Anda di halaman 1dari 33

REFERAT ANESTESI

RESUSITASI JANTUNG PARU


Oleh :

Esandy Felicia
110170019

Pembimbing :
dr. Aris S, Sp.An, Mkes

Definisi

Usaha untuk mengembalikan fungsi


pernafasan dan atau sirkulasi akibat
terhentinya fungsi dan atau denyut
jantung.

INDIKASI KONTRA INDIKASI

KONTRA INDIKASI

INDIKASI
HENTI JANTUNG
HENTI NAFAS

Kematian normal
Stadium terminal suatu
penyakit yang tidak dapat
disembuhkan lagi
Tidak ada manfaat fisiologis
karena fungsi vital telah
menurun
Ada tanda kematian yang
reversibel (rigormotis (kaku
mayat), dekapitasi,
dekomposisi, atau pucat)

INDIKASI

1. Keadaan henti napas (Respiratory Arrest), henti


nafas yang bukan disebabkan gangguan pada jalan
nafas dapat terjadi karena gangguan pada sirkulasi
(asistole, bradikardia, fibrilasi ventrikel)
2. Keadaan henti jantung (Cardiac Arrest) dapat
disebabkan oleh beberapa hal seperti:
a. Hipoksemia karena berbagai sebab
b. Gangguan
elektrolit
(hipokalemia,
hiperkalemia,
hipomagnesia)
c. Gangguan irama jantung (aritmia)
d. Penekanan mekanik pada jantung (tamponade jantung,
tension pneumothoraks)

Prosedur Awal

Memastika
n
keamanan
lingkungan

Memastika
n
kesadaran
pasien /
korban

Meminta
pertolonga
n

Memperba
iki Posisi
Pasien/
korban

Mengatur
posisi
penolong

FASE RJP
Fase I
Basic Life Support
Airway
Breathing
Circulation

Fase II
Advance Life Support
Drugs
ECG
Fibralation
treatment

Fase III
Prolonged Life
Support
Gauging
Human Mentation
Intensive Care

A. AIRWAY
1.head tilt-chin lift maneuver
Jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong
mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan
lain mendorong dagu dengan hati-hati tengadah, sehingga
hidung menghadap keatas dan epiglottis terbuka, sniffing
position, posisi cium, posisi hirup.

2. jaw-thrust maneuver

Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah


diangkat didorong kedepan pada sendinya tanpa
menggerakkan kepala-leher. Karena lidah melekat pada
rahang bawah, maka lidah ikut tertarik dan jalan napas
terbuka.3
Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit: letakan
pasien dalam posisi terlentang, lakukan manuever
triple airway (kepala tengadah, rahang didorong
kedepan, mulut dibuka) dan jika mulut ada cairan,
lender atau benda asing lainnya, bersihkan dahulu
sebelum memberikan napas buatan.

B. BREATHING
Menilai Jalan Napas

LIHAT - LOOK

Gerak dada & perut

Tanda distres
nafas

Warna mukosa,
kulit

Kesadaran
DENGAR - LISTEN

Gerak udara nafas


dengan telinga
RABA - FEEL

Gerak udara nafas


dengan pipi

Jenis suara tambahan karena sumbatan


jalan napas
1.Snoring
Suara seperti ngorok, kondisi
ini
menandakan
adanya
kebuntuan jalan napas bagian
atas oleh benda padat
Lakukanlah
pengecekan
langsung dengan cara crossfinger
Menggunakan 2 jari, yaitu ibu
jari dan jari telunjuk tangan
yang digunakan untuk chin lift
tadi, ibu jari mendorong
rahang atas ke atas, telunjuk
menekan rahang bawah ke
bawah

Cross Finger

2. Gargling
Suara seperti berkumur,
kondisi ini terjadi karena
ada
kebuntuan
yangdisebabkan
oleh
cairan
lakukanlah cross-finger
(seperti di atas), lalu
lakukanlah finger-sweep
(sesuai
namanya,
menggunakan 2 jari yang
sudah dibalut dengan kain
untuk menyapu rongga
mulut dari cairan-cairan).

Finger sweep

3. CROWING
Suara dengan nada tinggi
disebabkan pembengkakan
(edema)
pada
trakea.
Lakukan maneuver head
tilt and chin lift atau jaw
thrust
4. Jika suara napas tidak
terdengar
karena
ada
hambatan total pada jalan
napas.
Lakukan
manuver
Heimlich

Manuver
Heimlich

Memberikan Bantuan
Napas

Mulut ke
mulut

Mulut ke
hidung

Mulut ke stoma
trakheostomi

1.

C. Circulation

Memastikan
ada
tidaknya
denyut jantung pasien/korban
Ditentukan
dengan
meraba
arteri karotis didaerah leher
pasien/korban dengan cara dua
atau tiga jari penolong meraba
pertengahan
leher
sehingga
teraba trakea, kemudian digeser
ke arah penolong kira-kira 1-2
cm, raba dengan lembut selam 5
10 detik.
Bila teraba penolong harus
memeriksa pernafasan, bila tidak
ada nafas berikan bantuan nafas
12 kali/menit.

2. Memberi bantuan sirkulasi


Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan
bantuan sirkulasi atau kompresi jantung luar dengan
cara:

Tiga jari penolong ( telunjuk,tengan dan manis) menelusuri tulang iga


pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu tulang
dada (sternum).
Dari tulang dada (sternum) diukur 2- 3 jari ke atas. Daerah tersebut
merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong.
Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu
telapak tangan diatas telapak tangan yang lain.Hindari jari-jari
menyentuh didnding dada pasien/korban.
Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada pasien/korban
dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali
dengan kedalaman penekanan 1,5 2 inchi ( 3,8 5 cm).

Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada


dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula
setiap kali kompresi. Waktu penekanan dan
melepaskan kompresi harus sama ( 50% duty
cycle).
Tangan tidak boleh berubah posisi.
Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 30 : 2
baik oleh satu penolong maupun dua penolong.
Kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit.
Dilakukan selama 4 siklus.
Tindakan kompresi yang benar akan menghasilkan
tekanan sistolik 60 80 mmHg dan diastolik yang
sangat rendah.Selang waktu mulai dari menemukan
pasien/korban sampai dilakukan tindakan bantuan
sirkulasi tidak lebih dari 30 detik.

EVALUASI SETELAH 4 SIKLUS


Jika nadi (-) RJP kembali
30 : 2 sampai 4 siklus
kemudian
evaluasi
kembali
Jika nadi (+) cek nafas
dengan LLF, jika nafas
(-)
berikan
bantuan
nafas 10 12 kali/menit
monitor nadi setiap saat
Jika nadi (+), nafas (+)
adekuat
pertahankan
jalan nafas posisi sisi
mantap

Panduan RJP 2010

1. Menekankan pada RJP yang berkualitas secara


terus menerus
2. Perubahan dari A-B-C menjadi C-A-B
3. Rata-rata kompresi
4. Kedalaman kompresi
5. RJP Dengan Tangan Saja (Hands Only CPR)
6. Identifikasi pernafasan agonal oleh pengantar
(Dispatcher Identification of Agonal Gasps)
7. Penekanan krikoid
8. Aktivasi Emergency Response System.
9. Tim Resusitasi

1. AHA Guidelines for CPR and ECC 2010


mengutamakan kebutuhan RJP yang
berkualitas tinggi, hal ini mencakup:

1. Kecepatan kompresi paling sedikit 100 x/menit (perubahan dari


kurang lebih 100 x/menit)
2. Kedalaman kompresi paling sedikit 2 inchi (5 cm) pada dewasa
dan paling sedikit sepertiga dari diameter anteroposterior dada
pada penderita anak-anak dan bayi (sekitar 1,5 inchi [4cm]
pada bayi dan 2 inchi [5cm] pada anak-anak)
3. Batas antara 1,5 hingga 2 inchi tidak lagi digunakan pada
dewasa, dan kedalaman mutlak pada bayi dan anak-anak lebih
dalam daripada versi sebelumnya dari AHA Guidelines for CPR
and ECC
4. Memberi kesempatan daya rekoil dada (chest recoil) yang
lengkap setiap kali selesai kompresi
5. Meminimalisasi gangguan pada kompresi dada
6. Menghindari ventilasi yang berlebihan

2. Perubahan RJP
2010

Guideline AHA untuk RJP dan perawatan


kegawatan kardiovaskular tahun 2010
merekomendasikan perubahan ini karena:

Sebagian besar henti jantung terjadi pada dewasa dan angka


keberhasilan tertinggi adalah henti jantung yang terjadi pada
pasien henti jantung dengan irama VF (ventricular
fibrillation) atau VT (ventricular tachycardia) tanpa nadi.
Pada pasien-pasien ini elemen awal yang paling penting dari RJP
adalah kompresi dada dan defibrilasi secepatnya.
Pada urutan kompresi dada ABC seringkali terlambat ketika
penolong membuka jalan nafas untuk memberikan bantuan nafas
dari mulut ke mulut atau memasukkan perlengkapan ventilasi.
Dengan merubah ke urutan CAB, kompresi dada dapat dimulai lebih
cepat dan ventilasi hanya akan sedikit memperlambat kompresi
dada hingga selesai satu siklus (kompresi 30 kali diselesaikan dalam
waktu 18 detik).


Tidak ada lagi Look, Listen, and Feel
Tidak ada lagi Resque Breath
Resque breath adalah tindakan pemberian
napas buatan sebanyak dua kali setelah kita
mengetahui bahwa korban henti napas (setelah
Look, Listen, and Feel). Pada AHA 2010, hal ini
sudah dihilangkan karena terbukti menyita
waktu yang cukup banyak sehingga terjadi
penundaan pemberian kompresi dada.

3. Rata-rata kompresi

Sebaiknya dilakukan kira kira minimal 100


kali/ menit.
Jumlah kompresi dada yang dilakukan per
menit selama RJP sangat penting untuk
menentukan kembalinya sirkulasi spontan
(return of spontaneous circulation [ROSC]) dan
fungsi neurologis yang baik.

4. Kedalaman kompresi

Untuk dewasa kedalaman kompresi telah diubah dari


jarak 1 - 2 inch menjadi minimal 2 inch (5 cm).
Kompresi yang efektif (menekan dengan kuat dan
cepat) menghasilkan aliran darah dan oksigen dan
memberikan energi pada jantung dan otak.
Kompresi menghasilkan aliran darah terutama
dengan meningkatkan tekanan intrathorakal dan
secara langsung menekan jantung.
Kompresi menghasilkan aliran darah, oksigen dan
energi yang penting untuk dialirkan ke jantung dan
otak.

5. RJP Dengan Tangan Saja


(Hands Only CPR)

Secara teknis terdapat perubahan dari petunjuk RJP


2005, namun AHA mengesahkan tehnik ini pada tahun
2008.
Untuk penolong yang belum terlatih diharapkan
melakukan RJP pada korban dewasa yang pingsan
didepan mereka.
Hands Only CPR (hanya dengan kompresi) lebih mudah
untuk dilakukan oleh penolong yang belum terlatih dan
lebih mudah dituntun oleh penolong yang ahli melalui
telepon.
Kompresi
tanpa
ventilasi
(Hands
Only
CPR)
memberikan hasil yang sama jika dibandingkan
kompresi dengan menggunakan ventilasi

6. Identifikasi pernafasan agonal oleh


pengantar (Dispatcher Identification of
Agonal Gasps)

Penolong diajarkan untuk memulai RJP jika


korban tidak bernafas atau sulit bernafas.
Penyedia layanan kesehatan seharusnya
diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak
bernafas atau pernafasan yang tidak normal.
Pengecekan
kecepatan
pernafasan
seharusnya
dilakukan
sebelum
aktivasi
emergency response system.

7. Penekanan Krikoid

Suatu teknik dimana dilakukan pemberian tekanan pada


kartilago krikoid penderita untuk menekan trakea kearah
posterior dan menekan esophagus ke vertebra servikal.
Penekanan krikoid dapat menghambat inflasi lambung
dan mengurangi resiko regurgitasi dan aspirasi selama
ventilasi dengan bag-mask namun hal ini juga dapat
menghambat ventilasi.
Saat ini penggunaan rutin penekanan krikoid
tidak
lagi
direkomendasikan.
Penelitian
menunjukkan bahwa penekanan krikoid dapat
menghambat kemajuan airway dan aspirasi dapat
terjadi meskipun dengan aplikasi yang tepat

8. Aktivasi Emergency Response System.

Aktivasi emergency response system


seharusnya dilakukan setelah penilaian respon
penderita dan pernafasan, namun seharusnya
tidak ditunda. Menurut panduan tahun 2005,
aktivasi segera dari sistem kegawatdaruratan
dilakukan
setelah
korban
yang
tidak
merespon.
Jika penyedia pelayanan kesehatan tidak
merasakan nadi selama 10 detik, RJP harus
segera dimulai dan menggunakan defibrilator
elektrik jika tersedia.

Mengaktifkan Emergency
Medical Services (EMS)

Jika korban tidak berespon, panggil bantuan dan segera


hubungi ambulan 118.
Penolong harus segera mengaktifkan EMS setelah dia
memastikan korban tidak sadar dan membutuhkan
pertolongan medis.
Jika terdapat orang lain di sekitar penolong, minta dia untuk
melakukan panggilan. Saat menghubungi EMS sebutkan :

Lokasi korban
Nomor telepon yang bisa di hubungi
Apa yang terjadi (misalnya serangan jantung / tidak sadar)
Jumlah korban
Dibutuhkan ambulan segera
Tutup telepon setelah diinstruksikan oleh petugas.

timbul kembali
sirkulasi dan
ventilasi
spontan dan
efektif

Setelah
30 menit
respon (-)

Hentika
n RJP

Setelah
dimulai RJP
ternyata
pasien
berada
dalam
stadium
akhir
penyakit

Lingkungan
jadi
berbahaya
bagi penolong

Penolong
kelelahan
RJP diambil
alih oleh yang
bertanggung
jawab

Penggunaan Sistem ABC Saat ini

1. Pada korban tenggelam atau henti nafas


maka petugas sebaiknya melakukan RJP
konvensional (A-B-C) sebanyak 5 siklus
(sekitar 2 menit) sebelum mengaktivasi
sistem respon darurat.
2. Pada bayi baru lahir, penyebab arrest
kebanyakan adalah pada sistem pernafasan
maka RJP sebaiknya dilakukan dengan
siklus A-B-C kecuali terdapat penyebab
jantung yang diketahui.