Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
DM (DIABETES MELISTUS) yaitu kelainan metabolik akibat dari
kegagalan pankreas untuk mensekresi insulin (hormon yang responsibel
terhadap pemanfaatan glukosa) secara adekuat. Akibat yang umum adalah
terjadinya hiperglikemia. DM merupakan sekelompok kelainan heterogen
yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia
yang disebabkan defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat
(Brunner & Suddart).
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan
kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi
hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar
gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan
atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.
B. TIPE DM
1. Tipe I : Insulin Dependen Diabetes Melitus (IDDM)
Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga
rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan
autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes mellitus dengan patogenesis
jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk
pada penggolongan ini.
2. Tipe II : Non Insulin Dependen Diabetes Melitus (NIDDM).
Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin,
seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin.

DM | 3

C. ETIOLOGI
1. Pola makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang
dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes mellitus.
konsumsi makan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan sekresi
insulin dalam jumlah yang memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam
darah meningkat dan pastinya akan menyebabkan diabetes melitus.
2. Obesitas (kegemukan)
Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kg cenderung
memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes militus.
Sembilan dari sepuluh orang gemuk berpotensi untuk terserang diabetes
mellitus.
3. Faktor genetis
Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak.
Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya
menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya
bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.
4. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan
radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi
pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk
proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang
terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas.
5. Penyakit dan infeksi pada pancreas
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat
menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi
pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses

DM | 4

metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan


dislipidemia dapat meningkatkan resiko terkema diabetes mellitus.
6. Pola hidup
Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab diabetes
mellitus. Jika orang malas berolah raga memiliki resiko lebih tinggi untuk
terkena penyakit diabetes mellitus karena olah raga berfungsi untuk
membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang tertimbun
di dalam tubuh merupakan faktor utama penyebab diabetes mellitus selain
disfungsi pankreas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus
diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun
ke depan. Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di
Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya
lebih memilih naik motor dibanding bersepeda, kata Dr Gauden Galea,
Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko
obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki,
atau aktivitas lainnya.
7. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan
kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas
teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan).
Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari
(tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200
kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut

DM | 5

diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan
diabetes.
8. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal
gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit
degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab
utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan
pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah
dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang
ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat)
dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah.
Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan
mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk
gorengan.
9. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa
menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang,
perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan
keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis
lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan
yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan
glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di
dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
10. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil
riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur

DM | 6

selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa


menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga
dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan.
Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan
berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.
11. Sering stress
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir
besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon
epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi
untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk
maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena
stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri
pelan-pelan.
12. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria
dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik
sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma
disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat,
seperti pola makan dan olahraga.
13. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon
estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering
menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari
S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil
kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan,
pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika

DM | 7

terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan
baik.
14. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses Health Study II
terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan
konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes
melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi
karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu,
asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk
minum lebih banyak.

Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup


untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak
memberikan respon yang tepat terhadap insulin.
Penderita diabetes mellitus tipe I (diabetes yang tergantung
kepada insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak
menghasilkan insulin. Sebagian besar diabetes mellitus tipe I terjadi
sebelum usia 30 tahun.
Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (mungkin berupa
infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal)
menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di
pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik. Pada
diabetes tipe I, 90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan
permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus
mendapatkan suntikan insulin secara teratur.

DM | 8

Pada diabetes mellitus tipe II (diabetes yang tidak tergantung


kepada insulin, NIDDM), pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang
kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan
terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Diabetes tipe
II bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah
usia 30 tahun. Faktor resiko untuk diabetes tipe II adalah obesitas, 80-90%
penderita mengalami obesitas. Diabetes tipe II juga cenderung diturunkan.
Penyebab diabetes lainnya adalah:
a. Kadar kortikosteroid yang tinggi
b. Kehamilan (diabetes gestasional)
D. PATOFISIOLOGI
1. Tipe I : IDDM
Hampir 90-95% sel pankreas hancur sebelum terjadi hiperglikemia
akibat dari antibodi islet sel. Kondisi tersebut menyebabkan insufisiensi
insulin dan meningkatkan glukosa. Glukosa menumpuk dalam serum
sehingga menyebabkan hiperglikemia, kemudian glukosa dikeluarkan
melalui ginjal (glukosuria) dan terjadi osmotik diuresis. Osmotik diuresis
menyebabkan terjadinya kehilangan cairan dan terjadi polidipsi.
Penurunan insulin menyebabkan tubuh tidak bisa menggunakan energi
dari karbohidrat sehingga tubuh menggunakan energi dari lemak dan
protein sehingga mengakibatkan ketosis dan penurunan BB. Poliphagi dan
kelemahan tubuh akibat pemecahab makanan cadangan.
2. Tipe II : NIDDM
Besar dan jumlah sel beta pankreas menurun tidak diketahui
sebabnya. Pada obesitas, kemampuan insulin untuk mengambil dan
memetabolisir glukosa ke dalam hati, muskuloskeletal dan jaringan

DM | 9

berkurang. Gejala hampir sama dengan DM Tipe I dengan gejala non


spesifik lain (pruritus, mudah infeksi).
E. GEJALA
1. Gejala akut
Pada permulaan :
a. Banyak makan (poifagia)
b. Banyak minum (polidipsia
c. Banyak kencing (poliuria)
Penderita menunjukan berat badan terus naik dan tambah gemuk karena
jumlah insulin masih mencukupi
2. Gejala kurang insulin :
a. Polidipsia dan poliuria
b. Nafsu makan berkurang
c. Kadang timbul rasa mual jika glukosa darah melebihi 500 mg/dl,
d.
e.
f.
g.

disertai :
Banyak minum dan kencing
BB turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu
Mudah lelah
Bila tidak diobati penderita akan merasa mual bahkan akan jatuh koma

disebut koma diabetic akibat glukosa terlalu tinggi > 600 mg/dl.
3. Gejala kronik
Gejala ini biasa muncul sesudah beberapa bulan atau tahun mengidap
DMGejala antara lain :
a. Kesemutan
b. Kulit terasa panas atau seperti di tusuk jarum
c. Rasa tebal di kulit
d. Kram
e. Capai
f. Mudah ngantuk
g. Mata kabur (sering ganti kaca mata)
h. Gatal disekitar kemaluan terutama wanita
i. Para ibu hamil sering mengalami keguguran dengan berat badan lahir 4
kg
j. Kepekaan genetic
k. Peristiwa lingkungan (benda asing) mengawali proses pada individu
yang peka

DM | 10

l. Respon radang pancreas yang disebut insulitis. Sel yang menyerbuk


pulau-pulau adalah limfosit T aktif.
F. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI
1. SENAM KAKI
a. Pengertian
Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh
pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu
melancarkan peredaran darah bagian kaki. (S,Sumosardjuno,1986)
Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan
memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan
bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot
paha,

dan

juga

mengatasi

keterbatasan

pergerakan

sendi.

(www.diabetesmelitus.com)
b. Tujuan
(i) Memperbaiki sirkulasi darah
(ii) Memperkuat otot-otot kecil
(iii)
Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki
(iv)Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha
(v) Mengatasi keterbatasan gerak sendi
c. Indikasi dan Kontraindikasi
(i) Indikasi
Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita
Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya
diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus
sebagai tindakan pencegahan dini.
(ii) Kontraindikasi
(1) Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu
(2)
(iii)
(1)
(2)
(3)

atau nyeri dada.


Orang yang depresi, khawatir atau cemas.
Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan
Lihat Keadaan umum dan keadaran pasien
Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan
Cek Status Respiratori (adakan Dispnea atau nyeri dada)

DM | 11

(4) Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian


tindakan senam kaki tersebut
(5) Kaji status emosi pasien (suasanan hati/mood, motivasi)
(iv)Implementasi
(1) Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar, Kursi (jika tindakan
dilakukan dalam posisi duduk), hanskun.
(2) Persiapan Klien : Kontrak Topik, waktu, tempat dan tujuan
dilaksanakan senam kaki
(3) Persiapan lingkungan : Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi
pasien, Jaga privacy pasien
(v) Prosedur Pelaksanaan :
(1) Terapis cuci tangan
(2) Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien
duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai
(3) Dengan Meletakkan tumit dilantai, jari-jari kedua belah kaki
diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti
cakar ayam sebanyak 10 kali

DM | 12

(4) Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat


telapak kaki ke atas. Pada kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan
di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Cara ini
dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara
bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.

(5) Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke


atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada
pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

(6) Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat


gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki
sebanyak 10 kali.

DM | 13

(7) Angkat salah satu lutut kaki, dan luruskan. Gerakan jari-jari
kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke
kanan. Ulangi sebanyak 10 kali.
(8) Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki
tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu
turunkan kembali kelantai.
(9) Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi langkah ke 8, namun
gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi sebanyak 10
kali.
(10)
Angkat kedua kaki dan luruskan,pertahankan posisi
tersebut. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang.
(11)
Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada
pergelangan kaki , tuliskan pada udara dengan kaki dari angka
0 hingga 10 lakukan secara bergantian.

(12)

Letakkan sehelai koran dilantai. Bentuk kertas itu menjadi

seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian, buka bola itu

DM | 14

menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah


kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja
(i) Lalu robek koran menjadi 2 bagian, pisahkan kedua bagian
koran.
(ii) Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan
kedua kaki
(iii)
Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut
dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada
bagian kertas yang utuh.
(iv)Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola

(13) Hal yang Harus di Evaluasi Setelah Tindakan


(i) Pasien dapat menyebutkan kembali pengertian senam kaki
(ii) Pasien dapat menyebutkan kembali 2 dari 4 tujuan senam
kaki
(iii)

Pasien dapat memperagakkan sendiri teknik-teknik


senam kaki secara mandiri

(14) Dokumentasi Tindakan


(i) Respon klien
(ii) Tindakan yang dilakukan klien sesuai atau tidak dengan
prosedur
(iii)Kemampuan klien melakukan senam kaki

DM | 15