Anda di halaman 1dari 21

KODE ETIK PSIKOLOGI

INDONESIA

HIMPSI
HIMPUNAN PSIKOLOGI INDONESIA

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi

Mengty Dese Benu


14.E3.0056
Sonia F. Mitayani 14.E3.0048

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
80 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
1

W dan S adalah klien dengan masalah penyesuaian diri


pada usia 5 tahun pernikahan. Masalah mereka
berkaitan dengan intensitas emosional dalam rumah
tangga.
Terapis
memberikan
terapi
tanpa
ada
penjelasan sebelumnya. Setelah 3 bulan mengikuti
terapi, tidak ada pengurangan intensitas emosi.
Sementara terapis meminta sejumlah uang yang tidak
didiskusikan sebelumnya dengan klien. Klien merasa
tidak puas dan ingin menuntut si terapis, tetapi tidak
ada bukti yang cukup kuat.

Kasus 1

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
1 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
2

JG
adalah
seorang
psikolog
senior
di
bidang
ketergantungan
obat.
Ia
mengembangkan
terapi
penanganan klien ketergantungan obat di sebuah
Rumah Sakit Jiwa. Untuk beberapa waktu kegiatan
terapinya berjalan lancar. Hingga suatu hari JG
mendapatkan klien, seorang wanita cantik yang
mengalami kelainan mental. Karena
terpikat
oleh
kecantikan
dan
bentuk
tubuh klien yang cantik, JG
menerima
untuk
menangani klien tersebut.
Dalam
prakteknya
JG
memanfaatkan klien untuk
memuaskan
harsat
biologisnya. Akhirnya klien
tersebut
tidak
mendapatkan penanganan
yang
tepat
bahkan
kondisinya
semakin
memburuk.
Kasus 2

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
2 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
3

Dalam suatu sesi supervisi, seorang konselor kasus


ketergantungan obat melaporkan pada supervisornya
(yang adalah psikolog senior di lembaga tempat dia
bekerja) bahwa klien yang ditanganinya dengan
program berbasis rawat luar (outpatient basis) selama
enam bulan cukup berhasil dengan menggunakan
kelompok
dukungan
(support
group),
dukungan
keluarga, dan dukungan sosial yang lainnya. Dan
dengan demikian, ia berpikir bahwa sudah seharusnya
Namun,
supervisornya
terapi diakhiri.
menyatakan bahwa konselor
masih harus meneruskan untuk
menemui
kliennya,
karena
jumlah pasien dalam program
itu sedikit. Selain itu, lembaga
psikologi
tempat
mereka
bekerja
sedang
mengalami
kesulitan finansial.

Kasus 3

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
3 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
4

Psikolog A baru saja mendapat izin membuka praktek


pribadi. Dia menggadaikan rumahnya untuk modal awal
mendirikan praktek pribadinya. Setelah beberapa bulan,
usaha praktek Psikolog A tidak kunjung memperoleh
hasil berarti. Psikolog A pun menjadi kecewa dan kuatir
akan keadaan keuangannya karena beban pengeluaran
rumah tangga dan biaya untuk menebus kembali
rumahnya. Di saat yang bersamaan, seorang kolega dari
Psikolog A merujuk seorang remaja yang mengalami
gangguan panik. Orang tua dari remaja tersebut berasal
dari keluarga terpandang. Orang tua dari remaja
tersebut pun menginginkan agar anaknya dapat diterapi
beberapa kali dalam seminggu. Psikolog A dengan
senang hati setuju untuk memberikan treatment
terhadap remaja tersebut walaupun Psikolog A belum
pernah menghadapi klien dengan gangguan panik
sebelumnya. Dia menjadwalkan untuk memberikan
terapi dalam tiga sesi setiap minggunya. Psikolog A
menganggap bahwa dia dapat membeli buku-buku
tentang gangguan panik dan mempelajarinya dalam
Kasus
4 singkat.
waktu

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
4 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
5

Seorang
Psikolog
bidang
perkembangan
anak
memutuskan untuk menutup praktek pribadinya dan
pindah ke kota lain yang jaraknya cukup jauh. Dia
memberikan pemberitahuan dalam jangka waktu satu
minggu sebelum menutup prakteknya. Psikolog
tersebut terkesan terburu-buru untuk segera memulai
hidupnya
di tempat
yang baru.
Dia bahkan
tidak sempat
mengatur
agar orang tua dari klien-kliennya
dapat melanjutkan proses terapi
dengan kolega atau rekan yang lain.
Dia berpendapat bahwa orang tua
dari klien-kliennya cukup pintar dan
cukup banyak akal untuk menemukan
psikolog lain untuk melanjutkan
terapi.
Psikolog
tersebut
hanya
memberikan
daftar
dan
alamat
Psikolog-Psikolog yang ada di kota
tersebut.
Kasus 5

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
5 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Contoh Kasus
6

Seorang
psikolog
laki-laki
memberikan
psikoterapi
terhadap seorang anak. Setelah
beberapa sesi terapi, ibu dari
sang anak dan Psikolog tersebut
memperlihatkan
ketertarikan
terhadap
satu sama lain.terhadap
Takut
ketertarikan
sang
ibu
akan
mempengaruhi profesionalitasnya dalam melanjutkan
proses terapi sang anak, Psikolog tersebut kemudian
mempertimbangkan untuk merujuk klien anak tersebut
kepada rekannya yang lain. Namun, di sisi lain psikolog
tersebut kuatir perkembangan yang telah diraih sang
anak melalui sejumlah sesi terapi yang telah ditempuh
akan menurun atau bahkan hilang. Apa yang sebaiknya
dilakukan oleh Psikolog tersebut?

Kasus 6

BAB XIV
Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

71 Batasan Umum
72 Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
73 Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
74 Konseling Psikologi/Psikoterapi yang melibatkan
Pasangan atau Keluarga
Pasal 75 Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang
Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya
Pasal 77 Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada
mereka yang pernah terlibat Keintiman/Keakraban
Seksual
Pasal 78 Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal 79 Penghentian Sementara Konseling
Psikologi/Psikoterapi
Pasal
Kasus80
6 Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai