Anda di halaman 1dari 2

PEMERIKSAAN PENUNJANG VERTIGO

Tes Audiologik, tidak dibutuhkan untuk untuk setiap pasien dengan keluhan pusing, tapi
mungkin lebih tepat jika ada masalah pendengaran.
a.

Audiogram, menilai pendengaran. Abnormalitas memberikan kesan vertigo otologik.


Sering cukup untuk penegakkan diagnosis. Upaya untuk memisahkan otologik dari

sumber vertigo lain.


b. Brainstem Auditory Evoked Potensial (BAEP). Test nurofisiologi ini dipergunakan bila
diduga adanya carebello pontine tumor, terutama neuroma akus tikus atau multiple
sklerosis. Kombinasi pemeriksaan BERA dan CT Scan dapat menunjukkan konfirmasi
diagnostik tumor.2
c. Otoacoustic Emission (OAE) menilai suara oleh telinga pasien sendiri. Cara ini cepat
dan sederhana. OAE berguna dalam mendeteksi malingering, gangguan pendengaran
sentral dan orang- orang dengan neuropati auditorik. Dalam situasi ini, OAE dapat
dilakukan bahkan bila pendengaran subjektif berkurang. Ketika ada potensi malingering,
sering audiologist melakukan beberapa tes untuk uji pendengaran objektif, tes dapat
mendeteksi kehilangan pendengaran psikogenik. OAE biasanya tidak membantu padang
d.

orang- orang usia > 60 tahun karena OAE menurun dengan usia.
Electrocochleografi (ECOG) adalah sebuah potensi bangkitan yang menggunakan
electrode perekam yang diposisikan dalam gendang telinga. ECOG membutuhkan
frekuensi pendengaran yang tinggi. ECOG yang abnormal memberi kesan penyakit
Meniere. ECOG itu sulit dan interpretasi dari hasil harus memnuhi penilaian bentuk
gelombang.

2.

Tes Vestibular tidak dibutuhkan untuk setiap pasien dengan keluhan pusing. Penelitian
primer- Tes Elektronystagmography (ENG), membantu bila diagnosis masih belum jelas
setelah anamnesis dan pemeriksaan. ENG secara bertahap digantikan dengan tes VEMP.

a.

ENG merupakan prosedur beruntun yang dapat mengidentifikasi vestibular asimetris


(seperti yang disebabkan oleh neuritis vestibular) dan membuktikan nistagmus spontan
dan posisi (seperti yang disebabkan oleh BPPV). ENG adalah tes yang panjang dan sulit.
Jika ada hasil yang abnormal dan tidak sesuai dengan gejala klinis sebaiknya
dikonfirmasi denga tes kursi putar dan dikombinasi dengan tes VEMP.

b. VEMP merupakan tes vestibular dasar karena ini memberikan keseimbangan yang baik
untuk keperluan diagnostic dan toleransi pasien. Tes ini sensitif terhadap sindrom
dehiscence kanal superior. Kehilangan vestibular bilateral dan neuroma kaustik. VEMP
c.

secara umum normal pada neuritis dan penyakit Menier.


Posturografi adalah sebuah instrument dari tes Romberg. Ini sangat berguna untuk
malingering dan juga mempunyai kegunaan melihat perkembangan orang- orang yang
menjalani pengobatan.

3.

Pemeriksaan labor darah, dilakukan bila ada gejala spesifik kompleks dan tidak ada
pemeriksaan rutin untuk pasien denga keluhan pusing. Dalam faktanya pemeriksaan
kimia, hitung jenis , tes toleransi glukosa, tes alergi tidak secara rutin diperiksa.

4. Pemeriksaan Radiologi, foto tengkorak, foto vertebrae servikal, CT scan kepala dan sinus
tidak direkomendasikan secara rutin dalam evaluasi vertigo.
a.

MRI kepala, mengevaluasi kesatuan struktural batang otak, serebelum, periventrikuler


substansia putih, dan kompleks nervus VIII. MRI tidak secara rutin dibutuhkan untuk

evaluasi vertigo tanpa penemuan neurologis yang lain berkaitan.


b. CT Scan tulang temporal memberikan resolusi tinggi dari struktur telinga daripada MRI
dan juga lebih baik untuk evaluasi lesi yang melibatkan tulang. CT tulang temporal
mutlak dibutuhkan untuk diagnosis dehiscence canal superior. Jenis koronal langsung
resolusi tinggi adalah yang terbaik untuk diagnosis ini. CT Scan tulang temporal banyak
memancarkan radiasi dan untuk alasan ini, tes VEMP direkomendasikan sebagai tes awal
untuk dehiscence canal superior.
5. Pemeriksaan lainnya
a.

EEG digunakan untuk diagnosis kejang. Hasilnya sangat rendah untuk pasien dengan
keluhan pusing.