Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH NASIONAL INDONESIA 1

Kerajaan Pajajaran (10-16 M) di Jawa Barat

Disusun Oleh :

Nama :

Rensy Novianny ( 06121004030 )


Septian Virgo Netra ( 061210040 )

Dosen Pembimbing : Dr. L. R. Retno Susanti, M. Hum

Program Studi Pendidikan Sejarah


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan
Universitas Sriwijaya

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat
dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat
waktu.

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul " kerajaan pajajaran
", yang di sajiakan pada mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia 1.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat
kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Palembang ,

November 2012

"Penulis"

Daftar Isi

Latar Belakang Kerajaan Pajajaran (10-16 M) di Jawa Barat


Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini
beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di
Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota.
Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu
kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri
Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung
Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pajajaran
Awal Pakuan Pajajaran
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah.
Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa
kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat
Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.
Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain
diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu
Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga
menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.
Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari
Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati.
Aturan itu keluar sejak Peristiwa Bubat yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh
dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.
Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut
besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.
Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan
keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta
kepada putera mahkota yang ditunjuk.
Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu
Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata
menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja
mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.
Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal
berdirinya Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun
1482.
http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/

Sumber Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan
bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan
dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari
ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran,
Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.
Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak

Prasasti Batu Tulis, Bogor

Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi

Prasasti Kawali, Ciamis

Tugu Perjanjian Portugis (padra), Kampung Tugu, Jakarta

Taman perburuan, yang sekarang menjadi

Kebun Raya Bogor.

http://bedegong.xtgem.com/files/Kerajaan_Pajajaran_1
A. Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor


Selatan, Kota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Prasasti
Batutulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran dan masih in situ, yakni masih terletak
di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini.[1] Batu Prasasti dan benda-benda lain

peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimatkalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533
Masehi).
http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Batu_Tulis
B. Prasasti Sanghyang Tapak

Prasasti Sanghyang Tapak (juga dikenal sebagai Prasasti Jayabupati atau Prasasti
Cicatih )[1] adalah prasasti kuno perangka tahun 952 saka (1030 M), terdiri dari 40 baris yang
memerlukan 4 buah batu untuk menulisnya. Keempat batu prasasti ini ditemukan di tepi
Sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Tiga diantaranya ditemukan di dekat
Kampung Bantar Muncang, sementara sebuah lainnya ditemukan di Kampung Pangcalikan.
Prasasti ini ditulis dalam huruf Kawi Jawa. Kini keempat batu prasasti ini disimpan di
Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Sanghyang_Tapak
C. Prasasti Astana Gede / kawali

Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan
di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti
"utama" yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan,
terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda
(Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh
kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.

http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kawali

D. kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman
buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu
Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebun_Raya_Bogor
Daftar raja Pajajaran

Sri Baduga Maharaja (1482 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)

Surawisesa (1521 1535), bertahta di Pakuan

Ratu Dewata (1535 1543), bertahta di Pakuan

Ratu Sakti (1543 1551), bertahta di Pakuan

Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan


anaknya, Maulana Yusuf

Raga Mulya (1567 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari
PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)

Rahyang Niskala Wastu Kencana

Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)

Sri Baduga MahaRaja

Hyang Wuni Sora

Ratu Samian (Prabu Surawisesa)

dan Prabu Ratu Dewata.


http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/

Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran


Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa
keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat,
seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup
abadi dihati dan pikiran masyarakat.
Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan.
Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.
Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama
Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia
memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan
pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat.
Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran
(bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat
angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undangundang kerajaan
Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti
Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih
bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.
Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui
bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga
Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran,
pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja
bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan.
http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/

Kondisi Kehidupan Ekonomi


Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama
perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan.
Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang,
Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)
http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/

Kondisi Kehidupan Sosial


Kehidupan masyarakat Pajajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman
(pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan
yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)
http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/
Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu.
Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang
Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.
http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawa-barat/
Puncak Kehancuran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya,
yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya
Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan
di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di
Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf
adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri
Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan
bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti
mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pajajaran

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini
beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang
terletak di Parahyangan (Sunda).

Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab


cerita, dan berita asing.

Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa
keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan
kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.

http://shelvievi.wordpress.com/2010/09/29/kerajaan-pajajaran-10-16-m-di-jawabarat/

DAFTAR PUSTAKA