Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU BEDAH

CASE PRESENTATION

FAKULTAS KEDOKTERAN

OKTOBER 2013

UNIVERSITAS HASANUDDIN

TUMOR ESOFAGUS

DISUSUN OLEH :
Fatimah Yunikartika Akbar
C 111 09 252
PEMBIMBING :
dr. Arry Setyo Dharma
SUPERVISOR :
Dr. dr. Warsinggih, Sp.B-KBD

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Fatimah Yunikartika Akbar

NIM

: C 111 09 252

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Hasanuddin

Judul

: TUMOR ESOFAGUS

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Departemen Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Oktober 2013


Supervisor

Pembimbing

Dr. dr. Warsinggih, Sp.B-KBD

dr. Arry Setyo Dharma

BAB I
LAPORAN KASUS
A. IDENTIFIKASI
Nama

: Yuliana Suebu

Tanggal lahir

: 19/09/1950

Umur

: 63 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Rekam Medis

: 632038

Tgl MRS

: 08/10/2013

Tgl Anamnesis

: 11/10/2013

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama
Sulit menelan

Riwayat Perjalanan Penyakit


Dialami sejak 4 bulan yang lalu sebelum masuk RS, awalnya pasien merasa
tidak enak di tenggorokan, lama kelamaan pasien menjadi sulit menelan.
Setiap pasien makan, 1 jam kemudian pasien muntah. Nyeri menelan tidak
ada, nyeri ulu hati tidak ada. Riwayat berobat di RS daerah Papua dan dirawat
selama 2 bulan namun tidak ada perubahan. Pasien kemudian dirujuk ke RSU
kota Papua dan dirawat selama 1,5 bulan namun tidak ada perubahan. Pasien
kemudian dirujuk ke RSWS.

Riwayat Penyakit Terdahulu/Lainnya


-

Riwayat batuk disangkal


Riwayat muntah darah disangkal

Riwayat BAB dan BAK normal

Riwayat penurunan BB dalam 4 bulan terakhir ada, 30 kg


Riwayat merokok (+), minum alkohol (+) selama > 5 tahun

C. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Sakit sedang/gizi baik/composmentis

Status Vitalis
Tekanan Darah: 130/90mmHg
Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 37oC

Kepala
Konjungtiva
Sklera

: anemis (-)
: ikterus (-)

Bibir

: tidak ada sianosis

Gusi

: perdarahan (-)

Mata
pupil bulat, isokor, 2,5mm/2,5mm, RC +/+
Leher
Kelenjar getah bening :tidak terdapat pembesaran
DVS

: R-2 cmH20

Deviasi trakea

: tidak ada

Tidak didapatkan massa tumor


Tidak ada nyeri tekan.
Paru
Inspeksi

: simetris kiri dan kanan

Palpasi

: nyeri tekan (-), massa tumor (-), fremitus raba kiri=kanan

Perkusi

: sonor R=L

Auskultasi

: Bunyi pernapasan vesikuler R=L


Bunyi tambahan: ronkhi -/- Wheezing -/-

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis (S)

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi

: S1/S2 reguler,murmur (-)

Abdomen :
Inspeksi

: datar, ikut gerak napas, darm contour (-), darm steifung (-)

Auskultasi

: peristaltik (+) kesan normal

Palpasi

: Massa tumor tidak teraba, nyeri tekan tidak ada, defans (-)
Hepar/Lien tidak teraba.

Perkusi

: timpani

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium (08/10/2013)

Pemeriksaan

Hasil

WBC
RBC
HGB
HCT
PLT
Ureum

3,2
3,99
10,0
30,8
114
29

Kreatinin

0,6

GOT
GPT
GDS

16
8
87

Nilai
normal
4,00-10,0
4,00-6,00
12,0-16,0
37,0-48,0
150-400
10-50
L(<1,3);
P(<1,1)
< 38
< 41
140

Nilai

Pemeriksaan

Hasil

CT
BT
Na
K
Cl
PT
APTT
INR

630
200
145
3,2
111
10,0
25,1
0,8
Non

normal
4-10
1-7
136-145
3,5-5,1
97-111
10-14
22,0-30,0
Non

Reaktif
Non

Reaktif
Non

Reaktif

Reaktif

HbsAg
Anti HCV

Endoskopi (04/10/2013)

Kesimpulan: suspek massa esofagus inferior yang meluas ke esophagus


media DD/ susp. Massa kardia gaster

Esofagografi + OMD (05/10/2013)

E. RESUME
Seorang perempuan, 63 tahun, masuk rumah sakit dengan keluhan disfagi
yang dialami sejak 4 bulan yang lalu, awalnya pasien merasa tidak enak di
tenggorokan, lama kelamaan pasien disfagi. Setiap pasien makan, 1 jam
kemudian pasien muntah. Odinofagi (-), nyeri ulu hati (-). Riwayat berobat di RS
daerah Papua dan dirawat selama 2 bulan namun tidak ada perubahan. Pasien
kemudian dirujuk ke RSU kota Papua dan dirawat selama 1,5 bulan namun tidak
ada perubahan. Pasien kemudian dirujuk ke RSWS. Riwayat batuk disangkal,
riwayat muntah darah disangkal, riwayat BAB dan BAK normal, riwayat
penurunan BB dalam 4 bulan terakhir ada, 30 kg, riwayat merokok (+), minum
alkohol (+) selama > 5 tahun.
F. DIAGNOSIS KERJA
Tumor Esofagus Distal
G. PENATALAKSANAAN
-

IVFD RL 16tpm

Ranitidin 1 amp/8jam/iv

Clinimix drips/24 jam

Rencana Operasi Gastrostomi Feeding

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

PENDAHULUAN
Tumor esofagus merupakan jenis tumor yang paling sering terjadi di
dalam sel yang melewati dinding kerongkongan. Tumor esofagus ada yang
bersifat jinak dan ada yang bersifat ganas. Tumor jinak yang paling sering
terdapat pada esofagus adalah tumor yang berasal dari lapisan otot, yang
disebut dengan leiomioma. Sedangkan tumor yang bersifat ganas sering
dikenal dengan kanker esofagus. Jenis yang paling sering terjadi pada kanker
kerongkongan adalah squamous sel carcinoma dan adenokarsinoma, Dari
kedua tumor tersebut sekitar 95% tumor yang ada di esofagus adalah tumor
yang bersifat ganas.1
Kanker esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di
daerah yang dikenal dengan julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang
terbentang dari tepi selatan laut Kaspia di sebelah barat sampai ke utara Cina
meliputi Iran, Asia Tengah, Afganistan, Siberia, dan Mongolia.1,2
Kanker esofagus merupakan peringkat ke enam penyebab kematian
yang disebabkan oleh kanker. Sekitar 80 persen kematian terjadi di negara
berkembang seperti Afrika Selatan dan Cina. Insidens karsinoma esofagus
sangat bervariasi diberbagai negara, banyak ditemukan di China, Jepang,
Rusia, Hongkong, Skandinavia, dan Iran. Di negara-negara barat seperti
Amerika dan Inggris jarang ditemukan karsinoma esofagus. Dilaporkan di
China insiden karsinoma esofagus 19,6/100.000 pada laki-laki dan
9,8/100.000 pada wanita, bahkan pada propinsi Hunan, Shanxi dan Hebey
insiden mencapai 100/100.000 penduduk. Sedang Di Amerika dilaporkan
insiden 6/100.000 pada laki-laki dan 1.6/100.000 pada wanita.1,3

II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI ESOFAGUS


A. ANATOMI
Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang
menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke
lambung. Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui
tiga kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu

leher (pars servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan


kolumna vertebralis. Dada (pars thorakalis), setinggi manubrium sterni
berada di mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan
bronkus cabang utama kiri, lalu membelok ke kanan bawah di samping
kanan depan aorta thorakalis bawah. Abdomen (pars abdominalis), masuk
ke rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di
kardia lambung, panjang berkisar 2-4 cm.4
1. Cervikal, dimulai dari bagian bawah kartilago cricoid (settinggi
C6) sampai suprasternal notch
2. Upper Thoracis, dari suprasternal notch sampai carina (setinggi
T4-T5)
3. Mid Thoracis, dari bifurcatio trakea sampai esofagus punction
4. Lower Thoracis, 8 cm panjangnya, meliputi abdominal esophagus
Otot esofagus 1/3 atas adalah otot serat lintang yang berhubungan erat
dengan otot-otot faring, sedangkan 2/3 bawah adalah otot polos (otot
sirkular dan otot longitudinal). Esofagus menyempit pada tiga tempat :
1. Bersifat sfingter (sfingter faringoesofageal), setinggi tulang rawan
krikoid pada batas antara faring dan esofagus (peralihan otot serat
lintang -otot polos)
2. Di rongga dada bagian tengah akibat tertekan langsung aort,a dan
bronkus utama kiri, tidak bersifat sfingter
3. Di hiatus esofagus diafragma yaitu tempat hiatus esofagus
berakhir di kardia lambung, murni bersifat sfingter (sfingter
gastroesofageal)
Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus
superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm,
ke v. pulmonalis inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang
lebih 40-45 cm. Bagian atas esofagus yang berada di leher dan rongga
dada mendapat darah dari a. thiroidea inferior beberapa cabang dari arteri
bronkialis dan beberapa arteri kecil dari aorta. Esofagus di hiatus esofagus
dan rongga perut mendapat darah dari a. phrenica inferior sinistra dan
cabang a. gastrika sinistra.3,4
Pembuluh vena dimulai sebagai pleksus di submukosal esofagus. Di
esofagus bagian atas dan tengah, aliran vena dari plexus esofagus berjalan
melalui vena esofagus ke v. azigos dan v. hemiazigos untuk kemudian

masuk ke vena kava superior. Di esofagus bagian bawah, semua


pembuluh vena masuk ke dalam vena koronaria, yaitu cabang vena porta
sehingga terjadi hubungan langsung antara sirkulasi vena porta dan
sirkulasi vena esofagus bagian bawah melalui vena lambung tersebut.

Gambar 1. Pembuluh Vena dan Arteri Esofagus


Pembuluh limfe esofagus membentuk pleksus di dalam mukosa,
submukosa, lapisan otot dan tunika adventitia. Di bagian sepertiga
kranial, pembuluh ini berjalan seara longitudinal bersama dengan
pembuluh limfe dari faring ke kelenjar di leher sedangkan dari bagian dua
per tiga kaudal dialirkan ke kelenjar seliakus, seperti pembuluh limfe dari
lambung. Duktus thorakikus berjalan di depan tulang belakang.
Esofagus dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. N. vagus
bersifat saraf parasimpatis bagi esofagus, meskipun di bawah leher n.
vagus membawa gabungan saraf simpatis dan parasimpatis. Esofagus pars
servikalis dipersarafi oleh n. laringeus rekuren yang berasal dari n. vagus.
Cabang n.vagus dan n. laringeus rekurens kiri mempersarafi esofagus
thorakalis atas. N. vagus kiri dan kanan berjalinan dengan serabut
simpatis membentuk pleksus esofagus. Persarafan simpatis berasal dari
ganglion servikal superior rantai simpatis, n. splanikus mayor, pleksus
aortik thorasikus dan ganglion seliakus.3,4

10

Gambar 2. Segmen Esofagus


Secara histologis dinding esofagus terdiri atas 4 lapis, yaitu:
1. Mukosa
Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut
ke faring bagian atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak
tahan terhadap isi lambung yang sangat asam.
2. Sub Mukosa
Mengandung sel-sel sekretoris yang menghasilkan mukus
yang dapat mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan
melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia.

3. Muskularis
Otot bagian esofagus, merupakan otot rangka. Sedangkan otot
pada separuh bagian bawah merupakan otot polos, bagian yang
diantaranya terdiri dari campuran antara otot rangka dan otot polos.
4. Lapisan bagian luar (Serosa)
Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan
esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan, tidak adanya

11

serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel tumor lebih cepat (bila ada


kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah operasi lebih besar.

Gambar 3. Lapisan Dinding Esofagus


B. FISIOLOGI
Fungsi dasar esofagus adalah membawa material yang ditelan dari
faring ke lambung. Refluks gastrik ke esofagus dicegah oleh sfingter
bawah esofagus dan masuknya udara ke esofagus pada saat inspirasi
dicegah oleh sfingter atas esofagus, sfingter atas normalnya selalu
tertutup akibat kontraksi tonik otot krikofaringeus.
Ketika makanan mencapai esofagus, makanan akan didorong ke
lambung oleh gerakan peristaltik. Kekuatan kontraksi peristaltik
tergantung kepada besarnya bolus makanan yang masuk ke esofagus.
Gerakan peristaltik esofagus terdiri dari gerakan peristaltik primer dan
gerakan peristaltik sekunder. Gerak peristaltik primer adalah gerak
peristaltik yang merupakan lanjutan dari gerakan peristaltik pada faring
yang menyebar ke esofagus. Gerakan ini berlangsung dengan kecepatan
3-4 cm/ detik, dan membutuhkan waktu 8-9 detik untuk mendorong
makanan ke lambung. Gerakan peristaltik sekunder terjadi oleh adanya
makanan dalam esofagus. Sesudah gerakan peristaltik primer dan masih
ada makanan pada esofagus yang merangsang reseptor regang pada
esofagus, maka akan terjadi gelombang peristaltik sekunder. Gelombang
peristaltik sekunder berakhir setelah semua makanan meninggalkan
esofagus. Esofagus dipisahkan dari rongga mulut oleh sfingter esofagus

12

proksimal atau sfingter atas esofagus (upper esopaheal spinchter/ UES),


dan dipisahkan dengan lambung oleh sfingter esofagus distal atau
sfingter bawah esofagus (lower esophageal spinchter/ LES). Sfingter
esofagus proksimal terdiri dari otot rangka dan diatur oleh n. vagus.
Tonus dari otot ini dipertahankan oleh impuls yang berasal dari neuron
post ganglion n. vagus yang menghasilkan asetilkolin.3,4
Sfingter esofagus distal yang terletal 2-5 cm di atas hubungan antara
esofagus dan lambung merupakan otot polos. Secara anatomis,
strukturnya tidak berbeda dengan esofagus tetapi secara fisiologis
berbeda oleh karena dalam keadaan normal sfingter selalu konstriksi.
Proses menelan dapat di bagi menjadi 3 tahap yaitu :
1. Faseoral, yang mencetuskan proses menelan
Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan
bercampur dengan liur akan membentuk bolus makananmelalui
dorsum lidah ke orofaring akibat kontraksi otot intrinsik lidah.
Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga pada tekukan
dorsum lidah diperluas, palatum mole dan bagian atas dinding
posterior faring (Passavants ridge) terangkat penutupan nasofaring
akibat

kontraksi

m.

levator

veli

palatine

kontraksi

m.

Palatoglosusismus fausium tertutupkontraksi m. palatofaring,


sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.
2. Fase faringeal, terjadi secara refleks pada akhir fase oral, membantu
jalannya makanan dari faring kedalam esophagus. Faring dan taring
bergerak ke atas oleh kontraksi m.stilofaring, m. salfingofaring,
m.tirohioid dan m. palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglotis,
sedangkan ketiga sfingter laring, yaitu plika ariepiglotika, plika
ventrikularis dan plika vokalis tertutup karena kontraksi m.
ariepiglotika dan m. aritenoid obligespenghentian aliran udara ke
laring karena refleks yang menghambat pernapasan (bolus tidak akan
masuk ke sal.nafasmeluncur ke arah esofagus.
3. Fase esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya
makanan dari esofagus ke lambung. Rangsangan makanan pada akhir
fase faringealrelaksasi m. krikofaring introitus esofagus terbuka dan
bolus makanan masuk kedalam esofagus. sfingter berkontraksi >

13

tonus introitus esofagus saat istirahat,refluks dapat dihindari. Akhir


fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika
dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus
makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka
sfingter ini akan menutup kembali.
III.

DEFINISI
Tumor esofagus terdiri dari tumor yang bersifat jinak dan tumor yang
bersifat ganas (kanker). Berbagai jenis tumor yang bermassa jinak dapat
tumbuh dan berkembang dari lapisan dinding yang berbeda yang ada di
esofagus. Tumor jenis ini biasanya tanpa gejala dan tumbuh secara lambat,
bahkan tumor jinak ini sering tercatat hanya sebagai temuan insidentil selama
radiografi rutin atau endoskopi. Tumor jinak yang paling sering terdapat pada
esofagus adalah tumor yang berasal dari lapisan otot, yang disebut dengan
leiomioma. Karena tumor berasal dari propria muskularis, tumor tersebut
ditutupi oleh submukosa yang utuh dan mukosa, sehingga sulit untuk
dilakukan biopsi secara endoskopi. Sedangkan tumor yang bersifat ganas
sering dikenal dengan kanker esofagus.1,5
Kanker esofagus adalah karsinoma yang berasal dari epitel berlapis
gepeng yg melapisi lumen esofagus. Kanker esofagus dimulai dari lapisan
dalam (mukosa) dan tumbuh hingga ke submukosa dan lapisan otot. Dari
kedua tumor tersebut hampir 95% tumor yang ada di esofagus adalah tumor

IV.

yang bersifat ganas.5


KLASIFIKASI TUMOR
Berdasarkan histopatologinya, kanker esofagus dibagi menjadi 4 jenis,
yaitu,
1. Tumor epitel
Merupakan jenis tumor yang berasal dari lapisan epitel esofagus. Tumor
jenis ini merupakan tumor uang paling sering didapatkan pada esofagus.
Tumor

epitel

dibagi

menjadi

squamous

cell

carcinoma

dan

adenokarsinoma.5
2. Tumor metastase
3. Limfoma
Jenis tumor yang berasal dari sel kekebalan tubuh yang ada di esofagus
4. Sarcoma
Merupakan jenis tumor yang berasal dari dinding muscular esofagus.

14

Berdasarkan jenis sel yang melapisi esofagus, maka kanker esofagus


dibagi menjadi epitel berlapis gepeng (squamous cell carcinoma) dan
adenokarsinoma. Squamous cell carcinoma dapat terjadi disepanjang
esofagus. Jenis kanker ini meliputi 95% kejadian kanker esofagus di Amerika
Serikat. Kanker yang terjadi di sel kelenjar disebut adenokarsinoma. Jenis sel
ini bukanlah sel yang biasanya ada dan menjadi bagian di lapisan dalam
esofagus. Sebelum menjadi adenokarsinoma, sel glandular menggantikan
posisi sel squamous, dan inilah yang sering disebut dengan Barretts
esophagus. Kanker tipe ini sering terjadi di bagian yang lebih bawah dari
esofagus, yang merupakan tempat terbanyak kejadian adenokarsinoma.5
V.

EPIDEMIOLOGI
Kanker esofagus merupakan peringkat ke enam penyebab kematian
karena kanker. Sekitar 80 persen kematian terjadi di negara berkembang
seperti Afrika Selatan dan Cina. Di amerika pada tahun 2000, angka kejadian
kasus baru mencapai angka 12.300 sedangkan angka kematian mencapai
12.100. dalam 25 tahun terakhir ini, terjadi peningkatan kejadian
adenokarsinoma esofagus distal yang cukup signifikan.1,3, 6
Kanker esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di
daerah yang dikenal dengan julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang
terbentang dari tepi selatan laut Kaspia di sebelah barat sampai ke utara Cina
meliputi Iran, Asia Tengah, Afganistan, Siberia, dan Mongolia. Selain itu
kanker esofagus banyak terdapat di Finlandia, Islandia, Afrika Tenggara, dan
Perancis Barat Laut. Di Amerika Utara dan Eropa Barat, Kanker esofagus
lebih sering terjadi pada orang kulit hitam dibandingkan dengan orang kulit
putih. Squamous Cell carcinoma adalah jenis kanker yang sering terjadi pada
orang kulit hitam, sedangkan adenokarsinoma sering terjadi pada orang kulit
putih. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki beresiko terkena kanker esophagus
3 hingga 4 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita. Hal ini terutama
dikaitkan dengan tingginya konsumsi alkohol dan rokok pada pria.
Berdasarkan tingkatan usia, usia lebih dari 65 tahun memiliki resiko paling
tinggi untuk menderita kanker esofagus. Sekitar 15% penderita didiagnosa
menderita kenker esofagus pada usia kurang dari 55 tahun.1,2,5

15

VI.

FAKTOR RESIKO
Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi
para peneliti percaya bahwa beberapa faktor resiko seperti merokok dan
alkohol, dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel
yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi
abnormal. Iritasi yang berlangsung lama pada dinding esofagus, seperti yang
terjadi pada GERD, Barretts esophagus dan akhalasia dapat memicu
terjadinya kanker. Beberapa faktor resiko yang dapat mempertinggi kejadian
kanker esofagus diantaranya adalah :
1. Merokok dan konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol dan merokok berkaitan dengan kejadian kanker
esofagus. Alkohol dan rokok dapat menyebabkan iritasi kronik pada
mukosa esofagus. Orang yang merokok 1 bungkus perhari memiliki
resiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita adenokarsinoma esofagus
dibandingkan dengan yang tidak merokok
2. Obesitas
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki resiko tinggi
untuk menderita adenokarsinoma esofagus. Hal ini berkaitan dengan
peningkatan tekanan intra abdomen dan refluk esofagus.
3. Gastro esophageal reflux disease (GERD)
Orang yang menderita GERD, beresiko 2 hingga 16 kali lebih tinggi
untuk menderita adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan orang
normal. Resiko bergantung pada seberapa panjang refluk dan gejala yang
terjadi. Sekitar 30 % kejadian kanker esofagus dikaitkan dengan kejadian
GERD.
4. Diet
Makan makanan yang banyak mengandung buah-buahan dan sayursayura, berkaitan dengan berkurangnya angka kejadian kanker esofagus.
Buah-buahan dan sayur-sayuran mengandung banyak vitamin dan mineral
yang membantu dalam mencegah terjadinya kanker. Sekitar 15 5 kanker
esofagus dikaitkan dengan rendahnya asupan buah-buahan dan sayuran.
Makan makanan yang sedikit mengandung buah-buahan dan sayursayuran dapat meningkatkan kejadian kanker esofagus.

16

5. Akhalasia
Pada penyakit ini, otot pada bagian bawah esofagus tidak berfungsi
dengan baik. Makanan dan cairan yang yang masu ke dalam lambung
menjadi tertahan dan cenderung berkumpul di esofagus. Akibatnya
esofagus mengkompensasi dengan melakukan dilatasi. Orang dengan
akhalasia memiliki resiko untuk mengalami kanker esofagus 15 kali lebih
besar dibandingkan dengan orang normal. Sekitar 6% (1 dari 20 orang)
dari semua kasus akhalasia berkembang menjadi kanker squamous cell
carcinoma. Pada umumnya, kanker terjadi sekitar 17 tahun setelah pasien
didiagnosa akhalasia.
6. Bakteri lambung
Bakteri lambung, helicobacter pylori dapat menyebabkan masalah
lambung, termasuk ulserasi dan beberapa jenis kanker lambung. Infeksi
karena nakteri ini dapat diobati dengan antibiotic dan tambahan obat yang
mengurangi asam lambung. Orang yang mendapat terapi H.Pylori
beresiko untuk mengalami kanker esofagus dibandingkan dengan orang
yang tidak mendapatkan terapi. Hal ini dikarenakan infeksi H.Pylori,
menyebabkan lambung memproduksi sedikit asam lambung. rendahnya
kadar asam lambung berdampak apad rendahnya refluks ke esofagus. Jadi
infeksi dapat menyebabkan banyak masalah di lambung, tetapi di lain
pihak hal ini infeksi tersebut membantu melindungi esofagus.
7. Berusia 65 tahun atau lebih tua
Usia merupakan faktor risiko utama terhadap angka kejadian kanker
esophagus. Di AS kebanyakan penduduk yang berumur 65 tahun atau
lebih terdiagnosa sebagai kanker esophagus.
8. Laki-laki
Di Amerika Serikat laki-laki tiga kali lebih berisiko terkena kanker
esophagus dibandingkan wanita.
9. Refluks Asam lambung
Refluks asam lambung ke esophagus merupakan keadaan abnormal
yang sering terjadi dengan gejala yang muncul dada terasa panas, tapi
pada beberapa orang mereka tidak mengeluhkan gejala apa-apa, dimana
asam lambung dapat merusak jaringan esophagus, dan kerusakan tersebut
memicu terjadinya adenocarsinoma esophagus pada sebagian orang.
VII.

MANIFESTASI KLINIS

17

Keterlambatan antara awitan gejala-gejala dini serta waktu ketika


pasien mencari bantuan medis seringkali antara 12-18 bulan, biasanya
ditandai dengan lesi ulseratif esofagus tahap lanjut.
1. Disfagia
Gejala utama dari kanker esofagus adalah masalah menelan, sering
dirasakan oleh penderita seperti ada makanan yang tersangkut di
tenggorokan atau dada. Ketika menelan menjadi sulit, maka penderita
biasanya mengganti makanan dan kebiasan makannya secara tidak sadar.
Penderita makan dengann jumlah gigitan yang lebih sedikit dan
mengunyah makanan dengan lebih pelan dan hati-hati. seiring dengan
pertumbuhann kaknker yang semakin besar, penderita mulai makan
makanan yang lebih lembut dengan harapan makanan dapat dengan lebih
mudah masuk melewati esofagus, hingga akhirnya penderita berhenti
mengkonsumsi makanan padat dan mulai mengkonsumsi makanan cair.
Akan tetapi, jika kanker tetap terus tumbuh, bahkan makanan cair pun
tidak bisa melewati esophagus. Untuk membantu makanan melewati
esophagus biasanya tubuh mengkompensasi dengan menghasilkan saliva
luarkan Hal ini juga yang menyebabkan orang yang menderita kanker
esofagus sering mengeluh mengeluh banyak mengeluarkan mukus atau
saliva.1,5,8
2. Merasakan benjolan pada tenggorokan dan rasa nyeri saat menelan.
3. Nyeri pada dada, regurgitasi makanan yang tak tercerna dengan bau nafas
dan akhirnya cegukan.
Nyeri dada sering dideskripsikan dengan perasaan tertekan atau terbahkar
di dada. gejala ini sering sekali diartikan dengan gejala yang berkaitan
dengan organ lain, seperti jantung, sehingga sering kali orang tidak
menyadari kalau gejala tersebut adalah salah satu gejala yang sering
dikeluhkan pada penderita kanker esofagus.
4. Kehilangan berat badan dan kekuatan secara progresif akibat kelaparan
Sekitar sebagian dari pasien yang menderita kanker esofagus mengalami
penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena masalah menelan sehingga
penderita mendapat masukan makanan yang kurang untuk tubuhnya.

18

Penyebab lain dikarenakan berkurangnya nafsu makan dan meningkatnya


proses metabolisme kanker yang diderita oleh pasien.
5. Hemoragi
Pendarahan juga bisa terjadi pada pasien kanker esofagus. Sel tumor
mampu tumbuh keluar aliran darah, menyebabkan terjadinya nekrosis dan
ulserasi pada mukosa dan menghasilkan pendarahan di daerah
gastrontestinal. Jika pendarahan terjadi dalam jumlah yang banyak, maka
feses juga bisa berubah menjadi warna hitam tapi hal ini bukan berarti
tanda bahwa kanker esofagus pasti ada.
6. Pada pemeriksaan fisik tampak pasien menjadi kurus karena gangguan
menelan dan anoreksia Jika telah lanjut, terdapat pembesaran kelenjar
getah bening daerah supraklavikula dan aksila, serta hepatomegali.
VIII.

STAGING KANKER ESOFAGUS


The American Joint Committee on Cancer Staging 1987 membagi
stadium tumor berdasarkan TNM sistem. T adalah tumor primer, N adalah
pembesaran kelenjar limfe regional dan M adalah metastasis jauh. TNM
sistem dapat ditegakkan dari hasil pemeriksaan klinis, esofagoskopi dan CT
scan.9
TUMOR PRIMER (T)
TX
Tumor primer tidak dapat dinilai
T0
Tidak ada bukti ada tumor primer
Tis
Carcinoma in situ
T1
Invasi ke lamina propia atau submukosa
T2
Invasi ke tunika muskularis propia :
T3
Invasi ke tunika adventitia.
T4
Invasi ke struktur sekitar.
REGIONAL LYMPH NODES (N)
NX
Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai
N0
Tidak ada metastasis jauh
N1
Ada metastasis ke KGB regional
METASTASE (M)
MX
Metastasis tak dapat dinilai
M0
Tak ada metastasis jauh
M1
Ada metastasis jauh
KLASIFIKASI METASTASE
Tumor pada bagian bawah esophagus
M1a
Metastasis di limfa nodus celiac

19

M1b
Metastasis jauh lainnya
Tumor pada bagian tengah esophagus
M1a
Not applicable
M1b
Nonregional lymph nodes and/or other distant metastasis
Tumor pada bagian atas esophagus
M1a
Metastase ke nodus servikal
M1b
Metastase ke tempat lain
STAGE GROUPING
Stage 0
Tis
N0
M0
Stage I
T1
N0
M0
Stage IIA
T2
N0
M0
T3
N0
M0
Stage IIB
T1
N1
M0
T2
N1
M0
Stage IIIA
T1
N2
M0
T3
N1
M0
Stage IIIB
T4
Any N
M0
Stage IV
Any T
Any N
M1
Stage IVA
Any T
Any N
M1a
Stage IVB
Any T
Any N
M1b
Keterangan :
T (Tumor): Tis: Karsinoma in situ
T1: Tumor invasi pada lamina propria atau submucosa
T2: Tumor invasi pada muskularis
T3: Tumor invasi pada lapisan adventitia
T4: Tumor invasi pada organ lain
N (Nodul): N0: Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
N1: Ada pembesaran kelenjar limfe regional
M (Metastase): M0: Tidak ada metastase
M1: Ada metastase

IX.

PENEGAKAN DIAGNOSTIK

20

Evaluasi Diagnostik
Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan penunjang termasuk didalamnya imaging studies dan endoskopi.
1. Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan diantaranya LED meningkat,
terdapat gangguan faal hati dan ginjal, dilihat dari nilai SGOT, SGPT,
ureum dan creatinin yang mengalami peningkatan.
2. Imaging studies
a. Barium swallow
Pada uji ini, cairan yang disebut barium di telan. Barium akan
melapisi dinding esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X),
barium akan membentuk esofagus dengan jelas. Tes ini dapat
digunakan untuk melihat apakah ada kelainan pada permukaan
dinding esofagus.
Tes barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat
penyebab disfagia. Bahkan sebagian kecil tumor, dapat terlihat dengan
menggunakan tes ini. Tes barium tidak dapat digunakan untuk
menentukan seberapa jauh kanker telah bermetastase.9,10
b. CT Scan
CT Scan biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker
esofagus, tetapi CT Scan dapat membantu dalam menentukan
penyebaran dari kanker esofagus. CT Scan dapat menunjukkan lokasi
dimana kanker esofagus berada dan dapat membantu dalam
menentukan apakah pembedahan merupakan tatalaksana terbaik untuk
kanker esofagus. Sebelum gambar diambil, pasien diminta untuk
minum cairan kontras, sehingga esofagus dan bagian usus

dapat

terlihat jelas sehingga tidak terjadi pembiasan pada daerah sekitarnya.


3. Endoskopi
a. Upper Endoscopy
Endoskopi merupakan uji diagnostic yang paling utama untuk
mendiagnosis kanker esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter
dapat melihat kanker melalui selang dan melakukan biopsy terhadap
jaringan kanker maupun jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang

21

tampak tidak normal. Contoh jaringan yang telah diambil kemudian


dikirim ke laboratorium, dan dengan bantuan mikroskop dapat
ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan jaringan yang bersifat
ganas (kanker). Jika kanker esophagus menutupi lumen esophagus,
maka lumen tersebut dengan bantuan alat dan endoskopi dapat
dilebarkan sehingga makanan dan cairan dapat melaluinya.9,10
b. Endoscopic ultrasound
Merupakan jenis endoskopi yang menggunakan gelombang suara
untuk melihat gambar bagian dalam tubuh. Endoskopi jenis ini sangat
berguna untuk menentukan ukuran dari kanker esofagus dan seberapa
jauh kanker tersebut telah menyebar ke jaringan lain. Uji ini tidak
memiliki dampak radiasi, sehingga aman untuk digunakan.

Gambar 4. Endoskopi
4. Bronkoskopi dan mediastinokopi
Bronkoskopi biasanya dilakukan, khususnya pada tumor pada
sepertiga tengah dan atas esofagus, untuk menentukan apakah trakea
telah terkena dan untuk membantu dalam menentukan apakah lesi dapat
diangkat. Sedangkan mediastinoskopi digunakan untuk menentukan
apakah kanker telah menyebar ke nodus dan struktur mediastinal lain.
X.

PENATALAKSANAAN
Sebelum merencanakan dan memberikan terapi pada karsinoma
esofagus, perlu dilakukan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan
stadium tumor. Penentuan tingkatan tumor ini dimulai dengan anamnesis dan
pemeriksaan

jasmani

yang

teliti,

dilengkapi

dengan

pemeriksaan

22

laboratorium. Prosedur dilanjutkan dengan esofagografi memakai suspensi


barium, foto dada, CT Scan dada dan abdomen. Pada kasus-kasus tertentu
perlu dilakukan bronkoskopi, mediastinoskopi, atau sidik tulang.11
Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk terapi kanker
esofagus. Pilihannya adalah pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, atau
kombinasi dari ketiga jenis pilihan. Sebagai contoh, terapi radiasi dan
kemoterapi dapat diberikan sebelum atau setelah operasi. Pilihan terapi
bergantung pada beberpa hal, diantaranya :
Lokasi kanker di dalam kerongkongan
Apakah kanker telah menyerang struktur disekitarnya
Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ tubuh
lainnya
gejala dan kondisi kesehatan secara umum
A. Operasi
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker kerongkongan.. jenis
tergantung terutama di mana kanker itu berada. Untuk pembedahan harus
ditentukan apakah dapat dioperasi atau tidak berdasarkan keadaan umum
pasien secara klinis, tidak adanya fiksasi tumor ke jaringan sekitar, atau
tidak

adanya

metastasis

ke

organ

lain.

Pembedahan

dapat

dikombuinasikan dengan terapi lain seperti kemoterapi dan radioterapi.


Pada stadium dini, di mana besar tumor kurang dari 2 cm, dilakukan
pembedahan enbloc esophagectomy. Penderita akan merasakan nyeri pada
masa awal setelah operasi. Namun obat-obatan akan membantu dalam
mengurangi rasa sakit tersebut. Efek samping yang ditimbulkan dari
tindakan pembedahan diantaranya adalah meningkatnya resiko infeksi
termasuk pneumoni, pandarahan setelah pembedahan dan gangguan
pernafasan.1,3,11
Esofagektomi
Merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat semua
bagian dari esofagus, termasuk sebagaian kecil dari lambung. Saat
esofagus diangkat maka limfa nodus yang berada dekat dengan esophagus
juga terangkat. Bagian atas esofagus sering dihubungkan dengan bagian
lambung yang tersisa, bagian lambung tersebut ditarik ke arah dada atau

23

leher menjadi bagian baru dari esofagus.

Banyaknya esofagus yang

diangkat, bergantung pada staging tumor dan lokasi tumor berada. Jika
tumor terletak di bagian distal esofagus, maka bagian esofagus yang
diangkat bisa mencapai 8 hingga 10 cm dari normal esofagus.4,11
Beberapa metode esofagektomi:
McKeowns operation
Pendekatan 3 lapangan operasi, meliputi laparotomi, thorakotomi dan
Insisi servikal, dibuat anastomosis antara lambung keesofagus di
servikal.
Ivor Lewis operation
Pendekatan 2 lapangan operasi, meliputi laparotomi dan thorakotomi,
dilakukan anastomosis antara lambung dengan oesophagus di thoraks.
Laparoscopy-assisted esophagectomy
Hampir sama dengan transhiatal approach tetapi menggunakan
laparoscopic instruments untuk mobilisasi esophagus intra thoracic.
Open esophagectomy
Esophagus dapat diangkat dengan melakukan insisi melalui abdomen
dan torak, yang dikenal dengan nama esofagektomi transtorakal. Jika
insisi dilakukan melalui abdomen dan leher disebut esofagektomi
transhiatal.
Minimally invasive esophagectomy
Esophagus dapat diangkat melalui insisi yang kecil, tindakan ini
disebut

dengan

esofagektomi

invasif

minimal.

Ahli

bedah

menggunakan sejenis teleskop yang tipis melalui insisi. Alat ini akan
mempermudah ahli bedah untuk melihat esofagus selam operasi.
Efek samping tindakan pembedahan
Seperti operasi lainnya, tindakan pembedahan pada esofagus juga
memiliki beberapa resiko. Serangan jantung atau pembentukan bekuan
darah di paru dan di otak dapat terjadi selama proses pembedahan.
Komplikasi paru-paru, seperti pneumoni, kebocoran pada tempat
penyambungan esofagus dan lambung, mual dan muntah, meningkatnya
resiko infeksi, striktur esofagus dapat terjadi sebagai akibat dari tindakan
pembedahan
B. Terapi Radiasi

24

Terapi radiasi (juga disebut radioterapi) menggunakan sinar berenergi


tinggi

untuk

membunuh

sel-sel

kanker.

Sinar

tersebut

hanya

mempengaruhi sel-sel kanker, tidak untuk sel-sel disekitarnya. Terapi


radiasi dapat digunakan sebelum atau setelah operasi. Bahkan dapat
digunakan sebagai terapi tunggal, pengganti operasi. Terapi radiasi
biasanya dikombinasi dengan kemoterapi untuk mengobati kanker
kerongkongan. Ada dua jenis terapi radiasi dalam pengobatan kanker
kerongkongan.1,3,11
Terapi radiasi eksternal: radiasi berasal dari sebuah mesin besar di luar
tubuh. The machine aims radiation at your cancer. Mesin ini bertujuan
radiasi pada kanker Anda. Perawatan biasanya 5 hari seminggu selama
beberapa minggu.
Terapi radiasi internal (brachytherapy): radiasi jenis ini menggunakan
semprotan anestesi untuk daerah kerongkongan sehingga pasien
merasa lebih nyaman sepanjang terapi. Sebuah tabung/selang
ditempatkan ke dalam kerongkongan. Zat radiasi akan keluar melalui
tabung tersebut. ketika tabung diangkat, zat radioaktif juga akan
hilang

bersamaan

dengan

keluarnya

tabung,

sehingga

tidak

meninggalkan sisa di dalam tubuh. Untuk jenis terapi radiasi ini,


biasanya pengobatan tidak dilakukan secara kombinasi dengan terapi
lainnya.
Efek samping dari terapi radiasi bergantung pada dosis dan tipe
radiasi. Terapi radiasi eksternal yang dilakukan pada daerah dada dan
abdomen dapat menyebabkan radang tenggorokan, atau nyeri pada perut
dan usus. Efek samping lainnya yaitu mual dan muntah. Selain itu, kulit
di daerah yang mendapat terapi dapat menjadi merah, kering, dan nyeri.
Terapi radiasi dapat menyebabkan masalah dalam proses menelan.
Misalnya, kadang-kadang terapi radiasi dapat melukai esofagus dan
menyebabkan kesulitan dalam menelan. Atau, radiasi juga dapat
menyebabkan esofagus menjadi sempit. Oleh karena itu, Sebelum terapi
biasanya sebuah tabung plastik dimasukkan ke dalam esofagus untuk
menjaga agar esofagus tetap terbuka.
C. Kemoterapi

25

Kebanyakan orang dengan kanker kerongkongan mendapatkan


kemoterapi. Kemoterapi menggunakan obat untuk menghancurkan sel-sel
kanker. Obat-obat untuk kanker kerongkongan biasanya diberikan melalui
pembuluh darah (intravena). Kemoterapi biasanya diberikan dalam
beberapa siklus. Setiap siklus memiliki masa perawatan diikuti oleh masa
istirahat.11
Regimen yang sering digunakan untuk kemoterapi adalah

5-Fluorouracil
5-Fluorouracil + Cisplatin
ECF (Epirubicin + Cisplatin + 5-Fluorouracil)
IFL (Irinotecan + 5-Fluorouracil + Leucovorin)
TIC (Paclitaxel + Ifosphamide + Carboplatin)
Efek samping tergantung terutama pada obat yang diberikan dan

berapa banyak dosis yang digunakan. Kemoterapi dapat membunuh sel


kanker dengan cepat, akan tetapi obat tersebut juga dapat membahayakan
sel-sel normal yang ada di dalam tubuh yang membelah dengan cepat
seperti :

Sel darah: saat kemoterapi menurunkan kadar sel darah yang sehat,
maka seseorang dapat lebih mudah untuk mendapatkan infeksi, mudah
memar atau berdarah, dan merasa sangat lemah dan lelah.

Sel-sel pada akar rambut: Kemoterapi dapat menyebabkan rambut


rontok.

Sel yang melapisi saluran pencernaan:

Kemoterapi dapat

menyebabkan kurang nafsu makan , mual dan muntah, diare, atau


mulut dan bibir luka.
Efek samping lainnya yaitu ruam pada kulit, nyeri pada sendi, rasa
baal atau mati rasa pada tangan dan kaki, gangguan pendengaran dan
pembengkakan kaki.
D. Terapi paliatif
Pada stadium lanjut dilakukan tindakan paliatif agar pasien dapat
menikmati makanan peroral
Dilatasi mekanik

26

Dilatasi mekaniuk digunakan ketika tindakan pembedahan dan


radioterapi bersifat kontraindikasi. Teknik dilatasi ini menggunkan
balon dilatators yang dimasukkan ke esofagus dengan bantuan
endoskopi. Karena resiko perforasi esofagus cukup tinggi pada
tindakan ini, maka dilatasi mekanik harus dilakukan secara perlahan
dan hati-hati.1,11
Terapi Yag Laser
Terapi ini cukup efektif untuk mengobati obstruksi yang disebabkan
oleh tumor esofagus. Massa tumor dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser sehingga lumen bebas dari massa.
XI.

PROGNOSIS
Jika terdiagnosis secara dini, secara keseluruhan tumor esofagus
memiliki prognosis yang baik. Sebanyak 70% penderita mengalami metastase
pada kelenjar limfa nodus. Jika tidak ada keterlibatan limfa nodus, maka 50
% pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun. Jika sudah terjadi metastase,
maka hanya 1 dari 8 penderita yang mampu bertahan hingga 5 tahun.1,5,9

27