Anda di halaman 1dari 4

ERUPSI OBAT

Urtikaria, Kelainan kulit terdiri atas urtika yang tampak eritem disertai edema akibat
tertimbunnya serum dan disertai rasa gatal. Bila dermis bagian dalam dan jaringan
subkutan mengalami edema, maka timbul reaksi yang disebut angioedema.
Angioedema ini biasanya unilateral dan nonpruritus, dapat hilang dalam jangka waktu
1-2 jam. Tetapi kadang dapat bertahan selama dua sampai lima hari. Pelepasan
mediator inflamasi dari suatu aktifasi yang bersifat non imunologis juga dapat
menimbulkan reaksi urtikaria. Urtikaria dan angioedema sangat berhubungan dengan
Ig-E sebagai suatu respon cepat terhadap penisilin maupun antibiotik lainnya. Obat
lain misalnya angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dalam jangka waktu
satu jam juga dapat menimbulkan urtikaria.

Eritema Kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah. Warna merah
akan hilang pada penekanan. Ukuran eritema dapat bermacam-macam. Jika besarnya
lentikuler maka disebut eritema morbiliformis, dan bila besarnya numular disebut
eritema skarlatiniformis.

Dermatitis medikamentosa, Gambaran klinisnya memberikan gambaran serupa


dermatitis akut, yaitu efloresensi yang polimorf, membasah, berbatas tegas. Kelainan
kulit menyeluruh dan simetris.

Purpura Purpura ialah perdarahan di dalam kulit berupa kemerahan pada kulit yang
tidak hilang bila ditekan. Purpura dapat timbul bersama-sama dengan eritem dan
biasanya disebabkan oleh permeabilitas kapiler yang meningkat..

Erupsi eksantematosam Lebih dari 90% erupsi obat yang ditemukan berbentuk erupsi
eksantematosa. Erupsi yang muncul dapat berbentuk morbiliformis atau

makulopapuler. Pada mulanya akan terjadi perubahan yang bersifat eksantematosa


pada kulit tanpa didahului blister ataupun pustulasi. Erupsi bermula pada daerah leher
dan menyebar ke bagian perifer tubuh secara simetris dan hampir selalu disertai
pruritus. Erupsi baru muncul sekitar satu minggu setelah pemakaian obat dan dapat
sembuh sendiri dalam jangka waktu 7 sampai 14 hari. Pemulihan ini ditandai dengan

perubahan warna kullit dari merah terang ke warna coklat kemerahan, yang disertai
dengan adanya deskuamasi kulit.

Erupsi eksantematosa dapat disebabkan oleh banyak obat termasuk penisilin,


sulfonamid, dan obat antiepiletikum. Dari hasil data laboratorium diketahui bahwa T
sel juga ikut terlibat dalam reaksi ini karena sel T dapat menangkap jenis obat tanpa
perlu memodifikasi protein dari hapten. Jika kelainan ini timbul berkali-kali ditempat
yang sama maka disebut eksantema fikstum.
Tempat predileksi disekitar mulut, terutama di daerah bibir dan daerah penis pada laki-

laki, sehingga sering disangka penyakit kelamin. Apabila adanya residif di tempat yang sama
maka disebut dengan eksantema fikstum.

Eritema nodosum Kelainan kulit berupa eritema dan nodus-nodus yang nyeri disertai
gejala umum berupa demam, dan malaise. Tempat perdileksi ialah di regio ekstensor
tungkai bawah.

Eritroderma Eritroderma pada penderita alergi obat berbeda dengan eritroderma pada
umumnya yang biasanya disertai eritem dan skuama. Pada penderita alergi obat
terlihat adanya eritema tanpa skuama, skuama justru baru akan timbul pada stadium
penyembuhan.2 h. Erupsi pustuler
Ada jenis erupsi, pertama erupsi akneiformis dan kedua Pustulosis Eksantematosa

Generalisata Akut (PEGA).


1.

Erupsi Akneiformis dihubungkan dengan penggunaan obat seperti iodida, bromida,


ACTH, glukokortikoid, isoniazid, androgen, litium dan actinomisin. Erupsi timbul
pada daerah-daerah yang atipikal seperti lengan dan kaki berbentuk monomorf
berbentuk akne tanpa disertai komedo.

2. Penyakit Pustulosis Eksantema Generalisata Akut (PEGA) memberikan gambaran


pustul miliar non folikular yang eritematosa disertai purpura dan lesi menyerupai lesi
target. Kelainan kulit timbul bila seseorang mengalami demam tinggi (>38 0C). Pustul
tersebut cepat menghilang dalam jangka waktu kurang dari 7 hari kemudian diikuti
oleh deskuamasi kulit. Pada pemeriksaan histopatologis didapat pustul intraepidermal
atau

subcorneal

yang

dapat

disertai

edema

dermis,

vaskulitis,

infiltrat

polimorfonuklear perivaskuler dengan eosinofil atau nekrosis fokal sel-sel keratinosit.


Walaupun demikian, penyakit ini sangat jarang terjadi.

Erupsi bulosa.Erupsi bulosa ini ditemukan pada; pemphigus foliaceus, fixed drug
eruption (FDE), erythema multiforme major (EM-major), SSJ dan TEN

Pemphigus. Obat yang dapat menyebabkannya adalah golongan penisilin dan


golongan thiol. Drug-induced bullous pemphigoid dapat terlihat dalam beberapa
bentuk. Dimulai dari urtikaria hingga terbentuk bulla yang luas dengan melibatkan
kavitas mukosa mulut, dapat juga berupa beberapa bulla dalam ukuran sedang atau
berupa plak dan nodul yang disertai skar dan bulla. Gangguan ini dapat muncul
kembali pada 35-50 persen kasus sebagai pemphigus foliaceus.

Fixed Drug Eruption (FDE). Lesi baru akan timbul satu minggu sampai dua minggu
setelah paparan pertama kali dan akan diikuti timbul lesi berikutnya dalam jangka
waktu 24 jam. FDE ini akan terlihat sebagai makula yang soliter, eritematosa dan
berwarna merah terang dan dapat berakhir menjadi suatu plak edematosa. Lesi
biasanya akan muncul di daerah bibir, wajah, tangan, kaki dan genitalia. Apabila
penderita memakan obat yang sama, maka FDE akan muncul kembali ditempat yang
sama. Histologisnya, FDE serupa dengan erythema multiformis yang ditandai dengan
adanya limfosit di dermal-epidermal junction dan perubahan degeneratif dari epitel
yang

disertai

diskeratosis. FDE kronis

memberikan

gambaran

acanthosis,

hiperkeratosis, dan hipergranulosis dan dapat ditemukan eosinofil dan neutrofil.


Terdapat peningkatan jumlah sel T helper dan sel T supresor pada tempat lesi.

Eritema multiformis merupakan erupsi mendadak dan rekuren pada kulit dan/atau
selaput lendir dengan tanda khas berupa lesi iris (target lesion).

Sindrom

Stevens-Johnson

(ektodermosis

erosiva

pluriorifisialis,

sindrom

mukokutaneaokular, eritema multiformis tipe Hebra, eritema multiforme mayor,


eritema bulosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula,
dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium, dan mata dengan
keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.

Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit kulit akut dan berat dengan
gejala khas berupa epidermolisis yang menyeluruh, disertai kelainan pada selaput
lendir di orifisium genitalia eksterna dan mata. Kelainan pada kulit dimulai dengan
eritema generalisata kemudian timbul banyak vesikel dan disertai purpura di wajah,
ekstremitas, dan badan. Kelainan pada kulit dapat disertai kelainan pada bibir dan
selaput lendir mulut berupa erosi dan ekskoriasi. Lesi kulit dimulai dengan makula
dan papul eritematosa kecil (morbiliformis) disertai bula lunak (flaccid) yang dengan
cepat meluas dan bergabung. Pada NET yang penting ialah terjadinya

epidermolisis, yaitu epidermis terlepas dari dasarnya dengan gambaran klinisnya


menyerupai luka bakar. Adanya epidermolisis menyebabkan tanda Nikolsky positif
pada kulit yang eritematosa, yaitu jika kulit ditekan dan digeser maka kulit akan
terkelupas. Epidermolisis mudah dilihat pada tempat yang sering terkena tekanan,
yakni punggung, aksila, dan bokong. Pada sebagian pasien kelainan kulit hanya
berupa epidermolisis dan purpura tanpa disertai erosi, vesikel, dan bula. Pada NET,
kuku dapat terlepas dan dapat terjadi bronkopneumonia. Kadang-kadang dapat terjadi
perdarahan di traktus gastrointestinal. Umumnya NET terjadi pada orang dewasa.
NET merupakan penyakit berat dan sering menyebabkan kematian karena gangguan
keseimbangan cairan/elektrolit atau sepsis.