Anda di halaman 1dari 4

I.

SISTEM PENGOLAHAN SECARA UMUM

Air Baku
Koagulasi
Floculasi
Pengendapan
Penyaringan
Desinfeksi
Air Bersih

II .

SUMBER AIR
Macam macam sumber air terdiri dari, antara lain :
- Air Tanah yaitu :
air tanah dangkal, air tanah dalam dan mata air
- Air Permukaan yaitu :
air dari sungai, danau waduk , telaga dan rawa
- Air Langit yaitu :
hujan dan salju

Umumnya sistem sistem pengadaan air bersih didaerah perkotaan,


kecamatan menggunakan air sungai, mata air dan air tanah dalam sebagai
sumber air baku, karena kapasitasnya cukup memenuhi syarat, sedangkan
untuk pedesaan sebagian besar menggunkan mata air dan air tanah dangkal.

2.1.

Koagulasi dan Flokulasi :


Suatu proses pengolahan air minum dimana zat zat padat melayang yang
sangat kecil dan koloid dikumpulkan dan membentuk flok flok dengan
cara menambahkan zat zat kimia, seperti alum sulfate. Proses ini
dilakukan dengan pengendapan atau penyaringan. Partikel koloid adalah
partikel dengan ukuran antara ukuran zat padat dan zat melayang. Zat yang
sering dihilangkan dengan koagulasi dan flokulasi adalah zat penyebab
kekeruhan dan warna.

2.2.

Pengendapan :
Suatu proses mengendapkan dan menghilangkan partikel melayang yang
terjadi pada saat air diam atau mengalir secara perlahan melalui sebuah
bak pengendap. Selama air mengalir, aliran sangat laminer dan partikel
partikel yang mempunyai berat jenis lebih besar daripada berat jenis air
akan mengendap. Partikel partikel ini akan diendapkan diatas dasar bak
membentuk lapisan lumpur. Air yangmencapai saluran bak sudah dalam
keadaan jernih.

2.3.

Filter :
Proses ini dilakukan dengan dua macam cara, tergantung dari kebutuhan
atau mobilitas serta keadaan dari air baku itu sendiri, seperti :
- Penyaringan dengan saringan pasir lambat :
adalah proses dimana air dibersihkan dengan melewatkan melalui
bahan berpasir dengan menggunakan butiran pasir yang berukuran
0,15 0,35 mm, sehingga air akan meresap kedalam lapisan
tersebut secara perlahan lahan.
- Penyaringan dengan saringan pasir cepat :
adalah proses dimana pasir biasanya digunakan sebagai media
saringan, kebanyakan ukuran pasir yang digunakan antara 0,6 1,2
mm.

2.4.

Disinfektan :
Disinfektan dilakukan setelah proses penyaringan. Hal ini dilakukan untuk
menghilangkan kontaminasi bakteri pada air minum dan merupakan proses
untuk mengoksidir bakteri yang dilakukan dengan cara membubuhkan zat
zat kimia seperti gas chlor atau kaporit.

2.5.

Air Bersih :
Adalah hasil terakhir dari suatu proses pengolahan air minum yang akan
didistribusikan kepada konsumen.

III.

BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN

Bahan kimia yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah sebagai
berikut :
Nama Umum
Tawas

IV.

Nama & Rumus Kimia


Aluminium Sulfat, Al 2 ( SO 4 ) 3
18H 2 O

Kegunaan Utama
Koagulan
Pengaturan pH dan
netralisasi
Pengaturan pH dan
netralisasi

Soda Ash

Natrium Karbonat, Na 2 CO 3

Kapur

Kalsium Dioksida, CaO

Kaporit

Kalsium Hipokhlorit, Ca(OCl) 2

Desinfektan

Gas Chlor

Chlorine, Cl 2

Desinfektan

ANALISA MINI LAB.

5.1.

JARTEST

Jartester

20

a. Alat dan bahan

25

30

35

40

Stop watch
Beaker Glass 1000 ml
Bahan kimia ( larutan tawas, kapur, dan kaporit )

Comparator
BTB dan Orthotolidine

b. Cara pengujian :

45

Tawas
1. Ambil sampel air baku ( sampel I ) 5 buah x 1000 ml, tambahkan
larutan tawas masing masing 25 ml, 30 ml, 35 ml, 40 ml, dan 45 ml
2. Aduk dengan alat pengaduk

Aduk cepat dengan 80 rpm selama 1 menit


Aduk sedang dengan 40 rpm selama 5 menit
Aduk lambat dengan 20 rpm selama 1 menit

3. Perhatikan flock yang terjadi, catat sampel yang memiliki flock


terbanyak, pengendapan tercepat dan terjernih sebagai sampel dengan
dosis optimal
4. Ambil sampel air baku pembanding ( sampel II ) di pulsator
( pengaduk / air terjun ) sebanyak 1000 ml
5. Aduk dengan alat pengaduk

Aduk sedang dengan kecepatan 40 rpm selama 5 menit


Aduk lambat dengan kecepatan 20 rpm selama 1 menit

6. Bandingkan sampel I dengan sampel II dengan cara :


a.
Lihat pada posisi mana sampel II terhadap sampel I
b. Ambil 10 ml air dari sampel I yang terbaik, beri satu tetes BTB,
kemudian ambil 10 ml air sampel II,
beri satu tetes BTB
bandingkan warna keduanya, dimana :
Jika sampel II berwarna lebih tua dari sampel I, maka air sampel
II kurang tawas
Jika sampel II berwarna lebih muda dari sampel I, maka air
sampel II kelebihan tawas
Jika sampel I dan sampel II berwarna sama, maka dosis dan
dosering seimbang. Air pada kondisi optimal.