Anda di halaman 1dari 2

Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul muslimin merupakan salah satu jamaatul minal muslimin yang ada diantara beberapa
jamaah lainnya. Didirikan hamper seabad lalu oleh Hasan Al Banna, bersama enam orang
sahabatnya dalam waktu yang tidak begitu lama jamaah ini berkembang memiliki begitu banyak
annggota dan garapan dakwah di mesir pada waktu itu. Dimulai dari kota ismailiah hingga ke
kota kairo, ikhwanul muslimin dengan segera mampu menyebarluaskan pemahamannya kepada
masyarakat mesir dan diterima dengan baik pada waktu itu. Ada beberapa alasan yang
menyebabkan hal itu terjadi, yang pertama karena kemampuan berbaur dari imam Hasan Al
Banna dengan berbagai elemen masyarakat mesir dengan membedakan cara bergaul dengan
berbagai kelompok masyarakat. Yang kedua adalah kemampuan beretorikan bliau dan anggota
jamaah ikhwanul muslimin lainnya pada waktu itu yang luar biasa hingga mempu menggugah
siapapun yang mendengarnya.
Di tahun 1933, kantor Ikhwanul Muslimin dipindahkan dari Ismailiyah ke Kairo. Penekanan
dakwah yang dilakukan Ikhwan adalah memakmurkan masjid-masjid, menghidupkan pembinaan
(usrah), mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, perpustakaan-perpustakaan, dan pusat-pusat
kegiatan sosial di Mesir. Model dakwah Islam yang dilakukan Ikhwan ini selalu membantu dan
meringankan kehidupan rakyat Mesir yang saat itu masih. Selain menanamkan ruhiyah umat
dengan tauhid yang benar, wala wal baro yang lurus, Ikhwan lewat Albanna juga merintis usaha
perekonomian kerakyatan yang banyak membantu kesulitan hidup rakyat Mesir kebanyakan.
Inilah kiprah Albanna yang mampu membuat gebrakan baru yang belum pernah dilakukan oleh
para ulama besar di Al-Azhar saat itu.
Perjalanan jamaah ini tidaklah lancer-lancar saja, bahkan boleh dibilang sangat terjal. Mulai dari
1944 setelah pembunuhan perdana menteri Mesir pada saat itu, hingga sekarang (kecuali masa

kemeneangan presiden Mursi) Ikhwanul Muslimin selalu dianggap sebagi kelompok yang
berbahaya oleh pemerintah dan berakibat pada ditutupnya ruang gerak jamaah ini hingga
berujung pada pemenjaraan, penyiksaan dan pembunuhan. Tak terhitung jumlah anggota jamaah
ini yang berakhir dengan terjaman peluru dan tiang gantung. Tapi hal itu semua bukannya
menyurutkan gerak langkah Ikhwan tetapi sebaliknya memberikan suntikan motivasi yang jauh
lebih besar lagi untuk tetap berjuang bersama di jalan dakwah ini. Simpati masyarakatpun juga
semakin mengalir deras kepada jamaah ini terbukti dengan kemenangan fenomenal dalam
pemilu demokratis pertama di Mesir dengan suara hamper setengah kursi diparlemen ditambah
dengan kemenangan presiden Mursi sebagai presiden sipil pertama Mesir.
Tujuan dari jamaah ini tertuang dari sebuah pernyataan dari Imam Hasan Al Banna: Kami
menginginkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami,
pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan
perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera
jihad dan dakwah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketenteraman dengan ajaran-ajaran
Islam.
Dari tujuan tersebut maka dapatlah dijelaskan mengenai tahapan dakwah yang beliau jelaskan.
Jamaah Ikhwanul Muslimin berprinsip bahwa Islam adalah sesuatu hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan kita, dalam bidang apapun. Pada saat itu, ide tersebut merupakan
sebuah gagasan yang sangat asing dihampir semua kalangan, bahkan dikalangan umat Islam
sekalipun.