Anda di halaman 1dari 10

EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI UJUNG GURAP

UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI


PENGOLAHAN AIR IRIGASI
Mustapa Alihasmi Siregar1, Ivan Indrawan2
Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1Kampus USU
Medan
Email: Mustapa120@gmail.com
2
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan
No.1Kampus USU Medan

ABSTRAK
Irigasi mempunyai peranan untuk meningkatkan produksi tanaman, dengan cara
mengatur dan menyediakan kebutuhan air bagi tanaman. Kebutuhan air bagi tanaman
dipengaruhi oleh kehilangan air yang diakibatkan penurunan kinerja jaringan irigasi.
Untuk itu diperlukan sistem irigasi yang baik agar kebutuhan air bagi tanaman dapat
terpenuhi. Kebutuhan air irigasi pada penilitian ini dilakukan pengukuran dengan
menggunakan metode F.J.Mock, dari analisis kebutuhan air irigasi didapat besarnya debit
andalan DAS Batang Angkola sehingga diperoleh pola dan masa tanam yang baik.
Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh debit andalan sebesar 19,39 m3/det dan
kebutuhan air adalah sebesar 0,93 lt/dt/ha. Pola tanam yang harus digunakan adalah padipadi-palawija dengan masa tanam awal November. Efisiensi pada jaringan sekunder
sebesar 89,86 %, efisiensi ini perlu ditingkatkan agar mencapai efisiensi yang ditetapkan
dalam Kriteria perencanaan efisiensi Irigasi yaitu 90 %. Dari hasil penelitian di dapat
bahwa Irigasi Ujung Gurap saat ini kurang efektif. Ini terlihat dari awal rencana luas
irigasi yang sebesar 1.396 ha dan yang dapat terairi hanya 890 ha, sehingga efektifitas
pada irigasi Ujung Gurap hanya sebesar 63,75 %.
ABSTRACT
Irrigation has a role to increase crop production , by regulating and providing for the
water needs of plants . Water requirements for crops affected by the loss of water due to
irrigation network performance degradation . It required a good irrigation systems so that
the water needs of plants can be met . Irrigation water demand in this research was
measured by using the method F. J. Mock , from analysis of the irrigation water
requirement obtained discharge magnitude mainstay Batang Angkola order to obtain a
pattern and a good growing season . Based on the research there were a mainstay of 19.39
m3/sec discharge and water demand is at 0.93 l / dt / ha . Cropping patterns that should be
used is rice - rice - crops by planting early November . Efficiency of the secondary
network was 89.86 % , the efficiency needs to be improved in order to achieve efficiency
criteria set out in the planning of irrigation efficiency is 90 % . From the results of that
research can Ujung Gurap Irrigation is currently less effective . This is evident from the
initial plan for extensive irrigation to 1,396 ha and 890 ha irrigated only , so the
effectiveness of the irrigation tip Gurap of only 63.75 %
Key Word : Efficiency, effectiveness, cropping patterns.

1.

Pendahuluan

Daerah Irigasi Ujung Gurap terletak di Kecamatan Batu Nadua dilihat dari letak
geografis, maka D.I ujung Gurap terletak pada posisi 121 127 LU dan 99159919
BT, dengan letak diatas permukaan laut 260-1100 meter. Kebutuhan air irigasi pada D.I.
Ujung Gurap dipenuhi oleh adanya bangunan Bendung Sungai Batang Ayumi. Daerah
irigasi ujung gurap ini termasuk daerah yang mayoritas penduduk sebagai petani.
Kendala utama yang dihadapi untuk memacu pertumbuhan produksi pangan
khususnya padi adalah turunnya produktivitas lahan. Hal ini diakibatkan oleh over
intensifikasi pada lahan sawah terkait dengan intensitas tanam yang tinggi dengan dosis
pemupukan yang cenderung melebihi kebutuhan optimal. Selain itu, banyak lahan yang
mengalami kekurangan air akibat penurunan kualitas irigasi. Turunnya kualitas irigasi
merupakan akibat dari menurunnya kinerja dari suatu irigasi. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya penurunan kinerja irigasi diantaranya terjadi karena alih fungsi
lahan dari lahan sawah kebentuk penggunaan lain (pemukiman). Dengan demikian,
kondisi jaringan irigasi banyak yang tidak dimanfaatkan atau dibiarkan rusak.
Penurunan kinerja jaringan irigasi merupakan ancaman nyata terhadap kurangnya
kebutuhan air untuk sawah. Dampak penurunan kinerja irigasi akan mempengaruhi
komitmen petani untuk tetap mempertahankan ekosistem sawah. Hal ini disebabkan oleh
buruknya kinerja irigasi yang mengakibatkan lahan tersebut kurang kondusif untuk usaha
tani khususnya padi.
Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari
suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya. Air naik ke udara dari
permukaan laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam bentuk uap air
atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan dipanaskan oleh radiasi
tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga cukup tinggi dan dingin untuk
terjadi kondensasi. Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju.
Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di
daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu: Siklus Pendek, Siklus Sedang,
Siklus Panjang.

Daerah Aliran Sungai


Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan suatu kesatuan
dengan sungai dan anak anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang
batas didarat merupakan pemisah topografi dan batas di laut sampai dengan daerah
perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan.
Curah Hujan Regional
Curah hujan wilayah yang terdapat pada suatu daerah aliran sungai (DAS) sangat
diperlukan untuk mengetahui mengenai informasi tentang pengaturan air irigasi,
mengetahui neraca air dalam suatu lahan dan untuk mengetahui besarnya aliran
permukaan (run off). Ada tiga cara untuk menghitung hujan rata-rata daerah aliran yang
bisa dilakukan, yaitu :

1.

Metode Arithmetic Mean


Metode ini adalah metode yang paling sederhana untuk menghitung hujan rerata
pada suatu daerah. Pengukuran yang dilakukan di beberapa stasiun dalam waktu yang
bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan jumlah stasiun.

R = 1n (R1 + R2 + ... + Rn )

(1)

di mana:

= area rainfall (mm)


= jumlah stasiun pengamat
= point rainfall stasiun ke-i (mm).

n
R1 ,R2 , ..., Rn

2.

Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang mewakili
luasan disekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa hujan adalah sama
dengan yang terjadi pada stasiun yang terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu
stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan
di daerah yang ditinjau tidak merata.

P=

1 1+ 2 2 + 3 3++
1+2+3++

(2)

di mana:
P
P1,P2,...Pn
A1,A2,...An

= curah hujan wilayah


= hujan di stasiun 1,2,3...n
= luas daerah yang mewakili stasiun 1,2,3....n

3.

Metode Isohyet
Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan yang
sama. Pada metode isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah di antara dua garis
isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rerata dari kedua garis isohyet tersebut.
1+2
2+3
++1
+2
++
2
2
2

P =

1+2++

(3)

di mana :
P
I1,I2,...In
A1,A2,...An

= curah hujan wilayah


= garis isohyet ke 1,2, dan 3
= luas daerah yang dibatasi oleh garis isohyet ke
1,2 dan 3.

Kesetimbangan Air
Metode ini ditemukan oleh Dr. F.J. Mock. Metode ini dikembangkan untuk
menghitung debit bulanan rata-rata. Dengan metode ini, besarnya aliran dari data curah
hujan, karakteristik hidrologi daerah pengaliran dan evapotranspirasi dapat dihitung. Pada
dasarnya metode ini adalah hujan yang jatuh pada catchment area sebagian akan hilang
sebagai evapotranspirasi, sebagian akan langsung menjadi aliran permukaan (direct run
off) dan sebagian lagi akan masuk kedalam tanah (infiltrasi), di mana infiltrasi pertamatama akan menjenuhkan top soil, kemudian menjadi perkolasi membentuk air bawah
tanah (ground water) yang nantinya akan keluar ke sungai sebagai aliran dasar (base
flow).

Curah Hujan Efektif


Tidak semua curah hujan yang jatuh diatas tanah dapat dimanfaatkan oleh tanaman
untuk pertumbuhannya, ada sebagian yang menguap dan mengalir sebagai limpasan
permukaan. Air hujan yang jatuh diatas permukaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Curah hujan nyata, yaitu sejumlah air yang jatuh pada periode tertentu
b. Curah hujan efektif, yaitu jumlah air hujan yang jatuh pada suatu daerah atau petak
sawah semasa pertumbuhan tanaman dan dapat dipakai untuk memenuhi
kebutuhannya.
Adapun curah hujan efektif untuk tanaman palawija menurut KP-01 dipengaruhi
oleh besarnya tingkat evapotranspirasi dan curah hujan daerah. Besaran curah hujan
efektif harian dihitung dengan analisis pendekatan rumus (KP-01, 1986) sebagai berikut:
a. Untuk padi, Re = 70% x R80
b. Untuk palawija, Re = 70% x R50
Efisiensi Irigasi
Efisiensi irigasi adalah angka perbandingan dari jumlah air irigasi nyata yang
terpakai untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan jumlah air yang keluar dari pintu
pengambilan (intake). Efisiensi irigasi terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada
umumnya terjadi di jaringan utama dan efisiensi di jaringan sekunder yaitu dari bangunan
pembagi sampai petak sawah. Efisiensi irigasi didasarkan asumsi sebagian dari jumlah air
yang diambil akan hilang baik di saluran maupun di petak sawah. Kehilangan air yang
diperhitungkan untuk operasi irigasi meliputi kehilangan air di tingkat tersier, sekunder
dan primer. Besarnya masing-masing kehilangan air tersebut dipengaruhi oleh panjang
saluran, luas permukaan saluran, keliling basah saluran dan kedudukan air tanah.
Besarnya nilai efisiensi irigasi ini dipengaruhi oleh jumlah air yang hilang selama di
perjalanan. Efisiensi kehilangan air pada saluran primer, sekunder dan tersier berbedabeda pada daerah irigasi. Besarnya kehilangan air di tingkat saluran primer 80%,
sekunder 90% dan tersier 90%. Sehingga efisiensi irigasi total = 90% x 90% x 80% = 65
%.
Efektifitas Irigasi
Tingkat efektifitas jaringan irigasi terutama pada jaringan irigasi induk dan jaringan
irigasi sekunder.
Kebutuhan Air Sawah
Perkiraan banyaknya air untuk irigasi didasarkan pada faktor-faktor jenis tanaman,
jenis tanah, cara pemberiaan airnya, cara pengolahan tanah, banyak turun curah hujan,
waktu penanaman, iklim, pemeliharaan saluran dan bangunan bendung dan sebagainya.
NFR = Etc + P + WLR Re
di mana:
NFR = kebutuhan air irigasi di sawah (lt/det/Ha
Etc = penggunaan konsumtif (mm/hari)
WLR = penggantian lapisan air (mm/hari)
P
= perkolasi (mm/hari)
Re
= curah hujan efektif
Kebutuhan air di pintu pengambilan dapat dirumuskan sebagai berikut :
DR = (NFR x A)/e

(4)

(5)

di mana:
NFR
DR
A
e

= kebutuhan air irigasi di sawah (lt/det/Ha)


= kebutuhan air di pintu pengambilan (lt/det/Ha)
= luas areal irigasi rencana (ha)
= efisiensi irigasi.

2. Metodologi Penelitian
Lokasi
Lokasi penelitian berada di wilayah Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidimpuan,
Kecamatan Batu Nadua pada saluran Irigasi Ujung Gurap.
Pengumpulan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri atas data primer yaitu survei
lapangan pada jaringan irigasi sekunder, data sekunder diperoleh melalui kajian pustaka,
wawancara dari Dinas terkait seperti Dinas Pengairan Propinsi Sumatera Utara,
UPT/Balai PSDA Batang Angkola dan melakukan wawancara kepada para petani di
daerah irigasi Ujung Gurap. Data - data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah: peta
yang terdiri dari peta topografi dan peta daerah irigasi, skema jaringan irigasi sekunder
serta skema banguna irigasi, data curah hujan, dan laporan laporan terdahulu yang dapat
memberikan data dan informasi mengenai desain awal Daerah Irigasi Ujung Gurap dan
riwayat perkembangannya.
Analisis Kebutuhan Irigasi
Kebutuhan air irigasi dianalisis berdasarkan kebutuhan air tanaman (di lahan) dan
kebutuhan air pada pengambilan (di bendung). Analisis kebutuhan air untuk tanaman di
lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut, pengolahan lahan, penggunaan
konsumtif, perlokasi, penggantian lapisan air, dan sumbangan hujan.
Analisis Efektifitas Irigasi
Tingkat efektifitas jaringan irigasi sekunder diperoleh dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:
IA =

100%

(6)

Analisis Efisiensi Irigasi


Tingkat efisiensiensi jaringan irigasi pada jaringan irigasi sekunder diperoleh
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

E C =
x 100 %

dimana :
Ec
Debit Pangkal
Debit Ujung

: Kehilangan Air
: Jumlah air yang masuk
: Jumlah air yang Keluar

(7)

3. Hasil Dan Pembahasan


Dari penelitian tersebut maka diperoleh:
Curah Hujan Regional
Perhitungan curah hujan regional dimaksudkan untuk menghitung rata rata curah
hujan yang terjadi di DAS Batang angkola, untuk mengetahui curah hujan maksimum dan
minimum yang terjadi pada daerah aliran sungai batang angkola setiap bulannya. Data
yang digunakan adalah dari stasiun penakaran yang berada di sekitar daerah irigasi Ujung
Gurap, yaitu St. Pintu Padang, St. Sayurmatinggi, St. Pengkolan, dan St. Siabu. Dari
keempat stasiun tersebut digunakan Metode rata-rata aljabar.
Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah bagian dari curah hujan total yang digunakan oleh
tanaman selama masa pertumbuhan. Besarnya jumlah curah hujan efektif dipengaruhi
oleh cara pemberian air irigasi, laju pengurangan air genangan, kedalaman lapisan air
yang dipertahankan, jenis tanaman dan tingkat ketahanan tanaman terhadap kekurangan
air. Untuk irigasi tanaman padi, curah hujan efektif diambil 80 % kemungkinan curah
hujan terlewati. Curah hujan efektif untuk tanaman padi dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Curah Hujan Efektif untuk Tanaman Padi
Bulan Ke
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2

R80

Curah Hujan Efektif


Untuk Tanaman Padi

46,96
49,19
41,33
41,61
34,47
40,46
36,12
37,95
35,46
34,14
28,25
41,52
26,08
23,16
24,50
49,09
36,30
44,30
69,06
58,97
61,16
46,88
34,54
55,61

2,19
2,30
1,93
1,94
1,61
1,89
1,69
1,77
1,65
1,59
1,32
1,94
1,22
1,08
1,14
2,29
1,69
2,07
3,22
2,75
2,85
2,19
1,61
2,59

Evapotranspirasi
Menghitung besarnya evapotranspirasi, dibutuhkan data-data klimatologi yang
meliputi : Temperatur udara, kelembaban udara, lama penyinaran matahari dan
Kecepatan angin. Rekapitulasi perhitungan evapotranspirasi potensial (mm/hari) dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Rekapitulasi Perhitungan Evapotranspirasi Potensial (mm/hari)
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

3,38
3,34
3,19
3,09
Sumber: BMKG Pinang Sori

3,33

3,32

3,04

2,91

2,94

2,93

2,83

2,74

Debit Andalan Batang Angkola dengan F.J.Mock


Dalam menentukan besarnya ketersediaan air atau debit andalan pada DAS Batang
Angkola, digunakan Metode F.J.Mock. Data yang menjadi parameter dalam menentukan
debit andalan antara lain: Data jumlah harian hujan, data curah hujan bulanan rata rata,
data evapotranpirasi potensial. Debit andalan yang diperoleh dari perhitungan dapat
dilihat pada Gambar 1.

Grafik Debit Andalan

20
15

Grafik
Debit
Andalan

10

Des

Nov

Okt

Sep

Agu

Juli

Juni

Mei

April

Mar

Feb

Jan

Debit Bulanan m3/s

25

Gambar 1 Debit Andalan Metode F.J. Mock


Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa debit andalan maksimum berada pada
bulan Oktober yaitu 19,39 m3/det dan debit andalan minimum terjadi pada bulan Agustus
yaitu 11,47 m3/det.

Pola Tanam
Untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman, pengaturan pola tanam merupakan hal
yang perlu dipertimbangkan. Pengaturan pola tata tanam adalah kegiatan mengatur awal
masa tanam, jenis tanaman dan varietas tanaman dalam suatu tabel perhitungan. Varietas
pola tanam yang digunakan yaitu padi padi palawija. Fungsi utama dari pengaturan
pola tanam adalah untuk mendapatkan besaran kebutuhan air irigasi.
Pola tanam untuk masa tanam awal November , masa tanam tidak serentak berpriode
setengah bulanan dengan waktu bebas (Timelag) satu setengah bulanan namun, masa
penyiapan lahan harus sudah selesai dalam 45 hari yang di mulai pada awal bulan

November. Selama jangka waktu penyiapan lahan (45 hari) air irigasi diberikan secara
terus menerus dan merata untuk seluruh areal, tidak dibedakan antara areal yang sudah
ditanami atau areal yang masih dalam tahap penyiapan.
Penyiapan Lahan dan Koefisien Tanaman
Masa prairigasi diperlukan guna menggarap lahan untuk ditanami dan untuk
menciptakan kondisi lembab yang memadai untuk persemaian yang baru tumbuh,
biasanya padi membutuhkan tanah dengan tingkat kejenuhan yang baik dan dalam
keadaan tanah yang lunak dan gembur. Pengolahan tanah ini dilakukan selama 1 bulan.
Pergantian Lapisan Air
Penggantian lapisan air dilakukan sebanyak 2 kali, masing masing setinggi 50 mm
(3,3 mm/hari ) selama sebulan dan dua bulan setelah penanaman bibit. Pergantian lapisan
air dilakukan untuk menggenangi lapisan tanah yang berfungsi sebagai cadangan air
untuk perkolasi dan evapotranspirasi tanaman. Tujuan lain dari adanya genangan tersebut,
yaitu untuk menekan laju pertumbuhan gulma.
Kebutuhan Air di DI Ujung Gurap
Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan evapotranspirasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan
memperhatikan jumlah air yang di berikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air
tanah. perhitungan kebutuhan air pada masa tanam awal bulan November diperoleh air
maksimum 0,93 lt/dt/ha. Dari perhitungan didapat bahwa masa tanam yang baik
dilakukan adalah pada awal bulan november.
Analisis Tingkat Efisiensi Saluran Irigasi
Tingkat efisiensi jaringan irigasi terutama pada jaringan irigasi sekunder diperoleh
dengan cara menghitung kehilangan air yang terjadi pada saluran sekunder. Dalam
menghitung kehilangan air, yang pertama dilakukan adalah pengukuran debit saluran
dilapangan, sehingga dapat diketahui jumlah air yang masuk dan jumlah air yang keluar.
Skema jaringan irigasi ujung gurap Gambar 1.

Gambar 1. Skema Jaringan Irigasi Ujung Gurap


Pengukuran yang dilakukan dilapangan adalah dimensi saluran irigasi ujung
gurap yaitu, lebar saluran irigasi, tinggi saluran irigasi, dan tinggi permukaan air yang

terdapat pada saluran irigasi ujung gurap. Efisienssi saluran irigasi sekunder dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Efisiensi Saluran Sekunder Irigasi Ujung Gurap
Saluran

Debit Pangkal
(m3/dtk)

Debit Ujung
(m3/dtk)

KehilanganAir
(m3/dtk)

Efisiensi

BB 1 BUG 1

1,812

1,619

0,193

89,349

BUG 2 BUG 3

1,584

1,424

0,16

89,899

BUG 4 BUG 5

1,045

0,944

0,101

90,334
89,860

efisiensi penyaluran di saluran sekunder Ujung Gurap sebesar 89,86 %. Kehilangan


air di sepanjang saluran sekunder Ujung Gurap adalah sebesar 0,14 % dari efisiensi pada
saluran sekunder pada kondisi normal sebesar 90 %. Kehilangan pada saluran sekunder
Ujung Gurap ini masih tergolong efisiensi penyalurannya. Faktor yang mempengaruhi
kehilangan air pada saluran sekunder ini adalah evaporasi, rembesan dan karena saluran
yang dilapisi bahan kedap air sudah rusak. Kondisi saluran juga mempengaruhi
kehilangan air dimana semakin panjang saluran maka semakin besar pula kehilangan
airnya, begitu juga dengan lebar saluran. Di sekitar saluran sekunder juga ditemukan
tumbuh tumbuhan , dan bahkan memasuki permukaan air pada saluran.
Analisis Tingkat Efektifitas Saluran
Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh perbandingan antara luas
areal terairi terhadap luas rancangan. Dalam hal ini semakin tinggi perbandingan tersebut
semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. Tingkat efektifitas akan diukur dari nilai
Indek Luas Areal (IA), dengan rumusan berikut :
IA =

IA =

Luas Areal Terairi


Luas Rancangan
890
1396

X 100 %

x 100 % IA = 63,75 %.

Di lapangan diidentifikasi rasio atau perbandingan luas areal terairi terhadap rancangan
luas areal mencapai 63,75 %. Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi terdapat
36,25 % yang tidak terairi, dengan kata lain lahan telah berubah fungsi menjadi
pemukiman dan kolam ikan.
4. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
a.
b.

Dari hasil perhitungan kebutuhan air pada pola tanam yang dimulai pada awal
November didapat kebutuhan air maksimum adalah sebesar 0,93 lt/dt/ha.
Dengan menggunakan metode F.J. Mock didapat nilai debit andalan maksimum pada
daerah aliran sungai ( DAS ) Batang Angkola adalah sebesar 19,39 m3/dt, terdapat
pada pertengahan Oktober.

c.

d.

Dari tabel 4.12, efisiensi saluran sekunder di irigasi Ujung Gurap sebesar 89,860 %.
Kehilangan air sepanjang saluran sekunder sebesar 0,14 %. Dari efisiensi pada
keadaan normal di saluran sekunder sebesar 90 %.
Dari hasil perhitungan efektifitas sebesar 63,75 %, jumlah lahan yang tidak terairi
sekitar 36,25 %. Perubahan lahan irigasi menjadi pemukiman adalah menjadi salah
satu penyebab menurunnya tingkat efektifitas pada daerah Irigasi Ujung Gurap.

Saran
a. Petani diharapkan melakukan penanaman padi secara serentak, selain dapat
mengurangi hama, penanaman serentak ini juga dapat meningkatkan hasil panen.
b. Pada proses penyiapan lahan petani diharapkan menggunakan mesin untuk
menggarap lahan sawah, agar waktu penyiapan lahan semangkin singkat yakni
sekitar 1 bulan, dibandingkan dengan cara tradisional yang memakan waktu hampir
1,5 bulan.
c. Dari analisa yang diperoleh masa awal penanaman disarankan pada bulan November
untuk mendapatkan hasil yang optimum.
d. Pengerukan yang terjadi di saluran primer harus dihentikan, karna dapat merusak
saluran primer yang dapat berdampak pada berkurangnya pemenuhan kebutuhan air
yang diperlukan oleh tanaman di daerah irigasi Ujung Gurap.
e. Perlu diadakan perbaikan pada saluran irigasi ujung Gurap sehingga dapat
meningkatkan efisiensi dan efektifitas untuk mengoptimalkan produktifitas hasil
tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Agus, indra. 2010. Penentuan Jenis Distribusi dan Uji Kesesuaian Semirnov Kolmogrov
Data Hujan Das Taratak Timbulun. Politeknik Negeri Padang.
Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Standar Perencanaan Irigasi (KP-01). Departemen
Pekerjaan Umum, CV. Galang Persada: Bandung.
Direktorat Jenderal Pengairan. 1986. Standar Perencanaan Irigasi (KP-02). Departemen
Pekerjaan Umum, CV. Galang Persada: Bandung.
Hadihardjaja, Joetata. 2005. Irigasi dan Bangunan Air. Gunadarma: Jakarta.
Hernawan, Bambang. 2003. Analisis Perhitungan Harga Air Irigasi di Daerah Irigasi
Kedungdowo Kramat Kabupaten Batang. Master Theses Civil Engineering RTS
627. 52. Digital Library ITS.
Kusnadi Kalsim, dedi, dkk. 2006. Perencanaan Irigasi Drainasi Interaktif Berbasis
Teknologi Informasi. Bogor : IPB.
Sosrodarsono, Suyono. 1985. Perbaikan dan Pengaturan Sungai. Jakarta : PT Pradnya
Paramita.
Triatmodjo, Bambang. 1993. Hidraulika II. Beta Offset: Yogyakarta.