Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah selanjutnya akan mengatur guru, KBM dan siswa supaya mengalami
proses belajar-mengajar yang berlangsung dengan baik dan supaya tidak terjadi
penyalahgunaan jabatan. Namun demikian, sekolah juga perlu memberikan
kebebasan bagi guru untuk mengembangkan, memvariasikan, kreativitas dalam
merencanakan, membuat dan mengevaluasi sesuatu proses yang baik (guru
mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu bagi seorang yang profesional dalam
pekerjaannya. Masyarakat umum juga dapat membantu guru dalam proses
kegiatan belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut
bertanggung jawab terhadap `proses anak didik. Ma-syarakat dapat mengajukan
saran,

kritik

bagi

lembaga

(sekolah).

Lembaga

(sekolah)

boleh

saja

mempertimbangkan atau menggunakan masukan dari masyarakat untuk


mengembangkan pendidikan tetapi lembaga (sekolah) atau guru tidak boleh
bertindak sesuai dengan kehendak masyarakat karena hal ini menyebabkan
hilangnya profesionalitas guru dan otonomi lembaga (sekolah) atau guru.
Mengembangkan visi apa yang baik secara konkrit dengan penuh rasa
tanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan
terbentuklah dalam diri anak sense of justice dan sense of good. Komitmen guru
dalam mengajar guna pencapaian tujuan mengajar yang kedua lebih lanjut
diuraikan bahwa guru harus memiliki loyalitas terhadap apa yang ditentukan oleh
lembaga (sekolah). Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya
menjadikan pokok satu sebagai tuntutan yang dipenuhi maka yang terjadi pada
anak didik adalah suatu pengembangan konsep manusia terhadap apa yang baik
dan bersifat eks-klusif. Maksudnya adalah bahwa konsep manusia terhadap apa
yang baik hanya dikembangkan dari sudut pandang yang sudah ada pada diri

siswa sehingga tak terakomodir konsep baik secara universal. Dalam hal ini, anak
didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik tidak hanya
bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti konsep ini dari orang
lain atau lingkungan sehingga menutup kemung-kinan akan timbulnya visi
bersama (kelompok) akan hal yang baik.
Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih menekankan
akan kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa yang baik tidak
hanya berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain berikut akibatnya. Di
lain pihak guru mempersiapkan anak didik untuk melaksanakan kebebasannya
dalam
B. Rumusan Masalah
A. Bagaimana Profil Guru Di Indonesia?
B. Bagaimana Pengertian kode etik?
C. Bagaimana Hubungan Guru Dengan Pemerintah?
D. Bagaimana Hubungan Guru Dengan PNS?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Profil Guru Di Indonesia
2. Untuk mengetahui Pengertian kode etik
3. Untuk mengetahui Hubungan Guru Dengan Pemerintah
4. Untuk mengetahui Hubungan Guru Dengan PNS

BAB II
PEMBAHASAN

A. Guru Di Indonesia
Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama
mendidik,

mengajar,

membimbing,

mengarahkan.

Melatih

menilai

dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru Indonesia memiliki
kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.1
Guru indonesia bertanggung jawab mengatarkan siswanya untuk mencapai
kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang kehidupan.
Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak mengabaikan
peranan guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh sejajar
dengan bangsa lain di negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa yang
akan datang. Kondisi seperti itu bisa mengisyaratkan bahwa guru dan profesinya
merupakan komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini
sepanjang zaman. Hanya dengan tugas pelaksanaan tugas guru secara profesional
hal itu dapat diwujudkan eksitensi bangsa dan negara yang bermakna, terhormat
dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini.
Guru indonesia

adalah insan yang

layak

ditiru

dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khususnya oleh peserta didik yang


dalam melaksanakan tugas berpegang teguh pada prinsip ing ngarso sung
tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Dalam usaha
1

Ihsan, Fuad. 2008, Dasar-dasar Pendidikan.Jakarta. Rineka Cipta, hal 58

mewujudkan prinsip-prinsip tersebut guru indonesia ketika menjalankan tugastugas profesional sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan
guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang
berkualitas, kompetetif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi
persaingan yang makin ketat dan berat sekarang dan dimasa datang.
Dalam melaksanakan tugas profesinya guru indonesia menyadari sepenuhnya
bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan
berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam
jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa. 2
B. Pengertian Kode Etik
Kode etik berasal dari dua kata yaitu kode, yang berarti tulisan (kata-kata,
tanda) yang dengan persetujuan mempunyai ari maksud yang tertentu sedangkan
etik dapat berarti aturan tata susila, sikap, atau akhlak. Dengan demikian kode etik
secara bahasa dapat diartikan ketentuan atau aturan yang berkenaan tentang tata
susila dan akhlak.
Selanjutnya kata profesi masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia melalui
bahasa Inggris (Profesion) atau bahasa Belanda (Professie), kedua bahasa barat
ini menerima kata ini dari bahasa latin. Dalam Bahasa Latin kata Profesio berarti
pengakuan atau pernyataan.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat dinyatakan bahwa kata profesi
yang kita pergunakan sekarang ini sebenarnya tidak lain dari pernyataan atau
pengakuan dalam bidang pekerjaan atau bidang pengabdian yang dipilih. jadi
seorang yang mengatakan bahwa profesinya adalah guru maka sebenarnya tidak
lain dari pada memberitahukan kepada orang lain pekerjaan yang dipilihnya
adalah mendidik dan mengajar. dalam perkembangan selanjutnya setelah timbul
2

Iman Sudiyat. 1982. Pendidikan Baradja. 1997. Pendidikan Indonesia Quo Vadis. TEFLIN
Surabaya, 1997, hal 146

perserikatan-perserikatan atau asosiasi-asosiasi yang mengikat manusia yang


sama-sama mengabdikan diri pada suatu jabatan tersusunlah petunjuk-petunjuk
lebih lanjut mengenai perilaku yang harus ditaati oleh setiap anggota profesi.
Dalam kontek ini, maka istilah profesi dengan sendirinya mengandung muatan
kode etik sebagaimana telah disebutkan diatas. Untuk itu terdapat tiga petunjuk
dasar mengenai suatu perbuatan profesi sebagai berikut : 3
Pertama, ditentukan bahwa setiap profesi dikembangkan untuk memberikan
pelayanan tertentu kepada masyarakat. Pelayanan itu dapat berupa pelayanan
individual, yaitu pelayanan perorangan, tetapi bisa juga pelayanan secara kolektif.
Dengan demikian setiap orang yang mengaku menjadi pengemban dari suatu
profesi tertentu harus benar-benar yakin bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang memadai untuk memberikan pelayanan tadi, setiap saat ia
harus sia untuk memperlihatkan atau mendemontrasikan pengetahuan atau
keterampilan yang dimilikinya.
Kedua, Bahwa profesi bukanlah sekedar mata pencaharian atau bidang
pekerjaan. Dalam kata profesi tercakup pula pengertian pengabdian kepada
sesuatu, misalnya keadilan, kebenaran, meringankan penderitaan sesama manusia,
da sebagainya. Jadi setiap orang yang menganggap dirinya sebagai anggota suatu
profesi harus tahu betul pengabdian apa yang akan diberikan kepada masyarakat
melalui perangkat pengetahuan dan keterampilan khusus yang dimilikinya.
Ketiga, setiap bidang profesi mempunyai kewajiban untuk menyempurnakan
prosedur yang mendasai pengabdiannya secara terus menerus. Secara tehnis
profesi tidak boleh berhenti tidak boleh mandek. Kalau kemandekan teknis itu
terjadi untuk profesi dianggap sedang mengalami proses kelayuan atau sedang
mati.
Berdasarkan ketentauan diatas kita ketahui sekarang bahwa pengakuan atau claim
sebagai profesional, sebagai pengemban profesi membawa kewajiban-kewajiban
tertentu. Jika kewajiaban ini diabaikan, maka anggota profesi yang lalai oleh
3

Ihsan, Fuad. 2008, Dasar-dasar Pendidikan.Jakarta. Rineka Cipta, hal 58

teman-teman sejawatnya dan oleh masyarakat umum akan dipandang melanggar


etika profesi. konsekuwensinya ia akan dikucilkan dalam lingkup profesinya.
Jadi kesimpulannya, profesi atau profesionalisme dapat diartikan sebagai
pandangan tentang bidang pekerjaan yang menganggap bidang pekerjaan sebagai
suatu pengabdian melalui keahlian tertentu dan yang menganggap keahlian ini
sebagai sesuatu yang harus diperbaharui secara terus menerus dengan
memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan.
Dalam kontek ini maka profesi selain berhubungan dengan kode etik juga
bertautan dengan kegiatan akademik. kalau kehidupan akademik bermuara pada
diperolehnya kemjuan ilmu pengetahuan, maka kegiatan profesional dimulai dari
pemahaman dan pemanfaatan terhadap kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan
yang sudah ada. Dan hal ini pula yang merupakan garis pemisah namun sekaligus
sebagai titik temu sebagai penghubung antara profesionalisme dan akademism4
C. Hubungan Guru Dengan Pemerintah
Guru sebagai pendidikan profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat
apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan
atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat
bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang
patut diteladani atau tidak. Baimana guru meningkatkan pelayanannya,
meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada naka
didiknya dan bagaimana cara guru berpaiakan dan berbicara serta cara bergaul
baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi
perhatian masyarakat luas.
1. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan
bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang

Iman Sudiyat. 1982. Pendidikan Baradja. 1997. Pendidikan Indonesia Quo Vadis. TEFLIN
Surabaya, 1997, hal 146

Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, dan


ketentuan peruda-undangan lainnya.
2. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang
berbudaya.
3. Guru berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan
dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.
4. Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah
atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.
5. Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat
pada kerugian negara.

D. Hubungan Guru Dengan PNS


1.

Kebolehan Hubungan Antara Guru Dengan Organisasi Profesi PNS


a. Guru harus bertindak sesuai dengan tujuan syste
b. Ada hubungan timbal balik antara anggota profesi dengan organisasi, baik
dalam melaksanakan kewajiban maupun dalam mendapatkan hak
c. Organisasi profesional harus membina mengawasi para anggtoany
d.

Kewajiban membina organisasi profesi merupakan kewajiban semua


anggota dan semua pengurusnya

e. Setiap anggota harus memberikan sebagian waktunya untuk kepentingan


pembinaan profesinya, dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh
para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut
f. Setiap anggota profesi, apakah ia sebagai pengurus atau anggota biasa,
wajib berpartisipasi guna memelihara, membina, dan meningkatkan mutu
organisasi profesi, dalam rangka mewujudkan cita-cita organisasi.
2.

Ketidak Bolehan Hubungan Antara Guru Dengan Organisasi Profesi


a. Anggota organisasi profesi tidak terlibat dalam organisasi politik prakti

Sadtono. 1988. Pendidikan Nasional, Sebuah Tinjauan Historis. Gramedia. Hal 124

b. Anggota organisasi profesi tidak boleh menjadi pengurus aktif organisasi


partai politik. 6
3.

Sikap Terhadap Organisasi Profesi PNS


Guru secara bersama-sama memelihara dan meningktkan mutu
organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya peranan organisasi profesi
sebagai wadah dan sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi
memerlukan pembinaan, agar lebih berdaya guna dan berhasil guna sebagai
wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru.
Keberhasilan usaha tersebut sangat tergantung kepada kesadaran para
anggotanya, rasa tanggung jawab, dan kewajiban para anggotanya. Organisasi
PGRI merupakan suatu sistem, di mana unsur pembentukannya adalah guruguru. Oleh karena itu, guru harus bertindak sesuai dengan tujuan sistem. Ada
hubungan timbal balik antara anggota profesi dengan organisasi, baik dalam
melaksanakan kewajiban maupun dalam mendapatkan hak.
Organisasi profesional harus membina mengawasi para anggtoanya.
Siapakah yang dimaksud dengan organisasi itu? Jelaskan yang dimaksud
bukan hanya ketua, atau sekretaris, atau beberapa orang pengurus tertentu
saja, tetapi yang dimaksud dengan organisasi di sini adalah semua anggota
dengna seluruh pengurus dan segala perangkat dan alat-alat perlengkapannya.
Kewajiban membina organisasi profesi merupakan kewajiban semua anggota
dan semua pengurusnya.
Oleh karena itu, semua anggota dan pengurus organisasi profesi,
karena pejabat-pejabat dalam organisasi merupakan wakil-wakil formal dan
keseluruhan anggota organisasi, maka merekalah yang melaksanakan tindakan
formal berdasarkan wewenang yang telah didelegasikan kepadanya oleh
seluruh anggota organisasi itu. Dalam kenyataannya, para pejabat itulah yang
memegang peranan fungsional dalam melakukan tindakan pembinaan sikap

Surahmad. 1988. Arah Pendidikan Kita. Gramedia. Hal 159

organisasi, merekalah yang mengkomunikasikan segala sesuatu mengenai


sikap profesi kepada para anggotanya. Dan mereka pula yang mengambil
tindakan apabila diperlukan.
Setiap

anggota harus memberikan

sebagian waktunya

untuk

kepentingan pembinaan profesinya, dan semua waktu dan tenaga yang


diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi
tersebut, sehingga pemanfaatnya menjadi efektif dan efisien. Dengan
perkataan lain setiap anggota profesi, apakah ia sebagai pengurus atau anggota
biasa, wajib berpartisipasi guna memelihara, membina, dan meningkatkan
mutu organisasi profesi, dalam rangka mewujudkan cita-cita organisasi.
Untuk meningkatkan mutu suatu profesi, khususnya profesi keguruan,
dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan penataran,
lokakarya,

pendidikan

lanjutan,

pendidikan

dalam

jabatan,

studi

perbandingan, dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Jadi, kegiatan


pembinaan profesi tidak hanya terbatas pada pendiidkan prajabatan atau
pendidikan lanjutan di perguruan tinggi saja, melainkan dapat juga dilakuka
setelah yang bersangkutan lulus dari pendidikan prajabatan ataupun sedang
dalam melaksanakan jabatan.
Usaha peningkatan dan pengembangan mutu profesi dapat dilakukan
secara perseorangan oleh para anggotanya, ataupun juga dapat dilakukan
secara bersama. Lamanya program peningkatan pembinaan itu pun beragam
sesuai dengan yang diperlukan. Secara perseorangan peningkatan mutu
profesi seorang guru dapat dilakukan baik secara formal maupun secara
informal. Peningkatan secara formal merupakan peningkatan mutu melalui
pendidikan dalam berbagai kursus, sekolah, maupun kuliah di perguruan
tinggi atau lembaga lain yang berhubungan dengan bidang profesinya.
Di samping itu, secara informal guru dapat saja meningkatkan mutu
profesinya dengan mendapatkan infomal guru dapat saja meningkatkan mutu
profesinya dengan mendapatkan informasi dari mass media (surat kabar,

majalah, radio, televisi, dan lain-lain) atau dari buku-buku yang sesuai dengan
bidang profesi yang bersangkutan.
Peningkatan mutu profesi keguruan dapat pula direncanakan dan
dilakukan secara bersama atau berkelompok. Kegiatan berkelompok ini dapat
beruap penataran, lokakarya, seminar, simposium, atau bahkan kuliah di suatu
lembaga pendidikan yang diatur secara tersendiri. Misalnya program
penyetaraan

D-III

guru-guru

SMP,

adalah

contoh-contoh,

kegiatan

berkelompok yang diatur tersendiri.


Kalau sekarang kita lihat kebanyakan dari usaha peningkatan mutu
profesi diprakarsai dan dilakukan oleh pemerintah, maka pada waktu yang
akan diharapkan organisasi profesilah yang seharusnya merencanakan dan
melaksanakannya, sesuai dengan fungsi dan peran organisasi itu sendiri.

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jabatan guru merupakan jabatan Profesional, dan sebagai jabatan profesional,
pemegangnya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Kriteria jabatan profesional antara
lain bahwa jabatan itu melibatkan kegiatan intelektual, mempunyai batang tubuh ilmu
yang khusus, memerlukan persiapan lama untuk memangkunya, memerlukan latihan
dalam jabatan yang berkesinambungan, merupakan karier hidup dan keanggotaan
yang permanen, menentukan baku perilakunya, mementingkan layanan, mempunyai
organisasi profesional, dan mempunyai kode etik yang di taati oleh anggotanya.
Jabatan guru belum dapat memenuhi secara maksimal persyaratan itu, namun
perkembangannya di tanah air menunjukkan arah untuk terpenuhinya persyaratan
tersebut. Usaha untuk ini sangat tergantung kepada niat, perilaku dan komitmen dari
guru sendiri dan organisasi yang berhubungan dengan itu, selain juga, oleh
kebijaksanaan pemerintah.
B. Kritik Dan Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat
kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua

pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.

11

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah Penyusun Panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena


dengan Rahmat dan Karunia-Nya Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini
Salawat beserta salam penyusun sampaikan kepada Reformator dunia yaitu
Baginda Rasulullah SAW yang telah menghijrahkan umatnya minal kufri ilal iman,
kecintaannya kepada umat melebihi cintanya pada dirinya sendiri..
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penyusun mengakui masih banyak
terdapat kejanggalan- kejanggalan dan kekurangan dalam makalah ini. Hal ini
disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan dan pengalaman yang penyusun miliki, oleh
karena itu, kritik dan saran yang konsruktif sangat penyusun harapkan demi
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
Penyusun juga berharap makalah ini mudah-mudahan berguna dan
bermamfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alami

Bengkulu,

Penyusun

DAFTAR ISI

i
12
i

2015

HALAMAN JUDUL .......................................................................................


KATA PENGANTAR.......................................................................................

DAFTAR ISI.....................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
B. Latar Belakang......................................................................................

C. Rumusan Masalah.................................................................................

D. Tujuan

......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Profil Guru Di Indonesia......................................................................
B. Pengertian kode etik

.......................................................................4

C. Hubungan Guru Dengan Pemerintah....................................................

D. Hubungan Guru Dengan PNS...............................................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...........................................................................................

11

B. Kritik dan Saran ...................................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

iii

DAFTAR PUSTAKA
ii

13

Ihsan, Fuad. 2008, Dasar-dasar Pendidikan.Jakarta. Rineka Cipta


Joesoef Soleman. 2004. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta : Bumi
Aksara
Iman Sudiyat. 1982. Pendidikan Baradja. 1997. Pendidikan Indonesia Quo Vadis.
TEFLIN Surabaya, 1997
Sadtono. 1988. Pendidikan Nasional, Sebuah Tinjauan Historis. Gramedia.
Surahmad. 1988. Arah Pendidikan Kita. Gramedia.

iii

14

MAKALAH
ETIKA PROFESI GURU
Hubungan Guru Dengan Pemerintah Dan
PNS

Oleh
M. Taqwin Arief
Siratul Aini, M
Agi Pratama
Dosen
Drs. Rizkan A. Rahman, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN
BENGKULU

15

2015

16