Anda di halaman 1dari 25

L.I.

1 Mengetahui dan Menjelaskan defisiensi imun


1.1 Definisi
Gangguan immunodeficiency adalah sekelompok gangguan di mana bagian dari sistem
kekebalan tubuh hilang atau rusak. Oleh karena itu, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi
terganggu.
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Immune+deficiency+disease
;
29-05-2012
(22:48)
1.2 Klasifikasi
DEFISIENSI IMUN

NON SPESIFIK

Komplemen
Kongenital
Fisiologik
Didapat
Interferon dan Lisozim
Kongenital
Didapat
Sel NK
Kongenital
Didapat
Sistem fagosit
Kuantitatif
Kualitatif

SPESIFIK

Kongenital/Primer
Sel B
Sel T
kombinasi sel B dan T
Fisiologik
kehamilan
Usia tahun pertama
Usia tua
Sekunder/didapat
Obat-obatan
tindakan bedah,keteterisasi
infeksi
penyinaran,kehilangan Ig
Aglobulinemia timoma

Defisiensi imun terdiri atas sejumlah penyakit yang menimbulkan kelainan satu atau lebih sistem imun.
Manifestasi defisiensi imun tergantung dari sebab dan respons.

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan defisiensi imun sekunder


Faktor

Komponen yang kena

Proses penuaan

Infeksi meningkat, penurunan respons terhadap


vaksinasi, penurunan respons sel T dan B serta
perubahan dalam kualitas respons imun

Malnutrisi

Malnutrisi protein-kalori dan kekurangan


elemen gizi tertentu (besi, seng/Zn); sebab
tersering defisiensi imun sekunder

Mikroba imunosupresif

Contohnya; malaria, virus, campak, terutama


HIV; mekanismenya melibatkan penurunan
fungsi sel T dan APC

Obat imunosupresif

steroid

Obat sitotoksik/radiasi

Obat yang banyak digunakan terhadap tumor,


juga membunuh sel penting dari sistem imun
termasuk sel induk, progenitor neutrofil dan
limfosit yang cepat membelah dalam organ
limfoid.

Tumor

Efek direk dari tumor terhadap sistem imun


melalui penglepasan molekul imunoregulator
imunosupresif (TNF-)

Trauma

Infeksi meningkat, diduga berhubungan dengan


penglepasan molekul imunosupresif seperti
glukokortikoid.

Penyakit lain seperti diabetes

Diabetes sering berhubungan dengan infeksi

Lain-lain

Depresi, penyakit Alzheimer, penyakit coliac,


sarkoidosis,
penyakit
limfoproliferatif,
makroglobulinemia Waldenstrom, anemia
aplastik, neolasma.

Hal-hal yang menimbulkan imunokompromais

Faktor predisposisi

Efek terhadap sistem imun

Jenis infeksi

Obat atau sinar X pada


Imunitas selular dan humoral
imunosupresi, resipien alograf menurun
ginjal, sumsum tulang, jantung,
dan terapi kanker

Infeksi paru, bakteremi, infeksi


jamur, saluran kencing

Virus imunosupresif (rubela,


herpes, EBV, virus hepatitis,
HIV)

Replikasi virus dalam sel


limfoid yang menimbulkan
gangguan fungsi sel

Infeksi bakteri sekunder


protozoa pada AIDS

Tumor

Replacement sistem imun

Bakteremi, pneumoni, infeksi


saluran cerna

Malnutrisi

Hipoplasi limfoid

Campak, tuberculosis, infeksi


saluran nafas dan cerna

Limfosit dalam sirkulasi


menurun
Kemampuan fagositosis
menurun

Rokok, inhalasi partikel (silika, Inflamasi paru, endapan


Infeksi saluran nafas, respons
spora jamur)
kompleks imun terhadap spora alergi
jamur
Penyakit endokrin kronik
(diabetes)

Kemampuan fagositosis
menurun

Defisiensi imun primer

Imunitas selular dan/humoral


menurun

Infeksi stafilokokus,
tuberkulosis, infeksi saluran
napas, bakteremi

o DefisiensiImunNonSpesifik
a) Komplemen
Dapatberakibatmeningkatnyainsideninfeksidanpenyakitautoimun(SLE),defisiensi
inisecaragenetik.
Kongenital
Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE dan
glomerulonefritis).
Fisiologik
DitemukanpadaneonatusdisebabkankadarC3,C5,danfaktorByangmasihrendah.
Didapat
Disebabkanolehdepresisintesis(sirosishatidanmalnutrisiprotein/kalori)
b) Interferondanlisozim
3

Interferonkongenital
Menimbulkaninfeksimononukleosisfatal
InterferondanlisozimdidapatPadamalnutrisiprotein/kalori
c) SelNK
Kongenital
Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit), kadar IgG, IgA, dan
kekerapanautoantibodimeningkat.
Didapat
Akibatimunosupresiatauradiasi.
d) Sistemfagosit
Menyebabkan infeksi berulang, kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan
langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun, resiko meningkat apabila jumlah
fagositturun<500/mm3.DefekinijugamengenaiselPMN.
Kuantitatif
Terjadi neutropenia/granulositopenia yang disebabkan oleh menurunnya produksi
ataumeningkatnyadestruksi.Penurunanproduksidiakibatkanpemberiandepresan
(kemoterapipadakanker,leukimia)dankondisigenetik(defekperkembangansel
hematopioetik). Peningkatan destruksi merupakan fenomena autoimun akibat
pemberianobattertentu(kuinidin,oksasilin).
Kualitatif
Mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, fagositosis, dan membunuh mikroba
intrasel.
ChronicGranulomatousDisease(infeksirekurenmikrobagramdan+)
DefisiensiG6PD(menyebabkananemiahemolitik)
DefisiensiMieloperoksidase(menganggukemampuanmembunuhbendaasing)
ChediakHigashiSyndrome(abnormalitaslisosomsehinggatidakmampumelepas
isinya,penderitameninggalpadausaianak)
JobSyndrome(pilekberulang,absesstaphylococcus,eksimkronis,danotitismedia.
KadarIgEserumsangattinggidanditemukaneosinofilia).
Lazy LeucocyteSyndrome (merupakan kerentananinfeksi mikroba berat.Jumlah
neutrofilmenurun,responkemotaksisdaninflamasiterganggu)
Adhesi Leukosit (defek adhesi endotel, kemotaksis dan fagositsosis buruk, efeks
sitotoksik neutrofil, sel NK, sel T terganggu. Ditandai infeksi bakteri dan jamur
rekurendangangguanpenyembuhanluka)

o DefisiensiImunSpesifik
4

a) Kongential/primer(sangatjarangterjadi)
SelB
DefisiensiselBditandaidenganpenyakitrekuren(bakteri):
1.Xlinkedhypogamaglobulinemia
2.Hipogamaglobulinemiasementara
3.Commonvariablehypogammaglobulinemia
4.Disgamaglobulinemia
SelT
DefisensiselTditandaidenganinfeksivirus,jamur,danprotozoayang
rekuren
1.SindromDiGeorge(aplasitimuskongenital)
2.Kandidiasismukokutankronik
KombinasiselTdanselB
1.Severecombinedimmunodeficiencydisease
2.Sindromnezelof
3.Sindromwiskottaldrich
4.Ataksiatelangiektasi
5.Defisiensiadenosindeaminase
b) Fisiologik
Kehamilan
Defisiensiimunselulerdapatditeemukanpadakehamilan.Halinikarenapningkatan
aktivitasselTsatauefeksupresiffaktorhumoralyangdibentuktrofoblast.Wanita
hamilmemproduksiIgyangmeningkatataspengaruhestrogen
Usiatahunpertama
Sistemimunpadaanakusiasatutahunpertamasampaiusia5tahunmasihbelum
matang.
Usialanjut
Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena terjadi atrofi timus dengan
fungsiyangmenurun.
c) Defisiensiimundidapat/sekunder
Malnutrisi
Infeksi
Obat,trauma,tindakan,kateterisasi,danbedah
Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu kemotaksis
neutrofil.Kloramfenikol,tetrasiklindapatmenekanantibodisedangkanrifampisin
dapatmenekanbaikimunitashumoralataupunselular.
5

Penyinaran
Dosistinggimenekanseluruhjaringanlimfoid,dosisrendahmenekanaktivitassel
Tssecaraselektif
Penyakitberat
Penyakit yang menyerang jaringan limfoid seperti Hodgkin, mieloma multipel,
leukemiadanlimfosarkoma.Uremiadapatmenekansistemimundanmenimbulkan
defisiensi imun.Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek fagosit sekunder
yang mekanismenyabelumjelas.Imunoglobulinjuga dapat menghilangmelalui
ususpadadiare
KehilanganIg/leukosit
Sindrom nefrotik penurunan IgG dan IgA, IgM norml.Diare (linfangiektasi
intestinal,proteinlosingenteropaty)danlukabakarakibatkehilanganprotein.
Stres
Agammaglobulinmiadengantimoma
Dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari sirkulasi.
Eosinopeniaatauaplasiaseldarahmerahjugadapatmenyertai

1.3 Etiologi
Defisiensi imun terjadi akibat kegagalan satu atau lebih komponen sistem imun. Defisiensi
imun terbagi menjadi dua yakni :
1. Defisiensi imun primer
a. Kongenital/genetik
Terkadang bermanifestasi, tetapi keadaan klinis terjadi pada usia lebih lanjut.
2. Defisiensi imun sekunder/didapat
akibat :
a. Malnutrisi
b. Kanker generalisata
c. Pengobatan imunosupresan
d. Infeksi penyakit (HIV/AIDS)
e. Immatur limfosit
Defisiensi imun primer ditemukan pada saat lahir dan defisiensi imun didapat/sekunder
timbul karena berbagai sebab setelah lahir. (baratawidjaja,2012)
Contoh Penyakit
Tabel 1. Gangguan Defisiensi imun umum (Baratawidjaja,2012)
Gangguan fungsi sistem imun yang umum
Gangguan fungsi sistem
Penyakit yang menyertai
imun
6

Defisiensi
Sel B
Sel T
Fagosit

Infeksi bakteri rekuren seperti otitis media, pneumonia rekuren


Kerentanan meningkat terhadap virus, jamur dan protozoa
Infeksi sistemik oleh bakteri yang dalam keadaan biasa
mempunyai virulensi rendah, infeksi piogenik
Infeksi bakteri, autoimunitas

Komplemen
Disfungsi
Sel B
Sel T
Fagosit
Komplemen

Gamopati monoclonal
Peningkatan sel Ts yang menimbulkan infeksi penyakit
Limfoproliteratif
Edem angioneurotik akibat tidak adanya inhibitor esterase c1

1.4 Pemeriksaan
Pemeriksaan Defisiensi Imun

Antibodi Mikrobial dalam Pemeriksaan Defisiensi Imun

Kemampuan untuk memproduksi antibodi merupakan cara paling sensitif untuk menemukan
gangguan dalam produksi antibodi, biasanya ditemukan dengan esai ELISA.
Antibodi terhadap S. pneumonia ditemukan pada hampir semua orang yang sehat, tapi tidak untuk
penderita defisiensi imun primer.Bila seseorang diimunisasi, periksa antibodi terhadap toksoid tetanus,
difteri dan polio. Bila rendah, tes dengan antigen mati lalu evaluasi 4-6 minggu setelahnya.

Pemeriksaan In Vitro

Sel B dapat dihitung dengan flow cytometry yang menggunakan CD19, CD20 dan CD22. Sel T
dapat dihitung dengan flow cytometry menggunakan antibodi monoklonal terhadap CD23 atau CD2,
CD5 , CD7, CD4 dan CD8. Penderita dengan defisiensi sel T hanya hiporeaktif atau tidak reaktif terhadap
tes kulit dengan antigen tuberculin, kandida, trikofiton, streptokinase/streptodornase dan virus parotitis.
Produksi sitokin berkurang bila dirangsang dengan Phytohaemagglutinin atau mitogen nonspesifik lain.
Tes in vitro dengan uji fiksasi komplemen dan fungsi bakterial, reduksi Nitroblue-tetrazolium
atau stimulasi produksi superoksida yang memberi nilai enzim oksidatif yang berhubungan dengan
fagositosis aktif dan aktivitas bakterisidal.

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Defisiensi Imun


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis imunodefisiensi
adalah pemeriksaan direct dan pemeriksaan indirect. Pemeriksaan direct disini mendeteksi adanya Ab
tehadap penyakit imunodefisiensi yang disebabkan infeksi. Pemeriksaan indirect dilakukan untuk
7

mendeteksi adanya Ag terkait penyakit imunodefisiensi yang dikarenakan virus (bakteri), selain
pemeriksaan itu dapat pula dilakukan PCR untuk dapat mendeteksi adanya kelainan-kelainan dalam
sistemis DNA untuk penyakit genetik

L.I. 2. Mengetahui dan Menjelaskan HIV/AIDS


1.1 Definisi
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) diartikan sebagai kumpulan gejala atau
penyakit yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) yang termasuk famili retroviridae. AIDS adalah tahap akhir infeksi
HIV.
1.2. Epidemiologi

Meratanya HIV diantara orang dewasa per negara pada akhir tahun 2005.
1550% 515% 15% 0.51.0% 0.10.5% <0.1% tidak ada data

UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa
sejak pertama kali diakui tahun 1981, membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling
8

menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah
baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4
dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.
Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, antara 3,4
dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia,
peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.

Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan
21,6 sampai 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5-3,0 juta] dari mereka adalah
anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup
dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua wanita hidup
dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] anak yatim/piatu AIDS hidup di
Afrika Sub Sahara. Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah terburuk kedua yang terinfeksi
dengan besar 15%. 500.000 anak-anak mati di region ini karena AIDS. Dua-tiga infeksi
HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengan perkiraan 5.7 juta infeksi (perkiraan 3.4 - 9.4 juta)
(0.9% dari populasi), melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta)
(11.9% dari populasi) infeksi, membuat negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.
Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar, harapan hidup normal sebesar 48.3 tahun - 6.5
tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.
1.3 Etiologi
Ada 2 jenis virus penyebab AIDS yaitu HIV-1 dan HIV-2. Jenis HIV yang sering menyerang
manusia adalah HIV-1 yang lebih banyak ditemukan di daerah barat, Eropa,Asia dan Afrika
Tengah, Selatan dan Timur. Sedangkan HIV-2 ditemukan di Afrika Barat. AIDS merupakan
stadium akhir dari infeksi HIV.
Penyakit yang disebabkan oleh virus HIV, yakni AIDS itu bisa menular melalui berbagai
cara antara lain melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genetelia, dan ASI. pria yang sudah
disunat memiliki risiko HIV yang lebih kecil dibandingkan dengan pria yang tidak disunat.
Selain melalui cairan tubuh, HIV juga dapat ditularkan melalui :
1. Hubungan seksual
Prevalensi 70-80%, resiko penularan 0,1-1% atau bisa 1 dalam 200x hubungan intim. Akhirakhir ini dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan kondom,
maka penularan melalui jalur ini cenderung menurun.
2. Melalui darah
1. Transfusi darah yang mengandung HIV, resiko penularan 90-98% ,Prevalensi 3-5%
2. Tertusuk jarum yang mengandung HIV , risiko penulran 0,03%.
Penularan HIV pada anak remaja biasanya melalui jarum suntik karena penyalahgunaan
obat, di antara tahanan (tersangka atau terdakwa) penggunaan obat suntik di Jakarta
sebanyak 40% terinfeksi HIV, di Bogor 25%, di Bali paling besar yaitu 53%
9

3. Transmisi dari ibu ke anak


terjadi pada saat :
selama kehamilan
saat persalinan, risiko penularan 50%
melalui air susu ibu (ASI) 14%
4. Homoseksual
Bayi normal dengan ibu HIV bisa memperoleh antibody HIV dari ibunya selama 6-15
bulan.
{widoyono(2005), Arif(2000)}
1.4 Patogenesis
Target utama virus adalah limfosit CD4+ yang berfungsi penting pada imunologis, dan
bila hilang menimbulkan gangguan respons imun yang progresif. Virus tersebut memiliki afinitas
terhadap molekul permukaan CD4.
Infeksi HIV primer pada limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. Virus dibawa
oleh APC ke KGB regional dan dideteksi setelah inokulasi selama 5 hari. Sel individual dideteksi
7-14 hari dengan hibridasi in situ. Viremia dideteksi 7-21 hari. Lalu jumlah sel yang
mengekspresikan virus (viremia) menurun drastis yang dihubungkan dengan koinsiden
peningkatan sel limfosit CD8. Replikasi HIV terjadi saat steady-state, yaitu beberapa bulan
setelah infeksi, lalu relatif stabil hingga beberapa tahun (tapi lamanya bervariasi), yang
mempengaruhi replikasi adalah faktor (dan patogenesisnya) adalah heterogeneitas kapasitas
replikatif virus dan heterogeneitas intrinsic pejamu.
Lalu antibodi muncul di sirkulasi beberapa minggu setelah infeksi, namun bisa dideteksi
pertama kali saat bereplikasi hingga masa steady-state. Tapi, dia tidak dapat mematikan virus
yang ada, karena virus menghindar dari netralisasi yang dilakukan antibodi dengan melakukan
adaptasi pada amplopnya, termasuk mengubah situs glikosilasinya. Akibatnya, konfigurasi 3
dimensi berubah dan netralisasi gagal.
1.5 Patofisiologi
Supaya dapat terjadi infeksi virus, dia harus masuk kedalam sel, dalam hal ini sel darah
putih (limfosit), materi genetik virus dimasukkan kedalam DNA sel yang terinfeksi. Didalam sel,
virus berkembang biak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus
yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan
menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein protein yang disebut CD4
(yang terdapat di selaput bagian luar). Sel-sel memiliki reseptor CD4 biasanya disebut CD4+
atau limfosit T yang berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan
(misalnya limfosit B,makrofag dan limfosit Tsitotoksik) yang semuanya membantu
menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T helper sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh
untuk melindungi dirinya dari infeksi dan kanker.

10

Seorang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T helper melalui 3 tahap selama beberapa
bulan atau tahun. Seorang yang sehat memiliki limfosit T sebanyak 2000 sel dalam darah. Pada
beberapa bulan pertama terinfeksi HIV jumlahnya menurun sebanyak 40-50% selama bulanbulan ini penderita biasanya bisa menularkan didalam mencapai kadar stabil, yang berlainan
pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularannya penyakit kepada orang lain terus
berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu
dokter untuk menentukan orang-orang yang berisiko tinggi menderita AIDS. Jumlah CD4+
biasanya menurun drastis jika kadarnya mencapai 200 sel/ml darah, maka penderita rentan
terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B(limfosit yang
menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan.
Antibodi ini terutama ditunjukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi
antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada saat yang
bersamaan, penghancur limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan
sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran yang harus diserang.
1.6 Manifestasi Klinis

Tabel 2. Ciri Klinis HIV (baratawidjaja,2012)


Ciri klinis infeksi HIV
Fase Penyakit
Ciri Klinis
Penyakit HIV akut Demam, sakit kepala, sakit tenggorok dengan faringitis,
limfadenopati umum, ruam
Periode
klinis Jumlah sel CD4+ menurun
laten
AIDS
Infeksi Oportunistik seperti infeksi Protozoa (T.kriptosporodium),
Bakteri (salmonella), Jamur (candida), Virus (Cytomegalo
Virus/CMV, herpes simpleks, varisela-zooster). Tampak Tumor
seperti Limfoma , sarcoma Kaposi, ensefalopati, Wating syndrome)
Adapun kriteria gejala pada dewasa menurut WHO :
Gejala mayor:

Penurunan berat badan >10% berat badan


Diare kronis lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan

Gejala minor:

Batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan


Pruritus dermatitis menyeluruh
Infeksi umum yang rekuren (misalnya herpes zoster)
11

Kandidiasis orofaringeal
Infeksi herpes simplek kronis progresif atau yang meluas
Limfadenopati generalisata

Klasifikasi infeksi HIV pada anak berbeda dengan orang dewasa, klasifikasi tersebut
berdasarkan gejala dan beratnya imunosupresi yang terjadi pada anak. Klasifikasi ini sendiri
penting untuk mengetahui derajat beratnya penyakit HIV anak. Adapun kriteria gejala
menurut WHO untuk anak:
Gejala mayor:

Berat badan turun atau pertumbuhan lambat yang abnormal


Diare kronis >1 bulan
Demam >1 bulan

Gejala minor:

Limfadenopati generalisata
Kandidiasis orofaringeal
Infeksi umum yang rekuren
Batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan
Ruam kulit yang menyeluruh

Konfirmasi Infeksi HIV pada ibunya dihitung sebagai kriteria minor.

1.7 Diagnosis
Diagnosis nya ditegakkan melalui manifestasi klinik, anamnesis, pemeriksaan fisik dan juga
pemeriksaan penunjang.
Ditemukannya antibody HIV dengan pemeriksaan ELISA perlu konfirmasi dengan western
immunoblot. Tes HIV ELISA (+) sebanyak 3x dengan reagen yang berlainan merk memunjukan
pasien positif mengidap HIV.
WHO kini merokumendasikan pemeriksaan dengan Rapid Test (dipstick) sehingga hasilnya
segera diketahui.
Ada beberapa gejala dan tanda mayor (menurut WHO, antara lain) :
a) Kehilangan berat badan (BB) > 10%
b) Diare Kronik >1 bulan
c) Demam >1 bulan
d) sedangkan tanda minor nya :
12

a)
b)
c)
d)

batuk menetap >1bulan


Dermatitis pruritis (gatal)
Herpes zoster berulang
Kandidiasin orofaring

e) Herpes simplex yang meluas dan


berat
f) Limfadenopati yang meluas

13

g)
Tanda lainnya adalah :
a) Sarkoma Kaposi yang meluas
b) Meningitis kriptokoal
h)
Diagnosis AIDS :
minimal 2 tanda mayor yang berhubungan dengan
tanda minor tanpa diketahui kasus imunosupresi lain seperti kanker dan
malnutrisi berat atau bila terdapat satu saja dari tanda lain.
i)
(widoyono,2005)
j)
k)
l)

Diagnosis Banding

m)
Diagnosis banding pasien ini difikirkan sebagai multipel abses pada HIV yang
disebabkan oleh Tubesculosis, karena abses pada tuberculoma juga terdapat multipel
abses, dengan gambaran abses yang lebih kecil dengan ukuran 1-2 mm, serta efek massa
yang minimal. Namun pada pasien ini didapatkan adanya gejala infeksi tuberkulosis pada
paru, yaitu tidak adanya batuk-batuk yang lama dan pada pemeriksaan fisik paru tidak
didapatkan kelaianan serta pada hasil MRI didapatkan ukuran yang lebih besar dan efek
massa (+)

Malaria
Tuberkulosis
Penyakit Autoimun

n)
o)
p)
q) Pemeriksaan
r) Pemeriksaan fisik HIV dilakukan oleh dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan
pasien, antara lain:
Anamnesis
s) Suhu.
t) Demam umum pada orang yang terinfeksi HIV, bahkan bila tidak ada gejala lain.
Demam kadang-kadang bisa menjadi tanda dari jenis penyakit infeksi tertentu atau
kanker yang lebih umum pada orang yang mempunyai sistem kekebalan tubuh lemah .
Dokter akan memeriksa suhu pada setiap kunjungan.
u) Berat.
v) Pemeriksaan berat badan dilakukan pada setiap kunjungan.Kehilangan 10% atau
lebih dari berat badan mungkin akibat dari sindrom wasting, yang merupakan salah satu
tanda-tanda AIDS, dan yang paling parah Tahap terakhir infeksi HIV. Diperlukan bantuan
tambahan gizi yang cukup jika telah kehilangan berat badan.
w)Mata.
x) Cytomegalovirus (CMV) retinitis adalah komplikasi umum AIDS. Hal ini terjadi
lebih sering pada orang yang memiliki CD4 jumlah kurang dari 100 sel per mikroliter

(MCL). Termasuk gejala floaters, penglihatan kabur, atau kehilangan penglihatan. Jika
terdapat gejala retinitis CMV,diharuskan memeriksakan diri ke dokter mata sesegera
mungkin. Beberapa dokter menyarankan kunjungan dokter mata setiap 3 sampai 6 bulan
jika jumlah CD4 kurang dari 100 sel per mikroliter (MCL).
y) Mulut
z) Infeksi Jamur mulut dan luka mulut lainnya sangat umum pada orang yang
terinfeksi HIV. Dokter akan akan melakukan pemeriksaan mulut pada setiap kunjungan.
pemeriksakan gigi setidaknya dua kali setahun.
aa)
Kelenjar getah bening.
ab)
Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) tidak selalu disebabkan
oleh HIV. Pada pemeriksaan kelenjar getah bening yang semakin membesar atau jika
ditemukan ukuran yang berbeda, Dokter akan memeriksa kelenjar getah bening pada
setiap kunjungan.
ac)
Perut.
ad)
Pemeriksaan abdomen mungkin menunjukkan hati yang membesar
(hepatomegali) atau pembesaran limpa (splenomegali). Kondisi ini dapat disebabkan oleh
infeksi baru atau mungkin menunjukkan kanker. Dokter akan melakukan pemeriksaan
perut pada kunjungan setiap atau jika mengalami gejala-gejala seperti nyeri di kanan atas
atau bagian kiri atasperut Anda.
ae)
Kulit.
af) Kulit merupakan masalah yang umum untuk penderita HIV. Dokter akan
melakukan pemeriksaan kulit setiap 6 bulan atau kapan gejala berkembang.
ag)
Ginekologi terinfeksi.
ah)
Perempuan yang HIV-memiliki lebihservikskelainan sel daripada wanita
yang tidak memiliki HIV. Perubahan ini sel dapat dideteksi dengan tes Pap. Jika kedua
pemeriksaan Pap Smear hasilnya normal, maka harus melakukan tes Pap sekali setahun
& harus memiliki tes Pap lebih sering jika pernah memiliki hasil tes
abnormal.Pemeriksaan fisik secara menyeluruh akan memberikan informasi tentang
keadaan kesehatan kita saat ini. Pada Pemeriksaan selanjutnya dokter akan menggunakan
informasi ini untuk melihat apakah status kesehatan kita berubah.
ai)Pemeriksaan yang juga untuk menegakkan diagnosis , yakni :
a) ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay)
aj)sensitivitasnya tinggi sebesar 98,1-100%. biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3
bulan setelah terinfeksi
b) Western Blot
ak) Spesifitas tinggi sebesar 99,6-100%. Pemeriksaannya cukup sulit dan mahal,
membutuhkan waktu sekitar 24 jam
c) Tes HIV
al)untuk memberi tahu apakah terinfeksi HIV (virus penyebab AIDS). Kebanyakan tes ini
mencari antibody terhadap HIV
Tes HIV rahasia

am)

Para ahli kesehatan yang menangani tes HIV menyimpan hasil tes dalam data
medis secara rahasia. Hasil tidak dapat dibagi dengan orang lain tanpa izin tertulis dari
orang yang dites.
Tes HIV Anonim
an)
nama orang yang dites tidak digunakan dalam kaitannya dengan tes tersebut.
Sebagai gantinya, sebuah nomor kode diterakan dalam tes, yang memungkinkan individu
yang dites menerima hasil tes. Tidak ada dokumen tersimpan yang dapat mengaitkan
orang dengan tesnya.
ao)
Hasil tes antibodi untuk HIV adalah benar untuk lebih dari 99,5% tes.
Sebelum kita diberi hasil positif, tes diulang sebagai konfirmasi.
ap)
Ada beberapa keadaan khusus yang dapat memberi hasil yang salah atau tidak
jelas:
Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang HIV-positif dapat menunjukkan hasil positif untuk
beberapa bulan karena antibodi ibu dialihkan ke bayi yang baru lahir. Walaupun bayi
sebenarnya tidak terinfeksi, dia mempunyai antibodi terhadap HIV dan hasil tes dapat
reaktif sampai dia berusia 18 bulan.
Orang yang baru terinfeksi dapat menunjukkan hasil negatif (non-reaktif) jika dia dites
terlalu dini (dalam masa jendela) sejak terinfeksi dengan HIV.
Ibu hamil mungkin menunjukkan hasil palsu atau tidak jelas akibat perubahan pada
sistem kekebalan tubuhnya.
d) PCR ( Polymerase Chain Reaction) atau viral load
aq)
memberikan tanda sejauh mana keberhasilan suatu terapi, menjaga agar virus HIV
dalam control dan ditekan selama mungkin dalam pengobatan.
ar)menggunakan suatu teknologi yang canggih dan sensitive untuk menghitung jumlah
mater genetic dalam darah
as)
(widoyono, 2005)
at)
Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap
antibodi HIV. Sebagai penyaring, biasanya digunakan teknik ELISA (enzyme-linked
immunosorbent assay), aglutinasi atau dot-blot immunobinding assay. Metode yang biasanya
digunakan di Indonesia adalah dengan ELISA
au)
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibodi HIV ini yaitu
adanya masa jendela (window period). Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV
sampai mulai timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai
terbentuk pada 4-8 minggu setelah infeksi. Jadi pada periode ini hasil tes HIV pada seseorang
yang sebenarnya telah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negatif. Untuk itu jika
kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan
tiga bulan kemudian
av)
aw)
ax)
1.8 Penatalaksanaan & Pencegahan

ay) Penatalaksanaan infeksi HIV/AIDS meliputi penatalaksanaan fisik, psikologis, dan sosial.
az) Penatalaksanaan medik terdiri atas :
o
Pengobatan suportif
o
Nutrisi dan vitamin yang cukup
o
Bekerja
o
Pandangan hidup yang positif
o
Hobi
o
Dukungan psikologis
o
Dukungan sosial
o
Pencegahan serta pengobatan infeksi oportunistik dan kanker
o
Pengobatan antiretroviral

a)
b)

c)
d)
e)

ba)
bb) Obat antivirus HIV/AIDS adalah
Didanosin (ddl)
bc) Dosis : 2x100 mg setiap 12 jam (BB<60kg)
bd)
2x125 mg setiap 12 jam (BB>60kg)
Zidovudin (ZDV)
be) Dosis : 500-600 mg/hari, pemeberian setiap 4 jam sebanyak 100 mg, pada saat
penderita tidak tidur
Lamivudin (3TC)
Stavudin (d4T)
Obat ARV (antiretrovirus) , masih merupakan terapi pilihan karena :
obat ini bisa memperlambat progresivitas penyakit dan dapat memperpanjang daya tahan
tubuh
obat ini aman, mudah, dan tidak mahal. Angka transmisi dapat diturunkan sampai mendektai
nol melalui identifikasi dini ibu hamil dengan HIV positif dan pengelolaan klinis yang
agresif.
terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI),
nucleotide reverse transcriptase inhibitor, non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
(NNRTI), dan inhibitor protease (PI), entri inhibitor.
bf) NRTI bekerja untuk menyediakan bahan baku yang rusak HIV karena mencoba untuk
membangun sistem replikasi dalam sel tubuh. Contohnya adalah FTC (Emtricitabine).
NNRTI bekerja untuk menyediakan cetak biru yang salah untuk HIV seperti mencoba untuk
memesan proses replikasi. Contohnya adalah Sustiva (Efavirenz).
bg) PI bekerja untuk menyediakan suku cadang yang cacat untuk setiap HIV baru seperti
yang dirakit. Contohnya adalah Atazanavir (atazanavir).
bh) Entri inhibitor bekerja untuk mencegah HIV memasuki sel-sel tubuh. Contohnya
adalah Fuzeon (enfuvirtide).
bi)
Integrase inhibitor bekerja untuk mencegah HIV yang sudah memasuki sel-sel tubuh
dari memasukkan kode ke dalam DNA sel tubuh. Contohnya adalah Isentress (raltegravir).
bj)
Kombinasi yang berbeda dari obat-obatan dari kelas-kelas ini membentuk rezim
pengobatan dikenal sebagai Highly Active Anti Retroviral Therapy-(ART).
bk)
Tidak ada satu kombinasi obat dalam ART telah terbukti menjadi yang terbaik
untuk semua orang dan pengobatan sering dioptimalkan manfaat dari pemilihan kombinasi

yang sesuai setelah membandingkan keuntungan dan kerugian dari obat dalam kelas yang
terlibat. Kombinasi kelas yang paling umum diresepkan pada awal pengobatan HIV baik
NNRTI dalam kombinasi dengan dua NRTI atau kombinasi PPI dengan dua NRTI. PPI
dapat bertindak sebagai pendorong, meningkatkan kekuatan obat lain dalam rezim
pengobatan.
kombinasi obat ARV lini pertama yang umumnya digunakan di Indonesia ialah kombinasi
zidovudin/lamivudine dengan nevirapin
ARV diberikan pada kondisi khusus seperti profilaksis pada orang yang terpapar dengan
cairan tubuh yang mengandung virus HIV dan pencegahan penularan dari ibu ke bayi
bl) NRTI dan 1 NNRTI :
bm) - Zidovudin (AZT) NRTI
bn) - Lamivudin (3TC) NRTI
bo) - Stafudin (D4T) NRTI
bp) - Nevirapin (NVP) NNRTI
bq) - Efavirens (EFV) NNRTI
br) Dari kelima obat tersebut dapat dibuat 4 pilihan rejiman pada lini pertama, yaitu :
bs) - AZT-3TC-NVP
bt) - AZT-3TC-EFV
bu) - D4T-3TC-NVP
bv) - D4T-3TC-EFV
bw) Tidak diperkenankan untuk menggabungkan antara AZT dengan D4T atau
menggabungkan NVP dengan EFV.
bx) Pencegahan HIV
by) Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara dan
amat dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO, untuk dilaksanakan secara
sekaligus yaitu :
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda


Program penyuluhan sebaya untuk berbagai kelompok sasaran
Program kerja sama dengan media cetak dan elektronik
Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika, termasuk program pengadaan
jarum suntik steril
Program pendidikan agama
Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS)
Program promosi kondom di lokalisata pelacuran dan panti pijat
Pelatihan keterampilan hidup
Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling
Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak
Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan dan dukungan untuk
ODHA
Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV

bz)
ca)

1.9 Komplikasi
cb)
Komplikasi Infeksi virus HIV

cc)
cd)
Kebanyakan komplikasi HIV terjadi akibat dari surpresi sel T. Karena sel T yang
diserang, kekebalan tubuh menuruh hingga dapat terjadi infeksi oportunistik. Komplikasikomplikasi pada pasien yang terjangkit HIV menyebabkan AIDS. Obat anti-retroviral, yang
dikenal sebagai Highly Active Anti-Retroviral Therapy (ART), sekarang tersedia untuk
menghambat replikasi dari virus HIV. Obat-obat ini membantu untuk memperpanjang
hidup, mengembalikan sistem kekebalan pasien hingga mendekati aktivitas normal dan
mengurangi kemungkinan infeksi oportunistik. Kombinasi dari tiga atau lebih obat-obatan
diberikan untuk mengurangi kemungkinan resistensi.
ce)
cf) Komplikasi-komplikasi umum pada pasien HIV/AIDS akibat infeksi oportunistik:
cg)
Tuberkulosis (TB)
ch)
Di negara-negara miskin, TB merupakan infeksi oportunistik yang paling umum
yang terkait dengan HIV dan menjadi penyebab utama kematian di antara orang yang
hidup dengan AIDS. Jutaan orang saat ini terinfeksi HIV dan TBC dan banyak ahli
menganggap bahwa ini merupakan wabah dua penyakit kembar.
ci)
Salmonelosis
cj)
Kontak dengan infeksi bakteri ini terjadi dari makanan atau air yang telah
terkontaminasi. Gejalanya termasuk diare berat, demam, menggigil, sakit perut dan,
kadang-kadang, muntah. Meskipun orang terkena bakteri salmonella dapat menjadi sakit,
salmonellosis jauh lebih umum ditemukan pada orang yang HIV-positif.
ck)
Cytomegalovirus (CMV)
cl)
Virus ini adalah virus herpes yang umum ditularkan melalui cairan tubuh seperti
air liur, darah, urine, semen, dan air susu ibu. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat
menonaktifkan virus sehingga virus tetap berada dalam fase dorman (tertidur) di dalam
tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh melemah, virus menjadi aktif kembali dan dapat
menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru atau organ tubuh
lainnya.
cm)
Kandidiasis
cn)
Kandidiasis adalah infeksi umum yang terkait
HIV. Hal ini menyebabkan peradangan dan timbulnya
lapisan putih tebal pada selaput lendir, lidah, mulut,
kerongkongan atau vagina. Anak-anak mungkin
memiliki gejala parah terutama di mulut atau
kerongkongan sehingga pasien merasa sakit saat makan.
co)
cp)
cq)
cr)

Cryptococcal Meningitis
cs)
Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan
sumsum tulang belakang (meninges). Cryptococcal meningitis infeksi sistem saraf pusat
yang umum terkait dengan HIV. Disebabkan oleh jamur yang ada dalam tanah dan
mungkin berkaitan dengan kotoran burung atau kelelawar.

ct)
Toxoplasmolisis
cu)
Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii.
Penularan parasit ini disebabkan terutama oleh kucing. Parasit berada dalam tinja kucing
yang terinfeksi kemudian parasit dapat menyebar ke hewan lain.
cv)
Kriptosporidiosis
Infeksi ini disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. Penularan
kriptosporidiosis terjadi ketika menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Parasit
tumbuh dalam usus dan saluran empedu yang menyebabkan diare kronis pada orang
dengan AIDS.
cw)
cx)
Kanker yang biasa terjadi pada pasien HIV/AIDS:
cy)
Sarkoma Kaposi
cz)
Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor pada dinding pembuluh darah. Meskipun
jarang terjadi pada orang yang tidak terinfeksi HIV, hal ini menjadi biasa pada orang
dengan HIV-positif. Sarkoma Kaposi biasanya muncul sebagai lesi merah muda, merah
atau ungu pada kulit dan mulut. Pada orang dengan kulit lebih gelap, lesi mungkin terlihat
hitam atau coklat gelap. Sarkoma Kaposi juga dapat mempengaruhi organ-organ internal,
termasuk saluran pencernaan dan paru-paru.
da)
Limfoma
db)
Kanker jenis ini berasal dari sel-sel darah putih. Limfoma biasanya berasal dari
kelenjar getah bening. Tanda awal yang paling umum adalah rasa sakit dan
pembengkakan kelenjar getah bening ketiak, leher atau selangkangan.
dc)
dd)
de)
Komplikasi lainnya:
df)
Wasting Syndrome
dg)
Pengobatan agresif telah mengurangi jumlah kasus wasting syndrome, namun
masih tetap mempengaruhi banyak orang dengan AIDS. Hal ini didefinisikan sebagai
penurunan paling sedikit 10 persen dari berat badan dan sering disertai dengan diare,
kelemahan kronis dan demam.
dh)
Komlikasi Neurologis

di)
Walaupun AIDS tidak muncul untuk menginfeksi sel-sel saraf, tetapi AIDS bisa
menyebabkan gejala neurologis seperti kebingungan, lupa, depresi, kecemasan dan
kesulitan berjalan. Salah satu komplikasi neurologis yang paling umum adalah demensia
AIDS yang kompleks, yang menyebabkan perubahan perilaku dan fungsi mental
berkurang.
dj)
dk)

1.10 Prognosis

dl)
Sebagian besar HIV/AIDS berakibat fatal, sekitar 75% pasien yang didagnosis
AIDS meninggal tiga tahun kemudian. Penelitian melaporkan ada 5 kasus pasien terinfeksi HIV
tetap sehat secara klinis dan imunologos. (widoyono,2005)
dm)
Prognosis penyakit tergantung beberapa faktor, seperti usia saat munculnya
gejala, beratnya penyakit AIDS pada saat diagnosis ditegakkan, dan tersedianya obat-obatan dan
perawatan untuk infeksi oportunistik.
dn)
Faktor-faktor yang berperanmenentukan prognosis pada bayi yang mendapat
penularan dari ibu terinfeksi HIVadalah:
a) Sistem imun bayi baru lahir yang belum matang terutama bila bayi tersebut prematur atau
infeksi terjadi intrauterin.
b) Memori imunologis kurang, sehingga setiap agen infeksius yang menginfeksi bayi dengan
mudah mengadakan replikasi dan berkembang terutama pada sel CD4 yang baru.Muatan
virus pada bayi terinfeksi
c) HIV selalu lebih tinggi dan lebih sulit dikontrol dibandingkan dengan orang dewasa.
d) Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan angka kematian adalah adanya penyakit lain
yang menginfeksi penderita misalnya penyakit campak.Penyakit campak yang menyerang
anak penderita HIV dapat meningkatkan kematian dua kali lipat. Oleh karena itu, program
imunisasi pada anak haruslebih ditingkatkan agar penyakit tidak menular ke penderita HIV.
do)
Masa hidup penderita yang mendapat infeksi secara vertikal adalah 1 tahun(82%),
2 tahun (74%), 3 tahun (61%), 4 tahun (56%), 5 tahun (49%) dan 6 tahun(43%). Penyebab
kematian biasanya pneumonia (52%), diare (19%), sedangkan yang disebabkan oleh penyakit
lain seperti sepsis, esophagus kandidiasis sebanyak 10%
dp)
dq)L.I.4. Etika dalam menangani ODHA
dr)

Stigma adalah stempel yang menimbulkan kesan jijik, kotor, antipati dan berbagai
perasaan negatif lainnya.
ds) Karena stigma tersebut maka dibuatlah suatu Kebijaksanaan di Indonesia yang dapat dilihat
dari Stategi Nasional Penanggulan HIV/AIDS sebagai berikut :
a) Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi yang baru mengenai HIV/AIDS, baik
untuk melindungi diri sendiri maupun mencegah penularan kepada orang lain
b) Tetap menghormati harkat dan martabat para pasien HIV/pasien AIDS dan keluarganya
c) Mencegah perlakuan diskriminatif kepada pengidap HIV/pasien AIDS dan keluarganya
d) Setiap upaya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkuat ketahanan keluarga yang
menjadi salah satu pilar dari kesejahteraan keluarga

e) dalam jangkan ppanjang membentuk perilaku bertanggung jawab khususnya dalam


kesehatan reproduksi yang mampu menangkal penyebaran virus HIV.
dt)
Stigma negatif yang dikaitkan pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) jadi
kendala tersendiri bagi pihak terkait dalam mengupayakan penanggulangan penyakit tersebut.
du)
Pasalnya, stigma ini membuat para penderita tak berani bersikap terbuka dengan
lingkungan sekitar. Dampaknya, upaya penanggulangan agar virus yang menyerang para
penderita tak semakin parah serta upaya penekanan angka kasus HIV/AIDS, jadi sulit dilakukan.
stigma negatif terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus dibuang jauh-jauh.
ODHA juga manusia biasa yang butuh kasih sayang. Dalam hal ini, tentunya lingkungan
masyarakat juga punya peran penting terkait upaya menghilangkan stigma tersebut.
dv)
Sebagai calon dokter, ada baiknya kita tidak memberikan stigma/ kesan yang seperti itu
terhadap ODHA. dikenal kaedah dasar bioetik kedokteran yakni :
Prinsip Autonomy, menghormati hak-hak pasien, hak otonomi pasien. Melahirkan informed
consent
Prinsip Beneficence, Tindakan untuk kebaikan pasien. Memilih lebih banyak manfaatnya
daripada buruknya.
Prinsip Non-maleficence, Melarang tindakan yang memperburuk kedaan pasien. Primum
non nocere atau above all do no harm.
Prinsip Justice, mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam
mendistribusikan sumber daya (distributiv justice)
dw)
dx)
Untuk menemukan pasien AIDS sedini mungkin , Instruksi Menteri Kesehatan RI
No.72/Menkes/Inst/1988 tentang kewajiban melaporkan pasien dengan gejala AIDS
menetapkan bahwa petugas kesehatan wajib melapor ke sarana kesehatan terdekat dengan
memperhatikan kerahasiaan pribadi pasien. selanjutnya, sarana pelayanan kesehatan wajib
melaporkan secara rahasia melalui prosedur tertentu ke Direktorat Jenderal Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.
dy)
Pemberantasan penyakit menular dalam UU kesehatan :
dz) L.I.5. Mengetahui dan Menjelaskan Sudut Pandang Islam terhadap HIV/AIDS
ea)
Solusi Preventif
eb)
Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalahseks
bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkanpraktik seks bebas tersebut.
Hal ini meliputi media-media yang merangsang(pornografi-pornoaksi), tempat-tempat
prostitusi, club-club malam, tempatmaksiat dan pelaku maksiat.
1. Islam telah mengharamkan laki-laki dan perempuan yang bukanmuhrim berkholwat
(berduaan/pacaran). Sabda Rasulullah Saw:
ec) Laa yakhluwanna rojulun bi imroatin Fa inna tsalisuha syaithan
ed)
artinya: Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan menyepi
(bukanmuhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak ketiga.
( HRBaihaqy )
2. Islam mengharamkan perzinahan dan segala yang terkait dengannya.Allah Swt berfirman:

ee) Janganlah kalian mendekati zina karenasesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan
seburuk-buruknya jalan(QS al Isra[17]:32)
3. Islam mengharamkan perilaku seks menyimpang, antara lain homoseks(laki-laki dengan lakilaki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan ).Firman Allah Swt dalam surat al Araf ayat
80-81 :
ef) Dan (kami juga telahmengutus) Luth ( kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia
berkatakepada mereka : Mengapa kamu mengerjakan perbuatan kotor itu, yangbelum pernah
dikerjakan oleh seorangpun manusia (didunia ini)sebelummu? Sesungguhnya kamu
mendatangi lelaki untuk melepaskannafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita,
Bahkan kamu iniadalah kaum yang melampaui batas.( QS. Al Araf : 80-81)
4. Islam melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yangmembahayakan akhlak dan
merusak masyarakat, termasuk pornografidan pornoaksi. Islam melarang seorang pria dan
wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya. Rafi ibnuRifaa
pernah bertutur demikian:
eg) Nahaana Shallallaahu alaihi wassaliman kasbi; ammato illa maa amilat biyadaiha. Wa
qaala: Haa kadzabiashobiihi nakhwal khabzi wal ghazli wan naqsyi.
eh) artinya:
ei) Nabi SAW telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang
dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau bersabda Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar
sebagaimana halnya tukang roti, pemintal,atau pengukir.
5. Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan sertamengharamkan
narkoba. Sabda Rasulullah Saw :
ej) Kullu muskirinharaamun
ek) artinya :Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram( HR. Bukhori Muslim )
el) Laa dharaara wa la dhiraara
em)
artinya :
en) Tidak boleh menimpakanbahaya pada diri sendiri dan kepada orang lain. ( HR. Ibnu
Majah)
eo)
Narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal dan menjadi pintu
gerbang dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks bebas inilah media utama
penyebab virus HIV/AIDS
6. Tugas Negara memberi sangsi tegas bagi pelaku mendekati zina. Pelakuzina muhshan (sudah
menikah) dirajam, sedangkan pezina ghoirumuhshan dicambuk 100 kali. Adapun pelaku
homoseksual dihukum mati;dan penyalahgunaan narkoba dihukum cambuk. Para pegedar
dan pabrik narkoba diberi sangsi tegas sampai dengan mati. Semuafasilitator seks bebas yaitu
pemilik media porno, pelaku porno,distributor, pemilik tempat-tempat maksiat, germo,
mucikari, backingbaik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi sangsi yang tegas
dandibubarkan.
ep)
eq)
Solusi Kuratif
er)
Orang yang terkena virus HIV/AIDS, maka tugas negara untuk
melakukanbeberapa hal sebagai berikut:

1. Orang yang tertular HIV/AIDS karena berzina maka jika dia sudahmenikah dihukum rajam.
Sedangkan yang belum menikah dicambuk100 kali dan selanjutnya dikarantina.
2. Orang yang tertular HIV/AIDS karena Homoseks maka dihukum mati.
3. Orang yang tertular HIV/AIDS karena memakai Narkoba makadicambuk selanjutnya
dikarantina.
4. Orang yang tertular HIV/AIDS karena efek spiral (tertular secara tidaklangsung) misalnya
karena transfusi darah, tertular dari suaminya dansebagainya, maka orang tersebut
dikarantina.
5. Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat dengansangsi hukuman mati,
maka tugas negara adalah mengkarantinamereka. Karantina dalam arti memastikan tidak
terbuka peluang untuk terjadinya penularan harus dilakukan, terutama kepada
pasienterinfeksi fase AIDS. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang artinya:
es) Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkankepada yang sehat ( HR
Bukhori). Apabila kamu mendengar adawabah di suatu negeri, maka janganlah kamu
memasukinya danapabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu,
janganlah kamu keluar melarikan diri ( HR. Ahmad, Bukhori,Muslim dan Nasai dari
Abdurrahman bin Auf )
et)
eu)
ev)

ew)
ex) DAFTAR PUSTAKA :
ey)
ez) Baratawidjaja KG, Rengganis I. (2010). Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

fa) Dewi, Alexandra I. 2008. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta : Pustaka Book
Publisher
fb) Djoerban Z, Djauzi S. (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV, vol III Jakarta : Departemen
Penyakit Dalam FKUI.
fc) Karnen, Baratawidjaja & Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar. Jakarta : Badan Penerbit
FKUI
fd) Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta :
FKUI
fe) Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis (PPI-TB) di Puskesmas.
2010. Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Kementrian Kesehatan RI
ff) Price, Sylvia Anderson. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi
VI, vol. 1. Huriawati Hartanto. Jakarta : EGC.
fg) Rosyidah, F. (2011). Kritik Islam Terhadap Strategi Penangulangan HIV-AIDS Berbasis
Paradigma Sekuler-Liberal dan Solusi Islam dalam Menangani Kompleksitas
Problematika HIV-AIDS.
fh) Widoyono. 2011. Penyakit Tropis, edisi 2. Jakarta. Erlangga
fi)