Anda di halaman 1dari 25

Kewenangan Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara dalam

Menyelesaikan Sengketa Kepegawaian di Indonesia


Oleh: Miftahul Jannah**

Abstract
Indonesia as a developing country, is currently building a variety of sectors.
Globalization is a process of change in the organization of the functioning of capitalism
is marked by the emergence of market integration and transnational corporations and
entrainment of supranational institutions. Given this, it is possible will affect the
working patterns of Indonesian society. That requires a legal action again when those
who feel aggrieved not satisfied with the results of dispute resolution arising from the
development of this globalization. Remedy which meant that the administrative effort as
referred to in Article 48 of Law No. 51 of 2009 on the Amendment of Act No. 9 of
2004 on the Amendment of Act No. 5 of 1986 concerning State Administrative
Court (Administrative Court). So as to ensure the welfare and public confidence in the
law. The existence of this administrative effort is part of a system of administrative
justice, because the administrative effort or a combination of special components with
respect to the Administrative Court, the same - the same function to achieve the purpose
of maintaining a balance, harmony and harmony between individual interests with the
interests of the public or general interest, so that create a harmonious relationship
between the government and the people in the realization of a just and prosperous society
based on Pancasila and the 1945 Constitution.
Abstrak
Indonesia sebagai negara yang berkembang, saat ini sedang membangun
diberbagai sektor. Globalisasi merupakan proses perubahan organisasi dari fungsi
kapitalisme yang ditandai dengan munculnya integrasi pasar dan perusahaanperusahaan transnasional dan tertinggalnya institusi supranasional. Dengan adanya
hal ini, dimungkinkan akan mempengaruhi pola kerja masyarakat Indonesia.
Untuk itu dibutuhkan suatu upaya hukum lagi bila pihak yang merasa
dirugikan belum merasa puas akan hasil penyelesaian sengketa yang timbul
akibat perkembangan globalisasi ini. Upaya hukum yang dimaksud yaitu upaya
administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 51
tahun 2009 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang
**Mahasiswa

Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Pidana Fakultas


Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan 2011.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

153

Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Sehingga dapat menjamin


kesejahteraan dan kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Adanya upaya
administratif ini adalah bagian dari suatu sistem peradilan administrasi, karena
upaya administratif merupakan kombinasi atau komponen khusus yang berkenaan
dengan PTUN, yang sama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan memelihara
keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan perseorangan
dengan kepentingan masyarakat atau kepentingan umum, sehingga tercipta hubungan
rukun antara pemerintah dan rakyat dalam merealisasikan masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kata Kunci: Sengketa, Kepegawaian dan Upaya Hukum.
A. Pendahuluan
Indonesia sebagai negara yang berkembang, saat ini sedang
membangun diberbagai sektor. Misalnya disektor perekonomian, sejalan
dengan isu globalisasi yang tidak dapat dielakkan lagi, negara kita tidak
dapat menutup mata begitu saja terhadap dampak perkembangan
ekonomi dunia. Berdasarkan pandangan ekonomi politik, globalisasi
merupakan proses perubahan organisasi dari fungsi kapitalisme yang
ditandai dengan munculnya integrasi pasar dan perusahaan-perusahaan
transnasional dan tertinggalnya institusi supranasional.1
Dengan adanya hal ini, dimungkinkan akan mempengaruhi pola
kerja masyarakat Indonesia. Untuk itu dibutuhkan suatu upaya
hukum, bila pihak yang merasa dirugikan belum merasa puas akan
hasil penyelesaian sengketa yang timbul akibat perkembangan
globalisasi ini. Upaya hukum yang dimaksud yaitu upaya administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 51 tahun
2009 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Tentang Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Sehingga dapat
menjamin kesejahteraan dan kepercayaan masyarakat terhadap hukum.2
Adanya upaya administratif ini adalah merupakan bagian dari suatu
sistem peradilan administrasi, karena upaya administratif merupakan
kombinasi atau komponen khusus yang berkenaan dengan PTUN, yang
sama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan memelihara keseimbangan,
keserasian dan keselarasan antara kepentingan perseorangan dengan
1Bachsan Mustafa, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2000), hlm. 40. Baca juga Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang
Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003), hlm. 51.
2S.F.Marbun,dkk,
Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara,
(Yogyakarta: UII Press, 2004), hlm. 19.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

154

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

kepentingan masyarakat atau kepentingan umum, sehingga tercipta


hubungan rukun antara pemerintah dan rakyat dalam merealisasikan
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.3
Sebelum reformasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan di
warnai dengan praktek maladministrasi, bahkan, terdapat pandangan yang
menganggap birokrasi pemerintah sering menunjukkan gejala yang kurang
menyenangkan. Terkadang, birokrasi pemerintah bertindak canggung,
kurang terorganisir dan jelek koordinasinya, menyeleweng, otokratik,
bahkan sering bertindak korup.4
Penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang baik hanya dapat
tercapai dengan peningkatan mutu aparatur penyelenggara negara dan
pemerintahan, juga penegakan asas-asas pemerintahan umum yang baik.
Bahwa sering kali setiap keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh
badan-badan pemerintahan, rawan akan terjadinya rasa ketidakpuasan dari
masyarakat, atau telah merasa dirugikan. Untuk menyelesaikan salah satu
contoh permasalahan di atas, diperlukan lembaga independent yang menjadi
jembatan penghubung antara kedua belah pihak, sekaligus memberikan
keputusan yang bijaksana.5
Permasalahan seperti ini, dapat kita kategorikan dalam sengketa
tentang administrasi negara atau masalah tata usaha negara. Kemudian
pihak manakah yang berwenang menyelesaikan masalah ini. Dalam Pasal
12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 perubahan kedua
atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang PTUN disebutkan
bahwa hakim pengadilan adalah pejabat yang melakukan tugas kekuasaan
kehakiman. Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
tentang kekuasaan kehakiman disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman
adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila, demi
terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia.6 Kekuasaan
Kehakiman yang merdeka tersebut mengandung pengertian bahwa
kekuasaan kehakiman bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan

3Indroharto,

Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha


Negara, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003), hlm. 54.
4Soesilo Zauhar, Reformasi Administrasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004) hlm. 1
5J. Kaloh, Kepemimpinan Kepala Daerah Pola Kegiatan, Kekuasaan, dan Perilaku Kepala
Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm.52.
6Lihat Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

155

ekstra yudisial, kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebutkan dalam


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.7
Dalam Pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 sekarang (hasil
amandemen) disebutkan, bahwa:8
1. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan.
2. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan
Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer,
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh sebuah Makamah
Konstitusi.
Berbeda dengan UUD 1945 sebelum amandemen, yang mengatur
kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
kehakiman di lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan
militer, dan peradilan tata usaha negara. Kekuasaan kehakiman saat ini
selain diselenggarakan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badan-badan
peradilan di bawahnya dalam empat lingkungan peradilan juga oleh
Mahkamah Konstitusi (MK).9 Kedudukan Mahkamah Agung sama, baik
sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945 merupakan puncak dari
badan-badan peradilan di empat lingkungan peradilan. Empat lingkungan
peradilan yang terdiri dari 1 (satu) lingkungan peradilan umum dan 3 (tiga)
lingkungan peradilan khusus yaitu: Agama, Militer dan Tata Usaha Negara.
Keempat lingkungan peradilan tersebut masing-masing memiliki badan
peradilan (pengadilan) tingkat pertama dan banding. Badan-badan
peradilan tersebut berpuncak pada sebuah MA.10
Untuk lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara berdasarkan
undang-undang nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986
7Jimly

Assiddiqie, Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta:PT Bhuana


Populer, 2007) hlm. 517.
8Jimly Ashidiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Amandemen,
(Jakarta: Konpress, 2006), hlm. 42-43., Lihat juga Jimly Asshiddiqie, Gagasan Kedaulatan
Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve,
1994), hlm. 231-232. Baca juga Jimly Asshiddiqie, Struktur Ketatanegaraan Indonesia Setelah
Perubahan Keempat UUD Tahun 1945, (Jakarta: Konpress, 2003), hlm. 1. Jimly Asshiddiqie,
Implikasi Perubahan UUD 1945 Terhadap Pembangunan Hukum Nasional Indonesia, (Jakarta:
Konpress, 2005), hlm. 2. Jimly Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara, (Jakarta:
Rajawali Press, 2009), hlm. 281.
9Jimly Asshidiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme, (Jakarta: Konpress, 2006), hlm.
131.
10Ibid.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

156

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dalam Pasal 47 mengatur tentang


kompetensi PTUN dalam sistem peradilan di Indonesia yaitu bertugas dan
berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha
negara.11
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hakim
Tata Usaha Negara adalah pejabat yang berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara di dalam lingkungan
PTUN. Secara umum memang kewenangan hakim adalah memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan sengketa. Menurut Pasal 1 angka 10
undang-undang nomor 51 tahun 2009 tentang sengketa tata usaha
negara menyebutkan, sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang
timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum
perdata dengan badan atau pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat
maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha
negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan
peraturan
perundang-undangan yang berlaku.12 Berdasarkan hal di ataslah penulis
akan mengkaji secara mendalam tentang Kewenangan Hakim Pengadilan
Tata Usaha Negara dalam Menyelesaikan Sengketa Kepegawaian di
Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebagaimana dirumuskan di atas maka
penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang menjadi dasar hukum kewenangan Peradilan Tata
Usaha Negara dalam Menyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara
dalam Bidang Kepegawaian di Indonesia ?
2. Bagaimana kewenangan dan peranan hakim Peradilan Tata
Usaha Negara dalam memeriksa dan memutus perkara sengketa
kepegawaian di Peradilan Tata Usaha Negara Yogyakarta
C. Pembahasan
Istilah Tata Usaha Negara di sebagian lingkungan perguruan tinggi
dikenal dengan nama administrasi negara, alasannya karena istilah Tata
Usaha Negara lebih sempit dari pada Istilah administrasi negara itu
sendiri. Hukum
administrasi adalah keseluruhan ketentuan yang
mengikat alat-alat perlengkapan negara, baik tinggi maupun rendah,

11Udiyo Basuki, Pedoman Beracara Peradilan Tata Usaha Negara, (Yogyakarta: SUKA
PRESS, 2013), hlm. 3.
12M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa,
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hlm. 34. Udiyo Basuki, Pedoman Beracara Peradilan
Tata Usaha Negara, (Yogyakarta: SUKA PRESS, 2013), hlm .7.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

157

setelah alat-alat itu menggunakan


kewenangan-kewenangan
13
ketatanegaraan.
Bagi Indonesia keinginan untuk memiliki Peradilan Administrasi
Negara sebetulnya sudah ada sejak zaman pemerintahan Belanda.
Namun, keinginan itu selalu kandas di tengah perjalanan karena
berbagai alasan. Keinginan itu baru terwujud pada penghujung tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, pada tanggal 29 Desember
1986.14
1. Dasar Hukum Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara
Dasar konstitusional pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara ini
adalah pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:15
(1) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang
(2) Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan
undang-undang. Kemudian, Pasal 25 UUD 1945 menentukan, syaratsyarat untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai hakim ditetapkan
dengan undang-undang.
Menyadari bahwa untuk memastikan terwujudnya kekuasaan
kehakiman yang merdeka diperlukan jaminan yang tegas dalam konstitusi,
langkah besar yang dihasilkan dalam amandemen UUD 1945 tidak hanya
menyebutkan secara eksplisit kekuasaan kehakiman yang merdeka. Pasal
24 Ayat (1) UUD 1945 menegaskan, kekuasaan kehakiman merupakan
kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan. Tidak hanya itu, Pasal 24 Ayat (2) UUD 1945
mengamanatkan bahwa kekuasaan kehakiman tidak hanya dilakukan oleh
sebuah Mahkamah Agung tetapi juga oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Bahkan bagi seorang hakim, Pasal 24A Ayat (2) UUD 1945 secara eksplisit
menentukan, hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak
tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum. Khusus untuk

13Pada mulanya penyebutan istilah ini bermacam-macam, antara lain Peradilan


Administrasi Negara, Peradilan Tata Usaha Pemerintahan, Peradilan Tata Usaha Negara.
Namun, setelah berlakunya UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara yang sekarang sudah mengalami perubahan menjadi UU Nomor 51 Tahun
2009, istilah yang digunakan bisa Peradilan Tata Usaha Negara atau Peradilan
Administrasi Negara.
14Victor S, Soedibyo, Pokok-pokok Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. PT Rineka
Cipta, 1998), hlm. 16
15Lihat Pasal 24 UUD 1945

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

158

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

menjaga kemandirian dan integritas hakim, amandemen UUD 1945 juga


memunculkan sebuah lembaga baru, yaitu Komisi Yudisial.16
Sebagai peraturan pelaksanaan dari pasal 24 Undang-Undang Dasar
1945 maka dibuatlah undang-undang nomor 14 tahun 1970 sebagaimana
telah diubah dalam undang-undang nomor 4 tahun 2004 tentang
perubahan atas undang-undang nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan
kehakiman disebutkan: Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh Pengadilan
dalam lingkungan:17
1. Peradilan Umum.
2. Peradilan Agama.
3. Peradilan militer.
4. Peradilan Tata Usaha Negara.
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan
umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer,
lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitus.18 Dari bunyi pasal tersebut jelaslah bahwa dasar hukum
pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara yang bebas dan mandiri
ternyata cukup kuat, sama halnya dengan ketiga Peradilan lainnya yang
sudah lama ada yaitu Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan
Militer.19
Sesuai dengan maksud pasal 145 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 yang menyatakan bahwa undang-undang ini mulai berlaku pada
tanggal diundangkan dan penerapannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah selambat lambatnya lima tahun sejak undang-undang ini
diundangkan, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pada tanggal 14
Januari 1991 diundangkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991
tentang Penerapan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, melalui Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1991 Nomor 8 semenjak itu mulailah 5 buah
Pengadilan Tata UsahaNegara dan 3 buah Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara yang sudah dibentuk sebelumnya menjalankan tugasnya masingmasing.20
16Rimdan,

Kekuasaan Kehakiman Pasca-Amandemen Konstitusi, (Jakarta: Kencana,


2012), hlm. 87
17Kekuasaan kehakiman sebelum amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
18Kekuasaan kehakiman pasca amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
19Jimly Assiddiqie, Pokok-pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PT
Bhuana Populer: 2007), hln. 513.
20Rozali, Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. PT. Raja
Grafindo Persada, 2004) hlm. 13.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

159

Setelah reformasi, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986


mengalami perubahan tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undangundang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara itu
merupakan salah satu undang-undang yang mengatur bahwa perlu
dilakukan perubahan di lingkungan peradilan yang berada di bawah
Mahkamah Agung. Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah meletakkan dasar
kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan umum, baik
menyangkut teknis yudisial maupun nonyudisial yaitu urusan organisasi,
administrasi, dam finansial di bawah Mahkamah Agung. Kebijakan
tersebut bersumber dari kebijakan yang ditentukan oleh Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan kehakiman sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang
Kekuasaan Kehakiman dikehendaki oleh Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.21 Perubahan penting lainnya atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara yaitu:22
1. Penguatan pengawasan hakim, baik pengawasan internal oleh
Mahkamah Agung maupun pengawasan eksternal atas perilaku
hakim yang dilakukan oleh Komisi Yudisial dalam menjaga dan
menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku
hakim.
2. Memperketat persyaratan pengangkatan hakim, baik hakim pada
Pengadilan Tata Usaha Negara maupun hakim pada Pengadilan
Tinggi Tata Usaha Negara antara lain melalui proses seleksi
hakim
yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan
partisipatif serta harus melalui proses atau lulus pendidikan
hakim.
3. Pengaturan mengenai pengadilan khusus dan hakim ad hoc.
4. Pengaturan mekanisme dan tata cara pengangkatan dan
pemberhentian hakim.
5. Kesejahteraan hakim.
6. Transparansi putusan dan limitasi pemberian salinan putusan.
7. Transparansi biaya perkara serta pemeriksaan pengelolaan
dan pertanggungjawaban biaya perkara.
8. Bantuan hukum.

21Ibid,

hlm.15.

22Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1986 Jo. Undang-Undang Nomor 9 Tahun


2004 Jo. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

160

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

9. Majelis Kehormatan Hakim dan kewajiban hakim untuk


menaati Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
2. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara
Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara menurut UndangUndang Nomor 51 Tahun 2009 jauh lebih sempit lagi, karena tidak
semua perkara yang pokok sengketanya terletak di lapangan Hukum
Publik (Hukum Tata Usaha Negara) dapat diadili di Peradilan Tata Usaha
Negara. Menurut ketentuan pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009, Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat digugat di
Peradilan Tata Usaha Negara, haruslah memenuhi syarat-syarat:23
1. Bersifat tertulis, hal ini diperlukan untuk memudahkan
pembuktian. Pengertian tertulis disini bukanlah dalam arti
bentuk formalnya, melainkan cukup tertulis, asal saja:
a. Jelas Badan atau Pejabat Tata Usaha yang mengeluarkannya.
b. Jelas isi dan maksud tulisan tersebut yang menimbulkan
hak dan kewajiban.
c. Jelas kepada siapa tulisan ini ditujukan.
Mengenai syarat tertulis ini ada pengecualiannya sebagai mana dalam
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, yaitu:
a. Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak
mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi
kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan
Keputusan Tata Usaha Negara.
b. Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak
mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka
waktu sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundangundangan dimaksud telah lewat, maka Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah menolak
mengeluarkan keputusan yang dimaksud.
c. Dalam
hal
peraturan
perundang-undangan
yang
bersangkutan tidak menentukan jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu
empat bulan sejak diterimanya permohonan, Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan dianggap telah
mengeluarkan keputusan penolakan
2. Bersifat kongkrit, artinya obyek yang diputus dalam Keputusan
Tata Usaha Negara itu berwujud tertentu atau dapat ditentukan.
23Titik

Triwulan dan Ismu Gunadi Widodo, Hukum Tata Usaha Negara dan Hukum
Acara Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2011), hlm.24.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

161

3. Bersifat individual, artinya Keputusan Tata Usaha Negara itu


tidak ditujukan untuk umum, tetapi ditujukan untuk orangorang atau badan hukum perdata tertentu. Jadi tidak berupa
suatu peraturan yang berlaku umum.
4. Bersifat final, artinya sudah definitif dan karenanya dapat
menimbulkan akibat hukum, atau ketetapan yang tidak
membutuhkan lagi persetujuan dari instansi atasannya.
Di samping mengadili pada tingkat pertama sengketa Tata Usaha
Negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1986, Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara juga berwenang:24
1. Memeriksa dan memutus sengketa Tata Usaha Negara di tingkat
Banding.
2. Memeriksa dan memutus di tingkat pertama dan terakhir
sengketa kewenangan mengadili antara Pengadilan Tata Usaha
Negara di dalam daerah hukumnya.
Kewenangan Pengadilan untuk menerima, memeriksa, memutus
menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya yang dikenal dengan
kompetensi atau kewenangan mengadili. PTUN mempunyai
kompetensi menyelesaikan sengketa tata usaha negara di tingkat pertama.
Sedangkan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) untuk
tingkat banding. Akan tetapi untuk sengketa-sengketa tata usaha negara
yang harus diselesaikan terlebih dahulu melalui upaya administrasi
berdasarkan Pasal 48 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 perubahan
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986. Dalam pasal 48 Undang-Undang
No.5 Tahun 1986 jo Undang-Undang No.51 Tahun 2009 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, disebutkan sebagai
berikut :
1. Dalam hal suatu Badan/Pejabat Tata Usaha Negara diberi
wewenang oleh atau berdasarkan
peraturan perundangundangan untuk menyelesaikan secara administratif sengketa
Tata Usaha Negara tertentu, maka sengketa Tata Usaha Negara
tersebut harus diselesaikan melalui upaya administratif yang
tersedia.
2. Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
dimaksud ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang
bersangkutan telah digunakan.

24Ibid,

hlm.26.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

162

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

Ada beberapa cara untuk mengetahui kompetensi dari suatu


pengadilan untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara:
pertama, dapat dilihat dari pokok sengketanya (geschilpunt, fundamentum
petendi), kedua, dengan melakukan pembedaan atas atribusi (absolute
competentie atau attributie van rechtsmacht) dan delegasi (relatieve competentie
atau distributie van distributie van rechtsmacht), ketiga, dengan melakukan
pembedaan atas kompetensi absolut dan kompetensi relatif.25
Pertama, dilihat dari pokok sengketanya, apabila pokok
sengketanya terletak dalam lapangan hukum privat, maka sudah tentu
yang berkompetensi adalah hakim biasa (hakim pengadilan umum).
Apabila pokok sengketanya terletak dalam lapangan hukum publik,
maka sudah tentu yang berkompetensi adalah administrasi negara yang
berkuasa (hakim PTUN). Kedua, dengan melakukan pembedaan atas
kewenangan mengadili dengan pembagian kompetensi atas atribusi
(absolute competentie atau attributie van rechtsmacht) dan delegasi (relatieve
competentie atau distributie van rechtsmacht) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Atribusi, yang berkaitan dengan pemberian wewenang yang
bersifat
bulat (absolut) m engenai materinya, yang dapat
dibedakan:
a) Secara horizontal, yaitu wewenang yang bersifat bulat dan
melekat
dari suatu jenis pengadilan terhadap jenis
pengadilan lainnya,
yang mempunyai
kedudukan
sederajat/ setingkat. Contoh: Pengadilan Administrasi
terhadap Pengadilan Negeri (umum), Pengadilan Agama
atau Pengadilan Militer.
b) Secara vertical, yaitu wewenang yang bersifat bulat dan
melekat dari suatu jenis pengadilan lainnya, yang secara
berjenjang atau hirarki mempunyai kedudukan lebih
tinggi. Contoh: Pengadilan Negeri (umum) terhadap
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.
2. Distribusi, yang berkaitan dengan pembagian wewenang yang
bersifat terinci (relatif) di antara badan-badan yang sejenis
mengenai wilayah hukum. Contoh; antara Pengadilan Negeri
Yogyakarta dengan Pengadilan Negeri antara lain di Bantul,
Sleman dan Kulonporogo.
Ketiga, adalah pembagian atas kompetensi absolut dan kompetensi
relatif. Kompetensi absolut adalah menyangkut kewenangan badan
peradilan apa yang memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara.
25Zairin

Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1999), hlm. 28.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

163

Kompetensi dari Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk memeriksa,


mengadili dan memutuskan sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha
negara akibat dikeluarkannya suatu keputusan tata usaha negara,
termasuk sengketa kepegawaian dan tidak dikeluarkannya suatu
keputusan yang dimohonkan seseorang sampai batas waktu yang
ditentukan dalam suatu peraturan perundang-undangan, sedangkan hal itu
telah merupakan kewajiban badan atau pejabat tata usaha negara yang
bersangkutan.
Kompetensi relatif, adalah kewenangan dari pengadilan sejenis,
yang mana yang berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
perkara yang bersangkutan. Dalam kaitannya dengan Peradilan Tata
Usaha Negara, maka kompetensi relatifnya adalah menyangkut
kewenangan peradilan tata usaha negara yang mana yang berwenang untuk
memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut. Apakah PTUN
Ujung Pandang, Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, Palembang, atau
Medan, dan sebagainya.26 Berkaitan dengan kompetensi PTUN tersebut di
atas, dalam pasal 77 UU PTUN disebutkan:
1. Eksepsi tentang kewenangan absolut pengadilan dapat diajukan setiap
waktu selama pemeriksaan, dan meskipun tidak ada eksepsi tentang
kewenangan absolut pengadilan apabila hakim mengetahui hal itu, ia
karena jabatannya wajib menyatakan bahwa pengadilan tidak
berwenang mengadili sengketa yang bersangkutan.
2. Eksepsi tentang kewenangan relatif pengadilan diajukan sebelum
disampaikan jawaban atas pokok sengketa, dan eksepsi tersebut
harus diputus sebelum pokok sengketa diperiksa.
3. Eksepsi lain yang tidak mengenai kewenangan pengadilan hanya
dapatdiputus bersama dengan pokok sengketa.
Dengan demikian, eksepsi terhadap kompetensi relatif dari PTUN,
harus disampaikan tergugat sebelum memberikan jawaban atas pokok
sengketa, apabila eksepsi itu disampaikan setelah memberikan jawaban
atas pokok sengketa, maka eksepsi tersebut tidak lagi dapat diterima.
Keberadaan Peradilan Tata Usaha Negara bukan untuk mencari-cari
kesalahan, apalagi mengurangi kewibawaan Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara, tetapi justru sebaliknya agar terbinanya aparatur yang mampu
menjadi alat yang efisien, efektif, bersih dan berwibawa dan selalu
berdasarkan hukum serta bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme
juga dilandasi semangat serta sikap pengabdian untuk masyarakat di
dalam menjalankannya tugasnya. Di lain pihak juga tindakan yang tidak
tepat dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Oleh karenanya
26Ibid,

hlm. 30

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

164

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

Peradilan Tata Usaha Negara dibentuk untuk menyelesaikan sengketa


yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan
hukum privat dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara sebagai
akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara akibat pelaksanaan
atau penggunaan wewenang pemerintahan yang dilakukan oleh
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang menimbulkan benturan
kepentingan, perselisihan, atau sengketa dengan warga masyarakat atau
badan hukum privat, atau sengketa dengan warga masyarakat atauu
badan hukum privat dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
Susunan Peradilan Tata Usaha Negara sama halnya dengan
Peradilan Umum, terdiri dari dua tingkat Peradilan, yaitu:
1. Pengadilan Tata Usaha Negara, yang merupakan Peradilan
Tingkat Pertama.
2. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, yang merupakan
Peradilan Tingkat Banding.
Sama halnya dengan ketiga Peradilan lain, Peradilan Tata Usaha
Negara juga berpuncak pada Mahkamah Agung, sebagai Peradilan
Negara tertinggi yang berfungsi antara lain sebagai Peradilan Kasasi.
Susunan Pengadilan sesuai dengan pasal 8 Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009 terdiri atas:
1. Pimpinan
2. Hakim Anggota
3. Panitera
4. Sekretaris
Tujuan dari Peradilan Tata Usaha Negara adalah
untuk
mengembangkan dan memelihara administrasi negara yang tepat
menurut hukum, atau tepat menurut Undang-Undang, ataupun tepat
secara efektif maupun berfungsi secara efisien. Faktor terpenting untuk
mendukung efektifitas peranan pemerintah adalah faktor makna kontrol
Yudisial dengan spesifikasi karakteristiknya. Hal tersebut, mendasari
konsepsi mengenai Peradilan Tata Usaha Negara yang merupakan
pelembagaan kontrol yudisial terhadap tindakan
pemerintah.
Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia tidak akan
mencontoh belaka pada sistem Peradilan Tata Usaha Negara di Negara
lain. Akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhan situasi dan kondisi serta
perkembangan di Indonesia, bahkan akan diciptakan sistem sendiri yang
sesuai dengan kebut uhan dan keadaan di Indonesia yang berfalsafah
Pancasila.27
27Victor

S, Soedibyo, Pokok-pokok Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: PT


Rineka Cipta, 1992), hlm. 11.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

165

3. Sengketa dan Keputusan Tata Usaha Negara


Pasal 1 angka (10) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
menyebutkan, Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul
dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata
dengan badan atau pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di
daerah, sebagai akibat di keluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara,
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Mengacu pada rumusan di atas, dapat
disimpulkan bahwa unsur-unsur sengketa Tata Usaha Negara terdiri dari:
1. Subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum privat
di satu pihak dan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara di lain
pihak.
2. Obyek sengketa adalah keputusan yang dikeluarkan oleh Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara.
Sebagai Jabatan TUN yang memiliki kewenangan pemerintah,
sehingga Dapat menjadi pihak yang tergugat dalam sengketa TUN
dapat dikelompokkan dalam :28
1. Instansi resmi pemerintah yang berada di bawah presiden
sebagai kepala eksekutif.
2. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara di luar
lingkungan eksekutif yang berdasarkan peraturan perundangundangan, melaksanakan suatu urusan pemerintahan.
3. Badan-badan hukum privat yang didirikan dengan maksud
untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
4. Instansi -instansi
yang
merupakan kerja sama antara
pemerintahan dan pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas
pemerintahan.
5. Lembaga-lembaga hukum swasta yang melaksanakan tugastugas pemerintahan.
Obyek sengketa TUN adalah keputusan yang dikeluarkan oleh
badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Keputusan Tata Usaha
Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat konkrit, individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum
bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Jenis-jenis Keputusan Tata Usaha Negara/ KTUN (Beschikking)
menurut doktrin (pendapat/ teori para pakar administrasi Negara)
28A.Siti

Soetami, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Bandung: PT.


Refika Aditama, 2007) hlm. 5.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

166

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

terdapat berbagai rumusan, antara lain menurut P.De Haan (Belanda),


dalam bukunya: Bestuursrecht in de Sociale Rechtsstaat, dikelompokkan
sebagai berikut:29
1. KTUN Perorangan dan Kebendaan (Persoonlijk en Zakelijk)
a. KTUN perorangan adalah keputusan yang diterbitkan
kepada seseorang berdasarkan kualitas pribadi tertentu,
dimana hak yang timbul tidak dapat dialihkan kepada orang
lain. Contoh : SK PNS, SIM,dan sebagainya.
b. KTUN kebendaan adalah keputusan yang diterbitkan
berdasarkan kualitas kebendaan atau status suatu benda
sebagai obyek hak, dimana hak yang timbul dapat
dialihkan kepada orang lain. Contoh : Sertifikat Hak atas
Tanah, BPKP/STNK kendaraan bermotor, dan sebagainya
2. KTUN Deklaratif dan Konstitutif (Rechtsvastellend en
Rechtsscheppend)
a. KTUN deklaratif adalah keputusan yang sifatnya
menyatakan atau menegaskan adanya hubungan hukum yang
secara riil sudah ada. Contoh : Akta Kelahiran, Akta
Kematian, dan sebagainya.
b. KTUN konstitutif adalah keputusan yang menciptakan
hubungan hukum baru yang sebelumnya tidak ada, atau
sebaliknya memutuskan hubungan hukum yang ada.
Contoh : Akta Perkawinan, Akta Perceraian, dan
sebagainya.
3. KTUN Bebas dan Terikat (Vrij en Gebonden)
KTUN bebas adalah keputusan yang didasarkan atas
kebebasan bertindak (Freis Ermessen/ Discretionary Power) dan
memberikan kebebasan bagi pelaksananya untuk melakukan
penafsiran atau kebijaksanaan. Contoh: SK Pemberhentian PNS
yang didasarkan hukuman disiplin yang telah diatur secara jelas
dan rinci di dalam perundang-undangan.
4. KTUN yang membebankan dan yang menguntungkan
(Belastend en Begunstigend)
a. KTUN yang member beban adalah keputusan yang
memberikan kewajiban. Contoh : SK tentang Pajak,
Restribusi, dan lain-lain.
29Ujang Abdullah, Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dalam Sistem
Peradilan di Indonesia, artikel diakses pada 10 November 2013 dari
http://www.ptun.palembang.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=57
5&Itemid=294.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

167

b. KTUN yang menguntungkan adalah keputusan yang


memberikan keuntungan bagi pihak yang dituju. Contoh :
SK pemutihan pembayaran pajak yang telah kadaluwarsa.
5. KTUN Seketika dan Permanen (Einmaligh en Voortdurend)
a. KTUN seketika adalah keputusan yang masa berlakunya
hanya sekali pakai. Contoh: Surat ijin pertunjkan hiburan,
music, olahraga, dll
b. KTUN pemanen adalah keputusan yang masa berlakunya
untuk selamalamanya, kecuali ada perubahan atau
peraturan baru. Contoh : Sertifikat Hak Milik
Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara:
1. Keputusan Tata Usaha Negara Positif (Pasal 1 angka (3))
Yaitu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan/Pejabat
Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang
berlaku, bersifat konkrit, individual dan final yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau Badan Hukum
Perdata.
2. Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif (Pasal 3 angka (1)) Yaitu
keputusan Tata Usaha Negara yang seharusnya dikeluarkan
oleh
Badan/Pejabat
Tata
Usaha Negara
menurut
kewajibannya tetapi ternyata tidak diterbitkan, sehingga
menimbulkan kerugian bagi seseorang atau Badan Hukum
Perdata. Contoh : Dalam kasus kepegawaian, seorang atasan
berkewajiban membuat DP3 atau mengusulkan kenaikan
pangkat bawahannya, tetapi atasannya tidak melakukan.
3. Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif Negatif (Pasal 3 ayat
(2)) Yaitu keputusan Tata Usaha Negara yang dimohonkan
seseorang atau Badan Hukum Perdata, tetapi tidak ditanggapi
atau tidak diterbitkan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara
yang bersangkutan. Sehingga dianggap bahwa Badan/Pejabat
Tata Usaha Negara telah mengeluarkan keputusan penolakan
(negatif). Contoh : Pemohon IMB, KTP, Sertifikat, dan
sebagainya apabila dalam jangka waktu yang ditentukan tidak
dijawab/diterbitkan, maka dianggap jelas-jelas menerbitkan
keputusan Tata Usaha Negara yang menolak.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

168

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

Dalam praktek administrasi pemerintahan terdapat beberapa KTUN


yang berpotensi menimbulkan sengketa Tata Usaha Negara, yaitu antara
lain:30
1. Keputusan Tentang Perijinan
Secara yuridis suatu ijin adalah merupakan persetujuan yang
diberikan pemerintah (Badan/Pejabat TUN) kepada seseorang
atau Badan Hukum Perdata untuk melakukan aktivitas tertentu.
Menurut Philipus M. Hadjon ada 5 tujuan diadakannya perijinan
pada pokoknya adalah untuk:
a. Mengarahkan atau mengendalikan aktivitas tertentu (misal:
ijin prinsip, IMB, ijin pertambangan, ijin pengusahaan
hutan, ijin berburu, dan sebagainya)
b. Mencegah bahaya atau gangguan (misal: gangguan/ Hinder
Ordanatie, amdal, dan sebagainya)
c. Melindungi obyek tertentu (misal: ijin masuk obyek wisata,
cagar budaya, dan sebagainya)
d. Distribusi benda atau barang langka (misal: ijin trayek, ijin
perdagangan satwa langka, dan sebagainya)
e. Seleksi orang atau aktivitas tertentu (misal: SIM, ijin memiliki
senjata api, ijin penelitian, dan sebagainya).
2. Keputusan tentang status hukum, hak dan kewajiban
a. Status hukum perorangan atau badan hukum, misalnya
akta kelahiran, akta kematian, akta pendirian/pembubaran
badan hukum, KTP, Ijasah, sertipikat (Tanda Lulus Ujian),
dll.
b. Hak/ kewajiban perorangan atau badan hukum terhadap
suatu barang atau jasa, misalnya pemberian/pencabutan
hak atas tanah, hak untuk melakukan pekerjaan, dan
sebagainya.
3. Keputusan tentang kepegawaian.
a. Keputusan tentang mutasi PNS, dimana pegawai yang
dimutasi keberatan karena
merasa
dirugikan,
menghambat karier atau karena mutasi itu dianggap
sebagai hukuman disiplin terselubung.
b. Keputusan tentang hukuman disiplin PNS, dimana
pegawai yang bersangkutan menganggap hukuman itu
tidak sesuai dengan prosedur atau tidak adil.

30SF

Marbun dkk, Dimensi-dimensi Hukum Administrasi Negara, (Yogyakarta: UII


Press, 2004), hlm. 19.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

169

c. Keputusan tentang pemberhentian PNS, misalnya


dalam rangka perampingan pegawai atau likuidasi suatu
instansi, dan sebagainya.
Menurut ketentuan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No.43 Tahun
1999 menyebutkan bahwa sengketa kepegawaian diselesaikan melalui
PTUN. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa sengketa kepegawaian
sebagai akibat pelanggaran terhadap peraturan disiplin PNS diselesaikan
melalui upaya banding administratif kepada Badan Pertimbangan
Kepegawaian (BAPEK). Badan Pertimbangan Kepegawaian dalam
Keppres No.67 Tahun 1980, mempunyai tugas pokok memeriksa dan
mengambil keputusan mengenai keberatan yang diajukan oleh PNS yang
berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke bawah tentang hukuman
disiplin yang dijatuhkan kepadanya berdasarkan Peraturan Pemerintah
No.30 Tahun 1980 sepanjang mengenai hukuman disiplin
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dan
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS. Badan Pertimbangan
Kepegawaian juga memberikan pertimbangan kepada presiden mengenai
usul penjatuhan hukuman disiplin pemberhentian dengan hormat tidak
atas permintaan sendiri dan pemberhentian tidak dengan hormat
sebagai PNS yang berpangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b
ke atas serta pembebasan dari jabatan eselon I.31
Dalam hal ini, yang dapat diajukan kepada Badan Pertimbangan
Kepegawaian berupa Pegawai Negeri yang berpangkat Pembina ruang
IV/a ke bawah yang dijatuhi hukuman disiplin:
1. Pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri sebagai
PNS
2. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman disiplin berat, berhak
mengajukan keberatan ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK),
sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Pengajuan keberatan itu diajukan
kepada pejabat yang berwenang menghukum, harus disertai alasan,
tanggapan dan datadata lain yang diperlukan serta dalam tenggang waktu
yang ditentukan, yaitu 14 hari terhitung mulai tanggal menerima Surat
keputusan hukuman disiplin.
Penyelesaian sengketa kepegawaian sedapat mungkin dilakukan
dalam lingkungan unit kerja di instansinya yang mengeluarkan
keputusan hukuman disiplin tingkat berat berupa pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan sendiri dan tidak dengan hormat sebagai
31Victor

M. Sitomurang, Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil, (Jakarta: PT


Rineka Cipta, 1998), hlm. 18.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

170

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

pegawai negeri sipil oleh pimpinan atau pejabat pembina kepegawaian,


baik di tingkat pusat maupun daerah maka dapat ditempuh upaya
banding administratif. Upaya administratif merupakan prosedur yang
hanya dapat ditempuh oleh seorang pegawai negeri sipil apabila tidak puas
terhadap suatu keputusan yang dijatuhkan kepada seseorang yang
telah melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat sesuai Peraturan
Pemerintah No. 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri,
setelah melakukan keberatan kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian
dan telah memperoleh keputusan tetap. Keputusan Badan Pertimbangan
Kepegawaian seperti yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (3) dalam
Keppres No.67 Tahun 1980 tersebut adalah mengikat dan wajib
dilaksanakan oleh semua pihak yang bersangkutan.32
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat diketahui bahwa dalam
keputusan tersebut tidak tersirat upaya pembelaan diri dalam hukum
peradilan yang ditempuh oleh Pegawai Negeri Sipil yang telah dijatuhi
hukuman disiplin karena melanggar Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun
1980. namun di dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 dijelaskan bahwa upaya administratif terdiri atas:33
1. Keberatan, apabila penyelesaian sengketa itu dilakukan sendiri
oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan
keputusan itu.
2. Banding administratif, apabila penyelesaiannya dilakukan oleh
instansi atasan atau instansi lain dari yang mengeluarkan
keputusan yang bersangkutan.
Sisi positif upaya administrasi yang melakukan penilaian secara
lengkap suatu Keputusan Tata Usaha Negara baik dari segi Legalitas
(Rechtmatigheid) maupun aspek Opportunitas (Doelmatigheid), para pihak
tidak dihadapkan pada hasil keputusan menang atau kalah (Win or
Loose) seperti halnya di lembaga peradilan, tapi dengan pendekatan
musyawarah. Sedangkan sisi negatifnya dapatterjadi pada tingkat
obyektifitas penilaian karena Badan/Pejabat tata Usaha Negara yang
menerbitkan Surat Keputusan kadang-kadang terkait kepentingannya
secara langsung ataupun tidak langsung sehingga mengurangi penilaian
maksimal yang seharusnya ditempuh. Tidak semua peraturan dasar
penerbitan Keputusan Tata Usaha Negara mengatur mengenai upaya
administrasi, oleh karena itu adanya ketentuan pasal 48 Undang-Undang
Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
32Ibid.
33Sri

Hartini, dkk, Hukum Kepegawaian di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008),

hlm. 152

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

171

Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara


merupakan aspek prosedural yang sangat penting yang berkaitan
dengan kompetensi atau wewenang untuk mengadii sengketa Tata Usaha
Negara.34
Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.2 Tahun 1991
tentang Petunjuk Pelaksanaan Ketentuan Dalam Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, disebutkan, yang
dimaksud Upaya Adiministratif adalah, Pengajuan surat keberatan
(Bezwaarscriff Beroep) yang diajukan kepada Badan/Pejabat Tata Usaha
Negara yang mengeluarkan Keputusan (Penetapan/ Beschikking)
semula. Pengajuan banding administratif (administratif Beroep) yang
ditujukan kepada atasan Pejabat atau instansi lain dari Badan/Pejabat
Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan yang berwenang
memeriksa ulang keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan.35
Apabila peraturan dasarnya hanya menentukan adanya upaya
administratif berupa peninjauan surat keberatan, maka gugatan terhadap
Keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan diajukan kepada
pengadilan Tata Usaha Negara. Apabila peraturan dasarnya menentukan
adanya upaya
adiministratif berupa surat keberatan
dan
atau
mewajibkan surat banding administratif, maka gugatan terhadap
Keputusan Tata Usaha Negara yang telah diputus dalam tingkat banding
administratif diajukan langsung kepada Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara dalam tingkat pertama yang berwenang.36
Ketentuan tersebut sesuai pula dengan ketentuan yang diatur
dalam pasal 48 ayat (2) yang menyatakan pengadilan baru berwenang
memeriksa, menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang
bersangkutan telah digunakan jo ketentuan pasal 51 ayat (3)
ditentukan bahwa dalam hal suatu sengketa dimungkinkan adanya
administratif maka gugatan langsung ditujukan kepada Pengadilan
Tinggi Tata Usaha Negara apabila keputusannya merupakan
keputusan banding administratif. Berdasarkan ketentuan-ketentuan

34

Ibid.

35Lihat

Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.2 Tahun 1991 tentang Petunjuk


Pelaksanaan Ketentuan Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara
36Rozali, Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. PT. Raja
Grafindo Persada, 2004) hlm. 20.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

172

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

tersebut maka dapat dibuat bagan Proses Penyelesaian Upaya


Administrasi sebagai berikut:37

Dalam menganalisa kewenangan Hakim Tata Usaha Negara


dalam good governance ini, perlu kiranya kita melihat kembali jenisjenis lembaga peradilan di Indonesia sebagai studi kelembagaan yang
berbicara tentang konsep yang digunakan. Hal ini diperlukan karena
kewenangan Hakim tentunya dapat dipersepsikan dengan kewenangankewenangan lembaga peradilan itu juga. Dalam Pasal 12 ayat 1 Undang37Novy

Dewi Cahyati, Hand out Kuliah Hukum Acara PTUN, Program Studi ilmu
Hukum Fakultas syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun Ajaran
2013/2014.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

173

Undang No 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara


disebutkan bahwa, Hakim pengadilan adalah pejabat yang melakukan
tugas kekuasaan kehakiman. Dalam Pasal 1 Undang-Undang No.48
Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman disebutkan bahwa
kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan Peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukum Republik
Indonesia. Kemudian dalam Pasal 47 Undang-Undang No 51 Tahun
2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara juga disebutkan, pengadilan
bertugas memeriksa, memutus, danmenyelesaikan sengketa Tata Usaha
Negara.38
Indonesia merupakan negara hukum yang memandang setiap orang
sama kedudukannya di depan hukum implikasinya penyelenggara Negara
wajib memenuhi asas-asas umum penyelenggaraan negara yang bersih dan
bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme dan menjamin setiap orang
berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang
adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum karena:39
1. Setiap Warga Negara Republik Indonesia, memiliki hak yang
sama dalam hukum dan mendapatkan keadilan dan penjaminan
kepentingan sebagai warga negara, sebagaimana termaktub
dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu: Setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama dihadapan hukum.
2. Setiap Warga Negara Republik Indonesia, dengan tetap
mengingat pada ketentuan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang
menegaskan bahwa Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa
38Udiyo

Basuki, Qua Vadis UUD 1945: Refleksi 67 Tahun Indonesia


Berkonstitusi, dalam Jurnal Kajian Ilmu Hukum Supremasi Hukum, Vol.1, No.1, Juni 2012.
39Ibid. Lihat juga Udiyo Basuki, Konstitusionalisme Pengaturan HAM di
Indonesia, Penelitian Kompetitf, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta Tahun 2012, hlm.45. Perhatikan juga Abdul Qodir Jaelani, Pancasila Sebagai
Etika Bersama Dalam Memahami Multikulturalisme Bangsa Indonesia, Karya Tulis Ilmiah
Tingkat Nasional, Tahun 2013, hlm.15. Miftahul Janah dan Abdul Qodir Jaelani,
Kewenangan Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Yogyakarta Dalam Menyelesaikan
Sengketa Kepegawaian Nomor:6/G/2013/PTUN.YK. Perspektif Good Governance,
Penelitian Kompetitif, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun 2013, hlm.150.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

174

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa
dan mengadilinya. Selanjutnya, Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang
menegaskan bahwa Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Selanjutnya, Pasal 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang menegaskan bahwa
Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan
kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha
Negara.
D. Penutup
Berdasarkan uraian yang telah dibahas dalam uraian di atas, maka
kelompok kami mengambil kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut :
Kewenangan hakim Peradilan tata Usaha Negara dalam
menyelesaikan sengketa kepegawaian Sesuai dengan amanah UndangUndang No.51 tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
disebutkan bahwa hakim pengadilan adalah pejabat yang melakukan tugas
kekuasaan kehakiman, yang mana tugas kekuasaan kehakiman itu
adalah dalam rangka menyelenggarakan peradilan dan peradilan itu
sendiri mempunyai kewajiban memeriksa, mengadili dan memutus
suatu perkara. Singkatnya hakim Tata Usaha Negara adalah pejabat yang
berwenang memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara di dalam
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara. Untuk membedakan apakah
sengketa harus diselesaikan melalui banding administratif atau
keberatan dapat dilihat dari pejabat atau instansi yang berwenang
menyelasaikannya:
a. Apabila diselesaikan oleh instansi atasan Pejabat yang
menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara tersebut atau
instansi yang lainnya dari Badan/Pejabat Tata Usaha Negara
yang menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara, maka
penyelesaiannya
tersebut disebut dengan BANDING
ADMINISTRATIF.
b. Apabila diselesaikan instansi atau Pejabat yang mengeluarkan
keputusan Tata Usaha Negara tersebut, penyelesaian tersebut
disebut denganKEBERATAN.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

175

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Rozali, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta. PT.
Raja Grafindo Persada, 2004.
Assiddiqie Jimly, Konstitusi dan Konstitusionalisme, Jakarta: Konpress, 2006.
_____________, Struktur Ketatanegaraan Indonesia Setelah Perubahan Keempat
UUD Tahun 1945, Jakarta: Konpress, 2003.
_____________,Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan
Pelaksanaannya di Indonesia, Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, 1994.
_____________,Implikasi Perubahan UUD 1945 Terhadap Pembangunan
Hukum Nasional Indonesia, Jakarta: Konpress, 2005.
_____________, Pengantar Hukum Tata Negara, Jakarta: Rajawali Press,
2009.
_____________,Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca
Amandemen, Jakarta: Konpress, 2006.
_____________,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta:PT
Bhuana Populer, 2007.
_____________,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta:
PT Bhuana Populer: 2007.
Basuki Udiyo, Qua Vadis UUD 1945: Refleksi 67 Tahun Indonesia
Berkonstitusi, dalam Jurnal Kajian Ilmu Hukum Supremasi Hukum,
Vol.1, No.1, Juni 2012.
_____________,Konstitusionalisme Pengaturan HAM di Indonesia,
Penelitian Kompetitf, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta Tahun 2012.
_____________,Pedoman Beracara Peradilan Tata Usaha Negara, Yogyakarta:
SUKA PRESS, 2013.
Cahyati Novy Dewi, Hand out Kuliah Hukum Acara PTUN, Program Studi
ilmu Hukum Fakultas syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014.
Harahap M. Yahya, Beberapa Tinjauan Sistem Peradilan dan Penyelesaian
Sengketa, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010.
Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata
Usaha Negara, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003.
Jaelani Abdul Qodir, Pancasila Sebagai Etika Bersama Dalam Memahami
Multikulturalisme Bangsa Indonesia, Karya Tulis Ilmiah Tingkat
Nasional, Tahun 2013.
Janah Miftahul dan Jaelani Abdul Qodir, Kewenangan Hakim Pengadilan
Tata Usaha Negara Yogyakarta Dalam Menyelesaikan Sengketa
Kepegawaian Nomor:6/G/2013/PTUN.YK. Perspektif Good

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

176

Miftahul Jannah: Kewenangan Hakim Pengadilan

Governance, Penelitian Kompetitif, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Tahun 2013.
Kaloh J, Kepemimpinan Kepala Daerah Pola Kegiatan, Kekuasaan, dan Perilaku
Kepala Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah, Jakarta: Sinar
Grafika, 2010.
Mustafa Bachsan, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2000.
Ridman, Kekuasaan Kehakiman Pasca-Amandemen Konstitusi, Jakarta:
Kencana, 2012.
S.F.Marbun,dkk, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara,
Yogyakarta: UII Press, 2004.
Sitomurang Victor M., Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil, Jakarta: PT
Rineka Cipta, 1998.
Soedibyo Victor S, Pokok-Pokok Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta. PT
Rineka Cipta, 1998.
Soetami A.Siti , Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Bandung:
PT. Refika Aditama, 2007.
Sri Hartini, dkk, Hukum Kepegawaian di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika,
2008.
Titik Triwulan dan Ismu Gunadi Widodo, Hukum Tata Usaha Negara dan
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2011.
Zauhar Soesilo, Reformasi Administrasi, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004.

PANGGUNG HUKUM
Jurnal Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Vol.1, No.1, Januari 2015

Anda mungkin juga menyukai