Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Perkembangan bangsa Indonesia telah mengalami banyak perubahan baik
secara konstitusi maupun sistem pemerintahan salah satunya yaitu Sistem
pemerintahan Demokrasi Liberal. Seperti yang kita ketahui Demokrasi Liberal
adalah sistem politik yang melindungi secara konstitusi hak hak individu dari
kekuasaan pemerintah yang berkembang di Eropa dan Amerika Serikat. Di
Indonesia masa demokrasi Liberal berlaku antara tahun 1950 1959, ditandai
dengan tumbuh suburnya partai politik dan berlakunya kabinet parlementer.
Demokrasi Liberal di Indonesia ditandai oleh prestasi politik dan kemelut politik.
Prestasi politik berupa pemberlakuan sistem multipartai dan penyelenggraan
pemilu yang demokratis, sedangkan kemelut politik yang terjadi ialah berupa
kabinet yang silih berganti.
Di dalam Prestasi politik Demokrasi Liberal selain itu juga dapat
menghidupkan suasana

demokratis

di Indonesia.

Setiap warga berhak

berpartisipasi dalam politik, antara lain mengkritik pemerintah, dan mendirikan


partai politik. Kemudian mencegah kekuasaan presiden yang terlalu besar karena
wewenang pemerintah dipegang oleh partai yang berkuasa.
Sistem pemerintahan dalam bidang politik yang dianut pada Demokrasi
Liberal adalah sistem kabinet parlementer. Sistem pemerintahan tersebut
berlandaskan pada UUDS 1950 (Undang-undang Dasar Sementara Republik
Indonesia tahun 1950). Sistem pemerintahan ini menetapkan bahwa kabinetkabinet atau para menteri bertanggung jawab kepada parlemen. Selain itu, adanya
sistem multipartai pada masa ini menyebabkan terciptanya golongan mayoritas
dan minoritas dalam masyarakat, serta adanya sikap mementingkan golongan
partai politik masing-masing dari pada kepentingan bersama.

Pemerintahan pada masa Demokrasi Parlementer dijalankan oleh tujuh kabinet


dengan masa jabatan berbeda. ketujuh kabinet itu adalah Kabinet Ntasir dengan
masa jabatan antara 6 September 1950- 18 April 1951, Kabinet Sukiman dengan
masa jabatan antara 26 April 1951 26 April 1952, Kabinet Wilopo dengan masa
antara 19 Maret 1952 2 Juni 1953, Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa
jabatan antara 31 Juli 1953 24 Juli 1955, Kabinet Burhanuddin Harahap dengan
masa jabatan antara 12 Agustus 1955 3 Maret 1956, Kabinet Ali Sastroamidjojo
II dengan masa jabatan antara 24 Maret 1956 14 Maret 1957, dan Kabinet
Djuanda ( Kabinet Karya ) dengan masa jabatan antara 9 April 1957 10 Juli
1959. Adapun beberapa tujuan yang hendak dicapai oleh ketujuh kabinet tersebut,
yaitu

menjaga

keamanan

dan

ketertiban

rakyat,

mempersiapkan

dan

menyelenggarakan pemilu, menyelesaikan masalah dan memperjuangkan Irian


Barat ke dalam wilayah Indonesia, dan melaksanakan politik luar negeri bebas
aktif.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana pergantian kabinet pada masa demokrasi liberal?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan mengenai pergantian kabinet-kabinet pada masa demokrasi
liberal.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pergantian Kabinet-Kabinet pada Masa Demokrasi Liberal


1. Kabinet Natsir ( 6 September 1950 20 Maret 1951 )
Kabinet Natsir terbentuk pada 6 September 1950 dan berakhir pada 20
Maret 1951 yang diketuai oleh Natsir. Kabinet Ntasir merupakan koalisi yang
dipimpin oleh partai Mayumi. Dimana PNI sebagai partai kedua terbesar lebih
memilih kedudukan sebagai oposisi, karena PNI merasa tidak diberi kedudukan
yang sesuai (Lapian, dkk, 1996: 174).

Program program dari Kabinet Natsir ialah :


1.
2.
3.
4.
5.

Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman


Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan
Memperkuat angkatan perang
Memperjuangkan penyelesaian soal Irian Barat secepatnya
Mengembangkan dan memperluas ekonomi kerakyatan.

Pada masa pemerintahan dan kekuasaan Kabinet Natsir terjadi


pemberontakan hampir seluruh wilayah Indonesia, seperti gerakan DI/TII,
Gerakan Andi Aziz, Gerakan APRA, dan Gerakan RMS. Pada tanggal 4 Desember
1950 Perundingan soal irian Barat yaitu Indonesia dengan Belanda mulai dirintis,
namun perundingan mengalami jalan buntu. Hal ini menimbulkan mosi tidak
percaya terhadap kabinet Natsir. PNI juga tidak menyetuji berlakunya Peraturan
Pemerintah No.39 Tahun 1950 tentang DPRS dan DPRDS yang dianggap
menguntungkan Masyumi. Sehingga pada tanggal 21 Maret 1950 kabinet Natsir
mengembalikan mandatnya kepada presiden.

2. Kabinet Sukiman ( 27 April 1951 3 Aril 1951 )


Kabinet Sukiman terbentuk pada tanggal 27 April 1951 setelah pada
tanggal 21 Maret 1951 Natsir mengembalikan mandatnya kepada presiden
Soekarno. Presiden Soekarno kemudian menunjuk Mr.Sartono dari PNI untuk
membentuk kabinet baru. Sartono berusaha membentuk kabinet koalisi PNIMasyumi, sebab kedua partai ini merupakan partai yang terkuat dalam DPR saat
itu. Akan tetapi, usaha Sartono menemui kegagalan dan pada tanggal 18 April
1951 ia mengembalikan mandatnya kepada presiden.
Presiden Soekarno kemudian menunjuk dua orang formatur baru, yaitu
Sidik Djojosukarto (PNI) dan dr.Sukiman Wirjosandjojo (Masyumi) untuk dalam
lima hari membentuk kabinet koalisi atas dasar nasional yang luas. Akhirnya,
setelah diadakan perundingan pada tanggal 26 April 1951 diumumkan susunan
kabinet baru di bawah pimpinan dr.Sukiman Wijosandjojo (Masyumi) dan
Suwirjo (PNI). (Poesponegoro,2008:309)
Program-program dari kabinet ini diantaranya ialah:
1. Keamanan: akan menjalankan tindakan-tindakan yang tegas sebagai
negara hukum untuk menjamin keamanan dan ketenteraman.
2. Sosial-ekonomi: mengusahakan kemakmuran rakyat secepatnya dan
memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani,
serta mempercepat usaha penempatan bekas pejuang dilapangan usaha
3. Mempercepat persiapan-persiapan pemilihan umum
4. Politik luar negeri: menjalankan politik luar negeri secara bebas-aktif serta
memasukan Irian Barat kedalam wilayah RI secepatnya.
Kabinet ini juga tidak berusia lama karena banyak soal yang mendapat
tantangan dalam parlemen termaksuk dari Masyumi dan PNI sendiri. Konflik
politik muncul akibat Menteri Dalam Negeri Mr.Iskaq (PNI) menginstruksikan
penonaktifan dewan-dewan perwakilan daerah yang dibentuk berdasarkan PP
No.39. konflik kepentingan bertambah tajam ketika Iskaq mengangkat tokok PNI
menjadi gubernur di Jawa Barat dan Sulawesi. Tindakan ini ditentang oleh

Perdana Menteri Sukiman dan golongan militer. Akibatnya, Yamin mengundurkan


diri.(Poesponegoro,2008:309)
Akan tetapi, sebenarnya penyebab jatuhnya kabinet Sukiman ialah Mosi
Sunario(PNI) berkaitan dengan penandatanganan perjanjian Mutual Security Act
(MSA) oleh Menteri Luar Negeri ahmad Subardjo dan duta besar Amerika
Serikat, Merlen Cochran. Perjanjian itu menyangkut bantuan ekonomi dan
bantuan persenjataan Amerika Serikat kepada Indonesia. Persetujuan itu
menimbulkan tafsiran bahwa Indonesia telah memasuki Blok Barat (AS) yang
berarti bertentangan dengan politik luar negeri bebas-aktif. Subardjo hanya
melaporkan kepada Sukirman tanpa konsultasi dengan Menteri Pertahanan
Sewaka dan pimpinan angkatan perang. (Poesponegoro,2008:310)
Mosi Sunario menuntut agar semua perjanjian yang bersifat internasional
harus di sahkan oleh parlemen. Mosi ini disusul dengan tuntutan PNI agar kabinet
mengembalikan mandatnya kepada presiden. Akibat Mosi itu, Menteri Luar
Negeri Subardjo mengundurkan diri dan pada tanggal 23 februari 1952 kabinet
Sukiman mengembalikan mandatnya kepada presiden. (Poesponegoro,2008:310)
3. Kabinet Wilopo ( 3 April 1952 3 Juni 1953 )
Setelah Kabinet Sukiman jatuh, Mr. Wilopo pada tanggal 30 maret
mengajukan susunan kabinetnya yang terdiri atas PNI dan Masyumi masingmasing mendapat jatah 4 orang, PSI 2 orang, Partai Katholik Republik Indonesia
(PKRI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Indonesia Raya (Parindra),
Partai Buruh, dan PSII masing-masing 1 orang, dan golongan tidak berpartai 3
orang. Dalam menentukan susunan personalia kabinetnya, Wilopo mengusahakan
adanya suatu tim yang padu sebagai Zaken Kabinet, sehingga dapat secara bulat
mendukung kebijakan pemerintah. (Poesponegoro,2008:311)
Program kabinet Wilopo terutama ditujukan pada persiapan pelaksanaan
pemilihan umum (untuk Konstituante, DPR, dan DPRD), kemakmuran,
pendidikan rakyat, dan keamanan. Program luar negeri terutama ditujukan pada
penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda dan pengambilan Irian Barat
ke Indonesia serta menjalankan politi bebas-aktif menuju perdamaian dunia.

Wilopo dengan kabinetnya berusaha melaksanakan program itu dengan sebaikbaiknya. Akan tetapi, kesukaran-kesukaran yang dihadapi tidaklah sedikit.
Diantara

kesukaran-kesukaran

yang

harus

diselesaikan

ialah

timbulnya

provinsialisme dan bahkan separatisme. Di beberapa tempat diSumatera dan


Sulawesi timbul rasa tidak puas terhadap pemerintah pusat. Alasan utama adalah
kekecewaan karena tidak seimbang alokasi keuangan yang diberikan oleh pusat
kepada daerah. Daerah merasa bahwa sumbangan yang mereka berikan kepada
pusat dari hasil ekspor misalnya, lebih besar dari pada yang dikembalikan oleh
pusat kepada daerah. Mereka juga menuntut diperluasnya hak otonomi daerah.
Timbul pula perkumpulan-perkumpulan yang berlandaskan semangat kedaerahan,
seperti Paguyuban Daya Sunda di Bandung dan Gerakan Pemuda Federal
Republik Indonesia di Makasar. (Poesponegoro,2008:312)
Selain soal kedaerahan dan kesukuan, pada tanggal 17 oktober 1952
timbul soal dalam Angkatan Darat yang terkenal dengan peristiwa 17 oktober.
Peristiwa ini dimulai dengan perdebatan sengit di DPR selama berbulan-bulan
mengenai masalah pro dan kontra kebijakan Menteri Pertahanan dan pimpinan
angkatatan Darat. Aksi pihak kaum politisi itu akhirnya menimbulkan reaksi yang
keras dari pihak Angkatan Darat. (Poesponegoro,2008:312)
Aksi-aksi ini di ikuti dengan penangkapan 6 orang anggota parlemen dan
penganngusan beberapa surat kabar. Demonstrasi-demonstrasi yang menuntut
pembubaran parlemen itu terjadi pula di Semarang, Banjarmasin, Medan, dan
Bandung.

Akibat

peristiwa

ini

kedudukan

kabinet

menjadi

goyah.

(Poesponegoro,2008:313)
Kedudukan kabinet juga semakin goyah dengan adanya persoalan tanah di
Sumatera Timur yang terkenal dengan nama Peristiwa Tanjung Morawa.
Akibatnya pada tanggal 2 juni 1953 Wilopo mengembalikan Mandatnya kepada
Presiden. Kabinet kembali demisioner dan Indonesia mengalami krisis pemerintah
lagi.untuk membentuk kabinet baru yang diharapkan mendapat dukungan cukup
dari parlemen, pada tanggal 15 juni 1953 presiden Soekarno menunjuk Sarmidi
Mangunsarkoro (PNI) dan Moh.Roem (Masyumi) sebagai formatur.kedua
formatrur gagal mencapai kesepakatan dengan beberapa partai. Pada tanggal 24
juni 1953 mereka mengembalikan mandat kepada presiden.formatur baru kembali

dipilih yaitu Mukarto Notowidagdo (PNI), tidak pula berhasil mencapai


kesepakatan dengan Masyumi mengenai komposisi dan personalia kabinet.
Setelah Mukarto mengembalikan mandatnya pada tanggal 18 juli, presiden
Soekarno menunjuk Mr.Wongsonegoro (PIR) sebagai formatur. Ia berhasil
menghimpun partai-partai kecil untuk mendukungnya.
4. Kabinet Ali Sastroamindjojo 1 ( 30 Juli 1953 12 Agustus 1955 )
Pada tanggal 30 juli kabinet baru dilantik tanpa mengikutsertakan
Masyumi, tetapi memunculkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kekuatan baru. Ali
Sastroamidjojo diangkat sebagai perdana menteri. Kabinet ini dikenal dengan
nama kabinet Ali 1 atau kabinet Ali-Wongso. (Poesponegoro,2008:313-314)
Program-program kabinet ini ialah :
a. Program dalam negeri antara lain meningkatkan keamanan dan
kemakmuran dan segera diselenggarakan pemilihan umum.
b. Pembebasan Irian Barat secepatnya
c. Program luar negeri antara lain pelaksanaan politik bebas-aktif dan
peninjauan kembali persetujuan KMB
d. Penyelesaian pertikaian politik.
Selain soal keamanan di daerah-daerah yang belum dapat dipulihkan
seperti gerombolan DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat, DI/TII Kahar
Muzakar di Sulawesi Selatan, kabinet Ali 1 juga menghadapi persoalan-persoalan
lain, baik soal dalam negeri maupun luar negeri, salah satu persoalan didalam
negeri yang harus diselesaikan masalah pemilihan umum yang direncanakan akan
dilaksanakan pada pertengahan tahun 1955. Panitia pemilihan umum pusat
dibentuk pada tanggal 31 Mei 1994, diketuai oleh Hadikusumo (PNI). Pada
tanggal 16 april 1955 Hadikusumo mengumumkan bahwa pemilihan umum untuk
parlemen akan diadakan pada tanggal 29 September 1955. Dengan adanya
pengumuman ini kampanye yang dilakukan oleh partai-partai semakin meningkat.
(Poesponegoro,2008:314)
Walaupun kabinet Ali-Wangso dapat dikatakan merupakan kabinet yang
paling lama bertahan, akhirnya pada tanggal 24 juli 1955, Ali Sastroamidjojo

mengembalikan mandatnya. Penyebab yang utama ialah persoalan dalam TNI AD


sebagai lanjutan dari peristiwa 17 oktober dan soal pimpinan TNI AD menolak
pimpinan baru yang diangkat oleh Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri tanpa
menghiraukan norma-norma yang berlaku di dalam lingkungan TNI AD. Selain
itu juga karena keadaan ekonomi yang semakin buruk dan korupsi yang
mengakibatkan kepercayaan rakyat merosot. (Poesponegoro,2008:314)
Pada tanggal 20 juli 1955, NU memutuskan untuk menarik kembali
menteri-menterinya, yang kemudian diikuti oleh partai-partai lain. Terjadinya
keretakan pada kabinetnya memaksa Ali Sastroamidjojo mengembalikan
mandatnya. Kabinet ini merupakan kabinet terakhir sebelum diadakannya
pemilihan umum. Prestasi menonjol kabinet Ali-Wongso ialah dilangsungkannya
Konferensi Asia Afrika bulan April 1955 (Poesponegoro, 2008:314).
5. Kabinet Burhanuddin Harahap
Setelah kabinet Ali-Wongso menyerahkan mandatnya kembali, pada
tanggal 29 juli 1955, wakil presiden Moh.Hatta mengumumkan nama tiga orang
formatur yang bertugas membentuk kabinet baru. Ketiga formatur itu ialah
Sukiman (Masyumi), Wilopo (PNI), dan Assaat (Nonpartai).pada tanggal 3
Agustus 1955 ketiga formatur ini mengembalikan mandatnya dikarenakan
terjadinya pertentangan (Poesponegoro, 2008:316).
Hatta kemudian menunjuk Mr.Burhanuddin Harahap (Masyumi) untuk
membentuk kabinet. Burhanuddin Harahap mendekati PNI dan menawarkan
kedudukan Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Pekerjaan
Umum. PNI menerima tawaran ini tetapi menuntut hak untuk menunjuk orang
yang akan duduk didalamnya, sedangkan formatur menghendaki agar orangorangnya dipilih oleh formatur sendiri. Jalan buntu tidak dapat dihindari, akhirnya
Burhanuddin Harahap berhasil membentuk kabinet baru tanpa PNI. Kabinet ini
terdiri dari 23 menteri dan didominasi oleh Masyumi (Poesponegoro, 2008:316317).
Setelah

kabinet

terbentuk,

polisi

militer

menangkap

MR.Djody

Gundokusumo, mantan Menteri Kehakiman dalam kabinet Ali 1, dengan tuduhan


korupsi. Pada tanggal 14 agustus 1955 berlangsung serangkaian penangkapan

terhadap pejabat tinggi. Tindakan ini merupakan salah satu pelaksanaan program
kabinet, yaitu pemberantasan korupsi (Poesponegoro, 2008:317).
Program lain Kabinet Burhanuddin Harahap yang harus diselesaikan
seperti telah dijanjikan dalam pembentukan kabinet ialah pemilihan umum.
Golongan oposisi mendesak terus pada kabinet untuk melaksanakan pemilihan
umum secepat mungkin (Poesponegoro, 2008:317).
Pada kabinet ini pemilu untuk pertama kalinya terlaksana. Pada tanggal 29
september 1955 lebih dari 39 juta orang rakyat Indonesia memberikan hak
suaranya, mewakili 91,5 % dari pemilih terdaftar. Hasil pemilihan umum ini
ternyata dimenangkan oleh empat partai yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI
sedang partai-partai lainnya mendapat suara jauh lebih kecil dari pada ke empat
partai tersebut (Ricklefs, 1991: 376).
Tugas kabinet Bahanuddin dianggap selesai dengan selesainya pemilihan
umum sehingga perlu di bentuk kabinet baru yang akan bertanggung jawab
kepada

parlemen

yang

baru.

Selain

itu,

dalam

pemerintahan

terjadi

ketidaktenangan karena banyak mutasi dilakukan dibeberapa kementerian,


misalnya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian
Perekonomian.hal-hal tersebut diatas lah yang merupakan faktor munculnya
desakan agar Burhanuddin Harahap mengembalikan mandatnya. Pada tanggal 3
maret 1956 kabinetpun bubar. (Poesponegoro,2008:321)
6. Kabinet Ali Sastroamindjojo II
Kabinet yang dipilih selanjutnya berdasarkan partai pemenang yang
mendapat suara terbanyak dalam pemilu yaitu PNI (mengajukan Ali
Sastroamindjojo). Personalia kabinet diumumkan tanggal 20 maret 1956. Kabinet
ini disebut kabinet Ali II. Inti kabinet adalah koalisi PNI, Masyumi, dan NU.
(Poesponegoro,2008:321)
Program kabinet ini yang disebut Rencana Lima Tahun, memuat soal-soal
jangka panjang yaitu usaha perjuangan memasukan Irian Barat kedalam RI.
Melaksanakan pembentukan daerah-daerah otonom dan mempercepat pemilihan
anggota-anggota DPRD, mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan
pegawai, menyehatkan keuangan negara sehingga tercapai imbangan anggaran

belanja serta berusaha mewujudkan pergantian ekonomi kolonial menjadi


ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat. (Poesponegoro,2008:322)
Kabinet yang baru ini mendapat kepercayaan penuh dari Presiden
Soekarno, yang kentara dari pidatonya didepan parlemen pada tanggal 26 maret
1956 yang menyebut kabinet ini sebagai titik tolak dari periode Planning dan
Investment . Namun kabinet Ali Sastroamindjojo II ini juga tidak luput dari
kesukaran-kesukaran yang harus dihadapi diantaranya yang terpenting adalah
berkobarnya perasaan anti-Cina dikalangan Masyarakat dan adanya kekacauan
dibeberapa daerah.kabinet Ali II ini juga dilaksanakan hubungan dengan negara
Blok Sosialis. Dengan Uni Sovyet pada bulan maret 1954 dibuka dengan
hubungan diplomatik. (Poesponegoro,2008:322-333)
7. Kabinet Djuanda ( Kabinet Karya 5)
Setelah Kabinet Ali ke-II jatuh, Presiden segera menunjuk Ketua Umum PNI
Suwiryo sebagai formateur kabinet baru. Presiden memberi mandat kepada
Suwiryo dengan tugas untuk membentuk sebuah Kabinet Gotong-royong, tetapi
ternyata tidak berhasil dan mengembalikan mandat tersebut kepada Presiden
Soekarno. Akhirnya Presiden Soekarno menunjuk dirinya sendiri sebagai
formateur kabinet. Pada tanggal 9 April 1957 telah berhasil membentuk Kabinet
Karya dengan Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri.
Kabinet Karya adalah kabinet peralhan dari sistem parlementer kabinet ke
sistem presidensil kabinet. Ternyata komposisi personalia Kabinet Karya yang
ditentukan formateur warga negara Soekarno, mengakibatkan partai-partai politik
yang tidak mendapat tempat merasa kecewa. Petualangan politik Partai Masyumi
dan PSI dimulai dengan menunggangi ketidakpuasan di daerah-daerah.
Ketidakpuasan

itu

kemudian

dimanfaatkan

sebesar-besarnya

untuk

mendiskreditkan Kabinet Karya atau Kabinet Djuanda, sebagai pemerintahan


diktator yang secara semena-mena melantarkan daerah-daerah dan semua
penghasilan devisa yang semuanya sebagian besar berasal dari karet dan kopra
dari Sumatera dan Sulawesi hanya untuk memperkaya orang-orang di Pulau Jawa.
Unttuk menyalurkan kekecewaan di daerah-daerah itu dibentuklah berbagai

macam dewan seperti Dewan Banteng di Daerah Sumatera Barat, Dewan Garuda
di Daerah Sumatera Selatan, dan Dewan Manguni di Daerah Sulawesi Utara.
Sebagai suatu upaya Pemerintahan Pusat untuk mengatasi krisis nasional,
maka kabinet Djuanda menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) pada
tanggal 15 September 1975. Sejalan dengan tuntutan Dewan-dewan di daerah
itu, Munas juga menginginkan keutuhan kembali Dwitunggal Soekarno-Hatta.
Selain iu Munas menyatakan bahwa perlu kembali ditinjau hubungan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah. Maka tanggal 4 Desember 1957 diselenggarakan
Musyawarah Nasional Pembangunan.
Ternyata krisis nasional telah semakin parah karena ada berbagai
kepentingan politk dan ideologi yang menjegal idealisme yang dipancarkan dari
Munas dan Munas Pembangunan tersebut. Peristiwa Cikini pada tanggal 30
November 1957 dan usaha pembunuhan atas Presiden Soekarno. Peristiwa itu
menjadi sebabb atau alasan untuk tidak diteruskannya usul pemecahan kemelut
intern Angkatan Darat sebagaimana diusulkan Munas. Ketegangan memuncak dan
dialog bertukar dengan ultimatum. Kemudian terjadi serentetan pertemuan yang
diprakasai dan dihadiri oleh Dewan Benteng dan Dewan Garuda di daerah-daerah
di Sungai Daerah.
Melalui serentetan pertemuan itu, Dewan-dewan di daerah itu kemudian
mengeluarkan suatu pernyataannya yang menuntut agar Drs. Mohamad Hatta dan
Sri Sultan Hamengku Buwono IX tampil untuk memimpin pemerntahan. Kegiatan
tuntutan

itu

ditolak,

maka

ketegangan

politik

berkembang

ke

arah

pembangkangan.
Pada tanggal 15 Februari 1958, Dewan Perjuangan mengeluarkan suatu
pengumuman bahwa mereka tidak lagi mengakui Kabinet Djuanda dan
menyatakan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), di
bawah Perdana Menteri Mr. Syafruddin Prawiranegara. Pada tanggal 17 Februari
1958 Mayor Somba dari Minahasa menyatakan dukungan kepada PRRI tersebut.
Politik Mayumi dan PSI menunggangi kekecewaan terhadap pembangunan daerah

dan ketidaksabaran menunggu penyelesaian masalah intern TNI-AD yang


berlarut-larut dari pihak komandan-komandan daerah TNI-AD di daerah Sumatera
Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Suawesi Utara, pada akhirnya
meledak dalam bulan februari 1958 dalam pemberontakan PRRI-PERMESTA
yang berpusat di Bukit Tinggi dan Manado.
Pada tanggal 20 dan 21 Februari 1958, pesawat-pesawat Angkatan Udara
Republik Indonesia mengadakan bombardemen dan penembakan dari udara atas
pusat-pusat kekuatan militer PRRI di Sumatera Barat dan secara terfokus di Kota
Padang.Pelabuhan Teluk Bayur telah terlebih dahulu diduduki Pasukan KKO,
kemudian diserahterimakan kepada Yon 440 Diponegoro. Dengan demikian
seluruh daerah Sumatera Barat sudah terkepung rapat oleh segenap unsur pasukan
TNI.Demikian pula dalam menghadapi Permesta di Sulawesi Utara peranan
Angkatan Udara dengan bombardemen dan penembakan dari udara pada sasaran
terfokus yaitu pusat-pusat kekuatan militer Permesta menjadi sasaran tembak.
Sedangkan rakyat Sulawesi Utara yang menentang Permesta dibentuk sebuah unit
pasukan bantuan yang direkrut oleh Mayor TNI-AD yang berhasil menusuk
lambung Permesta dari dalam.
Lima bulan setelah PRRI-PERMESTA melancarkan pemberontakannya,
Angkatan Perang Republik Indonesia berhasil menumpasnya dan lambat laun
keamanan dapat dipulihkan kembali di seluruh Indonesia sebelum berakhirnya
tahun 1958.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Sistem pemerintahan dalam bidang politik yang dianut pada Demokrasi


Liberal adalah sistem kabinet parlementer. Sistem oemerintahan ini menetapkan
bahwa kabinet-kabinet atau para menteri bertanggung jawab kepada parlemen.
Pemerintahan pada masa Demokrasi Parlementer dijalankan oleh tujuh kabinet
dengan masa jabatan berbeda. ketujuh kabinet itu adalah :
1. Kabinet Natsir ( 6 September 1950 20 Maret 1951 )

Kabinet Natsir terbentuk pada 6 September 1950 dan berakhir pada 20 Maret
1951 yang diketuai oleh Natsir. Kabinet Ntasir merupakan koalisi yang dipimpin
oleh partai Mayumi. Dimana PNI sebagai partai kedua terbesar lebih memilih
kedudukan sebagai oposisi, karena PNI merasa tidak diberi kedudukan yang
sesuai (Lapian, dkk, 1996: 174).
2. Kabinet Sukiman ( 27 April 1951 3 Aril 1951 )
Setelah Natsir mengembalikan mandatnya Presiden Soekarno kemudian
menunjuk Mr.Sartono dari PNI untuk membentuk kabinet baru, dimana kedua
partai ini merupakan partai yang terkuat dalam DPR saat itu. Akan tetapi, usaha
Sartono menemui kegagalan. Sehingga Akhirnya, setelah diadakan perundingan
pada tanggal 26 April 1951 diumumkan susunan kabinet baru di bawah pimpinan
dr.Sukiman Wijosandjojo (Masyumi) dan Suwirjo (PNI).
3. Kabinet Wilopo ( 3 April 1952 3 Juni 1953 )
Kesulitan2 yang muncul pada masa kabinet wilopo adalah timbulnya
provinsialisme dan bahkan separatisme. Di beberapa tempat diSumatera dan
Sulawesi timbul rasa tidak puas terhadap pemerintah pusat. Alasan utama adalah
kekecewaan karena tidak seimbang alokasi keuangan yang diberikan oleh pusat
kepada daerah. Daerah merasa bahwa sumbangan yang mereka berikan kepada
pusat dari hasil ekspor misalnya, lebih besar dari pada yang dikembalikan oleh
pusat kepada daerah. Mereka juga menuntut diperluasnya hak otonomi daerah.
Selain soal kedaerahan dan kesukuan, pada tanggal 17 oktober 1952 timbul soal
dalam Angkatan Darat yang terkenal dengan peristiwa 17 oktober.
4. Kabinet Ali Sastroamindjojo 1 ( 30 Juli 1953 12 Agustus 1955 )
Pada tanggal 30 juli kabinet baru dilantik tanpa mengikutsertakan Masyumi, tetapi
memunculkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kekuatan baru. Ali Sastroamidjojo
diangkat sebagai perdana menteri. Kabinet ini dikenal dengan nama kabinet Ali 1
atau kabinet Ali-Wongso.
5. Kabinet Burhanuddin Harahap

Burhanuddin Harahap membentuk kabinet baru tanpa PNI. Kabinet ini terdiri dari
23 menteri dan didominasi oleh Masyum.
6. Kabinet Ali Sastroamindjojo II
Kabinet ini disebut kabinet Ali II. Inti kabinet adalah koalisi PNI, Masyumi, dan
NU
Program:

memasukan Irian Barat kedalam RI


Melaksanakan pembentukan daerah-daerah otonom dan mempercepat

pemilihan anggota-anggota DPRD


mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai
menyehatkan keuangan negara sehingga tercapai imbangan anggaran

belanja
mewujudkan pergantian ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional
berdasarkan kepentingan rakyat.

7. Kabinet Djuanda ( Kabinet Karya 5 )


Setelah Kabinet Ali ke-II jatuh, Presiden segera menunjuk Ketua Umum PNI
Suwiryo sebagai formateur kabinet baru. Presiden memberi mandat kepada
Suwiryo dengan tugas untuk membentuk sebuah Kabinet Gotong-royong, tetapi
ternyata tidak berhasil dan mengembalikan mandat tersebut kepada Presiden
Soekarno. Akhirnya Presiden Soekarno menunjuk dirinya sendiri sebagai
formateur kabinet. Pada tanggal 9 April 1957 telah berhasil membentuk Kabinet
Karya dengan Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri.

Daftar Pustaka

Lapian, A.B, dkk. Terminologi Sejarah 1945-1950 & 1950-1959. Jakarta : CV.
Defit Prima Karya
Ricklefs, M. C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
Pakan Djon. Kembali ke Jatidiri Bangsa. 2002. Jakarta: Millenium Publisher.

Poesponegoro Marwati. J.2008.Sejarah Nasional Indonesia VI.Jakarta.Balai


Pustaka