Anda di halaman 1dari 12

Proses pembentukan urin

Proses pembentukan urin terdiri atas 3 tahap, yaitu; Filtrasi, Reabsorpsi dan
Augmentasi.Urin dibentuk di nefron, yaitu dengan menyaring darah dan kemudian
mengambil kembali ke dalam darah bahan-bahan yang bermanfaat. Dengan demikian
akan tersisa bahan tak berguna, yang nantinya akan keluar dari nefron dalam bentuk
suatu larutan yang disebut urin.

Filtrasi
1. Filtrasi adalah proses penyaringan darah yang mengandung zat-zat sisa
metabolisme yang dapat menjadi racun bagi tubuh.
2. Filtrasi terjadi di glomerulus yang ada di badan malpighi.
3. Hasil dari filtrasi di glomerulus, menuju kapsula bowman dan dihasilkan urin
primer.
4.

Urin primer terdiri dari: air, gula, asam amino, garam/ion anorganik, urea

Reabsorpsi
1. Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal yang nantinya akan
menghasilkan urin sekunder.
2. Urin primer yang terkumpul di kapasula Bowman masuk ke dalam tubulus
kontortus proksimal dan terjadi reabsorpsi.
3. Pada proses ini terjadi proses penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna
bagi tubuh oleh dinding tubulus, lalu masuk ke pembuluh darah yang
mengelilingi tubulus.
4. Zat-zat yang diserap kembali oleh darah antara lain: glukosa, asam amino, dan
ion-ion anorganik (Na+, Ka+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HPO43-, SO43-)
5. Hasil dari reabsorpsi urin primer adalah urin sekunder yang mengandung sisa
limbah nitrogen dan urea.
6. Urin sekunder masuk ke lengkung henle. Pada tahap ini terjadi osmosis air di
lengkung henle desenden sehingga volume urin sekunder berkurang dan
menjadi pekat. Ketika urin sekunder mencapai lengkung henle asenden, garam
Na+ dipompa keluar dari tubulus, sehingga urin menjadi lebih pekat dan volume
urin tetap.

Augmentasi

1. Dari lengkung henle asenden, urin sekunder akan masuk ke tubulus distal untuk
masuk tahap augmentasi (pengumpulan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oleh
tubuh).
2. Zat sisa yang dikeluarkan oleh pembuluh kapiler adalah ion hidrogen (H+), ion
kalium (K+), NH3 dan kreatinin. Pengeluaran ion H+ ini membantu menjaga pH
yang tetap dalam darah.
3. Selama melewati tubulus distal, urin banyak kehilangan air sehingga konsentrasi
urin makin pekat.
4. Selanjutnya urin memasuki pelvis renalis dan menuju ureter, kemudian dialirkan
ke vesica urinaria, untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urin diatur
oelh otot-otot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih
300 ml.

Penilaian Hasil Pemeriksaan Urine


Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine
merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal.
Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit.
Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya
terbentuk 1 ml urin per menit.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal
dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan dipelbagai organ tubuh
seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain.

Faktor-Faktor Yang Turut Mempengaruhi Susunan Urin


Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain
persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada
pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C,
karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif
palsu dengan cara enzimatik.
Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang
memberi warna pada urin, seperti vitamin B2 (riboflavin), pyridium dan lain lain.

Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat.
Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak
berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin
menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan
sedimen dapat dipergunakan urin - sewaktu, ialah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak
ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urinsewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi.
Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk
pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan.
Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah kontaminasi dianjurkan
pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yaitu dengan melakukan
kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama
keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut
ditampung.

Pemeriksaan Makroskopik, Mikroskopik Dan Kimia Urin


Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin
adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan
protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah
pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin,
urobilinogen, darah samar dan nitrit.
Pemeriksaan Makroskopik
Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin. Pengukuran
volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu
zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Pengukuran
volume urin yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan
gangguan faal ginjal.
Volume urin
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin,
makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata
didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila

didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri.
Poliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan,
nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan
oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran
cairan dari edema. Bila volume urin selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan
oliguri.
Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun.
Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini
mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan
normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik
disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus.
Warna urin
Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan
kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua,
kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin
dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna
ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal
urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat
warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin
disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan
warna coklat.
Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti
hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna coklat.
Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang
sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada urin.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat
keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut nubecula yang
terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan
oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang
telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel,
leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak.
Berat jenis urin

Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter,
refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 -1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat
jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian
dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih,
menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan
demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake
cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.
Bau urin
Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal.
Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat
disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan
seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya
terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula
dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran
kemih.
pH urin
Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan
tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 -- 8,0. Selain itu penetapan pH
pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh
Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus
yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam
pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk
mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya dipertahankan basa.
Pemeriksaan Mikroskopik
Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini
penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya
penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan
pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X)
yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar
(40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.
Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per
LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang

bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++ (banyak) dan +++
(banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak
organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit,
leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal
dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan kristal.
Eritrosit atau leukosit
Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau
berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin,
sedangkan leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari
genitalia.
Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan
dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada
penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut
piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret
vagina pada penderita dengan fluor albus.
Silinder
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal, mempunyai matrix
berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat
leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain
osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.
Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal.
Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit
dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder
epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat
dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit.
Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.
Kristal
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal
asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering
ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil
metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak
makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal
lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.

Epitel
Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin.
Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan
batu dalam saluran kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan
oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat
dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop
polarisasi.

Pemeriksaan Kimia Urin


Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih
sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens
pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai
untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus dipertahankan,
penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai cara penyimpanan,
pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan.
Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan.
Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan
dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan
suhu kamar.
Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang
telah berada dalam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen
dipergunakan urin segar karena zat-zat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila
urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi
alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena
kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin
karena terbentuknya peroksidase dari bakteri.
Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain
seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan mukoprotein. Oleh karena itu hasil
pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya
protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium
kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu
dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan
pre-renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai

hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan perfusi


glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat
disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis
akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lainlain.

Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain
itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara
reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain
glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan
seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara
reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada
cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl.
Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa
dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negatip palsu pada
urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40 mg/dl.
Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena
peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk
mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing,
phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang
menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi.
Benda- benda keton dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi
butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan
benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl,
tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat.
Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa
dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.
Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang
lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme
lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum
kadar benda keton dalam serum meningkat.

Pemeriksaan bilirubin dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan
bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium
terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai
adalah asam sulfo salisilat.

Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan
kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat
mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi
bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium.

Pemeriksaan urobilinogen dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan
normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin.
Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu
atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.
Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin
disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan
pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka
terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan
mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil
positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase
dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang
terkontaminasi.
Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan tes nitrit.
Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat
lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa
hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi
perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4
jam akan memberikan basil positif pada 40% kasus.
Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4 jam.
Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil negatif mungkin
disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga
kuman tidak dapat merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam
buli-buli kurang dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif.
Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi bila
urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat dalam urin kurang dari
0,03 mg/dl.

PENATAKLASANAAN DEHIDRASI BAYI


Dehidrasi pada bayi adalah kondisi dimana bayi kehilangan terlalu banyak cairan atau kurang
mendapatkan cairan. Dehidrasi cukup umum terjadi pada bayi, karena di usianya yang muda
mereka sangat sensitif untuk kehilangan cairan. Namun, dehidrasi dapat menjadi masalah serius
jika tidak segera ditangani.
Gejala dehidrasi pada bayi
Gejala-gejala di bawah ini mungkin mengindikasikan bayi Anda mengalami dehidrasi:

Kulit atau bibir kering

Fontanel terlihat cekung (fontanel adalah area lembut di bagian atas kepala bayi)

Jarang atau tidak buang air (ditandai dengan popok yang kering)

Mata cekung

Menangis tanpa air mata

Urin berwarna kuning gelap

Lesu dan mengantuk

Napas cepat

Dingin pada tangan dan kaki.

Penyebab dehidrasi pada bayi


Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan bayi Anda mengalami dehidrasi, antara lain:

Demam. Demam menjadi penyebab utama dehidrasi pada bayi. Ketika bayi mengalami
demam, ia akan berkeringat dan air menguap keluar melalui kulitnya. Pada saat demam,
bayi juga biasanya bernapas lebih cepat, sedangkan proses bernapas akan mengurangi
cairan di dalam tubuh.

Overheat. Bayi akan berkeringat dan kehilangan cairan dengan mudah ketika terkena
cahaya matahari (bukan berarti sinar matahari jelek bagi bayi) atau ia aktif di cuaca yang
panas. Bayi juga dapat mengalami overheat ketika berada di ruangan yang pengap atau
karena menggunakan lapisan/pakaian yang terlalu banyak atau tebal.

Diare dan muntah. Jika bayi Anda mengalami masalah pada perut seperti gastroenteritis,
ia dapat kehilangan banyak cairan akibat diare dan muntah. Saat diare, tubuh bayi tidak
mampu menyerap atau menyimpan cairan dari usus, yang berarti bayi akan lebih cepat
mengalami dehidrasi.

Tidak mau minum. Bayi bisa saja tidak mau minum atau menyusu karena beberapa
alasan seperti sakit mulut, sariawan, sakit tenggorokan atau karena giginya sedang
tumbuh. Terkadang juga bayi menolak minum karena hidungnya buntu atau pilek.

Pengobatan dehidrasi pada bayi


Beberapa perawatan yang dapat dilakukan dirumah untuk mengatasi dehidrasi pada bayi, yakni:

Berikan ia cairan seperti ASI atau susu formula dalam jumah yang sedikit namun sering.
Berikan juga air meskipun bayi Anda meminum ASI atau susu formula. Jangan berikan
jus buah apalagi minuman berkarbonasi jika bayi Anda dehidrasi karena diare atau
muntah.

Berikan ia oralit. Oralit akan membantu menggantikan cairan, yaitu garam dan gula yang
hilang dari tubuh bayi. Baca dengan benar dosis dan cara penggunaan oralit pada
kemasannya.

Jika bayi Anda tidak mau minum karena ia sulit menelan, berikan ia parasetamol atau
ibuprofen agar ia merasa nyaman. Tapi ingat, bayi baru boleh diberikan parasetamol jika
telah berusia dua bulan, dan berusia tiga bulan untuk diberikan ibuprofen. Namun,
sebaiknya mintalah saran ke dokter mengenai hal ini.

Saat cuaca panas, usahakan untuk menempatkan bayi Anda di tempat yang dingin,
jauhkan dari cahaya matahari dan berikan ia cairan yang banyak. Saat cuaca panas, jika
ASI sudah diberikan, tidak perlu lagi diberikan air. Tapi jika ia hanya diberi susu formula,
berikan juga air.

Jika bayi Anda sangat dehidrasi, ditandai dengan gejalanya yang hebat, sebaiknya segera
bawa ke rumah sakit. Perawatan di rumah sakit biasanya adalah dengan pemberian cairan
melalui intravena (infus) di tangannya, atau dengan memasukkan tabung makanan
melalui hidung. Dehidrasi berat bisa jadi merupakan dampak dari penyakit lain, seperti
gastroenteritis atau penyakit saluran pernapasan, seperti pneumonia atau bronkiolitis.

Janganlah panik ketika bayi Anda mengalami dehidrasi, karena kebanyakan kasus dehidrasi
tidaklah berbahaya. Yang penting bayi harus diberikan banyak cairan (seperti langkah atas).

Dehidrasi sangat umum terjadi pada bayi, dan biasanya dokter hanya menyarankan perawatan di
rumah, yaitu pemberian banyak cairan.