Anda di halaman 1dari 3

DALAM setiap kegiatan transaksi efek, informasi merupakan faktor

yang sangat strategis. Keberadaannya sangat mempengaruhi


investor dalam membuat keputusan investasi, apakah investor akan
menjual, membeli, atau menahan portofolionya.
Sayangnya, distribusi informasi yang material tentang emiten
seringkali berlangsung tidak merata di pasar. Untuk informasi yang
sifatnya tidak material mungkin tidak menjadi soal. Namun, jika
informasi yang menyangkut perkembangan terkini tentang emiten
itu bersifat material, maka distribusi yang tidak merata tadi menjadi
masalah yang cukup serius.
Ada sebagian pelaku pasar yang mendapatkan informasi penting ini,
tapi di sisi lain ada sebagian pelaku pasar yang tidak mengetahui
sama sekali tentang informasi tersebut. Terdapat jarak dalam
distribusi informasi atau yang biasa disebut dengan asymmetric
information di pasar. Akibatnya, ada pelaku pasar yang merasa
diuntungkan dan ada pelaku pasar yang merasa dirugikan akibat
informasi tersebut.
Adanya asymmetric information menunjukkan bahwa pasar belum
efisien. Di atas kertas, pasar modal disebut efisien jika pelaku pasar
mendapatkan akses yang sama terhadap sumber informasi material
tentang emiten. Jika investor di Surabaya misalnya mendapatkan
informasi tentang emiten X yang meraih pertumbuhan laba bersih
sebesar 40 persen, maka semestinya -jika pasar itu efisien- investor
yang ada di manapun juga akan mendapatkan informasi yang sama.
Dengan begitu, setiap perubahan harga saham di pasar sudah
mencerminkan adanya seluruh informasi yang terkait dengan
emiten. Soal bagaimana investor menyikapi informasi tersebut
adalah masalah lain.
Yang jadi pertanyaan, mengapa asymmetric information bisa
terjadi? Hal ini tentu berpulang pada manajemen emiten itu sendiri.
Bagaimana ia mengelola informasi dengan baik. Mana informasi
yang harus disimpan dan belum boleh beredar ke publik dan mana
informasi yang semestinya sudah disampaikan ke publik harus
benar-benar dikelola dengan baik. Informasi yang masih prematur
dan belum pasti seharusnya menjadi informasi yang rahasia dan

tidak dipublikasikan ke masyarakat.


Sedangkan informasi yang sudah jelas-jelas pasti terjadi -apalagi
material- harus disampaikan ke publik dan tidak boleh
disembunyikan apalagi dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri.
Yang kerap terjadi di pasar, ada informasi yang masih belum pasti
tapi sudah beredar di masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang
tahu mengenai informasi tadi dan ada yang tidak tahu. Karena
tingkat kepastian atau kebenaran informasi itu belum jelas, maka ia
kemudian muncul sebagai rumor di pasar.
Hal semacam itu berulang kali terjadi di pasar. Contoh terkini adalah
ketika muncul informasi tentang rencana mergernya dua bank besar
di Indonesia pada awal Januari lalu. Yang muncul terlebih dahulu ke
publik adalah rumor, informasi yang tidak pasti tapi beredar luas.
Pihak manajemen menyangkal tentang rumor tersebut. Selang tiga
bulan kemudian, ternyata rumor tadi benar adanya. Dalam kasus
seperti ini jelas telah terjadi kebocoran informasi dari orang dalam.
Entah kebocoran itu disengaja atau tidak disengaja, yang pasti
rumor yang semula dibantah ternyata tiga bulan kemudian
dibenarkan dengan tambahan informasi yang detil dan jelas.
Hingga saat ini, terjadinya asymmetric information seperti
hal tersebut di atas sulit dicegah dan dihilangkan. Tapi
fenomena seperti ini bukan monopoli pasar modal Indonesia karena
pasar modal negara lain -termasuk pasar modal yang sudah maju
sekalipun- masih sering diwarnai dengan keberadaan asymmetric
information. Hal ini bisa dimaklumi, karena sulit menangkap
siapa yang memulai dan menjadi sumber
munculnya asymmetric information itu. Manajemen emiten
sekalipun tidak cukup punya daya untuk mencegah kebocoran
informasi penting dalam perusahaannya.
Dari sisi peraturan, sebenarnya Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) sudah mengatur tentang
bagaimana distribusi informasi itu harus dilakukan sehingga emiten
betul-betul terbuka dan transparan ke publik. Setiap informasi
material tidak boleh disembunyikan. Bahkan, Bapepam-LK
memberikan dead line selama 1x24 jam untuk penyampaian setiap

informasi atau kejadian penting dalam perusahaan.


Bapepam-LK juga mengatur mekanisme sanksi bagi yang
melanggarnya. Namun demikian, harus diakui bahwa yang disebut
asymmetric informtion memang sulit dihilangkan hingga saat ini.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menyikapi setiap informasi
yang beredar di pasar.