Anda di halaman 1dari 5

ASKEP KOMPREHENSIF IBU DENGAN ABORTUS &

ANEMIA
Pengampu : Melania Wahyuningsih, S. Kp., MSN.

Kelas A.74

Kelompok 3 :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

ANGGA ALAM ALAMSYAH.


BARLI PE`A.
FREDYGO DAMARA PERDANA.
KRISTOFORUS SOLA.
NUR WAHYU SATRIO WIBOWO.
VINSENSIA HELA MAU.

S1 Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Respati Yogyakarta
2013

5. Anemia dalam kehamilan ialah suatu kondisi ibu dengan kadar haemoglobin
dibawah 11 gr % terutama pada trimester I dan trimester ke III. Sedangkan
abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada

kehamilan kurang dri 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam
uterus yang disebabkan oleh perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus
berkontraksi, kelainan pada rahim, penyakit ibu seperti anemika, kelainan
plasenta dan factor pertumbuhan hasil konsepsi. Jadi abortus pada kasus Ny. T
mungkin disebabkan karena salah satunya ia mengalami anemia selain
disebabkan oleh penyebab yang lain. Anemia pada saat hamil (Hb kurang dari 78 gr/dl termasuk anemia sedang, WHO 2008) dapat mengakibatkan efek yang
buruk baik pada ibu maupun pada janin. Anemia dapat mengurangi suplai
oksigen pada metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk
mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak langsung pada ibu dan
janin antara lain terjadinya abortus, selain itu ibu lebih rentan terhadap infeksi
dan kemungkinan bayi lahir premature.
Pada Anemia ringan dapat mengakibatkan terjadinya lahir prematur dan berat
bayi lahir rendah (BBLR), sedangkan pada anemia berat selama masa hamil
dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas baik pada ibu maupun pada
janin yang salah satunya adalah terjadinya abortus dan perdarahan pada saat
persalinan. Anemia pada kehamilan disebabkan :
Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin.
Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil
Pola makan ibu terganggu akibat mual selama kehamilan
Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe) pada wanita akibat
persalinan sebelumnya dan menstruasi.
Setelah Ny. T mengalami perdarahan karena terjadi abortus inkomplit maka hal
ini dapat memperparah anemia sehingga kadar Ht menurun yang berarti dia
mengalami anemia karena kehilangan darah akut juga. Jadi anemia terjadi
sebelum terjadi abortus dan setelah terjadi abortus.

6. Pertama jelaskan bahwa curetage adalah cara membersihkan hasil konsepsi


memakai alat kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase,
penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus,
keadaan serviks dan besarnya uterus. Gunanya untuk mencegah terjadinya
bahaya kecelakaan misalnya perforasi. Curetage sebagai terapi pada kasuskasus abortus. Intinya, kuret ditempuh oleh dokter untuk membersihkan rahim
dan dinding rahim dari benda-benda atau jaringan yang tidak diharapkan.
Jelaskan juga beberapa efek samping kuret, selain efek samping dari prosedur
pembiusan di antaranya adalah perdarahan dan infeksi. Bila gangguan haidnya
berlanjut bisa menyebabkan ashermans syndrome, yakni terbentuknya adhesi
intrauterine (perlengketan) yang biasanya terjadi akibat luka yang berkembang
setelah operasi rahim. Pasien mengalami pengurangan menstruasi,
meningkatnya kejang perut dan rahim, bahkan sampai tidak adanya haid
(amenorrhea) dan sering menyebabkan kemandulan (infertilitas). Syndrome ini

jarang terjadi. Dalam banyak kasus, hal ini terjadi pada wanita yang menjalani
tindakan dilatation and curettage (D&C). Bila hali ini terjadi maka kehamilan
harus ditunda dulu sampai ada perbaikan keadaan.
Biasanya berkisar 3-4 minggu setelah kuret, haid akan normal kembali tetapi hal
ini juga dipengaruhi oleh bagaimana siklus haid sebelum hamil atau sebelum
tindakan kuret. Dan, untuk mengetahui apakah rahim normal atau tidak pascakuret, dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, kembalinya siklus normal haid
dan perdarahan yang semakin lama semakin sedikit hingga berhenti total.
Kedua, untuk lebih memastikan, tentunya rahim perlu dilihat dengan alat USG
oleh dokter kandungan.
Untuk hamil kembali juga harus dilihat dari usia kehamilan waktu mengalami
keguguran dan usia ibu sendiri. Menunda kehamilan untuk beberapa saat
dimaksudkan agar kandungannya beristirahat. Tapi bila usia ibu masih muda
maka tidak usah menunggu lama untuk hamil lagi.
Idealnya anjurkan agar 3-6 bulan ke depan Ny. T untuk tidak hamil kembali
dengan cara menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom agar sperma tidak
masuk ke rahim yang masih dalam masa penyembuhan. Hal ini lebih
disebabkan, bagi seorang ibu, untuk hamil kembali, ia memerlukan kesiapan fisik
dan mental. Apalagi setelah kehilangan calon bayinya yang tentu saja akan
meninggalkan kesedihan. Jadi, kehamilan memang memerlukan dua faktor, yaitu
sehat secara fisik dan sehat pula psikisnya barulah ia siap untuk hamil lagi.

7. Perawatan berkelanjutan selama di rumah pada Ny. T adalah ingatkan pada


ibu agar selalu mengecek kondisi fisik, keadaan rahimnya dan bekas luka setelah
dilakukan kuret. Berikan penkes juga bahwa Haid yang lancar dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti status gizi dan nutrisi wanita tersebut, kondisi medis
atau penyakit yang diderita serta siklus haid sebelum kuret. Agar haid dapat
lancar pasca-tindakan kuret, pastikan bahwa kondisi tubuh sehat. Bebaskan
pikiran dari hal-hal yang menganggu hingga menyebabkan stres. Selain itu,
banyak konsumsi buah dan sayuran sehat serta diet berimbang.
Perawatan setelah kuretase pada umumnya sama dengan operasi-operasi lain.
Harus menjaga bekas operasinya dengan baik, tidak melakukan aktivitas yang
terlalu berat, tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu
sampai keluhannya benar-benar hilang, dan meminum obat secara teratur. Obat
yang diberikan biasanya adalah antibiotik dan penghilang rasa sakit. Jika
ternyata muncul keluhan sakit yang terus berkepanjangan atau muncul
perdarahan, segeralah memeriksakan diri ke dokter

DAFTAR PUSTAKA

Gede, Ida Bagus, 1998 : Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandugan dan Keluarga


Berencana Untuk pedidikan Bidan, EGC , Jakarta
Sarwono, Prawirahardjo, 2009 :Ilmu Kebidanan, PT Bina Pustaka, Jakarta
Sue, Moorhead, 2008 : Nursing Outcome Classification (NOC), Mosby Elsevier,
United State of America
Soanne, McCloskey Doctherman, 2008 : Nursing Interventions Classification
(NIC), Mosby Elsevier, United State of America
Susane,Smeltzer C, 2002 : Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta
NANDA International, 2012 : Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klarifikasi 20122014, EGC, Jakarta
Nurarif, Amin Huda. Kusuma, Hardi. 2013 : APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN
BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS & NANDA. MediaAction. Yogyakarta