Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU PACARAN

PADA REMAJA DI SMA MUHAMMADIYAH


KOTA BANDUNG TAHUN 2015
Dr.Hj.suryani Soepardan Dra.,MM1 Dra. Hj. Iryanti, S.Kp., M.Kes2
Dian Wulandari,S.Kep3 123 Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
STIKes Dharma Husada Bandung, Jl. Terusan Jakarta 75 Bandung
ABSTRAK
Keberhasilan orang tua dalam mendidik remaja yaitu tergantung dari cara atau pola asuh
orang tua yang diterapkan. Ada 3 pola asuh orang tua yang meliputi otoriter, demokrasi,
premisive yang dikembangkan untuk anak agar bisa menerapkan kedispilnana khusunya
dalam perilaku pacaran yang meliputi pacaran sehat dan pacaran tidak sehat. Tujuan
penelitian Hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku pacaran pada remaja di SMA
Muhammadiyah Kota Bandung Tahun 2015. Jenis penelitian berupa deskriptif korelasi
dengan pendekatan waktu cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 51 orang yang
diambil secara Simple minimal. Data yang digunakan berupa data primer menggunakan
kuesioner. Analisa data yang digunakan secara distribusi frekuensi dan uji chi-square.
Hasil penelitian didapatkan untuk kategori pola asuh orang tua menunjukan dari 51 orang
didapatkan pola demokrasi sebanyak 22 (43,1), perilaku pacaran didapatkan dengan
pacaran yang tidak sehat sebanyak 35 (68,6%). Terdapat hubungan yang signifikan antara
pola asuh orang tua dengan perilaku pacaran dengan p-value=0,000. Disarankan bagi
orang tua untuk memberikan bimbingan, motivasi, misalnya orang tua harus meluangkan
waktu untuk memperhatikan anaknya, serta mengontrol kegiatan mereka, menerapkan
kedisiplinan beribadah/beragama dengan cara memberi teladan yang baik.
Kata Kunci : Pola Asuh Orang tua, Perilaku Pacaran, Remaja
The success of parents in educating teenagers is dependent on the way or parenting
parents applied. There are 3 ways to teach parents that includes authoritarian,
democratic, premisive developed for children to be able to apply especially in courtship
behavior that includes healthy dating and courtship unhealthy. The research objective
parenting parents relationship with courtship behavior in adolescents SMA
Muhammadiyah Kota Bandung Tahun 2015. This type of research in the form of
descriptive correlation with cross sectional approach. Total sample of 51 people taken by
Simple minimal. Data used in the form of primary data using questionnaires. Data
analysis used frequency distribution and chi-square test. The result showed the category
of parenting parents show of 51 people found the pattern of democracy as much as 22
(43.1), obtained by courting courtship behavior that is not healthy as much as 35
(68.6%). There is a significant relationship between parenting parents with courtship
behavior with p-value = 0.000. It is advisable for parents to provide guidance,
motivation, for example, parents should take the time to pay attention to their children, as
well as control their activities, apply discipline to worship / religion by giving a good
example.

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

PENDAHULUAN
Periode remaja merupakan masa yang
sangat labil, terutama pada rentang usia
antara 1421 tahun sesuai dengan
batasan dari World Health Organization
(WHO) (Sarwono, 2004). Pada masa
tersebut keadaan fisik, psikologis, dan
seksualitas, seorang remaja mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat, sehingga perilaku pacaran
pada usia remaja tersebut cenderung
mengalami
banyak
permasalahan
(Andan, 2002). Diantara perubahanperubahan fisik yang berpengaruh pada
perkembangan
jiwa
remaja
dan
pertumbuhan tubuh, mulai berfungsinya
alat-alat reproduksi yang ditandai
dengan haid pada wanita dan mimpi
basah pada laki-laki, dan tanda-tanda
seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito,
2004). Munculnya dorongan seksual
karena pada masa remaja cenderung
memiliki tingkat seksual yang tinggi
sehubungan dengan mulai matangnya
hormon seksual dan organ-organ
reproduksi. Perasaan suka terhadap
lawan jenis atau tertarik dengan lawan
jenis merupakan proses perkembangan
sosial remaja, yang sering diungkapkan
dengan istilah berpacaran.
Ada beberapa definisi berpacaran yang
dikemukakan
oleh
para
tokoh
perkembangan
remaja
mengenai
berpacaran. Menurut Himawan (2007)
pacaran adalah penjajakan antar pribadi
untuk saling menjalin cinta kasih.
Santrock (2010) 239) mengemukakan
bahwa memilih dan menentukan
pasangan untuk dinikahi disebut dengan
kencan. Dengan berpacaran seseorang
merasakan
cinta,
kasih
sayang,
penerimaan lawan jenis dan rasa aman
dari sang pacar. Berpacaran juga dapat
melatih keterbukaan, umpan balik dan
menyelesaikan konflik. Harlock (2010)
juga mengemukakan bahwa dengan
berpacaran
maka
remaja
akan
mempunyai ketrampilan sosial yang
baik, sikap baik hati dan menyenangkan.

Fenomena perilaku pacaran di kalangan


remaja sudah sangat umum. Hampir
sebagian besar remaja yang sekaligus
siswa ini telah dan pernah berpacaran,
baik remaja kota maupun remaja desa.
Hal ini dapat terlihat di salah satu media
massa yang membidik anak usia sekolah
menengah terkait masalah hubungan
antar lawan jenis atau biasa dikenal
dengan istilah pacaran. Riset yang
dilakukan Komisi Penaggulagan AIDS
Indonesia (KPAI) di 12 kota di
Indonesia tahun 2010, menunjukan
bahwa dari 2.800 responden pelajar,
76% perempuan dan 72% laki-laki
pernah mengaku berpacaran (Andri
Haryanto, 2010).
Berpacaran
dapat
memberikan
kontribusi positif maupun negatif bagi
remaja yang berpacaran. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Saadatun Nisa
(2008), menunjukkan bahwa bepacaran
dapat memberikan kontribusi positif
bagi remaja yang berpacaran. Hasil
positif yang didapatkan oleh remaja
yang berpacaran adalah ketika mereka
dihadapkan pada suatu konflik, maka
jalan untuk menyelesaikan konflik
adalah dengan pengendalian diri di
antara mereka. Pengendalian diri
tersebut di antaranya yaitu kesabaran
dan berpikir positif. Selain itu, masa
remaja juga merupakan masa yang
rentan untuk terpengaruh hal negatif
misalnya melakukan bentuk-bentuk
perilaku pacaran remaja yang beresiko:
gaya pacaran yang tidak sesuai norma,
seks
pranikah,
kehamilan
tidak
dikehendaki (KTD), aborsi, kekerasan
dalam berpacaran (KDP). Seks pranikah
dilakukan oleh para remaja dengan
berbagai
macam
alasan
yang
melatarbelakanginya. Lembaga Fakta
yang diperoleh dari Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia (PKBI),
United Nations Populations Fund
(UNFPA) dan Badan Koordonasi
Keluarga
Berencana
Nasional
(BKKBN), melakukan poling terhadap
1.000 remaja di Bandung, di mana hasil

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

poling yang diperoleh menunjukkan


20% telah melakukan seks pranikah
(Agupena, 2011). Senada dengan hal
tersebut penelitian yang dilakukan oleh
Taufiq dan Nisa Rachmah (2010)
tentang perbedaan seksualitas pada
remaja juga menunjukkan bahwa
13,12% remaja telah melakukan
hubungan seksual. Sebagian besar
subyek melakukan hubungan seksual
pranikah karena sebagai bukti rasa cinta
terhadap pasangan, pengaruh temanteman lain, dan tergoda oleh pasangan
(rayuan)
serta
tidak
memiliki
kemampuan untuk menolak rayuan
pasangan.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
Remaja dapat menghindari hal-hal yang
tidak merugikan maupun membuat
perasaan tidak nyaman jika dalam diri
remaja yang berpacaran mempunyai
sikap asertif yang tinggi. Menurut Stein
(2004) perilaku asertif
berarti
kemampuan
untuk
berkomunikasi
dengan jelas, spesifik, sambil sekaligus
tetap peka terhadap kebutuhan orang
lain. Perilaku asertif juga bukan berarti
meminta apa yang diinginkan dengan
kasar, menentang, tidak juga dengan
kekerasan (agresif) pada orang yang
dicintai. Perilaku asertif lebih mencakup
permintaan yang lembut, masuk akal,
dengan cara yang dewasa. Remaja yang
memiliki perilaku asertif diharapkan
memiliki ketegasan dan keberanian
untuk mengungkapkan perasaan yang
mengganggu
dirinya
kepada
pasangannya. Oleh karena itu tindakan
yang kurang mengenakan dalam
berpacaran sebenarnya dapat dicegah
asalkan remaja memiliki perilaku asertif
yang tinggi. Ada beberapa penelitian
yang menunjukkan bahwa remaja yang
memiliki perilaku asertif rendah akan
mudah terjerumus dalam perilaku
negatif. Ardiantini (2009), mengutip dari
berbagai sumber seperti Suara Merdeka
(8 Maret 2009), bahwa terdapat 28 kasus
kekerasan dalam pacaran, Lembaga
Swadana Masyarakat (LSM), juga

menangani 385 kasus kekerasan dalam


pacaran. Penelitian yang dilakukan
Ardianti, 2009 juga mengungkapkan
bahwa terjadinya kekerasan dalam
berpacaran karena korban cenderung
tidak berani menolak atau berkata
tidak, menutup diri dan menghukum
diri.
Faktor-faktor
penyebab
ini
berkaitan dengan kemampuan remaja
untuk mengungkap pikiran, perasaan
secara jujur tanpa merugikan diri sendiri
dan orang lain (sikap asertif).
World Health Organization (WHO)
melaporkan dari 1.000 wanita di seluruh
dunia usia 15-19 tahun terjadi 112
kehamilan, dimana 61 melahirkan
normal, 36 diaborsi, dan 15 tidak
diketahui nasibnya. Sedangkan di
Indonesia hasil survey remaja diempat
propinsi kembali melaporkan bahwa ada
2,9% remaja yang telah melakukan
seksual aktif. Di Jakarta Pusat, Medan,
Surabaya dan di Manado, melaporkan
bahwa perilaku pacaran pada pelajar
SMU yaitu 35,9% mempunyai teman
yang sudah melakukan hubungan seks
pranikah
(Utomo,
dkk.,
2003).
Sedangkan di Kota Bandung didapat
data sebanyak 19% pernah melakukan
aborsi (KEMENKES, 2012).
Remaja lebih membutuhkan dukungan
(support)
daripada
pengasuhan
(nurturance), bimbingan (guidance)
daripada perlindungan (protection), dan
pengarahan
(direction)
daripada
sosialisasi
(socialization).
Dalam
memenuhi fungsi dan peran keluarga itu
orang tua adalah aktor utama yang
memainkan peran penting. Sikap yang
diterapkan oleh orangtua pada anak akan
sangat mempengaruhi perkembangan
anak dalam beberapa aspek, cara
berinteraksi anak, agresivitas anak,
penyesuaikan dirianak, dan sebagainya
(Barus, 2009).
Hubungan yang serasi dan penuh
pengertian serta perhatian dalam
keluarga akan membawa kepada pribadi
yang tenang, terbuka, dan mudah dididik
karena
anak
akan
mendapatkan

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

kesempatan yang cukup dan baik untuk


tumbuh dan berkembang, tetapi
hubungan yang tidak serasi dan kurang
perhatian terhadap anak akan tidak
menguntungkan bagi pendidikan anak
(Sunarti,2010). Oleh karena itu berhasil
atau tidaknya orangtua mendidik anak
mereka, tergantung dari cara atau pola
asuh yang mereka terapkan.
Orangtua yang tidak menginginkan
remaja mereka terjerumus dalam
kegiatan-kegiatan seksual yang tidak
mereka inginkan akan mencari cara
terbaik dalam mengasuh remaja mereka.
Ada beberapa jenis pola asuh yang biasa
diterapkan orangtua, di antaranya pola
asuh demokratis. Saat ini pola asuh
demokratis sangat popular di masyarakat
modern. Para orangtua yang menganut
pola asuh ini akan terbuka dalam hal
komunikasi tentang apapun kepada
remaja mereka (Sunarti,2010). Sehingga
terwujud sharing dan keterbukaan antara
remaja dan orangtua.
Pola asuh orang tua juga memiliki
pengaruh penting terhadap perilaku
seksual remaja, terutama berkaitan
dengan perilaku seksual pranikah. Pola
asuh permisif yang cenderung lebih
longgar dapat memberikan kesempatan
bagi remaja untuk secara bebas
menyalurkan dorongan seksualnya,
sehingga
pada
akhirnya
remaja
melakukan hubungan seksual pranikah.
Sejalan dengan itu, Baumrind (2004)
mengatakan bahwa perilaku seksual
pranikah yang dilakukan oleh para
remaja lebih cenderung disebabkan
terlalu longgarnya pengawasan dan
aturan-aturan yang diterapkan oleh
orang tua. Remaja akan cenderung
terjerumus kedalam perilaku seksual
pranikah karena pengawasan yang
kurang dari orang tuanya.
Kebanyakan orang tua memang tidak
termotivasi untuk memberikan informasi
seks dan kesehatan pada remaja sebab
mereka
takut
hal
ini
justru
meningkatkan terjadinya hubungan seks
pranikah.
Padahal
anak
yang

mendapatkan pendidikan seks dari orang


tua cenderung berperilaku seks lebih
baik dari pada anak yang mendapatkan
dari orang lain (Andan, 2002).
Makin tinggi komunikasi dan tingkat
pemantauan orang tua remaja, semakin
rendah
kemungkinan
perilaku
menyimpang menimpa seorang remaja.
Karena itu disamping komunikasi yang
baik,
orang
tua
juga
perlu
mengembangkan kepercayaan anak
kepadanya, sehingga mereka lebih
terbuka dan mau bercerita serta dapat
memantau pergaulan anak remajanya
(Sarwono,2004).
Tidak hanya penelitian perilaku pacaran
pada remaja saja, berbagai penelitian
tentang perilaku seksual sudah pernah
dilakukan sebelumnya. Penelitian yang
dilakukan mengenai seksual pranikah
dilakukan pada remaja di Sukabumi
diketahui 13% melakukan seksual secara
aktif, Cirebon 10% dan Bandung 15%
(PKBI, 2010). Sedangkan di Kota
Bandung adalah 21% melakukan seksual
pra nikah (KEMENKES, 2012).
Pada
dasanya
perilaku
pacaran
diperbolehkan dari segi agama. Jika
ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran
merupakan bagian dari kultur Barat.
Sebab biasanya masyarakat Barat
mensahkan adanya fase-fase hubungan
hetero seksual dalam kehidupan manusia
sebelum menikah seperti puppy love
(cinta monyet), dating (kencan), going
steady (pacaran), dan engagement
(tunangan). Pacaran merupakan hal yang
sudah biasa dilakukan oleh sebagian
besar orang pada umumnya serta remaja
khususnya, baik yang bertujuan untuk
menikah ataupun hanya sebagai wadah
untuk menikmati masa muda mereka,
dimana kebanyakan dari mereka tidak
mengetahui bagaimana hukum pacaran
itu menurut Islam. Fenomena ini
merupakan akibat dari pengaruh kisahkisah percintaan dalam novel, film, dan
syair lagu. Sehingga menimbulkan
spekulasi bahwa hidup memang harus
ditaburi dengan bunga-bunga percintaan,

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

kisah-kisah asmara, harus ada pasangan


sebagai tempat untuk bertukar pikiran
dan berbagi rasa. (Suara Merdeka, 8
Maret 2009).
Keterkaitan pola asuh orang tua yang
diwujudkan dalam bentuk interaksi
antara orang dua dan anak. Interaksi
serta sikap orang tua dengan anak akan
mempengaruhi sikap dan perilaku anak
termasuk terkait perilaku pada remaja
pada masa pacaran. Bentuk interaksi
yang terjadi antara orang tua dan anak
terwujud dalam bentuk pola pengasuhan
orang tua (Baumrind, 2010).
METODOLOGI PENELITIAN
Desain pada penelitian ini yaitu
deskriptif
korelasi adalah
untuk
mengetahui hubungan yang terjadi pada
sebuah
fenomena
dengan
mengidentifikasi hubungan yang terjadi
pada dua variabel (Suyanto & Salamah,
2009).
Pendekatan waktu pengumpulan data
menggunakan rancangan survey cross
sectoinal (potong lintang). Menurut
Notoatmodjo (2010) penelitian cross
sectional adalah suatu penelitian untuk
mempelajari dinamika kolerasi antara
faktor-faktor resiko dan efek, dengan
cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data pada saat yang
bersamaan dan tiap variabel hanya
dilakukan satu kali pengamatan selama
penelitian.
Variable pada penelitian ini trdapat dua
yaitu variabel independen dan dependen
(Nursalam, 2008). Variabel independen
dalam penelitian ini adalah pola asuh
orangtua
sedangkan
variabel
dependennya perilaku pacaran remaja.
Variabel independen
Adalah variabel yang mempengarui atau
yang menjadi sebab berubahan atau
timbulnya variabel dependen (Sugiyono,
2011).Variabel
independen
dalam
penelitian ini adalah pola asuh orang
tua.
Variabel dependen Adalah variabel yang
terpengaruhi atau yang menjadi akibat

karena adanya variabel bebas (Sugiono,


2011)..Variabel
dependen
dalam
penelitian ini adalah perilaku pacaran
pada remaja di SMA Muhammadiyah
Kota Bandung Tahun 2015.
Populasi pada penelitian ini adalah
remaja yang bersekolah di SMA
Muhammadiyah sebanyak 112 orang.
Sampel adalah sebagian yang diambil
dari keseluruhan subjek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi
(Notoatmodjo, 2012). Jumlah sampel
ditentukan menggunakan rumus : N =
112
Rumus perhitungan sampel :
(1 /2)2 (1 )
=
2 + (1 /2)2 (1 )

112 (1,96)2 . 0,5(1 0,5)


=
112 (0,1)2 + (1,96)2 0,5(1 0,5)
106,56
=
2,08
= 51,23
dibulatkan menjadi
51 orang
Keterangan :
n
= besar sampel
N
= jumlah populasi
Z(1-/2) = nilai sebaran normal baku
dengan tingkat kepercayaan 95% (1,96)
d
= besar penyimpangan
10% (0,1)
P
= proporsi kejadian
50% (0,5)
Berdasarkan perhitungan didapatkan
bahwa sampel dalam penelitian ini
adalah sebanyak 51 remaja.
Hasil suatu penelitian pada hakikatnya
adalah suatu jawaban atas pertanyaan
penelitian yang telah dirumuskan
didalam
perencanaanpenelitian
(Notoatmodjo,
2010).Sedangkan
menurut Sugiyono (2011), hipotesa
dalam penelitian merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah
pada
suatu penelitian.jadi
dapat
disimpulkan bahwa hipotesis dalam
suatu penelitian berarti jawaban
sementara penelitian,patokan dugaan,

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

atau dalil sementara yang kebenarannya


akan dibuktikan dalam penelitian
tersebut.Hipotesis dalam penelitian ini
adalah.
H0
= tidak ada hubungan antara pola
asuh orang tua dengan perilaku pacaran
pada remaja.
Ha
= terdapat hubungan annatara
pola asuh orang tua dengan perilaku
pacaran pada remaja.
Instrument penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Instrumen
untuk mengidentifikasi pola asuh orang
tua dan perilaku remaja. Untuk
memperoleh data dari responden. Untuk
mengetahui evaluasi dari masing-masing
kategori peneliti menentukan 4 skor
yang terdiri kategori pola asuh yaitu
skor 1=SS (Sangat Sesuai), 2=S
(Sesuai), 3=TS (Tidak Sesuai), 4=STS
(Sangat Tidak Sesuai), dan kategori
perilaku pacaran 1=SL (Selalu), 2=SR
(Sering),..3=JR (Jarang), 4=TP (Tidak
pernah)
Terdapat 15 pertanyaan dalam satu
kuesioner untuk menilai perilaku
pacaran responden. Dan terdapat 15
pertanyaan dalam satu kuesioner untuk
menilai pola asuh orang tua.
Sebelum kuesioner digunakan,dilakukan
uji validitas dan uji reliabilitas untuk
mengetahui
kelayakan
alat
atau
instrument yang digunakan dalam
penelitian. Instrument yang baik harus
memenuhi dua persyaratan penting,yaitu
valid dan reliabel (Danang, 2012).
Instrument yang dilakukan uji validitas
dan reabilitas adalah kuesioner perilaku
pacaran remaja dan pola asuh orang tua
karena belum ada kuesioner yang baku.
Uji validitas setiap pertanyaan dengan
maksud agar terdapat kesesuaian antara
instrument dengan tujuan yang henddak
di ukur atau dicapai.Uji validitas ini
digunakan untuk setiap item pertanyaan
dengan rumus kolerasi product moment
pearson
dengan
varian
total
seluruhnya.Dalam perhitungan validitas
digunakan
metode
product
momentdengan rumus sebagai berikut:

( ) ( )
{ ( )}{ ( )}

Keterangan :
rxy
: koefisien korelasi
N
: jumlah responden yang diuji
coba
X
: jumlah skor item
Y
: skor total seluruh item
Keputusan hasil pengujian :
Bila r hitung > r tabel (0,444), artinya
pertanyaan tersebut valid.
Bila r hitung < r tabel (0,444), artinya
pertanyaan tersebut tidak valid.
Berdasarkan hasil uji validitas yang
telah dilakukan di SMA N 25 Kota
Bandung
kepada
20
responden
menunjukan hasil nilai koefisien >0,444
maka dinyatakan item pernyataan
tersbut valid dan sudah layak digunakan
untuk penelitian. Masing-masing item
dari setiap kategori didapatkan bahwa
kategori perilaku pacaran nilai tertinggi
sebesar 0,999, terendah sebesar 0,933.
Kemudian untuk kategori pola asuh
didapatkan nilai tertinggi sebesar 0,979
dan terendah 0,470
Uji reliabilitas adalah indeks yang
menunjukkan sejauh mana suatu alat
dapat dipercaya atau diandalkan.Teknik
analisa yang digunakan adalah dengan
koefisien alpha cronbach,di mana
instrument dikatakan reliable jukan nilai
alpha >0,60. Rumus untuk menghitung
koefisien reliabilitas instrument dengan
menggunakan alpha cronbach adalah
sebagai berikut :
2

= [
]
] [1
1
2
Keterangan :
r
:
koefisien
reliabilitas
instrument (alpha cronbach)
k
: banyaknya butir pertanyaan
atau banyaknya soal
2 : total varians butir
2
: total varians
Nilai uji reliabilitas >0,70 maka reliabel
Hasil uji reliabilitas menunjukan bahwa
>0,70 maka dinyatakan reliabel dan
sudah layak digunakan untuk penelitian.
Kategori perilaku pacaran didapatkan

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

0,855 dan nilai reliabel pola asuh


sebesar 0,930.
Analisa data dilakukan dengan analisa
univariat dan bivariate. Analisa univariat
adalah menganalisa setiap variabel dari
hasil penelitian. Data hasil pengamatan
ditata dan di ringkas dan disajikan dalam
bentuk tabel (Nazir, 2011). Analisis
univariat untuk mengetahui distribusi
frekuensi yang meliputi yaitu pola asuh
orang tua, perilaku pacaran. Adapun
analisis dalam penelitian ini yaitu
menggunakan
rumus
persentase
frekuensi sebagai berikut:
Rumus :

= 100%

Keterangan :
P : presentase untuk setiap kategori
f : jumlah setiap kategori
N : jumlah total responden
Analisa yang melihat hubungan variabel
independen
denngan
variabel
dependen,apakah kedua variabel ini
memiliki hubungan. Mengingat bahwa
variabel independen dan variabel
dependen merupakan varibel kategori
dengan jumlah sampel 51 maka untuk
membuktikan adanya hubungan dan
menguji hipotesis antara lain dua
variabel tersebut digunakan uju ChiSquare. Rumus uji chi-square sebagai
berikut:
( )
2 =

Keterangan:
X2
: nilai Chi-kuadrat
fo
:
frekuensi
yang
diobservasi
fe
:
frekuensi
yang
diharapkan
Hasil uji statistic untuk mengetahui
apakah keputusan hipotesis diterima
atau
ditolak.
Digunakan
tingkat
kepercayaan 95%. Ketentuan pengujian
dengan Uji Chi-Square adalah jika p
value < alpha (0,05) maka Ho ditolak
artinya ada hubungan yang signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pola
Asuh Orang Tua pada Remaja SMU
Muhammadiyah Kota Bandung tahun
2015 (N=51)
Pola Asuh
F
%
Orang Tua
Otoriter
14
27,5
Demokratis
22
43,1
Premisif
15
29,4
Total
51
100
Hasil penelitian diatas tabel 4.1
menunjukan bahwa dari 51 orang
berdasarkan pola asuh orang tua,
didapatkan pola asuh otoriter sebanyak
14 (27,5%), pola Demokratis sebanyak
22 (43,1%), pola asuh premisif sebanyak
15 (29,4%).
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi
Perilaku Pacaran pada Remaja SMU
Muhammadiyah Kota Bandung tahun
2015 (N=51)
Perilaku
F
%
Pacaran
Sehat
16
31.4
Tidak sehat
35
68.6
Total
51
100
Hasil penelitian diatas tabel 4.2
menunjukan bahwa dari 51 orang
berdasarkan
perilaku
pacaran,
didapatkan perilaku pacaran sehat
sebanyak 16 (31,4%), perilaku pacaran
tidak sehat sebanyak 35 (68,6%).
Tabel 4.3 Hubungan pola asuh
dengan perilaku pacaran pada
Remaja SMU Muhammadiyah Kota
Bandung tahun 2015 (N=51)
Perilaku Pacaran
Total

Pola Asuh
Orang Tua
f

Tidak
Sehat
F
%

Otoriter

3,9

12

Demokratis

5,9

Premisif

11

21,6

Sehat

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

23,5

14

27,5

19

37,3

22

43,1

10,3

51

29,4

ChiSquare
Tests
P-value

0.000

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan


bahwa hubungan pola asuh orangtua
dengan
perilaku
pacaran
yaitu
didapatkan paling banyak pola asuh
Demokratis dengan perilaku tidak sehat
sebanyak
19
(37,3%).
Terdapat
hubungan antara pola asuh orang tua
dengan perilaku pacaran dengan ppalue=0,000.
Pembahasan
Gambaran pola asuh orang tua di
SMU Muhammadiyah Kota Bandung
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperlihatkan dari tabel 4.1 menjukan
bahwa dari 51 orang berdasarkan pola
asuh orang tua, didapatkan paling
banyak yaitu pola Demokratis sebanyak
22 (43,1%). Berdasarkan hasil penelitian
tersebut bahwa peran orang tua yang
sangat demokratis, sehingga para orang
tua memberikan kesempatan kepada
anak secara bebas dan nyata.
Hal ini bahwa orang tua dapat
mendukung kepada keinginan anak
untuk berbuat sesuatu yang positif
dimulai dari remaja, karena pada usia
remaja lebih rentan dari pola pikir
remaja yang negatif akan tetapi dengan
pola asuh Demokratis
orang tua
mengajarkan anak untuk belajar disiplin
dan bersikap postif yang dilihat sejak
dini. Selain itu orang tua memberikan
dalam menentukan jalan hidupnya diberi
kesempatan secara bebas. Besar
kemungkinan kebebasan tersebut dapat
memilih jalan dengan perilaku pacaran
yang bebas pula.
Pola asuh demokratis adalah pola asuh
yang bercirikan adanya hak dan
kewajiban orang tua dan anak adalah
sama dalam arti saling melengkapi, anak
dilatih untuk bertanggung jawab dan
menentukan perilakunya sendiri agar
dapat berdiplin. Menurut Shochib
(dalam yuniati, 2003) orang tua yang
menerapkan pola asuh demokratis
banyak memberikan kesempatan kepada
anak untuk berbuat keputusan secara
bebas, berkomunikasi dengan lebih baik,

mendukung anak untuk memiliki


kebebasan sehingga anak mempunyai
kepuasan
sedikit
menggunakan
hukuman badan untuk mengembangkan
disiplin.
Pola
asuh
demokratis
dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional
positif, sosial, dan pengembangan
kognitif.
Teori sistem keluarga menjelaskan
bahwa penting di dalam sosialisasi
seorang anak tidak hanya erat hubungan
dengan keluarga, tetapi keseluruhan
kombinasi dari tingkah laku tersebut
(Parke & Locke, 1999).
Orang tua mempunyai berbagai macam
fungsi yang salah satu diantaranya ialah
mengasuh
putra-putrinya.
Dalam
mengasuh anak, orang tua dipengaruhi
oleh budaya yang ada di lingkungannya.
Di samping itu, orang tua diwarnai oleh
sikap-sikap tertentu dalam memelihara,
membimbing dan mengarahkan putraputrinya. Sikap tersebut tercermin dalam
pola pengasuhan kepada kepada
anaknya yang berbeda-beda, karena
orang tua mempunyai pola asuhan
tertentu. Pola asuhan itu menurut
Baumrind (1991) (dalam Parke &
Locke) terdiri dari tiga tipe, otoriter,
demokratis, dan permissive .Kemudian
tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh
Maccoby dan Martin (1993) dengan
menambah tipe pola asuh yang keempat,
yaitu uninvolved parenting ( Parke &
Locke, 1999).
Selain dampak pola asuh demokratis,
akan menghasilkan karakteristik anak
yang mandiri dapat mengontrol diri,
mempunyai hubungan baik dengan
teman, mampu menghdapai stres,
mempunyai minat terhadap hal baru, dan
kooperatif terhadap lingkungan sosial.
Menurut pandangan peneliti bahwa
setiap orang tua yang penuh kasih
menghadapi tantangan yang sama
bagaimana mendidik anak agar berpikir
lurus dan memiliki kesempatan untuk
berhasil di dunia yang luas ini. Ayah dan
ibu yang berniat tulus pasti berupaya

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

keras mencapai tujuan ini. Kita harus


membekali anak tercinta, agar mampu
keluar dari kondisi ketergantungan
penuh menuju kemandirian, dari yang
harus diatur menjadi pribadi yang
mandiri.
Pola asuh keluarga sangat berpengaruh
terhadap pembentukan karakter anak.
Setiap keluarga biasanya memiliki pola
asuh terhadap anak yang berbeda-beda.
Pendidikan dalam keluarga merupakan
yang pertama dan utama, karena
disinilah seorang anak dimulai. Didalam
keluarga inilah tingkah laku seorang
anak mulai terbentuk. Pendidikan
keluarga tercermin dalam intensitas
hubungan dalam pola asuh orang tua
dalam
mendidik
anaknya
yang
diwujudkan dalam bentuk sikap dan
perilaku orang tua kepada anak. Peran
keluarga menjadi penting untuk
mendidik anak baik dalam sudut
tinjauan
agama,
tinjauan
sosial
kemasyarakatan
maupun
tinjauan
individu. Jika pendidikan keluarga dapat
berlangsung dengan baik maka mampu
menumbuhkan
perkembangan
kepribadian anak menjadi manusia
dewasa yang memiliki sikap positif
terhadap agama, kepribadian yang kuat
dan mandiri, potensi jasmani dan rohani
serta intelektual yang berkembang
secara optimal. Kemandirian pada anak
umumnya dikaitkan dengan kemampuan
anak
untuk
melakukan
segala
sesuatunya
sendiri.
Anak
yang
mempunyai sikap mandiri akan mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungan dan dapat mengatasi
kesulitan.
Gambaran perilaku pacaran remaja
di SMU Muhammadiyah Kota
Bandung
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan menunjukan bahwa dari 51
orang berdasarkan perilaku pacaran
tidak sehat sebanyak 35 (68,6%). Hal ini
dilihat berdasarkan hasil didapat
perilaku pacaran yang tidak sehat

artinya remaja sering merencanakan


pada pasanganya untuk menikah
dikemudian hari dan seleksi pasangan
remaja yang dilihat dalam sikap remaja.
Perilaku
pacaran
remaja
yang
didapatkan dari hasil penelitian ini yaitu
perilaku pacaran yang tidak sehat, besar
kemungkinan para remaja melakukan
hal demikian karena pengaruh dari pola
asuh orang tua yang demokratis artinya
memberikan
kesempatan
dan
memberikan kebebasan kepada remaja
tersebut untuk menentukan jalan
kehidupannya oleh karena itu mereka
memilih jalan untuk perbuatan bebas.
Pacaran adalah cara untuk menyeleksi
pasangan hidup. Kesesuaian dari seleksi
pasangan menganjurkan agar individuindividu yang memiliki kecocokan yang
baik dalam karakteristik-karakteristik
pokok untuk dapat menikah satu sama
lain
karena
kecocokan
dapat
meningkatkan kemungkinan bahwa
mereka akan mampu membentuk
hubungan yang saling memuaskan.
Berdasarkan komponen perilaku pacaran
dibedakn menjadi dua yaitu perilaku
pacaran sehat dan perilaku pacaran tidak
sehat
Pacaran Sehat itu penting, dengan
pacaran sehat kita akan merasa tidak
perlu ada yang ditakuti baik secara fisik
maupun batin . Pacaran Sehat banyak
asumsinya, diantaranya :
1. Sehat fisik
Sehat secara fisik berarti tidak
ada kekerasan dalam berpacaran.
biarpun cowok secara fisik memang
lebih kuat, bukan berarti cowok dapat
seenaknya menindas kaum cewek.
2. Gaya pacaran tidak sehat
Gaya pacaran tidak sehat (KNPI)
merupakan singkatan dari kissing,
necking, petting, intercourse. Tujuan
para remaja melakukan KNPI yaitu
untuk menunjukan rasa cinta, yang
sebenarnya dapat ditunjukan dengan
beragam cara dan tidak harus dengan
aktifitas seksual. Biasanya perilaku
mencemaskan ini dimulai dengan

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

berciuman (kissing) dengan pasangan,


kemudian lama-lama berlanjut ke
necking (mencium leher sampai merabaraba tubuh). Jika sudah sampai ke tahap
necking maka sangat mungkin untuk
berlanjut ke petting (saling menggosokgosokkan alat kelamin). Apabila telah
melakukan petting maka biasanya
aktivitas ini berlanjut pada tahap
intercourse.
Rangsangan
yang
dihasilkan
oleh
petting
dapat
menyebabkan motivasi yang sangat
besar bagi pasangan untuk melakukan
intercourse atau hubungan seksual.
Hubungan Pola Asuh Orangtua
Dengan Perilaku Pacaran remaja Di
SMU Muhammadiyah Kota Bandung
Didapatkan berdasarkan hasil penelitian
yang paling banyak pola asuh
Demokratis dengan perilaku tidak sehat
sebanyak 19 (37,5). Terdapat hubungan
antara pola asuh orang tua dengan
perilaku pacaran dengan p-palue=0,000.
Hal ini terdapat hubungan karena dilihat
secara statistik didapatkan paling banyak
perilaku sehat dengan Demokratis .
Secara teori bahwa Peranan dan fungsi
keluarga. Keluarga memiliki peranan
yang sangat penting dalam upaya
mengembangkan
pribadi
anak.
Perawatan orang tua yang penuh kasih
sayang dan pendidikan tentang nilainilai kehidupan, baik agama maupun
sosial budaya yang diberikannya
merupakan faktor yang kondusif untuk
mempersiapkan anak menjadi pribadi
dan anggota masyarakat yang sehat.
Apabila mengaitkan peranan keluarga
dengan upaya memenuhi kebutuhan
individu dari Maslow, maka keluarga
merupakan lembaga pertama yang dapat
memenuhi kebutuhan tersebut (Maslow,
2010)
Penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh raja
yang menunjukan hasil bahwa terdapat
hubungan antara perilaku orangtua
dengan perilaku seksual/pacaran, dengan
nilai P-Value sebesar <0,005.

Pola asuh orang tua terhadap anak


merupakan bentuk interaksi antara anak
dan orang tua selama mengadakan
kegiatan pengasuhan yang berarti orang
tua mendidik, membimbing, dan
mendisiplinkan serta melindungi anak
untuk mencapai kedewasaan sesuai
dengan norma-norma yang berlaku
dalam lingkungan setempat dan
masyarakat. Orang tua mempunyai
peran yang sangat penting dalam
menjaga, mengajar, mendidik, serta
memberi contoh bimbingan kepada
anak-anak untuk mengetahui, mengenal,
mengerti,
dan
akhirnya
dapat
menerapkan tingkah laku yang sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma
yang ada dalam masyarakat.
Remaja yang memiliki perilaku pacaran
yang tidak sehat yang berarti perilaku
remaja yang memiliki tingkat risiko
yang lebih cenderung terhadap perilaku
seksual yang dilakukan oleh remaja
yaitu berdasakan lingkungan yang
berarti
faktor
lingkungan
lebih
membawa dampak dari sikap remaja
terhadap hal yang negatif.
Menurut pandangan peneliti bahwa
perilaku pacaran yang terjadi karena
pola asuh Demokratis yang terdiri dari
prilaku pacaran tidak sehat karena
dipengaruhi oleh lingkungan.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu
peneliti mengalami kesulitan dalam
mencari jurnal atau teori, karena untuk
sumber dan literatur yang peneliti cari
masih kurang. Salah satu penyebab
keterbatasan jurnal atau teori yang
diperoleh terutama studi perilaku
pacaran dan pola asuh yang berkaitan
dengan penelitian ini selain jumlah
jurnal yang diperoleh sulit diakses,
tinjauan mengenai teori dan bahan yang
digunakan masih jarang ditemui. Selain
itu peneliti terbatas dalam hal
pembuatan kuesioner, Antara hasil dan
kuesioner
masih
belum
berkesinambungan (sesuai).

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian yang telah
didapatkan dapat disimpulkan yaitu
sebagai berikut :
1. Berdasarkan pola asuh orang tua
menunjukan
dari
51
orang
didapatkan
pola
Demokratis
sebanyak 22 (43,1)
2. Berdasarkan
perilaku
pacaran
didapatkan dengan pacaran yang
tidak sehat sebanyak 35 (68,6%).
3. Terdapat hubungan yang signifikan
antara pola asuh orang tua dengan
perilaku
pacaran
dengan
pvalue=0,000
Saran
Bagi orang tua
Diharapkan kepada orang tua agar
memberikan
bimbingan,
motivasi,
dengan cara meluangkan waktu untuk
memperhatikan anaknya, serta dapat
mengontrol kegiatan mereka, sehingga
tidak mudah terpengaruh lingkungan,
serta orang tua harus memperhatikan
pendidikannya.
Bagi Responden
Diharapkan
kepada
responden
khususnya kepada remaja perempuan
agar lebih banyak melakukan kegiatan
yang positif setelah pulang sekolah,
seperti
mengerjakan tugas
yang
diberikan oleh guru, dan membaca
kembali pada pelajaran yang telah
disampaikan oleh guru disekolah.
Peneliti selanjutnya
Direkomendasikan
pada penelitian
lanjutan agar dapat meneliti faktor lain
yang dapat menyebabkan perilaku
pacaran yang terjadi karena pengaruh
dari pola asuh orangtua.
DAFTAR PUSTAKA
Abineno, J.L.Ch. (2002). Seksualitas
dan Pendidikan Seksual. PT
BPK Gunung Mulia.
Adnan. 2002. Potensi Tumbuhan
Sebagai
Bahan
Pengatur
Fertilitas. [Online] Tersedia :
http://www.scribd.com/doc/56934

039/Potensi-TumbuhanAntifertilitas-adnan-UNM.html
[12 November 2013]
Agupena. 2011. Kehamilan Tidak
Diinginkan_diinginkan-ktdsiti.
html, pada tanggal 12 Mei 2015
Agus S. Suryobroto. 2004. Sarana dan
Prasarana Pendidikan Jasmani :
Universitas
Negeri
Yogyakarta:Fakultas
Ilmu
Keolahragaan.
Andri Haryanto. 2010. KPAI Ragukan
Data BKKBN Soal 51% Pelajar
Ngeseks di Luar Nikah. Diambil
dari
http://news.detik.com/read/2010/1
1/29/144428 /1504838/10/kpairagukan
data-bkkbn-soal-51pelajar-ngeseks-di-luar
nikah,
pada tanggal 12 Mei 2014.
Ardianto, Elvinaro. 2009. Public
Relations Praktis. Edisi pertama.
Jakarta : Widya Padjajaran.
Azwar, S. (2000). Reliabilitas dan
Validitas. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Barus, T. A. 2009. Limnologi. Medan :
FMIPA USU.
Baumrind, D. 2004. Child-care practices
anteceding three patterns of
preschool
behavior.Genetic
Psychology Monographs.
__________.
2010.
Effects
Of
Authoritative Parental Control On
Child Behaviour. University Of
California. Berkeley : EBESCO
Publishing.
Benokraitis, N.V. 2011. Marriages and
Families : Changes, Choices, and
Constraints. Upper Sadlle River:
Pearson Education, Inc.
Bernhard Limbong, 2010. Konflik
Pertanahan, Margaretha Pustaka,
Jakarta.
Bowman, H.A & Spanier, G.B. 2010.
Modern Marriage. New York:
Mc.Graw Hill.
Bronckopp, D.Y, dan Hastings, M.T.
(2000). Dasar-Dasar Riset
Keperawatan. Jakarta : EGC

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

Dianawati ajen. (2003). Pendidikan Seks


untuk Remaja. Jakarta :
PT.Kawan
Pustaka
Elizabeth Estin. (2009). Hubungan
Monitoring Parenteral dengan
Perilaku Seksual Remaja di
Kelurahan
Kebun
Sayur.
Pematang Siantar : Politeknik
Kesehatan Medan
Endang, L. (2006). Tipe Pola Asuh
Orangtua
terhadap
Moral
Remaja di SMU
Negeri 1
Medan. Medan : Universitas
Sumatra Utara.
Garliah, Lili. (2003). Disertasi : Peran
Pola Asuh Orangtua dengan
Penalaran
Moral
dalam
Kepemimpinan
Transformasi
Remaja SMU Negeri 1 di
Medan. PPS UNPAD. Bandung
: Program Studi Psikologi
Perkembangan
Gunarsa, Singgih D. (1993). Psikologi
Praktis : Anak, Remaja dan
Keluarga.
Jakarta
:
PT.
BPK.Gunung Mulia
Hidayat, A. (2007). Metode Penelitian
Kebidanan Teknik Analisis
Data. Jakarta : Salemba Medika.
Hurlock,E.B.
(1999).Psikologi
Perkembangan
Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Edisi 5. Jakarta :
Erlangga
Jurnal Nita Ardiantini. 2009. Hubungan
Asertivitas
dengan
Kecenderungan
Mengalami
Kekerasan
Emosional
pada
Perempuan yang Berpacaran.
Skripsi
:
Universitas
Muhamadyah Surakarta.
Kartono, Kartini. (2010).Kenakalan
Remaja.
Jakarta
:
PT.
Rajagravindo Persada
Notoatmodjo, S. (2005).Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta
:RinekaCipta
Nursalam.(2008). Konsep Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan.Jakarta
:SalembaMedika
Peneliti memberikan waktu untuk
mengisi kuesioner selama 15
menit
http://www.kompas.com/kompa
scetak/0205/10/iptek/rema33/htm
Sarwono W. Sarlito. (2010). Psikologi
Remaja.Jakarta
:
PT.
Rajagravindo Persada
Sastroasmoro, S. (2006). Dasar-dasar
Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta : Sagung Seto
Shochib, moh. (2000). Pola Asuh
Orangtua. Jakarta : Rineka
Cipta.
Soelaiman, MI. (1998). Moralitas,
Perilaku
Moral,
dan
Perkembangan Moral. Jakarta :
Universitas Indonesia (UI Press)
Suyanto, Salamah. (2009). Riset
Kebidanan Metodologi dan
Aplikasi. Jogjakarta : Mitra
Cendekia.
Tarmudji, Tarsis. Hubungan Pola Asuh
Orangtua dengan Agresivitas
Remaja. 14 april, 2008, Dari
http://www.depdiknas.go.id/jurn
al/37/hubungan-pola-asuhorangtua.htm.

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

KUESIONER
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU
PACARAN REMAJA SMU NEGERI 1 KECAMAATAN TANJUNGSARI
KABUPATEN SUMEDANG PADA TAHUN 2015

No.Responen

Tanggal Pengisian

(diisi oleh peneliti)

A.Indentitas
Insial

TTL/Usia

: ......................../.............tahun

Jenis Kelamin

Laki-laki
Perempuan

Pendidikan Terakhir
Orang tua ibu

Pekerjaan/jabatan

Orang tua

SD

SMP

D3

S1

PNS
jWiraswasta

SMA
S2

Swasta
Pedagang

Ibu Rumah Tangga

-SELAMAT MENGERJAKAN-

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

Buruh

B. BAGIAN A (Kategori Pola Asuh)


Berilah tanda ceklis ( ) pada setiap kolom pernyataan yang menurut anda paling sesuai.
Keterangan :
SS
:Sangat Sesuai
S
:Sesuai
TS
:Tidak Sesuai
STS
:Sangat Tidak Sesuai
PERNYATAAN BAGIAN . A
No
Pernyataan
SS
S
TS
STS
POLA ASUH OTORITER
1
Orang tua saya tidak mengekang ketika
melakukan sesuatu hal yang diinginkan.
2
Orang tua saya melarang keras untuk melakukan
sesuati seperti bermain, keluar malam danlainya.
3
Orang tua saya memberikan alasan kepada saya
ketika mereka tidak mengizinkan saya
melakukan suatu hal.
4
Ketika saya melakukan kesalahan, orang tua saya
menghukum saya dan memberikan alasan
mengapa mereka menghukum saya.
5
Apabila saya melakukan kesalahan, orang tua
langsung menghukum saya.
POLA ASUH DEMOKRATIS
6
Apabila saya salah, orang tua saya tidak pernah
menghukum saya.
7
Orang tua saya membimbing saya dengan penuh
perhatian.
8
Ketika saya belajar, orang tua saya tidak
membimbing saya.
9
Ketika saya belajar, orang tua saya langsung
menghukum saya bila saya salah.
10
Orang tua saya menerapkan kedisiplinan serta
memberi pengarahan dan alasan yang dapat
diterima oleh saya.
POLA ASUH PERMISIF
11
Saya dan orang tua saya akrab dalam hal apapun.
12
Saya dan orang tua saya tidak terlalu dekat.
13
Orang tua saya memberikan dorongan kepada
saya untuk meningkatkan potensi yang saya
miliki.
14
Orang tua saya mewajibkan semua disiplin
kepada saya.
15
Orang tua saya membiarkan saya bermain
seharian tanpa menegur saya.

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

C. BAGIAN B (Kategori Perilaku Pacaran)


Berilah tanda ceklis ( ) pada setiap kolom pernyataan yang menurut anda paling
paling sesuai
Keterangan :
SL
: Selalu
SR
: Sering
JR
: Jarang
TP
: Tidak pernah
No
PERNYATAAN
SL
SR
JR
1. Dalam setiap hari saya bertemu pacar
2.

Pacar saya tidak mau ditinggal (Putus)

3.

Setiap bertemu dengan pacar


mengobrolkan hal yang positif

saya

selalu

4.

Setiap bertemu dengan pacar


mengobrolkan hal yang negatif

saya

selalu

5.

Saya mengobrolkan seks dengan pacar saya

6.

Ketika sedang bersama pacar saya menonton Film


Pornografi

7.

Orang tua saya melarang untuk berpacaran

8.

Pacar saya menggap bahwa diri saya lebih baik


dari orang lain

9.

Saya menuruti keinganan pacar

10.

Pacar saya mengajak keluar malam

11.

Saya sering diajak mojok disekolah

12.

Saya tidak mau berjauhan dengan pacar

13.

Saya
saya

14.

Saya tidak suka apabila pacar saya berselingkuh

15.

Saya hanya menginginkan pacaran dengan pacar


saya

membicarakan pernikahan bersama pacar

Jurnal Keperawatan Oleh Dian Wulandari,S.Kep-Tahun 2015


STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG

TP