Anda di halaman 1dari 3

NIM : 5.15.1.

0988
Dari bahan diskusi mengenai Tren Pola Kerja Pegawai Kantoran di Masa Depan yang
dikutip dari laman Forbes, Rabu (12/11/2014 ), saya akan mencoba untuk membahas bagaimana
penerapannya di dunia kerja yang terjadi saat ini. Saya akan menggabungkan pengalaman saya
yang sebelumnya pernah bekerja di suatu perusahaan dengan fenomena yang terjadi di dunia
kerja saat ini.

1. Suasana Kerja yang Fleksibel


Merupakan kondisi dimana karyawan dapat bekerja tanpa batasan-batasan yang
umumnya membuat karyawan harus menuruti segala aturan yang ketat dan kaku. Seperti
cara berpakaian, jam kerja, absensi, dll. Dimana hal tersebut dapat membuat karyawan
tidak nyaman dan merasa penuh keterpaksaan dalam bekerja. Sehingga menimbulkan
keluhan-keluhan walaupun sebenarnya ia menguasai bidang pekerjaannya. Bahkan
mungkin menimbulkan permusuhan antar departemen (misalnya HRD), yang dapat
mengakibatkan produktifitas kinerja perusahaan menjadi menurun.
Dewasa ini, beberapa perusahaan telah menerapkan suasana kerja yang nyaman
dan fleksibel. Terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang industry kreatif.
Contohnya seperti kantor Kaskus berlokasi di kuningan, Jakarta. Dengan tema treasure
hunt, kantor ini menyajikan suasana kerja yang menyenangkan agar para karyawan tak
hanya menganggap Kaskus sebagai kantor, tetapi juga rumah yang memberi pengalaman
tak terlupakan. Contoh lain di Denpasar khususnya, yaitu kantor Three Store. Kita dapat
melihat bahwa karyawannya mendapat kebebasan dalam hal cara berpakaian yang tetap
sopan walaupun menggunakan celana pendek dan kaos.

Gambar 1.
Ruang tunggu, tamu
yang datang bisa
bermain golf sembari
menunggu orang yang
dituju.

Gambar 2.
Founder Kaskus Andrew Darwis di
depan ruang kakus
(Foto: Dede K/ okezone)

2. Bekerja Seperti Bermain

Para pegawai bisa membentuk jalur karirnya dan memilih proyek yang
diinginkannya. Bekerja seperti memilih permainan petualangan sendiri dan mencari cara
menuntaskannya. Untuk konsep ini, mungkin belum banyak yang menerapkannya. Hal
ini disebabkan oleh kendali perusahaan yang masih dipegang oleh para petinggi-petinggi
perusahaan. Mereka mungkin tidak mau mengambil resiko besar untuk memberikan
kebebasan bagi karyawannya untuk memilih porsi atau jatah pekerjaannya. Karena
biasanya apabila terdapat hal demikian dikhawatirkan karyawan akan saling berebut
proyek pekerjaan, yang berpotensi menimbulkan persaingan ataupun kecemburuan antar
karyawan dalam satu perusahaan. Hal ini juga dapat mempengaruhi kelancaran dari
aktifitas perusahaan tersebut. Maka dari itu, menurut pengalaman saya yang sempat
bekerja pada salah satu perusahaan. Para pemegang jabatanlah yang berhak membagikan
tugas-tugas pada masing-masing karyawannya. Tugas dibagi sama rata pada setiap
karyawan, sehingga para karyawan memiliki kewajiban yang sama dan disinilah
karyawan dapat merasakan kerjasama tim untuk saling membantu dalam menyelesaikan
tugas yang diberikan dengan tepat waktu.

3. Berbagi Informasi Jadi Budaya Kerja


Informasi merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam proses
pengambilan keputusan. Pertukaran informasi dalam suatu komunikasi internal maupun
eksternal dalam organisasi dapat menciptakan perilaku yang benar dari semua pihak yang
terlibat dalam suatu organisasi. Pertukaran informasi tersebut terjadi secara menyeluruh,
yaitu mulai dari informasi manajemen ke karyawannya, maupun informasi dari karyawan
untuk manajemen.
Menurut saya, konsep ini sudah dianut oleh banyak perusahaan misalnya di
tempat saya bekerja dulu, setiap hari Kamisnya selalu diadakan rapat internal karyawan
dengan petinggi yang memegang jabatan untuk menyampaikan informasi hasil kerja dan
hambatan-hambatan yang ada dalam mencapai tujuan manajemen perusahaan. Maka dari
kegiatan ini terjadi komunikasi yang baik antar karyawan dan manajemen.
Contoh lain (informasi eksternal), misalnya pada mesin SPBU yang terdapat no tlp untuk
pelanggan yang tdak puas dengan pelayanan yang ditrimanya, ini merupakan salah satu
contoh informasi eksternal yang diperoleh dari masyarakat.

4. Semua Pegawai Punya Peluang menjadi Atasan


Semua bisa dilakukan dengan sering berbagi gagasan dan memberikan masukan
secara transparan pada manajer dan pejabat eksekutif. Walaupun telah terjadi komunikasi
internal seperti yang telah dijelaskan pada no 3, saya menilai belum banyak perusahaan
yang berani menganut konsep ini. Banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh seorang
pemegang jabatan/manajer sebelum mengangkat seorang karyawan menjadi atasan
(koordinator). Sedikitnya karyawan tersebut telah memiliki pengalaman dan prestasi
kerja yang memuaskan. Dan masih banyak variabel variabel lain yang menjadi
pertimbangan untuk dapat mengangkat seorang karyawan ke posisi yang lebih tinggi.

5. Menggunakan Alat Baru untuk Bekerja


Alat komunikasi merupakan alat penunjang yang sangat diperlukan untuk
mendukung tersampaikannya informasi secara cepat, tepat dan efektif. Pada era internet
seperti saat ini, alat komunikasi seperti telepon dinilai tidak lg efisien, maka semua
perusahaan perusahaan kini harus memiliki akses internet, sebagai fasilitas penunjang
karyawannya dalam bekerja. Sejauh ini penilaian saya, belum ada perusahaan yang
memiliki alat komunikasi tersendiri dalam menerima informasi yang melebihi
keefisienan teknologi internet.

6. Bekerja sambil Belajar


Fenomena ini dapat kita lihat pada lowongan kerja yang banyak tercantum pada
media massa, disana banyak perusahaan yang mencari karyawan dari segala jurusan
lulusan S1 dan sederajat. Menurut pendapat saya, perusahaan perusaan ini telah
menyadari bahwa karyawan yang memiliki soft skill yang baik lebih diutamakan, karena
nyatanya pada setiap pekerjaan apapun, seorang yang baru bekerja pasti membutuhkan
tuntunan dari senior/atasan selama beberapa waktu apapun bentuknya sebagai proses
adaptasi dengan perusahaan yang ia tempati. Selain itu, banyak juga bank-bank yang
menerapkan system ini pada pegawainya, setiap pegawai memiliki jenjang karier dimana
dia tidak menetap lama di posisi yang sama. Dalam hitungan bulan, bila pegawai tersebut
dianggap telah menguasai pekerjaan sebelumnya, maka ia akan dipindahkan ke posisi
berbeda (contohnya teller CS). Tujuannya tak lain agar karyawan betul-betul
menguasai segala aktifitas perbankan secara bertahap.

Kesimpulan

Beberapa perusahaan sudah menganut konsep konsep tren pola kerja pegawai
kantoran di masa depan, namun tidak keseluruhan konsep tersebut dapat diterapkan di
suatu perusahaan. Apalagi lembaga atau organisasi yang berada dibawah pemerintah.
Akan sangat sulit untuk dapat menerapkan keseluruhan konsep, karena budaya organisasi
kepemerintahan yang telah ada sejak awal sudah menjadi citra bagi lembaga
kepemerintahan. Menciptakan suasana yang kondusif sangat penting dilakukan di
lingkungan kerja agar bisa menghasilkan kinerja yang produktif dan inovatif. Aturan
tetap harus dibuat tetapi dengan tujuan untuk menghasilkan kinerja yang berkualitas.
Bukan dengan tujuan mengekang karyawan, apalagi sampai membunuh kreatifitas.