Anda di halaman 1dari 8

Nyeri abdomen akut dapat disebabkan oleh berbagai diagnosa, termasuk

apendisitis akut, divertikulitis, dan kolesistitis. Pencitraan memainkan peran


penting dalam pengobatan dan manajemen pasien karena hasil evaluasi klinis
yang kurang akurat. Peran computed tomography (CT) adalah yang paling penting
karena dapat mendeteksi secara akurat dan mendiagnosis dalam kondisi yang
mendesak. CT scan telah terbukti memiliki efek yang baik dalam mendeteksi
nyeri abdomen akut. Efektivitas biaya CT scan dalam mendeteksi apendisitis akut
dan terbukti hemat biaya. CT scan bisa dipertimbangkan dalam teknik utama
untuk diagnosis nyeri abdomen akut, kecuali pada pasien klinis yang dicurigai
memiliki kolesistitis akut. Pada pasien ini, ultrasonografi adalah teknik pencitraan
pilihan utama. Ketika biaya dan paparan radiasi pengion menjadi perhatian utama,
strategi yang mungkin adalah untuk melakukan USG sebagai teknik awal pada
semua pasien dengan nyeri akut abdomen. Penggunaan radiografi konvensional
memiliki peran dalam pencitraan untuk obstruksi usus. Namun, CT scan lebih
akurat dan lebih informatif. Dalam kasus perforasi usus, CT scan adalah teknik
yang paling sensitif untuk menggambarkan udara pada intraperitoneal dan bias
juga untuk menentukan penyebab perforasi. Pencitraan kurang bermanfaat dalam
kasus iskemia usus, meskipun beberapa tanda-tanda dari CT scan sangat spesifik.
Magnetic resonance (MRI) adalah pencitraan yang menjanjikan dan sebagai
alternative CT scan dalam evaluasi nyeri akut abdomen dan tidak melibatkan
penggunaan radiasi pengion. Namun, data tentang penggunaan MRI untuk
indikasi ini masih jarang.

Nyeri akut abdomen adalah keluhan utama pada pasien di IGD dan dapat
berhubungan dengan segudang diagnosis. Dari semua pasien yang datang ke IGD,
4% -5% mengalami keluhan nyeri akut abdomen. Menanyakan riwayat medis dan
melakukan pemeriksaan fisik adalah langkah-langkah diagnostik awal untuk
pasien ini. Atas dasar hasil evaluasi klinis dan laboratorium, dokter akan
mempertimbangkan pemeriksaan pencitraan untuk membantu dalam diagnosis
yang benar.
Nyeri akut abdomen adalah istilah yang sering digunakan untuk
menggambarkan sakit perut akut dalam subkelompok pasien yang harus
mendapatkan pelayanan yang cepat. Sebelum meluasnya penggunaan pencitraan,
pasien seperti ini adalah kandidat untuk operasi. Namun, dengan peran pencitraan,
beberapa pasien dengan perut akut tidak akan mengalami operasi cito. Pasien lain
dengan nyeri akut abdomen yang tidak memenuhi kriteria yang harus
didefinisikan sebagai abdomen akut misalnya, banyak pasien yang diduga
mengalami apendiksitis akut akan memerlukan pembedahan. Pada artikel ini, kita
menggunakan tema nyeri abdomen akut untuk merujuk pada pasien yang dirawat
di UGD dan memerlukan pencitraan.
Sebagian besar artikel tentang pencitraan dalam menentukan diagnosis
tertentu yang dapat menyebabkan nyeri abdomen akut, seperti apendiksitis akut
dan diverticulitis, telah diterbitkan. Keakuratan teknik pencitraan yang dilakukan
pada pasien yang dipilih dengan cermat diduga memiliki diagnosis spesifik dalam
studi penelitian tidak dapat selalu digeneralisasi dalam praktek klinis rutin.
Dalam ulasan ini, kita membahas peran pencitraan pada orang dewasa yang
datang ke UGD dengan nyeri abdomen akut. Fokus kami adalah nyeri akut
abdomen pada umumnya, tapi kami juga membahas sejumlah penyakit yang
sering dihadapi dalam nyeri akut abdomen seperti pasien dengan : radang usus
buntu, diverticulitis, kolesistitis, dan obstruksi usus. Meskipun perforasi usus dan
dan iskemia mesenterika kurang sering dihadapi, ini juga ditujukan karena
pencitraan adalah hal yang penting untuk diagnosis. Kondisi lain seperti
pankreatitis akut tidak dijelaskan karena pencitraan penting dalam manajemen
klinis tetapi tidak penting untuk diagnosis untuk kondisi seperti pankreatitis akut.
Radiografi konvensional, ultrasonografi, dan computed tomography sering
digunakan dalam diagnostik untuk pasien dengan nyeri abdomen akut. Magnetic
resonance dan laparoskopi juga tersedia, tetapi itu kurang sering digunakan untuk
pemeriksaan diagnostik awal. Dalam literatur, akurasi pencitraan pada pasien
dengan nyeri akut abdomen biasanya tidak dinyatakan dalam hal parameter seperti
sensitivitas, spesifisitas, dan prediksi nilai karena kurangnya referensi. Diagnostik
pencitraan merupakan modalitas yang sering dinyatakan dalam perubahan

diagnosis, perubahan manajemen klinis, dan atau sejauh mana dokter yang
merawat di UGD sangat terbantu dengan adanya pencitraan. Pemeriksaan
radiologi yang dapat membantu misalnya, untuk mengarahkan ke diagnosis dan
untuk menentukan diagnosis kerja.

NYERI AKUT ABDOMEN


Penyebab nyeri akut abdomen itu bermacam macam. Apendisitis akut,
diverticulitis, kolesistitis, dan obstruksi usus adalah penyebab umum dari nyeri
akut abdomen. Hal lainnya tetapi kurang sering yang dapat menyebabkan nyeri
akut abdomen adalah perforasi usus dan iskemia usus.
Diagnosis yang akurat dapat dibuat semata-mata atas dasar riwayat medis,
pemeriksaan fisik, dan laboratorium. Manifestasi klinis yang bervariasi sebagai
penyebab nyeri akut abdomen biasanya tidak langsung. Untuk perawatan yang
tepat, penegakan diagnostik yang memungkinkan klinisi untuk membedakan
antara berbagai penyebab nyeri akut abdomen itu penting dan peran pencitraan
penting dalam proses ini. Banyak pasien dirujuk tanpa diagnosis awal yang jelas
dan dengan pencitraan dijamin untuk menentukan diagnosis dan mengarahkan
untuk penatalaksanaan selanjutnya pada pasien. Menurut American College of
Radiology (ACR) kesesuaian bahan kontras yang ditingkatkan dalam CT scan
abdomen dan panggul dianggap yang paling tepat untuk pemeriksaan pasien
dengan demam, nyeri abdomen yang tidak terlokalisir, dan pasien yang belum
pernah operasi. CT scan, USG dan konvensional radiografi dianggap kurang baik
untuk pemeriksaan awal untuk pasien ini.
RADIOGRAFI KONVENSIONAL UNTUK ABDOMEN DAN THORAX
Radiografi konvensional umumnya pemeriksaan pencitraan awal yang
dilakukan untuk penegakan diagnosis pada pasien yang datang dengan nyeri akut
abdomen di UGD. Pemeriksaan ini tersedia secara luas, dapat dengan mudah
dilakukan dan digunakan untuk menyingkirkan diagnosis utama seperti obstruksi
usus dan perforasi usus. Radiografi konvensional biasanya untuk pemeriksaan
thorax dan abdomen.
Tingkat akurasi untuk radiografi konvensional dalam penegakan diagnosis
pasien dengan nyeri akut abdomen tidak meyakinkan. Beberapa peneliti studi
telah melaporkan akurasi 53%. Di satu penelitian, manajemen perawatan berubah
setelah review dari radiografi dilaporkan hanya 4% dari pasien. Pada sebagian
besar pasien, pencitraan selanjutnya dilakukan setelah radiografi konvensional.
USG dan CT scan dibandingkan dengan radiografi konvensional, hasil nilai
akurasi nyata lebih tinggi. Sensitivitas secara keseluruhan CT scan dilaporkan
96% dibandingkan dengan 30% untuk radiografi konvensional. Pemeriksaan
pencitraan dilakukan pada pasien dengan nyeri akut abdomen di banyak lembaga.
Data yang tepat tentang jumlah individu yang datang dengan nyeri akut abdomen
di UGD dan menjalani pemeriksaan radiografi konvensional tidak tersedia. Lima
puluh sampai tujuh puluh lima persen pasien diduga menderita apendiksitis akut

menjalani radiografi konvensional, meskipun bukti dalam literatur dengan


radiografi konvensional tidak memiliki hasil untuk menegakan diagnosis. Dalam
kasus seperti pasien yang diduga dengan obstruksi usus, perforasi usus, batu
saluran kemih, dan atau adanya benda asing radiografi konvensional telah
dilaporkan memiliki akurasi yang baik. Radiografi konvensional berguna pada
pasien ini. Baru-baru ini studi tentang sensitivitas untuk diagnosis obstruksi usus
secara signifikan lebih tinggi setelah radiografi konvensional. Dengan demikian,
Penggunaan radiografi konvensional mungkin dibenarkan terbatas pada pasien ini,
hanya jika CT scan tidak tersedia. Dosis radiasi pada radiografi konvensional
relatif terbatas (sekitar 0,1-1,0 mSv) dibandingkan dengan radiasi CT scan (sekitar
10 mSv).
PEMERIKSAAN USG
USG adalah modalitas pencitraan lain yang biasa digunakan dalam proses
diagnostic pasien dengan nyeri akut abdomen. Dengan USG organ perut dan
saluran makanan dapat ditampilkan. USG secara luas tersedia dan mudah diakses
di UGD. USG merupakan pemeriksaan dinamis yang dapat mengungkapkan ada
atau tidak adanya peristaltik dan menggambarkan aliran darah. Selain itu, USG
berkorelasi hasil dengan titik kelembutan maksimal. Ketersediaan untuk kasus
gawat darurat, mengurangi biaya, dan kurangnya paparan radiasi merupakan
keuntungan dari USG dibandingkan dengan CT scan. Ketika ahli radiologi
melakukan pemeriksaan pada pasien dengan USG, lebih relevan hasil yang
didapat dalam pemeriksaan. Misalnya, hasil USG dapat memberikan hasil
diagnosis yang sebelumnya tidak terduga, dalam hal ini tambahan dari riwayat
medis menjadi penting.
USG adalah teknik yang paling umum digunakan untuk memeriksa pasien
dengan nyeri akut abdomen. Dengan teknik ini, jaringan lemak dan usus dapat
dipindahkan atau dikompresi dengan cara kompresi bertahap untuk menampilkan
struktur yang mendasari. Selanjutnya, jika usus tidak dapat dikompresi, maka itu
merupakan indikasi peradangan. (3,5-5,0 MHz) dan linear (dari 5,0-12,0 MHz)
transduser yang digunakan paling umum dengan frekuensi berdasarkan aplikasi
dan perawakannya pasien. USG memiliki akurasi 56% dengan keluhan pasien
nyeri akut abdomen, dan di penelitian lain itu dapat mendiagnosis, memberikan
informasi atau konfirmasi diagnosis banding sebanyak 65%. Di antara 496 pasien
yang dengan nyeri akut abdomen di UGD, proporsi pasien dengan benar diagnosis
setelah evaluasi klinis meningkat 70% menjadi 83% setelah evaluasi dengan
USG. Dalam dua studi yang diterbitkan, temuan USG menyebabkan perubahan
dalam manajemen pengobatan sebanyak 22%.

PEMERIKSAAN CT-SCAN
Penggunaan CT dalam evaluasi nyeri akut abdomen telah meningkat untuk
sebagian besar. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, jumlah pemeriksaan CT scan
dilakukan untuk indikasi ini meningkat 141% antara tahun 1996 dan 2005.
Kenaikan ini terkait dengan akurasi yang tinggi CT scan dalam diagnosis penyakit
tertentu. Misalnya, usus buntu dan diverticulitis.
Teknik CT yang digunakan untuk menguji pasien dengan nyeri akut
abdomen umumnya melibatkan pemindaian seluruh perut setelah pemberian
intravena dari media kontras iodinasi. Meskipun CT abdomen dapat dilakukan
tanpa media kontras, pemberian bahan kontras secara intravena dapat
memfasilitasi baik akurasi dengan positif nilai prediktif 95% dilaporkan untuk
diagnosis apendisitis dan peningkatan tingkat kepercayaan diagnostic. Meskipun
bahan kontras dari rektal dapat membantu dalam membedakan loop usus cairan
dari abses dalam beberapa kasus. Kurangnya media kontras enteral tampaknya
tidak menghambat akurasi pembacaan CT scan pada pasien dengan nyeri akut
abdomen seperti pada pasien pasca operasi. Misalnya, dalam serangkaian 1.021
pasien berturut-turut dengan nyeri akut abdomen dengan media kontras intravena,
tidak sebaik CT scan dengan kontras enteral. Multiplanar reformasi dapat
menguntungkan, terutama dalam kasus-kasus samar CT scan, dan meningkatkan
ahli radiologi dalam proses radiologi diagnostik.
Studi untuk mengevaluasi akurasi CT scan abdomen dilakukan pada
pasien dengan nyeri akut abdomen umumnya langka. Dalam studi kohort 1021
berturut-turut pasien dengan nyeri akut abdomen, USG dan CT scan dibandingkan
untuk penentuan diagnosis mendesak. CT scan secara signifikan lebih sensitif
dibandingkan USG. Sensitivitas tertinggi hanya 6% pada kasus mendesak
diperoleh dengan strategi diagnostic melibatkan penggunaan awal USG, diikuti
oleh CT scan. Penggunaan pendekatan ini juga menyebabkan pengurangan
paparan radiasi karena CT scan yang dibutuhkan hanya 49% dari pasien. Strategi
alternatif berdasarkan indeks massa tubuh atau usia pasien atau lokasi rasa sakit
mengakibatkan kehilangan sensitivitas. Dalam literatur, ada dua uji coba
terkontrol secara acak pada praktek standar dibandingkan dengan awal CT scan
dalam satu studi, awal CT scan dilakukan dalam waktu 1 jam dari presentasi, dan
dalam studi lain, hal itu dilakukan dalam waktu 24 jam pada pasien dengan nyeri
akut abdomen. Dalam dua studi ini, standar pemeriksaan nya yaitu radiografi
konvensional perut dan dada ditambah CT scan. CT scan diminta dalam hanya
setengahnya dari total pasien. Dalam percobaan pertama, pasien dalam kelompok
awal CT scan tinggal dirumah sakit dalam waktu yang lebih pendek, uji coba
secara acak kedua, untuk mengevaluasi pengurangan tinggal di rumah sakit.

Persentase diagnosa yang benar 24 jam setelah masuk tidak berbeda secara
signifikan antara kedua kelompok pasien (76% untuk awal CT scan, 75% untuk
praktek standar). Studi prospektif yang melibatkan pemeriksaan pasien dari dokter
yang memerintahkan CT scan menunjukkan bahwa CT scan memiliki pengaruh
yang signifikan pada diagnosis. Dalam satu studi, akurasi dari diagnosis klinis
dilakukan sebelum CT scan mengalami peningkatan dari 71% ke 93% setelah
dilakukan CT scan. Perubahan yang menyertainya dalam manajemen perawatan
adalah 46%. Penelitian lain mengungkapkan peningkatan yang signifikan dalam
tingkat kepercayaan dari diagnosis dibuat dengan CT scan : manajemen untuk
pengobatan pasien telah diubah 60%. CT scan abdomen dilaporkan baik secara
keseluruhan diantara sesama peneliti untuk penentuan diagnosis mendesak
tertentu, dengan nilai 0,84, 0,90, dan 0,81 untuk diagnosa apendiksitis akut,
diverticulitis, dan obstruksi usus,
Paparan radiasi pengion adalah kerugian CT scan. Radiasi efektif untuk
dosis CT abdomen sekitar 10 mSv. Sebagai perbandingan, latar belakang tahunan
dosis radiasi di Inggris, Amerika adalah sekitar 3 mSv. 10-mSv pada pemeriksaan
CT scan dalam 25 tahun dikaitkan dengan perkiraan risiko kanker yang diinduksi
satu pada 900 individu dan risiko yang berakibat fatal kanker sekitar satu tahun
sebanyak 1800 individu. Untuk orang yang lebih tua, risiko ini jauh lebih rendah.
Risiko ini harus ditimbang terhadap manfaat diagnostik langsung dan terkait
dengan risiko kanker seumur hidup. Satu dari tiga orang akan mengakibatkan
kanker. Hal ini penting untuk dicatat bahwa dosis radiasi efektif CT abdomen
dapat dikurangi dengan beberapa batas. Dalam studi apendisitis dan divertikulitis,
standar radiasi dosis (100- 120 dan-mAs) CT scan dibandingkan dengan 30-mAs.
Tidak ada yang signifikan perbedaan akurasi antara rendah dan tingginya radiasi
CT scan. 58 pasien yang diduga memiliki usus buntu, CT scan dosis rendah
dengan media kontras oral memiliki akurasi yang sebanding dengan yang CT scan
dosis standar dengan media kontras intravena. Umumnya, CT scan dosis efektif
dipengaruhi oleh modulasi dosis, dan kualitas keseimbangan gambar. Kelemahan
penggunaan kontras intravena adalah pada pasien dengan insufisiensi ginjal
iminen.
PEMERIKSAAN MRI
Pemeriksaan MRI belum banyak digunakan dalam penegakan diagnostik
pasien yang datang dengan nyeri akut abdomen di UGD. Keuntungan utama dari
MRI adalah kurangnya paparan radiasi pengion. Resolusi kontras intrinsik tinggi
diberikan dengan MRI adalah keuntungan lain, media kontras intravena mungkin
tidak diperlukan. Resolusi kontras yang tinggi berguna untuk penilaian dan
diagnosis penyakit panggul pada pasien wanita, tapi ini belum dibuktikan. Di

masa lalu, MRI diperlukan tapi dengan waktu yang lama. Saat ini, pencitraan
MRI untuk pasien dengan nyeri akut abdomen bias 15 menit lebih cepat. Namun,
kurangnya ketersediaan MRI menjadi masalah dibanyak rumah sakit.
MRI telah memberikan tingkat akurasi untuk penilaian dan diagnosis usus
buntu. MRI juga akurat dalam diagnosis diverticulitis. MRI lebih akurat dari CT
scan untuk diagnosis akut kolesistitis dan deteksi umum batu saluran empedu.
Namun, masih butuh penelitian ilmiah tentang penggunaan MRI pada pasien
dengan nyeri akut abdomen. Oleh karena itu, ketersediaan dan keahlian dengan
pemeriksaan ini terbatas, dan costeffectiveness yang belum diteliti. Lebih lanjut
penelitian ini harus diarahkan lebih baik untuk mendefinisikan peran MRI pada
kasus nyeri akut abdomen, terutama dibandingkan dengan USG dan CT scan. Saat
ini MRI digunakan untuk kasus di banyak lembaga, terutama setelah USG
menghasilkan temuan nondiagnostik pada wanita hamil. Bukti saat ini
menunjukkan bahwa pencitraan MRI sudah bias digunakan untuk indikasi yang
lebih luas. Claustrophobia merupakan kontraindikasi pada MRI, sehingga dapat
dilakukan pencegahan dengan pemeriksaan MRI.