Anda di halaman 1dari 15

Kerangka Program

CSO-Health Provider Partnership Dalam


Program Penanggulangan HIV-AIDS
Delivering Expanded Resources for AIDS Programming Project (DERAP)

Latarbelakang
Program penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia telah dimulai sejak sekitar
tahun 1987 setelah ditemukan kasus AIDS pertama. Eskalasi program
penanggulangan HIV-AIDS meningkat sejak tahun 1999 sampai dengan
sekarang ditandai adanya bantuan pembiayaan yang besar dari Negara
tetangga USA melalui USAID dan Australia melalui AUSAID. Pemerintah
Indonesia pun telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan
penanggulangan AIDS dengan membentuk Komisi Penanggulangan AIDS
(KPA) pada taun 1994. KPA dibentuk untuk melakukan koordinasi upaya
penanggulangan AIDS yang dirasakan perlu melibatkan antar kementerian
tidak hanya Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Indonesia saat ini digolongkan di dalam negara dengan epidemi HIV
terkonsenterasi menurut kriteria WHO, artinya pada satu atau lebih populasi
kunci prevalensi HIV telah lebih besar dari 5%. Populasi kunci yang memiliki
prevalensi HIV tinggi adalah pengguna napza suntik, waria, LSL, dan pekerja
seks serta pelanggannya. Satu analisis terkini yang masih memerlukan
konfirmasi, bahwa pada tahun 2014 terjadi kecenderungan peningkatan
epidemi HIV secara tajam pada beberapa populasi kunci. Data STBP 2011
menunjukkan data adanya peningkatan prevalensi HIV pada LSL dari 5%
tahun 2007 menjadi 12%. Pada populasi Waria memang terjadi penurunan
tetapi tidak bermakna dan tetap tinggi yaitu dari 24% tahun 2007 menjadi
23%. Hal yang sama terjadi pula pada populasi WPS yaitu 10% tahun 2007
menjadi 9%. Hasil STHP tahun 2013 di dua provinsi di Tanah Papua
menunjukkan prevalensi HIV sebesar 2,3%. Namun demikian, diperkirakan
bahwa prevalensi pada populasi asli adalah lebih besar.
Pada tahun 2013 Kemenkes telah meluncurkan program Strategic Use of
Antiretroviral (SUFA) di beberapa kabupaten/kota dengan tujuan
tercapainya target nasional tentang perawatan klinik dan
pengobatan ARV bagi ODHA, meningkatnya kepesertaan dan
kepatuhan pengobatan ARV agar berdampak pada penurunan
penularan HIV. Dalam implementasinya SUFA digabungkan dengan
program Layanan Komprehensif Berkelanjutan (LKB) yang diluncurkan tahun
2012 oleh Kemenkes bersama dengan KPA Nasional. LKB adalah upaya yang
meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sebagai layanan
terpadu dan berkesinambungan untuk memberikan dukungan baik aspek
manajerial, medis, psikologis maupun sosial bagi ODHA dan masyarakat
yang membutuhkan dengan melibatkan seluruh sektor terkait, masyarakat
termasuk swasta, kader, LSM, kelompok dampingan sebaya, ODHA,
keluarga, PKK, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta
organisasi/kelompok yang ada di masyarakat. LKB/SUFA bertujuan
menurunkan jumlah kasus baru HIV, menurunkan angka kematian, dan
menurunkan stigma dan diskriminasi sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidup ODHA.

Sejak tahun 1993, USAID telah menjadi mitra penting bagi pemerintah dan
masyarakat Indonesia dalam mendukung program pengendalian penularan
HIV melalui penyediaan dukungan teknis untuk memetakan situasi epidemi
HIV dan penguatan kapasitas teknis layanan yang berkelanjutan mulai dari
pencegahan, perawatan, dan dukungan serta pengobatan. Pengembangan
kapasitas teknis tersebut termasuk dukungan terkait monitoring dan
evaluasi baik secara langsung dilakukan bagi CSOs maupun ke pemangku
kepentingan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Semasa proyek SUM II, USAID telah mengalokasikan dana hibah terbatas
kepada CSO untuk memperkuat akses dan memperluas layanan kesehatan
terkait HIV dan AIDS yang disediakan oleh Puskesmas dan Rumah Sakit
serta klinik swasta mitra kerja SUM II. CSO juga mendapat dukungan teknis
di bidang keberdayaan organisasi agar dapat menjalankan layanan program
yang berkelanjutan, mampu mengakses sumber pendanaan dari berbagai
sumber, menjalankan advokasi efektif tentang peningkatan mutu dan
cakupan layanan serta peningakatan anggaran pemerintah.
Untuk mendukung program Kemenkes RI, USAID/Indonesia melanjutkan
dukungan kepada pemerintah Indonesia melalui Projek DERAP dengan
program yang mendukung pelaksanaan LKB/SUFA di tingkat kabupaten/kota
melalui kerjasama dengan CSO dan jaringan kerjanya yakni penyedia
layanan kesehatan. Dukungan tersebut termasuk kegiatan penjangkauan
dan pendampingan (outreach) yang berorientasi pada peningkatan cakupan
layanan tes HIV sukarela, mempromsoikan perilaku hidup sehat melalui
pemakaian alat pencegahan penularan HIV secara konsisten (kondom dan
pelicin, dan/atau alat suntik); mengakses layanan pemeriksaan dan
pengobatan IMS secara reguler; mengakses pengobatan ARV secara dini;
peningkatan kepatuhan minum obat, mengakses tes viral load, serta
pemeriksaan dan pengobatan infeksi oportunistik. DERAP memiliki dua
tujuan utama yaitu:
1. Memperkuat keberdayaan kapasitas organisasi dan teknis pemangku
kepentingan tingkat kabupaten/kota untuk mendekatkan akses dan
memperluas cakupan layanan HIV dan AIDS secara terus menerus
bagi populasi kunci.
2. Menyediakan dana hibah terbatas bagi CSO untuk memperkuat
layanan komprehensif pencegahan penularan HIV, perawatan dan
dukungan, serta pengobatan ARV bagi WPS, Penasun, LSL dan Waria,
serta LBT.
Pada implementasinya, DERAP akan menyediakan dukungan teknis bagi
CSO, pemerintah dan swasta, terutama penyedia layanan kesehatan, serta
pemangku kepentingan terkait pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi di
mana DERAP bekerja. DERAP akan menyalurkan dana hibah terbatas melalui
kemitraan dengan CSO yang dimaksudkan sebagai sumber daya tambahan
dari sumber daya yang telah tersedia di masing-masing CSO. Sumber daya
tambahan ini ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program
pencegahan penularan HIV, perawatan dan dukungan serta pengobatan
ARV. Dana hibah terbatas dapat dialokasikan oleh CSO untuk mendukung
penguatan mutu dan teknis layanan klinik bagi penyedia layanan kesehatan
jaringan kerjanya.

Indentifikasi Masalah
Selama program SUM II, pelaksana program dukungan USAID/Indonesia
telah melakukan beberapa kegiatan yang inovatif namun ternyata masih
ada beberapa gap yang cukup besar antara CSO/Komunitas dengan
Pemerintah/Penyedia Layanan. Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi
gap antara program penanggulangan AIDS yang tujuannya untuk
menjangkau dan memobilisasi populasi berisiko terinfeksi HIV (sering
disebut dengan populasi kunci) dengan program penyediaan layanan
kesehatan HIV (dalam hal ini penyedia layanan kesehatan).
Gap terjadi karena beberapa situasi dan kondisi dari kedua sisi yang tidak
memungkinkan terhubung dengan baik. Selain itu gap dapat terjadi karena
adanya program penanggulangan AIDS yang dipandang sepotong-sepotong
tidak utuh walaupun mempunyai tujuan yang sama. Berdasarkan hasil
pengamatan yang dilakukan selama program SUM II paling tidak telah
teridentifikasi unsur-unsur yang terjadi gap yang mempengaruhi hubungan
tersebut antara lain:

GAP

INTEGRASI DATA, LAYANAN/PROGRAM, DAN SDM

uan:
Tujuan:
ningkatkan
Perubahan
orang
perilaku
yangyang
melakukan
lebih aman
tes HIV
ningkatkan
Meningkatkan
ODHAkesadaran
untuk mendapatkan
risiko terinfeksi
layanan
HIVkesehatan terkait HIV
ningkatkan
Meningkatkan
ODHAkesadaran
untuk mengakses
untuk tes
ARV
HIVsedini mungkin
ningkatkan
Meningkatkan
ODHAkesadaran
untuk tetap
untuk
dalam
pemeriksaan
pengobatandan
ARV
pengobatan IMS

Pelaksa
Penyedia pelayanan
kese

ta:Data:
ulasi
Populasi
populasi
kunci
kunci
danyang
karakteristiknya
tes HIV dan hasilnya
ulasi
Kebutuhan
ODHA yang
layanan
mengakses
tes HIV,ARV
pemeriksaaan IMS, pengobatan ARV, pengobatan infeksi opportunistik
ersediaan
Perubahan
layanan
perilaku
(jumlah layanan tes HIV, pemeriksanaan IMS, pengobatan ARV, pengobatan infeksi oportunistik)

yanan:
Layanan:
HIV
Menemukenali populasi kunci
meriksanaan
Penjangkauan
dan pengobatan
dan pendampingan
IMS
populasi kunci dan ODHA
gobatan
Dukungan
ARV peran aktif komunitas dan masyarakat
gobatan
Advokasi
infeksi
kebijakan
oportunistik
program dan pelayanan

M:SDM:
dokter,
Penjangkau
perawat, laborat,
lapangan,
petugas
konselor,
kesehatan
manajer
masyarakat,
kasus, staf konselor,
manajemen
manajer
program
kasus

Gambar 1. Cascade Penjangkauan-Pendampingan


Kepatuhan ARV

Unsur Data. Pada kedua sisi (biru dan hijau) mempunyai data yang
sangat baik dan bermanfaat untuk memonitor keberhasilan program
penanggulangan AIDS. Namun data yang berasal dari keduanya tidak
bisa terhubung karena ketidakpaduan dalam proses implementasi
program. CSO/Community sangat kaya data mengenai mobilisasi
populasi kunci untuk melakukan perubahan perilaku dan mendorong
untuk melakukan tes HIV. Sedangkan penyedia layanan mempunyai
data mengenai layanan yang disediakan. Sayang data keduanya tidak
terhubung dengan baik karena dalam implementasi program terkesan
berjalan sendiri-sendiri. Sehingga sulit untuk membuat data yang
mendukung bahwa populasi kunci yang dimobilisasi oleh CSO telah
menerima layanan HIV dengan baik di penyedia layanan.

Unsur Layanan dan Program. Selama ini program penanggulangan


AIDS pada kedua sisi (biru dan hijau) terkesan berjalan sendiri-sendiri.
Walaupun koordinasi selalu dilakukan dalam bentuk pertemuan rutin.
Namun kesan program berjalan sendiri-sendiri tidak terhindarkan.
CSO kurang optimal dalam melakukan kerja-kerja rujukan yang dapat
ditangkap oleh penyedia layanan. Sedangkan penyedia layanan
melakukan kegiaatan PITC dengan sasaran pada populasi risiko
rendah. Sehingga program dilapangan untuk memobilisasi populasi
kunci tidak bertemu dengan layanan terkait HIV yang dibutuhkan.
Unsur Sumber Daya Manusia (SDM). Kekurangan SDM dalam
upaya penanggulangan AIDS terjadi pada beberapa tempat baik di
sisi memobilisasi dan penyedia layanan kesehatan terkait HIV. Pada
tingkat penyedia layanan terutama Puskesmas sering kekerungan
karena adanya double job dengan pekerjaan sehari-hari. Sedangkan
di CSO masih sangat tergantung dengan lembaga donor. Kekurangan
SDM layanan terkait HIV sebenarnya terkait dengan tidak meratanya
SDM. Jumlah SDM yang ada sebenarnya bisa mencukupi dengan jalan
saling memperbantukan SDM, seperti konselor HIV, manajer kasus,
staf data dan lainnya. Namun dibutuhkan kerja sama yang baik
antara penyedia layanan dan CSO/komunitas.

Beberapa
gap
yang
diuraikan
di
atas
menggambarkan
tidak
berkesinambungan
program
penanggulangan
AIDS
mulai
dari
pengjangkauan-pedampingan dengan kepatuhan ARV. Pada akhirnya tujuan
untuk menurunkan penularan HIV baru melalui perubahan perilaku, treat as
prevention, dan test and treat tidak akan tercapati. Dari unsur gap yang
teridentifikasi di atas mengindikasikan beberapa masalah yaitu:
Belum
adanya
kerja
sama
dalam
menjalankan
program
penanggulangan HIV-AIDS antara penyedia layanan dengan
CSO/komunitas. Kerja sama tersebut yang dibutuhkan bukan hanya
sekedar dalam bentuk dokumen tetapi perlu kerja sama dalam bentuk
implementasi detil kegiatan.
Belum adanya data yang terhubung/terintegrasi antara penyedia
layanan dengan CSO/komunitas. Selama ini data CSO/komunitas tidak
secara otomatis bisa disambungkan dengan penyedia layanan begitu
pula sebaliknya. Keterhubungan tersebut dibutuhkan untuk dapat
memberikan continuum of care (CoC) bagi pasien yang terkait
dengan HIV.
Belum adanya bentuk kerja sama antara penyedia layanan dan
CSO/komunitas dalam hal berbagi SDM. Kebutuhan SDM yang sangat
banyak dan SDM yang tersedia sebetulnya banyak, namun tidak
dapat dipenuhi karena tidak adanya kerja sama. Oleh karena itu
diperlukan berbagi SDM, seperti konselor HIV, manajer kasus, staf
data dan lainnya, sehingga mampu memberikan layanan terkait HIV
secara komprehensif.
Belum adanya keterpaduan program dan layanan antara penyedia
layanan dengan CSO/komunitas pada semua tahapan program
penanggulangan AIDS. Keterpaduan program dan layanan sangat
dibutuhkan untuk memastikan pasien mendapatkan layana yang
komrpehensif mulai dari pencegahan sampai pengobatan. Pelayanan
kesehatan terkait HIV masih dapat ditingkatkan dengan adanya

keterpaduan program dan layanan antara penyedia layanan dan


CSO/komunitas.
Pada tahapan program penanggulangan HIV-AIDS sekarang
didominasi dengan adanya indikator Cascade of Services namun dari
sisi pencegahan belum muncul indikator yang mudah dipahami oleh
pelaksana program. Indikator cascade of services lebih cenderung ke
layanan kesehatan (medis) belum menyentuh program yang bersifat
sosial.

Kerangka Program
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka dikembangkan kerangka
program yang menyatukan kerangka program Cascade of Prevention dan
Cascade of Services yang selama ini terkesan terpisahkan atau berjalan
sendiri-sendiri. Kedua kerangka program tersebut seharusnya menjadi satu
kesatuan untuk memperoleh kerangka program CoC. Oleh karena itu untuk
menyatukan kerangka program tersebut dikembangkan berbasis pada
supply (penyedia layanan) dan demand (kebutuhan). Basis supply-demand
ini berfokus pada menumbuhkan kebutuhan atas layanan kesehatan terkait
HIV pada populasi kunci dan pemberian pelayanan kesehatan HIV dengan
kualitas prima.
Kerangka program yang berbasis supply-demand akan berjalan dengan baik
bila terjadi hubungan yang baik antara pemerintah/penyedia layanan
dengan CSO/komunitas. Keduanya mempunyai peran dan fungsi masingmasing pada kerangka program Cascade of Prevention dan Cascade of
Services. Pemerintah dan penyedia layanan mempunyai peran memberikan
dan memastikan pelayanan kesehatan HIV yang berkualitas prima dan
memberikan dukungan kebijakan yang dapat mendorong program
penanggulangan AIDS berjalan dengan baik. Sedangkan CSO dan komunitas
mempunyai peran memobilisasi kebutuhan layanan HIV pada populasi kunci
dan memastikan proses penanggulangan AIDS berjalan di tingkat
komunitas. Bila kedua peran itu bersinergi dengan baik maka akan
memberikan hasil optimal dalam upaya penanggulangan AIDS.

Kerja Sama CSO/Komunitas dengan Penyedia Layanan


Kolaborasi antara CSO/komunitas dengan pemerintah/penyedia layanan
selama ini masih berbentuk Memorandum of Understanding (MoU). Bentuk
kolaborasi ini baik tetapi sulit untuk diimplementasikan karena tidak ada
turunan yang jelas sehingga mudah diterjemahkan dalam bentuk
implementasi. Oleh karena itu untuk mengurangi gap seperti di atas maka
diperlukan bentuk kerja sama yang cukup jelas dan mudha
diimplementasikan secara mudah dan tidak menabrak aturan yang ada.
Bentuk kolaborasi yang mungkin dilakukan adalah:
Capacity-building for providers/CSO: melakukan inisiatif bersama
untuk meningkatkan keterampilan teknis dan pengetahuan dari
penyedia layanan dan CSO untuk meningkatkan kualitas layanan.
Involvement of professional associations: melibatkan asosiasi profesi
seperti PKVHI, IMKI, untuk meningkatkan kualitas layanan di penyedia
layanan dan CSO.

Contracting in: bekerja sama untuk mempekerjakan satu atau lebih


individu untuk memberikan layanan yang menjadi prioritas untuk
meningkatkan layanan baik dari sisi cakupan maupun kualitasnya
dengan pengaturan jadwal yang sesuai dengan kebutuhan.
Social marketing: bersama antara CSO dan penyedia layanan dalam
membangun dan mengembangkan konsep pemasaran sosial untuk
meningkatkan kesadaran pentingnya layanan kesehatan terkait HIV
yang bekualitas dan pentingnya tuntasnya layanan yang harus
dijalankan oleh komunitas.
Grants-in-aid: skema untuk memberikan tambahan dukungan dalam
bentuk peralatan medis dan barang habis pakai untuk meningkatkan
layanan kesehatan terkait HIV.

Pada Gambar 2 menunjukkan kerangka program Cascade of Prevention


mulai dari kegiatan penjangkauan-pendampingan sampai dengan tes HIV.
Gambar tersebut menggambarkan proses yang terjadi pada seseorang
(dalam hal ini populasi kunci) mulai dijangkau sampai dengan tes HIV.
Selama ini belum ada tahapan yang jelas mengenai seseorang sampai pada
tindakan untuk melakukan tes HIV. Beberapa tahapan yang dapat
mendorong seseorang tes HIV adalah:
Penjangkauan dan pendampingan. Pada tahapan ini merupakan
tahapan bila populasi kunci yang belum terpapar program
penanggulangan AIDS dan masih memerlukan pendampingan untuk
melakukan perubahan perilaku sampai dengan tindakan untuk
melakukan pemeriksaan HIV/IMS/Kespro.
Pengetahuan komprehensif. Pengetahuan yang benar dan lengkap
mengenai HIV dan pelayanan terkait HIV diperlukan seseorang untuk
mendukung perubahan perilaku dan tindakan pemeriksaan terkait
HIV.
Promosi layanan HIV/Kespro. Seseorang sebelum melakukan
tindakan pemeriksaan terkait HIV maka perlu mendapatkan promosi
yang komprehensif yang dikembangkan yang menyertakan populasi
kunci dan penyedia layanan tersebut.
Pelayanan HIV/Kespro. Sebelum mendapatkan layanan kesehatan
HIV diperlukan pembiasaan populasi kunci untuk melakukan
pemeriksaan lainnya seperti HIV atau kesehatan reproduksi. Oleh
karena itu diperlukan keterhubungan antara populasi kunci kepada
penyedia layanan.
Tes HIV. Tahapan yang menjadi pintu masuk seseorang ke dalam
pelayanan kesehatan terkati HIV lebih lanjut bila positif HIV. Bila
seseorang dinyatakan terinfeksi HIV maka akan dilanjutkan dengan
proses pengobatan sedangkan bila dinyatakan negative maka perlu
didorong untuk merubah perilaku.
Pada tahapan tes HIV ini merupakan titik dimana proses Cascade of
Prevention harus diteruskan dengan Cascade of Services. Seseorang yang
telah didorong untuk melakukan tes HIV dan menyanggupinya maka akan
mengunjungi tempat layanan tes HIV baik secara sendiri maupun diantar
oleh pendamping CSO/komunitas. Pada Gambar 3 menunjukkan kerangka
program Cascade of Services mulai dari tes HIV sampai Kepatuhan ARV.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang melakukan tes HIV

adalah memastikan mendapatkan hasil tes HIV baik positif maupun negatif.
Bila seseorang tidak mendapatkan hasil maka sulit untuk memberikan
layanan selanjutnya. Oleh karena itu tahapan Cascade of Services
mengarah pada layanan yang diperlukan untuk mencapai kepatuhan ARV.
Tahapan tersebut adalah:
Tes HIV. Dalam hal ini adalah memastikan seseorang yang
melakukan tes HIV mendapatkan hasilnya. Ketika seseorang
mendapatkan hasil dari tes yang dilakukan maka dapat dipastikan
bagaimana kelanjutan layanan yang diperlukannya. Bila seseorang
dinyatakan terinfeksi HIV maka akan dilanjutkan dengan proses
pengobatan sedangkan bila dinyatakan negative maka perlu didorong
untuk merubah perilaku.
Diagnosis. Bila seseorang yang telah dinyatakan postitif terinfeksi
HIV diperlukan dukungan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut
untuk mengetahui beberapa penyakit yang menyertainya, misalnya
TB, IMS. Oleh karena itu penting ODHA untuk selalu didukung untuk
terhubung dengan pelayanan kesehatan.
Layanan HIV. Layanan kesehatan terkait HIV lainnya perlu dilakukan
seperti CD4, Viral load dan lainnya. Seseorang yang telah terinfeksi
HIV perlu melakukan beberapa pemeriksaan tambahan baik sebelum
atau selama proses pengobatan ARV.

Integrasi program penanggulangan AIDS di tingkat wilayah (kabupaten/kota dan provinsi) mulai dari promosi, pencegahan pengobatan dan rehabilit

Peningkatan akses layanan terkait HIV bagi ODHA dengan mendekatkan layanan, menambahkan layanan sesuai kebutuhan dan sistem pembia

Penguatan sistem perencanaan untuk memastikan penganggaran penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat wilayah (kabupaten/kot

Pengetahuan Komprehensif
Promosi LayananPelayanan HIV/Kes
Penjangkauan - Pendampingan
HIV/Kespro
intervensi

intervensi

rujukan/dukungan

rujuka

Pengembangan
sistem
rujukan
yang
memuda
Identifikasi dan pemetaan populasi
kunci dan
target sasaran
Pengembangan
berbasis
komunitas/wilayah
sistem promosi
tempat layanan
kesehatan
HIV/IMS
bersa
Pengembangan
kegiatan
inovasi
untuk
meningkatkan
pengetahuan
dan
kesadaran
risiko
HIV

Penglibatan
aktifHIV
anggota
komunitas popula
Pengembangan sistem penjangkauan
Peningkatan dan
peran
pendampingan
masyarakat dan
yang
komunitas
meningkatkan
populasi
pengetahuan
kunci dalam
dan
proses
kesadaran
penjangkauan
risiko
dan pendampingan
untuk

Gambar 2. Cascade of Prevention (Penjangkauan-Pendampingan Tes HIV)

Pengembangan kebijakan dan implementasi PITC untuk pasien TB, pasien Hepatitis, Ibu Hamil dan pasangan ODH
Peningkatan kualitas layanan dengan sistem evaluasi dengan pemberian reward dan punishment secara rutin
Penguatan sistem perencanaan untuk memastikan ketersediaan reagen tes HIV dan obat ARV di layanan HIV
Penerapan pembiayaan pelayanan kesehatan HIV melalui skema pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional

Tes HIV

Diagnosis

rujukan/dukungan

Layanan HIV

rujukan/dukungan

Pengobatan ART Kepat

dukungan/dorongan dukungan/dorong

Pendampingan pada populasi kunci


Pengembangan
dan target sasaran
sistem
yang
dukungan
sudah mengetahui
pengobatan
status
ARV dan
HIV
layanan
dan komunitasnya
kesehatan
HIV
yang melibatkan
ODHA
berdaya
Pengembangan
sistem notifikasi
bagi
ODHA
dan
jaringan
sosialnya
yang mudah
diakses
yang b

Peningkatan kerjasama antar CSO yang melakukan


Penglibatan
Penyediaan
penjangkauan
jaringan
layanan
sosial
dan (social
pendampingan
tambahan
network)
(makanan
populasi
ODHAtambahan,
dalam
kuncipelayanan
transportasi,
kesehatan
ketrampilan,
HIV
administrasi)

Gambar 3. Cascade of Services (Tes HIV Kepatuhan ARV)

Pengobatan ARV. Dalam program SUFA setiap orang yang telah


dinyatakan HIV positif sedini mungkin perlu mengikuti program
pengobatan ARV. Bahkan untuk beberapa populasi harus mengikuti
program pengobatan ARV seketika dinyatakan HIV positif.
Kepatuhan ARV. Kepatuhan minum ARV menjadi poin paling penting
dalam upaya pengobatan yang tuntas. Kepatuhan ARV ini merupakan
hal yang penting untuk selalu dipantau karena sering kali terjadi
kebosanan dalam proses pengobatan dan kepastian untuk
mendapatkan ARV secara rutin.

Untuk mencapai tujuan CoC yang sebenarnya maka perlu dikembangkan


beberapa strategi yang memungkinkan keduanya (Cascade of Prevention
dan Cascade of Services) menjadi satu kesatuan program yang berbasis
supply dan demand.

Sisi Supply
Program pada sisi supply berfokus pada pengembangan program
penanggulangan AIDS yang komprehensif dan berkelanjutan melalui proses
perencanaan, penganggaran dan implementasi program di tingkat
kabupaten/kota. Keseluruhan proses tersebut bertujuan untuk meningkatkan
layanan kesehatan terkait HIV yang paripurna. Tujuan program pada sisi
supply sebagai berikut:
Meningkatkan
peran
pemerintah
daerah
dalam
upaya
penanggulangan AIDS baik dari sisi promosi, pencegahan, pengbatan,
maupun rehabilitasi bagi masyarakat umum terutama pada populasi
kunci.
Mengembangkan sistem perencanaan program penanggulangan AIDS
yang berbasis bukti di tingkat kabupaten/kota.
Mengembangkan, meningkatkan dan memastikan pelayanan terkait
HIV yang berkualitas prima dan terjangkau oleh populasi yang
membutuhkan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dikembangkan beberapa strategi oleh
CSO/Komunitas yang dapat mendorong penyedia layanan/pemerintah
daerah berbuat lebih baik. Beberapa strategi yang dapat dikembangkan
pada sisi supply sebagai berikut:
Integrasi program penanggulangan AIDS di tingkat wilayah
(kabupaten/kota dan provinsi) mulai dari promosi, pencegahan
pengobatan dan rehabilitasi melalui pengembangan kebijakan dan
implementasinya
Peningkatan akses layanan terkait HIV bagi ODHA dengan
mendekatkan layanan, menambahkan layanan sesuai kebutuhan dan
sistem pembiayaan kesehatan berbasis Jaminan Kesehatan Nasional
Penguatan sistem perencanaan untuk memastikan penganggaran
penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat wilayah (kabupaten/kota dan
provinsi) yang bersumber dari APBD
Pengembangan kebijakan dan implementasi PITC untuk pasien TB,
pasien Hepatitis, Ibu Hamil dan pasangan ODHA
Peningkatan kualitas layanan dengan sistem evaluasi dengan
pemberian reward dan punishment secara rutin

Penguatan sistem perencanaan untuk memastikan ketersediaan


reagen tes HIV dan obat ARV di layanan HIV
Penerapan pembiayaan pelayanan kesehatan HIV melalui skema
pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional

Sisi Demand
Program pada sisi demands berfokus pada program yang dapat
meningkatkan kebutuhan populasi kunci untuk mendapatkan layanan
kesehatan terkait HIV secara komprehensif dan berkelanjutan. Keseluruhan
proses tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran populasi kunci
untuk mencari status HIV-nya dan layanan kesehatan terkait HIV. Tujuan
program pada sisi demands sebagai berikut:
Meningkatkan kesadaran populasi kunci untuk mencari layanan
kesehatan terkait HIV yang berkualitas baik dan paripurna.
Mengembangkan sistem rujukan layanan kesehatan terkait HIV
sehingga mudah diakses oleh populasi kunci.
Mengembangkan layanan tambahan yang membuat ODHA yang mau
dan mampu menjalankan pengobatan ARV serta meningkatkan
kepatuhan ARV.
Untuk mencapai tujuan tersebut dikembangkan beberapa strategi oleh
CSO/Komunitas yang dapat mendorong populasi kunci mengetahui status
HIV dan menjalankan pengobatan ARV. Beberapa strategi yang dapat
dikembangkan pada sisi demands sebagai berikut:
Identifikasi dan pemetaan populasi kunci dan target sasaran berbasis
komunitas/wilayah
Pengembangan sistem penjangkauan dan pendampingan yang
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran risiko HIV
Pengembangan sistem promosi tempat layanan kesehatan HIV/IMS
bersama penyedia layanan
Peningkatan peran masyarakat dan komunitas populasi kunci dalam
proses penjangkauan dan pendampingan untuk mendorong
pemerikasaan HIV/IMS
Pengembangan sistem rujukan yang memudahkan populasi kunci
mengakses layanan secara mandiri
Penglibatan aktif anggota komunitas populasi kunci untuk mendorong
tes HIV dan layanan HIV/IMS
Pendampingan pada populasi kunci dan target sasaran yang sudah
mengetahui status HIV dan komunitasnya
Peningkatan kerjasama antar CSO yang melakukan penjangkauan dan
pendampingan populasi kunci
Pengembangan sistem dukungan pengobatan ARV dan layanan
kesehatan HIV yang melibatkan ODHA berdaya
Penglibatan jaringan sosial (social network) ODHA dalam pelayanan
kesehatan HIV
Pengembangan sistem notifikasi bagi ODHA dan jaringan sosialnya
yang mudah diakses yang berbasis TI atau sosial budaya atau
kearifan lokal

Penyediaan layanan tambahan (makanan tambahan, transportasi,


ketrampilan, administrasi) untuk mendorong kepatuhan pengobatan
HIV

Indikator Program
Dalam indikator ini dibedakan menjadi tiga yaitu indikator input (warna
hijau), indikator proses (warna kuning) dan indikator output (warna merah).
Semua indicator ini perlu menjadi perhatian namun paling utama dalam
proses pengembangan program dan kegiatan. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah:
Terjangkau. Dalam hal ini dapat dilakukan menggunakan metode
tradisional maupun dengan menggunakan metode yang modern
(website, jejaring soisal atau elektornik) atau yang bersifat individual
maupun kelompok.
Promosi Pelayanan HIV. Dalam hal ini dapat dilakukan dalam bentuk
brosur atau elektronik sesuai karakteristik dan kebutuhan populasi
kunci.
Untuk mencapai semua indikator tersebut CSO/Komunita harus
bekerja sama dengan penyedia layanan dan CSO lainnya.

# jumlah PL/PO/CO paham


# penyedia
paket promosi
layanan
layanan
rutin 2komprehensif
kali setahun evaluasi kualitas
# jumlah PL/PO/CO paham informasi lengkap
# jumlah PL/PO/CO ikut paket minimal pengayaan informasi lengkap secara rutin

Penyedia layanan berkualitas


Paket promosi layanan komprehensif
Paket informasi lengkap

Pengetahuan Komprehensif
Promosi Layanan
Pelayanan
Penjangkauan - Pendampingan
HIV/Kespro/Adiksi HIV/Kespro/Adiksi

intervensi

intervensi

rujukan/
dukungan

Tes H

rujukan/
dukungan

# jumlah popkun terjangkau


# jumlah popkun
# info
jumlah
lengkap
popkun paket promosi
# jumlah
layanan
popkun datang ke layanan

# jumlah popkun terjangkau 1-3 kali selama 3 bulan terakhir


# jumlah
popkun
datang3ke
layanan
tes HIV s
jumlah1-3
popkun
datang
layanan
selama
bulan
terakhir
# jumlah popkun dapat #
promosi
kali selama
3ke
bulan
terakhir

# jumlah
# jumlah popkun terjangkau minimal 4 kali sejak 6 bulan ketemu pertama
kali popkun dapat rujukan tes HIV berulang
# jumlah popkun dapat promosi
minimalpopkun
1 kali sejak
bulan ketemu
pertama
# jumlah
dapat6rujukan
berulang
selamakali
3 bulan terakhir

# jumlah popkun dapat rujukan tes HIV minimal 2 kali se

# jumlah popkun terjangkau info tidak lengkap


sejak 6
bulan dapat
ketemu
pertama
kali 2 kali sejak 6 bulan ketemu pertam
# jumlah
popkun
rujukan
minimal

# penyedia layanan ARV yang memberikan informasi ketersediaan reagen tes HIV
# penyedia layanan rutin 2 kali setahun evaluasi kualitas layanan
# penyedia layanan ARV yang memberikan informasi ketersediaan ARV
# jumlah penyedia layanan tes HIv yang ikut koordinasi rutin
Penyedia layanan berkualitas

Tes HIV

Diagnosis

rujukan/
dukungan

Layanan HIVPengobatan ART


Kep

rujukan/
dukungan

dukungan/
dorongan

dukunga
doronga

# jumlah popkun menerima


hasil tes
HIV
# jumlah
ODHA yang
dapatODHA
layanan
HIV yang
# jumlah ODHA
yang
dapat layanan
kesehatan
# jumlah
yang
mendapatkan
layanan
p
#kesehatan
jumlah
ODHA
sampa

# jumlah ODHA yang discreening dan pengobatan TB


# jumlah ODHA yang#dapat
layanan
load
jumlah
ODHA Viral
ibu hamil
# jumlah
yang ODHA
mendapa
ya
# jumlah ODHA Ibu hamil yang dapat layanan PMTCT
jumlahODHA
ODHAyang
yangrutin
dapat
layanan
tes CD4 ARV minimal 2
##jumlah
datang
ke layanan

# jumlah ODHA mendapatkan layanan kesehatan selama 3 bulan sejak didiagnosis


# jumlah ODHA datang
# jumlah
ke layanan
ODHA
HIV
datang
selama
ke 3layanan
bulan terakhir
ARV selama 3 bulan tera

# jumlah popkun yang tes HIV (-) yang melakukan tes ulang minimal 1 kali
# jumlah
selamaODHA
6 bulan
yang
sejak
telah
tes lebih
HIV sebelumnya
dari 3 bulan tidak datang
# jumlah ODHA dapat
# rujukan
jumlah ODHA
ke layanan
dapatHIV
rujukan
berulang
ke layanan
selama ARV
3 bulan
berulang
terakhir
selama 3 b

#rujukan
jumlah
ODHA
rutin
ke layanan
minimal
# jumlah
ODHA
dapat#rujukan
ke
layanan
HIV
4 kaliyang
sejak
6terdiagnosis
bulan
pertama
kali
terdiagnos
jumlah
ODHA
dapat
layanan
ARV
minimal
4 kaliARV
sejak
6 bulansela
pe
# jumlah ODHA yang dirujuk
kelayanan
keseahtan
minimal
2
kali
sejak
6minimal
bulanke
pertama
kalai
pertama kali

# jumlah ODHA mendapatkan dukungan layanan tambahan untuk mnedukung program p


# jumlah ODHA yang menyertakan jaringan sosial dalam upaya pengobatan