Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Air Baku

2.1.1

Defenisi Air Baku

Sumber air baku memegang peranan yang sangat penting dalam industri air minum. Air
baku atau raw water merupakan awal dari suatu proses dalam penyediaan dan
pengolahan air bersih. Sekarang apa yang disebut dengan air baku. Berdasar SNI
6773:2008 tentang Spesifikasi unit paket Instalasi pengolahan air dan SNI 6774:2008
tentang Tata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan air pada bagian Istilah
dan Definisi yang disebut dengan Air Baku adalah :
Air yang berasal dari sumber air pemukaan, cekungan air tanah dan atau air hujan yang
memenuhi ketentuan baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum
Sumber air baku bisa berasal dari sungai, danau, sumur air dalam, mata air dan bisa juga
dibuat dengan cara membendung air buangan atau air laut. Evaluasi dan pemilihan
sumber air yang layak harus berdasar dari ketentuan berikut :
1. Kualitas dan kuantitas air yang diperlukan
2. Kondisi iklim
3. Tingkat kesulitan pada pembangunan intake
4. Tingkat keselamatan operator
5. Ketersediaan biaya minimum operasional dan pemeliharaan untuk IPA
6. Kemungkinan terkontaminasinya sumber air pada masa yang akan datang
7. Kemungkinan untuk memperbesar intake pada masa yang akan datang

Universitas Sumatera Utara

Dalam jumlah yang kecil, air bawah tanah, termasuk air yang dikumpulkan
dengan cara rembesan, bisa dipertimbangkan sebagai sebuah sumber air. Kualitas air
bawah tanah secara umum sangat baik bagi air permukaan dan dibeberapa tempat yang
memiliki musim dingin bisa memanfaatkan salju sebagai sumber air. Hal ini bisa
menghemat biaya operasional dan pemeliharaan karena secara umum kualitas air bawah
tanah sangat baik sebagai air baku. Khusus untuk air bawah tanah yang diambil dengan
cara pengeboran tentunya melalui perijinan. Hal ini untuk mencegah terjadinya
eksploitasi secara besar-besaran. Akibat dari ekplotasi secara besar-besaran bisa
mengakibatkan kekosongan air dibawah tanah karena tidak seimbangnya antara air yang
masuk dengan air yang diambil, sehingga menyebabkan pondasi bangunan yang berada
diatasnya bisa turun atau settlement seperti yang terjadi dibeberapa gedung di Jakarta,
juga bisa mengakibatkan intrusi air laut yang masuk merembes menggantikan air tanah
tersebut, akibatnya air menjadi asin dan tidak layak pakai seperti di utara Jakarta.

Disebutkan diatas bahwa tidak semua air baku bisa diolah, oleh karena itu
dibuatlah ketentuan sebagai standar kualitas air baku yang bisa diolah. Dalam SNI
6773:2008 bagian Persyaratan Teknis kualitas air baku yang bisa diolah oleh Instalasi
Pengolahan Air Minum (IPA) adalah :
1. Kekeruhan, maximum 600 NTU (nephelometric turbidity unit) atau 400 mg/l
SiO2
2. Kandungan warna asli (appearent colour) tidak melebihi dari 100 Pt Co dan
warna sementara mengikuti kekeruhan air baku.
3. Unsur-unsur lainnya memenuhi syarat baku air baku sesuai PP No. 82 tahun
2000 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
4. Dalam hal air sungai daerah tertentu mempunyai kandungan warna, besi dan
atau bahan organic melebihi syarat tersebut diatas tetapi kekeruhan rendah (<50
NTU) maka digunakan IPA system DAF (Dissolved Air Flotation) atau system
lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan.

2.1.2 Karakteristik Air Baku

Universitas Sumatera Utara

10

Penyediaan air bersih, selain kuantitasnya, kualitasnya pun harus memenuhi


standar yang berlaku. Dalam hal air bersih, sudah merupakan praktek umum bahwa
dalam menetapkan kualitas dan karakteristik dikaitkan dengan suatu baku mutu air
tertentu (standar kualitas air).Untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang
karakteristik air baku, seringkali diperlukan pengukuran sifat-sifat air atau biasa disebut
parameter kualitas air, yang beraneka ragam. Formulasi- formulasi yang dikemukakan
dalam angka-angka standar tentu saja memerlukan penilaian yang kritis dalam
menetapkan sifat-sifat dari tiap parameter kualitas air .

Standar kualitas air adalah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan sifat-sifat
fisik, kimia, radioaktif maupun bakteriologis yang menunjukkan persyaratan kualitas air
tersebut. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001Tentang
Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, air menurut kegunaannya
digolongkan menjadi :
Kelas I : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
Kelas II : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air,
pembudidayaan ikan air tawar, Peternakan, air untuk mengairi pertanaman
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.
Kelas III : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air
tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

11

2.2

Metode Pengolahan Air

Dalam mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersih diperlukan penerapan


teknologi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber air baku, kondisi sosial
budaya, ekonomi, dan SDM masyarakat setempat. Metode Oksidasi, Metode Adsorpsi,
Metode Koagulasi Flokulasi dan Metode Elektrokoagulasi. Berikut ini penjelasan dari
metode metode tersebut.

a.

Metode Oksidasi

Proses menggunakan Ozon ini pertama kali diperkenalkanNies dari Perancis sebagai
metode sterilisasi air minum pada tahun 1906. Aplikasi sistem ozonisasi sering
dikombinasikan dengan lampu ultraviolet atau hidrogen peroksida. Dengan melakukan
kombinasi ini akan didapatkan dengan mudah hidroksil radikal dalam air yang sangat
dibutuhkan dalam proses oksidasi senyawa organik. Teknologi oksidasi ini tidak hanya
dapat menguraikan senyawa kimia beracun yang berada dalam air, tapi juga sekaligus
menghilangkannya sehingga limbah padat (sludge) dapat diminimalisasi hingga
mendekati 100%.

b.

Metode Flokulasi

Flokulasi adalah penggabungan dari partikel partikel hasil koagulasi menjadi partikel
yang lebih besar dan mempunyai kecepatan mengendap yang lebih besar, dengan cara
pengadukan lambat. Dalam hal ini proses koagulasi harus diikuti flokulasi yaitu
pengumpulan koloid terkoagulasi sehingga membentuk flok yang mudah terendapkan
atau transportasi partikel tidak stabil, sehingga kontak antar partikel dapat terjadi.

c.

Metode Adsorbsi

Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase
fluida/cairan berpindah ke permukaan zat padat yang menjerap (adsorban). Biasanya
partikel-partikel kecil zat penyerap dilepaskan pada adsorpsi kimia, terbentuk ikatan
kuat antara penjerap dan zat yang dijerap sehingga tidak mungkin terjadi proses yang
bolak-balik. Pada adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat
adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya,

Universitas Sumatera Utara

12

sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media penjerap yang dalam hal ini
biasanya berbentuk padatan. Pada proses ini adsorbat menempel dipermukaan adsorban
membentuk suatu lapisan tipis (film). Dalam proses purifikasi air adsorban yang
digunakan biasanya berupa karbon sehingga dikenal istilah proses adsorbsi karbon.

d.

Metode Koagulasi

Koagulasi merupakan suatu proses pengolahan air dengan menggunakan sistem


pengadukan cepat sehingga dapat mereaksikan bahan kimia (koagulan) secara seragam
ke seluruh bagian air di dalam suatu reactor ehingga dapat membentuk flok-flok yang
berukuran lebih besar dan dapat diendapkan diproses sedimentasi. Pada dasarnya proses
koagulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara kimia dan cara fisika. Koagulasi
cara kimia yaitu proses penjernihan air dilakukan dengan memberikan penambahan
bahan kimia sebagai koagulan berbentuk garam (aluminium sulfat) untuk mempercepat
terjadinya pembentukan flok yang dapat diendapkan. Sedangkan koagulasi secara fisika
yang sering dinamakan dengan elektrokoagulasi merupakan metode pengolahan air
secara elektrokimia dimana pada anoda terjadi pelepasan koagulan aktif berupa ion
logam (biasanya aluminium atau besi) ke dalam larutan, sedangkan pada katoda terjadi
reaksi elektrolisis berupa pelepasan gas hidrogen (Holt et al, 2004)

2.3

Elektrokoagulasi

2.3.1

Defenisi Elektrokoagulasi

Elektrokoagulasi adalah proses penggumpalan dan pengendapan partikel partikel


halus yang terdapat dalam air dengan menggunakan energy listrik. Proses
elektrokoagulasi dilakukan pada bejana elektrolisis yang di dalamnya terdapat dua buah
penghantar arus listrik searah yang kita kenal sebagai elektroda. Adapun bagian dari
elektroda yang tercelup ke dalam larutan limbah akan dijadikan sebagai elektrolit.
Apabila dalam satu larutan elektrolit ditempatkan dua elektroda kemudian elektroda
tersebut dialiri oleh arus listrik searah maka akan terjadi suatu proses elektrokimia yang
berupa gejala dekomposisi elektrolit, yaitu ion positif (kation) bergherak ke katoda dan

Universitas Sumatera Utara

13

menerima elektron yang direduksi dan ion negative (anion) bergerak ke anoda dan
menyerahkan elektron yang dioksidasi. Sehingga nantinya akan membentuk flok yang
mampu mengikat kontaminan dan partikel partikel dalam limbah.

2.3.2

Proses Elektrokoagulasi

Elektrokoagulasi dikenal juga sebagai elektrolisis gelombang pendek. Elektrokoagulasi


merupakan suatu proses yang melewatkan arus listrik ke dalam air. Itu dapat digunakan
menjadi sebuah uji nyata dengan proses yang sangat efektif untuk pemindahan bahan
pengkontaminasi yang terdapat dalam air. Proses ini dapat mengurangi lebih dari 99%
kation logam berat. Pada dasarnya sebuah elektroda logam akan teroksidasi dari logam
M menjadi kation ( M n + ) . Selanjutnya air akan menjadi gas hydrogen dan juga ion
hidroksil (OH).

Adapun prinsip kerja dari sistem ini adalah dengan menggunakan dua buah
lempeng elektroda yang dimasukkan kedalam bejana yang telah diisi dengan air yang
akan dijernihkan. Selanjutnya kedua elektroda dialiri arus listrik searah sehingga
terjadilah proses elektrokimia yang menyebabkan kation bergerak menuju katoda dan
anion bergerak menuju anoda. Dan pada akhirnya akan terbentuk suatu flokulan yang
akan mengikat kontaminan maupun partikel partikel dari air baku tersebut.

Gambar 2.1 Gambar proses elektrokoagulasi (Purwaningsih. 2009)


Interaksi interaksi yang terjadi dalam larutan yaitu :

Universitas Sumatera Utara

14

1. Migrasi menuju muatan elektroda yang berlawanan (elektroporesis) dan


netralisasi muatan.
2. Kation ataupun ion hidroksil membentuk sebuah endapan dengan pengotor.
3. Interaksi kation logam dengan OH membentuk sebuah hidroksida dengan sifat
adsorbsi yang tinggi selanjutnya berikatan dengan polutan (bridge coagulation).
4. Senyawa hidroksida yang terbentuk membentuk gumpalan (flok) yang lebih
besar.
5. Gas hydrogen membantu flotasi dengan membawa pollutan kelapisan bulk flok
di permukaan cairan, (Holt P,2006).

2.3.3

Mekanisme Elektrokoagulasi

Apabila dalam suatu larutan elektrolit di tempat dua elektroda dan dialiri arus listrik
searah, maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu gejala dekomposisi elektrolit,
yaitu ion positif (kation) bergerak ke anoda dan (anion) bergerak ke Anoda dan
menyerahkan elektron menerima elektron yang dioksidasi. Sehingga membentuk flok
yang

mampu

mengikat

kontaminan

dan

partikel-partikel

dalam

limbah.

Elektrokoagulasi memiliki kemampuan untuk membersihkan berbagai polutan dengan


berbagai kondisi mulai dari: zat-zat padat tersuspensi; logam berat; produk petroleum;
warna dari larutan yang mengandung pewarna; humus cair; dan defluoridasi air.

Mekanisme

yang

mungkin

terjadi

pada

saat

proses

elektrokoagulasi

berlangsung yaitu arus dialirkan melalui suatu elektroda logam, yang mengoksidasi
logam (M) menjadi kationnya. Secara simultan, air tereduksi menjadi gas hydrogen dan
ion hidroksil (OH-). Dengan demikian elektrokoagulasi memasukkan kation logam in
situ, secara elektrokimia, dengan menggunakan anoda yang dikorbankan (biasanya
aluminium atau besi). Kation terhidrolisis di dalam air yang membentuk hidroksida
dengan spesies - spesies utama yang ditentukan oleh pH larutan. Kation bermuatan
tinggi mendestabilisasi setiap partikel koloid dengan pembentukan komplek
polihidrosida polivalen. Komplek-komplek ini memiliki sifatsifat penyerapan yang
tinggi, yang membentuk agregat dengan polutan. Evolusi gas hidrogen membantu dalam

Universitas Sumatera Utara

15

percampuran dan karenanya membantu flokulasi. Begitu flok dihasilkan, gas elektrolitik
menimbulkan efek pengapungan yang memindahkan polutan ke lapisan flok-foam pada
permukaan cairan.

Gambar 2.2 Mekanisme elektrokoagulasi (Holt, P, 2006)

2.4

Kelebihan dan Kekurangan Elektrokoagulasi

Menurut Purwaningsih (2008) dalam skripsi Moraida Hasanah (2011) terdapat banyak
kelebihan dalam pengolahan air dengan metode elektrokoagulasi, begitu pula dengan
kekurangannya, berikut ini penjelasan dari keduanya.

2.4.1

Kelebihan Elektrokoagulasi

1. Elektrokoagulasi

memerlukan

peralatan

sederhana

dan

mudah

untuk

dioperasikan.
2.

Elektrokoagulasi lebih cepat mereduksi kandungan koloid/partikel yang paling


kecil, hal ini disebabkan pengaplikasian listrik kedalam air akan mempercepat
pergerakan mereka didalam air dengan demikian akan memudahkan proses.

Universitas Sumatera Utara

16

3. Gelembung-gelembung gas yang dihasilkan pada proses elektrokoagulasi ini


dapat membawa polutan ke atas air sehingga dapat dengan mudah dihilangkan.
4. Dapat memberikan efisiensi proses yang cukup tinggi untuk berbagai kondisi,
dikarenakan tidak dipengaruhi temperatur
5. Tidak diperlukan pengaturan pH.
6. Tanpa menggunakan bahan kimia tambahan.
7. Endapan yang terbentuk dari proses elektrokoagulasi lebih mudah dipisahkan
dari air
8. Dapat memindahkan partikel partikel koloid yang lebih kecil
9. Dapat diatur arus listriknya.

2.4.2

Kelemahan Elektrokoagulasi

Adapun kekurangan dari proses elektrokoagulasi ini adalah:


1. Tidak dapat digunakan untuk mengolah cairan yang mempunyai sifat elektrolit
cukup tinggi dikarenakan akan terjadi hubungan singkat antar elektroda.
2. Besarnya reduksi logam berat dalam cairan dipengaruhi oleh besar kecilnya arus
voltase listrik searah pada elektroda, luas sempitnya bidang kontak elektroda dan
jarak antar elektroda.
3. Elektrodanya dapat terlarut sehingga dapat mengakibatkan terjadinya oksidasi
4. Penggunaan listrik yang mungkin mahal

2.5 Plat Elektroda

Pada dasarnya, proses elektrokoagulasi merupakan pengembangan dari proses


elektrolisis yang menggunakan elektroda sebagai titik tumpu pengendali prinsip kerja
system ini. Elektrolisis merupakan penguraian elektrolit oleh arus listrik searah dengan
menggunakan dua macam elektroda. Adapun elektroda yang digunakan yaitu berupa
katoda dan anoda. Dalam prosesnya, katoda bertindak sebagai kutub negative. Pada

Universitas Sumatera Utara

17

katoda terjadi reaksi reduksi, yaitu kation (ion positif) yang ditarik oleh katoda dan akan
menerima tambahan elektron, sehingga bilangan oksidasinya berkurang.
Dalam prakteknya, katoda akan menghasilkan ion hydrogen yang mengangkat
berbagai flokulan yang terbentuk pada saat proses elektrokoagulasi berlangsung,
sehingga setelah proses elektrokoagulasi selesai, maka akan terlihat bercak bercak
putih yang terdapat pada katoda tanda dari keluarnya ion hydrogen pada bagian
tersebut.

Berbeda dengan katoda maka pada proses elektrolisis maupun elektrokoagulasi,


anoda berperan sebagai sebagai kutub negative. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi,
yaitu anion (ion negative) ditarik oleh anoda dan jumlah elektronnya akan berkurang
sehingga oksidasinya bertambah. Maka hal inilah yang menyebabkan bahwa pada saat
proses elektrokoagulasi berlangsung, flokulan flokulan yang terbentuk akan banyak
menempel pada anoda sebagai agen koagulan.

2.5.1

Reaksi pada Elektroda

Seperti yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya, terdapat dua macam reaksi yang
terjadi pada saat proses elektrokoagulasi berlangsung, yaitu reaksi oksidasi dan reduksi
yang terjadi pada plat yang berbeda, maka berikut ini penjelasan mengenai kedua reaksi
tersebut yang terjadi pada anoda maupun katoda.

a. Reaksi Pada Katoda

Reaksi pada katoda adalah reduksi pada kation. Sehingga yang akan menjadi pusat
perhatian hanyalah pada bagian kation saja.
1. Jika larutan mengandung ion ion logam alkali, ion ion logam alkali tanah,
ion logam Al 3+ dan ion Mg 2 + , maka ion ion logam alkali ini dapat direduksi
dari larutan. Yang akan mengalami reduksi adalah pelarut (air) dan terbentuk gas
hydrogen. Berikut reaksinya:

Universitas Sumatera Utara

18

2 H 2O

2 OH + H 2

2e

2. Jika larutan mengandung asam, maka ion H dari asam akan direduksi menjadi
gas hydrogen pada katoda.
2H+ +

2e

H2

3. Jika larutan mengandung ion ion lain, maka ion ion logam ini akan direduksi
menjadi logamnya dan logam yang terbentuk itu diendapkan pada permukaan
batang katoda, (Suaib, 1994).
Fe 2 + +

2e

Fe

Mg 2 + + 2e

Mg

b. Reaksi Pada Anoda

1. Elektroda pada anoda, elektrodanya dioksida menjadi ionnya.


Al

Al 3+

3e

Zn

Zn 2 + +

2e

2. Dalam sistem elektrokimia dengan anoda terbuat dari aluminium, beberapa


kemungkinan reaksi elektroda dapat terjadi sebagai berikut :

2.5.2

Anoda

Al

Katoda

2 H 2O

Al 3+

2e

+ 3e

2 OH + H 2

Logam Aluminium

Aluminium merupakan salah satu logam anorganik yang dijumpai dalam air minum.
Konsentrasi aluminium yang tinggi bisa mengendap sebagai aluminium hidroksida yang
mempengaruhi kehidupan air. Perannya tidak bisa dihindari karena senyawa-senyawa
aluminium ditambahkan bukan hanya ke suplai air tetapi juga kebanyak makanan dan
obat yang diproses.

Universitas Sumatera Utara

19

Aluminium merupakan unsure yang tidak berbahaya. Perairan alami biasanya


memiliki kandungan aluminium kurang dari 1,0 mg/L. Perairan asam (acidic) memiliki
kadar aluminium yang lebih tinggi. Untuk memelihara kehidupan organism akuatik
sebaiknya tidak lebih dari 0,005 g/L bagi perairan dengan pH <6,5. Kadar aluminium
pada perairan biasanya sekitar 0,01 mg/L. Percobaan toksisitas aluminium terhadap
avertebrata Chironomus anthrocinus menunjukkan bahwa kadar aluminium 1mg/L pada
perairan dengan pH 3,5 6,5 tidak mengakibatkan terjadinya tingkat mortalitas.

Pada perairan yang bersifat asam (pH sekitar 4,4 5,4) aluminium bersifat lebih
toksik. Toksisitas aluminium maksimum terjadi pada pH 5,0 5,2. Diperairan,
aluminium (Al) biasanya terserap ke dalam sedimen atau mengalami presipitasi.
Aluminium dan bentuk oksida aluminium bersifat tidak larut. Akan tetapi, garam
garam

aluminium

sangat

mudah

larut.

Sumber

aluminium

adalah

mineral

aluminosilicate yang terdapat pada batuan dan tanah secara melimpah. Pada proses
pelapukan batuan, aluminium berada dalam bentuk residu yang tidak larut, misalnya
bauxite.

Aluminium banyak digunakan di pabrik kertas, dyes, penyamakan, dan


percetakan. Aluminium yang berupa alum (A2 (4 )3 . 42 ) digunakan sebagai

koagulan dalam pengolahan limbah. Adapun aluminium juga merupakan salah satu
elektroda yang dapat digunakan dalam proses elektrokoagulasi karena nilai

konduktivitasnya yang cukup tinggi sehingga dianggap baik untuk menghantarkan


muatan muatan listrik dalam proses tersebut.

2.5.3

Pelarutan Logam di Larutan

Pada proses elektrokoagulasi, penggunaan logam sebagai elektroda yang dialiri oleh
arus listrik akan menyebabkan sebagian dari kandungan kandungan logam terlepas
pada air dan bahkan akan terlalut pada air itu sendiri. Jika dua elektroda dari logam,

Universitas Sumatera Utara

20

misalnya Aluminium, dimasukkan dalam bejana diisi air yang didestilisasikan, yang
satu dihubungkan dengan ujung positif dari sumber arus searah, yang lainnya dengan
ujungnya yang negatif, maka tidak ada terdapat arus sama sekali. Jika sedikit asam
misalnya asam sulfat (H2SO4), atau sodium hydroxide (NaOH), atau Aluminium Sulfat
(Al2SO4), atau garam, maka larutan ini tahanannya cukup rendah sehingga arus dapat
mengalir.

Tahanan larutan itu tergantung pada konsentrasi dan pada temperatur. Larutan
yang menghantar arus listrik disebut elektrolit, fenomena penghantaran yang dibarengi
oleh efek-efek kimia disebut elektrolisa. Bejana dimana elektrolit dan elektrodaelektroda itu disebut sel elektrolit. Elektroda-elektroda platina di dalam larutan asam,
zat air akan dibentuk sebagai gelembung-gelembung gas pada elektroda negative dan
zat asam dibentuk dan dibebaskan sebagai gelembung - gelembung gas pada elektroda
positif.

Pada tahun 1833, Michel Faraday mengamati bahwa air murni hampir
merupakan isolator yang sempurna dan larutan dari sesuatu bahan menghantar listrik.
Akibat aliran arus listrik searah ke dalam larutan elektrolit akan terjadi perubahan kimia
dalam larutan tersebut. Menurut Michael Faraday (1834) lewatnya arus 1 F
mengakibatkan oksidasi 1 massa ekivalen suatu zat pada suatu elektroda (anoda) dan
reduksi 1 massa ekivalen suatu zat pada elektroda yang lain (katoda).

Hukum Faraday I: Massa zat yang timbul pada elektroda karena elektrolisis
berbanding lurus dengan jumlah listrik yang mengalir melalui larutan.
Atau dapat diartikan bahwa Hukum faraday mengenai elektrolisa menjelaskan bahwa
jumlah gram massa ekivalen dari zat yang menempel, dibebaskan, larut, atau bereaksi
pada suatu elektroda sama dengan jumlah faraday (96.500 coul) dari muatan listrik yang
dipindahkan melalui elektrolit. Jadi hukum Faraday dapat dirumuskan sebagai berikut:
w ~ Q
w ~ I.t Q

Universitas Sumatera Utara

21

. .

. .

(2.1)

= massa zat yang diendapkan (g).

= jumlah arus listrik = muatan listrik (C)

= tetapan = (gek : F)

= kuat arus listrik (A).

= waktu (dt).

gek

= massa ekivalen zat (gek) = 6,02 x 1023 e

Ar

= massa atom relatif.

= valensi ion.

= bilangan faraday (96 500 C)

2.6 Arus Pada Elektroda

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Muatan
listrik bisa mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya. Pada zaman dulu,
Arus konvensional didefinisikan sebagai aliran muatan positif, sekalipun kita sekarang
tahu bahwa arus listrik itu dihasilkan dari aliran electron yang bermuatan negatif ke arah
yang sebaliknya. Satuan SI untuk arus listrik adalah ampere (A). Arus listrik adalah
besaran skalar karena baik muatan maupun waktu merupakan besaran skalar. Dalam
banyak hal sering digambarkan arus listrik dalam suatu sirkuit menggunakan panah,
salah satunya seperti pada diagram di atas. Panah tersebut bukanlah vektor dan tidak
membutuhkan operasi vektor.

Arus listrik merupakan gerakan kelompok partikel bermuatan listrik dalam arah
tertentu. Arah arus listrik yang mengalir dalam suatu konduktor adalah dari potensial
tinggi ke potensial rendah (berlawanan arah dengan gerak elektron). Satu ampere sama
dengan 1 couloumb dari electron melewati satu titik pada satu detik.

Universitas Sumatera Utara

22

Muatan listrik bisa mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya. Pada
zaman dulu, arus konvensional didefinisikan sebagai aliran muatan positif, sekalipun
kita sekarang tahu bahwa arus listrik itu dihasilkan dari aliran elektron yang bermuatan
negatif ke arah yang sebaliknya. Secara matematis, nilai arus listrik dapat dicari dengan
cara membandingkan nilai dari beda potensial yang terdapat pada rangkaian dengan
nilai hambatan yang terjadi. Adapun nilai dari arus listrik akan sebanding dengan beda
potensial pada rangkaian tersebut. Berikut ini persamaan yang menyatakan hubungan
ketiga besaran tersebut.

i=
I

: arus listrik (Ampere)

: tegangan (Volt)

: Resistansi (Ohm)

(2.2)

Menurut hukum ohm nilai resistansi R akan bergantung (berbanding lurus) pada
panjang suatu bahan dan hambatan jenis dan berbanding terbalik dengan luas
penampang bahan tersebut. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

R=

: Resistansi (Ohm)

: Hambatan jenis (Ohm.meter)

: Panjang bahan (meter)

: Luas penampang (m2)

(2.3)

Universitas Sumatera Utara

23

2.7

Pengadukan

Pengadukan (mixing) merupakan suatu aktivitas operasi pencampuran dua atau lebih zat
agar diperoleh hasil campuran yang homogen. Pada media fase cair, pengadukan
ditujukan untuk memperoleh keadaan yang turbulen (bergolak). Aplikasi pada bidang
teknologi lingkungan pengadukan digunakan untuk proses fisika seperti pelarutan bahan
kimia dan proses pengentaian (thickening), proses kimiawi seperti koagulasi flokulasi
dan disinfeksi, proses biologis untuk mencampur bakteri dan air limbah.

Proses pengadukan sangat berpengaruh terhadap proses flokulasi yaitu proses


penggabungan inti flok sehingga menjadi flok berukuran lebih besar. Pengadukan pada
proses koagulasi merupakan suatu proses pemberian energi agar terjadi tumbukan antar
partikel tersuspensi dan koloid agar terbentuk gumpalan (flok) sehingga dapat
dipisahkan melalui proses pengendapan dan penyaringan.

Partikel dan koloid yang dihasilkan dari proses elektrokoagulasi pada umumnya
bermuatan listrik sama yang menyebabkan terjadinya tumbukan antar partikel (terjadi
gerak Brown). Hal ini berakibat terjadinya suatu suspense yang sangat stabil. Flokulator
umumnya dibuat secara seri seiring penurunan kecepatan putaran agar diperoleh
pencampuran sempurna, yaitu partikel dapat saling berkontak, sehingga diperoleh hasil
akhir yang memuaskan.

2.7.1

Jenis Pengadukan

Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan


pengadukan dan metode pengadukan. Berdasarkan metodenya, pengadukan dibedakan
menjadi pengadukan mekanis, pengadukan hidrolisis, dan pengadukan pneumatic.

Universitas Sumatera Utara

24

a. Pengadukan Mekanis

Pengadukan mekanis adalah metode pengadukan dengan menggunakan alat


pengaduk berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik.
Umumnya pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung
pengaduk (impeller).

b. Pengadukan Hidrolisis

Pengadukan hidrolisis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air


sebagai tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi
hidrolik yang dihasilkan dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa
energy gesek, energy potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam
suatu aliran.

c. Pengadukan Pneumatis

Pengadukan pneumatic adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas)


berbentuk gelembung yang dimasukkan kedalam air sehingga menimbulkan
gerakan pengadukan. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan
menimbulkan turbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air.
Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin
besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.

Jenis pengadukan dalam pengolahan air dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan


pengadukan dan metode pengadukan. Berdasarkan kecepatan pengadukan dibedakan
menjadi pengadukan cepat dan pengadukan lambat.

a. Pengadukan Cepat

Tujuan pengadukan cepat dalam pengolahan air adalah untuk menghasilkan


turbulensi air sehingga mendispersikan bahan kimia yang akan dilarutkan dalam

Universitas Sumatera Utara

25

air. Secara umum, pengadukan cepat adalah pengadukan yang dilakukan pada
gradient kecepatan berkisar antara 100 hingga 1000 per menit. Pengadukan
cepat ini haruslah dilakukan pada aliran air yang menghasilkan energi hidrolik
yang besar. Maka dalam hal ini dapat dilihat dari besarnya kehilangan energi
atau perbedaan muka air

b. Pengadukan Lambat

Tujuan pengadukan lambat dalam pengolahan air adalah untuk menghasilkan


gerakan air secara perlahan sehingga terjadi kontak antar partikel untuk
membentuk gabungan partikel yang berukuran besar. Pengadukan lambat
digunakan pada proses flokulasi, hal ini bertujuan untuk pembesaran inti
penggumpalan. Gradien kecepatan diturunkan secara perlahan agar gumpalan
yang telah terbentuk tidak pecah lagi dan berkesempatan untuk bergabung
dengan yang lain membentuk gumpalan yang lebih besar. Penggabungan inti
gumpalan sangat tergantung pada karakteristik flok dan nilai gradient kecepatan.

Dalam hal mekanis, pengadukan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa


konfigurasi. Diantaranya adalah konfigurasi dasar, daun, gerbang, jari maupun helix.
Namun yang lebih sering digunakan adalah pengadukan dengan konfigurasi dasar, hal
ini disebabkan karena konfigurasi ini dapat melakukan pengadukan cepat maupun
pengadukan lambat.

2.8

pH

pH ( Power of Hydrogen ), adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan


tingkat keasaman atau kebasaan (alkalis), yang dimiliki oleh suatu larutan. Derajat
keasaman ini didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen yang terlarut.
Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga
nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia

Universitas Sumatera Utara

26

bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan


berdasarkan persetujuan internasional.

Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 C ditetapkan sebagai
7,0. Jika suatu larutan memiliki nilai pH yang kurang daripada tujuh maka larutan
tersebut bersifat asam yang biasanya terdapat pada larutan larutan ataupun air di
daerah sekitar rawa maupun lahan gambut yang tidak layak untuk minum dan larutan
dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH
sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan
kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan),
dan oseanografi.

2.9 Warna

Warna timbul akibat suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, di samping adanya
bahan pewarna tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Warna perairan
biasanya dikelompokkan menjadi dua, yaitu warna sesungguhnya (true color) dan warna
yang tampak (apparent color). Warna sesungguhnya adalah warna yang hanya
disebabkan oleh bahan bahan kimia terlarut. Pada penentuan warna sesungguhnya,
bahan bahan tersuspensi yang dapat menyebabkan kekeruhan dipisahkan terlebih
dahulu. Warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut,
tetapi juga oleh bahan tersuspensi.

Warna dapat diamati secara visual (langsung) ataupun diukur berdasarkan


platinum kobalt (Pt Co) dengan membandingkan warna air sampel dan warna standar.
Intensitas warna cenderung meningkat dengan meningkatnya nilai pH. Warna perairan
pada umumnya disebabkan oleh partikel koloid bermuatan negative sehingga
penghilangan warna diperairan dapat dilakukan dengan penambahan koagulan yang
bernilai positif misalnya aluminium dan besi. Warna dapat menghambat penetrasi
cahaya kedalam air dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesi.

Universitas Sumatera Utara

27

2.10

Kekeruhan

Kekeruhan air tergantung pada warna. Kekeruhan merupakan ukuran transpari perairan
yang ditentukan secara visual . Kekeruhan menggambarkan sifat optic air yang
ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan
bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organic dan
anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus) maupun
bahan organic dan anorganik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain.
Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas yang setara dengan 1mg/L Si2 .

Kekeruhan sering diukur dengan metode Nephelometric. Pada metode ini sumber
cahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan
bahan penyebab kekeruhan yang diukur dengan menggunakan suspense polimer
formazin sebagai larutan standar.

Satuan kekeruhan yang diukur dengan metode nephelometric adalah


nephelometric turbidity unit. Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan.
Semakin tinggi nilai padatan tarsuspensi, nilai kekeruhan jga akan menjadi semakin
tinggi. Kekeruhan pada perairan yang tergenang misalnya pada danau, lebih banyak
disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan partikel partikel halus.
Sedangkan kekeruhan pada saungai pada saat banjir lebih banyak disebabkan oleh
bahan bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan
tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan

2.11

Suhu

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari
permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran
serta kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia,
dan biologi badan air.

Universitas Sumatera Utara

28

Peningkatan suhu juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air. Selain
itu peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan
selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Cahaya matahari yang
masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan menjadi energy panas.
Proses penyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif pada lapisan atas
sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi dan densitas yang lebih
kecil dibandingkan dengan lapisan bawah.

2.12

Daya Hantar Listrik

Daya Hantar Listrik atau konduktivitas adalah gambaran numeric dari kemampuan air
untuk meneruskan aliran listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam garam
terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL. Reaktivitas, bilangan
valensi, dan konsentrasi ion ion pelarut sangat berpengaruh terhadap nilai DHL.

Asam, basa, dan garam merupakan penghantar listrik yang baik (konduktor)
sedangkan bahan organic, misalnya sukrosa dan benzene yang tidak dapat mengalami
disosiasi merupakan penghantar listrik yang jelek. Perairan laut memiliki nilai DHL
yang sangat tinggi karena banyak mengandung garam terlarut.

Parameter

yang

menggambarkan

karakteristik

kimia

dari

air

adalah

konduktivitas. Konduktivitas larutan adalah ukuran kemampuan larutan tersebut untuk


menghantarkan arus listrik. Arus listrik dialirkan oleh ion-ion dalam larutan, oleh
karena itu konduktivitas meningkat apabila konsentrasi ion meningkat. Perbedaan
konduktivitas dipengaruhi oleh komposisi, jumlah ion terlarut dan salinitas suhu. Tinggi
rendahnya daya hantar listrik pada air dapat menunjukkan banyaknya jumlah logam
yang terlarut dalam air.

Universitas Sumatera Utara

29

Nilai konduktivitas suatu bahan juga dapat diperhitungkan dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut.

dengan :

: konduktivitas suatu bahan (-1m-1)

: resistivitas jenis bahan (.m)

(2.4)

Air murni adalah air yang bebas kandungan ion bebas sehingga tidak
menghantarkan listrik. Namun, pengertian untuk air yang layak konsumsi bagi kita
manusia justru bukan air murni, tapi air murni dengan sifat konduktifitas pada taraf
wajar. Karena sifat konduktifitas wajar ini diperlukan bagi metabolisme tubuh kita.

Berdasarkan daya hantar listrik, larutan terbagi menjadi 2 (dua) golongan :


1. Larutan elektrolit
a. Dapat menghantarkan daya listrik
b. Terjadi proses ionisasi
c. Lampu menyala dengan terang
2. Larutan non- elektrolit
a. Tidak dapat menghantar arus listrik
b. Tidak terjadi ionisasi
c. Lampu menyala redupDaya Hantar Listrik (DHL) dapat dipakai sebagai indikator
tingkat pencemaran parameter inorganik (terutama mineral terlarut). DHL juga
merupakan parameter yang menunjukkan tingkat salinitas dari suatu badan air yang
berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup, pemanfaatan air baku, dan korosifitas.

Universitas Sumatera Utara