Anda di halaman 1dari 6

LIMBAH JAGUNG

Limbah Jagung Sebagai Pakan Ternak


1. Siapkan alat berupa mesin pencacah tongkol jagung.
2. Tongkol ini disortir lalu dikeringkan dengan oven selama 24 jam.
3. Kemudian menggunakan mesin pencacah yang digerakkan dengan dinamo
listrik, tongkol jagung ini dicacah lalu diayak sampai
dihasilkan concobu berukuran 3 mm, 4, mm, 6mm, dan 8 mm sesuai permintaan
Jepang.
4. Per kilogram tongkol jagung diperoleh 66% corn cob, 33% produksi halus, dan
1% debu terbang. Jadi, dari satu ton tongkol jagung diperoleh 660 kg corn cob.

Limbah Jagung Sebagai Bahan Baku Bioetanol


1. Proses Persiapan Bahan Baku
Perlakuan fisika terhadap tongkol jagung meliputi pencucian, pengeringan, dan
pengayaan. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan bahan-bahan yang terikut
dalam tongkol seperti tanah, cangkang dan kotoran lain. Pengeringan dilakukan pada
suhu 100o C didalam oven selama 1 hari. Pengeringan ini dilakukan untuk
memudahkan dalam proses penggilingan serat tongkol jagung, karena pada keadaan
lembab tongkol jagung sukar untuk dihancurkan. Tahap penghancuran bertujuan
untuk
memperkecil ukuran tongkol jagung. Alat yang digunakan adalah blender. Tongkol
yang sudah dihancurkan kemudian diayak.
2. Proses Hidrolisis
Proses hidrolisis diawali dengan memasukan 15 gram serbuk tongkol jagung dan
750 mL larutan H 2 SO 4 (0,1 N, 0,2 N, 0,5 N, dan 1 N) ke dalam labu leher tiga yang
dihidupkan dan hidrolisis dilakukan dengan temperature 100 o C selama 2 jam,
disertai pengadukan kemudian pemanas mantel dimatikan dan hasil yang diperoleh
didinginkan.
3. Uji Glukosa
Mengambil larutan yang sudah dihidrolisa sebanyak 10 mL dan menetralkan
dengan NaOH 0,1 N ( pH=7 ), dan mengencerkan dalam 100 mL labu ukur. Setelah
itu uji blanko, Fehling A + Fehling B masing masing 5 mL dan stirrer dimasukkan
ke dalam erlenmayer, erlenmayer di letakkan diatas hot plate lalu dititrasi dengan
menggunakan larutan glukosa sambil dididihkan hingga berubah warna. Didiamkan,
lalu masukkan indikator metil biru lalu dititrasi lagi, hingga terjadi endapan merah
bata (0,5 gram glukosa dalam 100 mL aquadest ). Seperti uji larutan blanko, uji
glukosa pada pati juga sama. Fehling A + Fehling B + sampel (hasil hidrolisa) masing
masing 5 mL dan distirrer kemudian dimasukkan ke dalam erlenmayer, erlenmayer
di letakkan diatas hot plate lalu dititrasi dengan menggunakan larutan glukosa sambil

dididihkan hingga berubah warna. Didiamkan, lalu dimasukkan indikator metil biru
lalu dititrasi lagi, hingga terjadi endapan merah bata.
4. Pembuatan Starter
Mengukur pH dari larutan hasil hidrolisis tersebut dengan pH meter dan
tambahkan H 2 SO 4 1 N sedikit demi sedikit, dihentikan penambahan sampai pH
larutan mencapai 4,5 5,5. Larutan hasil hidrolisis diambil 20 mL, dimasukkan ke
dalam erlenmeyer dan ditambahkan 0,01 gram urea dan fermipan 5 gram, erlenmeyer
ditutup dengan menggunakan kertas saring, dan diamkan pada suhu kamar selama 1 x
24 jam.
5. Proses Fermentasi
Proses fermentasi pada penelitian ini menggunakan seperangkat alat fermentasi
dengan proses anaerob. Hasil hidrolisis diambil 100 mL dan dimasukkan ke dalam
botol, ditambahkan 0,05 gram urea, starter ke dalam botol. Fermentasi dilakukan pada
suhu 30C dan waktu yang divariasikan yaitu 3 hari, 5 hari, dan 7 hari. Kemudian
mendistilasi hasil fermentasi.
6. Proses Distilasi
Proses distilasi pada penelitian ini menggunakan seperangkat alat distilasi Proses
distilasi diawali dengan menyaring larutan hasil fermentasi dengan kertas saring,
kemudian memasukkan filtrat yang dihasilkan ke dalam labu leher tiga dan
mendistilasinya. Proses distilasi berlangsung pada suhu 80 o C sampai distilat tidak
menetes lagi. Kemudian menganalisa kadar etanol hasil distilasi yang
diperoleh.
7. Analisis Hasil Distilasi
Menentukan Kadar Bioetanol Menggunakan Alkohol Meter Analisa alkohol pada
hasil distilasi menggunakan alcohol meter, cara pengujiannya adalah menuangkan
distilat ke dalam gelas ukur 50 mL sebanyak 40 mL, masukan alkohol meter, tunggu
sampai alkohol meter konstan, baru di lihat angka yang tertera pada alkohol meter
tersebut.

Limbah Jagung Sebagai Kerajinan


Bonggol jagung dan kuli telur pun juga bisa di daur ulang. Biasanya bonggol
jagung berasal dari pabrik-pabrik makanan yang berbahan dasar jagung dan
membuang bonggolnya. Begitu juga dengan kulit telur. Kulit telur biasanya berasal
dari industri rumahan pembuat bakery atau pesanan roti. Dan biasanya kulit telur yang
terbuang banyak sekali dan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Bagi orang
yang kreatif, bonggol jagung dapat digunakan untuk membuat suatu karya atau
kerajinan tangan. Begitu pula dengan kulit telur. Bonggol jagung dapang digunakan
untuk membuat sejenis vas, tempat payung, tempat tisu, dan lain-lain. Sedangkan
kulit telur dapat digunakanuntuk membuat lukisan dari kulit telur, tempat pensil
(bukan kotak pensil yang dibawa ke sekolah).

1. Cara mengolah bonggol jagung yaitu sebagai berikut:


Bonggol dibersihkan dari kulit ari jagung.
Lalu setelah bersih bonggol dipotong-potong bulat-bulat dengan
panjang kurang lebih 1 sampai 1,5 cm
Lalu bonggol dicelupkan atau direndam di larutan atau cairan tertentu
yang sudah diberi bahan kimia agar bonggol tidak mudah busuk atau
rapuh.
Setelah itu jemur hingga benar-benar kering.
Setelah kering, lubangi tengah bonggol tersebut, lalu susun satu- persatu bonggol
membentuk barang yang kita inginkan menggunakan lem.
Setelah itu bonggol dicat, diplitur biar bagus, lalu jemur hingga kering
Setelah itu dihias. Hal ini membutuhkan kretifitas yang tinggi. Karena hiasan dari
barang ini yang akan menarik konsumen untuk membeli barang tersebut. Hiasan dapat
berupa lukisan, lalu diberi pita-pita dan lain-lain
Lalu kemas dan karya dari olahan bonggol jagung siap dijual atau dipamerkan.
2. Cara mengolah atau mendaur ulang kulit telur menjadi suatu karya yang
mempunyai nilai jual dan nilai seni, yaitu dengan cara:
Membuat lukisan dari kulit telur
Pertama yang kita lakukan yaitu membersihkan kulit telur hingga bersih, atau dapat
juga menggunakn cairan tertentu agar kulit telur tidak berbau amis.
Lalu jemur hingga kering.
Buat sketsa lukisan di kayu triplek, jangan di kanvas karena kanvas tidak cocok
untuk lukisan dari kulit telur ini. Dan lukisan sebaiknya lukisan yang tidak terlalu
rumit.
Setelah kulit telur kering, dan sketsa sudah jadi kita dapat mulai menempel
perlahan-lahan kulit telur pada sketsa lukisan yaitu dengan cara beri lem dahulu pada
lukisan, lalu kulit telur dimemarkan atau dipecah menurut dan sesuai dengan sketsa
yang sudah dibuat.
Setelah jadi dan semua lukisan sudah diberi kulit telur, selanjutnya kita amplas
lukisan tersebut biar halus.
Setelah itu cat sesuai dengan sketsa yang sudah dibuat. Setelah dicat kita jemur. Dan
lukisan sudah jadi.
Lakukan dengan hal sama jika kita ingin membuat kotak tisu, atau
tempat pensil jika ingin berhiaskan dengan lukisan yang tebuat dari kulit telur.
Begitulah cara mendaur ulang bonggol jagung dan kulit telur yang sudah
tidak terpakai lagi.

Manfaat Dari Limbah Jagung


Limbah tanaman jagung merupakan hijauan yang tersisa setelah pemanenan
jagung . Ada beberapa macam limbah tanaman jagung dan produk samping industri
berbasis jagung. Di Indonesia, dikenal istilah lokal untuk beberapa limbah tanaman

dan industri jagung yaitu :


1.Tebon Jagung
Yaitu seluruh tanaman termasuk batang, daun, dan buah jagung muda yang dicacah
dan diberikan langsung kepada ternak. Petani yang hanya memproduksi tebon jagung
biasanya bekerja sama dengan pengusaha peternakan. Petani hanya menanam jagung
sebagai hijauan dan pada umur tertentu tanaman dipangkas dan dicacah untuk
diberikan kepada ternak. Cacahan jagung juga dibuat silase.
2.Jerami jagung/brangkasan
Yaitu bagian batang dan daun jagung yang dibiarkan kering di ladang dan dipanen
pada saat tongkol dipetik. Jerami jagung seperti ini umumnya dijumpai di daerah
penghasil benih atau jagung untuk keperluan industri pakan.
3.Kulit buah jagung
Biasanya dibuang. Kulit jagung manis potensial untuk dijadikan silase karena kadar
gulanya cukup tinggi.
4.Tongkol jagung/janggel
Yaitu bagian dari buah jagung setelah biji dipipil. Limbah jagung dengan jumlah
paling banyak adalah batang jagung (stover) dengan tingkat kecernaan terendah. Kulit
jagung merupakan limbah dengan jumlah terkecil tetapi mempunyai tingkat
kecernaan lebih tinggi disbanding limbah tanaman jagung lainnya. Menurut
Anggraeny et al. (2006), limbah jagung dari batang berkisar antara 55,4-62,3%, dari
daun 22,6-27,4%, dan dari
klobot antara 11,9-16,4%.

LIMBAH KACA
Proses Pembuatan:

The Glass Recycle Process


Proses daur ulang kaca pada dasarnya melibatkan proses dasar daur ulang
pengumpulan bahan daur ulang, penyortiran dan mengolahnya menjadi bahan baku
dan produk baru yang menggunakan bahan baku daur ulang. Namun demikian, ada
beberapa variasi dari proses daur ulang tergantung bahan yang didaur ulang. Berikut
adalah fakta-fakta lebih lanjut tentang proses daur ulang kaca setelah sampah kaca
dikumpulkan.
Penyortiran
Sampah kaca terlebih dahulu dikelompokkan berdasarkan warnanya. Hal ini
karena bahan kimia yang berbeda harus ditambahkan ke sampah kaca yang berbeda
warnanya untuk menghasilkan kaca daur ulang dengan warna yang diinginkan.
Pengolahan: Memproduksi Cullet
Setelah tahap penyortiran, tahap selanjutnya dalam proses daur ulang kaca adalah
penghancuran kaca limbah menjadi potongan-potongan kecil. potongan-potongan
kaca Ini kemudian ditumbuk halus menghasilkan bubuk kaca yang disebut sebagai
cullet.
Pengolahan: Menghilangkan Kontaminan
Tahap berikutnya dalam proses daur ulang kaca adalah memisahkan kontaminan
dari cullet. Cullet tersebut dilewatkan melalui medan magnet, dimana kontaminan
logam seperti tutup botol dikeluarkan dari kaca. Kontaminan lainnya seperti kertas
dan plastik dari label botol diambil secara manual atau melalui proses otomatis.
Kontaminan keramik dan pyrex (kaca tahan panas) dihilangkan dari cullet melalui
proses yang dikenal sebagai fine-sizing. Cullet yang telah ditumbuk halus dilewatkan
melalui beberapa ayakan, memisahkannya dari residu keramik. Jika ada kontaminan
keramik yang lolos melewati ayakan bersama dengan cullet, kualitas dari kaca daur
ulang akan terpengaruh. Kontaminan keramik di kaca dapat menyebabkan cacat
struktural.
Pengolahan: Membuat Kaca Daur Ulang
Cullet tersebut kemudian dilelehkan. cullet tersebut kemudian dapat digunakan
dalam pembuatan produk kaca daur ulang seperti wadah kaca baru, botol dll.
Pengolahan: Decolorizing dan Pencelupan (Dyeing)
Untuk memproduksi kaca daur ulang yang diinginkan, kaca daur ulang harus
menjalani proses decolorizing dalam proses daur ulang kaca, diikuti dengan
pencelupan.
Langkah pertama dalam proses decolorizing meliputi oksidasi cullet dalam
keadaan meleleh. Untuk kaca hijau, proses oksidasi mengubah warna kaca hijau
tua/gelap menjadi hijau kekuningan. Zat kimia yang dikenal sebagai mangan oksida
kemudian dicampur dengan cullet untuk menjadikannya keabu-abuan. Warna abu-abu

biasanya digunakan sebagai warna dasar yang penambahan pewarna atau agen lainnya
yang ditambahkan untuk membuat kaca berbagai warna.
Untuk kaca berwarna cokelat atau kuning (amber), seng oksida ditambahkan
bukan untuk mengoksidasi cullet kaca cokelat menjadi cullet biru atau hijau,
tergantung pada jumlah seng oksida ditambahkan dan tingkat intesitas warna coklat
atau kuning kaca yang didaur ulang.
Untuk kaca daur ulang bening, erbium oksida dan mangan oksida ditambahkan ke
cullet untuk membantu menjernihkan semua warna dari cullet. Beberapa pewarna
yang paling umum digunakan untuk pewarnaan kaca daur ulang termasuk boraks,
kalium permanganat, seng oksida, erbium oksida, kobalt karbonat, neodymium
oksida, dan titanium dioksida.
Pengolahan: Membuat produk kaca daur ulang
Pada tahap terakhir dari proses daur ulang kaca, kaca daur ulang baik berwarna
ataupun bening, kemudian dibentuk menjadi berbagai produk dan dijual di pasar. Hal
yang menarik tentang proses daur ulang kaca adalah bahwa kaca dapat didaur ulang
sebanyak yang diperlukan, tanpa penurunan kualitas.

Manfaat Dari Limbah Kaca


Pemanfaatan limbah kaca berbentuk pecahan memiliki potensi untuk digunakan
sebagai bahan dasar kerajinan hiasan miniature bangunan. Salah satunya adalah
membentuk menjadi hiasan miniatur menara pissa melalui proses pemotongan dan
perakitan berdasarkan penelitian terhadap jenis-jenis limbah kaca dan klasifikasinya.
Limbah kaca yang dimanfaatkan (didaur ulang) untuk pembuatan kerajinan
hiasan miniature gedung, dapat digunakan sebagai hiasan dengan harga yang relatif
terjangkau. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif pilihan kerajinan
perhiasan yang sudah ada di pasar baik dari segi estetik maupun harga, khususnya bila
dibandingkan dengan kerajinan hiasan dari batu dan logam atau hiasan impor. Pada
konteks sosial diharapkan hasil-hasil penelitian ini dapat meningkatkan apresiasi
masyarakat terhadap produk-produk kria, dan selain itu pula memperluas wawasannya
tentang potensi yang terdapat pada barang-barang limbah dapat bermanfaat dan tidak
mencemari lingkungan serta dapat membuka lapangan kerja baru.