Anda di halaman 1dari 3

http://ditjenpdn.kemendag.go.id/index.

php/public/information/articlesdetail/berita/43

Menuju Swasembada Jagung Tahun 2014


16 Desember 2011 17:15:23, dibaca: 1999 kali
Oleh : noeltrg

Pada perayaan Hari Pangan Sedunia ke-31, tanggal 16 Oktober lalu, pemerintah
Indonesia mengambil tema Menjaga Stabilitas Harga dan Akses Pangan Menuju
Ketahanan Pangan Nasional. Kali ini, acara diperingati di Kabupaten Gorontalo, karena
keberhasilan kabupaten tersebut dalam meningkatkan produksi jagung. Terpilihnya
jagung sebagai ikon dalam kegiatan ini, diharapkan jagung menjadi salah satu solusi
yang tepat untuk mengurangi konsumsi beras yang semakin meningkat. Badan Pusat
Statistik (BPS) mencatat, nilai impor beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai US
$ 829 juta atau sekitar Rp 7,04 triliun. Dengan konsumsi beras sebesar 139
kilogram/kapita/tahun dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa,
berarti konsumsi beras nasional tahun ini mencapai 34 juta ton. Hasil ini diperoleh
dengan mengalikan konsumsi beras perkapita dan jumlah penduduk Indonesia saat ini.
Bisa dikatakan, Indonesia merupakan konsumen beras terbesar di dunia.
Jika kebiasaan makan nasi ini dapat diubah, maka akan berdampak besar pada
ketahanan pangan nasional. Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden RI Boediono telah
mencanangkan program One Day No Rice. Dengan maksud, memberikan
penyadaran bahwa kita tidak harus menjadikan beras sebagai makanan pokok. Kita
masih bisa mengonsumsi singkong, gandum, ubi, dan jagung (juga produk olahannya)
untuk kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan pangan lokal memang perlu terus
ditingkatkan,
sebagai
salah
satu
solusi
dalam
memperkuat
upaya
ketahanan pangan. Caranya, dengan mengubah perspektif masyarakat yang merasa
rendah diri karena mengonsumsi pangan lokalseperti jagung dan umbiumbian.
Padahal, pangan non beras ini juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Di sisi
lain, kita juga dihadapkan dengan tantangan harga pangan dunia yang terus mengalami
kenaikan. Menurut Food Price Watch, harga pangan global tahun 2011 secara
signifikan lebih tinggi dibanding tahun 2010. Sejak krisis pangan melanda tahun 2007
hingga sekarang, kenaikan harga komoditas jagung menempati posisi tertinggi hingga
84 persen, disusul gula 62 persen, gandum 55 persen, dan minyak kacang kedelai 47
persen.
Ada banyak penyebab yang bisa kita inventaris. Di antaranya: Pertama, karena stok
jagung di pasar dunia semakin menipis, sementara permintaan jagung dunia semakin
meningkat. Ketua Dewan Jagung Nasional (DJN) Anton J Supit mengungkapkan, stok
jagung di pasar dunia hanya menyisakan 15 juta ton, padahal biasanya mencapai di
atas 70 juta ton. Seperti Cina yang semula tidak mengimpor jagung, tahun ini
mengimpor sebesar 1,7 juta ton. Tahun depan, Cina diprediksi bakal mengimpor
sebanyak 5 juta ton, Malaysia 2,8 juta ton, Korea 8,9 juta ton,
dan Jepang impor 16 juta ton. Padahal, dari produksi jagung dunia sebanyak 612,5 juta
ton, Amerika Serikat masih menguasai produksi yang mencapai 256,9 juta ton dan

menyusul Cina sebesar 114 juta ton Kedua, karena kenaikan di bursa saham dan harga
minyak
mentah
dunia. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)
Kementerian Perdagangan RI, Syahrul R Sempurnajaya mengatakan, kenaikan harga
jagung dalam negeri sebagaimana dalam analisis Bappebti disebabkan kenaikan di
bursa
saham
dan
harga
minyak
mentah dunia. Jadi, harga minyak mentah ternyata berpengaruh terhadap kenaikan
ini, kata Syahrul. Ketiga, karena semakin meningkatnya permintaan bahan pangan
untuk kebutuhan bahan mentah pembuatan energi nabati (agrofuel). Penggunaan
bahan bakar nabatiseperti tebu, kedelai, jagung, gandum, tanaman jarak, kelapa
sawit, dan singkong telah menjadi kebijakan energi sejumlah negara seperti Amerika
Serikat, kawasan Uni Eropa, Jepang, dan Brasil.
Peluang Bagi Indonesia
Selain gandum, singkong, dan sagu, sebenarnya jagung memiliki potensi yang sangat
besar untuk menggantikan beras. Karena, jagung merupakan sumber karbohidrat
sebagaimana beras, dan dapat dijadikan bahan baku untuk aneka ragam produk
olahan. Di beberapa daerah di Indonesia, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara,
telah menggunakan jagung sebagai bahan pangan pokok. Kini, Amerika Serikat juga
menjadikan jagung sebagai alternatif sumber pangan. Sebenarnya, Indonesia memiliki
potensi yang besar menjadi eksportir jagung global bersama dengan negara-negara
produsen jagung lainnya di dunia dalam lima tahun mendatang. Kalau target produksi
kita tercapai hingga tahun 2014 mendatang, maka kita sudah bisa mengisi
perjagungan dunia, kata Maxdeyul Sola, Sekretaris Jenderal DJN. Sebagaimana kita
tahu, sumber daya lahan di Indonesia cukup besar dan banyak daerah yang merupakan
sentra jagung. Di antaranya, Sumatra Utara, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah,
Jawa Barat, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan. Setidaknya, ada dua provinsi yang bisa
menjadi pilot proyek pengembangan jagung nasional, yakni Lampung dan Sulawesi
Selatan. Alasannya, di kedua provinsi tersebut infrastruktur sudah relatif tersedia,
banyak ditemukan pabrik pakan yang memiliki gudang penyimpanan, dryer
(pengering), dan lahannya masih memadai. Ada lahan potensial untuk pengembangan
jagung sekitar 500 ribu hektar di Lampung, dan luas lahan jagung di Sulawesi Selatan
saat ini mencapai 230-250 ribu hektar. Menurut data BPS, produksi jagung tahun 2010
(ATAP) sebesar 18,33 juta ton, meningkat sebanyak 697,89 ribu ton (3,96 persen)
dibandingkan tahun 2009. Peningkatan produksi tersebut terjadi di Jawa sebesar
489,94 ribu ton, dan di luar Jawa sebesar 207,95 ribu ton. Angka ramalan I (Aram I)
produksi jagung tahun 2011 sebesar 17,93 juta ton. Jumlah ini turun sekitar 438.960 ton
atau 2,39 persen ketimbang produksi tahun lalu. Sebenarnya, kebutuhan jagung
nasional hanya 16,3 juta ton. Dengan produksi jagung sebesar 18,33 juta ton di tahun
2010, seharusnya kebutuhan dalam negeri tercukupi. Menteri Pertanian Suswono
mengaku heran dengan masih adanya sejumlah kalangan yang kesulitan memperoleh
pasokan
jagung.
Ia
memperkirakan,
persoalan
tersebut mengindikasikan adanya masalah dalam pendistribusian hasil produksi jagung.
Akibatnya, masih ada impor yang justru akhir-akhir ini meningkat. Selama semester I
tahun 2010 lalu, impor jagung hanya mencapai 600 ribu ton. Tapi di semester I tahun
2011, impor jagung telah mencapai 2 juta ton. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan akan

mencapai 2,5 juta ton. Untuk itu, pihaknya meminta BPS untuk mendata semua
produksi dan konsumsi jagung, agar tidak lagi terjadi perdebatan terkait impor.
Langkah lain yang harus disiapkan pemerintah adalah, menetapkan harga minimum
jagung untuk setiap wilayah. Dengan demikian, petani memiliki kepastian harga.
Selama ini, karena daya tawar petani rendah, harga jual jagung di tingkat petani relatif
murah. Tentu petani tidak bisa menahan jagung terlalu lama, karena tidak mempunyai
alat pengering. Bappebti menyebutkan, harga jagung mengalami kenaikan di sejumlah
pasar dalam negeri. Salah satunya di kabupaten OKU Timur, Sumatra Selatan. Harga
jual jagung dari tingkat petani saat ini tercatat berkisar antara Rp 3.025 hingga Rp 3.050
per kilogram. Sebelumnya, harga jagung hanya Rp 2.700 hingga Rp 2.750 per
kilogram. Sementara itu, harga jagung pipilan kering pada tingkat pengecer di kota
Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara, masih stabil pada level harga Rp 4.000 per
kilogram. Adapun harga jagung pipilan kering di Bengkulu juga tergolong tinggi,
berkisar Rp 5.000 per kilogram. Berbanding terbalik dengan wilayah di Kabupaten
Jombang, harga jagung tahun ini lebih rendah daripada harga jagung saat panen tahun
sebelumnya. Harga jagung pipilan basah Rp 170.000 per kuintal, lebih rendah
dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 200.000 per kuintal. Sedangkan harga
jagung glondongan Rp 110.000 per kuintal, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang
mencapai Rp 120.000 hingga Rp 125.000 per kuintal. Maxdeyul Sola, Sekretaris
Jenderal DJN, masih merasa optimis bahwa target produksi 24 juta ton per tahun akan
tercapai pada tahun 2012. Indonesia bisa menjadi negara eksportir jagung. Namun
untuk tahun ini, target sebesar 22 juta ton memang belum bisa tercapai, lantaran jumlah
produksi jagung masih terpengaruh anomali cuaca tahun lalu Untuk lebih meningkatkan
produksi jagung, Menteri Pertanian RI Suswono telah menjanjikan kredit ke petani
senilai Rp 20 triliun. Anggaran itu diperuntukkan bagi petani yang ingin
mengembangkan usaha pertaniannya. Jika para petani makmur dan bisa meningkatkan
produksinya, maka ditargetkan pada tahun 2014, Indonesia sudah bisa swasembada
jagung. (spr/lmn)