
berikut.
4C(s) + 5H2(g) C4H10(g) H = 131,6 kJ/mol
H = energi ikatan pereaksi energi ikatan
produk
131,6 = (4Hsub C(s) + 5DHH) (3DCC + 10DCH)
131,6 = (4(718,4) + 5(436)) (3(348) + 10DCH)
131,6 = (2.873,6 + 2.180) (1.044 + 10DCH)
131,6 = 4.009,6 10DCH
DCH = 414,12 kJ/mol
22. Jawaban: b
CH2=CH2 + HCl CH3CH2Cl
H = energi ikatan pereaksi energi ikatan
produk
= {4(C H) + (C = C) + (H Cl)} {5(C H)
+ (C C) + (C Cl)}
= {4(412) + (609) + (426)} {5(412) + (345)
+ (326)}
= 2.683 2.731
= 48 kJ/mol

Termokimia

DN = O = (720 90) kJ/mol


= 630 kJ/mol
24. Jawaban: c

H pembentukan 3 mol CO =  (109,5)


= 328,5 kJ
Jadi, H pada pembentukan 3 mol CO sebesar
328,5 kJ.

30

23. Jawaban: a

H H
|
|
H C C O H + 3O = O 2O = C = O + 3H O H
|
|
H H

H = energi ikatan pereaksi energi ikatan


produk
= {5(CH) + (CC) + (CO) + (OH) + 3(O=O)}
{2(2(C=O)) + 3(2(OH))}
= {5(414) + (348) + (358) + (463) + 3(495)}
{2(2(799)) + 3(2(463))}
= 4.724 5.974
= 1.250 kJ/mol
25. Jawaban: c
H3 = H1 + H2
= 593 kJ + (197 kJ)
= 790 kJ
perubahan entalpi pembentukan 1 mol gas SO3
=

\ '
 "

= 395 kJ/mol.

26. Jawaban: c
qreaksi = qair + qkalorimeter
= (mair cair T) + (Ckalorimeter T)
31.400 = (1.200 4,2 4,6) + (Ckalorimeter 4,6)
Ckalorimeter =

  

&

= 1.786 JC1 = 1,786 kJC1


27. Jawaban: e
mlarutan = kerapatan volume larutan
= 1 g/ml 100 ml
= 100 g
qlarutan = m c T
= 100 g 4,2 J/gC 5C
= 2.100 J
= 2,1 kJ
mol HCl = 50 ml 0,1 M
= 5 mmol
= 0,005 mol

B.

Hn = "
=

&'
&"

Uraian

1. a.
= 420 kJ/mol

28. Jawaban: e
qreaksi = H mol CH4
qreaksi = 840 kJ/mol

b.

T = Takhir Tawal
Takhir = T + Tawal
Takhir = (40 + 25)C
= 65C




c.

&
\!"

N (g) +  H2(g)
 2

b.
= 1,254 kJ

q = m c T
1.254 J = (7,5 + 105)g 4,184 J/gC T
T = 2,66C
Takhir = T + Tawal
= (2,66 + 23,6)C
= 20,9C
30. Jawaban: a
Perubahan panas yang diterima kalorimeter:
q = m c t
= 100 g 4,18 J/Cg (23,4 22,6)C
= 334,4 J
Diketahui dari data bahwa suhu akhir lebih besar
daripada suhu awal sehingga reaksi tersebut
termasuk reaksi eksoterm. Dengan demikian,
besarnya kalor 334,4 J.
Reaksi yang terjadi:
AgNO3 + HCl AgCl + HNO3
5 mmol

Kalor untuk pembentukan AgCl:


=

H2(g)

Persamaan termokimia pembentukan:




`
"

5 mmol

NH3(g) H = 52,4 kJ/mol

2. Persamaan termokimia:
2C2H6(g) + 7O2(g) 4CO2(g) + 6H2O( )
H = 3.120 kJ
a. H untuk 1 mol C2H6:

q = 1,254 kJ = 1.254 J

5 mmol

N2(g) +

H = +52,4 kJ

NH3(g)

29. Jawaban: b

q = 19,9 kJ/mol

NH3(g)  N2(g) +  H2(g) H = +52,4 kJ/mol


Diagram tingkat energi


!"

= 105 kJ = 105.000 J
qreaksi = 105.000 J
qreaksi = qair + qkalorimeter
= (m c T) + (C T)
105.000 = (500 4,2 T) + (525 T)
T = 40

Hsol KBr =

Persamaan termokimia

& '
 
"

= 66.880 J/mol
= 66,88 kJ/mol = 67 kJ/mol

Hr =  (3.120) kJ = 1.560 kJ/mol

H untuk 1 gram C2H6:


mol C2H6 =
=

" ? _
% ?_

"

 !"

= 0,033 mol
H =

&

(3.120) kJ

= 46,8 kJ
Jadi, perubahan entalpi untuk 1 mol C2H6 sebesar
1.560 kJ, sedangkan untuk 1 gram C2H6 sebesar
46,8 kJ.
3. Persamaan termokimia untuk reaksi pembentukan
standar H2O( ):


H2(g) +  O2(g) H2O( ) H = 285,85 kj mol1


Persamaan termokimia untuk reaksi pembentukan
standar H3PO4(s):

H (g) + P(s) + 2O2(g) H3PO4(s)


 2

H = 1.281 kJ mol1
Dengan demikian H penguraian dari:
a. 2H2O( ):
2H2O( ) 2H2(g) + O2(g) H = 571,7 kJ
b. 4H3PO4(s) 6H2(g) + 4P(s) + 8O2(g)
H = 5.124 kJ

Kimia Kelas XI

31

4. H2 = H3 H1
= 983 (206)
= 777 kJ/mol

Hreaksi = {(12 Hf CO2 + 6 Hf H2O)


(2 Hf C6H6 + 15 Hf O2)}

5. Reaksi peleburan es: 2H2O(s) 2H2O( )


H3 = H1 + H2
572 = 584 + H2
H2 = 572 + 584
= 12 kJ
 '
 "

Peleburan 1 mol es =

= 6 kJ/mol

6. Reaksi 1) dibalik dan dibagi 2.


Reaksi 2) dibagi 2.


BrF(g)  Br2( ) +  F2(g)

H = +94 kJ

Br (g) +  F2(g)
 2

BrF3(g) H = 384 kJ
+
BrF(g) + F2(g) BrF3(g) H = 290 kJ
Jadi, H reaksi tersebut sebesar 290 kJ.
7. Kalor reaksi larutan = m c T
= (250 + 250) 1 (38 18)C
= 10.000 kal
Kalor reaksi kalorimeter = C T
= 120 20
= 2.400 kal
Kalor reaksi total = (10.000 + 2.400) kal
= 12.400 kal
1 kalori = 4,2 joule
Kalor reaksi total = 12.400 kal 4,2 J
= 52.080 J
= 52,08 kJ
Jadi, kalor reaksi total dalam kalorimeter sebesar
52,08 kJ.
8. 2C6H6( ) + 15O2(g) 12CO2(g) + 6H2O( )
mol C6H6 =
=
H =

"?_
% ?_

&
mol


`
"

Hc C6H6 =

&\'

&
"


= 1.584,745 kJ/mol

32

Termokimia

1.584,745 = {(12 (Hf CO2) + 6 (285,84)


(2(2.426,14) + 15 (0))}
12 Hf CO2 = 4.721,985 kJ/mol
Hf CO2 = 393,49 kJ/mol
9. Proses penyubliman pada penurunan suhu
berlangsung jika suatu zat berubah wujud dari gas
ke padat. Perubahan wujud ini terjadi pada
persamaan reaksi termokimia 1) dan 3).
Persamaan reaksinya digabungkan, reaksi 1)
dibalik, sedangkan reaksi 3) tetap.
1) 2AB(g) A2(g) + B2(g) H = x kJ
3) A2(g) + B2(g) 2AB(s) H = z kJ
+
2AB(g) 2AB(s)
H = x + z kJ
Kalor sublimasi untuk 2 mol AB sebesar z x kJ.
Dengan demikian, kalor sublimasi untuk 1 mol


AB sebesar =  H


=  (z x) kJ/mol


=  (z x) kJ/mol
Jadi, besarnya kalor sublimasi 1 mol senyawa AB


adalah  (z x) kJ/mol.
10. CH3 CH = CH CH3 + Br2 CH3 CH CH CH3
|
|
Br Br
H = energi ikatan pereaksi energi ikatan
produk
= {8(CH) + 2(CC) + (C=C) + (BrBr)}
{8(C-H) + 3(C-C) + 2(C-Br)}
= {8(415) + 2(345) + (611) + (190)} {8(415)
+ 3(345) + 2(275)}
= 4811 4905
= 94 kJ/mol

A.

Pilihan Ganda

1. Jawaban: c
Konfigurasi elektron unsur dengan nomor atom:
35 : [Ar] 4s2 3d10 4p5 periode 4, golongan VIIA
33: [Ar] 4s2 3d10 4p3 periode 4, golongan VA
23: [Ar] 4s2 3d3 periode 4, golongan VB
19: [Ar] 4s1 periode 4, golongan IA
11: [Ar] 3s1 periode 3, golongan IA
2. Jawaban: d
Elektron valensi pada konfigurasi elektron tersebut
terletak pada subkulit s dan d. Dengan demikian,
unsur tersebut menempati golongan B atau
golongan logam transisi.
3. Jawaban: b
Unsur R terletak pada golongan IA dan periode 4.
Hal ini berarti unsur R mempunyai elektron valensi
1 dan kulit atom 4. Konfigurasi elektron unsur R
sebagai berikut.
R: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1
Nomor atom unsur R adalah 19.
Unsur dengan konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2
terletak pada golongan IIA dan periode 3. Unsur
dengan konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s1 terletak
pada golongan IA dan periode 3. Unsur dengan
konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d1 kurang
tepat karena energi 4s lebih rendah daripada 3d
sehingga konfigurasi elektron seharusnya melewati
4s sebelum 3d. Unsur dengan konfigurasi elektron
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 terletak pada golongan VIIIA
dan periode 3.
4. Jawaban: c
Konfigurasi elektron X2: 1s2 2s2 2p4
Konfigurasi elektron X : 1s2 2s2 2p2
n terbesar: 2 periode 2
Elektron valensi terletak pada subkulit s, p
= 2 + 2 = 4 (golongan IV) blok p (golongan A). Jadi,
unsur X terletak pada golongan IVA dan periode 2.
5. Jawaban: d
Nomor massa X = 35
Jumlah neutron X = 18
Jumlah elektron X = 35 18 = 17
Konfigurasi elektron X = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5

Kulit terbesar = 3 periode 3


Jumlah elektron valensi pada subkulit s + p = 7
golongan VII A.
Jadi, unsur X dalam sistem periodik terletak pada
golongan VIIA periode 3.
6. Jawaban: b
Aturan Aufbau: penulisan konfigurasi elektron
dimulai dari tingkat energi yang lebih rendah
kemudian ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Aturan Hund: pada pengisian orbital-orbital dengan
tingkat energi yang sama, yaitu orbital-orbital dalam
satu subkulit, mula-mula elektron akan menempati
orbital secara sendiri-sendiri dengan spin yang
paralel, baru kemudian berpasangan.
7. Jawaban: b
Unsur-unsur dalam periode yang sama mempunyai
jumlah kulit yang sama. Sementara itu, jika elektron
valensi dan sifat kimia sama menunjukkan kesamaan
golongan.
8. Jawaban: a
Unsur 86
37X mempunyai konfigurasi elektron sebagai
berikut.
2
2
6
2
6
2
10
6
1
37X : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s
Unsur tersebut mempunyai elektron valensi 1 dan
kulit atom 5 sehingga terletak pada golongan IA
dan periode 5. Unsur golongan VA dan periode 3
mempunyai nomor atom 15. Unsur golongan VA
dan periode 5 mempunyai nomor atom 51. Unsur
golongan VA dan periode 7 belum ditemukan. Unsur
golongan VIIA dan periode 5 mempunyai nomor
atom 53.
9. Jawaban: b
Konfigurasi elektron: [Ar] 4s2 3d10 4p5 periode
4, golongan VIIA.
Elektron tersebut mempunyai kemiripan dengan
unsur bernomor atom 9.
Konfigurasi elektron: 1s2 2s2 2p5 golongan VIIA.
Sementara itu, konfigurasi elektron unsur bernomor
atom:
6 : 2.4 golongan IVA, periode 2
12 : 2.8.2 golongan IIA, periode 3
15 : 2.8.5 golongan VA, periode 3
16 : 2.8.6 golongan VIA, periode 3

Kimia Kelas XI

33

10. Jawaban: d
Konfigurasi elektron unsur:
3P

: 1s2 2s1, golongan IA

4Q

: 1s2 2s2, golongan IIA

15. Jawaban: b
n terbesar = 4
= 2 orbital d
m = 1

2
1
13R : [Ne] 3s 3p golongan IIIA
17S

: [Ne] 3s2 3p5 golongan VIIA

20T

: [Ar] 4s2 golongan IIA

11. Jawaban: c
Konfigurasi elektron unsur 32
16X sebagai berikut.
2 2s2 2p6 3s2 3p4
X
=
1s
16
Ion X2 artinya unsur X menangkap 2 elektron.
Dengan demikian, konfigurasi elektron ion X2
sebagai berikut.
X2 : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
Konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2 3p2 mempunyai
nomor atom 14. Konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6
3s2 3p6 3d2 dan 1s2 2s2 2p6 3s2 3p2 3d2 merupakan
konfigurasi yang tidak tepat karena orbital 4s yang
seharusnya berada sebelum 3d tidak disebutkan.
12. Jawaban: e
Ion dengan konfigurasi elektron [Ar] 4s1 3d5, berarti
ion tersebut mempunyai jumlah elektron = 18 + 1
+ 5 = 24. Ion bermuatan +2 yang mempunyai
konfigurasi elektron [Ar] 4s1 3d5 mempunyai nomor
atom 26.
Jumlah elektron pada masing-masing ion di atas;
a. 20Ca2+ = 18 elektron
b. 22Ti2+ = 20 elektron
c. 24Cr2+ = 22 elektron
d. 25Mn2+ = 23 elektron
e. 26Fe2+ = 24 elektron
Jadi, ion yang mempunyai konfigurasi [Ar] 4s1
3d5 adalah ion 26Fe2+.
13. Jawaban: e
Konfigurasi elektron unsur:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d3
Elektron valensi terletak pada orbital 4s2 dan 3d3
sehingga terletak pada golongan VB. Kulit terbesar
di kulit 4 sehingga unsur tersebut terletak pada
periode 4.

s=+

hj h h

h h

Jumlah elektron yang tidak berpasangan pada


orbital di atas sebanyak 4.

34

Ulangan Tengah Semester

2 1




+1 +2

Pada orbital di atas terdapat


2 elektron yang tidak berpasangan dan 3 orbital
kosong.

16. Jawaban: a
1) NO3

2)

3)

4)

5)

14. Jawaban: d
Konfigurasi elektron Fe = [Ar] 4s2 3d6
Diagram orbital 3d6:

4d2

6)

   
  


pasangan elektron =

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 12 (3 3) = 3
PEB = 3 3 = 0
Notasi VSEPR: AX3 (segitiga datar)

= 12

SO3
   
 


pasangan elektron =

= 12

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 12 (3 3) = 3
PEB = 3 3 = 0
Notasi VSEPR: AX3 (segitiga datar)

SO32

   
   


pasangan elektron =

= 13

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 13 (3 3) = 4
PEB = 4 3 = 1
Notasi VSEPR: AX3E (trigonal piramida)

ClF3
   
 


pasangan elektron =

= 14

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 14 (3 3) = 5
PEB = 5 3 = 2
Notasi VSEPR: AX3E2 (bentuk T)

ClO3

   
  


pasangan elektron =

= 13

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 13 (3 3) = 4
PEB = 4 3 = 1
Notasi VSEPR: AX3E (trigonal piramida)

NH3
   
 


pasangan elektron =

=4

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 3 = 1
Notasi VSEPR: AX3E (trigonal piramida)

Dengan demikian, molekul atau ion yang


mempunyai bentuk molekul sama dengan NO3
adalah SO3.
17. Jawaban: b
1
1H = 1s
2
2
4
8O = 1s 2s 2p

Jadi, terdapat 2 ikatan elektron berpasangan.


18. Jawaban: c
TeCl4
pasangan elektron =

     


= 17

PEI = 5 1 = 4
pasangan pusat = 17 (3 4) = 5
PEB = 5 4 = 1
Notasi VSEPR: AX4E dan bentuk molekulnya
bentuk timbangan (tetrahedral terdispersi). Jumlah
domainnya 4 + 1 = 5.
19. Jawaban: c
Unsur X tersebut berupa sulfur (S) sehingga
senyawa oksida yang terbentuk adalah SO2 dan
SO3. Senyawa asam kuat yang dibentuk adalah
H2SO4, sedangkan senyawa fluoridanta yang
dibentuk berupa SF6. Sulfur mempunyai nomor
atom 16. Konfigurasi elektron S sebagai berikut.
2
2
6
2
4
16S = 1s 2s 2p 3s 3p
Jadi, struktur elektron paling luar atom unsur S
adalah s2 p4.
20. Jawaban: b
H2O tersusun oleh dua atom H dan satu atom O.
Molekul H 2 O bersifat polar karena atom O
mempunyai dua pasang elektron bebas. Oleh
karena itu, ikatan OH tidak dapat membentuk satu
garis lurus tetapi membentuk sudut ikatan sebesar
105.
21. Jawaban: e
2
2
6
2
6
2
10
3
33As = 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p elektron
valensi = 5
2
2
5
9F = 1s 2s 2p elektron valensi = 7
Pasangan elektron =

     


keduanya berbentuk tetrahedral dengan PEI tertarik


ke atom Cl. NF3 bersifat polar karena terdapat satu
pasang elektron bebas sehingga distribusi muatan
tidak simetris. BF3 bersifat nonpolar karena tidak
mempunyai PEB sehingga distribusi muatannya
simetris. CO2 dan H2 bersifat nonpolar karena
bentuk molekulnya linear dengan momen dipol =
nol. CH4 dan CCl4 bersifat nonpolar karena tidak
mempunyai pasangan elektron bebas sehingga
distribusi muatan simetris.
23. Jawaban: d
TeF5
pasangan elektron
=
=

22. Jawaban: c
HCl dan BrF sama-sama bersifat polar karena dua
atom penyusunnya mempunyai keelektronegatifan
yang berbeda sehingga pasangan elektron ikatan
(PEI) lebih cenderung tertarik ke salah satu atom.
CH3Cl dan CHCl3 sama-sama bersifat polar karena

( )  (  )  


= 21

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 21 (3 5) = 6
PEB = 6 5 = 1
Notasi VSEPR = AX5E (piramida segi empat).
24. Jawaban: c
2
10
3
51Sb = [Kr] 5s 4d 5p

hj

h h h

hj

hx hx hx

s
p3
x = atom elektron H
Jadi, orbital hibrida senyawa SbH3 = sp3 dan
bentuk molekulnya trigonal piramida.
25. Jawaban: c
1) NH3

2)

= 20

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 20 (3 5) = 5
PEB = 5 5 = 0
Jadi, jumlah PEI = 5 dan PEB = 0.

(     )  (      )  

3)

  
 

pasangan elektron =
=4

PEI = 4 1 = 3
pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 3 = 1
Notasi VSEPR: AX3E (trigonal piramida)

XeF4
    


pasangan elektron =

= 18

PEI = 5 1 = 4
pasangan pusat = 18 (3 4) = 6
PEB = 6 4 = 2
Notasi VSEPR: AX4E2 (segi empat datar)

SF4

    

pasangan elektron =
= 17

PEI = 5 1 = 4
pasangan pusat = 17 (3 4) = 5
PEB = 5 4 = 1
Notasi VSEPR: AX 4 E (tetrahedral
terdispersi)
Kimia Kelas XI

35

4)

ICl4

pasangan elektron =

      


= 18

26.

27.

28.

29.

30.

PEI = 5 1 = 4
pasangan pusat = 18 (3 4) = 6
PEB = 6 4 = 2
Notasi VSEPR: AX4E2 (segi empat datar)
Jawaban: b
Atom pusat molekul SF6 dikelilingi oleh 6 domain
elektron yang semuanya merupakan PEI. Dengan
demikian, SF 6 mempunyai bentuk molekul
oktahedral. Sudut yang dibentuk keenam domain
tersebut terhadap atom pusat sebesar 90.
Jawaban: e
Ikatan hidrogen antarmolekul timbul pada molekulmolekul yang mempunyai atom hidrogen yang
terikat pada atom bersifat elektronegatif seperti N,
O, atau F. Jadi, molekul-molekul yang membentuk
ikatan hidrogen yaitu CH3NH2 (iii) dan CH3OH (iv).
Jawaban: b
Gaya antarmolekul ion-dipol terjadi saat ion (kation
atau anion) berinteraksi dengan molekul polar.
Contoh interaksi ion-dipol adalah hidrasi senyawa
NaCl dalam air (proses ion-ion dikelilingi oleh
molekul air). Ikatan hidrogen menyatakan interaksi
dipol-dipol yang sangat kuat dan terjadi jika atom
hidrogen terikat pada salah satu dari ketiga unsur
yang sangat elektronegatif, yaitu F, O, dan N.
Interaksi dipol terimbas terjadi saat molekul polar
mengimbas (menginduksi) molekul nonpolar.
Interaksi dipol-dipol terjadi jika ujung positif dari
salah satu molekul dipol ditarik ke ujung negatif
dari dipol molekul lainnya (terjadi pada senyawa
kovalen polar). Gaya dispersi London terjadi di
antara molekul-molekul kovalen nonpolar dan
bersifat sangat lemah.
Jawaban: e
Contoh molekul HCl. Molekul ini memiliki pasangan
elektron yang digunakan bersama lebih mendekat
pada atom Cl yang lebih elektronegatif daripada
atom H. Oleh karena itu, HCl bersifat polar dengan
arah negatif terpusat pada atom Cl dan daerah
positif terpusat pada atom H.
Jawaban: c
Data yang benar seperti tabel berikut.
No. Pasangan Molekul

36

1)

HBr dan H2S

2)
3)
4)

Cl2 dan CBr4


CO2 dan H2
Cl2 dan NaOH

5)

H2O dan I

Jenis Gaya Antarmolekul


Gaya London dan gaya
tarik dipol
Gaya London saja
Gaya London saja
Gaya London dan gaya
ion-dipol induksi
Gaya London dan gaya
ion-dipol

Ulangan Tengah Semester

31. Jawaban: e
Kalor pembentukan adalah kalor yang menyertai
pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsur
pembentuknya, seperti pada reaksi e. Sementara
itu, reaksi pada a, c, dan d merupakan reaksi
pembakaran, sedangkan reaksi b merupakan
reaksi pembentukan tetapi dari ion-ionnya.
32. Jawaban: c
1) Reaksi pembentukan CO2:
C(s) + O2(g) CO2(g)
H = a kJmol1
2) Reaksi pembentukan H2O:


H2(g) +  O2(g) H2O( ) H = b kJmol1


3)

Reaksi pembentukan C2H4:


C2H4(g) + 3O2(g) 2CO 2(g) + 2H 2O( )

H = c kJmol1
Entalpi pembentukan C 2 H 2 dihitung dari
penjumlahan ketiga reaksi di atas. Reaksi (1) dan
(2) tetap dikalikan dua, sedangkan reaksi (3) dibalik.
Persamaan reaksinya sebagai berikut.
2C(s) + 2O2(g) 2CO2(g)

H = 2a kJmol1

2H2(g) + O2(g) 2H2O( )

H = 2b kJmol1

2CO2(g) + 2 H2O( ) C2H4(g) + 3O2(g)


H = c kJmol1
+
2C(s) + 2H2(g) C2H4(g)
H =(2a + 2b c) kJmol1

33. Jawaban: d
Sublimasi es terjadi ketika wujud padat es berubah
menjadi wujud gas (uap).
Reaksinya: H2O(s) H2O(g)
Dengan demikian, reaksi 1 tetap dan reaksi 3
dibalik, sehingga menjadi:


1)

H2(g) +  O2(g) H2O(g)

H = a kJ

3)

H2O(s) H2(g) +  O2(g) H = c kJ

H2O(s) H2O(g) Hsub = c a kJ

34. Jawaban: a
Reaksi pembakaran sempurna propana (C3H8):
C3H8(g) + 5O2(g) 3CO2(g) + 4H2O( ) H = . . . .?
Hreaksi = Hproduk Hreaktan
= (3 Hf CO2 + 4 Hf H2O) ( Hf C3H8
+ 5 Hf O2)
= (3 (393,5) + 4 (242,0)) (103,9 + 0)
= (1.180,5 + (968)) + 103,9
= 2.148,5 + 103,9 = 2.044,6 kJ/mol
Massa propana yang dibakar = 22 gram
Mol propana = " =
%

 
!"

= 0,5 mol

H = mol Hreaksi

qkalorimeter = C T
= 2740 (88,5 24,8)
= 174.538 J = 174,54 kJ
qreaksi
= (qlarutan + qkalorimeter)
= (1.605,24 + 174,54) kJ
= 1.779,8 kJ

&

=  (2.044,6)kJ = 1.022,3 kJ
35. Jawaban: a
Untuk mendapatkan reaksi tersebut, maka
persamaan reaksi 1 dibalik dan dikalikan 2,
sedangkan untuk persamaan 2 tetap dan dikalikan 3 sehingga menjadi:
4Fe(s) +
?  (g) 2Fe2O3(s) +
? (s)
H = 468,2 kJ

? (s) + 3O2(g)
?  (g) H = 1.180,5 kJ

4Fe(s) +3O2(g) 2Fe2O3(s) H = 1.648,7 kJ


36. Jawaban: b
Reaksi penguraian H2O:


H2O( ) H2(g) +  O2(g)


H = 285 kkal/mol
Ikatan dalam H2O: H O H
Terdapat 2 ikatan H O sehingga energi ikatan
rata-rata H O sebesar= 285 : 2 = 142, 5 kkal/mol.
37. Jawaban: a
C2H6(g) +


O (g)
 2

2CO2(g) + 3H2O( )

Hc = 1.559,877 kJ/mol
{Hf C2H6 +

Hf O2}

1.559,877 kJ = {2(393,512) + 3 Hf H2O)}


{(84,667) +  (0)}
3 Hf H2O = 857,52
Hf H2O = 285,84 kJ/mol
Jadi, Hf untuk H2O sebesar 285,84 kJ/mol.
38. Jawaban: a
H = Epemutusan reaktan Epenggabungan produk
H = {DH H + DO = O} {2 DH O + DO O}
= {436 + 499} {2(460) + 142}
= 935 1.062 = 127 kJ
39. Jawaban: b
Reaksi peleburan es: 2H2O(s) 2H2O( )
H3 = H1 + H2
572 = 584 + H2
H2 = 572 + 584 = 12 kJ
Peleburan 1 mol es =

reaksi
=
Hc = mol

B.

1.779,8 kJ
2 mol

= 890 kJ/mol

Uraian

1. Konfigurasi elektron unsur-unsur dalam tabel


sebagai berikut.
2
2
6
2
5
17I : 1s 2s 2p 3s 3p
2
2
6
2
6
2
20II : 1s 2s 2p 3s 3p 4s
2
2
6
2
6
2
4
24III : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
2
2
6
2
6
2
10
30IV : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
2
2
6
2
6
2
10
5
35V : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p
Jadi, unsur yang terletak dalam blok p adalah unsur
I dan V.
2. n = 3 kulit terbesar = 3
= 2 subkulit d
m = +1


Hreaksi = {2 Hf CO2 + 3 Hf H2O}

12 kJ
2 mol

32

mol CH4 = 16 = 2 mol

= 6 kJ/mol

40. Jawaban: a
qlarutan
= m c T
= 6000 4,2 (88,5 24,8)
= 1.605.240 J = 1.605,24 kJ

s=

Diagram orbitalnya:
Konfigurasi elektronnya:

hj hj hj hj h
2

+1 +2

1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d9


Jumlah elektronnya: 2 + 2 + 6 + 2 + 6 + 2 + 9 = 29
Jumlah elektron = nomor atom
Jadi, atom tersebut mempunyai nomor atom
sebesar 29.
3. Unsur X mempunyai 7 subkulit elektron, dengan 6
orbital berisi elektron tunggal.
Konfigurasi elektron X: 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
Diagram orbitalnya:
hj
1s 2

hj

hj hj hj

2s2

2p6

hj

hj hj hj

3s2

3p6

3d5

h
4s1

Pada diagram orbital tersebut terdapat 6 orbital


yang memiliki elektron tidak berpasangan
(terisi 1 elektron) sehingga jumlah elektron seluruhnya = 2 + 2 + 6 + 2 + 6 + 5 + 1 = 24 elektron.
Jadi, nomor atom unsur X = 24.

Kimia Kelas XI

37

4. Unsur X terletak pada periode 5 berarti kulit


terbesar = 5. Golongan IVA berarti elektron valensi
menempati subkulit s dan p, dengan jumlah
elektron valensi 4. Konfigurasi elektron valensi X
= 5s2 5p4
5p4 : hj h h
nilai n, , m, dan s elektron terakhir sebagai berikut.
n = 5, = 1


m = 1, s = 
5.

Pasangan Elektron
Bentuk Molekul

6.

Ikatan

Bebas

2
3
3
5
4
6

1
2

Linear
Trigonal piramida
Bentuk T
Trigonal bipiramida
Segi empat datar
Oktahedral

: [Ne] 3s2 3p4

16S

hj

promosi

h h h

p3

hj

h
d

hx hx hx hx
p3

x = atom elektron F
Orbital hibrida SF4 adalah sp3d dan bentuk
molekulnya trigonal bipiramida.
35Br

hj

: [Ar] 4s2 3d10 4p5

hj hj h
promosi

hj

h h h

p3

hj

h h
d2

hx hx hx hx hx
p3

d2

Orbital hibrida BrF5 adalah sp3d2 dan bentuk


molekulnya oktahedral.

F
x
x
F
F x S
x
F

38

7. Berdasar data di atas, Mr H2Te > H2Se > H2S >


H2O sehingga seharusnya titik didih H2Te > H2Se
> H2S >H2O. Akan tetapi, titik didih H2O ternyata
lebih besar daripada H2S, H2Se, dan H2Te. Hal ini
disebabkan pada senyawa H2O terdapat ikatan
hidrogen. Sifat ikatan hidrogen sangat kuat
sehingga butuh energi lebih besar untuk
mematahkannya.
8. H3 = H1 + H2
= 593 kJ + (197 kJ)
= 790 kJ
perubahan entalpi pembentukan 1 mol gas SO3
=

\ '
 "

= 395 kJ/mol.

9. Mencairkan es berarti reaksi peleburan


H2O(s) H2O( )
Hreaksi = {Hf H2O( )} {Hf H2O(s)}
= 287,28 (293,16) kJ/mol
= 5,88 kJ/mol
1 mol peleburan es menyerap 5,88 kJ.

hj h h

hj

Jadi, senyawa SF4 dan BrF5 sama-sama tidak


memenuhi aturan oktet karena jumlah elektron
valensi pada atom pusat 8.

Fx x

F xx Br xF
F

F

Ulangan Tengah Semester

Kalor untuk 1.440 gram es =

 
!"

5,88 kJ/mol

= 470,4 kJ (diserap)
10. Diketahui:
Massa gelas kimia + air = 1.000 g
Massa jenis air = 1 g/cm3
kalor jenis air + kaca = 4,2 J/gC
T = (33 25)C
= 8C
Ditanyakan: H pembakaran etanol . . . ?
Jawab:
Kalor yang dilepas etanol = kalor yang diterima air
dan kaca
Kalor yang diterima air + kaca
= m c T
= 1.000 g 4,2 J/gC 8C
= 33.600 J
= 33.6 kJ/mol
Kalor yang dilepas = 33,6 kJ/mol
Jadi, H pembakaran etanol = 33,6 kJ/mol.

Model Pengintegrasian Nilai Pendidikan Karakter


Standar Kompetensi
3. Memahami kinetika
reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor
yang memengaruhinya,
serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari dan industri.

Kompetensi Dasar
3.1

3.2

Mendeskripsikan
pengertian laju reaksi
dan melakukan percobaan tentang faktorfaktor yang memengaruhi laju reaksi.
Memahami teori
tumbukan (tabrakan)
untuk menjelaskan
faktor-faktor penentu
laju dan orde reaksi,
serta t e r a p a n n y a
dalam kehidupan
sehari-hari.

Nilai

Indikator

Pantang
menyerah

Pantang menyerah saat menemui kesulitan dalam


mengerjakan soal-soal tentang laju reaksi.

Bersahabat/
komunikatif

Bekerja sama dengan kelompok praktikum di kelas.

Pada bab ini akan dipelajari:


1. Kemolaran dan Laju Reaksi
2. Teori Tumbukan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Laju Reaksi

Laju Reaksi

Menjelaskan kemolaran dan pengertian laju reaksi

Menjelaskan pengertian kemolaran dan


penggunaannya
Menuliskan ungkapan laju reaksi
Menjelaskan persamaan reaksi dan penentuannya
Menentukan orde reaksi berdasarkan data hasil
percobaan
Membaca grafik kecenderungan orde reaksi

Menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi

Siswa mampu mendeskripsikan pengertian laju reaksi


dan menentukan orde reaksi berdasarkan data
percobaan

Menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas


permukaan bidang sentuh, dan suhu terhadap laju
reaksi berdasarkan teori tumbukan
Menganalisis pengaruh konsentrasi, suhu,
pengaruh luas permukaan, dan katalis
Membedakan diagram energi potensial dari reaksi
kimia dengan menggunakan katalisator dan yang
tidak menggunakan katalisator
Menafsirkan grafik dari data percobaan tentang
faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi
Menjelaskan pengertian, peranan katalisator, dan
energi pengaktifan menggunakan diagram
Menjelaskan peranan katalis dalam kehidupan
makhluk hidup dan industri

Siswa mampu menjelaskan teori tumbukan (tabrakan) dan


menjelaskan faktor-faktor penentu laju dengan melakukan
percobaan serta terapannya dalam kehidupan sehari-hari

Siswa dapat menjelaskan laju reaksi, orde reaksi, dan


faktor-faktor yang memengaruhi laju reaksi

Kimia Kelas XI

39

A.

Pilihan Ganda

4. Jawaban: c
V1 M1 = V2 M2
100 ml 0,1 M = V2 0,01 M

1. Jawaban: c
"
%

mol NaOH =

V2 =

 
 !"

= 1.000 ml
Volume pelarut yang ditambahkan:
(1.000 100) ml = 900 ml
Jadi, volume pelarut yang ditambahkan sebanyak
900 ml.

= 0,25 mol
volume akuades = 2L
"

MNaOH =  "
=

&


= 0,125 M

Jadi, molaritas larutan NaOH sebesar 0,125 M.


2. Jawaban: a
massa = gram
Misal, massa H2SO4 = x gram.
Volume larutan = 500 ml
Mr H2SO4 = 98
[H2SO4] =
0,1 =

"
%

!" "
\



 "
 "

0,1 = \ 2
\&

x =  ml
= 4,9 ml
Jadi, banyaknya H2SO4 yang harus dilarutkan
sebanyak 4,9 ml.
3. Jawaban: c
madu = 1,4 gram/cm3
= 1,4 gram/1 ml
= 1,4 gram/103 L
= 1.400 gram/L
Jadi, dalam 1 liter larutan madu terdapat 1.400
gram madu.

massa glukosa =  massa madu

=  1.400
= 490 gram
mol glukosa

"  
%  

\ "
 "!"

= 2,72 mol 2,7 mol


M glukosa =
=

40

"  
 " 
& "
= 2,7
*

Laju Reaksi


&

5. Jawaban: d
massa H2SO4 = 19,6 gram
Vair = 200 ml
H SO = 1,225 g/mol
2

Mr H2SO4 = 98 g/mol
[H2SO4] =
=


%



&\ &
\





= 0,211 5
= 1,06 M
Jadi, konsentrasi larutan H2SO4 sebesar 1,06 M.
6. Jawaban: e
Persamaan reaksi 2X + Y X2Y dapat dinyatakan
sebagai bertambahnya konsentrasi X2Y setiap
satuan waktu serta berkurangnya konsentrasi 2X
dan B setiap satuan waktu.
7. Jawaban: c
Terbakarnya kembang api merupakan reaksi yang
berjalan sangat cepat, hanya beberapa detik.
Pembentukan fosil merupakan reaksi yang berjalan
paling lambat karena memerlukan waktu hingga
berpuluh-puluh tahun. Pematangan buah,
pembuatan tempe, dan pembusukan sampah juga
merupakan reaksi lambat tetapi lebih cepat
daripada pembentukan fosil. Reaksi tersebut hanya
terjadi beberapa hari.
8. Jawaban: e
[P] = 2 1,8 = 0,2 M
t = 2 menit
= 2 60 etik
= 120 detik


&

vP =  =  = 0,00167 M/detik


Laju pengurangan P sebesar 0,00167 M/detik.
v s = 2 vP
= 2 0,00167 M/detik
= 0,00334 M/detik

9. Jawaban: b
mol N2O5 = 0,6 mol
volume larutan = 2 L

13. Jawaban: c
Orde reaksi terhadap H2 percobaan 3 dan 4.

"

[N2O5] =  "
=

& "
*

Laju penguraian N2O5 =


=



&
%
=
 

0,03 M/s














& 
& 

"

=
=

"









"





&
&




"

&
&









n =2
Jadi, rumus laju reaksinya adalah v = k [H2] [NO]2.
14. Jawaban: b
2A + B C
Mula-mula: 10 4
Reaksi
: 6 3
3
Sisa
: 4 1
3
Dalam volume 1 L, [A] = 4 M, [B] = 1 M, dan
[C] = 3 M.
Jika v = k[A][B] maka:

  

 


"


&  & 


&  & 

"



"




m=1
Orde reaksi Q dihitung dari percobaan 1) dan 3).



"

12. Jawaban: b
Orde reaksi total merupakan jumlah orde reaksi P
dan Q.
Orde reaksi P dihitung dari percobaan 2) dan 3).

& 
& 

&
&

Orde reaksi terhadap NO percobaan 2 dan 3.

& 
&

"

"




11. Jawaban: a
v = k[NO]2[O2]
= 125(2 103)2(3 103)
= 15 106 M/detik
Jadi, laju reaksi untuk persamaan reaksi tersebut
15 106 M/detik.

&
&





m =1

= (4)(1)
=4




&
&





10. Jawaban: a

= k(2)2 




= 0,3 M

v = k[A]2

  

 


"
& 
&  




&  & 

2 = (2)n
(2)1 = (2)n
n=1
Orde reaksi total = m + n
=1+1
=2
Jadi, orde reaksi total reaksi tersebut adalah 2.

v = (4)(1)
= 1 M/s
15. Jawaban: b
Orde reaksi A, [B] tetap percobaan 1 dan 5.






= &


\





&

&
&

" & 

&

"

"

"

m= 2
Orde reaksi B, [A] tetap percobaan 1 dan 2.






= &







&





&

&

&
&

Kimia Kelas XI

41









q = 0, r = 1

n= 1
Persamaan laju reaksi:
v = k [A]2 [B]
Percobaan 1
v = k [A]2 [B]
6 = k (0,2)2 (0,2)
6 = k 0,04 0,2

16. Jawaban: a
Berdasarkan data, rumus laju reaksi:

v t =    vo

v t = 
  vo
 


0,005



X = 
 0,005
X = (3)1 0,005 = 0,015 M/s
17. Jawaban: c
Misal v = k[P]p[Q]q[R]r
a. Orde reaksi q dapat dicari dari [P] dan [R]
yang sama, yaitu nomor 3 dan 4.
& &
` &

& &\` &


b.

&

&\







=

19. Jawaban: b
a = 10C
n=2
T1 = 40C v1 = x molL1 det1
T2 = 10C v2 = . . .?
T3 = 80C v3 = . . .?

q=0
Orde reaksi r dapat dicari dari [P] dan [Q] yang
sama, yaitu nomor 1 dan 2.







=

r=1
Orde reaksi p dapat dicari dari [R] yang sama,
yaitu nomor 1 dan 3.
& &` &

& &
` &


Laju Reaksi

18. Jawaban: a
v = k[P]x[Q]y
Jika konsentrasi awal P dibesarkan menjadi dua
kali, pada konsentrasi Q tetap, kecepatan reaksi
menjadi dua kali lebih cepat.
v1 = k [2P]x [Q]y = 2k [P]x [Q]y
2x [P]x = 2 [P]x
2x = 2
x=1
Jika konsentrasi awal P dan Q dibesarkan dua kali,
kecepatan reaksi menjadi delapan kali lebih cepat.
v2 = k [2P]x [2Q]y = 8k [P]x [Q]y
(2x [P]x) (2y [Q]y) = 8[P]x [Q]y
21 2y = 8
2y = 4
2 y = 22
y=2
Jadi, orde reaksi total pada reaksi tersebut adalah
1 + 2 = 3.

v2 = n

42


=

v1 = 2

=1

& &` &



& &` &\

c.

1 1 = 

p=1
Jadi, v = k[P][Q]0[R] atau v = k[P][R].

k = & = 750
Percobaan 4
v = k [A]2 [B]
v = 750 (0,4)2 (0,2)
v = 750 (0,16) (0,2)
v = 24 M/s
Jadi, harga X = 24.

X = 







v3 = n

 


23


x


molL1det1

v1 = 2

 


24

=
x
= 16x molL1det1
Jadi, reaksi yang berlangsung pada suhu 10C dan
80C mempunyai laju reaksi
16x mol L1 det1.
20. Jawaban: d
Mula-mula :


x mol L1 det1 dan


A + 2B C
1 1

Reaksi




Sisa




v = k [A] [B]2

=k[ ]
=k[ ]
B.
1.

&

Molaritas N2 =  = 0,36 M


[  ]2


[ ] =  k

V1 Mr = V2 M2
100 ml 0,05 M = V2 0,01 M
V2 =

b.

&

Molaritas NH3 =  = 0,24 M

Volume pelarut yang harus ditambahkan


(500 100) ml = 400 ml
Jadi, volume pelarut yang harus ditambahkan
sebesar 400 ml.

3.

N2O4(g)
NO2(g)
mula-mula :
1

reaksi
:
0,3
0,6

sisa
:
0,7
0,6
Laju pembentukan NO2 =


+  
& "
 *

= +  
& %

= +  
= +0,005 M/detik
Jadi, laju pembentukan gas NO 2 sebesar
0,005 M/detik.
4. Persamaan reaksi penguraian:
2NH3(g) N2(g) + 3H2(g)
a. Laju reaksi pembentukan:
1) Gas N2:
mol N2 = 0,6 mol
&

Molaritas N2 =  = 0,12 M
vN =
2



&

2)

=  = 0,006 Ms1
Gas H2:

mol H2 =  0,6 mol = 1,8 mol

Laju reaksi penguraian NH3:


mol NH3 =  0,6 mol = 1,2 mol

= 500 ml

2. mol KOH = M volume


= 0,25 250 ml
= 62,5 mmol = 0,0625 mol2
Massa KOH = mol Mr
= 0,0625 mol 56 g/mol = 3,5 gram
Jadi, massa KOH murni yang harus dilarutkan
sebanyak 3,5 g.

&


=  = 0,018 Ms1
Jadi, laju reaksi pembentukan N2 sebesar
0,006 Ms1, sedangkan laju reaksi pembentukan H2 sebesar 0,018 Ms1.
2

Uraian


&

_


vH =

vN =
2

_


&

= 

= 0,012 Ms1
Jadi, laju reaksi penguraian NH 3 sebesar
0,012 Ms1.
5.

2N2H6(g) + 7O2(g) 4CO2(g) + 6H2O(g)


mula-mula : 10

reaksi
: 4
14
8
12

sisa
: 6
14
8
12

Laju C2H6 =

" ! " 




=  " !* = 0,1 M/detik

 

Laju O2

" ! " 




=  " !* = 0,23 M/detik

 

Laju CO2 = +

" ! " 




= +  " !* = +0,13 M/detik

 

Laju H2O = +

" ! " 




= +  " !* = +0,2 M/detik

 

6. v = k [NO] [Br2]n
Jika konsentrasi awal NO dibesarkan menjadi dua
kali pada konsentrasi Br2 tetap, kecepatan reaksi
menjadi empat kali lebih cepat.
v1 = k [2NO]m [Br2]n = 4k [NO]m [Br2]n
2m [NO]m = 4 [NO]m
2m = 22
m=2
Jika konsentrasi awal Br2 dibesarkan menjadi tiga
kali pada konsentrasi NO tetap, kecepatan reaksi
menjadi tiga kali lebih cepat.

Kimia Kelas XI

43




v2 = k [NO]m [3Br2]n = 3k [NO]m [Br2]n


3n [Br2]n = 3 [Br2]n
3n = 3
n=1
Rumus laju reaksinya adalah v = k [NO]2 [Br2].
7. Persamaan laju reaksi diperoleh setelah mengetahui
orde reaksi setiap reaktan.
a. Orde reaksi F2 dihitung dari percobaan 1) dan 2)



& 

& 

"

  ?  

  ?  

"
& &
& &










& 
& 




& &
& &










8. Waktu berkebalikan dengan laju reaksi (v =




atau


).


t=
Orde reaksi terhadap A Percobaan 1 dan 2.









[  ]

[  ]

&
=












= k [A] [B2]2




= k [0,2] [0,2]2




= k 0,008

k = 1,56
Waktu reaksi jika konsentrasi A dan B2 masingmasing 0,2 M yaitu:



= k [A] [B2]2




= 1,56 [0,2] [0,2]2




= 0,01248

9. a = 10C
n=2
T1 = 25C
T2 = 35C
v1 = 0,040
v2 = n
v2 = 2









v2 = n

"





 [  ]

 [
]

Laju Reaksi

T = (35 25)C = 10C

v1
0,040

T = T2 T1 = (100 28)C = 72C

"

128 = n





n6

Orde reaksi terhadap B2 Percobaan 2 dan 3.

44

10. a = 12C
T1 = 28C v1 = 2 Mdet1
T2 = 100C v2 = 128 Mdet1

&

m =1








v2 = 0,040
v2 = 0,080 M/det
Jadi, laju reaksi saat suhu 35C adalah 0,080 M/det.

"





[  ]

[  ]

21


"
&

&




"

&
&

t = 80,13 detik

n=1
Persamaan laju reaksi: v
= k[F2]m[ClO2]n = k[F2]1[ClO2]1 = k[F2][ClO2]











  ?  


?  
"





"








"





"

n =2
Persamaan laju reaksinya: v = k [A] [B2]2
Pada percobaan 1

m=1
Orde reaksi ClO2 dihitung dari percobaan 1)
dan 3)

b.

&

&




"

"

[  ]

[  ]

v1
2

128 =
2
n2 = 64
n=2
Jadi, koefisien penambahan laju reaksi untuk setiap
kenaikan suhu 12C adalah dua kali lebih cepat.

A.

Pilihlan Ganda

1. Jawaban: d
Reaksi kimia terjadi apabila reaktannya mengalami
tumbukan efektif. Tumbukan efektif terjadi apabila
tumbukan antarpartikel pereaksi berlangsung
sempurna dan menghasilkan produk reaksi, serta
mempunyai energi minimum di atas energi ratarata molekul.
2. Jawaban: d
Reaksi pada grafik merupakan reaksi eksoterm
karena entalpi produk lebih kecil dari entalpi
reaktan, dengan perubahan entalpi sebesar
15 kJ. Energi aktivasi reaksi sebesar 35 kJ.
3. Jawaban: e
Energi minimal yang harus dimiliki atau diberikan
kepada partikel agar tumbukannya menghasilkan
reaksi dinamakan energi aktivasi. Pada grafik
tersebut, energi aktivasi ditunjukkan oleh E3 E2.
Sementara itu, E1 merupakan energi zat hasil. E2
merupakan energi reaktan-reaktan. E 2 E 1
merupakan energi yang dibebaskan.
4. Jawaban: a
Katalis dapat mempercepat reaksi dengan menurunkan energi pengaktifan. Dengan demikian,
energi pengaktifan dengan katalisator ditunjukkan
oleh K. L merupakan energi pengaktifan tanpa
katalisator. M merupakan energi yang dibebaskan
setelah reaksi berlangsung.
5. Jawaban: b

Energi

x = Ea
Pereaksi

y = H
Hasil reaksi

Koordinat reaksi

Diagram tersebut menjelaskan bahwa reaksi terjadi


dengan melepaskan kalor. Energi hasil reaksi lebih
kecil daripada energi pereaksi sehingga H
berharga negatif (H = ). Reaksi tersebut
merupakan reaksi eksoterm. y merupakan harga
perubahan entalpi (energi yang dibebaskan). x
merupakan energi aktivasi. Reaksi berlangsung jika
energi aktivasi dapat terlampaui. Jika energi
aktivasi rendah, pada suhu rendah reaksi sudah
dapat berlangsung. Namun, jika energi aktivasi
tinggi, reaksi hanya dapat berlangsung jika suhu
juga tinggi.

6. Jawaban: a
Laju reaksi akan semakin cepat apabila zat-zat
yang terlibat reaksi (reaktan) mempunyai partikel
berbentuk serbuk dan reaksi berlangsung pada
suhu tinggi. Partikel berbentuk serbuk mempunyai
permukaan bidang sentuh lebih luas sehingga
mudah terjadi tumbukan efektif. Kenaikan suhu
mengakibatkan energi molekul-molekul meningkat
sehingga semakin banyak molekul yang mencapai
energi pengaktifan. Dengan demikian, reaksi
berlangsung lebih cepat.
7. Jawaban: c
Kenaikan suhu akan memperbesar energi kinetik
molekul zat yang bereaksi (pereaksi). Adanya
energi kinetik yang tinggi mengakibatkan gerakan
antarmolekul semakin cepat sehingga frekuensi
tumbukan semakin besar. Adanya tumbukan ini
memungkinkan terjadinya tumbukan efektif
semakin banyak sehingga reaksi semakin cepat
berlangsung.
8. Jawaban: e
Katalis pada suatu reaksi berfungsi untuk mempercepat reaksi. Reaksi berlangsung cepat ditandai
dengan banyaknya gelembung gas. Reaksi ini
terjadi pada percobaan 2) dan 4), karena
penambahan MnO2 dan CoCl2. Dengan demikian,
zat yang berfungsi sebagai katalis adalah ion Mn2+
dan ion Co2+.
9. Jawaban: c
Reaksi antara HCl dengan Na2S2O3 menghasilkan
endapan belerang dengan reaksi sebagai berikut.
Na2S2O3aq) + 2HCl(aq) 2NaCl(aq) + S(s) +
SO2(g) + H2O( )
Pembentukan belerang semakin cepat jika reaksi
berlangsung cepat. Reaksi berlangsung lebih cepat
jika konsentrasi pereaksi besar (volume larutan
kecil) dan reaksi berlangsung pada suhu tinggi.
Penambahan air pada reaktan akan memperkecil
konsentrasi sehingga kecepatan reaksi berkurang.
Jadi, pada reaksi di atas, endapan belerang akan
cepat terbentuk pada 10 ml HCl 2 M + 10 ml
Na2S2O3 1 M pada suhu 45C.
10. Jawaban: c
Gas H 2 dihasilkan terbanyak jika Zn yang
digunakan berbentuk serbuk dan konsentrasi
H2SO4 paling besar. Bentuk serbuk mempunyai
luas permukaan lebih besar daripada bentuk
kepingan. Dengan demikian, kemungkinan tumbukan
yang dihasilkan berupa tumbukan efektif lebih
besar. Konsentrasi H2SO4 yang paling besar juga

Kimia Kelas XI

45

memungkinkan tumbukan yang dihasilkan berupa


tumbukan efektif lebih besar daripada H2SO4
dengan konsentrasi lebih kecil. Reaksi yang akan
menghasilkan gas H2 terbanyak pada 10 detik
pertama adalah 2 g Zn (berbentuk serbuk) dengan
30 ml H2SO4 0,5 M.
11. Jawaban: d
Dalam dunia industri, penggunaan katalis untuk
mempercepat proses kesetimbangan reaksi. Jika
kesetimbangan cepat tercapai, produk semakin
mudah terbentuk sehingga lebih menguntungkan.
12. Jawaban: d
Pada percobaan 1) dan 2), laju reaksi dipengaruhi
oleh konsentrasi Na2S2O3, sedangkan suhu dan
konsentrasi HCl sama. Pada percobaan 1) dan 3),
laju reaksi dipengaruhi oleh suhu dan konsentrasi
Na2S2O3, sedangkan konsentrasi HCl sama. Pada
percobaan 1) dan 4), laju reaksi dipengaruhi oleh
konsentrasi Na2S2O3, suhu, dan konsentrasi HCl.
Pada percobaan 2) dan 3) hanya dipengaruhi oleh
suhu, sedangkan konsentrasi HCl dan Na2S2O3
sama. Pada percobaan 2) dan 4), laju reaksi
dipengaruhi oleh konsentrasi HCl dan Na2S2O3
serta suhu.
13. Jawaban: e
Pengaruh luas permukaan bidang sentuh untuk
mempercepat laju reaksi hanya berlaku pada zat
padat. Kalsium karbida adalah zat padat yang jika
direaksikan dengan air akan menghasilkan gas
asetilen. Semakin kecil ukuran kalsium karbida,
semakin cepat terbentuk gas asetilen.
14. Jawaban: b
Pada percobaan tersebut, faktor konsentrasi tidak
memengaruhi karena konsentrasi HCl sama
(0,5 M). Reaksi yang berlangsung paling cepat
terjadi pada logam Mg yang berbentuk serbuk
dengan suhu paling tinggi. Pereaksi yang berbentuk
serbuk mempunyai luas permukaan paling besar.
Dengan demikian, reaksi yang berlangsung paling
cepat adalah reaksi nomor 2.
15. Jawaban: e
Laju reaksi akan berjalan lambat jika konsentrasi
larutan kecil dan logam seng berbentuk lempeng.
Bentuk lempeng berarti luas permukaan kecil.
Dengan demikian, percobaan yang berlangsung
paling lambat adalah percobaan 1. Laju reaksi akan
berjalan cepat jika konsentrasi larutan besar dan
logam seng berbentuk serbuk. Bentuk serbuk
berarti luas permukaan besar. Dengan demikian,
percobaan yang berlangsung paling cepat adalah
percobaan 5.

46

Laju Reaksi

B.

Uraian

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu


konsentrasi, suhu, luas permukaan, dan katalis.
2. Bentuk padatan reaktan berpengaruh terhadap laju
reaksi karena bentuk padatan reaktan berhubungan
dengan luas permukaan. Padatan berbentuk serbuk
permukaan bidang sentuhnya lebih luas dibandang
dengan padatan berbentuk kepingan/bongkahan.
Semakin luas permukaan bidang sentuh reaktan,
semakin banyak frekuensi tumbukan sehingga
kemungkinan terjadinya tumbukan efektif juga
semakin banyak. Dengan demikian, semakin kecil
ukuran partikel reaktan, laju reaksi semakin cepat.
3. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah
semakin besar konsentrasi pereaksi, frekuensi
tumbukan antarpartikel pereaksi semakin besar
sehingga kemungkinan terjadi tumbukan efektif
juga semakin besar. Hal ini mengakibatkan reaksi
berlangsung semakin cepat sehingga laju reaksi
akan semakin cepat.
4. a.

b.

Diagram yang menggunakan katalis adalah


diagram a karena pada diagram tersebut
terbentuk kompleks teraktivasi. Katalis dapat
mempercepat laju reaksi dengan membentuk
molekul-molekul kompleks teraktivasi
sehingga tahap-tahap reaksi bertambah dan
energi aktivasi rendah.
E1 dan E2 adalah energi pengaktifan, yaitu
energi minimum yang diperlukan untuk berlangsungnya suatu reaksi.

5. Faktor yang memengaruhi laju reaksi antara


percobaan 1) dan 3) adalah luas permukaan bidang
sentuh zat pereaksi. Reaksi pada percobaan 1)
berlangsung lebih lebih cepat daripada percobaan
3) karena bentuk zat yang berupa serbuk
mempunyai luas permukaan yang lebih besar
daripada bentuk bongkahan. Faktor yang
memengaruhi laju reaksi antara percobaan 2) dan
4) adalah konsentrasi pereaksi (HCl). Semakin
besar konsentrasi maka laju reaksi semakin cepat.
Laju reaksi percobaan 4) lebih cepat daripada
percobaan 2). Faktor yang memengaruhi laju reaksi
antara percobaan 3) dan 4) adalah luas permukaan
bidang sentuh dan konsentrasi zat pereaksi. Bentuk
butiran dan konsentrasi yang lebih besar pada
percobaan 4) mengakibatkan laju reaksi yang lebih
cepat daripada percobaan 3). Faktor yang
memengaruhi laju reaksi antara percobaan 3) dan
5) adalah luas permukaan bidang sentuh pereaksi
dan suhu. Percobaan 5) dengan pereaksi berbentuk
butiran dan suhu lebih tinggi mengakibatkan laju
reaksi lebih cepat daripada percobaan 3).

A.

Pilihan Ganda

Laju pembentukan gas O2 =  vN O


2 5

1. Jawaban: b
M = mol

=  (2,5 105)
= 1,25 105
Jadi, laju pembentukan gas O 2 sebesar
1,25 105 mol.L1.detik1.





= 0,1 
= 0,5 M

2. Jawaban: e
Larutan 1 = H2SO4 0,5 M
Larutan 2 = H2SO4 0,2 M
V1 M1 = V2 M2
100 ml 0,5 M = V2 0,2 M
V2 =

 "
& %

= 250 ml
3. Jawaban: d
Laju reaksi merupakan pengurangan konsentrasi
pereaksi atau mol pereaksi tiap liter tiap satuan
waktu atau dapat juga diartikan sebagai
penambahan konsentrasi produk atau mol produk
tiap liter tiap satuan waktu.
4. Jawaban: d
Reaksi: A + B C
Rumus laju reaksi: v = k[A]2
Pernyataan yang tepat mengenai persamaan reaksi
dan rumus laju reaksi tersebut sebagai berikut.
1) Laju reaksi hanya dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi A.
2) Orde reaksi A = 2 dan B = 0, sehingga orde
reaksi total = 2.
3) Laju reaksi hasil pereaksi C tidak memengaruhi
laju reaktan B.
4) Koefisien pereaksi A (1) tidak sama dengan
orde reaksi A (2).
5. Jawaban: a
Persamaan laju reaksi: v = k[A]2[B]
v = k(4)2(4)
= 64
Jadi, laju reaksi setelah konsentrasi awal dinaikkan empat kali adalah 64.

vN

2O5

2NO2(g) +




 
  







O (g)
 2

= 2,5 105 mol.L1.detik1

  


 




"
  

  

"

"









"

m =2
Orde reaksi terhadap B percobaan 1 dan 2.



 
 







  

  




"

  












n =1
Jumlah total orde reaksi dari reaksi tersebut adalah
2 + 1 = 3.
8. Jawaban: b
Orde reaksi P dihitung dari percobaan 1) dan 3)
setelah orde reaksi Q diketahui.
Orde reaksi Q dihitung dari percobaan 1) dan 2):







6. Jawaban: e
Persamaan reaksi:
N2O5(g)

7. Jawaban: c
Orde reaksi terhadap A percobaan 1 dan 3.

 

  
"



"

#

 # 

= 

n =2
Orde reaksi Q = 2.

Kimia Kelas XI

47

Orde reaksi P:



 

"

= 

"



= 


=

#
#




=













  




n =1
Orde reaksi P = 1.
9. Jawaban: b
Mula-mula :

[A] =
[B] =
[C] =
v = K(

"

*

"


*

"

A + 2B
1 1




[ ]























=


&
&






"

&

&

"

"









"

&
&





Laju Reaksi





m=1
Orde reaksi HCl, [Na2S2O3] tetap percobaan 2
dan 4.
&

&











1=





"

&
&

m =2
Orde reaksi terhadap Y, X tetap percobaan 3
dan 4.


&

"

" & 

"

10. Jawaban: d
Orde reaksi terhadap X, Y tetap percobaan
1 dan 2.

&
&




"





&
&




v=




(& " * )

12. Jawaban: a
Orde reaksi Na2S2O3, [HCl] tetap percobaan 1
dan 2.




&   " *  

= M

*

 2
)( )


= 125 107 mol1 L det1


= 1,25 105 mol1 L det1

v = 

48

k=

Reaksi
:


_________________________
Sisa





11. Jawaban: b
Rumus laju reaksi: v = k [A]2

n =1
Jadi, persamaan laju reaksinya adalah v = k[X]2 [Y].
Percobaan 1
v = k[X]2 [Y]
0,02 = k (0,01)2 (0,20)
0,02 = k (0,0001) (0,20)
0,02 = k 0,00002
k = 1.000
Harga tetapan laju reaksinya 1.000.



 











&

&



"

&
& 









n=0
Jadi, orde reaksi untuk Na2S2O3 dan HCl berturutturut adalah 1 dan 0.

13. Jawaban: b
Menentukan rumus laju reaksi:
Orde reaksi [CO], [O2] tetap

"

 ?

 ?




?
?

&
&




1

4




 



"

"

k =

= 


"
= 

v =

[2]2 [5]

45


\

M det1

"

 ?

 ?




 

 

&
&




 

 

[CO] = 0,3 M dan [O2] = 0,2 M, v = k(0,3)2(0,2).


14. Jawaban: e
Orde reaksi terhadap NO, H2 tetap percobaan 1
dan 2.

( )











80% NO =

2 mol

"  


&
v = 0,4 &

= 0,4 0,01 0,3
= 0,0012 M/menit
Jadi, laju reaksi setelah 80% NO bereaksi adalah
0,0012 M/menit.

16. Jawaban: a
v = k[H2][I2]
8,12 104 = k(0,27)(0,35)
& 
&\ 

k=

"







2NO
+ Cl2
2NOCl
Mula-mula : 2 mol
2 mol

Reaksi
: 1,6 mol
0,8 mol
1,6 mol

Sisa
: 0,4 mol
1,2 mol
1,6 mol
v = 0,4 [NO]2 [Cl2]

15. Jawaban: b

= 1,6 mol

n=1
Jadi, rumus laju reaksi yaitu v = k[CO]2[O2]. Jika




v =

= 

Laju reaksi jika konsentrasi NO = 2 M dan H2 = 5 M.

"

m=2
Orde reaksi [O2], [CO] tetap

= 8,5 103

Jadi, tetapan laju reaksinya sebesar 8,5 103.

"





Persamaan laju reaksinya adalah v = k[NO]2 [H2].


Percobaan 1
v = k[NO]2 [H2]
2 = k (6)2 (2)
2 = k 36 2









17. Jawaban: c
Orde reaksi NO terhadap H2 ditentukan dari reaksi 3 dan 4.

"

m =2
Orde reaksi terhadap H2, NO tetap percobaan 1
dan 3.


















n=1

"

(  )

"

  _

=  
_




  

  




  


 

"

4 = (2)n
(2)2 = (2)n
n=2
Orde reaksi H2 terhadap NO ditentukan dari reaksi
1 dan 2.


&  

&  




  
  

"

  _

=   _ 


 
=




 

 

&  


&  

"

Kimia Kelas XI

49




= (  )m

(  )1 = (  )m

m=1

Orde total reaksi = n + m = 2 + 1 = 3.


18. Jawaban: a
Laju reaksi pembakaran logam magnesium di udara
dipengaruhi oleh suhu udara, bentuk magnesium,
dan konsentrasi oksigen.
19. Jawaban: e
Laju reaksi yang hanya dipengaruhi oleh
konsentrasi terdapat pada gambar nomor 5)
terhadap 1). Laju reaksi pada gambar 1) terhadap
2) dipengaruhi oleh luas permukaan. Laju reaksi
pada gambar 2) terhadap 3) dipengaruhi oleh
konsentrasi, luas permukaan, dan pengadukan.
Laju reaksi pada gambar 3) terhadap 4) dipengaruhi
pengadukan. Laju reaksi pada gambar 3) dan 5)
dipengaruhi oleh pengadukan.
20. Jawaban: e
Semakin besar partikel yang bereaksi, permukaan
bidang sentuh untuk bereaksi semakin sempit
sehingga permukaan untuk bertumbukan juga
semakin sedikit.
21. Jawaban: b
Laju reaksi pada reaksi tersebut dapat ditentukan
dengan mudah melalui pengukuran laju pembentukan CO2. Gas CO2 yang terbentuk ditampung
pada alat buret yang mempunyai ukuran volume
sehingga volume gas CO 2 dapat ditentukan.
Percobaan dapat dilakukan dengan rangkaian alat
seperti gambar berikut.
Gas CO2
Statif
Buret
Gelas
beker

HCl
Air
Batu pualam

Terbentuknya gas CO2 akan menekan air sehingga


air turun. Volume gas CO2 dapat teramati melalui
angka yang tertera pada buret.
22. Jawaban: c
Gambar 1) menjadi 2), laju reaksi dipengaruhi oleh
luas permukaan, suhu, dan pengadukan. Gambar
1) menjadi 3), laju reaksi dipengaruhi oleh suhu
dan luas permukaan. Gambar 2) menjadi 4), laju
reaksi dipengaruhi oleh luas permukaan saja.
Gambar 3) menjadi 5), laju reaksi dipengaruhi oleh
suhu saja. Gambar 4) menjadi 5), laju reaksi
dipengaruhi oleh luas permukaan dan pengadukan.

50

Laju Reaksi

23. Jawaban: b
Semakin tinggi suhu, maka akan mempercepat
terjadinya reaksi. Hal ini karena dengan bertambahnya suhu maka energi kinetik pada partikel pereaksi
semakin besar. Akibatnya, gerakan antarmolekul
akan semakin acak, sehingga kemungkinan terjadi
tumbukan antarmolekul yang menghasilkan produk
reaksi akan semakin besar. Oleh karenanya, laju
reaksi menjadi semakin besar.
24. Jawaban: e
Jika pada suatu reaksi kimia suhu dinaikkan maka
kenaikan suhu tersebut akan mengakibatkan energi
kinetik zat-zat pereaksi, frekuensi tumbukan zatzat pereaksi, dan frekuensi tumbukan efektif
meningkat. Dengan demikian, produk akan semakin
cepat terbentuk. Energi aktivasi akan menurun jika
ada katalis dalam reaksi. Jadi, pernyataan yang
benar adalah pernyataan 2), 3), dan 4).
25. Jawaban: d
Keasaman asam nitrat lebih tinggi dari keasaman
asam asetat sehingga konsentrasi ion H+ dalam
asam nitrat lebih tinggi dibanding asam asetat.
Semakin pekat konsentrasi larutan, reaksi semakin
cepat.
26. Jawaban: b
Proses kontak adalah reaksi antara belerang
dioksida dengan oksigen menggunakan katalis
platina atau vanadium pentaoksida. Katalis vanadium pentaoksida lebih umum digunakan karena
katalis platina mudah diracuni oleh zat-zat pengotor
dalam belerang dioksida. Ni digunakan untuk
mengkatalis proses hidrolisis pada lemak dalam
pembuatan margarin. MnO2 digunakan untuk
mengkatalis penguraian KClO3 menjadi KCl dan
O2. CuCl2 digunakan untuk mengkatalis reaksi
oksidasi HCl oleh O2 dari udara pada proses
pembuatan gas klor menurut cara Deacon. Fe2O3
dan ZnO digunakan untuk mengkatalis reaksi N2
dan H2 pada pembuatan gas NH3 menurut proses
Haber-Bosch.
27. Jawaban: c
Penambahan air mengakibatkan larutan HCl menjadi
lebih encer. Larutan yang lebih encer berarti
mempunyai konsentrasi lebih kecil. Konsentrasi
lebih kecil mengakibatkan laju reaksi semakin
lambat. Dengan demikian, percobaan yang
diperkirakan paling cepat adalah percobaan 3.
Dalam massa CaCO3 yang sama, bentuk serbuk
lebih cepat bereaksi daripada bentuk butiran.
28. Jawaban: e
Alasan yang benar tentang kenaikan laju reaksi
ketika luas permukaan reaktan dinaikkan adalah
penambahan luas permukaan molekul reaktan akan
menaikkan tumbukan antarpartikel reaktan.

29. Jawaban: c
Orde reaksi total dihitung dari penjumlahan orde
reaksi NO dan H 2 . Orde reaksi NO dicari
berdasarkan percobaan 1) dan 2).

_ 
_ 

"

B.

1. M =

2.

n=2
Orde reaksi H2 dicari berdasarkan percobaan 1)
dan 3).



= 

&  
& 




_ 
_

&  


 &   

&  


 &   

"

 

( ) =  ( ) ( )
( )= ( )
() =()



"







&
&

"




m=1
Orde reaksi terhadap [Br2], [NO] tetap.



  " 

=   
 

( ) =  ( ) ( )



&
&

()

()







"

&
&

()
()





Br2(g) 2NOBr(g)
Mula-mula : 9 mol
12 mol

Reaksi
: 8 mol
4 mol
8 mol

Sisa
: 1 mol
8 mol
8 mol
Laju pembentukan NO =
0,4 M det1 =




=  


"

= 0,4 M det1

2NO(g) +

30. Jawaban: b
Orde reaksi terhadap [NO], [Br2] tetap.

&
&



" !*
 

Jika dikehendaki terdapat sisa gas Br2 sebanyak


8 mol, lamanya reaksi harus berlangsung sebagai
berikut.

"

m=1
Orde reaksi total = n + m = 2 + 1 = 3
Jadi, orde reaksi total reaksi tersebut
sebesar 3.




2NO(g) + Br2(g) 2NOBr(g)


Mula-mula : 9 mol
12 mol

Reaksi
: 4 mol
2 mol
4 mol

Sisa
: 5 mol
10 mol
4 mol

"




&
!"  


!"

"

()



Laju pembentukan NO =

"

 &   
 &  






( )( )






%

= 13 mol/ml = 13 M

()



Uraian

"

 &    &   

 &    &  



&  


&   


&  
&  

()




= k




( )( )




jika konsentrasi gas NO = 0,01 M dan gas


Br2 = 0,03 M maka:
v = 1.200 (0,01) (0,03)
= 0,36 M/detik

n=1
Persamaan laju reaksi: v =k [NO] [Br2]
Dari percobaan 1 diperoleh k sebagai berikut.
v = k [NO] [Br2]
6 = k (0,1) (0,05)
k = 1.200



 " !*


dt= 10 detik
Jadi, agar gas Br2 tersisa 8 mol, reaksi harus
berlangsung 10 detik lagi.
3. Misal: v = k [A]m [B]n
1) [A] = tetap, [B] = 2x v = 4x
4v = k [A]m [2B]n
4(k [A]m [B]n) = k [A]m [2B]n
4(k [A]m [B]n) = k [A]m 2n [B]n
4 = 2n
22 = 2 n
n=2
2) [A] = 3x, [B] = 3x v = 27x
27v = k [3A]m [3B]n
27(k [A]m [B]n) = k 3m [A]m 3n [B]n
27 = 3m 32
27 = 3m 9
3 = 3m
m=1
Jadi, persamaan laju reaksinya v = k [A] [B]2.

Kimia Kelas XI

51

3)

4.

[A] = 0,3 M, [B] = 0,2 M v = 1,2 101 M/det


1,2 101 = k (0,3) (0,2)2
1,2 101 = k (0,3) (0,04)
k= 10
Jadi, harga tetapan laju reaksinya adalah
10 mol2 L2 det1.

n=3
T1 = 30C t1 = 9 menit


T2 = 90C t2 =
menit
T = T2 T1
= (90 30)C = 60C





=n
=3

3 =3
27 = 3
33 = 3








\




\





7. Katalis homogen yaitu katalis yang mempunyai


fase sama dengan fase pereaksi atau katalis yang
dapat bercampur dengan pereaksi secara homogen.
Contoh:
a. Gas NO dan NO2, berfungsi mempercepat
reaksi pada pembuatan asam sulfat dengan
cara bilik timbal.
b. Larutan kobalt(II) klorida (CoCl2) dan larutan
besi(III) klorida (FeCl 3), berfungsi mempercepat reaksi pada penguraian hidrogen
peroksida.
Katalis heterogen yaitu katalis yang mempunyai
fase berbeda dengan fase pereaksi.
Contoh:
a. Besi, berfungsi mempercepat reaksi pembuatan amonia melalui proses Haber.
b. Batu kawi (MnO2), berfungsi mempercepat
reaksi penguraian kalium klorat.
c. Vanadium pentaoksida (V2O5), berfungsi
mempercepat reaksi pembuatan asam sulfat
melalui proses kontak.
8. v = k [H2] [NO]2

=3

v = 1,0 105  

x =  = 20C

= 2,0 105 M det1

Jadi, laju reaksi akan menjadi 3 kali lebih cepat


dari semula untuk setiap kenaikan 20C.
5. Misal x hasil reaksi, persamaan laju reaksi
adalah v =k[x]m.
Jika orde 0, v = k[x]0.
Jika orde 1, v = k[x]1.
Jika orde 2, v = k[x]2.
Dengan demikian, untuk persamaan laju reaksi
v = k[P]2, berarti reaksi P + Q R berorde 2.
Grafik orde reaksinya sebagai berikut.

Jadi, laju reaksi pada awal reaksi yaitu


2,0 105 M det1.



bagian NO telah diubah =  2 mol = 1 mol


2H2 + 2NO 2H2O + N2
Mula-mula : 8 mol 4 mol

Reaksi

: 1 mol 1 mol
1 mol  mol

Setimbang : 7 mol

3 mol

1 mol  mol

v = k [H2] [NO]2

v = 1,0 105  
= 7,875 105 M det1
[P]

6. Percobaan yang hanya dipengaruhi oleh luas


permukaan adalah percobaan 1 dan serta 2, 1 dan
3, 2 dan 3. Pada percobaan tersebut, bentuk zat P
berbeda-beda. Urutan percobaan dari yang paling
cepat hingga paling lambat adalah bentuk serbuk,
granula, dan lempengan. Semakin kecil bentuk zat,
semakin luas permukaan. Semakin luas permukaan, semakin cepat reaksi berlangsung.
Percobaan yang dipengaruhi oleh suhu adalah
percobaan 2 dan 5. Percobaan yang menggunakan suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan laju
reaksi yang lebih cepat.

52

Laju Reaksi

Jadi, laju reaksi setelah  bagian NO telah diubah


yaitu 7,875 105 M det1.
9. Orde reaksi Na2S2O3, [HCl] tetap percobaan 2
dan 4.


v= 



=





&
&

" & 

&





= 2m

2 = 2m
m=1
Orde reaksi HCl, [Na2S2O3] tetap percobaan 1
dan 2.











&

&

"


&
&

Dengan demikian,
n = 3 dan a = 20C
T1 = ? v1 = 0,081 M det1
T2 = 125C v2 = 0,243 Mdet1
T = T2 T1 = (125 T1)C
v2 = n
0,243 = 3

= 3n

1 = 3n
n=0
Order reaksi total 1 + 0 = 1.
Persamaan laju reaksi: v = k[Na2S2O3].
10. T = T2 T1
= (45 25)C
= 20C
Setiap kenaikan 20C maka laju reaksi menjadi 3
&
% 

kali lebih cepat &%  .

&

&

=3

31 = 3
1=

v1

 


0,081

 

 


 


20 = 125 T1
T1 = 125 20
= 105C
Jadi, reaksi dengan laju sebesar 0,081 M det1
berlangsung pada suhu 105C.

Kimia Kelas XI

53

Model Pengintegrasian Nilai Pendidikan Karakter


Kompetensi Dasar

Standar Kompetensi
3. Memahami kinetika
reaksi, kesetimbangan
kimia, dan faktor-faktor
yang memengaruhinya,
serta penerapannya
dalam kehidupan
sehari-hari dan industri.

3.1

3.2

3.3

Menjelaskan kesetimbangan dan faktorfaktor yang memengaruhi pergeseran arah


kesetimbangan dengan melakukan
percobaan.
Menentukan hubungan kuantitatif antara
pereaksi dengan hasil reaksi dari suatu
reaksi kesetimbangan.
Menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan
industri.

Nilai

Indikator

Disiplin

Disiplin saat mengerjakan praktikum


sesuai dengan prosedur.

Pada bab ini akan dipelajari:


1. Reaksi kimia, kesetimbangan kimia, dan tetapan kesetimbangan
2. Pergeseran kesetimbangan dan faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran kesetimbangan
3. Hubungan kuantitatif antara pereaksi dengan hasil reaksi

Reaksi Kesetimbangan

Menjelaskan tentang reaksi kimia,


kesetimbangan kimia, dan tetapan
kesetimbangan

Menjelaskan kesetimbangan dinamis


Menjelaskan kesetimbangan
homogen dan heterogen
Menjelaskan tetapan kesetimbangan

Menjelaskan tentang pergeseran


kesetimbangan dan faktor-faktor yang
memengaruhi pergeseran kesetimbangan

Siswa mampu menjelaskan reaksi


kesetimbangan

Menjelaskan tentang hubungan kuantitatif


antara pereaksi dan hasil reaksi

Meramalkan arah pergeseran


kesetimbangan dengan menggunakan asas Le Chatelier
Menganalisis pengaruh perubahan
konsentrasi, tekanan, volume, suhu,
dan katalis terhadap pergeseran
kesetimbangan melalui percobaan
Menjelaskan kondisi optimum untuk
memproduksi bahan-bahan kimia di
industri yang didasarkan pada reaksi
kesetimbangan

Siswa mampu menjelaskan faktorfaktor yang memengaruhi pergeseran


arah kesetimbangan dengan melakukan percobaan dan menjelaskan
penerapan prinsip kesetimbangan
dalam kehidupan sehari-hari dan
industri

Siswa dapat menjelaskan tentang reaksi kesetimbangan,


faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran
kesetimbangan, dan menentukan hubungan Kc dengan Kp

54

Reaksi Kesetimbangan

Menghitung harga Kc berdasarkan


konsentrasi zat dalam kesetimbangan melalui perhitungan
Menghitung harga Kc berdasarkan
tekanan parsial gas pereaksi dan hasil
reaksi pada keadaan kesetimbangan
Menghitung harga Kc berdasarkan Kp
Menafsirkan data percobaan
mengenai konsentrasi pereaksi dan
hasil reaksi pada keadaan setimbang
untuk menentukan dan Kc

Siswa mampu menentukan hubungan


kuantitatif antara pereaksi dengan hasil
reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan

A. Pilihan Ganda
1. Jawaban: c
Pada kesetimbangan homogen, komponenkomponen di dalamnya mempunyai wujud atau
fase sama. Pada reaksi Fe3+(aq) + SCN(aq)
Fe(SCN)2+(aq), semua komponennya memiliki
fase larutan.
2. Jawaban: d
Pada kesetimbangan dinamis reaksi berlangsung
terus-menerus pada kedua arah dengan kecepatan sama besar sehingga terjadi perubahan secara
mikroskopis yang tidak dapat dilihat dan diukur.
3. Jawaban: e
Suatu reaksi dikatakan mencapai kesetimbangan
jika laju penguraian reaktan sama dengan laju
pembentukan produk.
4. Jawaban: e
Kesetimbangan 4HCl(g) + O2(g)
2H2O(g) +
2Cl 2(g) merupakan kesetimbangan homogen
berwujud gas. Persamaan tetapan kesetimbangan
reaksi berasal dari semua zat yang terlibat dalam
reaksi.
Kc =

_ ?  
_?  

5. Jawaban: c
Persamaan reaksi setara untuk reaksi di atas
adalah:
Fe3O4(s) + 4CO(g)
3Fe(s) + 4CO2(g)
Oleh karena reaksi tersebut merupakan reaksi
heterogen, harga K c-nya hanya berasal dari
komponen berfase gas sehingga persamaan
Kc-nya menjadi: Kc =

?
?

6. Jawaban: b
Kesetimbangan Al3+(aq) + 3H2O( )
Al(OH3)(s)
+
+ 3H (aq) merupakan kesetimbangan heterogen
berbagai wujud yaitu padat, cair, gas, dan larutan.
Dengan demikian, tetapan kesetimbangannya
ditentukan dari zat yang berwujud larutan.
Kc =

_




7. Jawaban: e
Pada kesetimbangan dinamis, reaksi berlangsung
terus-menerus secara mikroskopis. Artinya, pada
saat terjadi reaksi, tidak terjadi perubahan yang
dapat dilihat dan diukur, tetapi terjadi perubahan
molar/perubahan mikroskopis.

8. Jawaban: c
Persamaan reaksi setara dari reaksi kesetimbangan tersebut:
2Na2SO4(s)
2Na2CO3(s) + 2SO2(g) + O2(g)
+ 2CO2(g)
Spesimen kimia yang ada dalam persamaan
kesetimbangan berasal dari spesimen kimia yang
ada dalam fase gas atau dalam fase larutan.
Dengan demikian, tetapan kesetimbangan reaksi
pada soal sebagai berikut.
Kc =

?  
    

9. Jawaban: a
Reaksi C(s) + CO2(g)
2CO(g) merupakan
reaksi kesetimbangan heterogen antara wujud
gas dan padat. Tetapan kesetimbangan berasal
dari zat-zat yang berwujud gas. Persamaan
tetapan kesetimbangannya sebagai berikut.
?

Kc = ?

10. Jawaban: d
Kesetimbangan tersebut merupakan kesetimbangan heterogen yang menyangkut fase padat dan
gas sehingga K c ditentukan oleh komponenkomponen yang berfase gas. Jadi, Kc =

_
_

B. Uraian
1. Reaksi reversible adalah reaksi yang dapat
berlangsung tidak hanya dari zat pereaksi, tetapi
juga berasal dari zat hasil reaksi yang dapat
bereaksi kembali membentuk zat pereaksi.
Contoh reaksi pembuatan gas klor. Persamaan
reaksi kesetimbangannya sebagai berikut.


2HCl(g) +  O2(g)
2. a.

b.

H2O(g) + Cl2(g)

Kesetimbangan heterogen adalah suatu


kesetimbangan kimia yang di dalamnya
terdapat beberapa wujud zat.
Kesetimbangan heterogen dibedakan
menjadi empat.
1) Kesetimbangan antara padat, cair, dan gas.

2)

Contoh: 2NaHCO3(s)
Na2CO3(s) +
H2O( ) + CO2(g)
Kesetimbangan antara gas dan padat.
Contoh: Fe3O4(s) + 4CO(g)
3Fe(s)
+ 4CO2(g)

Kimia Kelas XI

55

3)

Kesetimbangan antara gas dan cair.


Contoh: H2O( )
H2O(g)

4)

Kesetimbangan dalam larutan.


Contoh: Na+(aq) + Cl(aq)
NaCl(aq)

3. Ciri reaksi kesetimbangan sebagai berikut.


a. Reaksinya dapat balik (bersifat reversibel).
b. Laju reaksi ke arah produk sama dengan laju
reaksi ke arah reaktan.
c. Terjadi di dalam ruang tertutup.
d. Tidak terjadi perubahan secara makroskopis.
4. a.

Kc =

_

 _

b.

Kc = [H+][OH]

c.

Kc =

Kc = [CO2]

e.

Kc = [Ag+][Cl]

[c]
[R] dan [S]

[P] dan [Q]

[t]

Di awal reaksi konsentrasi reaktan maksimal.


Setelah berlangsung reaksi, konsentrasi reaktan
semakin berkurang, sementara konsentrasi produk
yang semula nol semakin lama bertambah.

?_
? _+
?_
?_

A. Pilihan Ganda
1. Jawaban: b
Reaksi CO 2(g) + H 2(g)
CO(g) + H 2O(g)
H = x kJ merupakan reaksi kesetimbangan
homogen berwujud gas yang bersifat eksoterm.
Pada kesetimbangan tersebut jumlah koefisien
ruas kanan sama dengan jumlah koefisien ruas
kiri. Dengan demikian, kesetimbangan tidak
dipengaruhi oleh tekanan.
2. Jawaban: e
Reaksi 2NH3(g)
N2(g) + 3H2(g) H = +92 kJ
merupakan reaksi kesetimbangan yang bersifat
endoterm. Jika pada kesetimbangan tersebut
suhu dinaikkan, kesetimbangan akan bergeser
ke arah endoterm atau ke arah produk, N2 dan
H 2.
Pergeseran
kesetimbangan
ini
mengakibatkan jumlah gas N2 dan H2 bertambah,
sedangkan jumlah NH3 berkurang.
3. Jawaban: b
Reaksi kesetimbangan:
2SO2(g) + O2(g)
2SO3(g) H < 0
Produk SO3 akan meningkat apabila tekanan
dinaikkan sehingga kesetimbangan bergeser ke
kanan. Suhu diturunkan agar kesetimbangan
bergeser ke arah eksoterm (ke arah produk). Jika
pada kesetimbangan volume diperbesar
kesetimbangan justru bergeser ke kiri atau produk
terurai kembali menjadi SO2 dan O2. Sementara
itu, katalis akan mempercepat laju reaksi ke arah
produk sehingga produksi belerang trioksida
meningkat. Namun, katalis tidak memengaruhi

56

5.

d.

Reaksi Kesetimbangan

pergeseran kesetimbangan. Katalis hanya mempercepat terjadinya kesetimbangan.


4. Jawaban: a
Reaksi CaCO 3 (s)
CaO(s) + CO 2 (g)
merupakan reaksi kesetimbangan heterogen
yang melibatkan fase padat. Jika pada
kesetimbangan tersebut volume diubah, zat yang
terpengaruh oleh perubahan volume adalah zat
yang berfase gas. Jika volume sistem diperbesar
maka konsentrasi CO2 bertambah, sedangkan
konsentrasi CaCO3 tidak terpengaruh.
5. Jawaban: d
Kesetimbangan 6NO(g) + 4NH3(g)
5N2(g) +
6H2O(g) merupakan kesetimbangan homogen
berwujud gas. Perubahan tekanan akan
memengaruhi pergeseran kesetimbangan. Jika
tekanan pada sistem tersebut diperbesar,
kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang
memiliki jumlah koefisien lebih kecil. Pada
kesetimbangan tersebut jumlah koefisien produk
lebih besar dari jumlah koefisien reaktan sehingga
kesetimbangan bergeser ke kiri atau ke arah
reaktan (NO dan NH3).
6. Jawaban: a
Pada kesetimbangan NH 4Cl(g)
NH 3(g) +
HCl(g) jumlah koefisien produk lebih besar dari
jumlah koefisien reaktan. Konsentrasi NH3 akan
berkurang jika pada kesetimbangan uap NH4Cl
dikurangi, gas HCl ditambah, volume ruang
diperkecil, tekanan ruang diperbesar, dan
konsentrasi NH4Cl diperbesar/ditambah.

7. Jawaban: b
5N 2 (g) +
Reaksi: 6NO(g) + 4NH 3 (g)
6H2O(g) H = x kJ termasuk reaksi eksoterm.
Apabila suhu diturunkan pada volume tetap,
sistem kesetimbangan akan bergeser ke arah
eksoterm. Dengan demikian, sistem kesetimbangan di atas akan bergeser ke arah kanan
sehingga konsentrasi N2 akan bertambah.
8. Jawaban: d
Kesetimbangan heterogen yang melibatkan fase
larutan, cairan, dan padat, kesetimbangannya
hanya berasal dari zat berfase larutan saja.
Sehingga pada reaksi BiCl3(aq) + H 2O( )
_? 

BiOCl(s) + 2HCl(aq), harga Kc = ? . Jika

volume diperkecil, kesetimbangan bergeser ke kiri


karena jumlah koefisien BiCl3 < koefisien HCl.
Harga Kc hanya dipengaruhi oleh suhu. Jika suhu
tetap maka Kc tetap.
9. Jawaban: b
Pembuatan asam sulfat dilakukan melalui proses
kontak, melalui tahapan-tahapan berikut.
1) Pembakaran belerang
S(s) + O2(g) SO2(g)
2)

Pembakaran belerang dioksida dengan


katalis V2O5, reaksi berupa reaksi kesetimbangan
2SO2(g) + O2(g)

2SO3(g)

3)

Pelarutan belerang trioksida dalam asam


sulfat.
SO3(g) + H2SO4(aq) H2S2O7( )

4)

Hidrolisis asam pirosulfat


H2S2O7( ) + H2O( ) 2H2SO4( )

10. Jawaban: c
Jika konsentrasi CO dikurangi, kesetimbangan
akan bergeser ke kiri.
Fe3O4(s) + 4CO(g)
3Fe(s) + 4CO2(g)
Dengan demikian, gambar partikel hasil reaksi
(CO2) berkurang dan gambar partikel pereaksi
(CO) bertambah. Gambar partikel
tidak
berubah karena Fe berwujud padat. Dengan
demikian, hanya gambar partikel
saja yang
berkurang. Gambar c merupakan gambar partikel
hasil reaksi yang berkurang. Sementara itu,
gambar a merupakan gambar partikel pereaksi
yang bertambah (gambar partikel CO bertambah,
gambar partikel Fe 3 O 4 tetap karena Fe 3 O 4
berwujud padat).

11. Jawaban: d
Pada reaksi kesetimbangan endoterm seperti
persamaan reaksi pada soal, kesetimbangan akan
bergeser ke kanan jika suhu dinaikkan, tekanan
diturunkan, volume ditambah, dan konsentrasi
reaktan ditambah.
12. Jawaban: c
Dari ilustrasi gambar di atas, setelah diberikan
perlakuan jumlah CH4 bertambah sedang jumlah
C tetap dan H2 berkurang (reaksi kesetimbangan
bergeser ke kanan). Jadi, perlakuan terhadap
kesetimbangan tersebut adalah suhu diturunkan
dan tekanan diperbesar.
13. Jawaban: d
N2O4(g) merupakan
Kesetimbangan 2NO2(g)
kesetimbangan homogen berwujud gas. Pada
kesetimbangan tersebut reaksi ke arah produk
bersifat eksoterm. Jika suhu diturunkan,
kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan
atau ke arah eksoterm dan konsentrasi N2O4 bertambah.
14. Jawaban: e
Menambah air pada kesetimbangan Fe3+(aq) +
SCN(aq)
FeSCN2+(aq) berarti menambah
volume sistem. Jika volume diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang
jumlah koefisiennya lebih besar, yaitu ke arah
reaktan atau Fe3+ dan SCN. Dengan demikian,
konsentrasi ion Fe3+ dan ion SCN akan bertambah, sedangkan harga Kc tetap karena pada
reaksi kesetimbangan berlangsung secara
mikroskopis sehingga tidak ada perubahan pada
sistem.
15. Jawaban: e
Penggunaan suhu yang terlalu tinggi pada reaksi
kesetimbangan industri asam sulfat melalui
proses kontak akan membuat kesetimbangan
reaksi bergeser ke kiri, yaitu ke arah endoterm.
Kondisi ini mengakibatkan jumlah SO3 sedikit
karena SO 3 yang dihasilkan terurai kembali
menjadi SO2 dan O2.
B. Uraian
1. Apabila pada kesetimbangan diberi aksi,
kesetimbangan akan melakukan reaksi.
a. Jika suhu diturunkan, kesetimbangan akan
bergeser ke arah eksoterm.
b. Jika salah satu produk ditambah, reaksi akan
bergeser dari arah produk yang ditambah.
c. Jika salah satu zat pereaksi dikurangi,
kesetimbangan akan bergeser ke arah
pereaksi yang dikurangi.

Kimia Kelas XI

57

d.

e.

2. a.

b.

c.

Jika tekanan diperkecil, kesetimbangan akan


bergeser ke arah zat yang jumlah koefisiennya besar.
Jika volume diperkecil, kesetimbangan akan
bergeser ke arah zat yang jumlah koefisiennya kecil.
Jika jumlah amonia dikurangi, kesetimbangan
akan bergeser ke arah produk sehingga hasil
yang diperoleh maksimal.
Jika konsentrasi gas nitrogen dikurangi,
kesetimbangan akan bergeser ke arah
reaktan.
Jika pada sistem tekanan diperkecil, kesetimbangan akan bergeser ke arah zat yang
jumlah koefisiennya lebih banyak, yaitu ke
arah reaktan. Kondisi ini dapat mengurangi
produk.

d.

4. Pada reaksi kesetimbangan:


2SO2(g) + O2(g)
2SO3(g)
a.

Jika volume sistem diperkecil, kesetimbangan


akan bergeser ke arah zat yang jumlah
koefisiennya lebih kecil, yaitu ke arah produk
SO3. Dengan demikian,
1) jumlah gas SO3 akan bertambah;
2) jumlah gas SO2 berkurang karena reaksi
berjalan ke arah produk.

b.

Jika konsentrasi gas SO 2 diperbesar,


kesetimbangan akan bergeser ke kanan, ke
arah produk. Dengan demikian, konsentrasi
gas SO3 akan bertambah.

5. a.

Pada kesetimbangan:
CO(g) + H2O(g)
CO2(g) + H2(g) H = 40 kJ

3. Reaksi kesetimbangan
CO2(g) + H2(g)
CO(g) + H2O(g) H = 41,2 kJ
a.

b.

c.

Pada suhu dan tekanan tetap jika gas H2


dinaikkan/ditambah, kesetimbangan akan
bergeser ke ruas kanan reaksi. Karena reaksi
bergeser ke kanan, gas CO akan bertambah.
Pada suhu dan tekanan tetap jika uap H2O
dikurangi, kesetimbangan akan bergeser ke
ruas kanan reaksi. Karena reaksi bergeser
ke kanan, gas CO akan bertambah.
Pada suhu tetap jika tekanan sistem
diperbesar, kesetimbangan bergeser ke
jumlah mol gas terkecil. Karena jumlah mol
gas pada ruas kanan dan ruas kiri dalam persamaan reaksi tersebut sama kesetimbangan
tidak bergeser. Oleh karena itu, gas CO
adalah tetap.

A. Pilihan Ganda
1. Jawaban: b
Reaksi: H2(g) + I2(g)
Kc = 0,5
_

Kc = _
 


0,5 = 

[I2] =

58


&

Reaksi Kesetimbangan

2HI(g)

Pada volume tetap jika suhu sistem


dinaikkan, kesetimbangan akan bergeser ke
arah reaksi endoterm (ke kanan). Dengan
demikian, gas H2 akan berkurang (makin
kecil).

Jika suhu dinaikkan, kesetimbangan bergeser


ke arah endoterm (ke kiri) sehingga CO2 dan
H2 berkurang serta CO dan H2O bertambah.
b.

CO(g) + H2O(g)

CO2(g) + H2(g)

Jika volume diperbesar, kesetimbangan tidak


bergeser (tetap), sebab jumlah koefisien
pereaksi sama dengan jumlah koefisian hasil
reaksi.

2. Jawaban: a
Kesetimbangan 2Al 3+ (aq) + 6H 2 O( )
2Al(OH)3(s) + 6H+(aq) merupakan kesetimbangan
heterogen yang melibatkan berbagai fase, yaitu
padat (s), cair ( ), dan larutan (aq). Dengan
demikian, harga tetapan kesetimbangannya
hanya berasal dari zat yang berfase larutan (aq).
Oleh karena itu, persamaan tetapan kesetimbangannya sebagai berikut.
_+ 

Kc = 
+ 

3. Jawaban: d

8. Jawaban: a
2Al(s) + 3H2O(g)
Al2O3(s) + 3H2(g)
mol awal
:1
1
mol bereaksi : 0,4
0,6
0,2
0,6

mol setimbang : 0,6


0,4
0,2
0,6

Kc =



  +


Harga tetapan kesetimbangan reaksi tersebut


berasal dari zat-zat berfase gas saja.



= Kp(RT)2
= 2,9 103 (0,0821 (178 + 273))2
= 3,97 = 4
4. Jawaban: d

& "
= 0,4 M
*
& "
= 0,7 M
*

[SO2] =

[SO3] =
Kc =

& "
*

&
&  & 

5. Jawaban: c
Persamaan reaksi kesetimbangan:
4NH3(g) + 3O2(s)
2N2(g) + 6H2O(g)
mol pada saat setimbang = konsentrasi zat saat
setimbang karena volume ruangan sebanyak
1 L. Harga tetapan kesetimbangan berasal dari
semua zat yang terlibat dalam reaksi karena
semua zat berwujud gas.
Kc =

  _
_
 

=
=

 
 


=4


Reaksi: N2(g) + 3H2(g)

2NH3(g)

 _ 


 

7. Jawaban: c
Harga Kc untuk reaksi N2(g) + 3H2(g)


Kc =
=

_

 _

&

& &

10. Jawaban: c
Reaksi 1): 2SO2(g) + O2(g)

2SO3(g) K1 = K


reaksi 2) adalah  koefisien reaksi 1) sehingga K


reaksi 2) adalah kebalikan K reaksi 1) di akar
pangkat 2.



11. Jawaban: d
PCl5(g)
PCl3(g) + Cl2(g)
mula-mula : 0,30 mol
terurai
: 0,20 mol
0,20 mol 0,20 mol

setimbang : 0,10 mol


0,20 mol 0,20 mol

_


PN2 =

9. Jawaban: d
Kc = 0,5
R = 0,082 L atm mol1 K1
T = 27C = 300 K
CH3OH(g) CO(g) + 2H2(g)
n = 3 1 = 2
Kp = Kc (RT)n
= 0,5 (0,082 300)2

K2 =

Kp = 54


 

&
&

SO2(g) +  O2(g) K2 = . . . ?
Reaksi 2) merupakan kebalikan reaksi 1), koefisien

6. Jawaban: b

54 =

&


Reaksi 2): SO3(g)

Jadi, harga tetapan kesetimbangan reaksi


tersebut sebesar 4.

Kp =

&


= 3,375
Jadi, harga tetapan kesetimbangan untuk reaksi
tersebut sebesar 3,375.

= 0,6 M



    

_

_

( )
( )

"
 "

Konsentrasi =

[O2] =

Kc =

2NH3(g).

"  
" " " 

&
&


= 0,66

Persentase PCl5 yang terurai = 0,66 100%


= 66%

Kimia Kelas XI

59

12. Jawaban: d
Reaksi kesetimbangan:
NH4Cl(s)
NH3(g) + HCl(g)
Harga Kp diperoleh dari zat berfase gas sehingga
Kp = (PNH )(PHCl)

B. Uraian
&

1. [HBr] =  = 0,5 M
&
=

&
[Br2] =  =
_ 
Kc = _
&&
=
&

[H2] =

Kp = a
PNH = PHCl, karena koefisiennya sama maka:
3

a = (PNH )2
3

PNH = PHCl = 
3
Ptotal = PNH + PHCl
3

 +
=2 
=

2.

13. Jawaban: a
&"
= 0,05 mol/L
*
&"
[I2] =  * = 0,05 mol/L
& "
[HI] =  * = 0,25 mol/L

n = jumlah koefisien gas kanan jumlah


koefisien gas kiri
=22
=0
_

Kc = _
 




3Y(g)





 


  

(x 1) =
(x 1) = 2
x=3
4. a.

Kp =
=

PY3 = 82 
PY3 = 8
PY = 2 atm

_ 
_  

& 

&  &  

= 4,56 103
b.

15. Jawaban: d
Tetapan kesetimbangan Kc = Kp apabila harga
n = 0, seperti pada reaksi:
CO2(g) + H2(g)

CO(g) + H2O(g)

n = 2 2 = 0
2HI(g)

n = 2 2 = 0

60

= 16

 
 

H2(g) + I2(g)

&!&!
&!&!

8 = (x 1)(4)

b.

3. Reaksi
: P + 2Q
R
mol awal
: x
4

mol reaksi
: 1
2
1

mol setimbang : x1 2
1
Kc =

14. Jawaban: c
Reaksi kesetimbangan: 2X(g)

a.

?  _
?_

Jadi, harga tetapan kesetimbangan reaksi


tersebut sebesar 16.

Kp = Kc (RT)n
Kp = Kc (RT)0
Kp = Kc (1)
Kp = Kc

= 0,25

CO(g) + H2O(g)
CO2(g) + H2(g)
mol awal
: 1
1
mol reaksi
: 0,8
0,8
0,8
0,8

mol setimbang : 0,2


0,2
0,8
0,8

Kc =

H2 + I2 2HI




0,25 M

Kesetimbangan tersebut merupakan kesetimbangan homogen berwujud gas sehingga Kc


berasal dari semua zat yang terlibat dalam reaksi.

[H2] =

Kp =

0,25 M

Reaksi Kesetimbangan

Kp = Kc(RT)n
n = mol zat produk mol zat reaktan
= 2 (2) = 0
R = 0,082 L atm K1mol1
T = 490 + 273 = 763 K
Kp = Kc(RT)0 (RT)0 = 1
4,56 103 = Kc
Jadi, harga Kp = Kc = 4,56 103.

5. N2O4(g)

2NO2(g)

T = 298K
Ptot = 3,6 atm
PN O = 2,7 atm
2


&\
&

2 4

Ptot = PNO + PN

 

Kp =

= 0,3
Kp = Kc(RT)n

2 4

3,6 = PNO + 2,7

0,3 = Kc(0,082 298)1

PNO = 0,9 atm

0,3 = 24,436 Kc

Kc = 0,012
Jadi, harga Kp = 0,3 dan Kc = 0,012.

A. Pilihan Ganda

"

1. Jawaban: b
Dengan kesetimbangan heterogen, persamaan
reaksinya mempunyai beberapa zat yang
berbeda fase. Misal fase padat dengan gas
seperti pada persamaan kesetimbangan
La2(C2O4)3(s)
La2O3(s) + 3CO(g) + 3CO2(g).
Sementara itu, pada reaksi a, c, d, dan e
merupakan kesetimbangan homogen berwujud
gas.
2. Jawaban: b
Kesetimbangan akan cepat tercapai apabila
dalam reaksi tersebut digunakan katalis. Katalis
mempercepat terjadinya kesetimbangan tanpa
ikut bereaksi.
3. Jawaban: e
Pada kesetimbangan AB3
A(g) + 3B(g) jumlah
koefisien produk lebih banyak dari koefisien
reaktan. Jika pada kesetimbangan tersebut
tekanan diperkecil, kesetimbangan akan bergeser
ke zat yang jumlah koefisiennya lebih banyak,
yaitu ke arah produk. Kondisi ini mengakibatkan
jumlah gas A dan B bertambah.
4. Jawaban: a
Kesetimbangan 2BaO(s) + O2(g)
2BaO2(s)
merupakan kesetimbangan heterogen. Tetapan
kesetimbangan reaksi tersebut berasal dari zat
yang berfase gas sehingga Kc =


 

5. Jawaban: b
Persamaan reaksi : 2SO3(g)
2SO2(g) + O2(g)
mol awal
: 8
mol reaksi
: 4
4
2

mol setimbang
: 4
4
2

Konsentrasi =  "
Kc =

    



 ! !
 !

&&
&

= 0,2

Jadi, harga tetapan kesetimbangan untuk reaksi


tersebut sebesar 0,2.
6. Jawaban: d
2NO(g) + O2(g)
2NO2(g) H = +150 kJ/mol
Jika suhu dinaikkan, kesetimbangan bergeser ke
arah endoterm (ke kanan) dan harga K semakin
kecil. Hal ini sesuai dengan persamaan Kc =



. Jika suhu diperbesar, nilai Kc semakin

kecil.
7. Jawaban: e
H2(g) + Cl2(g)
2HCl(g) H = x kJ
Jika suhu diturunkan, kesetimbangan bergeser
ke arah eksoterm (ke kanan) dan harga K
bertambah karena suhu berubah.
8. Jawaban: d
Reaksi kesetimbangan 2NO(g) + O 2(g)
N2O4(g) H = x kkal merupakan reaksi eksoterm.
Jika pada kesetimbangan suhu dinaikkan,
kesetimbangan akan bergeser ke arah endoterm
atau ke arah reaktan. Kondisi ini mengakibatkan
jumlah gas NO dan gas O 2 bertambah,
sedangkan jumlah N2O4 semakin berkurang.

Kimia Kelas XI

61

9. Jawaban: a
CO(g) + 3H2(g)

CH4(g) + H2O(g)

Jika pada suhu tetap volume diperkecil,


kesetimbangan bergeser ke arah zat yang jumlah
koefisiennya kecil (ke kanan) dan harga Kc tetap.
Harga Kc dipengaruhi oleh suhu. Jika suhu tetap,
harga Kc tetap.
10. Jawaban: b
H2(g) + Br2(g) H = 72 kJ
2HBr(g)
Kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri jika:
1) konsentrasi HBr dikurangi;
2) suhu diturunkan;
3) konsentrasi H2 atau Br2 ditambah.
11. Jawaban: a
Persamaan
: 2HI(g)
H2(g) + I2(g)
mol awal
: 0,1
mol reaksi
: 0,04
0,02 0,02

mol setimbang : 0,06


0,02 0,02
Harga tetapan kesetimbangan (K c ) untuk
kesetimbangan tersebut:
Kc =

_ 
_

&!&!
&!



=
&  = 1,1 101
Jadi, harga tetapan kesetimbangan untuk reaksi
di atas sebesar 1,1 101.
12. Jawaban: a
Persamaan
: N2(g) + 3H2(g)
2NH3(g)
mol awal
: 1
3
mol reaksi
: 0,5
1,5
1

mol setimbang : 0,5


1,5
1
Ptotal = 3 atm
mol total = 3


PNH =
3 atm = 1 atm
3
&

&

PH =
3 atm = 1,5 atm
2
_


 _ 


&&


&\

= 0,59

Jadi, harga tetapan kesetimbangan parsial (Kp)


reaksi tersebut sebesar 0,59.
13. Jawaban: d
Persamaan kesetimbangan (1):
2SO2(g) + O2(g)
2SO3(g) Kc = 25
Persamaan kesetimbangan (2):
SO3(g)

62




O2(s) + SO2(g)

Reaksi Kesetimbangan

SO3(g)
Kc =





O (s)
 2



+ O2(g)

14. Jawaban: c
Reaksi A + AC 2
2AC diperoleh dari
penggabungan kedua reaksi kesetimbangan.
Reaksi pertama tetap, reaksi kedua dikali dua.
1)
A + 2BC
AC2 + 2B
K = 0,5
2) 2B + 2AC2
2BC + 2AC K = 16

A + AC2
2AC
K = (0,5 16)
=8
15. Jawaban: b
2SO3(g)
2SO2(g) + O2(g)
mula-mula : 1 mol

terurai
: 0,5 mol
0,5 mol
0,25 mol

setimbang : 0,5 mol


0,5 mol
0,25 mol
Kc =

& &
&

= 0,25

16. Jawaban: d
Perubahan volume tidak akan memengaruhi
pergeseran kesetimbangan pada reaksi
kesetimbangan yang jumlah koefisien antara
produk dan reaktan sama. Reaksi kesetimbangan
tersebut dimiliki oleh persamaan reaksi d.
17. Jawaban: b
Kesetimbangan heterogen seperti:
2ZnS(s) + 3O2(g)
2ZnO(s) + 2SO2(g)
Tetapan kesetimbangannya berasal dari zat
berfase gas saja sehingga K =

PN =
3 atm = 0,5 atm
2

Kp =

Persamaan kesetimbangan (2) merupakan


kebalikan dari persamaan kesetimbangan (1)
dengan harga setengahnya. Dengan demikian,
harga Kc untuk kesetimbangan (2) adalah akar
dua dari harga Kc dan dibalik.

Kc = . . . ?

 


18. Jawaban: a
Persamaan reaksi: 2HBr(g)
H2(g) + Br2(g)
mol awal
: 0,1
mol reaksi
: 0,05
0,025 0,025

mol setimbang
: 0,05
0,025 0,025
Harga tetapan kesetimbangan (K c ) untuk
kesetimbangan tersebut:
Kc =

_ 
_

&!&!
&!

& 
& 

= 2,5 101

Jadi, harga tetapan kesetimbangan untuk reaksi


tersebut sebesar 2,5 101.
19. Jawaban: a
[HI] = 0,5 M

_
_ 

2,8 = 0,8
2,8 = 0,8

&
&

PAB =

setimbang:

50 =

&
&
&
&

PA =
PB =

[I2] = 0,1 M
K=

Ptot = 2,8 atm

2,8 = 1,2




Kp =

= 0,5 =

20. Jawaban: d
Persamaan reaksi: 2HI(g)
H2(g) + I2(g)
mol awal
: 1
mol reaksi
: 0,5
0,25
0,25

mol setimbang
: 0,5
0,25
0,25
_ 
_

&!&!
&!

&
&

= 0,25
Jadi, harga tetapan kesetimbangan reaksi
tersebut sebesar 0,25.
21. Jawaban: b
Persamaan
: PCl5(g)
PCl3(g) + Cl2(g)
mol awal
: 0,1
mol reaksi
: 0,1
0,1
0,1
+
mol setimbang : (0,1 0,1) 0,1
0,1
Kc =

?
? 
? 

00,5 =

&
& & 




& &
&

= 0,53

23. Jawaban: c

&
_ &

[H2] = 0,05

Kc =

  
& 

102

+ 5 5 = 0
22 + 1 = 0
(2 1)( + 1) = 0
2 1 = 0
= 0,5 atau = 50%
Jadi, banyak mol PCl5 yang terurai sebesar 50%.
22. Jawaban: c
AB(g)
A(g) + B(g)
mula-mula : 1 mol

terurai
: 0,4 mol
0,4 mol 0,4 mol

setimbang : 0,6 mol


0,4 mol 0,4 mol
mol total = 0,6 + 0,4 + 0,4 = 1,4 mol

0,5 =

"  
" 
"  
"

mol terurai = 2 mol


2NO2(g)
N2O4(g)
mula-mula : 4 mol

terurai
: 2 mol
4 mol

setimbang : 2 mol
4 mol
mol = 2 + 4 = 6 mol

PNO =  3 atm = 2 atm


2
PN

2 4

Kp =

=  3 atm = 1 atm
 
 




=4

24. Jawaban: e
Persamaan kesetimbangan:
NH4CO2NH2(s)

2NH3(g) + CO2(g)

Oleh karena kesetimbangan tersebut tergolong


kesetimbangan heterogen antara padat dan gas
maka tetapan kesetimbangan parsialnya berasal
dari zat yang berfase gas.
Kp = [NH3]2 [CO2]
Tekanan total = 0,3
mol total = 3
PNH =
3

" _

" 

Ptotal

=
0,3 atm
= 0,2 atm
PCO =
2

" ?
" 

Ptotal

=
0,3 atm
= 0,1 atm

Kimia Kelas XI

63

Kp = (PNH )2(PCO )
3

= (0,2)2(0,1)
= 0,004
= 4 103

1,25 =

29. Jawaban: d
Reaksi (1): 2X + 2Y
Reaksi (2): 2Z

25. Jawaban: c
Persamaan reaksi: PCl5(g)
Kp =





PCl3(g) + Cl2(g)

4Z

X+Y

K1 = 0,04
K2 = . . . ?

Reaksi (2) merupakan kebalikan reaksi (1), koefisien




?
?  

reaksi (2) adalah  koefisien reaksi (1) sehingga


harga K reaksi (2) adalah kebalikan K reaksi (1)
di akar pangkat 2.

?  
& ?  
&\

K2 =

1,125 = (0,75)(PCl )




(PCl ) =
2

&
& 

= 1,5

Jadi, tekanan parsial untuk Cl2 pada reaksi di atas


sebesar 1,5 atm.
26. Jawaban: b
Persamaan reaksi:
CO2(g) + H2(g)
CO(g) + H2O(g)
n = 2 2 = 0
R = 0,082
T = 500C = 773 K
Kp = Kc(RT)n = Kc(RT)0 = Kc = 4


&

 = 5

30. Jawaban: d
Persamaan reaksi:
N2(g) + 3H2(g)
2NH3(g)
Kp =
48 =

Jadi, harga Kp untuk reaksi tersebut sama dengan


harga Kc, yaitu sebesar 4.
27. Jawaban: c
Kp = Kc apabila jumlah mol produk = jumlah mol
reaktan, sebab Kp = Kc(RT)n di mana (RT)n
harus sama dengan 1. Ini diperoleh apabila
n = 0, artinya jumlah koefisien produk dikurangi
jumlah koefisien reaktan = 0. Pada reaksi di atas
terdapat pada:
2HCl(g)
H2(g) + Cl2(g)
Pada reaksi e, reaktan yang memiliki fase gas
hanya CO sehingga koefisien reaktan hanya
dihitung 1.
28. Jawaban: b
Untuk kesetimbangan:
N2O4(g)
mula-mula :
terurai

setimbang :


X


2NO2(g)


X


48 =

Reaksi Kesetimbangan

 _ 

_

 &

&
 &

(PN )0,75 = 0,0625


2

PN = 0,08
2

Jadi, tekanan parsial gas N2 pada reaksi tersebut


sebesar 0,08 atm.
B. Uraian
1. a.

Kc = [Ca(OH)2]

b.

Kc =

?
_? _

c.

Kc =

?
_

d.

Kc =

 _
_

2. a.

Kc =

b.

Kc =

c.

Kc = (PNH )(PHCl)

d.

64

_




   
 
? 
3

Kc =

?_   
? 

3. Pada kesetimbangan:
2CO2(g) + 2H2(g)
2CO(g) + 2H2O(s) H =
+x kkal arah pergeseran kesetimbangannya:
a. jika suhu dinaikkan, kesetimbangan akan
bergeser ke arah endoterm atau ke arah
kanan (produk);
b. jika volume sistem diperbesar, kesetimbangan tidak bergeser karena jumlah
koefisien antara produk dan reaktan sama;
c. jika konsentrasi gas CO 2 dikurangi,
kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri
atau reaktan;
d. jika gas CO yang terbentuk dipindahkan, kesetimbangan bergeser ke kanan atau produk.
4. Reaksi N2(g) + 3H 2(g)
2NH3(g) H =
22 kkal merupakan reaksi eksoterm. Perlakuan
yang dapat mengoptimalkan produksi amonia
sebagai berikut.
a. Mengatur suhu agar tidak terlalu tinggi,
karena jika suhu tinggi produk akan terurai
menjadi reaktan kembali.
b. Menaikkan tekanan, karena jumlah koefisien
produk lebih kecil dari koefisien reaktan
sehingga kesetimbangan akan bergeser ke
arah produk.
c. Memisahkan gas amonia yang terbentuk
agar reaksi berjalan ke arah produk.
d. Menambah konsentrasi gas hidrogen dan nitrogen agar kesetimbangan bergeser ke arah
produk.
e. Menggunakan katalis agar kesetimbangan
cepat tercapai.
5.

2NH3(g)
N2(g) + 3H2(g)
mula-mula : 0,1 mol
bereaksi : 0,04
0,02
0,06 mol

setimbang : 0,06
0,02
0,06 mol
V = 6L
Kc =

 _
_


=
6. a.

&!&!
&!

= 0,00003

2A(g) + B(g)
2C(g)
mula-mula : 0,5 mol X

bereaksi : 0,2 mol 0,1 mol 0,2 mol

setimbang : 0,3 mol (X 0,1) 0,2 mol

?


Kc =

&
&
  &

4=

x = 0,2

Jadi, mol gas B = 0,2.


b.

Kp = Kc(RT)n
R = 0,082
T = 70 + 273
= 343 K
n = 2 3 = 1
= 4(0,082 343)1
=


&




&

= 0,14



7. mol SO3 =  = 0,2 mol = a


volume = 1L
T = (277 + 273)K = 550K
a. Kesetimbangan disosiasi:
2SO3(g)
setimbang: a(1 )
mol SO3 : O2 = 2 : 3

2SO2(g) + O2(g)
a


a


 (1 ) :   = 2 : 3


1 :  = 2 : 3



3 3 =
4 = 3

Jadi, derajat disosiasinya .


b.

"   
"  
"   
&

mol zat terurai = 0,015 mol


Kesetimbangan:
2SO3(g)
2SO2(g) + O2(g)
mula-mula : 0,2 mol
terurai
: 0,15 mol
0,15 mol 0,075 mol

setimbang : 0,05 mol


0,15 mol 0,075 mol

Kimia Kelas XI

65

    



Kc =

= 0,675
Kp = Kc(RT)n

Kc =

d.

Kp = Kc(RT)n



10. a.

&

9. Persamaan reaksi : N2O4


2NO2(g)
mol awal
: 5
mol reaksi
: y
2y

mol setimbang
:5y
2y
Misal:
5 y = 2y
2y y = 5
3y = 5


y =

Dengan demikian, persamaan reaksinya menjadi


sebagai berikut.
Reaksi
: N2O4
2NO2(g)
mol awal
: 5

Kesetimbangan: H2(g) + Cl2(g)


mol setimbang: 0,8 mol 0,5 mol
Volume = 6L
Kc =

b.

_? 
_ ? 

K=
0,9 =

0,9 =

 + & + &

 & + &

=  =

x1; 2 =

"

x=

reaksi =  "

66

Konsentrasi setiap zat yang terlibat dalam

[N2O4] =

"  
 "  


"

*

Reaksi Kesetimbangan



&
&

= 0,9

_? 
_ ? 
& + 


 &

 

1)

3,1x2 + 3,75x 0,09 = 0

Jadi, untuk reaksi tersebut sebesar


.
b.

&!
&!&!



"  
" " " 

2HCl(g)
0,6 mol

Dengan penambahan 0,2 mol H 2, kesetimbangan bergeser ke kanan.


Misal: H2 yang bereaksi x mol
Cl2 yang bereaksi x mol
HCl hasil reaksi 2x mol
Konsentrasi yang baru:
H2 = (0,8 + 0,2) x mol = 1 x mol
Cl2 = 0,5 x mol
HCl = 0,6 + 2x mol



mol reaksi
:



Kp =
(0,082 300)1 = 82

NH4Cl =  80 cmHg = 40 cmHg

T = 27C = 300 K
n = 2 1 = 1

&

Derajat disosiasi () =







HCl =  80 cmHg = 24 cmHg



Kc =

&

mol setimbang :



=
M

R = 0,082

NH3 =  80 cmHg = 16 cmHg

  


"

*

c.

NH3 + HCl
NH4Cl
0,2 mol 0,3 mol
0,5 mol
Jumlah mol = 0,2 + 0,3 + 0,5 = 1
Tekanan parsial:

a.



= 0,675(0,082 550)1
= 30,4
8.

" 
 "  

[NO2] =

& & 
&

c.

2)

=
M

# # 


&  
&  
& &\
 
&
& 
&

= 0,023

Kesetimbangan yang baru:


H2 = 1 x = 1 0,023 = 0,977 mol
Cl2 = 0,5 x = 0,5 0,023 = 0,477 mol
HCl = 0,6 + 2x = 0,6 + (2 0,023) = 0,646 mol

A.

Pilihlan Ganda

1. Jawaban: c
Konfigurasi elektron ion X+ = 1s2 2s2 2p6
Jumlah elektron ion X+ = 10
Ion X+ terjadi karena unsur X kehilangan 1 elektron,
sehingga jumlah elektron unsur X = 11.
Konfigurasi elektron unsur X = 1s2 2s2 2p6 3s1
Bilangan kuantum elektron valensi X:
3s1 :

Elektron valensi menempati kulit ke-3, maka n = 3


Elektron valensi berada pada subkulit s, maka
= 0, m = 0


Posisi elektron menghadap ke atas, maka s = +  .


Jadi, bilangan kuantum elektron valensi unsur X:
n = 3;

= 0; m = 0; s = +  .

2. Jawaban: d
Konfigurasi unsur 26Fe: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d6
Tabel pengisian elektron pada orbital:

hj

hj hj hj hj

1s 2 2s 2

2p6

hj hj hj hj hj
3s 2

3p6

4s 2

hj h h h h
3d6

Jumlah orbital elektron berpasangan:


1 + 1 + 3 + 1 + 3 + 1 + 1 = 11
Orbital elektron tidak berpasangan berjumlah 4.
3. Jawaban: e
Konfigurasi elektron ion X+ = 1s2 2s2 2p6
Konfigurasi elektron atom X = 1s2 2s2 2p6 3s1
Orbital hibrida 3s1
kuantum: n = 3,

, mempunyai bilangan


= 0, m = 0, s = +  .

4. Jawaban: e
Konfigurasi unsur-unsur P, Q, R, S, dan T sebagai
berikut.
2
1
3P : 1s 2s
2
2
6
2
12Q : 1s 2s 2p 3s
2
2
6
2
6
1
19R : 1s 2s 2p 3s 3p 4s
2
2
6
2
6
2
10
3
33S : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p
2
2
6
2
6
2
10
6
2
10
5
53T : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p

Berdasarkan konfigurasi elektron di atas, unsur


yang terletak dalam blok p dalam sistem periodik
adalah unsur S dan T.
5. Jawaban: a
Elektron di kulit pertama : 1s2
Elektron di kulit kedua: 2s2 2p6
Elektron di kulit ketiga: 3s2 3p3
Jumlah elektron di subkulit p = 6 + 3 = 9
6. Jawaban: b
Konfigurasi elektron 28Ni = [Ar] 4s2 3d8
Diagram orbital hibrida elektron valensi 28Ni =

hj hj hj hj h
4s 2

3d8

Jumlah elektron tidak berpasangan ada 2.


7. Jawaban: b
Konfigurasi elektron unsur-unsur Li, Al, B, Sc, N,
Cl, Mg, dan K sebagai berikut.
: 1s2 2s1
3Li
: 1s2 2s2 2p1
5B
: 1s2 2s2 2p3
7N
2
2
6
1
11Na : 1s 2s 2p 3s
2
2
6
2
12Mg : 1s 2s 2p 3s
2
2
6
2
1
13Al : 1s 2s 2p 3s 3p
2
2
6
2
5
17Cl : 1s 2s 2p 3s 3p
2
2
6
2
6
1
19K : 1s 2s 2p 3s 3p 4s
2
2
6
2
6
2
1
21Sc : 1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d
Berdasarkan konfigurasi elektron tersebut jumlah
elektron valensi unsur-unsur tersebut sebagai berikut.
Elektron valensi Li = 1, B = 3, N = 5, Na = 1, Mg =
2, Al = 3, Cl = 7, K = 1, dan Sc = 3.
Unsur yang mempunyai bilangan valensi sama
yaitu Li, Na, dan K, serta B, Al, dan Sc.
Jadi, unsur yang mempunyai elektron valensi sama
adalah unsur B dan Sc.
8. Jawaban: c
Konfigurasi elektron 25Mn:
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d5

Kimia Kelas XI

67

Diagram orbital elektronnya:

hj

hj hj hj hj

1s 2

2s 2

hj

h h

4s 2

2p6

h h

hj hj hj hj
3s 2

3p6

3d5

Jumlah orbital yang ditempati pasangan elektron:


1 + 1 + 3 + 1 + 3 + 1 = 10
9. Jawaban: d
Gambar tersebut menunjukkan molekul yang
mempunyai bentuk timbangan (tetrahedral
terdispersi).
H2O
Pasangan elektron:




=4

PEI = 3 1 = 2
Pasangan pusat = 4 (3 0) = 4
PEB = 4 2 = 2
Jadi, notasi VSEPR-nya AX2E2 (bentuk V)
PCl5
Pasangan elektron:

 


= 20

12. Jawaban: b
CCl4
2
2
2
6C: 1s 2s 2p

hj

 
 


p3

s
p3
x = elektron atom Cl

SbCl5
2
10
3
51Sb: [Kr] 5s 4d 5p

promosi

p3

h
d

h h h h h

TeCl4
  


= 17

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 17 (3 4) = 5
PEB = 5 4 = 1
Jadi, notasi VSEPR-nya AX4E (bentuk timbangan)

s
p3
= elektron atom Cl

BCl3
2
2
1
5B: 1s 2s 2p

hj

XeF2

h
promosi

 


= 11

PEI = 3 1 = 2
Pasangan pusat = 11 (3 2) = 5
PEB = 5 2 = 3
Jadi, notasi VSEPR-nya AX2E3 (linear)
10. Jawaban: d
Molekul akan mempunyai bentuk geometri dasar
trigonal bipiramida jika jumlah pasangan elektron
secara keseluruhan lima. Dari molekul-molekul
68

= 14

PEI = 4 1 = 3
Pasangan pusat = 14 (3 3) = 5
PEB = 5 3 = 2
Jadi, notasi VSEPR-nya AX3E2 (bentuk T)

Pasangan elektron:

promosi

hj

ClF3

Pasangan elektron:

11. Jawaban: e
Konfigurasi elektron 6C = 1s2 2s2 2p2, elektron
valensi C = 4
Konfigurasi elektron 1H = 1s1, elektron valensi H = 1
PEI = 4 dan tidak mempunyai pasangan elektron
bebas (PEB = 0). Bentuk molekul CH4 adalah
tetrahedral.

h x hx hx hx

PEI = 6 1 = 5
Pasangan pusat = 20 (3 5) = 5
PEB = 5 5 = 0
Jadi, notasi VSEPR-nya AX5 (trigonal bipiramida)

Pasangan elektron:

dalam pilihan soal, IF5 memiliki enam pasangan


elektron. IF5 mempunyai bentuk geometri dasar
oktahedral.

Ulangan Akhir Semester

h
s

h
p2

h x hx hx
s
p2
x = elektron atom Cl

H2S
2
2
6
2
4
16S: 1s 2s 2p 3s 3p

hj hj

p3

hj hj h h
p3

= elektron atom H

Jadi, pasangan rumus senyawa dengan orbital


hibridanya yang tepat adalah CCl4 dan H2S.
13. Jawaban: e
Konfigurasi elektron 15P = [Ne] 3s2 3p3
Supaya dapat membentuk 5 ikatan kovalen, maka
1 elektron dari orbital 3s harus dipromosikan ke
orbital 3d. Selanjutnya orbital 3s, ketiga orbital 3p,
dan 1 orbital 3d mengalami hibridisasi membentuk
orbital hibrida sp3d. Bentuk molekul hibrida sp3d
adalah trigonal bipiramida.
15P

= [Ne]

hj

3s 2

3p3

3d0
Promosi

15P

= [Ne]

hx hx hx

3s 1

3p3

hx
x = elektron atom Cl
Hibridisasi : sp3d

3d1

14. Jawaban: d
Berdasarkan orbital hibrida, elektron terluar unsur
tersebut harus berada pada kulit atom ke-3. Hal ini
karena kulit atom tersebut mengandung orbital d
yang akan digunakan sebagai tempat elektron yang
dipromosikan dari orbital s. Dengan demikian, satu
elektron tersebut akan menempati orbital d dan
terdapat 5 elektron tidak berpasangan dalam orbital sp3d. Selanjutnya, unsur tersebut dapat
mengikat 5 atom lain yang kekurangan satu
elektron.

hj

3s

hj

3p

15. Jawaban: e
Br Cl = 2,8 2,7 = 0,1 (polar)
Molekul-molekul polar cenderung menyusun diri
dengan cara saling mendekati kutub positif dari suatu
molekul dengan kutub negatif molekul yang lain. Gaya
tarik-menarik tersebut disebut gaya tarik dipol. Ikatan
ion terjadi antara unsur logam dan nonlogam. Gaya
London merupakan gaya tarik-menarik antarmolekul
nonpolar akibat adanya dipol terimbas yang
ditimbulkan oleh perpindahan elektron dari satu orbital
ke orbital yang lain membentuk dipol sesaat. Gaya
London mengakibatkan molekul nonpolar bersifat agak
polar. Ikatan hidrogen merupakan ikatan antara atom
hidrogen dari molekul yang satu dengan atom molekul
lain yang sangat elektronegatif (F, O, dan N).
16. Jawaban: a
Ikatan hidrogen merupakan ikatan antarmolekul
yang sangat polar dan mengandung atom hidrogen.
Ikatan hidrogen disebabkan oleh gaya tarik-menarik
antara atom hidrogen dari molekul yang satu dengan
atom molekul lain yang sangat elektronegatif (F,
O, atau N). Contoh HF, H2O, dan NH3. Senyawa
HCl mempunyai gaya tarik dipol. Senyawa CH4
mempunyai gaya London.
17. Jawaban: a
Reaksi eksoterm menghasilkan kenaikan suhu.
Berarti suhu setelah reaksi lebih besar daripada
sebelum reaksi. Reaksi ini terdapat pada gambar
(i) dan (ii). Pada gambar (iii) dan (iv), suhu setelah
reaksi lebih kecil daripada suhu sebelum reaksi
sehingga merupakan reaksi endoterm.
18. Jawaban: a
Kenaikan entalpi sistem terjadi pada reaksi endoterm.
Reaksi endoterm adalah reaksi yang memerlukan/
menyerap kalor. Pada reaksi endoterm, entalpi
produk lebih besar daripada entalpi reaktan sehingga
perubahan entalpi reaksi mengalami kenaikan.
19. Jawaban: b
Reaksi pembakaran C6H6:


C6H6(g) +  O2(g) 6CO2(g) + 3H2O(g)


Reaksi pembakaran C6H6 terjadi dari penjumlahan
reaksi-reaksi tersebut, yaitu reaksi 1) tetap dikali
6, reaksi 2) tetap dikali 3, sedangkan reaksi 3)
dibalik.
1)
2)

promosi

h
s

h
p3

h
d

Jadi, struktur elektron terluarnya 3s2 3p3 sehingga


elektron valensinya 5.

6C(s) + 6O2(g) 6CO2(g)


3H2(g) + 1




H = 2.364 kJ/mol

O2(g) 3H2O(g) H = 858 kJ/mol

3)
C6H6(g) 6C(s) + 3H2(g)
H = 83 kJ/mol
+


C6H6(g) + 7  O2(g) 6CO2(g) + 3H2O(g)


H = 3.305 kJ/mol

Jadi, perubahan entalpi pada pembakaran C6H6


sebesar 3.305 kJ/mol.

Kimia Kelas XI

69

20. Jawaban: d

24. Jawaban: a
Reaksi pembakaran NH3 pada bagan persamaan
termokimia: 4NH 3 + 5O 2 4NO + 6H 2 O
H = 905 kJ merupakan reaksi eksoterm karena
pada reaksi tersebut Hreaktan lebih besar daripada
Hproduk dan perubahan entalpinya berharga negatif
atau melepaskan kalor.

q = m . c . T
`

H = "
Massa larutan
= (volume kerapatan) larutan
= 100 ml 1 gram/ml
= 100 gram
Cp air = 4,2 J/gram K
T = 10C = 10 K
q = m . c . T = 100 4,2 10
= 4,2 103 J
= 4,2 kJ
Mol bahan bakar =
`

H = " =

&
&

"
%

&

=  = 0,2 mol

= 21 kJ/mol

21. Jawaban: c
Reaksi termokimia:
2MgO(s) + C(s) 2Mg(s) + CO2(g) H = . . . kJ
Hf
Hreaksi = Hf
produk

reaktan

= Hf CO2 2 Hf MgO
= (359) (2 (600))
= 359 + 1.200 = 841
Jadi, perubahan entalpi reaksi 2MgO(s) + C(s)
2Mg(s) + CO2(g) sebesar 841 kJ.
22. Jawaban: d
Persamaan reaksi termokimia:
2C2H2(g) + 5O2(g) 4CO2(g) + 2H2O( )
H = 2.599 kJ
Perbandingan mol = perbandingan koefisien
mol C2H2 dalam keadaan standar =
=

 " ?_
 " 
*
& *

= 0,45
Kalor pada 10 L C2H2 =
=

& "
"
& 


Hr

(2.599)

= 584,78 kJ
23. Jawaban: b
H = energi ikatan pereaksi energi ikatan produk
CH3 C CH + 2H2 CH3 CH2 CH3
H = {4(C H) + (C C) + (C C) + 2(H H)}
{8(C H) + 2(C C)}
= {(4 410) + (839) + (343) + (2 436)}
{(8 410) + (2 343)}
= 3.694 3.966
= 272 kJ/mol

70

Ulangan Akhir Semester

25. Jawaban: e
Percobaan tabung nomor 1 terhadap 2 dipengaruhi
oleh luas permukaan dan konsentrasi. Percobaan
tabung nomor 1 terhadap 3 hanya dipengaruhi oleh
luas permukaan. Percobaan tabung nomor 2
terhadap 4 dipengaruhi luas permukaan dan
konsentrasi. Percobaan tabung nomor 3 terhadap
4 hanya dipengaruhi oleh luas permukaan.
Percobaan tabung nomor 4 terhadap 5 hanya
dipengaruhi oleh konsentrasi.
26. Jawaban: a
Reaktan dengan konsentrasi lebih besar akan
membentuk produk lebih cepat dibanding reaktan
dengan konsentrasi lebih kecil. Dengan demikian,
apabila konsentrasi reaktan besar, waktu yang
diperlukan kecil. Grafik hubungan antara
konsentrasi CO terhadap waktu digambarkan
secara melengkung dari atas ke bawah.
27. Jawaban: d
Misal rumus laju reaksi v0 = k[Cl2]m[NO]n
Jika [Cl2] = 2 dan [NO] = 2, v1 = 8v0
k [2Cl2]m[2NO]n = 8 k[Cl2]m[NO]n
2m [Cl2]m 2n[NO]n = 8[Cl2]m[NO]n
2m 2n = 8
2m + n = 23
m+n=3
Jika [Cl2] = 2 dan [NO] = tetap, v2 = 2v0
k [2Cl2]m[NO]n = 2 k[Cl2]m[NO]n
2m [Cl2]m [NO]n = 2[Cl2]m[NO]n
2m = 2
m=1
m+n=3
1+n=3
n=2
Jadi, orde reaksi Cl2 = 1 dan orde reaksi NO = 2.
28. Jawaban: d
Pada suhu tinggi, tumbukan molekul reaktan meningkat, partikel bergerak lebih cepat, dan energi
aktivasi menurun sehingga produk semakin cepat
terbentuk.

29. Jawaban: d
Orde reaksi x, [y] tetap percobaan 1 dan 2.
&
&

"

&
&



32. Jawaban: e

= 

"

Laju reaksi (v) = 


Orde reaksi NO, [H2] tetap percobaan 3 dan 4

= \

"

Jika [Q] = [T] = 0,5 M maka


v = 1.250(0,5)2(0,5)3 = 39,0625 M/s


=

"





m=2
"



=


Orde reaksi H2, [NO] tetap percobaan 1 dan 2.





=

n=2
Jadi, persamaan laju reaksinya v = k[x]2[y]2
30. Jawaban: c
Laju reaksi pada percobaan:
Na2S2O3 + 2HCl SO2 + S + H2O + 2NaCl
paling tepat ditentukan dengan menghitung waktu
yang digunakan untuk bereaksi antara larutan
Na2S2O3 dan HCl, yaitu saat tanda silang tidak
terlihat. Saat tanda silang tidak terlihat berarti
reaksi telah selesai.
31. Jawaban: e
Orde reaksi Q, [T] tetap percobaan 1 dan 2.
"

&
&

&

&

& 

 

"









"


=


Orde reaksi T, [Q] tetap percobaan 1 dan 3.


"

& 











n=3
Jadi, persamaan laju reaksinya: v = k[Q]2[T]3
Percobaan 1
v = k[Q]2[T]3
1,25 102 = k(0,1)2(0,1)3
k=





& 


!


= !









= 


=


n=1
Orde reaksi total: 2 + 1 = 3
Rumus laju reaksi: v = k[NO]2[H2]
Jika [H2] = [NO] = 2x maka
v = k[2NO]2[2H2]
= k8[NO]2[H2]
Jadi, jika [H2] dan [NO] dinaikkan 2 kali maka laju
reaksi menjadi 8 kali.
33. Jawaban: c
Tekanan diperbesar akan mengakibatkan
kesetimbangan bergeser ke zat yang jumlah
koefisiennya lebih kecil.

= 1.250

A2B(g)

Berdasarkan persamaan reaksi di atas, kesetimbangan akan bergeser ke kanan (ke arah
produk). Akibatnya jumlah A2B bertambah. Jika
A2B pada gambar diberi simbol yang berjumlah
2, jumlah tersebut akan bertambah menjadi lebih
besar dari 2. Pilihan a, b, d, dan e tidak mengandung
simbol lebih dari 2.
34. Jawaban: e
2SO2(g) + O2(g)

= 





"

2A(g) + B(g)


m=2
& & 

& &

!\

= !

(2)m = 4
(2)2 = (2)2
m=2

Orde reaksi y, [x] tetap percobaan 1 dan 3.


& & 

& &

jumlah koefisien
pereaksi = 3

2SO3(g)
jumlah koefisien
hasil reaksi = 2

Jika tekanan diperbesar, kesetimbangan akan


bergeser ke zat yang jumlah koefisiennya lebih
kecil. Pada reaksi di atas, kesetimbangan bergeser
ke arah hasil reaksi. Dengan demikian, partikel
pereaksi berkurang dan partikel hasil reaksi
bertambah. Gambar partikel pereaksi hanya
diwakili oleh = O2 dan = SO2. Jika tekanan

Kimia Kelas XI

71

diperbesar, jumlah gambar partikel pereaksi


berkurang. Jumlah partikel setiap pereaksi mulamula berjumlah 4, maka setelah tekanan diperbesar,
jumlah partikel setiap pereaksi berjumlah kurang
dari 4.
35. Jawaban: b
Reaksi
: N2O4(g)
2NO2(g)
Mula-mula : a mol
Bereaksi : a mol
2 a mol
Setimbang : a(1 ) mol
2 a mol
Pada saat setimbang: mol N2O4 = mol NO2
a(1 ) mol = 2 a mol
a a mol = 2 a mol
3 = 1

39. Jawaban: d
4NH3(g) + 3O2(g)


Kc =
=

B.

2NH3(g)

N2(g) + 3H2(g)

koefisien = 2

koefisien = 4

n = jumlah koefisien gas kanan jumlah


koefisien gas kiri
= 42
= 2
R = 0,082 L atm mol1 K1
T = 27C = 300 K
Kp = 2,46 atm
Kc =



& 
&


37. Jawaban: b
Kenaikan suhu mengakibatkan kesetimbangan
bergeser ke arah reaksi endoterm.
H2 + I2

2HI H = +26 kJ

p NH3 =
=

72


&  &  


p

Ulangan Akhir Semester

3H2(g)
3 mol
1,5 mol
1,5 mol



"  "
* *

 " "
* *

Kp =












2NH3(g)
1 mol
1 mol

 


=4

(pY)3 = 8 pY = 2

Uraian

1. Konfigurasi elektron lengkap: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6


4s2 3d5
Jumlah elektron = nomor atom = 2 + 2 + 6 + 2 + 6
+ 2 + 5 = 25
Jadi, nomor atom unsur tersebut 25.
2. Kulit elektron terbesar = 3, maka unsur tersebut
berada pada periode 3.
Jumlah elektron valensi = 2 + 4, menempati
subkulit s dan p, maka unsur tersebut berada pada
golongan VIA.
Jadi, unsur tersebut dalam sistem periodik terdapat
pada golongan VIA, periode 3.
3. BF4
Pasangan elektron:

Reaksi di atas termasuk reaksi endoterm. Jika suhu


dinaikkan, kesetimbangan bergeser ke kanan (arah
produk). Akibatnya, jumlah HI yang memiliki simbol
akan bertambah. Simbol tersebut harus
berjumlah lebih dari 4 pada keadaan setimbang
sesaat yang baru. Sementara itu, jumlah H2 dan I2
berkurang. Jadi, pada keadaan setimbang sesaat
yang baru jumlah H2 harus kurang dari 2 dan jumlah
I2 juga harus kurang dari 2.
38. Jawaban: b
Reaksi
: N2(g) +
Mula-mula : 1 mol
Bereaksi : 0,5 mol
Setimbang : 0,5 mol

 _
_


40. Jawaban: c
2X(g)
3Y(g)

36. Jawaban: c
Kp = Kc(RT)n

2N2(g) + 6H2O(g)


  


= 16

PEI = 5 1 = 4
Pasangan pusat = 16 (3 4) = 4
PEB = 4 4 = 0
Jadi, notasi VSEPR-nya AX4 (tetrahedral)
4. Jawaban:
Titik didih etana lebih kecil daripada propana. Hal
ini karena polarisabilitas etana lebih kecil daripada
propana. Etana dan propana merupakan molekul
nonpolar. Oleh karena Mr propana lebih besar
daripada etana maka propana lebih mudah
terpolarisasi daripada etana sehingga gaya London
propana lebih kuat daripada etana.
5. Jawaban:
Vair = 2 L = 2.000 ml
air = 1 g/cm3
massa air = 2.000 ml 1 g/cm3
= 2.000 gram

T= (70 25)C
= 45 C
Mr C3H8 = 44
massa C3H8 = 44 gram
mol C3H8 =


!"

Orde reaksi y, [x] tetap percobaan 2 dan 3.


"

= 1 mol

`?
H8
" ?
H8




= 378 kJ

Jadi, perubahan entalpi pembakaran elpiji tersebut


sebesar 378 kJ/mol.








= 






=

n=0
Jadi, persamaan laju reaksinya: v = k[x]2.
9. N2O4 yang bereaksi = 0,5 1 mol = 0,5 mol
N2O4(g)
2NO2(g)
Mula-mula : 1 mol
Bereaksi : 0,5 mol
1 mol
Setimbang : 0,5 mol
1 mol
Mol total = (0,5 + 1) mol = 1,5 mol
&

PN O = ( & ) 6 atm = 2 atm

 

&

PNO = ( & ) 6 atm = 4 atm

= 4 mol

7. n = 2
a = 10C
T = (90 30)C
vt = 

=1

" _?
% _?

Reaksi penguraian HCl:


4HCl(g) 2H2(g) + 2Cl2(g)
H = energi ikatan pereaksi energi ikatan
hasil reaksi
= 4(H Cl) {2(H H) + 2(Cl Cl)}
= (4 103,1) {(2 104,2) + (2 57,8)}
= 412,4 (208,4 + 115,6)
= 412,4 324
= 88,4 kkal mol1
q = H mol
= 88,4 kkal mol1 4 mol
= 353,6 kkal
Jadi, kalor yang diperlukan 353,6 kkal.



= 

q = m c T
= 2.000 g 4,2 J/gC 45C
= 378.000 J = 378 kJ
Hreaksi = q



= 

#

#

cair = 4,2 J/gC

6. mol HCl =

#

#

Kp =
=

 

 


=8

10. Persamaan:

2HI(g)

H2(g) + I2(g)

mol mula-mula :
2

mol reaksi
:
1
0,5
0,5
+
mol setimbang :
1
0,5
0,5
Kc =

_ 
_

konsentrasi =
=

v0
v0 =

2 4

26

v0 = 128v0

Jadi, laju reaksi akan meningkat 128 kali lebih cepat.

"
 "
& &



 




&&
&

&
&

= 0,25

Jadi, harga Kc untuk reaksi tersebut 0,25.

8. Orde reaksi x, [y] tetap percobaan 1 dan 2.




#

#
"




"





"

"

= 

= 


= 

=

m=2

Kimia Kelas XI

73

Kimia Kelas XI

209

: ....
: XI/1
: Kimia

Materi Pokok/
Pembelajaran

Perkembangan Teori Atom


Modern

Kompetensi
Dasar

1.1 M e n j e l a s k a n
teori atom Bohr
dan mekanika
kuantum untuk
menuliskan
konfigurasi
elektron dan
diagram orbital
serta menentukan letak unsur
dalam tabel
periodik.
Ekonomi
kreatif
() Kreatif

Pe n d i d i k a n
karakter
(*) G e m a r
Membaca
(**) Kreatif

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

Mampu menjelaskan pengertian


bilangan kuantum

Mampu menentukan bilangan kuantum (kemungkinan elektron berada).

3. Menentukan bilangan kuantum dan


bentuk orbital s, p,
d, dan f. (*)

Mampu menjelaskan teori atom Bohr


dan mekanika kuantum.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

2. Menyebutkan berbagai
bilangan
kuantum.

1. Menjelaskan tentang
model atom Bohr,
dualisme partikel
gelombang, dan
mekanika kuantum.

Kegiatan
Pembelajaran

=1

b. n = 2 A = 1 m = +1 s

s=2

a. n = 2 A = 0 m = 0

Ion X3+ mempunyai konfigurasi elektron 1s 2 2s2


2p 6. Bilangan kuantum
elektron terakhir atom X
adalah . . . .

Bilangan kuantum spin


berfungsi untuk menyatakan . . . .
a. orbital suatu atom
b. bentuk-bentuk subkulit
c. arah ruang suatu orbital
d. perbedaan tingkat
energi kulit
e. perbedaan arah rotasi
elektron

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Ahli kimia yang pertama


kali menyatakan pendapat
bahwa materi bersifat
diskontinu adalah . . . .
a. Aristoteles
b. Thomson
c. Leukipus
d. Dalton
e. Boyle

Contoh Instrumen

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Penilaian

4 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 128
2 Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 118

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Standar Kompetensi : 1. Memahami struktur atom untuk meramalkan sifat-sifat periodik unsur, struktur molekul, dan sifat-sifat senyawa.

Sekolah
Kelas/Semester
Mata Pelajaran

Silabus

210

Silabus

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

5. Menggambarkan
bentuk-bentuk dan
orientasi berbagai
orbital. (**)

Mampu mendeskripsikan bentukbentuk orbital.

Mampu menjelaskan kulit dan subkulit serta hubungannya dengan


bilangan kuantum.

Tes
Tertulis

Tes
Tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

4. Menentukan jumlah
subkulit pada setiap
kulit dalam suatu
bilangan kuantum.

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Uraian

Bentuk
Instrumen

c.

b.

x
z

e.

x
z

Bentuk orbital d yz ditunjukkan oleh gambar


....
a. z
d.
z

Berapa jumlah subkulit


dan jumlah orbital yang
dimiliki oleh kulit-kulit
berikut?
a. L
d. K
b. M
e. P
c. O

=+

e. n = 3 A = 2 m = 0 s

1 s=+

d. n = 3 A = 1 m =

=+

c. n = 3 A = 0 m = 0 s

Contoh Instrumen

Penilaian
Alokasi Alat dan Sumber
Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

211

1.2 M e n e r a p k a n
teori domain
elektron dan teori
hibridisasi untuk
meramalkan
bentuk molekul.

Kompetensi
Dasar

Berbagai
Bentuk
Molekul

Sistem
Periodik
Unsur
Modern

Materi Pokok/
Pembelajaran

Pendidikan
karakter
(*) Rasa Ingin
Tahu

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

2. Menentukan orbital
hibrida suatu molekul
berdasarkan teori
hibridisasi.

3. Menentukan bentuk
molekul suatu senyawa (*).

Mampu membuat
bentuk molekul
suatu senyawa.

Mampu menjelaskan tentang teori


hibridisasi.

Mampu menjelaskan tentang teori


domain elektron.

Mampu menghubungkan konfigurasi elektron suatu


unsur dengan letaknya dalam sistem
periodik.

Mampu menentukan
konfigurasi elektron
dan diagram orbital
menggunakan prinsip Aufbau, aturan
Hund, dan asas
larangan Pauli.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. Menentukan bentuk
molekul suatu senyawa berdasarkan pasangan elektron ikatan.

7. Menentukan letak
unsur dalam tabel
periodik berdasarkan konfigurasi
elektronnya. ()

6. Menuliskan konfigurasi elektron dan


diagram orbital.

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Uraian

Bentuk
Instrumen

45 Sc
21
59 Ni
28

Unsur P mempunyai
elektron valensi 5,
sedangkan unsur Br
mempunyai elektron
valensi 7. Bentuk molekul
PBr 5 ditunjukkan oleh
gambar . . . .

Molekul SF6 mempunyai


bentuk oktahedral. Jika
diketahui nomor atom S
= 16, bentuk orbital
hibrida SF6 adalah . . . .
a. sp
d. sp 3d
b. sp 2
e. sp3d2
c. sp 3

Ion NO3 merupakan ion


poliatomik. Atom N
bertindak sebagai atom
pusat. Bentuk molekul ion
NO3 adalah . . . .
a. tetrahedral
b. oktahedral
c. trigonal bipiramida
d. bentuk T
e. segitiga datar

Ion L3+ mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6


3s2 3p6 maka dalam sistem
periodik unsur, unsur L
terletak pada . . . .
a. periode 3 golongan IIIA
b. periode 3 golongan IVA
c. periode 4 golongan IIB
d. periode 4 golongan IIIB
e. periode 4 golongan VIIIA

c.

b.

Tuliskan diagram orbital


dari beberapa atom unsur
berikut!
a. 39
19K

Contoh Instrumen

Penilaian

4 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 2940
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 1927

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

212

Silabus

1.3 M e n j e l a s k a n
interaksi antarmolekul (gaya
antarmolekul)
dengan sifatnya.

Kompetensi
Dasar

Gaya
Antarmolekul

Materi Pokok/
Pembelajaran

Ekonomi
kreatif
() Kreatif

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

2. Mengidentifikasi
sifat-sifat
fisik
molekul berdasarkan ikatan hidrogen.
()
Mampu menjelaskan tentang ikatan
hidrogen.

Mampu menjelaskan tentang gaya


Van der Waals.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. M e n y e b u t k a n
senyawa-senyawa
yang mengalami
gaya Van der
Waals.

Kegiatan
Pembelajaran

e.

b.

Gaya London dimiliki oleh


pasangan senyawa . . . .
a. H2 dan CH4
b. NH3 dan H2S
c. CO2 dan HCl
d. CH3COOH dan C4H10
e. C2H5OH dan
CH 3OCH 3
Titik didih alkohol (ROH)
lebih tinggi daripada titik
didih eter (ROR) walaupun rumus molekulnya
sama. hal ini terjadi
karena . . . .
a. alkohol berwujud cair
pada suhu biasa
b. alkohol seperti metanol
bersifat racun
c. alkohol dapat bercampur baik dengan
air
d. antarmolekul alkohol
terdapat ikatan hidrogen
e. reaksi alkohol dengan
logam menghasilkan
senyawa alkoholat

Pilihan
ganda

c.

d.

a.

Contoh Instrumen

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Penilaian

4 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 4054
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 2834

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

213

: ....
: XI/1
: Kimia

Termokimia
dan Entalpi

2.1 Mendeskripsikan perubahan


entalpi suatu
reaksi, reaksi
eksoterm, dan
reaksi endoterm.

MacamMacam
Perubahan
Entalpi

Materi Pokok/
Pembelajaran

Kompetensi
Dasar
Pendidikan
karakter
(*) B e k e r j a
sama

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

2. Menuliskan persamaan termokimia

3. M e n y e b u t k a n
contoh berbagai
macam perubahan
entalpi.

Mampu menjelaskan macam-macam


perubahan entalpi.

Mampu menuliskan persamaan


termokimia.

Mampu membedakan reaksi yang


melepaskan kalor
(eksoterm) dan
reaksi yang menerima kalor (endoterm).

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
unjuk
kerja

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. Melakukan
percobaan tentang perbedaan reaksi eksoterm dan reaksi
endoterm. (*)

Kegiatan
Pembelajaran

Pilhan
ganda

Uraian

Uji petik
kerja
prosedur




H = 706 kJ

O (g)
 2
C2H5OH(A) H = 277,7 kJ
NaOH(aq) + HCl(aq)

d.
e.

2C(s) + 3H2(g) +

c.

H = 600 kJ

SO3(g) + H2O(A ) H2SO4(A )

NaCl(aq) + H2O(A ) H = 58 kJ

+ 2CO2(g)

C6H12O6(s) 2C2H5OH(A)

H = 1.400 kJ

C2H4(g) + 3O2(g) 2CO2(g)


+ 2H2O(A )

b.

a.

Reaksi yang menunjukkan


perubahan entalpi netralisasi standar adalah. . . .

mol gas klorin membentuk


1 mol perak klorida. Pada
reaksi ini terjadi perpindahan
kalor dari sistem ke
lingkungan sebesar 127kJ.
a. Tentukan jenis reaksi
pada reaksi tersebut!
b. Tuliskan persamaan
termokimianya!

perak bereaksi dengan

Sebanyak 1 mol padatan

Ukurlah suhu akuades.


Masukkan satu gram batu
kapur ke dalam akuades
kemudian ukur suhu larutan
yang terjadi. Bandingkan
suhu akuades dengan suhu
larutan batu kapur! Ulangi
percobaan dengan mengganti batu kapur dengan
urea!

Contoh Instrumen

Penilaian
Bentuk
Instrumen

Standar Kompetensi : 2. Memahami perubahan energi dalam reaksi kimia dan cara pengukurannya.

Sekolah
Kelas/Semester
Mata Pelajaran

Silabus

16 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 5568
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 3545
3. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan
untuk membedakan reaksi
eksoterm dan
reaksi endoterm

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

214

Silabus

2.2 M e n e n t u k a n
H reaksi berdasarkan percobaan, hukum
Hess, data perubahan entalpi
pembentukan
standar, dan
data energi ikatan.

Kompetensi
Dasar

Penentuan
Perubahan
Entalpi

Materi Pokok/
Pembelajaran
Pendidikan
karakter
(**) Kerja Keras
E k o n o m i
Kreatif
() P a n t a n g
Menyerah

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

Mampu menghitung
perubahan entalpi
reaksi (H) menggunakan data entalpi
pembentukan
standar (Hf).

Mampu menghitung perubahan


entalpi reaksi (H)
menggunakan diagram siklus energi.

2. Menentukan harga
H reaksi dengan
data entalpi pembentukan standar
(H f ).

3. Menentukan harga
H reaksi dengan
diagram
siklus
energi.

4. Menentukan harga
H reaksi dengan
energi ikatan. ()

Mampu menghitung perubahan


entalpi reaksi H
menggunakan
energi ikatan.

Mampu menghitung perubahan


entalpi reaksi (H)
dengan kalorimeter.

Tes
tertulis

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Uji
petik
kerja
prosedur

Bentuk
Instrumen

114kJ

sebesar . . . kJ/mol.
a. 111
d. +37
b. 74
e. +111
c. 37

Diketahui energi ikatan


rata-rata:
C = C = 607 kJ/mol
C C = 343 kJ/mol
C H = 410 kJ/mol
O H = 460 kJ/mol
C O = 351 kJ/mol
Perubahan entalpi pada
reaksi:
CH2 = CH2(g) + H2O(g)
CH3 CH2 OH(g)

Harga H3 yaitu . . . kJ.


a. 180
d. 123
b. 147
d. 147
c. 123

. . . kJ

Perhatikan diagram berikut!

Diketahui H pembentukan NH3(g) sama dengan


46 kJ/mol. Dengan
demikian, besar perubahan entalpi untuk reaksi
2NH3(g) N2(g) + 3H2(g)
dalam kJ/mol adalah . . . .
a. 92
d. +92
b. 46
e. +138
c. +46

Ukur suhu awal H2SO4 dan


KOH kemudian ukur suhu
tetap campuran ke dua
larutan tersebut dalam
kalorimeter. Jika kalor jenis
larutan dianggap sama
dengan kalor jenis air (4,2 Jg
1C1), hitunglah perubahan
entalpi dari reaksi tersebut!

Contoh Instrumen

Penilaian

Tes
unjuk
kerja

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. Melakukan percobaan tentang


perubahan entalpi
reaksi dalam kalorimeter sederhana.
(**)

Kegiatan
Pembelajaran
1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 6888
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 4555
3. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan
mengenai penentuan perubahan entalpi
reaksi dalam
kalorimeter
sederhana

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

215

: ....
: XI/1
: Kimia

Kemolaran
dan Pengertian Laju reaksi

3.1 Mendeskripsikan pengertian


laju reaksi dengan melakukan percobaan
tentang faktorfaktor yang
memengaruhi
laju reaksi.

Persamaan
Laju Reaksi
dan Orde
Reaksi

Materi Pokok/
Pembelajaran

Kompetensi
Dasar

E k o n o m i
kreatif
() Mandiri

Pendidikan
karakter
(*) P a n t a n g
Menyerah

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

3. Menuliskan persamaan laju reaksi


berdasarkan orde
reaksi. (*)

2. M e n e n t u k a n
ungkapan laju reaksi
dalam bentuk persamaan laju reaksi.
()

1. Menghitung konsentrasi (kemolaran) suatu larutan


tertentu.

Kegiatan
Pembelajaran

Mampu menjelaskan persamaan


laju reaksi berdasarkan orde
reaksi.

Mampu menuliskan ungkapan laju


reaksi.

Mampu menjelaskan pengertian


kemolaran dan
penggunaanya.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1)
2)
3)

0,01
0,04
0,01

0,10
0,10
0,20

[ClO2] M

1,2 103
4,8 103
2,4 103

v (M/s)

Diketahui data laju reaksi


untuk reaksi antara F 2
dengan ClO 2 sebagai
berikut.

Uraian

[F2] M

Pernyataan yang tepat


mengenai laju reaksi 2X
+ Y X2Y adalah . . . .
a. bertambahnya konsentrasi 2X setiap
satuan waktu
b. bertambahnya konsentrasi Y setiap
satuan waktu
c. bertambahnya konsentrasi 2X dan Y
setiap satuan waktu
d. berkurangnya konsentrasi X 2Y setiap
satuan waktu
e. berkurangnya konsentrasi Y setiap
satuan waktu

Pilihan
ganda

Percobaan

Sebanyak 10 gram NaOH


dilarutkan dalam 2 liter
akuades. Jika Mr NaOH =
40, molaritas larutan
NaOH sebesar . . . M.
a. 0,010
d. 0,150
b. 0,100
e. 0,250
c. 0,125

Contoh Instrumen

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Penilaian

14 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 113130
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 6170

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Standar Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang memengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari dan industri.

Sekolah
Kelas/Semester
Mata Pelajaran

Silabus

216

Silabus

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

5. Menggambarkan
grafik laju reaksi.

Mampu membaca
grafik kecenderungan orde reaksi.

Mampu menentukan orde reaksi


berdasarkan data
hasil percobaan.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

4. Menghitung orde
reaksi berdasarkan data.

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

1)
2)
3)

v (M/s)
1,4 101
3,5 102
7,0 102

Pada reaksi: A + B C
diperoleh rumus laju
reaksi v = k[A]2. Beberapa
pernyataan mengenai
persamaan reaksi dan
rumus laju reaksi tersebut
sebagai berikut.
1) Laju reaksi dipengaruhi
oleh perubahan konsentrasi A dan B.
2) Orde reaksi konsentrasi
B sama dengan nol.
3) Laju reaksi hasil pereaksi C memengaruhi
laju reaktan B.
4) Koefisien pereaksi A
tidak sama dengan
orde reaksinya.
5) Orde reaksi total
adalah 1.
Pernyataan yang tepat
terdapat pada nomor . . . .
a. 1) dan 3)
b. 1) dan 5)
c. 2) dan 3)
d. 2) dan 4)
e. 4) dan 5)

Orde reaksi total untuk


reaksi tersebut adalah . . . .
a. 1
d. 4
b. 2
e. 5
c. 3

[Q] M
3,2 102
1,6 102
1,6 102

[P] M
1,2 102
6,0 103
1,2 102

Perc.

Pada reaksi P + Q R
diperoleh data sebagai
berikut.

Berdasarkan data tersebut, tentukan persamaan


laju reaksi untuk reaksi
tersebut!

Contoh Instrumen

Penilaian
Alokasi Alat dan Sumber
Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

217

Materi Pokok/
Pembelajaran

Teori
Tumbukan
Dan FaktorFaktor yang
memengaruhi
Laju Reaksi

Kompetensi
Dasar

3.2 M e m a h a m i
teori tumbukan
(tabrakan) untuk
menjelaskan
faktor-faktor
penentu laju
dan orde reaksi
serta terapannya dalam kehidupan seharihari.

Pendidikan
karakter
(**) Komunikatif

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

2. Melakukan
percobaan untuk mengamati pengaruh konsentrasi terhadap laju
reaksi.

3. Melakukan
percobaan untuk mengamati pengaruh luas
permukaan
terhadap laju reaksi.

Mampu menganalisis pengaruh luas


permukaan terhadap laju reaksi.

Mampu menganalisis pengaruh


konsentrasi terhadap laju reaksi.

Mampu menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas permukaan bidang


sentuh, dan suhu
terhadap laju reaksi
berdasarkan teori
tumbukan.

Tes
unjuk
kerja

Tes
unjuk
kerja

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. Menyebutkan pengaruh konsentrasi,


luas permukaan
bidang sentuh, dan
suhu terhadap laju
reaksi berdasarkan
teori tumbukan.

Kegiatan
Pembelajaran

Uji
petik
kerja
prosedur

Uji
petik
kerja
prosedur

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Masukkan serbuk CaCO3


ke dalam erlenmeyer yang
berisi larutan H2SO4 0,5M.
Catatlah waktu yang diperlukan hingga serbuk
CaCO 3 habis bereaksi.
Ulangi percobaan dengan
butiran CaCO3. Bandingkan waktu yang diperlukan
serbuk CaCO3 dan butiran
CaCO 3 untuk bereaksi
dengan larutan H2SO4.

Masukkan sekeping logam


magnesium ke dalam
larutan HCl 0,5 M. Catat
waktu reaksinya! Ulangi
percobaan dengan larutan HCl 2M! Bandingkan
waktu reaksi pada kedua
larutan tesebut!

Laju reaksi akan semakin


cepat jika berada dalam
kondisi . . . .
a. partikel reaktan berbentuk serbuk dan
reaksi berlangsung
pada suhu tinggi
b. pereaksi dibiarkan
dalam keadaan utuh
dan berlangsung
pada suhu rendah
c. partikel reaktan berbentuk bongkahan
dan reaktan lainnya
berkonsentrasi kecil
d. partikel reaktan berbentuk bongkahan dan
reaksi berlangsung
pada suhu tinggi
e. konsentrasi reaktan
besar dan reaksi
berlangsung dalam
wadah berisi air es

Contoh Instrumen

Penilaian

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 130154
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 7186
3. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh konsentrasi terhadap
laju reaksi
4. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh
permukaan bidang
sentuh terhadap
laju reaksi
5. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh suhu
terhadap laju
reaksi
6. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh katalis
terhadap laju
reaksi

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

218

Silabus

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

5. Melakukan percobaan untuk mengamati


pengaruh katalis terhadap laju reaksi.

6. Menggambarkan diagram energi potensial


dari reaksi kimia
dengan menggunakan katalisator dan
yang tidak menggunakan katalisator
untuk menunjukkan
perbedaannya.
Mampu membedakan diagram energi
potensial
dari
reaksi kimia dengan
mengg u n a k a n
katalisator dan
yang tidak menggunakan katalisator.

Mampu menganalisis pengaruh katalis


terhadap laju reaksi.

Mampu menganalisis pengaruh suhu


terhadap laju reaksi.

Tes
tertulis

Tes
Unjuk
Kerja

Tes
unjuk
kerja

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

4. Melakukan
percobaan untuk mengamati pengaruh suhu
terhadap laju reaksi.

Kegiatan
Pembelajaran

Uraian

Uji
petik
kerja
prosedur

Uji
petik
kerja
prosedur

Bentuk
Instrumen

Berdasarkan diagramdiagram tersebut:


a. Tentukan diagram yang
menggunakan katalis
beserta alasannya!
b. Apakah yang dimaksud dengan E1
dan E2 pada diagram
tersebut?

b.

Perhatikan diagramdiagram berikut!


a.

Dekatkan bara lidi ke


mulut-mulut
tabung
reaksi. Amati perbedaan
waktu
terbentuknya
nyala lidi pada larutan
H 2O 2 tanpa MnO 2 dan
pada larutan H 2 O 2
dengan MnO2.

Buatlah tanda silang


kemudian letakkan erlenmeyer berisi larutan
NH 4 OH 1M di atasnya!
Tambahkan larutan MgSO4
1M ke dalam larutan
NH4OH 1M, catat waktu
reaksi hingga tanda silang
tidak terlihat! Ulangi percobaan dengan memanaskan larutan NH4OH 1M.

Contoh Instrumen

Penilaian
Alokasi Alat dan Sumber
Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

219

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

8. Menyebutkan pengertian, peranan


katalisator, dan energi pengaktifan dengan
menggunakan diagram.

9. M e n y e b u t k a n
peranan
katalis
dalam
mahkluk
hidup dan industri.

Mampu menjelaskan peranan katalis


dalam makhluk hidup
dan industri.

Mampu menjelaskan pengertian,


peranan katalisator
dan energi pengaktifan menggunakan diagram.

Mampu menafsirkan grafik dari data


percobaan tentang
faktor-faktor yang
memengaruhi laju
reaksi.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

7. Menggambarkan
grafik faktor-faktor
yang memengaruhi
laju reaksi berdasarkan data percobaan. (**)

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Pilihan
Ganda

Bentuk
Instrumen

Pengaruh luas permukaan


bidang sentuh terhadap
laju reaksi yang diterapkan
dalam industri terdapat
pada . . . .
a. penguraian H 2 O 2
menjadi H2O dan O2

Energi minimal yang diperlukan untuk membakar


gas elpiji sehingga
menghasilkan gas CO 2
dan H 2O pada grafik
ditunjukkan oleh . . . .
a. E1
d. E3E1
b. E2
e. E3E2
c. E2E1

Perubahan energi potensial


pada pembakaran gas elpiji
digambarkan pada grafik
berikut.

Energi pengaktifan dengan


katalisator ditunjukkan
oleh . . . .
a. K
d. S
b. L
e. M + S
c. M

Perhatikan grafik energi


terhadap
koordinat
reaksi yang dipengaruhi
oleh katalis berikut!

Contoh Instrumen

Penilaian
Alokasi Alat dan Sumber
Belajar
Waktu

220

Silabus

3.3 Menjelaskan
kesetimbangan
dan faktor-faktor
yang memengaruhi pergeseran arah
kesetimbangan
dengan melakukan percobaan.

Kompetensi
Dasar

Reaksi Kimia,
Kesetimbangan
Kimia, dan
Tetapan
Kesetimbangan

Materi Pokok/
Pembelajaran

Pendidikan
karakter
(*) Disiplin

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

Mampu menjelaskan kesetimbangan dinamis.

Mampu menjelaskan kesetimbangan homogen dan


heterogen.

2. Menuliskan persamaan reaksi kesetimbangan homogen dan heterogen.

Tes
Tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

1. M e n y e b u t k a n
definisi tentang kesetimbangan
dinamis.

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Kesetimbangan reaksi
homogen ditunjukkan
oleh reaksi . . . .
a. NaOH(g) + HCl(aq)
R NaCl(aq) +
H 2 O(A)
b. 2NaHCO3(s)
R
Na2CO3(s) + H2O(A) +
CO2(g)

Suatu sistem kesetimbangan bersifat dinamis mikroskopis, berarti . . . .


a. tidak terjadi perubahan dan dapat diukur
b. perubahan berlangsung terus-menerus
dan dapat diamati
c. reaksi terus berlangsung
ke kanan dan ke kiri
serta dapat teramati
d. reaksi terus berlangsung ke kanan dan ke
kiri, tetapi tidak teramati
e. perubahan berlangsung terus dan tibatiba berhenti secara
mendadak sehingga
tidak dapat diukur

b. penguraian KClO 3
menjadi KCl dan O2
c. pembuatan asam
sulfat dengan cara
bilik timbal
d. pembuatan
gas
klorin dari gas
hidrogen
klorida
dengan oksigen
e. pembuatan
gas
asetilen
dengan
mereaksikan
kalsium
karbida
dengan air

Contoh Instrumen

Penilaian

18 jp

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 155168
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 8796
3. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh konsentrasi terhadap
kesetimbangan
4. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh tekanan dan volume
terhadap kesetimbangan
5. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh suhu
terhadap kesetimbangan

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

221

Kompetensi
Dasar

Pergeseran
Kesetimbangan dan FaktorFaktor yang
Memengaruhi
Pergeseran
Kesetimbangan.

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

Mampu enganalisis
pengaruh perubahan konsentrasi terhadap pergeseran
kesetimbangan
melalui percobaan.

Mampu meramalkan arah pergeseran kesetimbangan


dengan menggunakan asas Le Chatelier.

4. Menentukan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan asas Le Chatelier.

5. Melakukan percobaan untuk mengetahui


pengaruh konsentrasi terhadap pergeseran kesetimbangan.

Mampu menjelaskan tetapan kesetimbangan.

Tes
unjuk
kerja

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

Menuliskan persamaan tetapan kesetimbangan.

3.

Kegiatan
Pembelajaran

Uji petik
kerja
prosedur

Pilihan
ganda

Pilihan
ganda

Bentuk
Instrumen

Amati pengaruh konsentrasi dengan melakukan percobaan mencampur akuades, larutan


FeCl3, dan larutan KSCN.

2NH3(g) R N2(g) + 3H2(g)


H = +92 kJ
jika suhu dinaikkan pada
volume tetap maka . . . .
a. gas N2 tetap
b. gas NH3 tetap
c. gas H2 berkurang
d. gas NH3 bertambah
e. gas N 2 dan gas H 2
bertambah

Pada reaksi kesetimbangan:

4HCl(g) + O2(g) R 2H2O(s)


+ 2Cl2(g)
Persamaan tetapan kesetimbangan Kc untuk
reaksi tersebut adalah
....
[  ]
a. Kc = [ ]

[][  ]
b. Kc = [][ ]

[][  ]
c. Kc = [ ][ ]


[] [  ]
d. Kc = [ ] [ ]


[] [  ]
e. Kc = [] [ ]


Diketahui reaksi kesetimbangan berikut.

c. Fe3+(aq) + SCN(aq)
R Fe(SCN)2+(aq)
d. CaCO3(s) R CaO(s)
+ CO2(g)
e. Ni(s) + 4CO(g) R
Ni(CO) 4(g)

Contoh Instrumen

Penilaian

6. Seperangkat
alat dan bahan
percobaan pengaruh katalis
terhadap kesetimbangan

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

222

Silabus

3.4 M e n j e l a s k a n
penerapan
prinsip kesetimbangan
dalam kehidupan sehari-hari
dan industri.

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

Mampu menganalisis pengaruh perubahan tekanan


dan volume terhadap pergeseran
kesetimbangan melalui percobaan.
Mampu menganalisis pengaruh
suhu terhadap
pergeseran kesetimbangan melalui percobaan.
Mampu menganalisis pengaruh
katalis terhadap
pergeseran
kesetimbangan
melalui percobaan.

Mampu menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahanbahan kimia di


industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan.

7. Melakukan percobaan untuk mengetahui pengaruh


suhu terhadap pergeseran kesetimbangan.
8. Melakukan percobaan untuk mengetahui
pengaruh katalis
terhadap
pergeseran kesetimbangan. (*)

1. M e n y e b u t k a n
kondisi optimum
untuk memproduksi
bahan-bahan kimia di
industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan.

Selanjutnya, membagi
larutan ke dalam 5 tabung
reaksi. Tabung reaksi a di
gunakan sebagai pembanding. Pada tabung
reaksi b ditambahkan
KSCN, tabung reaksi c
ditambahkan
FeCl 3 ,
tabung reaksi d ditambahkan Na2HPO4 dan tabung
reaksi e ditambahkan
akuades. Amati perubahan
warnanya!

Contoh Instrumen

Uji petik Amati perbedaan bara lidi


yang dimasukkan ke
kerja
prosedur dalam tabung reaksi berisi
campuran akuades dan
MnO 2 dengan tabung
reaksi berisi campuran
H2O2 dan MnO2!
Perhatikan perlakuan pada
sistem kesetimbangan
berikut!
1) Menaikkan tekanan.
2) Menambah katalis.
3) Menurunkan suhu.
4) Memperbesar volume.

Tes
Unjuk
Kerja

Tes
tertulis

Pilihan
ganda

Uji
petik
kerja
prosedur

Amati perubahan yang


terjadi saat campuran
larutan NaCl dan Ca(NO3)2
6H 2O dipanaskan, didinginkan, atau diletakkan
dalam suhu ruang!

R 2NO 2(g), dengan


memperbesar
dan
memperkecil tekanan!

Uji petik Amati pengaruh tekanan


kerja
alat suntik terhadap
prosedur kesetimbangan N 2O4(g)

Bentuk
Instrumen

Penilaian

Tes
unjuk
kerja

Tes
unjuk
kerja

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

6. Melakukan percobaan untuk mengetahui


pengaruh tekanan
dan volume terhadap
pergeseran kesetimbangan.

Kegiatan
Pembelajaran

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 168175

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

Kimia Kelas XI

223

Materi Pokok/
Pembelajaran

Hubungan Kuantitatif antara


Pereaksi dan
Hasil Reaksi

Kompetensi
Dasar

3.5 M e n e n t u k a n
hubungan kuantitatif antara pereaksi dengan
hasil reaksi dari
suatu reaksi kesetimbangan.
Ekonomi
kreatif
() Mandiri

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

2. Menentukan harga
Kp
berdasarkan
tekanan parsial gas
pereaksi dan hasil
reaksi melalui perhitungan.

Mampu menghitung harga K p


berdasarkan tekanan parsial gas
pereaksi dan hasil
reaksi pada keadaan setimbang.

Mampu menghitung
harga Kc berdasarkan konsentrasi zat
dalam
kesetimbangan
melalui
perhitungan.

Pilihan
ganda

Uraian

Tes
tertulis

 + 
 

  
+ 

 + 
 

+ 

+ 

 + 
 

 

  

+ 

 + 

Dalam reaksi:
H2(g) + I2(g) R 2HI(g)
Kesetimbangan tercapai
pada temperatur 490C
dengan tekanan parsial
masing-masing
gas
adalah:
PH = 2,28 102 atm
2
PI = 2,28 102 atm
2
PHI = 1,54 103 atm

e. Kc =

d. Kc =

c. Kc =

b. Kc =

a. Kc =

Harga tetapan kesetimbangan (K c) untuk


reaksi 2Al3+(aq) + 6H2O(A)
R 2Al(OH)3(s) + 6H+(aq)
diperoleh melalui persamaan . . . .

Reaksi pembuatan belerang


trioksida adalah reaksi
eksoterm, dengan persamaan berikut.
2SO 2(g) + O 2(g) R
2SO3(g) H < 0
Produksi belerang trioksida
dapat meningkat apabila
diberi perlakuan seperti
pada nomor . . . .
a. 1), 2), 3), dan 4)
b. 1), 2), dan 3)
c. 1) dan 3)
d. 2) dan 4)
e. 4) saja

Contoh Instrumen

Penilaian
Bentuk
Instrumen

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

Menentukan harga Kc
berdasarkan konsentrasi zat dalam kesetimbangan melalui
perhitungan. ()

1.

Kegiatan
Pembelajaran

1. Buku PG Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 176194
2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 101110

2. Buku PR Kimia
Kelas XI Semester 1, Intan
Pariwara halaman 97101

Alokasi Alat dan Sumber


Belajar
Waktu

224

Silabus

Kompetensi
Dasar

Materi Pokok/
Pembelajaran

Nilai dan
Materi yang
Diintegrasikan

4. Menentukan harga
derajat disosiasi
berdasarkan data
percobaan.

Mampu menafsirkan data percobaan mengenai konsentrasi pereaksi


dan hasil reaksi
pada keadaan setimbang untuk menentukan derajat
disosiasi
dan
tetapan kesetimbangan.

Mampu menghitung harga K c


berdasarkan Kp.

Tes
tertulis

Tes
tertulis

Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik

3. Menentukan harga
Kc berdasarkan Kp
atau sebaliknya
melalui perhitungan.

Kegiatan
Pembelajaran

Pilihan
ganda

Uraian

Bentuk
Instrumen

PCl5(g) R PCl3(g) + Cl2(g)


Setelah tercapai keadaan setimbang terdapat 0,20 mol gas PCl3.
Persentase PCl 5 yang
terurai sebesar . . .%.
a. 50
d. 66
b. 56
e. 76
c. 60

Dalam ruang 1 liter


dimasukkan gasl PCl 5
sebanyak 0,30 mol dan
terurai menurut reaksi
kesetimbangan:

N2O4(g) R 2NO2(g)
Hitung harga Kp dan Kc!

Pada suhu 298 K tekanan total campuran N2O4


dan NO2 dalam keadaan
setimbang adalah 3,6
atm. Tekanan parsial
N 2 O 4 adalah 2,7 atm
untuk kesetimbangan:

Tentukan harga tetapan


kesetimbangan K p dan
Kc !

Contoh Instrumen

Penilaian
Alokasi Alat dan Sumber
Belajar
Waktu

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Bab I Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur
Sekolah
Kelas/Semester
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu

:
:
:
:

..........
XI/1
Kimia
4 45 menit (2 pertemuan)

Standar Kompetensi : 1.
Kompetensi Dasar

Memahami struktur atom untuk meramalkan sifat-sifat periodik unsur, struktur


molekul, dan sifat-sifat senyawa.

: 1.1 Menjelaskan teori atom Bohr dan mekanika kuantum untuk menuliskan konfigurasi
elektron dan diagram orbital serta menentukan letak unsur dalam tabel periodik.

Indikator Pencapaian Kompetensi

Menjelaskan teori atom mekanika kuantum.

Menjelaskan pengertian bilangan kuantum.

Menentukan bilangan kuantum (kemungkinan elektron berada).

Menjelaskan kulit dan subkulit serta hubungannya dengan bilangan kuantum.

Menggambarkan bentuk-bentuk orbital.

Menggunakan prinsip Aufbau, aturan Hund, dan asas larangan Pauli untuk menuliskan konfigurasi elektron
dan diagram orbital.

Menghubungkan konfigurasi elektron suatu unsur dengan letaknya dalam sistem periodik.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu:
1. mengkaji tentang model atom Bohr, dualisme partikel gelombang, dan mekanika kuantum melalui diskusi
kelompok;
2. menjelaskan tentang berbagai bilangan kuantum;
3. memberikan contoh cara menentukan bilangan kuantum dan bentuk orbital s, p, d, dan f melalui diskusi
kelas;
4. menentukan jumlah subkulit pada setiap kulit dalam suatu bilangan kuantum;
5. menggambarkan bentuk-bentuk dan orientasi berbagai orbital;
6. menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital;
7. memberikan contoh cara menentukan letak unsur dalam tabel periodik berdasarkan konfigurasi elektronnya.
Nilai dan Materi yang Diintegrasikan
1. Pendidikan karakter: Kreatif dan Gemar Membaca.
2. Ekonomi kreatif: Kerja Keras.
Materi Pembelajaran
1. Perkembangan Teori Atom Modern
2. Sistem Periodik Unsur Modern
Metode Pembelajaran
1. Model Pembelajaran
a. Cooperative Learning (CL)
b. Direct Instruction (DI)
2. Metode
a. Tanya jawab
b. Diskusi

Kimia Kelas XI

225

Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama
1.

Kegiatan Pendahuluan (5 menit)


a. Motivasi
Menanyakan kepada siswa tentang pengertian atom dan ilmuwan-ilmuwan penemu atom.
b. Prasyarat Pengetahuan
Siswa mengetahui perkembangan teori atom dan bentuk/model atom sesuai penemunya.

2.

Kegiatan Inti (2 40 menit)


a. Eksplorasi

Guru menjelaskan tentang teori kuantum.

Guru memberi contoh cara menentukan besarnya energi foton pada suatu logam.

Guru menjelaskan tentang model atom Bohr.

Guru menjelaskan tentang hipotesis Louis de Broglie mengenai gelombang materi.

Guru mengadakan tanya jawab tentang model atom modern atau mekanika kuantum.

Guru menjelaskan tentang bilangan kuantum dan cara menentukan elektron dalam subkulit.

Guru menjelaskan tentang bentuk-bentuk orbital.

Guru menjelaskan cara menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital.


b. Elaborasi

Siswa menghitung energi foton dari suatu logam.

Siswa menggambarkan model atom Bohr.

Siswa mencari referensi dan membaca perkembangan teori atom dari ilmuwan-ilmuwan penemunya.

Siswa menghitung panjang gelombang suatu materi.

Siswa menentukan harga bilangan kuantum suatu elektron dalam suatu subkulit.

Siswa berlatih menentukan harga bilangan kuantum suatu elektron dalam suatu subkulit.

Siswa menggambarkan bentuk-bentuk suatu orbital. Guru mengarahkan siswa untuk berpikir kreatif
membuat orbital menggunakan beberapa balon yang dipilin. (*)

Siswa menuliskan konfigurasi elektron dan menentukan diagram orbital suatu atom.
(*) Pendidikan Karakter (Kreatif).
c. Konfirmasi
Guru meminta siswa untuk menuliskan konfigurasi elektron dengan aturan penuh dan setengah penuh.

3.

Kegiatan Penutup (5 menit)


Guru menugasi siswa untuk mempelajari materi subbab sistem periodik unsur.
Pertemuan Kedua

1.

Kegiatan Pendahuluan (5 menit)


a. Motivasi
Menanyakan ke siswa tentang letak unsur dalam sistem periodik.
b. Prasyarat Pengetahuan
Siswa mengetahui anggota unsur-unsur utama dalam sistem periodik modern.

2.

Kegiatan Inti (2 40 menit)


a. Eksplorasi

Guru menjelaskan tentang pengertian golongan dan periode pada sistem periodik modern.

Guru menjelaskan tentang unsur-unsur dalam golongan aktinida dan lantanida.

Guru menjelaskan tentang pembagian periode dalam sistem periodik modern.

Guru menjelaskan tentang pembagian blok dalam golongan tabel periodik panjang.

Guru menjelaskan letak unsur dalam sistem periodik berdasarkan konfigurasi elektron.
b. Elaborasi

Siswa menuliskan konfigurasi elektron suatu unsur. Guru menganjurkan siswa agar gemar membaca
tentang sistem periodik unsur dan cara menentukan letak unsur dalam sistem periodik unsur. (**)

226

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

c.
3.

Siswa menentukan letak unsur dalam sistem periodik berdasarkan konfigurasi elektron. Guru
membimbing siswa untuk berpikir kreatif dengan mencari berbagai model tabel periodik unsur terbaru
dan membuat model tersebut sesuai kreativitas siswa untuk digunakan sebagai panduan belajar. ()

Siswa mengerjakan tugas subbab sistem periodik unsur.


(**) Pendidikan Karakter (Gemar Membaca).
() Ekonomi Kreatif (Kreatif).
Konfirmasi
Guru mengumpulkan hasil pekerjaan tugas siswa.

Kegiatan Penutup (5 menit)


Guru menugasi siswa agar mengerjakan soal-soal di Uji Kompetensi dan Ulangan Harian bab I.

Alat Sumber Belajar


1. Buku PG Kimia Kelas XI, Intan Pariwara, 2013
2. Buku PR Kimia Kelas XI, Intan Pariwara, 2013
3. BSE Kimia XI, Depdikas, 2009
Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen
a. Teknik Penilaian
Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen
1) Pilihan ganda
2) Uraian
2.

Contoh Instrumen
a. Pilihan Ganda
Ion X mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6. Bilangan kuantum elektron terakhir atom X adalah
....

b.

a.

n=2

A=0

m=0

s=

b.

n=2

A=1

m = +1

s=

c.

n=3

A=0

m=0

s = +

d.

n=3

A=1

m = 1

s = +

e.

n=3

A=2

m=0

s = +

Uraian
Tentukan konfigurasi elektron dari:
a. 21Sc
b. 29Cu
c. 16S2

________, ______________
Mengetahui,
Kepala SMA ______________

Guru Mata Pelajaran

........................
___________________________
NIP _______________________

........................
___________________________
NIP _______________________

Kimia Kelas XI

227

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Bab II Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul
Sekolah
Kelas/Semester
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu

:
:
:
:

..........
XI/1
Kimia
4 45 menit (2 pertemuan)

Standar Kompetensi : 1.
Kompetensi Dasar

Memahami struktur atom untuk meramalkan sifat-sifat periodik unsur, struktur


molekul, dan sifat-sifat senyawa.
: 1.2 Menerapkan teori domain elektron untuk meramalkan bentuk molekul dan
menjelaskan hubungan antarmolekul dengan sifatnya.
1.3 Menjelaskan interaksi antarmolekul (gaya antarmolekul) dengan sifatnya.

Indikator Pencapaian Kompetensi

Meramalkan bentuk molekul berdasarkan teori domain elektron.

Meramalkan bentuk molekul berdasarkan teori hibridisasi.

Menggambarkan bentuk molekul suatu senyawa.

Menjelaskan perbedaan sifat fisik (titik didih, titik beku) berdasarkan perbedaan gaya antarmolekul (gaya Van
der Waals, gaya London, dan ikatan hidrogen).
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu:
1. menentukan bentuk molekul senyawa berdasarkan pasangan elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron
bebas (PEB);
2. menentukan bentuk molekul senyawa berdasarkan hibridisasi orbital-orbital atom dari elektron yang saling
berikatan;
3. membuat bentuk molekul suatu senyawa;
4. mengidentifikasi sifat-sifat fisik molekul berdasarkan gaya antarmolekul.
Nilai dan Materi yang Diintegrasikan
1. Pendidikan karakter: Rasa Ingin Tahu.
2. Ekonomi kreatif: Kreatif.
Materi Pembelajaran
1. Bentuk Molekul
2. Gaya Antarmolekul
Metode Pembelajaran
1. Model Pembelajaran
a. Cooperative Learning (CL)
b. Direct Instruction (DI)
2. Metode
a. Tanya jawab
b. Diskusi
Langkah-Langkah Kegiatan
Pertemuan Pertama
1.

Kegiatan Pendahuluan (5 menit)


a. Motivasi
Guru menanyakan kepada siswa tentang berbagai bentuk molekul suatu senyawa.
b. Prasyarat Pengetahuan
Siswa mengetahui bentuk-bentuk molekul suatu senyawa.

228

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

2.

Kegiatan Inti (2 40 menit)


a. Eksplorasi

Guru menjelaskan tentang bentuk-bentuk molekul senyawa kovalen.

Guru menjelaskan teori domain elektron.

Guru menjelaskan tentang bentuk-bentuk molekul berdasarkan teori domain elektron.

Guru menjelaskan tentang teori hibridisasi.

Guru menentukan orbital hibrida dari elektron-elektron yang saling berikatan.


b. Elaborasi

Siswa menentukan bentuk molekul suatu senyawa berdasarkan perhitungan PEI dan PEB.

Siswa menentukan orbital hibridisasi dan bentuk molekul hibrida suatu senyawa. Guru menganjurkan
siswa untuk mencari literatur tentang bentuk orbital hibrida berbagai senyawa kemudian mencoba
membuat orbital hibridisasinya. (*)
(*) Pendidikan Karakter (Rasa Ingin Tahu).
c. Konfirmasi
Guru menugasi siswa menggambarkan bentuk molekul suatu senyawa berdasarkan teori domain elektron
dan orbital hibridisasi.

3.

Kegiatan Penutup (5 menit)


Guru menugasi siswa untuk mengerjakan tugas subbab 1.
Pertemuan Kedua

1.

Kegiatan Pendahuluan (5 menit)


a. Motivasi
Guru menanyakan ke siswa tentang ikatan yang terjadi pada suatu senyawa.
b. Prasyarat Pengetahuan
Siswa memahami tentang ikatan kimia.

2.

Kegiatan Inti (2 40 menit)


a. Eksplorasi

Guru menjelaskan tentang gaya antarmolekul pada senyawa polar dan nonpolar.

Guru menjelaskan tentang gaya Van der Waals yang meliputi gaya London dan gaya tarik dipol.

Guru menjelaskan tentang ikatan hidrogen.

Guru membagi siswa ke dalam kelompok diskusi.


b. Elaborasi

Siswa melakukan diskusi untuk menjelaskan perbedaan titik didih suatu senyawa berdasarkan
perbedaan gaya antarmolekulnya. Guru menugasi siswa untuk mencari referensi dan mencoba
membuktikan adanya ikatan hidrogen dalam suatu molekul. ()
() Ekonomi Kreatif (Kreatif).
c. Konfirmasi
Guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi kelas.
Kegiatan Penutup (5 menit)
Guru menugasi siswa untuk mengerjakan soal-soal Uji Kompetensi dan Ulangan Harian bab II.

3.

Alat Sumber Belajar


1. Buku PG Kimia Kelas XI, Intan Pariwara, 2013
2. Buku PR Kimia Kelas XI, Intan Pariwara, 2013
Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen
a. Teknik Penilaian
Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen
1) Pilihan ganda
2) Uraian

Kimia Kelas XI

229

2.

Contoh Instrumen
a. Pilihan Ganda
Titik didih alkohol (ROH) lebih tinggi daripada titik didih eter (ROR) walaupun rumus molekulnya
sama. Hal ini terjadi karena . . . .
a. alkohol berwujud cair pada suhu biasa
b. alkohol seperti metanol bersifat racun
c. alkohol dapat bercampur baik dengan air
d. antarmolekul alkohol terdapat ikatan hidrogen
e. reaksi alkohol dengan logam menghasilkan senyawa alkoholat
b. Uraian
Tentukan bentuk molekul dari ion-ion berikut!
a. ClO4
b. NH4+
c. AlF63

________, ______________
Mengetahui,
Kepala SMA ________________

Guru Mata Pelajaran

........................
___________________________
NIP _______________________

........................
___________________________
NIP _______________________

230

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)