Anda di halaman 1dari 76

Kata Pengantar

Puji syukur yang saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa karena berkat rahmat-Nyalah buku ini dapat saya
selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam buku ilmiah ini dibahas mengenai makar
Buku
ini
saya
buat
untuk
menyelesaikan
tugas
Kewarganegaraan.
Buku
ini
juga
bertujuan
untuk
memperdalam pemahaman mengenai definisi makar, jenis
jenis makar, dan hukuman bagi pelaku makar baik dalam
perspektif umum (negara) maupun perspektif agama
(Islam). Disamping itu, buku ini disusun agar dapat
membantu mahasiswa nantinya untuk menambah referensi
mengenai makar atau pemberontakan.
Akhirnya, sesuai dengan kata pepatah tiada gading yang
tak retak, demikian pula adanya dengan buku ini yang
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya
mengharapkan saran,dan kritik, khususnya dari Dosen
pembimbing, teman teman mahasiswa dan para pembaca
buku ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.
Demikian buku ini, semoga bermanfaat bagi kita semua,
khususnya bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan.
TERIMA KASIH
Makassar,

07 Oktober

2014

PENYUSUN

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
1
DAFTAR ISI
2
PENDAHULUAN
3
MAKAR DALAM PERSPEKTIF UMUM
5
Pengertian Makar
5
Kriteria Makar
6
Bentuk Bentuk Kejahatan terhadap Kedudukan
Negara .. 7
Pasal Pasal yang Mengatur tentang Kejahatan Makar
. 29
MAKAR DALAM PERSPEKTIF ISLAM
48
Pengertian
48
Makar dalam Hadist
51
Dasar Hukum
53
Unsur Jarimah Bughat
54
Hukum Jarimah Bughat
61
Uqubah Jarimah Bughat
62
KASUS MAKAR DI INDONESIA
66
Gerakan Aceh Merdeka
66
Pemberontakan Andi Azis
72
Gerakan Papua Merdeka
76
G30S/PKI
KESIMPULAN
80
DAFTAR PUSTAKA
82
BIOGRAFI PENULIS
84

Pendahuluan
Negara adalah suatu organisasi yang besar,
mempunyai tugas untuk pelaksanaan usaha
pencapaian tujuan secara nasional dalam rangka
mempertahankan dan meningkatkan kelestarian
kehidupan bangsa dan negara. Menjaga dan
memelihara eksistensi negara agar tetap bertahan
hidup (survive), bukanlah suatu hal yang mudah.
Negara senantiasa diperhadapkan dengan berbagai
ancaman yang membahayakan eksistensinya, baik
yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya
sendiri. Salah satu bentuk ancaman yang
membahayakan negara ini adalah kejahatan/tindak
pidana makar.
Dalam hukum pidana di Indonesia
sering kita
jumpai mengenai tindakan yang melanggar aturan
di antaranya ialah dapat di kenakannya pidana
dalam delik tersebut, satu tindakan yang sangat kita
pahami masalah pemberontakan yang di lakukan
oleh warga negara terhadap kedaulatan bangsa dan
negara baik yang di lakukan oleh perseorangan atau
individualisme maupun dilakukan secara kolektif
atau berkelompok, sering juga kita kenal dengan
istilah MAKAR, makar ialah suatu pemberontakan
terhadap keutuhan bangsa dengan cara yang di
lakukan oleh individu maupun kolektiv dengan
berbagai alas an, di antaranya ketidak puasan
pemberontak kepada system atau kebijakan yang
dikemukakan kepala negara atau presiden maupun
dari pihak parlemen
Pemberontak itu biasanya mengatas namakan
dirinya adalah suatu bentuk pembaharuan system
yang menggantikan sistem atau kebijakan lama

yang dianggapnya tidak relevan untuk diteruskan


lagi sebagai landasan utama yang ada diantara
landasan
lain
yang
menyokong
akan
keberlangsungan sistem kenegaraan.

MAKAR DALAM PERSPEKTIF UMUM


1. Pengertian Makar
Makar berasal dari kata aanslag (belanda) yang
berarti serangan atau aanval yang berarti suatu
penyerangan dengan maksud tidak baik (Misdadige
Aanranding).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus
Hukum Andi Hamzah, makar yaitu: Akal busuk; tipu
muslihat; Perbuatan atau usaha dengan maksud
hendak menyerang (membunuh) orang. Perbuatan
atau usaha menjatuhkan pemerintah yang sah.
Makar dalam KUHP adalah tindakan melakukan
penyerangan dengan maksud hendak membunuh,
merampas kemerdekaan dan menjadikan tidak
cakap memerintah atas diri presiden atau wakil
presiden, diancam dengan hukuman mati, atau
penjara seumur hidup, atau pula penjara sementara
selama-lamanya dua puluh tahun. Pada penjelasan
pasal 87 KUHP, yang berbunyi Penyerangan
(makar) akan suatu perbuatan berwujud kalau
sudah nyata maksud si-pembuat dengan adanya
permulaan melakukan perbuatan itu menurut
maksud pasal 53.
Serangan itu biasanya dilakukan dengan perbuatan
kekerasan. Perbuatan persiapan saja belum dapat
dihukum, supaya dapat dihukum, tindakan itu harus
sudah mulai dengan tindakan pelaksanaan. Untuk
makar (penyerangan) ini tidak diperlukan unsur
perencanaan terlebih dahulu, cukup apabila unsur
sengaja telah ada.
Makar secara umum dipahami sebagai perbuatan
jahat atau persekongkolan jahat yang dilakukan
secara sembunyi-sembunyi atau rahasia (al-sa`yu fi

al-fasad khufyah) untuk membahayakan atau


mencelakakan orang lain.
Dari beberapa sumber diatas dapat dikatakan
bahwa perbuatan makar yaitu perbuatan jahat atau
persengkokolan jahat dengan maksud hendak
membunuh, perlawanan terhadap presiden dan
wakil presiden, menjatuhkan pemerintah yang sah
dengan maksud menyerang atau menjatuhkan dan
melakukan perlawanan serta membuat barisan
baru.

2. Kriteria Kejahatan Makar


Dalam pelaksanaan perbuatan makar dapat
dikriteriakan dalam 3 kriteria :
a. Obyektif : yang telah dilakukan terdakwa benarbenar mendekatkan pada kondisi yang potensial
mewujudkan delik.
b. Subyektif : yang telah dilakukan terdakwa harus
benar-benar dapat dinilai bahwa tidak lagi ada
keraguan niat untuk mewujudkan delik yang
diniatinya.
c. Perbuatan terdakwa harus dikategorikan sebagai
perbuatan melawan hukum.

3. Bentuk Bentuk Kejahatan


Kedudukan Negara
I.Kejahatan Terhadap Keamanan Negara

terhadap

Title I buku II KUHP yang berjudul demikian


memuat tindak-tindak pidana yang bersifat
menggangu kedudukan Negara. Tindak pidana
yang bersifat mengganggu kedudukan Negara
yang berada di tengah-tengah masyarakat

internasional adalah sifat penghianatan (vetraad),


hal ini merupakan nada bersama dari tindak
pidana, terdapat dua macam penghianatan yaitu:
a. Penghianatan intern (hoogverraad) yang
ditujukan
untuk
mengubah
struktur
kenegaraan atau struktur pemerintahan yang
ada, termasuk juga tindak pidana terhadap
kepala Negara, jadi mengenai keamanan
intern dari Negara.
b. Penghianatan ekstern (Landverraadd) yang
ditujukan untuk membahayakan keamanan
Negara terhadap serangan dari luar negeri,
jadi mengenai keamanan ekstra dari negara,
misalnya
hal
memberikan
pertolongan
kepada negara asing yang bermusuhan
dengan Negara kita.
Yang termasuk dalam pembahasan title I ini
adalah sebagai berikut:
1. Makar terhadap kepala negara
Kata makar (AANSLAG) berarti serangan, tetapi
selanjutnya ada penafsiran khusus termuat
dalam 87 KUHP yang mengatakan bahwa
makar untuk suatu perbuatan sudah ada
apabila kehendak sipelaku sudah tampak
berupa permulaan pelaksanaan (BEGIN VAN
UITVOERING) dalam arti yang dimaksudkan
dalam pasal 53 KUHP. Pasal 53 ini mengenai
percobaan melakukan kejahatan yang dapat
dihukum (STRAFBARE POGING) dan membatasi
penindakan pidana dalam suatu perbuatan
pelaksanaan
(UITVOERINGSHANDELING)
sehingga tidak dapat dihukum suatu perbuatan
yang baru merupakan perbuatan persiapan

(VOORBEREIBING-SHANDELING). Terdapat tiga


macam tindak pidana:
Ke-1 : makar yang dilakukan dengan tujuan
(OOGMERK) untuk membunuh kepala Negara;
Ke-2 : makar yang dilakukan dengan tujuan
untuk
menghilangkan
kemerdekaan
kepala Negara;
Ke-3 : makar yang dilakukan dengan tujuan
untuk menjadikan kepala Negara tidak
dapat menjalankan pemerintahan.
2. Makar untuk memasukan Indonesia di
bawah kekuasaan asing
Pasal 106 mengancam dengan hukuman
maksimum
20
tahun
penjara
dengan
kemungkinan
hukuman
mati
menurut
penetapan presiden no.5 tahun 1959, makar
yang
dilakukan
dengan
tujuan
untuk
menaklukan wilayah Negara seluruhnya atau
sebagian dibawah penguasa asing atau dengan
tujuan untuk memisahkan bagian dari wilayah
Negara.
Selanjutnya terdapat 2 macam tindak pidana,
yaitu:
Ke-1 : berusaha menyebabkan seluruh wilayah
Indonesia atau sebagian menjadi tanah
jajahan atau suatu satelit Negara lain;
Ke-2: berusaha menyebabkan bagian dari
wilayah
Indonesia
menjadi
Negara
merdeka dan
berdaulat, terlepas dari
pemerintah Indonesia.
3. Makar untuk menggulingkan pemerintah
Tindak pidana ini oleh pasal 107 dirumuskan
sebagai: makar dilakukan dengan tujuan untuk

menggulingkan pemerintah (OMWENTELING),


dan diam-diam dengan hukuman penjara
selama-lamanya 15 tahun, sedangkan menurut
ayat 2 bagi pemimpin dan pengatur dari tindak
pidana ini hukumannya ditinggikan menjadi
maksimum penjara seumur hidup atau selama
20 tahun, dengan kemungkinan hukuman mwti
menurut penetapan presiden no.5 tahun 1959.
Istilah menggulingkan pemerintah ini oleh
pasal
88bis
ditafsirkan
sebagai:
menghancurkan atau mengubah secara tidak
sah bentuk pemerintahan menurut undangundang dasar. Terdapat 2 macam tindak pidana
menggulingkan pemerintahan, yaitu:
Ke-1: menghancurkan bentuk pemerintahan
menurut undang-undang dasar;
Ke-2: mengubah secara tidak sah bentuk
pemerintahan menurut undang-undang dasar.
4. Pemberontakan (OPSTAND)
Ini adalah nama atau kualifikasi yang oleh
pasal 108 diberikan kepada:
a. Melawan kekuasaan yang telah berdiri di
Indonesia dengan senjata,
b. Dengan maksud melawan kekuasaan yang
berdiri di Indonesia, maju dengan pasukan
atau masuk pasukan yang melawan pasukan
itu dengan senjata.
Hukumanya adalah maksimum 15 tahun
penjara. Hukuman itu dinaikkan sampai
hukuman penjara seumur hidup atau selama
20 tahun kalau mengenai pemimpin atau
pengatur
pemberontakkan
ini
dengan
kemungkinan
hukuman
mati
menurut
ketetapan presiden no. 5 tahun 1959.

5. Permufakatan (SAMENSPANNING)
Pasal 110 ayat 1 KUHP memuat suatu
pengertian permufakatan untuk melakukan
kejahatan tertentu, yaitu yang termuat dalam
pasal-pasal 104, 106, 107, dan 108 yang sudah
dibahasa diatas. Permufakatan ini dihukum
sama dengan kejahatannya sendiri. Pasal 88
memberikan penafsiran tertentu dari kata
permufakatan ini, yaitu permufakatan ada
apabila dua orang atau lebih bersama-sama
menyetujui untuk melakukan suatu kejahatan.
6. Penyertaan
Istimewa
(BIJZONDERE
DEELNEMING)
Disamping permufakatan ini, ayat 2 pasal 110
menyebutkan 5 macam peraturan yang
merupakan penyertaan istimewa pada tindaktindak pidana dari pasal-pasal 104, 106, 107,
dan 108, yaitu juga dihukum dengan hukuman
yang sama barang siapa dengan maksud untuk
mempersiapkan atau memudahkan salah satu
dari kejahatan-kejahatan tersebut:
Ke-1 : mencoba membujuk orang lain supaya
ia melakukan, menyuruh melakukan, atau
turut melakukan kejahatan itu, atau
supaya
ia
membantu
melakukan
kejahatan itu, atau supaya ia memboeri
kesempatan, alat-alat, atau keteranganketerangan untuk melakukan kejahatan
itu;
Ke-2: mencoba member ia sendiri atau orang
lain
kesempatan,
alat-alat,
atau
keterangan-keterangan untuk melakukan
kejahatan itu;

Ke-3: menyimpan untuk tersedia barangbarang yang ia ketahui ditujukan untuk


melakukan kejahatan itu, barang-barang
tersebut menurut ayat 3 dapat dirampas;
Ke-4: menyiapkan atau memegang rencanarencana untuk melakukan kejahatankejahatan itu, rencana-rencana tersebut
ditujukan untuk diberitahukan kepada
orang lain;
Ke-5: mencoba mencegah, menghalangi, atau
menggagalkan
suatu
daya
upaya
pemerintah
untuk
mencegah
atau
menumpas
pelaksanaan
kehendak
melakukan kejahatan itu.
7. Mengadakan Hubungan Dengan Negara
Asing Yang Mungkin Akan Bermusuhan
Dengan Negara Indonesia
Dengan pasal 111, KUHP mulai menjurus
kepada
usaha
untuk
menyelamatkan
keamanan ekstern dari Negara, juga dapat
dikatakan
mulai
menjurus
kearah
memberantas mata-mata yang bekerja untuk
kepentingan Negara asing dengan merugikan
kepentingan Negara kita. Tindak pidana dari
pasal 111 berupa: mengadakan hubungan
dengan Negara asing dengan niat:
a. Akan membujuk agar Negara asing itu
melakukan permusuhan akan berperang
dengan Negara kita; atau
b. Akan memperkuat kenhendak Negara asing
untuk berbuat demikian, atau
c. Akan menyanggupkan bantuan dalam hal ini
kepada Negara asing itu, atau

d. Akan
memberi
bantuan
dalam
hal
mempersiapkan hal-hal tersebut diatas.
Mengadakan hubungan dengan Negara asing
biasanya berarti: mengadakan perundingan
yang didalamnya, baik dari pihak pelaku
maupun dari pihak Negara asing, ada usulusuk tertentu.
8. Mengadakan Hubungan Dengan Negara
Asing Dengan Tujuan Agar Negara Asing
Membantu
Suatu
Penggulingan
Pemerintah Di Indonesia
Tindak pidana ini termuat dalam pasal 111bis
yang menyebutkan 3 macam tindak pidana:
Ke-1: mengadakan hubungan dengan orang
atau badan diluar Indonesia dengan maksud:
a. Membujuknya
supaya
memberi
bantuan
untuk
menyiapkan,
memudahkan,
atau
mengadakan
penggulingan pemerintah, atau
b. Menguatkan kehendak orang atau
badan demikian itu, atau
c. Memberi
atau
sanggup
memberi
bantuan dalam hal itu, atau
d. Mempersiapkan,
memudahkan,
mengadakan
penggulingan
pemerintah;
Ke-2: memasukkan kedalam wilayah Indonesia
suatu barang yang dapat dipergunakan
untuk
membri
bantuan
kebendaan
(STOFFELIJKESTEUN)
dalam
mempersiapkan,
memudahkan,
atau
mengadakan penggulingan pemerintah,
jiak ia tahu atau ada alasan kuat untuk

mengira, bahwa barang itu diperuntukkan


demikian;
Ke-3: menyimpan atau menjadikan pokok
perjanjian suatu barang, seperti tersebut
ke-2, dengan mengtahui atau ada alasan
kuat untuk mengira seperti diatas, dan
lagi, bahwa barang itu atau barang yang
digantikan barang itu dimasukkan di
Indonesia dengan tujuan tersebut atau
diperuntukkan demikian oleh atau untuk
seorang atau badan yang bertempat
diluar Negara Indonesia.
Tindak pidana ini diancam dengan hukuman
maksimum 6 tahun penjara dan dengan
dimungkinkan barang-barang tersebut ke-2
dan ke-3 tadi dapat dirampas.
9. Menyiarkan surat-surat rahasia
Pasal 112 mengenai surat-surat rahasia pada
umumnya; pasal 113 mengenai surat-surat
rahasia khusus, antara lain tentang pertahanan
Negara yang disiarkan dengan sengaja; pasal
114 mengenai surat-surat rahasia dari pasal
113 yang disiarkan dengan culpa; pasal 115
mengenai orang yang mengetahui isi suratsurat rahasia yang ia sebenarnya tidak boleh
tahu dan kemudian ia memberitahukannya
pada orang lain, sedangkan pasal 116
mengenai permufakatan dari 2 orang atau
lebih untuk melakukan kejahatan-kejahatan
tersebut.
Hukuman-hukumannya agak ringan, yaitu 7
tahun, 4 tahun, dan 1 tahun penjara bahkan

dimungkinkan
adanya
denda.
Hukumanhukuman ini pada tahun 1940 oleh penguasa
militer belanda dinaikkan, tetapi menurut
undang-undang no.1 tahun 1946 segala
peraturan dari penguasa militer belanda
dianggap tidak berlaku. Akan tetapi, dengan
adannya penetapan presiden no.5 tahun 1959,
ada
kemungkinan
hukuman
mati
atau
hukuman seumur hidup atau selama 20 tahun
apabila kejahatan-kejahatan itu menghalanghalangi
terlaksananya
suatu
program
pemerintah.
10.
Kejahatan
mengenai
bangunanbangunan
pertahanan
Negara
(VERDEDIGINGSWERKEN)
Kejahatan-kejahatan ini dalam 4 pasal, yaitu :
Pasal 117 : melarang mendekati bangunan
pertahanan Negara sampai kurang
dari 500 meter, memasuki suatu
bangunan dari angkatan darat atau
angkatan laut atau kapal perang
dengan jalan yang tidak biasa, dan
memegang gambar foto atau gambar
lukisan
dari
suatu
bangunan
pertahanan Negara, atau berada di
tempat-tempat itu dengan memegang
alat-alat foto.
Pasal 118 : melarang membuat pengukuran
atau gambar dari suatu bangunan
yang ada kepentingan militer.
Pasal 119 : melarang memberikan tempat
penghunian kepada orang lain yang
bermaksud mengetahui surat-surat
rahasia termaksud dalam pasal 113,

atau menyembunyikan suatu barang


yang ia ketahui dapat dipergunakan
untuk menjalankan maksudnya.
Pasal 120 : apabila kejahatan-kejahatn dari
pasal-pasal 113, 115, 117, 118, dan
119 dilakukan dengan perbuatan
menipu,
seperti
memberdayakan,
menyamarkan diri, memakai nama
atau
kedudukan
palsu,
dan
sebagainya, maka hukuman-hukuman
kedua pasal tersebut maksimum
berlipat dua. Hukuamn-hukuman ini
pun ringan yaitu 6 bulan penjara atau
denda Rp. 300,- (pasal 117), 2 tahun
penjara atau denda Rp. 600,- (pasal
118), dan 1 tahun penjara (pasal 119).
Hukuman-hukuman ini pada tahun
1940 oleh penguasa militer belanda
dinaikkan, tetapi menurut undangundang no.1 tahun 1946 segala
peraturan dari penguasa militer
belanda dianggap tidak berlaku. Akan
tetapi, dengan adannya penetapan
presiden no.5 tahun 1959, ada
kemungkinan hukuman mati atau
hukuman seumur hidup atau selama
20 tahun apabila kejahatan-kejahatan
itu menghalang-halangi terlaksananya
suatu program pemerintah.
11. Merugikan negara dalam perundingan
diplomatik
Tindak pidana ini termuat dalam pasal 121
yang menentukan: barang siapa yang dalam

perundingan dengan suatu Negara asing, yang


diperintahkan
oleh
pemerintah,
dengan
sengaja merugikan Negara, dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun.
Ini
merupakan
suatu
pengkhianatan
diplomatik.
12.
Kejahatan yang biasanya dilakukan
oleh mata-mata musuh (SPIONASE)
Kejahatan-kejahatan ini termuat dalam pasalpasal 122, 123, 124, dan 125.
Pasal 122 mengenai dua macam tindak
pidana dengan hukuman maksimum 7 tahun
penjara:
Ke-1 : dengan sengaja memperbuat sesuatu
yang dapat menjerumuskan Negara
kedalam suatu peperangan;
Ke-2 : pada waktu Negara sedang berperang
dengan Negara lain, dengan sengaja
melanggar peraturan dari pemerintah
untuk mengamankan Negara.
Pasal 123 mengenai seorang warga Negara
Indonesia yang secara sukarela masuk dinas
tentara suatu Negara yang sedang atau akan
berperang dengan Negara kita diancam
dengan hukuman 15 tahun penjara.
Pasal 124 ayat 1 mengenai seseorang yang
dalam masa perang sengaja memberikan
bantuan
kepada
Negara
musuh
atau
merugikan Negara kita terhadap Negara
musuh. Hukumanya maksimum 15 tahun
penjara, menurut ayat 2 dinaikan menjadi
hukuman seumur hidup atau selama 20 tahun
apabila si pelaku:

Ke-1 : memberi kepada musuh peta, gambar,


rencana, dan sebagainya dari bangunan
militer, atau keterangan gerak tentara
kita;
Ke-2 : bekerja sebagai mata-mata dari musuh
atau menerima dirumah atau meniling
seseorang mata-mata dari musuh.
Menurut ayat 3 hukumannya dinaikan lagi
menjadi hukuman mati, apabila si pelaku:
Ke-1 :
menghianatkan
kepada
musuh,
menyerahkan kepada kekuasaa musuh,
membinasakan,
merusakan
atau
menjadikan tidak dapat dipakai suatu
tempat penjagaan yang diperkuat atau
diduduki, atau gudang atau suatu
simpanan makanan atau uang untuk
keperluan perang;
Ke-2 : menghalang-halangi atau mengagalkan
pekerjaan menggenangklan air untuk
menagkis atau menyerang musuh atau
pekerjaan kemiliteran lain;
Ke-3 :
mengadakan
atau
memudahkan
pemberontakan atau desersi (melarikan
diri) diantara para prajurit.
Permufakatan untuk melakukan tindak-tindak
pidana dari pasal 124 dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya 6 tahun. Ini
dikatakan oleh pasal 125.
13. Menyembunyikan mata-mata musuh
Pasal 126 menancam dengan hukuman
maksimum 7 tahun penjara barang siapa pada
waktu Negara kita sedang berperang, tanpa
maksud menolong musuh atau merugikan
Negara kita:

Ke-1: menerima sebagai pnghuni dirumah


atau menyembunyikan atau menolong
agar dapat lari seorang mata-mata dari
musuh;
Ke-2: mengakibatkan atau memudahkan
seorang
prajurit
dari
tentara
kita
melarikan diri (desersi).
14.
Menipu dalam hal menjual barangbarang keperluan Negara
Oleh pasal 127 diancam dengan hukuman
maksimum 12 tahun penjara: menipu atau
membiarkan orang lain menipu dalam hal
menjual
barang-barang
keperluan
untuk
tentara kita. Dihukum dengan hukuman yang
sama apabila kejahatan tersebut dalakukan
terhadap Negara-negara yang bersekutu
dengan Negara kita dalam peperangan. Ini
ditentukan dalam pasal 129.

II.

Kejahatan Terhadap martabat Presiden dan


Wakil Presiden

Title II buku II KUHP mula-mula memuat sebelas


pasal, tetapi oleh undang-undang no.1 tahun
1946 tidak kurang dari enam pasal dicabut
karena mengenai keluarga dari raja, yang tidak
ada di Indonesia. Maka, yang masih berlaku
masih lima pasal yaitu pasal 131, 134, 136bis,
137, dan 139. Selanjutnya juga berlaku
penetapan presiden no.5 tahun 1959.
a. Perbuatan menyerang tubuh kepala Negara
(FEITELIJKE AANRANDING VAN DE PERSOON).
Pasal 131 mengancam dengan hukuman
penjara selama-lamanya 8 tahun setiap
perbuatan yang menyerang tubuh presiden

atau wakil presiden yang tidak masuk


ketentuan hokum pidana yang lebih berat.
b. Penghinaan terhadap kepala Negara.
Menurut pasal 134 penghinaan dengan sengaja
terhadap presiden atau wakil presiden dihukum
dengan hukuman maksimum 6 tahu penjara
atau denda Rp. 300,- selanjutnya tidak
dibedakan antara macam-macam penghinaan
yang termuat dalam title XVI buku II KUHP
seperti menista (semaad) dari pasal 310, atau
fitnah (laster) dari pasal 311, atau penghinaan
bersahaja (eenvoudige beleediding) dari pasal
315 yang semuanya kalau dilakukan terhadap
orang biasa diancam dengan hukuman lebih
ringan dari pasal 134.
KUHP memuat pasal 136bis yang tidak ada
dalam
KUHP
belanda
yang
berbunyi:
penghinaan dengan sengaja dari pasal 131
meliputi tiga perbuatan dari pasal 315 (tentang
penghinaan bersahaja) jika itu dilakukan diluar
hadir pihak yang dihina baik dimuka umum
dengan berbagai perbuatan, maupun tidak
dimuka umum, tetapi dihadapan lebih dari 4
orang atau dihadapan orang yang kebetulan,
tanpa sengaja, ada disitu, dan yang merasa
tersentuh
rasa
hatinya,
yaitu
dengan
perbuatan-perbuatan, secara lisan, atau secara
tertulis.
c. Menyiarkan
tulisan
atau
gambar
yang
mengandung penghinaan terhadap kepala
Negara.
Seperti dalam tindak-tindak pidana yang
bersifat penghinaan, juga kini oleh pasal 137
diancam dengan hukuman penjara satu tahun

empat bulan atau denda setingi-tinginya Rp.


300,barang
siapa
yang
menyiarkan,
mempertunjukkan, menempelkan sehingga
kelihatan oleh umum, tulisan, atau gambar
yang isinya menghina presiden atau wakil
presiden, dengan tujuan supaya isinya yang
menghina itu diketahui oleh umum.
Menurut ayat 2, apabila si bersalah melakukan
tindak pidana ini dalam menjalankan pekerjaan
sehari-hari (beroep) dan belum berselang dua
tahun
setelah
putusan
hakim
yang
menghukumnya karena kejahatan yang sama
sudah berkekuatan tetap, maka sipelaku dapat
dicabut haknya melakukan pekerjaan itu.
d. Hukuman tambahan
Menurut pasal 139, hukuman tentang pasal
131 dapat ditambah denga pencabutan hakhak tersebut dalam pasal 35 no.1 4, dan
tentang pasal 134 dengan pencabutan hak-hak
dari pasal 35 no.1 3.

III.

Kejahatan Terhadap Negara-Negara Asing


Bersahabat dan Terhadap Kepala dan Wakil
Negara-Negara Tersebut.

Tiga pasal pertama dari title ini baru pada tahun


1921 ditambahkan dan ternyata tidak ada pada
KUHP belanda, yaitu pasal-pasal 139a, 139b, dan
139c.
Pasal 139a memuat tindak pidana berupa makar
yang
dilakukan
dengan
maksud
untuk
melepaskan daerah suatu Negara bersahabat
atau tanah jajahan atau daerah lain dari Negara
tersebut, baik seluruhnya atau sebagian, dari
kekuasaan pemerintah didaerah itu. Hukumannya

adalah maksimum hukuman penjara 5 tahun, jadi


sangat lebih ringan tindak pidana serupa
terhadap Negara kita sendiri, termuat dalam
pasal 106.
Pasal 139b memuat tindak pidana berupa makar
yang
dilakukan
dengan
maksud
untuk
menghancurkan atau mengubah secara tidak sah
(melanggar hukum) bentuk pemerintahan yang
sudah tetap dari suatu Negara sahabat atau dari
suatu tanah jajahan atau daerah lain dari Negara
itu. Hukumanya maksimum penjara 4 tahun
penjara, juga sangat ringan dari tindak pidana
serupa terhadap Negara kita sendiri yang termuat
dalam pasal 107.
Pasal 139c memuat tindak pidana berupa
permufakatan
melakukan
salah
satu
dari
kejahatan-kejahatan
dari
pasal
139a
dan
139b.hukumannya hanya maksimum 1 tahun 6
bulan penjara.
a. Makar untuk membunuh kepala Negara atau
menahan kepala Negara sahabat.
Tindak pidana ini, yang termuat dalam pasal
140, senada dengan pasal 104, hanya kini
dilakukan terhadap kepala Negara suatu
Negara sahabat. Beratnya hukuman kejahatan
ini digantungkan dengan beberapa hal.
Menurut ayat 1 hukuman ini maksimum 15
tahun penjara, menurut ayat2 menjadi penjara
seumur hidup atau selama 20 tahun apabila
berakibat matinya si korban atau apabila
perbuatan dilakukan dengan dirancang lebih
dulu, menurut ayat 3 menjadu hukuman mati
atau penjara seumur hidup atau selama 20
tahun apabila perbuatan dilakukan dengan

dirancang lebih dulu, apa lagi mengakibatkan


matinya korban.
b. Serangan dengan kekerasan dan penghinaan
terhadap kepala Negara suatu Negara sahabat.
Kedua tindak pidana ini termuat dalam pasal
141 dan 142 yang senada dengan pasal 131
dan 134 mengenai presiden dan wakil presiden
RI. Hukumanya juga tidak begitu berbeda,
yaitu dari pasal 141 maksimum 7 tahun
penjara dan dari pasal 142 maksimum 5 tahun
penjara atau denda Rp. 300,- jadi hanya
terpaut 1 tahun saja.
c. Penghinaan terhadap diplomat asing.
Pasal 143 memuat tindak pidana penghinaan
dengan sengaja terhadap seorang diplomat
yang mewakili suatu Negara asing terhadap
pemerintah Indonesia dalam kedudukannya (in
zejne hoedanigheid). Hukumanya sama dengan
hukuman pada penghinaan seorang kepala
Negara sahabat. Yang dapat disebut mewakili
Negara asing adalah seorang duta besar atau
duta biasa, ataua seorang kuasa usaha, jadi
bukan pegawai-pegawai lain dari suatu
kedutaan, dan bukan seorang konsul.
d. Menyiarkan tulisan atau ganbar yang isinya
menghina kepala Negara asing atau seorang
wakil dari Negara tersebut
Tindak pidana ini termuat dalam pasal 144
yang
senada
dengan
pasal-pasal
lain.
Hukumannya kurang dari apabila mengenai
kepala dari Negara kita sendiri, yaitu
maksimum Sembilan bulan penjara atau denda
Rp. 300,-.

e. Hukuman tambahan
Pasal 145 memuat hukuman tambahan yang
sama dengan pasal 139.

IV.

Kejahatan Mengenai Kewajiban Kenegaraan


dan Hak-hak Kenegaraan (staatsplichten
dan staatsrechten)

Judul ini tampaknya amat luas, tetapi nyatanya


title IV ini hanya memuat tindak pidana mengenai
rapat-rapat
dari
beberapa
lembaga
yang
susunannya berdasar atas pemilihan umum
(pasal 146 dan 147) dan mengenai pemillihanpemilihan umum itu sendiri (pasal-pasal 148
152).
a. Mengganggu rapat badan Negara
Diatur dalam dua pasal, yaitu pasal 146 dan
147 mengenai rapat-rapat dari suatu badan
legislative, eksekutif, atau perwakilan rakyat
yang didirikan atau atas nama pemerintah.
Tindak pidana dari pasal 146 berupa
membubarkan rapat dengan kekerasan atau
memaksakannya akan memberikan atau
jangan memberikan suatu keputusan, atau
mengusir ketua atau seorang anggota badanbadan tersebut dari suatu rapat. Hukumannya
adalah maksimum 9 tahun penjara.
Tindak pidana dari pasal 147 berupa dengan
sengaja dan dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan merintangi ketua atau seorang
anggota
badan-badan
tersebut
untuk
menghadiri rapat badan itu atau akan
mengerjakan kewajibannya dengan merdeka
dan tidak terganggu. Hukumannya adalah
maksimum 2 tahun 8 bulan penjara.

b. Tindak-tindak pidana mengenai pemiliihan


umum
Pasal 148 melarang pada waktu diadakan
pemilu, dengan sengaja dan dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan merintangi seseorang
yang akan melakukan hak memilih dengan
bebas dan tidak terganggu.
Pasal 149 melarang menyuap dengan
pemberian atau janji, seorang pemilih, supaya
tidak menjalankan hak pilih atau supaya
menjalankannya secara tertentu. Oleh ayat 2
dihukum pula orang yang kena suap. Cara
tertentu
ini
biasanya
berupa
memilih
seseorang
yang
dicalonkan
oleh
yang
menyyuapp itu.
Pasal 150 melarangg perbuatan tipu-muslihat
yang menyebabkan suara seorang pemilih
tidak berharga, atau orang lain dari pada yang
dimaksudkan oleh pemilih itu menjjadi terpilih.
Pasal 151 mengenai orang yang turut serta
dalam
suatu
pemilihan
umum
dengan
mengaku dirinya sebagai orang lain.
Pasal
152
mengenai
orang
yang
menggagalkan
dengan
sengaja
suatu
pemungutan suara dalam suatu pemilihan
umum, atau melakukan suatu perbuatan tipumuslihat yang menyebabkan hasil pemungutan
suara itu menjadi lain dari pada yang
seharusnya diperoleh dengan surat-surat suara
yang dimaksudkan dengan sah atau dengan
suara-suara yang diberikan dengan sah.
Hukuman-hukumannya
adalah
maksimum
masing-masing 4 tahun penjara, 9 bulan

penjara atau denda Rp. 300,- Sembilan bulan


penjara, satu tahun empat bulan penjara, dan
dua bulan penjara.

V.

Pelanggaran-Pelanggaran
Keamanan Negara

Terhadap

Demikianlah judul dari title X buku III KUHP. Title


ini yang tidak ada dalam KUHP BELANDA, hanya
terdiri atas satu pasal yaitu pasal 570 yang
menentukan: Dihukum dengan maksimum tiga
bulan kurungan atau denda lima ratus rupiah
barang siapa dengan tidak mempunyai kuasa:
a. Memasuki sebuah tempat atau gedung
angkatan darat atau angkatan laut atau suatu
kapal perang dengan melalui jalan lain dari
pada yang biasa. Secara analogi, ketentuan ini
dapat diberlakukan bagi angkatan udara dan
angkatan kepolisian;
b. Memasuki tanah lapang yang oleh kekuasaan
militer ditunjuk sebagai tanah lapang militer,
yang terlarang dimasuki;
c. Membuat,
mengumpulkan,
mempunyai,
menyimpan, menyembunyikan atau membawa
potret
atau
gambar
atau
keteranganketerangan
atau
petunjuk-petunjuk
lain
tentang tanah lapang atau tempat termaksud
dalam sub ke-2 dengan segala yang ada disitu;
d. Membuat,
mengumpulkan,
mempunyai,
menyimpan, menyembunyikan, membawa potret,
pengukuran lukisan atau uraian atau gambar
ataupun keterangan-keterangan atau petunjukpetunjuk lain tentang suatu perkara kepentingan
militer.

4.

Pasal Pasal yang


Kejahatan Makar

Mengatur

tentang

Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara


Pasal 104
Makar dengan maksud untuk membunuh, atau
merampas
kemerdekaan,
atau
meniadakan
kemampuan
Presiden
atau
Wakil
Presiden
memerintah, diancam dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
sementara paling lama dua puluh tahun.
Pasal 105
Pasal ini ditiadakan berdasarkan Undang-undang
No. 1. Tahun 1946, pasal VIII, butir 13.
Pasal 106
Makar dengan maksud supaya seluruh atau
sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh
atau memisahkan sebagian dan wilayah negara,
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara sementara paling lama dua puluh
tahun.
Pasal 107
(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan
pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.
(2) Para pemimpin dan para pengatur makar
tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana

penjara seumur hidup atau pidana


sementara paling lama dua puluh tahun.

penjara

Pasal 107a
Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka
umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media
apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran
Komunisme/Marxisme-Leninisme
dalam
segala
bentuk dan perwujudan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. Pasal ini
merupakan isi dari Pasal 1 UU No. 27 Tahun 1999
tentang Perubahan Kitab Undangundang Hukum
Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap
Keamanan Negara
Pasal 107b
Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka
umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media
apapun, menyatakan keinginan untuk meniadakan
atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara
yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam
masyarakat, atau menimbulkan korban jiwa atau
kerugian harta benda, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.
Pasal 107c
Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka
umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media
apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran
Komunisme/Marxisme-Leninisme yang berakibat
timbulnya kerusuhan dalam masyarakat, atau
menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta

benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama


15 (lima belas)tahun.
Pasal ini merupakan isi dari Pasal 1 UU No. 27 Tahun
1999 tentang Perubahan Kitab Undangundang
Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan
Terhadap Keamanan Negara
Pasal 107d
Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka
umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media
apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran
Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud
mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar
Negara, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 20 (dua puluh) tahun.
Pasal ini merupakan isi dari Pasal 1 UU No. 27 Tahun
1999 tentang Perubahan Kitab Undangundang
Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan
Terhadap Keamanan Negara
Pasal 107f
Dipidana karena sabotase dengan pidana penjara
seumur hidup atau paling lama 20 (dua puluh)
tahun:
a. barangsiapa yang secara melawan hukum
merusak,
membuat
tidak
dapat
dipakai,
menghancurkan atau memusnahkan instalasi
negara atau militer; atau
b. barangsiapa yang secara melawan hukum
menghalangi atau menggagalkan pengadaan
atau distribusi bahan pokok yang menguasai
hajat hidup orang banyak sesuai dengan
kebijakan Pemerintah.

Pasal ini merupakan isi dari Pasal 1 UU No. 27 Tahun


1999 tentang Perubahan Kitab Undang Undang
Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan
Terhadap Keamanan Negara
UNDANG-UNDANG TERKAIT
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang
Partai Politik
Pasal 50
Pengurus Partai Politik yang menggunakan Partai
Politiknya
untuk
melakukan
kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5)
dituntut berdasarkan Undang-Undang Nomor 27
Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana yang berkaitan dengan
Kejahatan terhadap Keamanan Negara dalam
Pasal 107 huruf c, huruf d, atau huruf e, dan
Partai Politiknya dapat dibubarkan. Penjelasan
Pasal 50 Cukup Jelas.
Pasal 108
(1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan,
diancam dengan pidana penjara paling lama
lima belas tahun:
a. orang yang melawan Pemerintah Indonesia
dengan senjata;
b. orang
yang
dengan
maksud
melawan
Pemerintah Indonesia, menyerbu bersamasama
atau
menggabungkan
diri
pada
gerombolan yang melawan Pemerintahan
dengan senjata.

(2)
Para
pemimpin
dan
para
pengatur
pemberontakan diancam dengan penjara seumur
hidup
atau pidana penjara sementara paling lama dua
puluh tahun.
Pasal 109
Pasal ini ditiadakan berdasarkan S.1930 No. 31.

Pasal 110
(1) Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan
menurut pasal 104, 106, 107 dan 108 diancam
berdasarkan ancaman pidana dalam pasal-pasal
tersebut.
(2) Pidana yang sama diterapkan terhadap orangorang yang dengan maksud berdasarkan pasal 104,
106, dan 108, mempersiapkan atau memperlancar
kejahatan:
a. mencoba menggerakan orang lain untuk
melakukan, menyuruh melakukan atau turut
serta melakukan agar memberi bantuan pada
waktu melakukan atau memberi kesempatan,
sarana atau keterangan untuk melakukan
kejahatan;
b. mencoba memperoleh kesempatan, sarana
atau keterangan untuk melakukan kejahatan
bagi diri sendiri atau orang lain;
c. memiliki persediaan barang-barang yang
diketahuinya
berguna
untuk
melakukan
kejahatan;

d. mempersiapkan atau memiliki rencana untuk


melaksanakan kejahatan yang bertujuan untuk
diberitahukan kepada orang lain;
e. mencoba
mencegah,
merintangi
atau
menggagalkan tindakan yang diadakan oleh
pemerintah untuk mencegah atau menindas
pelaksanaan kejahatan.
(3) Barang-barang sebagaimana yang dimaksud
dalam butir 3 ayat sebelumnya, dapat dirampas.
(4) Tidak dipidana barang siapa yang ternyata
bermaksud
hanya
mempersiapkan
atau
memperlancar perubahan ketatanegaraan dalam
artian umum.
(5) Jika dalam salah satu hal seperti yang dimaksud
dalam ayat 1 dan 2 pasal ini, kejahatan sungguh
terjadi, pidananya dapat dilipatkan dua kali.
Pasal 111
(1) Barang siapa mengadakan hubungan dengan
negara asing dengan maksud menggerakkannya
untuk melakukan perbuatan permusuhan atau
perang terhadap negara, memperkuat niat mereka,
menjanjikan
bantuan
atau
membantu
mempersiapkan
mereka
untuk
melakukan
perbuatan permusuhan atau perang terhadap
negara, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.
(2) Jika perbuatan permusuhan dilakukan atau
terjadi perang, diancam dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
sementara paling lama dua puluh tahun.
Pasal 111 bis

(1) Dengan pidana penjara paling lama enam tahun


diancam:
a. barang siapa mengadakan hubungan dengan
orang atau badan yang berkedudukan diluar
Indonesia,
dengan
maksud
untuk
menggerakkan orang atau badan itu supaya
membantu mempersiapkan, memperlancar
atau menggerakkan untuk menggulingkan
pemerintahan, untuk memperkuat niat orang
atau badan itu atau menjanjikan atau
memberikan bantuan kepada orang atau
badan itu atau menyiapkan, memperlancar
atau
menggerakkan
penggulingan
pemerintahan;
b. barang siapa memasukkan suatu benda yang
dapat digunakan untuk memberi bantuan
material dalam mempersiapkan, memperlancar
atau
menggerakkan
penggulingan
pemerintahan, sedangkan diketahuinya atau
ada alasan kuat untuk menduga bahwa benda
itu akan dipakai untuk perbuatan tersebut;
c. orang yang mempunyai atau mengadakan
perjanjian mengenai suatu benda yang dapat
digunakan
untuk
memberikan
bantuan
material dalam mempersiapkan, memperlancar
atau
menggerakkan
penggulingan
pemerintahan, sedangkan diketahuinya atau
ada alasan kuat baginya untuk menduga
bahwa benda akan dipakai untuk perbuatan
tersebut dan bahwa benda itu atau barang lain
sebagai penggantinya, dimasukkan dengan
tujuan tersebut atau diperuntukkan bagi tujuan

itu oleh orang atau badan yang berkedudukan


di luar Indonesia.
(2) Benda-benda yang dengan mana atau yang ada
hubungan dengan ayat sebelumnya butir 2 dan 3
yang dipakai untuk melakukan kejahatan, dapat
dirampas.
Pasal 112
Barang siapa dengan sengaja mengumumkan suratsurat, berita-berita atau keteranganketerangan
yang diketahuinya bahwa harus dirahasiakan untuk
kepentingan
negara,
atau
dengan
sengaja
memberitahukan atau memberikannya kepada
negara asing, diancam dengan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
UNDANG UNDANG TERKAIT
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 Tentang
Intelejen Negara :
Pasal 44
Setiap Orang yang dengan sengaja mencuri,
membuka, dan/atau membocorkan Rahasia
Intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
Pasal 46
(1) Setiap Personel Intelijen Negara yang
membocorkan
upaya,
pekerjaan,
kegiatan,
Sasaran,
informasi,
fasilitas
khusus,
alat
peralatan dan perlengkapan khusus, dukungan,

dan/atau Personel Intelijen Negara yang berkaitan


dengan penyelenggaraan fungsi dan aktivitas
Intelijen Negara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 huruf b dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Personel
Intelijen Negara dalam keadaan perang dipidana
dengan ditambah 1/3 (sepertiga) dari masingmasing ancaman pidana maksimumnya.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang
Minyak dan Gas Bumi:
Pasal 51
(2)
Setiap
orang
yang
mengirim
atau
menyerahkan atau memindahtangankan data
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 tanpa
hak dalam bentuk apa pun dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda
paling
tinggi
Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).
Pasal 56
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas
nama Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap,
tuntutan dan pidana dikenakan terhadap Badan
Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dan/atau
pengurusnya.
(2) Dalam hal tindak pidana dilakukan oleh
Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap, pidana

yang dijatuhkan kepada Badan Usaha atau


Bentuk Usaha Tetap tersebut adalah pidana
denda, dengan ketentuan paling tinggi pidana
denda ditambah sepertiganya.
Pasal 57
(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 51 adalah pelanggaran.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, dan Pasal 55 adalah
kejahatan.
Pasal 58
Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud
dalam Bab ini, sebagai pidana tambahan adalah
pencabutan hak atau perampasan barang yang
digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak
pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas
Bumi.
Pasal 113
(1) Barang siapa dengan sengaja, untuk seluruhnya
atau
sebagian
mengumumkan,
atau
memberitahukan maupun menyerahkan kepada
orang
yang
tidak
berwenang
mengetahui,
suratsurat, peta-peta, rencana-rencana, gambargambar atau benda-benda yang bersifat rahasia dan
bersangkutan dengan pertahanan atau keamanan
Indonesia terhadap serangan dari luar, yang ada
padanya atau yang isinya, bentuknya atau
susunannya benda-benda itu diketahui olehnya,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.

(2) Jika surat-surat atau benda-benda ada pada


yang bersalah, atau pengetahuannya tentang itu
karena pencariannya, pidananya dapat ditambah
sepertiga.
Pasal 114
Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya)
menyebabkan surat-surat atau benda-benda rahasia
sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 113
harus menjadi tugasnya untuk menyimpan atau
menaruhnya, bentuk atau susunannya untuk
seluruh atau sebagian diketahui oleh umum atau
dikuasai atau diketahui oleh orang lain (atau) tidak
berwenang mengetahui, diancam dengan pidana
penjara paling lama satu tahun enam bulan atau
pidana kurungan paling lama satu tahun atau
pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus
rupiah.
UNDANG-UNDANG TERKAIT
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011Tentang
Intelejen Negara
Pasal 45
Setiap
Orang
yang
karena
kelalaiannya
mengakibatkan
bocornya
Rahasia
Intelijen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Pasal 115
Barang siapa melihat atau membaca surat-surat
atau
benda-benda
rahasia
sebagaimana

dimaksudkan dalam pasal 113, untuk seluruhnya


atau
sebagian,
sedangkan
diketahui
atau
selayaknya harus diduganya bahwa benda-benda
itu tidak dimaksud untuk diketahui olehnya, begitu
pula jika membuat atau menyuruh membuat salinan
atau ikhtisar dengan huruf atau dalam bahasa apa
pun juga, membuat atau menyuruh buat teraan,
gambaran atau jika tidak menyerahkan bendabenda itu kepada pejabat kehakiman, kepolisian
atau pamong praja, dalam hal benda-benda itu
jatuh ke tangannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama tiga tahun.
Pasal 116
Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan
sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 113 dan
115, diancam dengan pidana penjara paling lama
satu tahun.
Pasal 117
Diancam dengan pidana penjara paling lama enam
bulan atau denda paling banyak empat ribu lima
ratus rupiah, barang siapa tanpa wenang:
a. dengan sengaja memasuki bangunan Angkatan
Darat atau Angkatan Laut, atau memasuki kapal
perang melalui jalan yang bukan jalan biasa;
b. dengan sengaja memasuki daerah, yang oleh
Presiden atau atas namanya, atau oleh penguasa
tentara ditentukan sebagai daerah tentara yang
dilarang;
c. dengan sengaja membuat, mengumpulkan,
mempunyai, menyimpan, menyembunyikan atau
mengangkut gambar-potret atau gambar-tangan

maupun keterangan-keterangan atau petunjuk


petunjuk lain mengenai daerah seperti tersebut
dalam pasal ke-2, beserta segala sesuatu yang
ada di situ.
Pasal 118
Diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun atau denda sembilan ribu rupiah, barang
siapa
tanpa
wenang,
sengaja
membuat,
mengumpulkan,
mempunyai,
menyimpan,
menyembunyikan atau mengangkut gambar-potret,
gambar-lukis atau gambar-tangan, pengukuran atau
penulisan, maupun keterangan-keterangan atau
petunjuk-petunjuk lain mengenai sesuatu hal yang
bersangkutan dengan kepentingan tentara.

Pasal 119
Diancam dengan pidana penjara paling lama satu
tahun:
a. barang siapa memberi pondokan kepada orang
lain, yang diketahuinya mempunyai niat atau
sedang mencoba untuk mengetahui benda-benda
rahasia seperti tersebut dalam pasal 113,
padahal tidak wenang untuk itu, atau mempunyai
niat atau sedang mencoba untuk mengetahui
letak, bentuk, susunan, persenjataan, perbekalan,
perlengkapan mesiu, atau kekuatan orang dari
bangunan pertahanan atau sesuatu hal lain
yangbersangkutan dengan kepentingan tentara;
b. barang siapa menyembunyikan benda-benda
yang diketahuinya bahwa dengan cara apa pun

juga, akan diperlukan dalam melaksanakan niat


seperti tersebut pada ke-1.
Pasal 120
Jika kejahatan tersebut pasal 113, 115, 117, 118,
119 dilakukan dengan akal curang seperti
penyesatan, penyamaran, pemakaian nama atau
kedudukan palsu, atau dengan menawarkan atau
menerima,
membayangkan
atau
menjanjikan
hadiah, keuntungan atau upah dalam bentuk apa
pun juga, atau dilakukan dengan kekerasan atau
ancaman
kekerasan,
maka
pidana
hilang
kemerdekaan dapat diperberat lipat dua.
Pasal 121
Barang siapa ditugaskan oleh pemerintah untuk
berunding dengan suatu negara asing, dengan
sengaja merugikan negara, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal 122
Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun:
a. barang siapa dalam masa perang yang tidak
menyangkut
Indonesia,
dengan
sengaja
melakukan perbuatan yang membahayakan
kenetralan
negara,
atau
dengan
sengaja
melanggar suatu aturan yang dikeluarkan dan
diumumkan oleh pemerintah, khusus untuk
mempertahankan kenetralan tersebut;
b. barang siapa dalam masa perang dengan sengaja
melanggar
aturan
yang
dikeluarkan
dan
diumumkan oleh pemerintah guna keselamatan
negara.

Pasal 123
Seorang warga negara Indonesia yang dengan suka
rela masuk tentara negara asing, padahal ia
mengetahui bahwa negara itu sedang perang
dengan Indonesia, atau akan menghadapi perang
dengan Indonesia, diancam dalam hal terakhir jika
pecah perang, dengan pidana penjara paling lama
lima belas tahun.
Pasal 124
(1) Barang siapa dalam masa perang dengan
sengaja memberi bantuan kepada musuh atau
merugikan negara terhadap musuh, diancam
dengan pidana penjara lima belas tahun.
(2) Diancam dengan pidana penjara seumur hidup
atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh
tahun jika si pembuat:
a. memberitahukan atau menyerahkan kepada
musuh peta, rencana, gambar atau penulisan
mengenai bangunan-bangunan tentara;
b. menjadi mata-mata musuh, atau memberi
pondokan kepadanya.
(3) Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup
atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh
tahun dijatuhkan jika si pembuat:
a. memberitahukan atau menyerahkan kepada
musuh, menghancurkan atau merusak sesuatu
tempat atau pos yang diperkuat atau diduduki,
suatu alat penghubung, gudang persediaan
perang, atau kas perang ataupun Angkatan
Laut, Angkatan Darat atau bagian daripadanya,
merintangi,
menghalang-halangi
atau
menggagalkan
suatu
usaha
untuk
menggenangi air atau bangunan tentara

lainnya
yang
direncanakan
atau
diselenggarakan
untuk
menangkis
atau
menyerang;
b. menyebabkan atau memperlancar timbulnya
huru-hara, pemberontakan atau desersi di
kalangan Angkatan Perang.
Pasal 125
Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan
sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 124,
diancam dengan pidana paling lama enam tahun.
Pasal 126
Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun barang siapa dalam masa perang, tidak
dengan maksud membantu musuh atau merugikan
negara sehingga menguntungkan musuh, dengan
sengaja:
a. memberi pondokan kepada mata-mata musuh,
menyembunyikannya atau membantu melarikan
diri;
b. menggerakkan atau memperlancar pelarian
(desersi) prajurit yang bertugas untuk negara.
Pasal 127
(1) Barang siapa dalam masa perang menjalankan
tipu muslihat dalam penyerahan barangbarang
keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat,
diancam dengan pidana penjara paling lama dua
betas tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama barang
siapa
diserahi
mengawasi
penyerahan
barangbarang, membiarkan tipu muslihat itu.

Pasal 128
(1) Dalam hal pemidanaan berdasarkan kejahatan
pasal 104, dapat dipidana pencabutan hak hak
berdasarkan pasal 35 no. 1-5.
(2) Dalam hal pemidanaan berdasarkan kejahatan
pasal-pasal 106-108, 110-125, dapat dipidana
pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 no. 1-3.
(3) Dalam hal pemidanaan berdasarkan kejahatan
pasal
127,
yang
bersalah
dapat
dilarang
menjalankan pencaharian yang dijalankannya ketika
melakukan
kejahatan
itu,
dicabut
hak-hak
berdasarkan pasal 35 no. 1-4, dan dapat
diperintahkan supaya putusan hakim diumumkan.
Pasal 129
Pidana-pidana yang ditentukan terhadap perbuatanperbuatan dalam pasal-pasal 124-127, diterapkan
jika salah satu perbuatan dilakukan terhadap atau
bersangkutan dengan Negara sekutu dalam perang
bersama.

MAKAR DALAM PERSPEKTIF ISLAM


1. Pengertian
Dalam Islam makar dikenal dengan istilsh Bughat
Makna Bahasa Bughat
Bughat ( ) adalah bentuk jamak
, yang
merupakan isim fail (kata benda yang menunjukkan
pelaku), berasal dari kata ( fiil madhi),
( fiil
mudhari), dan -
- (mashdar). Kata
mempunyai banyak makna, antara lain

(mencari, menuntut),

( berbuat zalim), /



( melampaui batas), dan
( berbohong)
Dengan demikian, secara bahasa,
( dengan

bentuk jamaknya ) artinya

( orang yang

berbuat zalim),
( orang yang melampaui

( orang yang berbuat


batas), atau




zalim dan menyombongkan diri)
Makna Syari Bughat
Dalam definisi syari yaitu definisi menurut nashnash Al-Qur`an dan As-Sunnah, bughat memiliki
beragam definisi dalam berbagai mazhab fiqih,
meskipun berdekatan maknanya atau ada unsur
kesamaannya. Kadang para ulama mendefinisikan
bughat secara langsung, kadang mendefinisikan
tindakannya, yaitu al-baghy[u] (pemberontakan).
Berikut ini definisi-definisi bughat yang dihimpun
oleh Abdul Qadir Audah (1996:673-674), dalam
kitabnya At-Tasyri Al-Jina`i Al-Islamiy dan oleh
Syekh Ali Belhaj (1984:242-243), dalam kitabnya
(Fashl Al-Kalam fi Muwajahah Zhulm Al-Hukkam
A. Menurut Ulama Hanafiyah.

"Al-Baghy[u] (pemberontakan) adalah keluar dari


ketaatan kepada imam (khalifah) yang haq (sah)
dengan tanpa [alasan] haq. Dan al-baaghi
(bentuk tunggal bughat) adalah orang yang
keluar dari ketaatan kepada imam yang haq
dengan tanpa haq. (Hasyiyah Ibnu Abidin,
III/426; Syarah Fathul Qadir, IV/48).
B. Menurut Ulama Malikiyah
Al-Baghy[u] adalah mencegah diri untuk
mentaati orang yang telah sah menjadi imam
(khalifah) dalam perkara bukan maksiat dengan
menggunakan kekuatan fisik (mughalabah)
walaupun karena alasan ta`wil (penafsiran
agama)
Dan bughat adalah kelompok (firqah) dari kaum
muslimin yang menyalahi imam azham (khalifah)
atau wakilnya, untuk mencegah hak (imam) yang
wajib
mereka
tunaikan,
atau
untuk
menggantikannya. (Hasyiyah Az-Zarqani wa
Hasyiyah Asy-Syaibani, hal. 60).
C. Menurut Ulama Syafiiyah
Bughat adalah kaum muslimin yang menyalahi
imam dengan jalan memberontak kepadanya,
tidak mentaatinya, atau mencegah hak yang
yang seharusnya wajib mereka tunaikan (kepada
imam), dengan syarat mereka mempunyai
kekuatan (syaukah), ta`wil, dan pemimpin yang
ditaati (muthaa) dalam kelompok tersebut.
(Nihayatul Muhtaj, VIII/382; Al-Muhadzdzab,
II/217; Kifayatul Akhyar, II/197-198; Fathul
Wahhab, II/153).

Bughat adalah orang-orang yang keluar dari


ketaatan dengan ta`wil yang fasid (keliru), yang
tidak bisa dipastikan kefasidannya, jika mereka
mempunyai
kekuatan
(syaukah),
karena
jumlahnya yang banyak atau adanya kekuatan,
dan di antara mereka ada pemimpin yang
ditaati. (Asna Al-Mathalib, IV/111).
Jadi menurut ulama Syafiiyah, bughat itu adalah
pemberontakan dari suatu kelompok orang
(jamaah), yang mempunyai kekuatan (syaukah)
dan pemimpin yang ditaati (muthaa), dengan
ta`wil yang fasid
D. Menurut Ulama Hanabilah
Bughat
adalah
orang-orang
memberontak
kepada seorang imam --walaupun ia bukan imam
yang
adil-dengan
suatu
ta`wil
yang
diperbolehkan
(ta`wil
sa`igh),
mempunyai
kekuatan (syaukah), meskipun tidak mempunyai
pemimpin yang ditaati di antara mereka.
(Syarah Al-Muntaha maa Kasysyaf al-Qana,
IV/114).
E. Menurut Ulama Zhahiriyah
Bughat adalah mereka yang menentang imam
yang adil dalam kekuasaannya, lalu mereka
mengambil harta zakat dan menjalankan hudud
(Ibnu Hazm, Al-Muhalla, XII/520).
Al-Baghy[u] adalah memberontak kepada imam
yang haq dengan suatu ta`wil yang salah dalam
agama, atau memberontak untuk mencari dunia.
(Ibnu Hazm, Al-Muhalla, XI/97-98).
F. Menurut Ulama Syiah Zaidiyah

Bughat adalah orang yang menampakkan diri


bahwa mereka adalah kelompok yang haq sedang
imam adalah orang yang batil, mereka
memerangi imam tersebut, atau menyita
hartanya, mereka mempunyai kelompok dan
senjata, serta melaksanakan sesuatu yang
sebenarnya
hak
imam.(Ar-Raudh,AnNadhir,IV/331).

2. Makar dalam Hadist


Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar
(berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka
azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah
mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui. (QS.
An Nuur: 19)
Nabi melarang mencela, memaki para penguasa
dan
menyebarkan
aib
mereka.
Beliau
memerintahkan untuk menasihati mereka dengan
cara yang baik dan mendoakan kebaikan.
Janganlah kalian mencela pemimpin kalian dan
janganlah mendengki mereka, janganlah kalian
membenci mereka bertakwalah kepada Allah.
Bersabarlah karena urusan ini sudah dekat. (HR.
Ibnu Abi Ashim disahehkan al Albania)
Tidak ada toleransi bagi pemberontak pada
penguasa, ketika mereka (pemerintah) tidak mau
mendengar yang ada adalah perintah untuk
bersabar. Dari Wail bin Hujr berkata, kami bertanya :
Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika
penguasa kami merampas hak-hak kami dan
meminta
hak-hak
mereka?
bersabda
Nabi
Mendengar dan taatlah kalian pada mereka. Maka

sesungguhnya bagi merekalah balasan amalan


mereka dan bagi kalianlah pahala atas kesabaran
kalian. (HR. Muslim).
Rasul melarang menyebarkan aib penguasa dan
kesalahannya di atas mimbar-mimbar dan majelismajelis, karena hal ini akan menyebabkan
tersebarnya kejelekan.
Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi,
barang siapa yang menghinakan penguasa maka
Allah akan menghinakannya, barang siapa yang
memuliakan
penguasa
maka
Allah
akan
memuliakannya. (HR. Ibnu Abi Ashim, Attirmidzi)
Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan
janganlah
kamu
berbantah-bantahan,
yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal: 46).

3. DASAR HUKUM
Firman Allah:
Kalau dua golongan dari golongan orang-orang
Mukmin
mengadakan
peperangan,
maka
damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satunya
berbuat menentang perdamaian kepada lainnya,
maka perangilah orang-orang (golongan) yang
menentang itu sehingga mereka kembali ke jalan
Allah. Kalau mereka kembali, maka damaikanlah
antara keduanya dengan adil, dan memang harus
berbuat adillah kamu sekalian. Sesungguhnya Allah
itu mencintai pada orang-orang yang berlaku adil.
(Q.S. Al-Hujuraat: 9).

Kemudian dalam firman Nya yang lain:


Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang
yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat
kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh
atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka
dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri
(tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai)
suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di
akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al
Maidah : 33)

4. UNSUR-UNSUR JARIMAH BUGHAT


Dengan mengkaji nash-nash syara tersebut, dapat
disimpulkan ada 3 (tiga) syarat yang harus ada
secara bersamaan pada sebuah kelompok yang
dinamakan bughat, yaitu :
a. Pemberontakan kepada khalifah/imam (al-khuruj
ala al-khalifah),
Syarat pertama, adanya pemberontakan kepada
khalifah (imam) (al-khuruuj ala al-imam). Hal ini
bisa terjadi misalnya dengan ketidaktaatan
mereka kepada khalifah atau menolak hak
khalifah
yang
mestinya
mereka
tunaikan
kepadanya, semisal membayar zakat. Syarat
pertama ini, memang tidak secara sharih (jelas)
disebuntukan dalam surah Al-Hujurat ayat 9 :
Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin
berperang, maka damaikanlah antara keduanya.
Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat
aniaya (zalim) maka perangilah golongan yang

berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali


kepada perintah Allah ... (QS. Al-Hujurat [49]:9)
Namun demikian, Syaikhul Islam Zakariyya AlAnshari (w.925 H) dalam Fathul Wahhab (II/153)
mengatakan,Dalam ayat ini memang tidak
disebut memberontak kepada imam secara
sharih, akan tetapi ayat tersebut telah
mencakupnya berdasarkan keumuman ayatnya,
atau karena ayat tersebut menuntutnya. Sebab
jika perang dituntut karena kezaliman satu
golongan atas golongan lain, maka kezaliman
satu golongan atas imam tentu lebih dituntut
lagi.
Jadi, dalil syarat pertama ini (memberontak
kepada imam) adalah keumuman ayat tersebut
(QS 49:9). Selain itu, syarat ini ditunjukkan secara
jelas oleh hadits yang menjelaskan tercelanya
tindakan memberontak kepada imam (al-khuruj
an thaat al-imam). Misalnya sabda Nabi SAW :
Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada
khalifah) dan memisahkan diri dari jamaah
kemudian mati, maka matinya adalah mati
jahiliyyah. (HR. Muslim No. 3436 dari Abu
Hurairah).
Adapun yang dimaksud imam atau khalifah,
bukanlah presiden atau raja atau kepala negara
lainnya dari negara yang bukan negara Islam
(Daulah Islamiyah/Khilafah).
Abdul
Qadir
Audah
menegaskan,
[Yang
dimaksud] Imam, adalah pemimpin tertinggi
(kepala) dari Negara Islam (ra`is ad-dawlah alislamiyah
al-ala),
atau
orang
yang

mewakilinya... (At-Tasyri Al-Jina`i Al-Islamiy, Juz


II hal. 676).
Hal tersebut didasarkan dari kenyataan bahwa
ayat tentang bughat (QS Al-Hujurat : 9) adalah
ayat madaniyah yang berarti turun sesudah
hijrah (As Suyuthi, 1991:370). Berarti ayat ini
turun dalam konteks sistem negara Islam (Daulah
Islamiyah), bukan dalam sistem yang lain. Haditshadits Nabi SAW dalam masalah bughat, juga
demikian halnya, yaitu berbicara dalam konteks
pemberontakan kepada khalifah, bukan yang
lain . Demikian juga, pemberontakan dalam
Perang Shiffin yang dipimpin Muawiyah (golongan
bughat) melawan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai
khalifah yang sah, jelas dalam konteks Daulah
Islamiyah .
Dengan demikian, pemberontakan kepada kepala
negara yang bukan khalifah, misalnya kepada
presiden dalam sistem republik, tidak dapat
disebut bughat, dari segi mana pun, menurut
pengertian syari yang sahih.
b. Adanya
kekuatan
yang
dimiliki
yang
memungkinkan bughat untuk mampu melakukan
dominasi (saytharah)
Syarat kedua, mempunyai kekuatan yang
memungkinkan kelompok bughat untuk mampu
melakukan dominasi. Kekuatan ini haruslah
sedemikian rupa, sehingga untuk mengajak
golongan bughat ini kembali mentaati khalifah,
khalifah
harus
mengerahkan
segala
kesanggupannya, misalnya mengeluarkan dana
besar, menyiapkan pasukan, dan mempersiapkan
perang. Kekuatan di sini, sering diungkapkan oleh

para fuqaha dengan istilah asy-syaukah, sebab


salah satu makna asy-syaukah adalah al-quwwah
wa al-ba`s (keduanya berarti kekuatan) . Para
fuqaha Syafiiyyah menyatatakan bahwa asyasyaukah ini bisa terwujud dengan adanya jumlah
orang yang banyak (al-katsrah) dan adanya
kekuatan (al-quwwah), serta adanya pemimpin
yang ditaati
Syarat kedua ini, dalilnya antara lain dapat
dipahami dari ayat tentang bughat (QS Al
...( jika dua
Hujurat: 9) pada lafazh


artinya adalah
golongan...). Sebab kata



( golongan). Hal ini
( kelompok) dan

jelas mengisyaratkan adanya sekumpulan orang
yang bersatu, solid, dan akhirnya melahirkan
kekuatan. Maka dari itu, Taqiyuddin Al-Husaini
dalam Kifayatul Akhyar (II/198) ketika membahas
syarat kekuatan, beliau mengatakan,...jika
(yang memberontak) itu adalah individu-individu
(afraadan), serta mudah mendisiplinkan mereka,
maka mereka itu bukanlah bughat. Dengan
demikian, jika ada yang memberontak kepada
khalifah, tetapi tidak mempunyai kekuatan,
misalnya hanya dilakukan oleh satu atau
beberapa individu yang tidak membentuk
kekuatan, maka ini tidak disebut bughat.
c. Mengggunakan
senjata
tujuan-tujuan politisnya

untuk

mewujudkan

Syarat ketiga, mengggunakan senjata untuk


mewujudkan tujuan-tujuannya. Para fuqaha
mengungkapkan syarat penggunaan senjata
dengan istilah manah, atau terkadang juga

dengan istilah asy-syaukah, karena asy-syaukah


juga bisa berati as-silaah (senjata). Manah (boleh
dibaca manaah) memiliki arti antara lain al-izz
(kemuliaan),
al-quwwah
(kekuatan),
atau
kekuatan yang dapat digunakan seseorang untuk
menghalangi orang lain yang bermaksud [buruk]
kepadanya
Dalil syarat ketiga terdapat dalam ayat tentang
bughat (QS Al Hujurat : 9), yaitu pada lafazh
(kedua golongan itu berperang). Ayat ini
mengisyaratkan adanya sarana yang dituntut
dalam perang, yaitu senjata (as-silaah). Selain
dalil ini, ada dalil lain berupa hadits di mana Nabi
SAW bersabda :
Barangsiapa yang membawa senjata untuk
memerangi kami, maka ia bukanlah golongan
kami. (Shahih Bukhari No. 6366, Shahih Muslim
No. 143. Lihat Bab Qitaal Ahl Al-Baghi, Imam AshShanani, Subulus Salam, III/257. Lihat juga hadits
ini dalam Kitab Qitaal Ahl Al-Baghi, Imam AsySyirazi, Al-Muhadzdzab, II/217).
Dengan demikian, jika ada kelompok yang
menentang dan tidak taat kepada khalifah, tetapi
tidak menggunakan senjata, misalnya hanya
dengan kritikan atau pernyataan, maka kelompok
itu tak dapat disebut bughat.
Berdasarkan semua keterangan di atas, maka
jelaslah bahwa definisi bughat adalah kelompok
yang padanya terpenuhi tiga syarat secara
bersamaan, yaitu : (1) melakukan pemberontakan

kepada khalifah/imam, (2) mempunyai kekuatan


yang
memungkinkan
bughat
untuk
mampu
melakukan dominasi, dan (3) mengggunakan
senjata untuk mewujudkan tujuan-tujuan politisnya
(Haikal, 1996:63).
Atas
dasar
syarat-syarat
itulah,
Syaikh
Abdurrahman Al-Maliki, dalam kitabnya Nizham AlUqubat, hal. 79, mendefinisikan bughat sebagai
berikut :
Orang-orang yang memberontak kepada Daulah
Islamiyah (Khilafah), yang mempunyai kekuatan
(syaukah) dan senjata (manah). Artinya, mereka
adalah orang-orang yang tidak mentaati negara,
mengangkat senjata untuk menentang negara,
serta mengumumkan perang terhadap negara. (AlMaliki, 1990:79).
Lalu, bagaimana dengan syarat-syarat lain tentang
bughat seperti adanya ta`wil yang menjadi
pendorong
pemberontakan
(pendapat
ulama
Syafiiyyah), atau syarat bahwa yang diberontak
adalah imam yang adil (pendapat Ibnu Hazm).
Muhammad Khayr Haikal dalam Al-Jihad wa Al-Qital
fi As-Siyasah Asy-Syariyyah (I/64) mengatakan
bahwa ayat bughat (QS Al-Hujurat:9) tidak
menyebuntukan syarat tersebut (ta`wil). Sebab,
menurut beliau, kata
( golongan yang
menganiaya) dalam ayat tersebut, bersifat mutlak,
tidak bersyarat (muqayyad) dengan adanya ta`wil
yang masih dibolehkan (ta`wil sa`igh). Maka,
kemutlakan ayat tersebut tak membedakan apakah
kelompok bughat memberontak atas dasar ta`wil

dalam paham agama, ataukah karena alasan


duniawi, seperti hendak memperoleh harta dan
tahta.
Hal yang sama dapat juga dikatakan untuk syarat
bahwa yang diberontak adalah imam yang adil
(pendapat Ibnu Hazm). Syarat ini tidak tepat, sebab
ayat bughat bersifat mutlak, tidak ada persyaratan
bahwa bughat adalah yang memberontak kepada
imam yang adil. Selain itu, hadits-hadits Nabi SAW
tentang bughat juga bersifat mutlak (imam adil dan
fasik), bukan muqayyad (hanya imam adil saja).
Karena itulah, pendapat yang lebih tepat (rajih)
adalah apa yang yang dinyatakan Syaikh
Abdurrahman Al-Maliki :
Tidak ada beda apakah [golongan bughat itu]
memberontak kepada khalifah yang adil atau
khalifah yang zalim, baik karena alasan ta`wil
dalam agama maupun menghendaki dunia (seperti
harta atau jabatan). Semuanya adalah bughat,
selama mereka mengangkat senjata untuk melawan
kekuasaan Islam (sulthan al-islam). (Al-Maliki,
1990:79)

5. Hukuman Jarimah Bughat


Suatu
gerakan
anti
pemerintah
dinyatakan
pemberontak dan harus dihukum sebagaimana yang
ditetapkan pada garis hukum ayat dasar hukum
jarimah bughat, yaitu:
a. Sanksi hukum atau pembalasan terhadap orangorang yang memerangi Allah dan Rasulnya dan

membuat kerusakan di muka bumi adalah


dibunuh.
b. Dipotong tangan mereka dengan bertimbal balik.
c. Dibuang dari negeri (tempat kediamannya)
Penerapan hukum diatas akan dilaksanakan bila
memenuhi persyaratan berikut :
Pemegang kekuasaan yang sah bersikap adil
dalam menetapkan kebijaksanaan.
Pemberontak merupakan suatu kelompok yang
memiliki kekuatan, sehingga pemerintah harus
bekerja keras untuk mengatasi ferakan tersebut.
Dari gerakan tersebut diperoleh bukti-bukti yang
kuat yang menunjukkan adanya pemberontakan.
Gerakan
tersebut
mempunyai
sistem
kepemimpinan, karena tanpa adanya pemimpin
tidak akan mungkin kekuatan terwujud.

6. UQUBAH JARIMAH BUGHAT


Kekhususan dalam Menghadapi Bughat, Imam AlMawardi menjelaskan ada 8 perbedaan antara
memerangi para pemberontak kaum Muslimin
dengan memerangi orang-orang Musyrik dan orangorang murtad.
a. Peperangan terhadap para pemberontak kaum
muslimin dimaksudkan untuk menghentikan
pemberontakan mereka dan sama sekali tidak
dimaksudkan untuk membunuh mereka. Di sisi
lain dibenarkan peperangan terhadap orangorang
musyrik
dan
orang-orang
murtad
dimaksudkan untuk membunuh mereka.

b. Para pemberontak kaum muslimin baru boleh


diserang, jika mereka maju menyerang. Jika
mereka mundur dari medan perang, mereka
tidak boleh diserang. Di sisi lain, diperbolehkan
menyerang orang-orang musyrik dan orangorang murtad; mereka maju menyerang atau
mundur.
c. Orang-orang terluka dari para pemberontak tidak
boleh dibunuh. Di sisi lain diperbolehkan
membunuh orang-orang terluka dari orang-orang
musyrik dan orang-orang murtad. Pada Perang
Jamal, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu
memerintahkan penyerunya untuk berseru
dengan suara keras, Orang yang telah mundur
dari medan perang tidak boleh diserang, dan
orang yang terluka tidak boleh dibunuh.
d. Tawanan-tawanan yang berasal dari para
pemberontak tidak boleh dibunuh. Di sisi lain
tawanan-tawanan dari orang-orang musyrik dan
orang-orang murtad boleh dibunuh. Kondisi
tawanan perang dari para pemberontak harus
diperhatikan dengan cermat ; jika ia diyakini
tidak kembali berperang (memberontak), ia
dibebaskan. Jika ia diyakini kembali berperang
(memberontak), ia tetap ditawan hingga perang
usai. Jika perang telah usai, ia dibebaskan dan
tidak boleh ditawan sesudah perang. Al-Hajjaj
pernah membebaskan salah seorang tawanan
dari sahabat-sahabat Qathri bin Al-Fujaah,
karena keduanya saling kenal. Al-Qathri berkata
kepada
tawanan
tersebut,
kembalilah
berperang melawan musuh Allah, Al-Hajjaj.
Tawanan tersebut menjawab, Aduh, kalau begitu

dua tangan orang yang telah dibebaskan telah


berkhianat, dan memperbudak leher orang yang
membebaskannya!
e. Harta para pemberontak tidak boleh diambil, dan
anak-anak mereka tidak boleh disandera.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau
bersabda,
Dilindungi apa saja yang ada di negara Islam,
dan dihalalkan apa saja yang ada di negara
musyrik.
f. Dalam memerangi para pemberontak, negara
Islam tidak diperbolehkan meminta bantuan
orang kafir muahid (yang berdamai dengan
kaum muslimin), atau orang kafir dzimmi (kafir
yang berada dalam jaminan keamanan kaum
Muslimin dengan membayar jizyah dalam jumlah
tertentu), kendati hal tersebut dibenarkan ketika
negara Islam memerangi orang-orang musyrik,
dan orang-orang murtad.
g. Negara Islam tidak boleh berdamai dengan
mereka untuk jangka waktu tertentu dan juga
tidak boleh berdamai dengan mereka dengan
kompensasi uang. Jika komandan perang
pasukan Islam berdamai dengan mereka dalam
jangka
waktu
tertentu,
ia
tidak
harus
memenuhinya. Jika ia tidak sanggup memerangi
mereka, ia menunggu datangnya bantuan
pasukan untuk menghadapi mereka. Jika ia
berdamai dengan mereka, dengan kompensasi
uang, maka perdamaian batal, dan uang
perdamaian diperhatikan dengan baik; jika uang
tersebut berasal dari fai mereka atau berasal
dari sedekah (zakat) mereka, maka uang
tersebut tidak dikembalikan kepada mereka,

kemudian
sedekah
(zakat)
tersebut
didistribusikan kepada para penerimanya dari
kaum muslimin, dan fai dibagi-bagikan pada
penerimanya. Jika uang perdamaian murni dari
mereka, uang tersebut tidak boleh dimiliki
pasukan Islam dan harus dikembalikan kepada
mereka.
h. Pasukan Islam tidak boleh menyerang mereka
dengan menggunakan senjata al-arradat (senjata
pelempar batu), rumah-rumah mereka tidak
boleh dibakar, kurma-kurma dan pohon-pohon
mereka tidak boleh ditebang, karena itu semua
berada di dalam negara Islam yang terlindungi,
kendati warganya memberontak.

KASUS MAKAR DI INDONESIA


1. Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah
organisasi (yang dianggap separatis) yang memiliki
tujuan supaya Aceh, yang merupakan daerah yang
sempat berganti nama menjadi Aceh lepas dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara
pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan
perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak
tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir
sekitar 15.000 jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan
nama Aceh Sumatra National Liberation Front
(ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama
hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan
berkewarganegaraan Swedia. Pada tanggal 2 Juni
2010, ia memperoleh status kewarganegaraan
Indonesia, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia
di Banda Aceh.

a. Latar Belakang Pemberontakan GAM


GAM lahir karena kegagalan gerakan Darul Islam
pada masa sebelumnya. Darul Islam muncul
sebagai reaksi atas ketidak berpihakan Jakarta
terhadap gagasan formalisasi Islam di Indonesia.
Darul Islam adalah sebuah gerakan perlawanan
dengan ideologi Islam yang terbuka. Bagi Darul
Islam, dasar dari perlawanan adalah Islam, sehingga
tidak ada sentimen terhadap bangsa-bangsa lain,
bahkan ideologi Islam adalah sebagai perekat dari
perbedaan yang ada. Gagasan ini juga berkembang
dalam gerakan Darul Islam di Aceh.

Akan tetapi, paska berhentinya perlawanan Darul


Islam di Aceh, keinginan Aceh untuk melakukan
Islamisasi di Indonesia menjadi lebih sempit hanya
kepada Aceh. Perubahan ini terjadi disebabkan
karena kegagalan Darul Islam diseluruh Indonesia,
sehingga memaksa orang Aceh lebih realistis untuk
mewujudkan cita-cita. Yang menjadi menarik adalah
GAM yang melanjutkan tradisi perlawanan Aceh,
ternyata tidak melanjutkan ideologi Islam yang
terlebih dahulu digunakan oleh Darul Islam.
Sebagaimana yang disebutkan bahwa GAM lebih
memilih nasionalisme Aceh sebagai isu populisnya.
Hal
yang
mempengaruhi
munculnya
GAM
berikutnya adalah faktor ekonomi, yang berwujud
ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi antara
pusat dengan daerah. Pemerintahan sentralistik
Orde
Baru
menimbulkan
kekecewaan
berat
terutama di kalangan elite Aceh. Pada era Soeharto,
Aceh menerima 1% dari anggaran pendapatan
nasional, padahal Aceh memiliki kontribusi 14% dari
GDP Nasional. Terlalu banyak pemotongan yang
dilakukan pusat yang menggarap hasil produksi dari
Aceh. Sebagian besar hasil kekayaan Aceh dilahap
oleh penentu kebijakan di Jakarta. Meningkatnya
tingkat produksi minyak bumi yang dihasilkan Aceh
pada 1970-an dan 1980-an dengan nilai 1,3 miliar
US Dolar tidak memperbaiki kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Aceh.
Kemunculan GAM pada masa awalnya langsung
mendapat respon oleh pemerintah Orde Baru
dengan melakukan operasi militer yang represif,
sehingga membuat GAM kurang bisa berkembang.

Walau demikian, GAM juga melakukan pelebaran


jaringan yang membuat mereka kuat, baik pada
tingkat internasional maupun menyatu dengan
masyarakat dan GAM bisa terus bertahan. Pada
masa Orde Baru GAM memainkan dua wajah yaitu
satu wajah perlawanan ( dengan pola-pola
kekerasan yang dilakukan ), dan strategi ekonomipolitik yang dimainkan (dengan mengambil uang
pada proyek-proyek pembangunan ).
b. Dampak Pemberontakan GAM
Pemberontakan yang telah tejadi didaerah Aceh
yang dilakukan oleh GAM memiliki pengaruh yang
besar tehadap kondisi-kondisi yang ada. Konflik
yang berlangsung di Aceh telah menimbulkan
dampak yang parah terhadap berbagai komponen
masyarakat sipil Aceh. Pemberontakan tersebut
menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik
terhadap warga Aceh. Ribuan orang yang dicintai
(orang tua, istri, suami dan anak-anak) telah gugur
mengalami penyiksaan dan cacat, menjadi janda
dan anak yatim piatu. Ribuan orang telah
kehilangan tempat tinggal dan ribuan lainnya
kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Lebih
jauh dari itu, masyarakat sipil hampir tidak memiliki
akses terhadap hukum, sementara sebagian besar
lembaga pengadilan tidak berfungsi lagi.
Beberapa pengaruh
lainnya yang di timbulkan
dengan adanya pemberontakan GAM terhadap
ketahanan nasional Indonesia yaitu pengaruhnya
yang masuk dalam berbagai aspek kehidupan
bernegara, yang paling tampak terutama terhadap

kesatuan dan persatuan yang secara otomatis akan


menimbulkan perpecahan lalu akan memotivasi
daerah
lain
yang
mempunyai
keinginan
memberontak di saat pemerintah sedang mengurusi
masalah masalah GAM. Ratusan sekolah terbakar,
sehingga mengganggu proses pendidikan yang ada
diwilayah tersebut. Kerusakan sarana pendidikan
dan pemerintahan serta infrastruktur lainnya
tersebut terjadi dalam jumlah yang cukup besar.
Gerakan separatis di Aceh telah banyak melibatkan
penggunaan sumberdaya nasional, dan akibatnya
telah menimbulkan korban jiwa dan harta benda
yang tidak kecil
c. Upaya

pemerintah
pemberontakan GAM

mengatasi

Berbagai upaya telah dijalankan Pemerintah di


Aceh, baik di masa Orde Baru maupun Era
Reformasi melalui jeda kemanusiaan sampai gelar
operasi militer, belum mampu mengakhiri konflik
secara sempurna dan belum menunjukkan hasil
yang signifikan dalam kerangka penyelesaian konflik
Aceh secara menyeluruh. Tuntutan memisahkan diri
dari NKRI semakin kental, bahkan lebih sebagai
akumulasi kekecewaan dari pada sebuah pencarian
solusi.
Kenyataan di atas menunjukkan bahwa masalah
konflik Aceh merupakan masalah yang multi
kompleks dan multi dimensional, akumulasi dari
persoalan politik, ekonomi, sosial budaya, hankam
dan
kemanusiaan
yang
bersumber
dari
ketidakadilan, sehingga penyelesaian masalah Aceh

diharapkan dapat diselesaikan secara komprehensif,


menggunakan pendekatan multi dimensi dan tidak
hanya bersifat jangka pendek (ad-hoc) tetapi juga
jangka panjang.
Dalam penyelesaian masalah separatis di Aceh,
Pemerintah
Republik
Indonesia
bertekad
menyelesaikan
secara
damai,
komprehensif,
bermartabat, berkeadilan dan menyeluruh dalam
bingkai NKRI. Pemerintah Republik Indonesia dan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kurun waktu
terakhir ini secara intensif melakukan perundingan
informal di Helsinski yang difasilitasi oleh Crisis
Management Inisiative. Dengan berpedoman pada
Memorandum of Understanding (MoU) antara
Pemerintah RI dengan GAM yang di tanda tangani
pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki sebagai
langkah nyata Pemerintah RI dengan negara Uni
Eropa dan negara ASEAN akan menandatangani
MoU tentang keikutsertaan Aceh Monitoring Mission
(AMM) sehingga diharapkan upaya damai dapat
diwujudkan secepatnya.
Selain itu, berbagai upaya penanggulangan GAM
yang merupakan disintregasi bangsa terdiri dari
kebijakan, upaya dan strategi. Berikut ini adalah
upaya upaya yang dilakukan , antara lain :
Kebijakan :
Membangun dan menghidupkan terus komitmen,
kesadaran dan kehendak untuk bersatu
Pemberdayaan norma dan nilai budaya Aceh
dalam penyelenggaraan pemerintah di NAD.

Membangun desain ekonomi menuju masyarakat


NAD yang adil dan sejahtera
Mencegah munculnya konflik dalam kehidupan
bermasyarakat
dan
berbangsa
melalui
implementasi tugas-tugas Operasi Militer Selain
Perang (OMSP) dan Penegakkan Hukum secara
benar.
Menegakkan syariah Islam di Propinsi NAD

2. Pemberontakan Andi Azis


Pemberontakan
Andi
Azis
Adalah
upaya
pemberontakan yang dilakukan oleh Andi Azis,
seorang bekas perwira KNIL untuk mempertahankan
keberadaan Negara Indonesia Timur, dan enggan
Kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Andi Abdul Azis (lahir di Simpangbinangal,
kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 19 September
1924; umur 90 tahun) adalah seorang tokoh militer
Indonesia yang dikenal karena keterlibatannya
dalam Peristiwa Andi Azis. Andi Azis lahir dari
keluarga keturunan Bugis di Sulawesi Selatan. Pada
awal tahun 1930-an Andi Azis kemudian dibawa
seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda
ke Belanda. Pada tahun 1935 ia memasuki Leger
School dan tamat tahun 1938 lalu meneruskan ke
Lyceum sampai tahun 1944.
a. Latar Belakang Pemberontakan Andi Azis
Pemberontakan di bawah naungan Andi Azis ini
terjadi di Makassar yang diawali dengan adanya

konflik di Sulawesi Selatan pada bulan April 1950.


Kekacauan yang berlangsung di Makassar ini terjadi
karena
adanya
demonstrasi
dari
kelompok
masyarakat yang anti federal, mereka mendesak
NIT supaya segera menggabungkan diri dengan RI.
Sementara itu di sisi lain terjadi sebuah konflik dari
kelompok yang mendukung terbentuknya Negara
Federal. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya
kegaduhan dan ketegangan di masyarakat.
Untuk
menjaga
keamanan
di
lingkungan
masyarakat, maka pada tanggal 5 April 1950
pemerintah mengutus pasukan TNI sebanyak satu
Batalion dari Jawa untuk mengamankan daerah
tersebut. Namun kedatangan TNI ke daerah tersebut
dinilai mengancam kedudukan kelompok masyaraat
pro-federal. Selanjutnya para kelompok masyarakat
pro-federal ini bergabung dan membentuk sebuah
pasukan Pasukan Bebas di bawah komando
kapten Andi Azis. Ia menganggap bahwa masalah
keamanan di Sulawesi Selatan menjadi tanggung
jawabnya. Dapat disimpulkan bahwa lata belakang
pemberontakan Andi Azis adalah :
Menuntut bahwa keamanan di Negara Indonesia
Timur hanya merupakan tanggung jawab pasukan
bekas KNIL saja.
Menentang campur tangan pasukan APRIS
(Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat)
terhadap konflik di Sulawesi Selatan.
Mempertahankan berdirinya Negara Indonesia
Timur.
b. Dampak Pemberontakan Andi Azis

Pada tanggal 5 April 1950, anggota pasukan Andi


Azis menyerang markas Tentara Nesional Indonesia
(TNI) yang bertempat di Makassar, dan mereka pun
berhasil menguasainya. Bahkan, Letkol Mokoginta
berhasil ditawan oleh pasukan Andi Azis. Akhirnya,
Ir.P.D Diapri (Perdana Mentri NIT) mengundurkan diri
karena tidak setuju dengan apa yang sudah
dilakukan oleh Andi Azis dan ia digantikan oleh Ir.
Putuhena yang pro-RI. Pada tanggal 21 April 1950,
Sukawati yang menjabat sebagai Wali Negara NIT
mengumumkan
bahwa
NIT
bersedia
untuk
bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia).
c. Upaya
Azis

Penumpasan

Pemberontaak

Andi

Untuk menanggulangi pemberontakan yang di


lakukan oleh Andi Azis, pada tanggal 8 April 1950
pemerintah memberikan perintah kepada Andi Azis
bahwa setiap 4 x 24 Jam ia harus melaporkan diri ke
Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan
yang sudah ia lakukan. Untuk pasukan yang terlibat
dalam pemberontakan tersebut diperintahkan untuk
menyerahkan diri dan melepaskan semua tawanan.
Pada waktu yang sama, dikirim pasukan yang
dipimpin oleh A.E. Kawilarang untuk melakukan
operasi militer di Sulawesi Selatan.
Tanggal 15 April 1950, Andi Azis pergi ke Jakarta
setelah didesak oleh Sukawati, Presiden dari Negara
NIT. Namun karena keterlambatannya untuk
melapor, Andi Azis akhirnya ditangkap dan diadili
untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,

sedangkan untuk pasukan TNI yang dipimpin oleh


Mayor H. V Worang terus melanjutkan pendaratan di
Sulawesi Selatan. Pada tanggal 21 April 1950,
pasukan ini berhasil menguasai Makassar tanpa
adanya perlawanan dari pihak pemberontak.
Pada Tanggal 26 April 1950, anggota ekspedisi yang
dipimpin oleh A.E Kawilarang mendarat di daratan
Sulawesi Selatan. Keamanan yang tercipta di
Sulawesi Selatan-pun tidak berlangsung lama
karena keberadaan anggota KL-KNIL yang sedang
menunggu peralihan pasukan APRIS keluar dari
Makassar. Para anggota KL-KNIL memprovokasi dan
memancing emosi yang menimbulkan terjadinya
bentrok antara pasukan KL-KNIL dengan pasukan
APRIS.
Pertempuran antara pasukan APRIS dengan KL-KNIL
berlangsung pada tanggal 5 Agustus 1950. Kota
Makassar pada saat itu sedang berada dalam
kondisi
yang
sangat
menegangkan
karena
terjadinya peperangan antara pasukan KL-KNIL
dengan APRIS. Pada pertempuran tersebut pasukan
APRIS berhasil menaklukan lawan, dan pasukan
APRIS-pun
melakukan
strategi
pengepungan
terhadap tentara-tentara KNIL tersebut.
Tanggal 8 Agustus 1950, pihak KL-KNIL meminta
untuk
berunding
ketika
menyadari
bahwa
kedudukannya sudah tidak menguntungkan lagi
untuk perperang dan melawan serangan dari lawan.
Perundingan tersebut akhirnya dilakukan oleh
Kolonel A.E Kawilarang dari pihak RI dan Mayor
Jendral Scheffelaar dari pihak KL-KNIL. Hasil

perundingan kedua belah pihakpun setuju untuk


menghentikan baku tembak yang menyebabkan
terjadinya kegaduhan di daerah Makassar tersebut,
dan dalam waktu dua hari pasukan KNIL harus
meninggalkan Makassar.

3. Gerakan Papua Merdeka


Organisasi Papua Merdeka (disingkat OPM) adalah
organisasi yang didirikan pada tahun 1965 untuk
mengakhiri pemerintahan provinsi Papua dan Papua
Barat yang saat ini di Indonesia, yang sebelumnya
dikenal
sebagai
Irian
Jaya,[1]
dan
untuk
memisahkan diri dari Indonesia.
a. Latar Belakang Gerakan Papua Merdeka
Papua merupakan salah satu wilayah di bawah
naungan NKRI dengan falsafah Bhineka Tunggal
Ikanya, Papua adalah wilayah yang kaya akan
ragam budaya yang menjadi cirikhas masyarakat
papua dengan masyarakat lain. Membicarakan
mengenai Bhineka Tunggal Ika dengan memandang
segala aspek tidak terkecuali aspek budaya kita
adalah satu kesatuan yang utuh di bawah naungan
falsafah pancasila. Jadi sudah sepantasnya kita
menjaga rasa persatuan dan kesatuan NKRI dalam
menghadapi berbagai masalah yang mengancam
keutuhan NKRI.
Baru-baru ini muncul kembali gerakan separatis
oleh OPM yang mengancam Keutuhan NKRI,
organisasi Papua Merdeka (OPM) ini muncul
menentang pemerintahan yang sah. Organisasi ini

dididrikan pada tahun 1965 tepatnya di kota


Manokwari, tujuan OPM adalah mewujudkan
kemerdekaan Papua bagian Barat dari NKRI. OPM ini
bermula sbelum masa revormasi, pada saat itu OPM
merasa bahwa mereka bukanlah bagian dari NKRI,
maupun Negara-negara Asia lainnya. Organisasi
Papua Merdeka ini beranggapan bahwa penyatuan
wilayah papua kedalam NKRI hanya merupakan
hasil perjanjian yang dilakukan antara bangsa
Indonesia dengan bangsa Belanda, dimana bangsa
belanda menyerahkan wilayan jajahannya kepada
bangsa Indonesia. Berbeda pada masa orde baru
latar belakang OPM pada era reformasi ini
dikarenakan konflik atau pertikaian yang sering
terjadi di papua serta pelanggaran HAM seperti
yang diungkapkan Lambert Pekikir, sehingga untuk
menangani ini semuah NKRI harus melepaskan
Papua.
Gerakan separatism OPM tidak berhenti pada masa
orde baru saja, pada hari Senin 3 Desember 2012
terjadi baku tembak antar apara gabungan TNI-Polri
dengan kelompok yangb disinyalir merupakan
anggota OPM, peristiwa ini mengakibatkan salah
seorang warga tewas.

4. G30S/PKI
Gerakan 30 September (dahulu juga disingkat G 30
S PKI, G-30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga
Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah
sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam
tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober

1965 di saat tujuh perwira tinggi militer Indonesia


beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam
suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian
dituduhkan
kepada anggota Partai
Komunis
Indonesia.
a. Latar belakang Gerakan 30 September
Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai
komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar
Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965
anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3
juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga
mengontrol
pergerakan
serikat
buruh
yang
mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani
Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta
anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani),
organisasi penulis dan artis dan pergerakan
sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta
anggota dan pendukung.
Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan
Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit
presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari
PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata
dengan mengangkat para jendral militer ke posisiposisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem
"Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi
Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan
bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan
Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan
Komunis yang dinamakan NASAKOM.
Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara
kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam

menekan pergerakan-pergerakan independen kaum


buruh dan petani, gagal memecahkan masalahmasalah politis dan ekonomi yang mendesak.
Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves
menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat
dan militer menjadi wabah.

KESIMPULAN
1. Makar berasal dari kata aanslag (belanda) yang
berarti serangan atau aanval yang berarti suatu
penyerangan
dengan
maksud
tidak
baik
(Misdadige Aanranding).
2. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan
Kamus Hukum Andi Hamzah, makar yaitu: Akal
busuk; tipu muslihat; Perbuatan atau usaha
dengan maksud hendak menyerang (membunuh)
orang.
3. Makar dalam KUHP adalah tindakan melakukan
penyerangan dengan maksud hendak membunuh,
merampas kemerdekaan dan menjadikan tidak
cakap memerintah atas diri presiden atau wakil
presiden, diancam dengan hukuman mati, atau
penjara seumur hidup, atau pula penjara
sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
4. Kriteria kejahatan makar yaitu : Objektif, Subjektif
dan Perbuatan terdakwa harus dikategorikan
sebagai perbuatan melawan hukum.
5. Bentuk bentuk kejahatan makar adalah kejahatan
terhadap keamanan Negara, Kejahatan Terhadap
martabat Presiden dan Wakil Presiden, Kejahatan
Terhadap Negara-Negara Asing Bersahabat dan
Terhadap Kepala dan Wakil Negara-Negara
Tersebut,
Kejahatan
Mengenai
Kewajiban
Kenegaraan
dan
Hak-hak
Kenegaraan
(staatsplichten dan staatsrechten), PelanggaranPelanggaran Terhadap Keamanan Negara.
6. Makar dalam islam dikeanal dengan istilah Bughat
7. Bughat secara Bahasa secara bahasa,


(dengan bentuk jamaknya ) artinya

(orang yang berbuat zalim),
( orang yang

( orang yang
melampaui batas), atau




berbuat zalim dan menyombongkan diri).
8. Beberapa kasus makar yang terjadi di Indonesia :
Gerakan Aceh Merdeka, Pemberontakan Andi Azis,
Gerakan Papua Merdeka dan G30S/PKI

Daftar Pustaka
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri Al-Jina`i Al-Islamiy,
Muhammad Gerry risky, KUHP dan KUHAP, permata
prees. Hal47
Muhammad Khayr Haikal, Al-Jihad wa Al-Qital fi AsSiyasah Asy-Syariyyah
Prof. Moeljatno, S.H., KUHP, Jakarta : Bumi Aksara,
cetakan kesembilan belas, 1996.
Prof. DR. Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana
Tertentu Di Indonesia, Bandung : PT. Refika Aditama,
cetakan kedua, edisi ketiga, 2008.
Sugandhi, KUHP dan penjelasannya, (Surabaya :
Usaha Nasional) 1980, hal 125
Syaikh Abdurrahman Al-Maliki, Nizham Al-Uqubat,
Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab
http://wwwqolbu27.blogspot.com/2010/06/tindakpidana-terhadap-kedudukan-negara.html
http://myzone.okezone.com/content/read/2011/02/16/
4344/makar-dalam-hukum-pidana-positif-dan-hukumpidana-islam-merupakan-bentuk-kejahatan
http://hukumpidana.bphn.go.id/babbuku/bab-ikejahatan-terhadap-keamanan-negara/
http://habiebahmadz.blogspot.com/2012/10/makar.ht
ml
http://dukunhukum.wordpress.com/2012/04/09/makar
-vs-jarimah-al-baghyu/
https://www.scribd.com/doc/65288217/makalahtentang-MAKAR
http://azharliqoh.blogspot.com/2010/01/islammenyikapi-pemberontakan.html
http://ihsan26theblues.wordpress.com/2011/01/18/jar
imah-bughat/
http://idayoce.blogspot.com/2013/12/gam-gerakanaceh-merdeka.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Aceh_Merdeka
http://mkssej6.blogspot.com/2012/10/pemberontakan
-andi-azis.html
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2014/03/peris
tiwa-pemberontakan-andi-azis-di-makassar.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Andi_Azis
http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Andi_Azis

BIOGRAFI PENULIS
Wahyuni Bachtiar lahir di Maros 17 Februari 1995.
Sekarang
dia
sedang
menjalani statusnya sebagai
mahasiswa Teknik Kimia di
Politeknik
Negeri
Ujung
Pandang. Dia meruapakan
anak
bungsu
dari
3
bersaudara pasangan Bapak
Bachtiar dan Ibu St. Hamrah.
Buku ini merupakan buku ketiga yang ia tulis setelah
buku pertamanya yang berjudul Revolusi Kehidupan
dan buku keduanya After the Rain. Dia menapaki
jejak pendidikan di SDN 17 Uludaya kemudian
melanjutkan di SMPN 12 Mallawa dan kemudian
SMAN 2 Pangkajene. Dia sempat melanjutkan
studinya di salah satau sekolah tinggi Farmasi di Palu
selama satu tahun sebelum akhirnya memutuskan
mengulang di Teknik Kimia Politeknik negeri Ujung
Pandang.
: Nhoenwahyuni@yahoo.com
: Nunii_Bachtiar
: Wahyunii bachtiar