Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kelenjar tiroid merupakan bagian dari sistem endokrin. Dimana sistem endokrin sendiri
adalah suatu sistem kelenjar yang menghasilkan suatu mediator kimia yang disebut hormon.
Kelainan glandula thyroidea dapat berupa gangguan fungsi, seperti tirotoksikosis, atau perubahan
susunan kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit tiroid noduler. Berdasarkan patologinya,
pembesaran tiroid umumnya disebut struma. 1
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena
pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau
perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Struma nodosa nontoksik merupakan
struma nodosa tanpa disertai tanda- tanda hipertiroidisme. Pembesaran
kelenjar tiroid ini bukan merupakan proses inflamasi atau neoplastik dan
tidak berhubungan dengan abnormalitas fungsi tiroid.1
Kelainan ini dapat terjadi akibat proses fisiologis ataupun patologis.
Keadaan ini normal terjadi pada masa pubertas, menstruasi, ataupun pada
kehamilan. Sedangkan pada kekurangan iodium, kelainan kongenital, atau
akibat konsumsi makanan atau obat-obatan yang bersifat goitrogenik
keadaan ini merupakan proses patologis yang harus diterapi. Kelainan ini
sangat sering terjadi terutama di daerah endemik dengan defisiensi iodin.
Struma nodosa endemik terjadi pada 10% populasi suatu daerah. Sedangkan
struma nodosa yang bersifat sporadik disebabkan oleh multifaktor seperti
lingkungan dan genetik dan tidak melibatkan populasi umum.

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGIS KELENJAR THYROID

II.1. ANATOMI KELENJAR THYROID


Kelenjar tiroid berkembang dari endoderm yang berasal dari sulcus pharyngeus pertama
dan kedua, pada garis tengah. Tempat pembentukan kelenjar tiroid ini menjadi foramen sekum di
pangkal lidah. Jaringan endodermal ini turun ke leher sampai setinggi cincin trakea ke 2 dan ke 3
yang kemudian mebentuk dua lobi. Penurunan ini terjadi pada garis tengah. Saluran pada
struktur endodermal ini tetap ada dan menjadi duktus tyroglosus atau, lebih sering mengalami
obliterasi menjadi lobus piramidalis kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid janin secara fungsional mulai
mandiri pada minggu ke-12 masa kehidupan intrauterine. 1
Kelenjar tiroid terletak di atas permukaan anterior kartilago thyroid trakea, tepat dibawah
laring, terdiri atas 2 lobus lateral yang dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2
dan 3. Kelenjar tyroid terletak dibagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia
prevertebralis . Di dalam ruang yang sama terdapat trakhea, esophagus, pembuluh darah besar
dan saraf. Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pratrakea, melingkari trachea
dua per tiga bahkan sampai tiga per empat lingkaran sehingga pada setiap gerakan menelan
selalu diikuti dengan gerakan terangkatnya kelenjar kearah kranial, yang merupakan ciri khas
kelenjar tiroid. Sifat inilah yang digunakan di klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di
leher berhubungan dengan kelenjar tiroid atau tidak. 1,2

Gambar 2.1. Anatomi Kelenjar tiroid


Kelenjar tiroid kaya akan vaskularisasi, yaitu yang berasal dari empat sumber, a. carotis
superior kanan dan kiri , cabang a. carotis eksterna kanan kiri, dan kedua a. tyroidea inferior
kanan kiri, cabang a. brachialis. Adapun sistem venanya terdiri atas v. tyroidea superior berjalan
bersama arterinya ; v. tyroidea berada di lateral, berdekatan dengan a. tyroidea inferior, dan v.
tyroidea inferior, yang berada dalam satu arah dengan a. tyroidea ima. Terdapat dua saraf yang
mempersarafi laring dengan pita suara ( plika vokalis, yaitu n. recuren dan , cabang dari n.
laryngeus inferior. 1,2,4

Gambar 2.2. Vaskularisasi Kelenjar tiroid

Nodus Lymfatikus tyroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakhealis yang
kemudian ke arah nodus prelaring yang tepat di atas istmus, dan ke nl. Pretrakhealis dan nl.
Paratrakhealis, sebagian lagi bermuara ke nl. Brakhiosefalika dan ada yang langsung ke duktus
thoraksikus. Hubungan ini penting untuk menduga penyebaran keganasan. 2

II.2. FISIOLOGI KELENJAR THYROID


Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif
hormon ini adalah triyodotironin (T3), yang sebagian besar berasal dari konversi hormon T4 di
perifer,dan sebagian kecil dibentuk langsung oleh kelenjar tiroid. Yodida anorganik yang diserap
dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Yodida anorganik mengalami oksidasi
menjadi bentuk organic dan selanjutnya menjadi bagian dari tirosin yang terdapat dalam
tiroglobulin sebagai monoyodotirosin (MIT) atau diyodotirosin (DIT). Senyawa atau konjugasi
DIT dengan MIT atau dengan DIT yang lain akan menghasilkan T3 atau T4, yang disimpan di
dalam koloid kelenjar tiroid. Sebagian besar T4 dilepaskan ke sirkulasi , sedangkan sisanya tetap
di dalam kelenjar yang kemudian mengalami deyodinasi untuk selanjutnya menjalani daur ulang.

Dalam sirkulasi, hormon tiroid terikat pada protein yaitu Tiroid Binding Globulin (TBG) atau
Tiroksin Binding- Prealbumin (TBPA). 1,2,3

Gambar 2.3. Patofisiologi pembentukan hormone thyroid

Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh suatu hormon stimulator tiroid (Tiroid
Stimulating Hormone , TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Kelenjar
hipofisis secara langsung dipengaruhi dan diatur aktivitasnya oleh kadar hormon tiroid dalam
sirkulasi yang bertindak sebagai negative feed back terhadap lobus anterior hipofisis, dan
terhadap sekresi Tirotropin Releasing Hormone (TRH) dalam hipotalamus. Hormon tiroid
mempunyai pengaruh yang sangat bervariasi terhadap jaringan atau organ tubuh yang pada
umumnya berhubungan dengan metabolisme sel. 1,3

Bagan 2.1. Pengaruh hipotalamus dalam pembentukan hormone tiroid

Pada kelenjar tiroid juga didapatkan sel parafolikuler, yang menghasilkan calcitonin.
Calcitonin adalah suatu polipeptida yang turut mengatur metabolisme kalsium yaitu menurunkan
kadar kalsium serum, melalui pengaruhnya terhadap tulang.
Ada 4 macam kontrol terhadap faal kelenjar tiroid :
1. TRH (Thyrotrophin releasing hormone)
Tripeptida yang disentesis oleh hpothalamus. Merangsang hipofisis mensekresi TSH
(thyroid stimulating hormone) yang selanjutnya kelenjar tiroid teransang menjadi
hiperplasi dan hiperfungsi
2. TSH (thyroid stimulating hormone)
Glikoprotein yang terbentuk oleh dua sub unit (alfa dan beta). Dalam sirkulasi akan
meningkatkan reseptor di permukaan sel tiroid (TSH-reseptor-TSH-R) dan terjadi efek
hormonal yaitu produksi hormon meningkat

3. Umpan Balik sekresi hormon (negative feedback).


Kedua hormon (T3 dan T4) ini menpunyai umpan balik di tingkat hipofisis. Khususnya
hormon bebas. T3 disamping berefek pada hipofisis juga pada tingkat hipotalamus.
Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan hipifisis terhadap rangsangan TSH.
4. Pengaturan di tingkat kelenjar tiroid sendiri.
Produksi hormon juga diatur oleh kadar iodium intra tiroid

Efek Hormon Thyroid : 2


1. Efek pada laju metabolisme
Hormon tiroid meningkatkan laju metabolik basal tubuh. Hormon ini adalah regulator
terpenting bagi tingkat konsumsi O2 dan pengeluaran energi tubuh pada waktu istirahat.
2. Efek Kalorigenik
Peningkatan laju metabolisme yang dilakukan hormon tiroid juga menyebabkan
peningkatan produksi panas (efek kalorigenik) .
3. Efek pada metabolisme perantara
Mempengaruhi sintesis dan penguraian karbohidrat, lemak dan protein. Kadar hormon
tiroid dalam plasma yang berlebihan akan lebih menimbulkan efek peningkatan konsumsi bahan
bakar dibandingkan dengan efek penyimpanan bahan bakar.
4. Efek simpatomimetik
Adalah setiap efek yang serupa dengan yang dihasilkan oleh saraf simpatis. Hormon
tiroid meningkatkan ketanggapan sel sasaran terhadap katekolamin. Karena itu banyak efek yang
dijumpai pada saat sekresi hormon tiroid meningkat serupa dengan efek yang menyertai
peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis.
5. Efek pada sistem kardiovaskuler
Hormon tiroid meningkatkan kecepatan denyut jantung san kekuatan kontraksi jantung,
sehingga curah jantung meningkat.

6. Efek pada pertumbuhan dan Sistem saraf


Hormon tiroid tidak hanya merangsang sekresi hormon pertumbuhan tetapi juga
mendorong efek hormon pertumbuhan pada sintesis protein struktural baru dan pada
pertumbuhan rangka. Anak yang mengalami defisiensi tiroid mengalami gangguan
pertumbuhan , yang reversibel dan jika kelebihan hormon tiroid maka juga menyebabkan
pertumbuhan yang berlebihan.

BAB III
STRUMA NODOSA NON TOKSIK

III.1 DEFINISI
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena
pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau
perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Struma nodosa nontoksik merupakan
struma nodosa tanpa disertai tanda- tanda hipertiroidisme. Pembesaran
kelenjar tiroid ini bukan merupakan proses inflamasi atau neoplastik dan
tidak berhubungan dengan abnormalitas fungsi tiroid.1
Menurut American society for Study of Goiter membagi :
1. Struma Non Toxic Diffusa
2. Struma Non Toxic Nodusa
3. Stuma Toxic Diffusa
4. Struma Toxic Nodusa
Istilah Toksik dan Non Toksik dipakai karena adanya perubahan dari segi fungsi fisiologis
kelenjar tiroid seperti hipertiroid dan hipotyroid, sedangkan istilah nodusa dan diffusa lebih
kepada perubahan bentuk anatomi.

III.2 ETIOLOGI
Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut
sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah
pegunungan yang air minumya kurang sekali mengandung yodium. Berat ringannya endemisitas
dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang
9

masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis
gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %,
endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %. 1
Etiologi lain yaitu kelebihan yodium, jarang dan pada umumnya terjadi pada preexisting
penyakit tiroid autoimun , Goitrogen (Obat : Propylthiouracil, litium, phenylbutazone,
aminoglutethimide, expectorants yang mengandung yodium , Agen lingkungan : Phenolic dan
phthalate ester derivative dan resorcinol berasal dari tambang batu dan batubara, Makanan,
Sayur-Mayur jenis Brassica ( misalnya, kubis, lobak cina, brussels kecambah), padi-padian
millet, singkong, dan goitrin dalam rumput liar), Dishormonogenesis (Kerusakan dalam jalur
biosynthetic hormon kelejar tiroid), Riwayat radiasi kepala dan leher . 6
Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda, awalnya difus kemudian
berkembang menjadi multinodular. Struma multinodosa biasanya terjadi pada wanita berusia
lanjut, dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa kombinasi bagian yang hyperplasia dan
bagian yang berinvolusi.1
III.3. PATOGENESIS
Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan hormon
tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam pembentukan TSH oleh
hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang
berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah
yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin bertambah besar.
Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran
folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. 1,3
III.4. MANIFESTASI KLINIK
Biasanya penderita struma nodosa tidak mempunyai keluhan karena tidak terdapat hipoatau hipertiroidisme. Secara umum struma adenomatosa benigna walaupun besar, tidak
menyebabkan gangguan neurologic, muskuloskletal, vascular, atau respirasi, atau menyebabkan
gangguan menelan akibat tekanan dan dorongan. Karena pertumbuhan secara perlahan, struma
dapat menjadi besar tanpa memberikan gejala, selain adanya benjolan di leher , yang dikeluhkan

10

terutama atas alasan kosmetik. Keluhan lain yang juga timbul yaitu sering timbul rasa berat di
leher karena adanya benjolan yang bergerak naik turun waktu menelan. 1
Walaupun sebagian besar dari struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena
perumbuhan ke lateral atau ke anterior, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea
jika pembesarannya bilateral. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan trakea
kearah kontralateral, tanpa gangguan akibat obstruksi pernapasan. Penyempitan yang hebat dapat
menyebabkan gangguan pernapasan dengan gejala stridor inspiratoar.1
Sruma dapat meluas sampai ke mediastinum anterior superior, terutama pada bentuk
nodulus yang disebut struma retrosternum. Umumnya, struma retrosternum ini tidak turun naik
pada gerakan menelan karena apertura toraks terlalu sempit. Seringkali struma ini berlangsung
lama dan asimptomatik sampai terjadi penekanan ke organ-organ atau jaringan sekitar sehingga
dapat timbul gejala dan tanda penekanan trakhea dan esophagus. 1
Sekitar 5% dari struma nodosa mengalami degenerasi maligna. Tanda keganasan yang
dapat dievaluasi berupa setiap perubahan bentuk , pertumbuhan yang lebih cepat, dan tanda
infiltrasi pada kulut dan jaringan sekitar, juga fiksasi pada jaringan sekitar. Penekanan atau
infiltrasi dapat terjadi ke n. recurens ( perubahan suara), trakhea ( dispnea), atau esophagus
(disfagia). 1
Benjolan tunggal harus mendapat perhatian yang cukup karena nodul tunggal dapat
berupa nodol koloid, kistik, adenoma tiroid, dan atau suatu karsinoma tiroid. Nodul maligna
sering ditemukan terutama pada pria usia muda dan usia lanjut. 1
III.5 DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Anamnesis sangatlah penting untuk mengetahui patogenesis atau macam kelainan dari struma
nodosa non toksika tersebut. 1
1. Apakah penderita tinggal di daerah pegunungan atau daerah endemis dan banyak
tetangga yang sakit seperti penderita (struma endemik). Apakah sebelumnya penderita
pernah mengalami sakit leher bagian depan bawah disertai peningkatan suhu tubuh
11

(tiroiditis kronis). Apakah ada yang meninggal akibat penyakit yang sama dengan
penderita (karsinoma tiroid tipe meduler).
2. Apakah ada keluhan sesak , perubahan suara dan gangguan menelan
3. Progesifitas pertumbuhan : lambat/ cepat . 1
PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik biasanya didapatkan tanda vital yang normal
Pemeriksaan Status Lokalis, terdiri dari : 1
INSPEKSI
Inspeksi dilakukan dari depan penderita, yang perlu diperhatikan :
1. Apakah benjolan pada leher bergerak naik turun waktu menelan
2. Apakah kulit disekitarnya hiperemi, seperti kulit jeruk, ulserasi.
PALPASI
Palpasi dapat dilakukan pada pasien dalam sikap duduk atau berbaring, Pada sikap
duduk, pemeriksaan dilakukan dari belakang penderita dengan ibu jari kedua tangan pada
tengkuk penderita dan jari-jari lain meraba benjolan pada leher penderita. Yang perlu dinilai :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri, kanan atau keduanya)
Ukuran (diameter terbesar dari benjolan, nyatakan dalam sentimeter)
Jumlah nodul; tunggal atau multinodular
Konsistensi
Nyeri pada penekanan : ada atau tidak
Mobilitas
Infiltrat terhadap kulit/jaringan sekitar
Apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila tak teraba mungkin ada bagian

yang masuk ke retrosternal)


9. Pembesaran kelenjar getah bening leher, umumnya metastase karsinoma tiroid
pada rantai juguler.
Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul yang multiple, namun pada umumnya
pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya keras sampai sangat keras. Yang
multiple biasanya tidak ganas kecuali bila salah satu nodul tersebut lebih menonjol dan lebih
12

keras dari pada yang lainnya. Tanda keganasan yang dapat dievaluasi berupa setiap perubahan
bentuk , pertumbuhan yang lebih cepat, dan tanda infiltrasi pada kulut dan jaringan sekitar, juga
fiksasi pada jaringan sekitar. Penekanan atau infiltrasi dapat terjadi ke n. recurens ( perubahan
suara), trakhea ( dispnea), atau esophagus (disfagia).

III.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan biokimia secara radioimunoesai. 1,
Pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran fungsi tiroid, yaitu dengan mengukur kadar
T4, T3, FT4, TBG dan TSH dalam plasma. Kadar T4/FT4 total di dalam serum adalah refleksi
tepat untuk fungsi kelenjar tiroid. Kadar T3 total di dalam serum selalu tinggi pada penderita
tirotoksikosis. Penentuan kadar TBG kadang kala diperlukan untuk interpretasi kadar T4 dan
sampai tingkat tertentu berlaku untuk kadar T3. Kadar TBG dapat berubah pada kehamilan
atau pada pengobatan dengan estrogen. Kadar TSH serum merupakan pemeriksaan penyaring
yang peka untuk hipotiroidisme karena kadar ini meningkat sebelum ada pengurangan kadar
T4.
Pada struma non toksik biasanya menunjukan hasil pemeriksaan fungsi tiroid yang
normal. 1
2. Pemeriksaan Antibodi mikrosom dan antibody tiroglobulin
Umumnya meningkat pada penderita dengan tiroiditis autoimun. Imunoglobulin
perangsang tiroid (Thyroid Stimulating Immunoglobulins, TSI) dapat ditemukan pada
penderita penyakit Graves. Kenaikan kadar tiroglobulin dapat digunakan untuk mengetahui
rekurensi karsinoma tiroid sesudah tiroidektomi total. 1
3. Pemeriksaan radiologi
Foto rontgen thoraks dan leher untuk melihat trakea dan ekstensi substernal. Biasanya
dilakukan jika terdapat pendorongan struma bilateral dan pada struma retrosternum. 1
4. Pemeriksaan sidik radioaktif / thyro-scan
13

Pemeriksaan tiroid dilaksanakan dengan unsure radioaktif teknesium (Tc99m) atau


yodium 131 (I 131) dapat menunjukan gambaran fungsional jaringan tiroid dengan melihat
kemampuan up take terhadap unsure radioaktif tersebut di atas. 1
Pada pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam secara fotografik
ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid. Cara ini berguna untuk
menentukan apakah nodul dalam kelenjar tiroid bersifat hiperfungsi ( nodul panas = hot
nodule ), hipofungsi ( nodul hangat = warm nodule ), atau nodul dingin.

1. Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya.
Hal ini menunjukkan keadaan sekitarnya.
2. Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Keadaan
ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
3. Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berarti fungsi
nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
Kemungkinana keganasan ternyata lebih besar pada nodul dingin meskipun
karsinoma tiroid dapat juga ditemukan pada nodul hangat atau bahkan nodul panas,
seperti pada anak-anak.
5. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Teknik ultrasonografi digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid, baik
yang teraba pada palpasi maupun yang tidak teraba, merupakan nodul tunggal atau
multipel, padat atau kistik. Pemeriksaan ultrasonografi ini terbatas nilainya dalam
menyingkirkan kemungkinan keganasan dan hanya dapat mendeteksi nodul yang
berpenampang lebih dari setengan sentimeter. 1

14

PEMERIKSAAN SITOLOGI
1. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration, FNA)
Mempergunakan jarum suntik no. 22-27. Pada kista dapat juga dihisap cairan
secukupnya, sehingga dapat mengecilkan nodul. Biopsi aspirasi jarum halus adalah cara
terbaik untuk mendiagnosis kemungkinan keganasan dalam nodul tiroid, dan dianggap
sebagai cara diagnosis yang lebih akurat dibandingkan pemeriksaan radioaktif ataupun
ultrasonografi. 1
Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi
biopsi kurang tepat, teknik biopsi kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik
atau positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi.
III.7. PENATALAKSANAAN
Pada awalnya , sebagian dari struma multinodosa dapat dihambat pertumbuhannya
dengan pemberian hormon tiroksin. Struma nodosa yang berlangsung lama biasanya tidak
dapat lagi dipengaruhi dengan pengobatan supresi hormone tiroid, atau pemberian hormone
tiroid. Sehingga penanganannya harus dilakukan tiroidektomi subtotal dengan indikasi yang
tepat. 1
Pada struma retrosternum dapat dilakukan melalui insisi di leher, dan tidak memerlukan
torakotomi karena pendarahan berpangkal pada pembuluh darah di leher. Jika letaknya di

15

dorsal a. subclavia, pembedahan dilakukan secara torakotomi . Ada beberapa macam untuk
penatalaksanaan medis jenis-jenis struma antara lain sebagai berikut:

A. YODIUM RADIOAKTIF 1,5

Terapi ini dilakukan pada nodul tiroid autonom atau nodul panas (fungsional) baik yang
dalam keadaan eutiroid dan hipotiroid. Terapi iodium radioaktif juga dapat diberikan kepada
struma multinodosa non toksik terutama bagi pasien yang tidak bersedia di operasi atau
mempunyai resiko besar operasi.
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid
sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian
yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut
berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh
lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik.
Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah
sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat
tiroksin.
B. TERAPI SUPRESI DENGAN I-TIROKSIN

Terapi supresi dengan hormone tiroid (levotiroksin) merupakan pilihan yang paling
sering dan mudah dilakukan. Terapi supresi dapat menghambat pertumbuhan nodul serta
mungkin bermanfaat pada pertumbuhan nodul yang kecil. Tidak semua ahli setuju melakukan
terapi supresi karena hanya sekitar 20% nodul yang responsive. Bila kadar TSH sudah dalam
keadaan tersupresi , terapi dengan I-tiroksin tidak dilakukan. Terapi supresi dilakukan dengan
memberikan I-tiroksin dalam dosis supresi dengan sasaran kadar TSH sekitar 0,1-0,3 Miu/ml,
biasanya diberikan selama 6-12 bulan, dan bila dalam waktu tersebut nodul tidak mengecil
atau bertambah besar , perlu dilakukan biopsy ulang atau disarankan operasi. 1,5

16

C. TERAPI PEMBEDAHAN
Pembedahan pada struma dapat dibagi menjadi :

Pembedahan diagnostik berupa biopsy insisi atau biopsy eksisi.


Dimana sekarang ini biopsy eksisi jarang dilakukan dan sudah digantikan dengan
penggunaan biopsy jarum halus. Biopsi diagnostik dilakukan pada keadaan tumor yang
tidak dapat dikeluarkan, seperti karsinoma anaplastik. 1

Pembedahan terapeutik
Dapat berupa lobektomi total, lobektomi subtotal, istmolobektomi, dan tiroidektomi total.
Tiroidektomi total dilakukan pada karsinoma tiroid berdiferensiasi baik, atau karsinoma
medularis, dengan atau tanpa diseksi leher radikal. Untuk struma mononoduler nontoksik
dan non maligna dapat dilakukan hemotiroidektomi , istmolobektomi, atau tiroidektomi
subtotal. 1
Tabel 3.1. Prosedur Pembedahan Tiroid
Prosedur pembedahan

Contoh indikasi

Biopsi insisi

Struma difus pradiagnosis

Biopsi eksisi

Tumor (nodul) terbatas pradiagnosis

Tiroidektomi Subtotal

Hipertiroid (Graves)
Multinoduler bilateral
Plummers disease
Hassimotios disease

Hemitiroidektomi (istmolobektomi)

Karsinoma anaplastik
Limfoma

Tiroidektomi total

Keganasan terbatas tanpa kelainan kelenjar


limfe, seperti Karsinoma tiroid, Graves
disease dan multinodular bilateral

Tiroidektomi radikal

Keganasan tiroid dengan kemungkinan


metastasis ke kelenjar limf regional
17

Indikasi pembedahan pada struma nodosa non toksik1


1.
2.
3.
4.
5.

Kosmetik (tiroidektomi subtotal)


Eksisi nodulus tunggal
Struma multinoduler yang berat
Struma yang menyebabkan kompresi laring atau striktur leher lain
Struma retrosternal yang menyebabkan kompresi trakea atau struktur lain.
Pembedahan dilakukan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum

pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari.
Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup
memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk
menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan.
PENYULIT PEMBEDAHAN STRUMA
Tiroid merupakan organ endokrin yang kaya vaskularisasi. Dimana tiroid mendapat aliran
darah empat atau lima arteri dan secara anatomi letaknya berdekatan dengan beberapa alat dan
struktur penting di leher. 1
Penyulit pembedahan diantaranya adalah perdarahan , cedera pada n. laryngeus rekurens
unilateral atau bilateral, kerusakan cabang eksternus n. laringeus superior, cedera pada trakea,
atau pada esophagus. Pembedahan pada struma yang besar dapat mengakibatkan tracheamalacia, yaitu kolaps nya trakea akibat hilangnya bantuan vaskularisasi , hilangnya sandaran
yang selama ini juga di dapat dari struma yang melingkari trakea sampai dua pertiga nya. 1
Penyulit lain yang berbahaya pasca bedah adalah adanya hematoma di lapangan operasi
yang menimbulkan penekanan terutama terhadap trakea dan obstruksi nafas. 1
Krisis tiroid atau tiroroksikosis adalah penyulit yang sangat berbahaya dan harus
ditanggulangi segera untuk menghindari kematian. Krisis tirotoksikosis merupakan hipertiroid
hebat yang berkembang sewaktu atau segera setelah pembedahan pada penderita hipertiroid.
Krisis tiroid ditandai dengan takikardi dan gejala/ tanda hipertiroid lain yang bersifat akut dan
hebat. 1
Tabel.3.2. Penyulit Bedah Tiroid

Saat Kejadian

Penyulit
18

- pendarahan
Langsung saat pembedahan
- cedera n. rekurens uni- atau bilateral
- cedera pada trakea, esophagus atau saraf di
leher
- Kolaps trakea
- Terangkatnya seluruh kelenjar paratiroid
- Terpotongnya duktus torasikus di leher kanan
- Perdarahan di leher
Segera pasca bedah
- Perdarahan di mediastinum
- Udem laring
- Kolaps trakea
- Krisis tiroid / tirotoksikosis
- Hematom
Beberapa jam sampai beberapa - Infeksi luka
- Udem laring
hari pasca bedah
- Paralisis n. rekurens
- Cedera n. laringeus superior menjadi nyata
- Hipokalsemia
- Hipotiroid
Lama pasca bedah
- Hipoparatiroid/ hipokalsemia
- Paralisis n. rekurens
- Cedera n. laringeus superior
- Nekrosis kulit
- Kebocoran duktus torasikus

III.8 PROGNOSIS
Prognosis Struma nodosa non-toxic umumnya baik karena struma nodosa nontoxic
tumbuh lambat dan kadang asimptomatik. Untuk pertumbuhan struma yang cepat harus
dievaluasi degenerasi sel dan evaluasi pendarahan dari nodul dimana kemungkinan kearah
keganasan. Sering pada pasien dengan pertumbuhan goiter yang progresif, yang mempunyai
keluhan dysphagia dan dyspneu harus dievaluasi dengan tiroidektomi subtotal.

19

BAB IV
KESIMPULAN

Struma nodosa nontoksik merupakan struma nodosa tanpa disertai


tanda-

tanda

hipertiroidisme.

Pembesaran

kelenjar

tiroid

ini

bukan

merupakan proses inflamasi atau neoplastik dan tidak berhubungan dengan


abnormalitas fungsi tiroid. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang
kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering
ditemukan di daerah pegunungan yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan
goitrogen yang menghambat sintesis hormon oleh zat kimia. Karena pertumbuhan secara
perlahan, struma dapat menjadi besar tanpa memberikan gejala, selain adanya benjolan di leher ,
yang dikeluhkan terutama atas alasan kosmetik. Untuk mengetahui fungsi kelenjar tiroid dapat
dilakukan pemeriksaan biokimia, kadar hormone dan antibody tiroid sedangkan untuk
mengetahui lokasi pembesaran dapat dilakukan pemeriksaan tes yodium radioaktif. Dan
pemeriksaan biopsy jarum halus merupakan pemeriksaan cukup akurat untuk menyingkirkan
keganasan tiroid, tiroiditis dan limfoma.
Pada awalnya , sebagian dari struma multinodosa dapat dihambat pertumbuhannya
dengan pemberian hormon tiroksin. Struma nodosa yang berlangsung lama biasanya tidak dapat
lagi dipengaruhi dengan pengobatan supresi hormone tiroid, atau pemberian hormone tiroid.
Sehingga penanganannya harus dilakukan tiroidektomi subtotal dengan indikasi yang tepat.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R dan Wim De Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi ke-2. Jakarta:

2.
3.
4.
5.

EGC
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: EGC
Sherwood, L. 2004. Fisiologi Manusia Edisi 2. Jakarta: EGC
Seymour, Schwartz. 2000. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah Edisi 6. Jakarta : EGC
Sudoyo, Aru dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, Edisi 4 FKUI. Jakarta
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

6. Lee ,Stephanie L . 2004. Goiter Non-Toxic. Medscape journal

21