Anda di halaman 1dari 26

LATAR BELAKANG

Batubara terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk akibat


proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun, dapat
berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit, tergantung dari
tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur karbon akan
semakin banyak seiring dengan tingkat pembatubaraan yang semakin
berlanjut.
Batu bara merupakan bahan galian yang strategis dan salah satu
bahan baku energi nasional yang mempunyai peran yang besar
dalam pembangunan nasional. Informasi mengenai sumber daya dan
cadangan batu bara menjadi hal yang mendasar di dalam merencanakan
strategi kebijaksanaan energi nasional.
Sebagai salah satu suber alternatif energi dunia, batu bara akan maikn
berperan dalam waktu-waktu mnendatang. Sampai saat ini saja, batu bara
telah berperan sebesar 40% dari penyediaan kebutuhan listrik di seluruh
dunia sebagai sumber energi. Bahkan di Negara nilai tersebut jauh lebih
tinggi. Di Polandia misalnya, menggunakan batu bara lebih dari 94% untuk
pembangkit listrik; Afrika Selatan 92%; Cina 77%; dan Australia 76%. Batu
bara merupakan sumber energi yang mengalami pertumbuhan yang
paling cepat di dunia di tahun-tahun belakangan ini lebih cepat daripada
gas, minyak, nuklir, air dan sumber daya pengganti.
Pemanfaatan batu bara sebagai energi alternatif baik untuk keperluan
domestik seperti pada sektor industri dan pembangkit tenaga listrik,
maupun untuk ekspor. Sejalan dengan itu pemerintah telah melibatkan
pihak swasta dalam pengusahaan pengembangan batu bara.

TUJUAN DAN POKOK PERMASALAHAN


Tujuan
Maksud dari Persiapan pembukaan tambang bawah tanah (development):
a. Tujuan penambangan untuk mengekstrasi (menggali) mineral dari
bumi secara aman dan menguntungkan.
b. Mempersiapkan

fasilitas-fasilitas

yang

diperlukan

pada

tahap

penggalian
c. Untuk memperoleh keterangan terperinci mengenai sifat-sifat dan
ukuran badan bijih
d. Mengetahui seluk beluk penambangan batu bara
e. Memenuhi tugas mata kuliah PEMBUKAAN TAMBANG BAWAH
TANAH
Permasalahan
Masalah yang dihadapi :
1.

Munculnya Gas yang berbahaya

2.

Air yang mengair dalam tanah

3.

metode apa yang digunakan

DATA SEKUNDER DAN LITERATUR

REKAYASA DAN RANCANG BANGUN SISTEM


PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
DRAINASE AIR BAWAH TANAH PADA
TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH
KALIMANTAN TIMUR
Filed Under: C. PENAMBANGAN, C.1. Teknologi Penambangan by admin
Mar.25, 2009
SARI
Dengan semakin berkembangnya teknologi pengawasan terhadap kondisi tambang
terbuka dan bawah tanah yang saat ini perlu dikuasai oleh bangsa sendiri, maka
perlu dikembangkan peralatan sistem monitoring yang terkendali (integral) yang
dapat mengatur semua sistem ditambang dengan biaya yang relative terjangkau,
aman, megah, dan murah dalam pemeliharaan. Keberadaan air bawah tanah pada
tambang batubara bawah tanah sangat menganggu kelancara produktivitas
penambangan, untuk itu masalah keairan tersebut perlu dimonitoring dan dikelola
dengan baik. Pengelolaan air bawah tanah meliputi pengawasan dan pengendalian
drainase air bawah tanah pada tambang batubara bawah tanah baik berupa debut
aliran air yang masuk ke lokasi tambang maupun level tinggi muka air tanah
(water level monitoring).
Terdapatnya air bawah tanah di lokasi tambang dapat berasal dari
rembesean/bocoran (seepage/leakage) yang keluar melalui struktur batuan yang
ada berupa rekahan-rekahan, patahan atau berasal dari terpotongnya jalur lapisan
akuifer oleh adanya pembuatan bukaan tambang (opening) berupa terowongan
(tunnel) dan lokasi tambang bawah tanah. Adapun teknologi sistem pengawasan
dan pengendalian sistem drainase air bawah tanah diterapkan dengan teknologi
kombinasi antara telemetri menggunakan kabel dan frekuansi yang disesuaikan
dengan kondisi di lapangan.
Dengan debit aliran 200 775 liter/detik, level muka air awal masih dalam
kondisi aman, hal ini ditunjukkan dengan alert warna hijau, pompa bekerja
sebanyak 1 unit. Level mukai air 800-950 mm, level muka air dalam kondisi awas
atau level kurang aman dan ditunjukkan dengan alert warna kuning. Dalam
kondisi ini pompa masih bekerja 1 unit. Level muka air 100-190 mm, level muka
air dalam kondisi kritis atau level muka air tidak aman. Dalam kondisi ini kedua

pompa secara otomatis tidak bekerja. Level muka air 1350 -1600 mm, hal ini
menunjukkan bahwa level muka air dalam kondisi kritis atau tidak aman dan
ditunjukkan dengan alert warna merah. Dalam kondisi ini pompa secara otomatis
bekerja 2 unit. Bekerjanya otomatisasi monitoring sistem drainase ini sangat
membantu bagi para operator tambang untuk dapat mengetahui status dan debit
aliran, level muka air dan juga pompa secara cepat dan aktual.
MENGENAL TAMBANG BATU BARA BAWAH TANAH
Pemanfaatan secara ekonomis potensi cadangan batubara disebut dengan
penambangan batubara, yang terbagi menjadi penambangan terbuka (surface
mining atau open cut mining) dan penambangan bawah tanah atau tambang dalam
(underground mining).
Bila terdapat singkapan batubara (outcrop) di permukaan tanah pada suatu lahan
yang akan ditambang, maka metode penambangan yang akan dilakukan, yaitu
metode terbuka atau bawah tanah, ditetapkan berdasarkan perhitungan tertentu
yang disebut dengan nisbah pengupasan (Stripping Ratio, SR). Nisbah ini
merupakan indikator tingkat ekonomis suatu kegiatan penambangan.
SR = {(Biaya Tambang Dalam) (Biaya Tambang Terbuka)} / Biaya Pengupasan
Pada perhitungan SR di atas, biaya tambang dalam adalah biaya per batubara
bersih (clean coal) dalam ton, sedangkan untuk biaya tambang terbuka adalah
biaya per batubara bersih dalam ton dan biaya relamasi, tapi tidak termasuk biaya
pengupasan tanah penutup (overburden). Sedangkan biaya pengupasan adalah
biaya pengupasan tanah penutup, dalam m3.

Gambar 1. Batas Kritis Metode Penambangan

Sebagai contoh, bila dari studi kelayakan (feasibility study) ternyata diketahui
bahwa biaya tambang dalam pada suatu lahan yang akan ditambang adalah
US$150, biaya tambang terbuka adalah US$50, dan biaya pengupasan adalah
US$10, maka nisbah pengupasan atau SR adalah 10. Dari gambar 1 di atas terlihat
bahwa sampai dengan posisi tertentu yang merupakan batas SR, penambangan
terbuka lebih menguntungkan untuk dilakukan. Sedangkan lewat batas tersebut,
penambangan akan lebih ekonomis bila dilakukan dengan menggunakan metode
tambang dalam.
Selain perhitungan di atas, kondisi lain yang mengakibatkan penambangan bawah
tanah harus dilakukan adalah:
1. Posisi lapisan batubara berada di bawah laut.
Contohnya adalah tambang batubara Mitsui Miike Jepang, yang bagian terdalam
lapangan penggaliannya sekitar 850 m di bawah permukaan laut. Tambang
terbesar di Jepang ini tutup pada tanggal 30 Maret 1997, setelah beroperasi selama
124 tahun.
2. Posisi batubara terletak jauh di kedalaman tanah.
Contohnya adalah tambang dalam PT Kitadin Embalut dan PT Fajar Bumi Sakti
di Kalimantan Timur.
Meskipun perhitungan kelayakan ekonomis di atas merupakan faktor utama untuk
menentukan metode penambangan, hal hal lain yang juga menjadi faktor
pertimbangan diantaranya adalah kondisi sosial calon lokasi tambang, masalah
lingkungan hidup, dan status hukum lokasi yang akan ditambang. Hal inilah yang
menyebabkan baik tambang terbuka maupun tambang dalam memiliki kelebihan
dan kekurangannya masing masing.
Untuk tambang dalam, meskipun masalah sosial maupun kerusakan lingkungan
relatif dapat dihindari, tapi kekurangannya adalah investasi awal yang besar, dan
tingkat keterambilan batubara yang tidak setinggi pada tambang terbuka. Dengan
mengemukanya isu kelestarian lingkungan dewasa ini, tambang dalam merupakan
satu-satunya pilihan pada penambangan batubara yang cadangannya tersimpan di
lokasi hutan lindung misalnya.
Teknologi Tambang Dalam
Pada prinsipnya, penambangan batubara dengan menggunakan metode tambang
dalam memerlukan 3 persyaratan teknis yang mutlak harus dipenuhi, yaitu
1. Pemahaman secara menyeluruh terhadap kondisi alam di lokasi yang akan
ditambang.
2. Teknologi penambangan yang sesuai dengan kondisi lapangan penggalian,
aman, ekonomis, dan menghasilkan tingkat keterambilan batubara yang tinggi.
3. Sumber daya manusia yang handal.

Ketiga hal diatas mudahnya disingkat dengan alam, teknologi, dan manusia.
Data geologi yang cukup mengenai kondisi tersimpannya batubara seperti
kedalaman lapisan, jumlah lapisan, tebal lapisan, kemiringan lapisan (dip) dan
arahnya (strike), jumlah cadangan, dan data pendukung lainnya seperti formasi
batuan, kemudian ada tidaknya patahan (fault) atau lipatan (fold), akan sangat
membantu untuk menentukan metode pembukaan tambang, metode pengambilan
batubara (extraction), penggalian maju (excavation/development), transportasi
baik material maupun batubara, penyanggaan (support), ventilasi, drainase, dan
lain lain.
Khususnya untuk menangani permasalahan gas berbahaya (hazardous gases)
seperti CO dan gas mudah nyala (combustible gas) seperti metana yang muncul di
tambang dalam, perencanaan sistem ventilasi yang baik merupakan hal mutlak
yang harus dilakukan. Selain untuk mengencerkan dan menyingkirkan gas gas
tersebut, tujuan lain dari ventilasi adalah untuk menyediakan udara segar yang
cukup bagi para pekerja tambang, dan untuk memperbaiki kondisi lingkungan
kerja yang panas di dalam tambang akibat panas bumi, panas oksidasi, dll.
Dengan memperhatikan ketiga tujuan di atas, maka volume ventilasi (jumlah
angin) yang cukup harus diperhitungkan dalam perencanaan ventilasi. Secara
ideal, jumlah angin yang cukup tersebut hendaknya terbagi secara merata untuk
lapangan penggalian (working face), lokasi penggalian maju
(excavation/development), serta ruangan mesin dan listrik
Jumlah angin yang terlalu kecil akan menyebabkan gas gas mudah terkumpul
sehingga konsentrasinya meningkat, jumlah pasokan oksigen berkurang, dan
lingkungan kerja menjadi tidak nyaman. Sebaliknya, bila volume anginnya terlalu
besar, maka hal ini dapat menimbulkan masalah serius pula yaitu swabakar
batubara (spontaneous combustion).
Swabakar batubara terjadi akibat proses oksidasi batubara. Dalam kondisi normal,
batubara akan menyerap oksigen di udara dan menimbulkan proses oksidasi
perlahan, sehingga terjadi panas oksidasi. Karena nilai konduktivitas panas
batubara adalah 1/4 dari konduktivitas panas batuan, maka panas oksidasi sulit
berpindah ke batuan di sekitarnya, sehingga akan terus terakumulasi di dalam
batubara secara perlahan. Bila sistem ventilasi yang baik untuk menangani hal ini
tidak dilakukan, maka suhunya akan terus meningkat sehingga dapat mencapai
titik nyala, dan akhirnya menimbulkan kebakaran.
Room & Pillar Mining
Pada metode penambangan RP, batubara diekstraksi dengan meninggalkan pilar
yang difungsikan sebagai penyangga ruang kosong (room) pada lapisan batubara
di dalam tanah. Ruang kosong itu sendiri terbentuk sebagai akibat terambilnya
batubara pada lapisan yang bersangkutan. Adapun ukuran pilar ditentukan dengan

menghitung kekuatan batuan atap, lantai serta karakteristik lapisan batubara, yang
dalam hal ini adalah tingkat kekuatan/kekerasannya.
Pada praktiknya, area yang akan ditambang dibagi terlebih dulu ke dalam bagian
bagian yang disebut panel, dimana pengambilan batubara dilakukan di dalamnya.
Sebagaimana terlihat pada gambar 3 di bawah, barrier pillar berfungsi untuk
memisahkan panel panel penambangan, sedangkan panel pillar berfungsi untuk
menahan ruang kosong pada panel saja. Dengan demikian, meskipun masih
terdapat resiko runtuhan atap pada suatu panel, tapi keberadaan barrier pillar akan
memberikan jaminan keamanan melalui penyanggaan area tambang secara
keseluruhan.

Long Wall Mining


Pada metode ini, penambangan dilakukan setelah terlebih dulu membuat 2 buah
lorong penggalian pada suatu blok lapisan batubara. Lorong yang satu terhubung
dengan lorong peranginan utama (main shaft in-take), berfungsi untuk
menyalurkan udara segar serta untuk pengangkutan batubara. Lorong ini sebut
dengan main gate. Sedangkan lorong satunya lagi yang disebut dengan tail gate
terhubung dengan lorong pembuangan utama (main shaft out-take/exhaust),
berfungsi untuk menyalurkan udara kotor keluar tambang serta untuk
pengangkutan material ke lapangan penggalian (working face). Udara kotor yang
dimaksud disini adalah udara yang telah melewati lapangan penggalian, sehingga
telah tercampur dengan debu batubara dan gas gas seperti metana,
karbondioksida, CO, atau gas yang lain tergantung dari kondisi geologi di lokasi
tersebut.

PEMBAHASAN
1

Pada prinsipnya, penambangan batubara dengan menggunakan metode


tambang dalam memerlukan 3 persyaratan teknis yang mutlak harus
dipenuhi, yaitu
1. Pemahaman secara menyeluruh terhadap kondisi alam di lokasi
yang akan ditambang
2. Teknologi penambangan yang sesuai dengan kondisi lapangan
penggalian,

aman,

ekonomis,

dan

menghasilkan

tingkat

keterambilan batubara yang tinggi


3. Sumber daya manusia yang handal.
Khususnya untuk menangani permasalahan gas berbahaya (hazardous
gases) seperti CO dan gas mudah nyala (combustible gas) seperti metana
yang muncul di tambang dalam, perencanaan sistem ventilasi yang baik
merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Selain untuk mengencerkan
dan menyingkirkan gas gas tersebut, tujuan lain dari ventilasi adalah
untuk menyediakan udara segar yang cukup bagi para pekerja tambang,
dan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang panas di dalam
tambang akibat panas bumi, panas oksidasi, dll.
Dengan memperhatikan ketiga tujuan di atas, maka volume ventilasi
(jumlah angin) yang cukup harus diperhitungkan dalam perencanaan
ventilasi. Secara ideal, jumlah angin yang cukup tersebut hendaknya
terbagi secara merata untuk lapangan penggalian (working face), lokasi
penggalian maju (excavation/development), serta ruangan mesin dan
listrik

Jumlah angin yang terlalu kecil akan menyebabkan gas gas mudah
terkumpul sehingga konsentrasinya meningkat, jumlah pasokan oksigen
berkurang, dan lingkungan kerja menjadi tidak nyaman. Sebaliknya, bila
volume anginnya terlalu besar, maka hal ini dapat menimbulkan masalah
serius pula yaitu swabakar batubara (spontaneous combustion).
Swabakar batubara terjadi akibat proses oksidasi batubara. Dalam kondisi
normal, batubara akan menyerap oksigen di udara dan menimbulkan
proses oksidasi perlahan, sehingga terjadi panas oksidasi. Karena nilai
konduktivitas panas batubara adalah 1/4 dari konduktivitas panas batuan,
maka panas oksidasi sulit berpindah ke batuan di sekitarnya, sehingga
akan terus terakumulasi di dalam batubara secara perlahan. Bila sistem
ventilasi yang baik untuk menangani hal ini tidak dilakukan, maka suhunya
akan terus meningkat sehingga dapat mencapai titik nyala, dan akhirnya
menimbulkan kebakaran

Dengan semakin berkembangnya teknologi pengawasan terhadap kondisi


tambang bawah tanah terhadap keberadaan air bawah tanah pada
tambang

batubara

bawah

tanah

sangat

menganggu

kelancaran

produktivitas penambangan, untuk itu masalah keairan tersebut perlu


dimonitoring dan dikelola dengan baik. Pengelolaan air bawah tanah
meliputi pengawasan dan pengendalian drainase air bawah tanah pada
tambang batubara bawah tanah baik berupa debut aliran air yang masuk
ke lokasi tambang maupun level tinggi muka air tanah (water level
monitoring).
Terdapatnya air bawah tanah di lokasi tambang dapat berasal dari
rembesean/bocoran (seepage/leakage) yang keluar melalui struktur
batuan yang ada berupa rekahan-rekahan, patahan atau berasal dari
terpotongnya jalur lapisan akuifer oleh adanya pembuatan bukaan
tambang (opening) berupa terowongan (tunnel) dan lokasi tambang

bawah tanah. Adapun teknologi sistem pengawasan dan pengendalian


sistem drainase air bawah tanah diterapkan dengan teknologi kombinasi
antara telemetri menggunakan kabel dan frekuansi yang disesuaikan
dengan kondisi di lapangan.
Dengan debit aliran 200 775 liter/detik, level muka air awal masih dalam
kondisi aman, hal ini ditunjukkan dengan alert warna hijau, pompa bekerja
sebanyak 1 unit. Level mukai air 800-950 mm, level muka air dalam
kondisi awas atau level kurang aman dan ditunjukkan dengan alert warna
kuning. Dalam kondisi ini pompa masih bekerja 1 unit. Level muka air 100190 mm, level muka air dalam kondisi kritis atau level muka air tidak
aman. Dalam kondisi ini kedua pompa secara otomatis tidak bekerja.
Level muka air 1350 -1600 mm, hal ini menunjukkan bahwa level muka air
dalam kondisi kritis atau tidak aman dan ditunjukkan dengan alert warna
merah. Dalam kondisi ini pompa secara otomatis bekerja 2 unit.
Bekerjanya otomatisasi monitoring sistem drainase ini sangat membantu
bagi para operator tambang untuk dapat mengetahui status dan debit
aliran, level muka air dan juga pompa secara cepat dan aktual.

TAHAPAN KEGIATAN PERTAMBANGAN BATU BARA


MENGGUNAKAN ROOM & PILAR MINING DAN LONGWALL MINING
Kegiatan usaha pertambangan meliputi tugas-tugas yang dilakukan untuk
mencari, mengambil bahan galian dari dalam kulit bumi, kemudian
mengolah sampai bisa bermanfaat bagi manusia. Secara garis besar
tahapan kegiatan usaha pertambangan adalah :
1.

Prospeksi (Penyelidikan Umum)

2.

Eksplorasi

3.

Studi Kelayakan..

4.

Penambangan.

5.

Pengolahan/Pemurnian.

6.

Pengangkutan.

7.

Pemasaran.

Prospeksi (Penyelidikan Umum)merupakan langkah pertama dalam


kegiatan usaha pertambangan. Pada tahap ini kegiatan ditujukan untuk
mencari dan menemukan endapan bahan galian dan mempelajari
keadaan geologi secara umum untuk daerah yang bersangkutan
berdasarkan data permukaan. Cara yang digunakan dalam penyelidikan
umum adalah mengikuti data petunjuk tentang adanya suatu endapan
bahan galian di suatu daerah, antara lain dengan cara tracing float,
geofisika, geokimia, bor tangan dan lain-lain.

Eksplorasi Penyelidikan eksplorasi merupakan kegiatan lanjutan


dari penyelidikan umum yang bertujuan untuk mendapatkan
kepastian tentang endapan bahan galian tersebut, yaitu mengenai :
bentuk, ukuran serta letak atau kedudukan endapan bahan galian
menentukan besar dan mutu cadangan sifat fisik, mekanik dan
kimia bahan galian sifat fisik, mekanik dan kimia batuan
sekelilingnya, dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penyelidikan ini meliputi


-

Penyelidikan geologi secara lebih teliti baik ke arah


horizontal maupun vertical.

Melakukan pengambilan percontoh secara sistematis dan


lebih detail, seperti dilakukan dengan cara pemboran inti
(core drilling) dan sumur uji.

Studi Kelayakan Tahapan ini merupakan puncak dari


serangkaian penyelidikan sebelum usaha penambangan
dimulai.

Studi kelayakan merupakan evaluasi dan perhitungan-perhitungan


untuk menentukan dapat atau tidaknya suatu endapan bahan
galian

ditambang

dengan

pertimbangan-pertimbangan

menguntungkan

ekonomis

dan

berdasarkan

teknis

dengan

mengingat keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan hidup.


Dalam tahapan ini perlu dilakukan penyelidikan serta proyeksiproyeksi harga dan pemasaran untuk dapat memperkirakan harga
pokok dan hasil penjualan.

Penambangan

adalah

kegiatan

yang

ditujukan

untuk

membebaskan dan mengambil bahan galian dari dalam bumi


kemudian

membawanya

ke

permukaan

bumi

untuk

dapat

dimanfaatkan bagi manusia dan makhluk lain.

Pemurnian adalah Setelah dilakukan penambangan, batu bara


kemudian diolah untuk memisahkannya dari kandungan yang tidak
diinginkan, sehingga mendapatkan mutu yang baik dan konsisten.
Biasanya pengolahan ini (disebut coal washing atau coal
benefication) ditujukan pada batu bara yang diambil dari bawah
tanah (ROM coal). Proses pengolahannya sendiri bisa berbagai

macam, tergantung dari tingkat campuran dan tujuan penggunaan


batu bara. Untuk menghilangkan kandungan campuran, batu bara
tertambang mentah dipecahkan dan kemudian dipisahkan ke dalam
pecahan dalam berbagai ukuran. Pecahan-pecahan yang lebih
besar biasanya diolah dengan menggunakan metode pemisahan
media padatan. Dalam proses tersebut, batu bara dipisahkan dari
kandungan campuran lainnya dengan diapungkan dalam suatu
tangki berisi cairan dengan gravitasi tertentu, biasanya tersebut
akan mengapung dan dapat dipisahkan, sementara batuan dan
kandungan campuran lainnya yang lebih berat akan tenggelam dan
dibuang sebagai limbah..

Pengangkutan adalah Metode pengangkutan batu bara dari


tambang menuju tempat penggunaannya, ditentukan dari jarak
yang harus ditempuh dalam penngangkutan tersebut. Untuk jarak
dekat, batu bara umumnya diangkut dengan menggunakan ban
berjalan atau truk. Untuk jarak yang lebih jauh di dalam pasar
dalam negeri, batu bara diangkut dengan menggunakan kereta api
atau tongkang. Pada beberapa kasus, batu bara tersebut diangkut
melalui jaringan pipa (sebelumnya dicampur dengan air untuk
membentuk bubur batu).

Pemasaran

adalah

ditujukan

kepada

pasar

yang

banyak

membutuhkannya, Sebagai bahan bakar yang paling penting untuk


membangkitkan listrik
Selain tahapan di atas, kondisi lain yang harus di perhatikan dalam
penambangan bawah tanah harus dilakukan adalah:
1.

Posisi
lapisan
batubara
berada
di
bawah
laut.
Contohnya adalah tambang batubara Mitsui Miike Jepang, yang
bagian terdalam lapangan penggaliannya sekitar 850 m di bawah
permukaan laut. Tambang terbesar di Jepang ini tutup pada tanggal
30 Maret 1997, setelah beroperasi selama 124 tahun.

2.

Posisi
batubara
terletak
jauh
di
kedalaman
tanah.
Contohnya adalah tambang dalam PT Kitadin Embalut dan PT Fajar
Bumi Sakti di Kalimantan Timur.

Penambangan Batu Bara


Proses penambangan batu bara sangat ditentukan oleh unsur geologi
endapan batu bara. pada umumnya, terdapat 2 proses penambangan
batu bara, yaitu : Room & Pillar Mining, Long Wall
Room & Pillar Mining
Pada

metode

penambangan

RP,

batubara

diekstraksi

dengan

meninggalkan pilar yang difungsikan sebagai penyangga ruang kosong


(room) pada lapisan batubara di dalam tanah. Ruang kosong itu sendiri
terbentuk sebagai akibat terambilnya batubara pada lapisan yang
bersangkutan. Adapun ukuran pilar ditentukan dengan menghitung
kekuatan batuan atap, lantai serta karakteristik lapisan batubara, yang
dalam hal ini adalah tingkat kekuatan/kekerasannya.
Pada praktiknya, area yang akan ditambang dibagi terlebih dulu ke dalam
bagian bagian yang disebut panel, dimana pengambilan batubara
dilakukan di dalamnya. Sebagaimana terlihat pada gambar 3 di bawah,
barrier pillar berfungsi untuk memisahkan panel panel penambangan,
sedangkan panel pillar berfungsi untuk menahan ruang kosong pada
panel saja. Dengan demikian, meskipun masih terdapat resiko runtuhan
atap pada suatu panel, tapi keberadaan barrier pillar akan memberikan
jaminan

keamanan

keseluruhan.

melalui

penyanggaan

area

tambang

secara

Gambar

Konsep

Room

&

Pillar

(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Room_and_pillar )
Gambar di bawah ini menunjukkan rencana penambangan dengan
metode RP di salah satu tambang batubara bawah tanah.

Gambar perencanaan
RP adalah metode penambangan yang sederhana dan tidak memerlukan
biaya yang besar. Akan tetapi, cara ini hanya akan menghasilkan recovery
batubara yang rendah, umumnya maksimal 60%, disamping memerlukan
kondisi lapisan batubara yang landai (flat) dan relatif tebal. Selain itu, RP
hanya bisa diterapkan pada penambangan lapisan batubara yang dekat
dengan permukaan tanah karena tekanan batuannya belum begitu besar.
Seiring makin dalamnya lokasi penambangan berarti tekanan batuan akan
membesar, serta potensi emisi gas dan keluarnya air tanah akan
bertambah. Pada kondisi demikian, RP sudah tidak layak lagi untuk
dilakukan sehingga diperlukan metode lain yang lebih aman dan
ekonomis, yaitu Long Wall.

Long Wall Mining


Pada metode ini, penambangan dilakukan setelah terlebih dulu membuat
2 buah lorong penggalian pada suatu blok lapisan batubara. Lorong yang
satu terhubung dengan lorong peranginan utama (main shaft in-take),
berfungsi untuk menyalurkan udara segar serta untuk pengangkutan
batubara. Lorong ini sebut dengan main gate. Sedangkan lorong satunya
lagi yang disebut dengan tail gate terhubung dengan lorong pembuangan
utama (main shaft out-take/exhaust), berfungsi untuk menyalurkan udara
kotor keluar tambang serta untuk pengangkutan material ke lapangan
penggalian (working face). Udara kotor yang dimaksud disini adalah udara
yang telah melewati lapangan penggalian, sehingga telah tercampur
dengan debu batubara dan gas gas seperti metana, karbondioksida,
CO, atau gas yang lain tergantung dari kondisi geologi di lokasi tersebut.
Pada gambar 5 di bawah, udara bersih ditunjukkan dengan panah warna
biru, sedangkan udara kotor dengan panah warna merah.

Gambar Metode Long Wall

Bila ditinjau dari arah kemajuan lapangan (working face), maka terdapat 2
metode pada LW, yaitu advancing LW (LW maju) dan retreating LW (LW
mundur).
Pada advancing LW, penggalian maju untuk main gate dan tail gate
dilakukan bersamaan dengan penambangan batubara, seperti ditunjukkan
oleh gambar di bawah ini.

Gambar Skema LW maju.


Berdasarkan skema penggalian di atas, maka seiring dengan majunya
kedua lorong serta lapangan penggalian, terlihat bahwa lokasi yang
batubaranya telah diambil akan meninggalkan ruang yang terisi dengan
batuan atap yang telah diambrukkan. Bekas lapangan penggalian itu
disebut dengan gob. Pada metode ini, pekerjaan penting yang harus
dilakukan adalah menjaga agar main gate dan tail gate tetap tersekat
dengan sempurna terhadap gob sehingga sistem peranginan atau
ventilasi dapat berjalan dengan baik.
Kelebihan metode ini adalah produksi dapat segera dilakukan bersamaan
dengan penggalian lorong main gate dan tail gate. Namun seiring dengan
semakin majunya penggalian, maintenance kedua lorong menjadi
semakin sulit dilakukan karena tekanan lingkungan yang bertambah akibat

keberadaan gob yang meluas. Selain membawa resiko ambrukan,


tekanan batuan tersebut juga akan menyebabkan dinding lorong yang
merupakan sekat antara kedua lorong dengan gob menjadi mudah retak
dan rusak sehingga angin dapat mengalir masuk ke dalam gob. Karena di
gob juga terdapat banyak serpihan atau bongkahan batubara yang tersisa,
maka masuknya angin ke lokasi ini secara otomatis akan meningkatkan
potensi swabakar. Disamping itu, kelemahan metode LW maju yang lain
adalah rentan terhadap fenomena geologi yang tidak menguntungkan
yang muncul di dalam tambang, misalnya patahan atau batubara
menghilang (wash out). Tidak sedikit penggalian LW maju terpaksa harus
terhenti dan pindah ke lokasi lain dikarenakan faktor geologi tadi.
Agar penambangan menjadi lebih efektif, aman, dan ekonomis, maka
pada LW diterapkan metode mundur atau retreating.
Pada LW mundur, main gate dan tail gate dibuat terlebih dulu pada blok
lapisan batubara yang ingin ditambang, dengan panjang lorong dan lebar
area penggalian ditentukan berdasarkan kondisi geologi serta teknik
penambangan yang sesuai di lokasi tersebut. Gambar 7 di bawah ini
menunjukkan pekerjaan persiapan lapangan penggalian, sedangkan
gambar 8 menampilkan lapangan penggalian yang telah siap untuk
dilakukan LW mundur.

Gambar. Persiapan LW mundur

Gambar

8.

Lapangan

yang

telah

siap

untuk

LW

mundur

(Sumber: M. Uehara, JCOAL)


Ketika penambangan secara LW mundur telah dimulai, maka keadaannya
dapat digambarkan seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar Kondisi penambangan LW mundur


Penambangan

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan

kombinasi

penyangga besi (steel prop) dan link bar untuk menopang atap lapangan,
serta coal pick untuk ekstraksi batubara. Sedangkan kereta tambang
(mine car) digunakan sebagai alat transportasi batubara.

Gambar

LW

mundur

menggunakan

steel

prop

&

link

bar

(Sumber: PT Kitadin Embalut, Kaltim)

Gambar

Ekstraksi

batubara

menggunakan

coal

pick

(Sumber: PT Fajar Bumi Sakti, Kaltim)


Untuk lebih meningkatkan efisiensi penambangan, mekanisasi tambang
dalam secara menyeluruh atau sebagian (semi mekanisasi) dapat

dilakukan dengan terlebih dulu memperhatikan kondisi geologi dan


perencanaan penambangan secara jangka panjang. Mekanisasi pada
lapangan penggalian misalnya melalui kombinasi penggunaan drum cutter
dan penyangga berjalan (self-advangcing support), sedangkan pada
fasilitas transportasi batubara misalnya dengan menggunakan belt
conveyor.

Gambar

Ekstraksi

batubara

menggunakan

drum

cutter

(Sumber:
http://www.coaleducation.org/technology/Underground/images/Joy_Mining
/Longwall-Face.jpg )

Gambar Self-advancing support


Apabila kegiatan penggalian batubara di suatu blok sudah selesai, maka
safety pillar akan disisakan untuk menjamin keamanan tambang dari
bahaya ambrukan. Pada saat itu, tail gate dan main gate harus disekat
(sealing) sempurna untuk mencegah masuknya aliran udara segar
sehingga proses oksidasi batubara pada gob terhenti. Di dalam lokasi
yang telah disekat, kadar gas metana akan terus bertambah, sedangkan
oksigen akan menurun.

Gambar 14. Akhir penggalian LW mundur.

Dibandingkan dengan LW maju yang dapat segera berproduksi,


diperlukan waktu yang lebih lama dan biaya material yang mencukupi
pada LW mundur untuk persiapan lapangan penggaliannya. Meskipun
demikian, dengan maintenance lorong dan pengaturan sistem ventilasi
yang relatif mudah menyebabkan LW mundur lebih aman dari resiko
ambrukan dan swabakar. Selain itu, kondisi geologi yang akan dihadapi
saat penggalian di lapangan nantinya dapat diprediksi lebih dulu ketika
dilakukan penggalian lorong dalam rangka persiapan lapangan. Dengan
demikian, langkah antisipasi untuk mengatasi fenomena geologi yang
tidak menguntungkan yang mungkin timbul pada saat penambangan
dapat diperhitungkan dengan baik

Gambar 1. Batas Kritis Metode Penambangan

Karena letak cadangan yang umumnya berada jauh dibawah tanah, jalan
masuk perlu dibuat untuk mencapai lokasi cadangan. Jalan masuk dapat
dibedakan menjadi beberapa

Ramp, jalan masuk ini berbentuk spiral atau melingkar mulai dari
permukaan tanah menuju kedalaman yang dimaksud. Ramp biasanya
digunakan untuk jalan kendaraan atau alat-alat berat menuju dan dari
bawah tanah.

Shaft, yang berupa lubang tegak (vertikal) yang digali dari permukaan
menuju cadangan mineral. Shaft ini kemudian dipasangi semacam lift
yang dapat difungsikan mengangkut orang, alat, atau bijih.

Adit, yaitu terowongan mendatar (horisontal) yang umumnya dibuat


disisi bukit atau pegunungan menuju ke lokasi bijih.

Level Adalah lubang bukaan tambang bawah tanah yang


dihubungkan

dengan

shaft.

Level

merupakan

dasar

tempat

penggalian bijih yang terletak diatas maupun di bawahnya.


Maksud pembuatan level :

Untuk memulai dan mengawali penggalian endapan bijih


(stoping)

Untuk jalan angkut

Untuk prospecting
Faktor yang menentukan jarak antar level :

Ongkos penambangan dan pemeliharaan pada setiap level


Macam/type dari badan bijih
Bentuk penyebaran deposit
Macam penyanggaan terhadap hanging wall
Kecepatan pekerjaan penggalian endapan bijih
Metoda penambangan
Dip dari badan biji

Macam lubang bukaan :


1. Vertikal shaft
2. Inclined shaft
3. Combined shaft
4. Tunnel
5. Drift
6. Adit

DAFTAR PUSTAKA
. http://www.ptbukitasam.com/
. http://www.coaleducation.org/
. http://ja.wikipedia.org
. http://en.wikipedia.org/wiki/Room_and_pillar.
http://artikelbiboer.blogspot.com/2010/01/tambang-bawah-tanah-undergroundmine.html
http://www.dim.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=419&Itemid=425
http://www.dim.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=419&Itemid=425
http://www.scribd.com/doc/26837644/2-pembukaan-Tbg-bawah-tanah
http://www.docstoc.com/docs/12908357/Klasifikasi-Sumberdaya-dan-CadanganBatubara/
http://pubs.usgs.gov/usbmic/ic-9298/html/camm5sfo.htm
http://194.132.104.143/Websites%5CRDE%5Cwebsite.nsf/
$All/DD6EE84F7D32F22F4125674D004C122B?OpenDocument
http://translate.google.co.id/translate?js=y&prev=_t&hl=id&ie=UTF8&layout=1&eotf=1&u=http%3A%2F%2Fwww.esg.ca%2Fcontent%2Fsub-levelcaving-operations-gold-extraction-abitibi-region-quebec&sl=en&tl=id
http://achmadinblog.wordpress.com/2010/05/04/metode-penambangan/