Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ANESTESIOLOGI

JURNAL

FAKULTAS KEDOKTERAN

JANUARI 2014

UNIVERSITAS HASANUDDIN

KETERAMPILAN KLINIS: DASAR FISIOLOGI DAN INTERPRETASI EKG

DISUSUN OLEH :
Fatimah Yunikartika Akbar
C 11109 252
PEMBIMBING :
dr. Kaisar Razak
SUPERVISOR :
dr. Abdul Wahab, Sp.An
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
PADA DEPARTEMEN ANESTESIOLOGI, PERAWATAN INTENSIF, DAN
MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSARLEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Fatimah Yunikartika Akbar

NIM

: C 111 09 252

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Hasanuddin

Judul

: Keterampilan Klinis: Dasar Fisiologi dan Interpretasi EKG

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Departemen


Anestesiologi, Perawatan Intensif, dan Manajemen Nyeri Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.

Makassar, Januari 2014


Supervisor

Pembimbing

dr. Abdul Wahab, Sp.An

dr. Kaisar Razak

Keterampilan Klinis: Dasar Fisiologi dan Interpretasi EKG


Ehsan Khan

Seiring dengan adanya perkembangan automatiasi yang terkomputerisasi dan


penurunan biaya teknologi elektronik, maka saat ini elektrokardiograf (EKG) sudah
menjadi alat yang lebih mudah dijangkau oleh staf perawat. Pemahaman yang lebih
baik mengenai penyakit juga telah membuat para profesional kesehatan sering
menggunakan keterampilan intepretasi EKG untuk berbagai penyakit meskipun
penyakit tersebut tidak berhubungan langsung dengan penyakit jantung. Pemantauan
EKG bahkan sudah digunakan di bidang kesehatan mental karena pemanjangan
interval QT dapat ditemukan pada pasien yang menggunakan medikasi/obat-obatan
antipsikosis. Oleh karena itu, semua perawat harus memiliki pemahaman prinsip
dasar dalam EKG.
Sudah ada banyak artikel yang membahas mengenai interpretasi EKG;
namun, hanya beberapa yang membahas secara jelas mengenai dasar fisiologis
gelombang EKG. EKG merupakan cerminan konduksi listrik dan eksitasi myokardial
di jantung. Untuk memahami gambaran EKG, maka seseorang harus memahami
hubungan berbagai gelombang yang terdapat dalam EKG dan mekanisme konduksi
yang menyebabkan timbulnya gelombang tersebut. Artikel ini akan mencoba
menjelaskan mengenai berbagai mekanisme fisiologis tersebut lalu mekanisme
tersebut diaplikasikan pada interpretasi EKG, sehingga penjelasan mengenai EKG
menjadi lebih komprehensif.
Riwayat EKG
Arus listrik jantung pertama kali direkam oleh Augustus D Waller (1856-1922) di
Rumah Sakit St Mary, London. Sayangnya, Waller gagal menemukan potensi klinis
dari temuannya tersebut. Lalu Willem Einthoven van Leiden (1860-1927)
memperbaiki temuan Waller dan membuat suatu EKG yang lebih baik. Karena alasan
3

inilah maka Einthoven dianggap sebagai bapak EKG. Einthoven merupakan yang
pertama melabeli (memberikan istilah, menamai) gelombang EKG sebagai PQRST.
Einthoven menggunakan huruf yang berasal dari pertengahan alfabet karena beliau
tidak yakin jika dia sudah menemukan semua gelombang EKG sehingga dengan
penggunaan huruf dari pertengahan alfabet, maka akan ada cukup huruf lagi jika
suatu harus nanti ditemukan gelombang EKG yang baru. Dan prediksi Einthoven
cukup tepat, karena beberapa tahun kemudian, dia menemukan gelombang U.
Konduksi Impuls di Jantung
Impuls elektrik yang menyebabkan kontraksi jantung dikonduksikan melalui jaringan
otot yang telah termodifikasi. Meskipun myokardium dapat menghantarkan konduksi
impuls elektrik, namun serabut konduksi yang terspesialisais untuk mengonduksikan
impuls listrik memiliki kecepatan sekitar 2-3 kali lipat jika dibandingkan dengan
myokardium. Oleh karena itu, sistem konduksi dapat menghasilkan impuls listrik
yang terorganisir. Sistem konduksi jantung terdiri atas nodus sinoatrial (SA), jalur
konduksi atrial, nodus atrioventrikuler (AV), dan jalur konduksi ventrikuler. Atrium
dan ventrikel dipisahkan oleh suatu jaringan fibrosa yang tebal annulus fibrosis atau
cincin atrioventrikuler. Annulus fibrosis menyekat listrik yang berasal dari atrium
agar tidak mengganggu ventrikel, sehingga dalam kondisi normal, satu-satunya jalur
konduksi dari atrium ke ventrikel adalah nodus AV.
Nodus Sinoatrial (Nodus SA)
Nodus SA, yang terletak pada atrium kanan dekat pintu masuk vena kava superior,
tersusun oleh sekelompok sel-sel yang sudah terspesialisasi yang memiliki sifat
automatis. Automatisasi merupakan kemampuan jaringan untuk membuat aksi
potensial secara otomatis. Automatisasi (otomatisasi) terjadi karena adanya kebocoran
ion positif ke dalam sel, kebocoran ini berukuran kecil namun sifatnya terus-menerus.
Kecepatan otomatisasi pada nodus SA dimodulasi oleh beberapa mekanisme, seperti
sistem nervus autonom dan hormon. Karena kecepatan normal automatisasi nodus SA
4

pada jantung sekitar 60-100 impuls/menit, maka nodus SA merupakan pacemaker


(pemacu) utama jantung.
Jalur internodal
Impuls yang dihasilkan oleh nodus SA dikonduksikan ke dalam atrium melalui laur
konduksi. Ada empat jalur atrial utama: tiga berada di atrium kanan dan satu berada
di atrium kiri. Tiga jalur atrial kanan yang dikenal juga dengan jalur internodal, dapat
menghantarkan impuls listrik dari SA ke nodus AV, sehingga myokardium jantung
dapat berkontraksi begitu impuls listrik melalui atrium. Jalur konduksi atrial keempat
berjalan dari nodus SA menuju atrium kiri dan dikenal juga dengan serabut
Bachmann.
Nodus Atrioventrikuler (Nodus AV)
Nodus AV merupakan faktor yang penting dalam sistem konduksi. Struktur ini
memiliki beberapa fungsi spesifik. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, nodus
AV berperan sebagai penghantar impuls listrik agar dapat melewati annulus
atrioventrikuler. Nodus AV memiliki kecepatan konduksi yang lambat, sekitar 0.2
m/detik; struktur ini dapat memperlambat impuls listrik dari atrium, sehingga impuls
listrik tidak langsung masuk ke ventrikuler, dengan begitu, ada cukup wakt untuk
pengisian ventrikuler. Nodus AV tidak memiliki sifat automatisasi; namun ada
beberapa jaringan konduksi AV yang bergabung dengan serabut His (perbatasan AV)
yang memiliki kemampuan automatisasi. Kecepatan intrinsik nodus AV cenderung
lebih lambat dari nodus SA, sekitar 40-60 impuls/detik. Oleh karena itu AV junction
(perbatasan AV) dapat bertindak sebagai pacemaker (alat pacu) kedua jika terjadi
penurunan kecepatan automatisasi nodus SA.
Nodus AV dapat bertindak sebagai penyaring frekuensi, dengan cara
mengurangi jumlah hentakan atrial yang memasuki ventrikel apabila kecepatan
impuls listrik dari atrium cenderung sangat cepat. Kemampuan nodus AV yang seperti
itu hanya dapat terlihat jika kecepatan impul atrium di atas 180-200 impuls/menit.
5

Impuls atrium yang terlampau cepat biasanya terjadi karena aktivitas nodus SA
karena kecepatan impuls SA tidak pernah melebihi 170-190 impuls/menit sehingga
kecepatan maksimal sinus takikardia dapat diukur melalui rumus 220 usia.
Kecepatan yang terlampau tinggi biasanya terjadi karena abnormalitas automatisasi
yang ditemukan pada serabut konduksi atau myokardium atria.
Kemampuan nodus AV dalam menghambat impuls sangat dipengaruhi oleh
kecepatan impuls, oleh karena itu rasio konduksi atrial: ventrikuler (gelombang atrial:
hentakan/denyut ventrikuler) biasanya sekitar 2:1, 3:1, dll, sesuai dengan kecepatan
impuls atrial. Fungsi penyaringan frekuensi oleh nodus AV bertugas untuk membatasi
jumlah gelombang atrial berkecepatan tinggi yang memasuki ventrikel sehingga
kecepatan ventrikuler dapat mengalami penurunan, fenomena seperti ini dapat dilihat
pada kasus atrial flutter.
Serabut Konduksi Ventrikuler
Serabut konduksi ventrikuler tersusun atas serabut His dan cabang-cabangnya.
Serabut His terbagi menjadi dua cabang utama, cabang kiri dan kanan. Serabut
cabang kiri terbagi menjadi dua sedangkan cabang kanan terbagi menjadi tiga; dua
cabang kiri diberinama berdasarkan jalur perjalanannya di dinding ventrikel kiri.
Fasikel anterior superior: merupakan suatu cabang serabut His yang tipis, menjalar
secara anterior dan superior di dinding ventrikel kiri. Cabang yang lain dari serabut
kiri adalah fasikel posterior inferior, yang berjalan secara posterior dan inferior
melalui dinding ventrikel kiri. Cabang terakhir serabut kiri adalah fasikel septal
medial. Cabang ini ditemukan pada sekitar sepertiga populasi.
Serabut Purkinje
Serabut Purkinje merupakan struktur terakhir dari sistem konduksi dan berasal dari
subdivisi cabang serabut His. Serabut Purkinje melintas di seluruh dinding
myokardium dan melalui lapisan jaringan konektif subendotelial. Oleh karena itu

kontraksi myokardium bergerak dari dalam ke luar (dari endokardial menuju ke


epikardial).
EKG dan Hal yang Dapat Direkam oleh EKG
EKG merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh jantung, perekaman tersebut
dilakukan oleh sandapan atau terminal yang terpasang di beberapa bagian tubuh.
Berbagai sandapan tersebut dipasang dengan arah yang berbeda-beda. Cara
pemasangan sandapan tergantung pada arah arus listrik, oleh karena itu sandapan
akan merekam gelombang positif ketika arus listrik bergerak ke arah sandapan, dan
gelombang negatif terekam ketika arus listrik bergerak menjauhi sandapan sedangkan
gelombang defleksi bifasik (gelombang positif dan negatif) terekam ketika impuls
listrik berada pada posisi 90 derajat dari sandapan. Gambaran yang terlihat pada
rekaman EKG terlihat lebih kompleks.
Sandapan EKG
Sandapan Ekstremitas
Ada enam sandapan ekstremitas yang dapat direkam dengan menggunakan kombinasi
tiga elektroda. Ketiga elektroda yang merekam gelombang sandapan tungkai harus
dipasang pada:

Lengan kanan: (sandapan yang normalnya berwarna merah)


Lengan kiri: (sandapan yang normalnya berwarna kuning)
Kaki kiri: (sandapan yang normalnya berwarna hijau)

(sandapan kaki kanan biasanya berwarna hitam, yang sifatnya normal).


Semua sandapan tersebut biasanya dibagi menjadi sandapan bipolar dan unipolar atau
augmentasi.

Sandapan Ekstremitas Bipolar


7

Sandapan ini disebut bipolar karena memiliki dua kutub yang berbeda: elektroda
positif dan negatif. Biasanya, sandapan wajah selalu bersifat positif. Sandapan
ekstremitas terdiri atas:
Sandapan I (lead I): sandapan ini terbentuk oleh elektroda tangan kanan dan tangan
kiri. Elektroda tangan kanan bersifat negatif dan elektoda tangan kiri bersifat positif.
Sandapan ini memproyeksikan jantung dalam potongan frontal (lead frontal) dan
merekam aktivitas jantung pada sisi lateral jantung, seperti dinding lateral ventrikel
kiri.
Sandapan II (lead II): Lead II terbentuk oleh arus listrik dari elektroda tangan kanan
(negatif) ke kaki kiri (positif). Sandapan ini termasuk dalam lead frontal dan
merekam aktivitas aspek inferior jantung. Normalnya sandapan ini positif dan pada
jantung normal, biasanya lead II memiliki defleksi terbesar.
Sandapan III (lead III): lead ini terbentuk oleh arus listrik dari lengan kiri (negatif) ke
kaki kiri (positif). Sandapan ini juga masuk dalam lead frontal serta merekam
permukaan inferior jantung, namun cenderung merekam sisi kanan jantung jika
dibandingkan dengan lead II.
Sandapan unipolar (lead unipolar)
Sandapan (lead) unipolar terdiri atas lead augmentasi dan lead dada. Disebut unipolar
karena hanya memiliki satu kutub. Untuk memudahkan pemahaman, maka semua
sandapan yang menerima arus listrik pada sandapan unipolar dianggap bersifat
positif. Tidak ada elektoda negatif sejati pada sandapan unipolar karena ketiga
sandapan (lead) ekstremitas bertindak sebagai elektroda netral. Pada lead unipolar,
arus listrik yang terbentuk oleh jantung dihitung mulai dari pusat data menuju ke
sandapan positif.

Sandapan Augmentasi
8

aVR: pada sandapan unipolar aVR, elektroda positif merupakan lengan kanan.
Sandapan ini merekam aktivitas jantung pada permukaan dekstra superior jantung.
Sandapan ini nyaris bersifat negatif, karena sandapan ini juga dapat melihat aktivitas
kavum jantung, oleh karena itu gelombang P, QRS dan T pada sandapan ini bersifat
negatif. Sandapan ini bersifat positif jika pasien mengalami dekstrokardia (jantung
pada sisi kanan) atau apabila sandapan lengan kiri dan lengan kanan tertukar.
aVL: sandapan ini bersifat positif pada sisi kiri lengan. Sandapan ini dapat
menangkap aktivitas lateral jantung; namun, sandapan ini hanya menangkap akvitias
jantung pada dinding lateralnya dengan sudut 30, sedangkan lead I menangkap
aktivitas dinding lateral pada potongan horizontal.
aVF: lead positif untuk sandapan ini adalah lead kaki kiri. Sandapan ini merekam
aktivitas pada aspek inferior jantung.
V1: pada sisi kanan sternum di margin sternal, ruang interkostalis keempat
V2: pada sisi kiri sternum di margin sternal, ruang interkostalis keempat
V3: Sebelum memasang lead V3, V4 harus dipasang terlebih dahulu lalu V3 dipasang
di antara V2 dan V4
V4: Di ruang interkostal kelima pada linea mid-klavikula. Jaringan adiposa dapat
menyebabkan aberasi minimal pada perekaman EKG. Sehingga, elektroda harus
dipasang di atas payudara wanita agar pemasangannya lebih tepat.
V5: Dipasang pada ruang interkostal kelima linea aksilaris anterior
V6: Dipasang pada bidang yang sama dengan V4 dan V5 hanya saja letaknya pada
linea mid-aksilaris.
EKG dan Keterkaitannya dengan Kontraksi Jantung
Sumber gelombang EKG saat ini sedang diteliti. EKG sandapan (lead) II biasanya
digunakan untuk mengobservasi jalur internodal, serta hantaran impuls dari serabut
Bachmann menuju atrium kanan dan kontraksi atrium kanan. Aktivitas impul listrik
tersebut membentuk gelombang P.

Ketika impuls memasuki nodus AV, maka kecepatannya mengalami


perlambatan; hal ini menciptakan segmen datar pada gelombang EKG, yang disebut
juga dengan interval PQ. Segmen tersebut mendatar karena hanya sedikit jaringan
yang terlibat dalam konduksi, sehingga aktivitas listrik yang terbentuk tidak dapat
direkam oleh EKG. Setelah impuls diperlambat oleh nodus AV, maka impuls
kemudian dihantarkan ke serabut His lalu menjalar ke cabang-cabangnya. Begitu
impuls melewati serabut His, maka septum jantung berkontraksi. Massa otot septal
berukuran kecil, sehingga kontraksi yang dihasilkan juga cenderung kecil. Defleksi
negatif pertama yang timbul setelah berlalunya gelombang P disebut juga dengan
gelombang septal q dan gelombang ini dapat terlihat jelas pada sandapan V5-V6 serta
lead II.
Setelah kontraksi septum, dorongan memasuki kedua ventrikel hampir
bersamaan dan menyebabkan kontraksi ventrikel dari apeks jantung sampai ke atas.
Kontraksi miokardium terjadi keluar dari ruang endocardium. Itu adalah keuntungan
dari aktivitas listrik yang dihasilkan selama kontraksi ventrikel, oleh karena itu terjadi
penurunan menuju apeks jantung dan sedikit penurunan ke kiri. Hal ini disebabkan
karena sisi kiri dari jantung (ventrikel kiri) terdiri dari lebih banyak otot daripada sisi
kanan, oleh karena itu, ketika terjadi kontraksi, hal ini menghasilkan aktivitas listrik
lebih. Maka lead ini menggambarkan orientasi dari lead II, Oleh karena itu,
konstraksi ventrikel jelas terlihat pada lead ini. Karenanya profesi kesehatan secara
normal memantau lead II, karena lead II juga merupakan rata-rata konduksi normal.
Kontraksi utama dari ventrikel menghasilkan pembentukan gelombang R pada EKG.
Akhirnya, otot di sekitar katup utama berkontraksi. Karena itu aktivitas listrik
diarahkan ke atas menuju dasar jantung dan menjauh dari lead II, defleksi yang
terbentuk pada EKG adalah menurun dan berukuran kecil karena jumlah otot yang
kecil di daerah ini. Defleksi negatif ini dikenal sebagai gelombang S. Pada saat
ventrikel relaksasi dan repolarisasi, pada saat itu pada EKG muncul gelombang
positif setelah gelombang S yaitu gelombang T.

10

Dalam beberapa kasus, gelombang tambahan mungkin terlihat setelah


gelombang T - gelombang U. Biasanya gelombang ini tidak jelas, Namun gelombang
ini dicurigai terbentuk setelah depolarisasi dari ventrikel, oleh repolarisasi dari sistem
His-Purkinje, atau dari repolarisasi berkepanjangan dari lapisan sel tertentu (M-sel) di
pertengahan miokardium. Gelombang ini paling baik dilihat pada lead yang berada di
dada kanan, terutama di V3.
Kertas EKG
Sekarang cara konduksi jantung membentuk bentuk gelombang EKG yang berbeda
telah diperiksa, dimensi normal dapat diperiksa pada gelombang ini. Untuk
memahami dimensi gelombang ECG, kita perlu memahami kertas grafik di mana
EKG direkam. Waktu diplot sepanjang sumbu horisontal (X - axis) dari EKG kertas
grafik dan sepanjang sumbu vertikal (Y-axis), kertas menunjukkan besar dan
dalamnya defleksi dalam mV (Gambar 6). Pada kertas grafik dibagi menjadi kotakkotak kecil berukuran 1 mm dan lima kotak-kotak kecil membentuk satu kotak besar.
Normalnya kecepatan kertas EKG adalah 25 mm / detik, satu persegi kecil pada X
axis 0,04 detik dan sebuah kotak yang besar (lima kotak kecil) sama dengan 0,2 detik
(5 x 0,04 = 0,2). Oleh karena itu, lima kotak besar adalah sama dengan 1 detik (5 x
0,2 = 1).
Bidang vertikal dari kertas EKG menggambarkan besarnya defleksi dari
konduksi jantung. Rekaman EKG dikalibrasi pada 10 kotak kecil atau dua kotak
besar memberikan defleksi dari 1 mV. Ini penting karena mengubah kalibrasi ini
dapat mengubah interpretasi hasil dari EKG.

Defleksi pada EKG

11

Meskipun dasar fisiologis pembentukan gelombang EKG telah dijelaskan, bentuk


gelombang kadang-kadang memiliki sedikit perbedaan arti dari sudut pandang dan
penafsirannya.
Gelombang P: Biasanya defleksi positif pertama siklus EKG, biasanya simetris bulat.
Gelombang Q: Defleksi negatif pertama yang mendahului defleksi positif pertama
(biasanya gelombang P).
Gelombang R: Defleksi positif pertama pada kompleks QRS. EKG mungkin memiliki
lebih dari satu defleksi pada kompleks QRS. Defleksi pertama diberi label R atau r
tergantung pada ukuran defleksi. Jika defleksi besar maka gelombang akan disebut R,
jika itu kecil akan r. Defleksi positif berikutnya dalam QRS kompleks dilambangkan
R 'atau r' (R prime). Defleksi positif selanjutnya dijelaskan sebagai R'' atau'' r dan
sebagainya.
Gelombang S: Defleksi negatif pertama setelah Gelombnag R. Serupa dengan
gelombang R, gelombang S dapat ditulis sebagai S atau s tergantung pada ukurannya.
Sekali lagi, seperti pada gelombang R, defleksi negatif kedua menyusul gelombang R
disebut S '(S prime) dan S ketiga'', dll
Gelombang T: Secara umum, gelombang T adalah defleksi berikutnya yang
mengikuti kompleks QRS dan biasanya dalam arah yang sama dengan kompleks QRS
sebelumnya. Ini cenderung kurang simetris dibandingkan gelombang P dan biasanya
miring di satu sisi.
Gelombang U: Kecil, Defleksi biasanya positif menyusul gelombang T. Ada tidaknya
gelombang ini tidak menunjukan hal patologis tetapi penting untuk dikenali, karena
dapat dianggap sebagai gelombang P. Ini harus dicatat bahwa interval QT dan segmen
ST jangka waktu adalah tingkat-dependent. Dari kedua pengukuran interval QT (atau
QTc, karena diketahui setelah durasi untuk mengoreksi denyut jantung) Hal ini sangat
penting.
Interval QT: Perpanjangan interval ini mengarah ke bentuk spesifik dari ventrikel
takikardi dikenal juga sebagai torsades de pointes. Bentuk Ventrikel takikardi
memiliki pola berosilasi dari gelombang amplitudo kecil ke gelombang amplitudo
12

yang lebih besar. Perpanjangan interval QT mungkin disebabkan oleh kelainan


genetik bawaan pada jantung atau dengan induksi obat.
Interpretasi EKG
Sebelum memulai untuk menilai EKG, ada beberapa aturan yang perlu diamati.
termasuk identitas yang tepat dari EKG dengan nama pasien, waktu dan tanggal
perekaman dan jika EKG dilakukan dalam satu seri, maka perlu diperhatikan nomor
seri dari EKG. Adanya nyeri dada adalah penting untuk menilai penyakit jantung
iskemik, karena hal ini dapat memungkinkan diagnosis banding antara nyeri jantung
dan non-jantung. Perawatan harus dilakukan untuk memastikan rekaman berkualitas
baik tanpa adanya gangguan dari sumber lain yang berada disekitar jantung pada
EKG, misalnya gerakan otot skeletar atau tremor dan aktivitas listrik eksternal.
Interpretasi EKG mungkin berbentuk salah satu dari dua hal ini: interpretasi jalur
irama atau interpretasi 12-lead. Sebuah jalur irama tunggal hanya berisi informasi
yang direkam dari satu perspektif jantung, sedangkan EKG 12-lead berisi informasi
yang direkam dari berbagai perspektif yang berbeda.
Dalam hal ketika kita menilai EKG, penting untuk dilakukan secara
sistematis, apabila perubahan yang tidak jelas terlewatkan hal ini yang akan
mengarahkan kita ke interpretasi EKG yang salah. Aktivitas ventrikel biasanya
merupakan bagian yang paling penting dari sebuah EKG karena batasan jalur irama
digunakan dalam menganalisis secara rinci kontraksi dari ventrikel. Oleh karena itu,
dengan tidak adanya aritmia ventrikel jelas bahwa pendekatan anatomi biasanya
cukup untuk menganalisis jalur irama.
Interpretasi Jalur Irama
Kebutuhan berikut untuk dianalisis: bentuk umum gelombang QRS, nadi, irama,
gelombang P, jarak PR, perbandingan P-R.
Bentuk gelompang QRS secara umum: Umumnya bentuk gelombang QRS kecil, dan
dapat di interpretasi secara pasti pada jalur irama, terlepas dari perubahan yang
13

mencolok dari irama ventrikel pada hipertrofi dan infark. Untuk menganalisis scara
mendalam gelombang QRS, lead prekordial dari 12 lead EKG harus diperhatikan.
Namun, peningkatan irama dapat menghasilkan informasi penting tentang durasi
QRS, misalnya gelombang QRS melebar terkait dengan cabang berkas yang dapat
dilihat disini.
Nadi: bradikardia, normal, takikardia
Irama/ritme: reguler atau ireguler ingat, tidak semua irama reguler adalah normal
Irama sinus takikardia, ventrikel takikardia dan AV blok merupakan contoh irama
reguler.
Durasi dan tinggi gelombang P: grlombang P yang berkepanjangan dan berpunuk
dapat menunjukkan hipertrofi atrium kiri, sedangkan gelombang P yang tinggi
(>2.5mm) mungkin menandakan hipertrofi atrium kanan.
PR Interval: Jarak PR terpendek (<0.12 detik) menandakan bukankah suatu AV blok,
sebuah fenomena yang dikenal sebagai pra-eksitasi, yang dapat dikaitkan dengan
beberapa ventrikel takikardia parah. Jarak PR yang berkepanjangan (>0.2 detik) dapat
disebabkan oleh AV blok iskemia dan peningkatan stimulasi parasimpatis.
Perbandingan P-R (jumlah gelombang P ke gelombang R): harus selalu ada jarak
antara gelombang P dan kompleks qRS. Aritmia dapat dikatakan pada gelombang P
yang lebih tinggi dari QRS kompleks dapat meliputi AV blok derajat kedua atau
ketiga. Denyut atrial dan fibrilasi atrial jarang terkait.
Interpretasi 12-lead EKG
Semua pertimbangan rekaman awal yang diberikan dalam menilai jalur irama tetap
sama pada interpretasi 12-lead, tapi seperti yang telah dijelaskan saat melakukan
EKG 12-lead, analisa dimulai dengan bentuk aktivitas atrium yang tidak sama tinggi
bila dibandingkan dengan gelombang QRS. Namun, dalam kasus ini gelombang ini
tidak disebut gelombang P, mereka dikenal sebagai getaran dan fibrilasi gelombang
prekordial. Bentuk gelombang prekordial digunakan karena mereka adalah lead yang
paling dekat dengan jantung dan oleh karena itu mempunyai sensitifitas yang lebih.
14

Alat interpretasi berikut merupakan adaptasi dari alat interpretasi 12-lead


EKG dijelaskan oleh Huszan (2001) dgn rincian dari Schamroth (1990), Thaler
(2003) dan lain-lain sesuai indikasi analisis EKG 12-lead.
Analisis EKG 12-lead
-

Analisis bentuk utama kompleks QRS


Rate (ventrikel dan atrium jika perlu)
Analisis lead prekordial
Analisis lead extremitas (termasuk axis determi)
Analisis gelombang P
Analisis jarak PR

Bentuk utama dari kompleks


Carilah tanda2 jelas kelainan ventrikel, seperti ventrikel takikardia dan tanda2 infark
serta elevasi segmen ST.
Nadi: serupa dalam analisis jalur irama.
Irama/ritme: mirip dengan analisis jalur irama.
Periksa progresi gelombang R yang sesuai: Lead prekordial pertama (V1) harus
dominan negatif dan lead V5-V6 harus didominasi positif. Hal ini memberikan
indikasi arah rata-rata kekuatan kontraksi dari ventrikel dan perubahan perkembangan
gelombang R dengan adanya hipertrofi dan blok konduksi intraventrikular.
Lead Prekordial
Durasi tidak boleh lebih dari 0,1 detik. Dalam hal apapun ketika terjadi lebih dari ini,
terutama jangka waktu yang lebih dari 0,12 detik disarankan untuk menunda
konduksi intraventrikular. Konduksi yang tertunda tersebut sering terlihat sebagai
getaran konduksi ventrikel.
Ketinggian gelombang R tidak boleh melebihi 26 mm dan kedalaman
gelombang S tidak boleh lebih dari 30 mm. Ketinggian gelombang S yang tidak
normal menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel.

15

Kedalaman gelombang Q tidak boleh lebih dari satu kuartal berikutnya tinggi
dari gelombang R. Gelombang Q yang tidak normal menandakan infark dibagian
jantung yang tersadap lead.
Gelombang T
Gelombang T adalah bagian yang paling tidak stabil dari rekaman EKG dan karena
itu, ditemukan perubahan pada sejumlah kelainan pada EKG. Gelombang T di V1
mungkin tegak atau mungkin bifasik atau terbalik, kecuali awalnya tegak pada pasien
yang sama. Biasanya V2 mirip dengan V1 dan V3-V6 biasanya berbentuk gelombang
tegak. Gelombang T terbalik mungkin merupakan tanda dari suatu infark
Segmen ST Prekordial
Segmen ST harus berada pada dasar disebagian besar bagian segmen. Segmen ST
harus diukur 2 mm dari J point. J point adalah titik dimana gelombang S datang
hingga garis pusat dan dimulainya segmen ST. Hal ini terkadang sulit untuk dilihat,
karena mungkin tidak ada pembatasan yang jelas antara awal segmen ST dan akhir
gelombang S. Sebuah segmen ST 0,5 mm dibawah garis pusat umumnya menandakan
iskemia. Segmen ST terbawah dapat diinterpretasi sebagai ketegangan otot dimana
biasa ditemukan pada hipertrofi ventrikel. Sebuah segmen ST meningkat pada dua
lead berturut-turut menunjukkan infak akut: >1mm di lead extremitas dan >2mm di
lead prekordial. Elevasi ST persisten dapat terjadi pada sejumlah alasan, termasuk
pembentukkan aneurisma ventrikel. Perikarditis juga dapat menyebabkan elevasi
segmen ST persisten, namun ini cenderung ditemukan diseluruh lead dada umumnya
terkait dengan takikardia pada akhir gelombang QRS.

Analisis Lead Extremitas


Analisis lead extremitas mirip dalam banyak kasus untuk lead prekordial meskipun
besarnya bentuk gelombang sedikit berkurang karena lebih jauh dari jantung.
16

Axis Jantung
Axis jantung ditentukan dari lead extremitas. Axis jantung menunjukkan rata-rata
aliran aktivitas listrik yang dihasilkan di jantung. Sebagai kontraksi miokardium dari
endokarium ke epikardium (keluar), axis biasanya diarahkan kebawah. Karenanya sisi
kiri jantung lebih berotot dibandingkan kanan, axis digeser sedikit kearah kiri. Oleh
karena itu, axis jantung biasanya diarahkan pada kaki kiri (ke arah lead II). Axis
normal ditemukan diantara lead cabang aVL dan aVF pada sistem rujukan heksaksia.
Sistem rujukan heksaksial terdiri dengan menggandakan arah enam lead cabang
diatas satu sama lain dengan menggunakan jantung sebagai titik pusat.
Arah axis jantung normal tergantung pada kontraksi otot normal, yang pada
gilirannya tergantung pada sistem konduksi utuh dan miokardium. Oleh karena itu,
pergeseran axis (gerakan menjauh dari lead II tapi masih dalam batas normal) atau
penyimpangan (axis diluar batas normal) dapat dilihat dalam blok konduksi seperti
pada bundle branch, hemiblok atau hipertrofi dimana satu sisi jantung menjadi
abnormal dominan dalam hal kontraktilitas dari yang lain.
Analisis Gelombang P dan Analisis Jarak PR
Hal ini mirip dengan analisis yang ditemukan dalam analisa tingkatan irama. Sebagai
akibat dari efek pre-eksitasi pada bentuk gelombang prekordial, mungkin tepat untuk
menghindari

kehadiran

pre-eksitasi

sebelum

menganalisis

lead

prekordial.

Kesimpulan
Interpretasi EKG membutuhkan pengalaman dan prektek. Ketika memulai untuk
belajar menginterpretasikan EKG, mungkin perlu untuk meminta bantuan dari
seorang senior yang lebih berpengalaman. Namun pemahaman dasar tentang fisiologi
yang mendasari gelombang yang muncul sangatlah membantu. Selain itu,
pemahaman tentang melihat lead EKG terhadap jantung akan membantu praktisi

17

untuk membuat interpretasi logis dari hasil EKG. Artikel ini mencoba memberi
penjelasan tentang landasan kedua prinsip tersebut.

18