Anda di halaman 1dari 4

GIZI BURUK

Definisi
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan
asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi
buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut
tidak naik) dan tidak disertai tanda-tanda bahaya.
Penyebab Gizi buruk
Penyebab terjadinya gizi buruk secara langsung antara lain:
1)

Penyapihan yang terlalu dini

2)

Kurangnya sumber energi dan protein dalam makanan TBC

3)

Anak yang asupan gizinya terganggu karena penyakit bawaan seperti


jantung atau metabolisme lainnya.

Penyebab tidak langsung:


4)

Daya beli keluarga rendah/ ekonomi lemah

5)

Lingkungan rumah yang kurang baik

6)

Pengetahuan gizi kurang

7)

Perilaku kesehatan dan gizi keluarga kurang

Pedoman untuk mengetahui anak kurang gizi adalah dengan melihat berat dan tinggi
badan yang kurang dari normal, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurang gizi
pada anak.
1.

Jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut mempengruhi.

2.

Anak yang mulai bisa berjalan mudah terkena infeksi atau juga tertular oleh
penyakit-penyakit lain.

3.

Lingkungan yang kurang bersih, sehingga anak mudah sakit-sakitan. Karena


sakit-sakitan tersebut, anak menjadi kurang gizi.

4.

Kurangnya pengetahuan orang tua terutama ibu mengenai gizi.

5.

Selain karena makanan, anak kurang gizi bisa juga karena adanya penyakit
bawaan yang memaksa anak harus dirawat. Misalnya penyakit jantung dan paru-

paru

bawaan.

Pembagian gizi buruk


Ada tiga tipe gizi buruk, antara lain:
a)

Marasmus: Anak sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng


dan rewel, rambut tipis, jarang, kusam, berubah warna, kulit keriput karena lemak
di bawah kulit berkurang, iga gambang, bokong baggy pant, perut cekung, wajah
bulat sembab.

b)

Kwarsiorkor: rewel, apatis, rambut tipis, warna jagung, mudah


dicabut tanpa rasa sakit, kedua punggung kaki bengkak, bercak merah kehitaman, di
tungkai atau bokong.

c)

Gabungan dari marasmus dan kwarsiorkor


Marasmus-Kwashiorkor merupakan suatu kondisi dimana terjadi defisiensi kalori
dan protein, ditandai oleh penciutan jaringan yang berat, hilangnya lemak subkutan,
dan biasanya dengan dehidrasi.

Dampak Gizi buruk


Dampak gizi buruk pada anak terutama balita
2)

Pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa


terhambat.

3)

Mudah terkena penyakit ispa, diare, dan yang lebih sering terjadi.

4)

Bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif.

Pencegahan gizi buruk


Pencegahan Gizi Buruk dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui.
Usaha-usaha tersebut dapat memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk
pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.

Pengobatan Gizi Buruk


Tujuan pengobatan pada penderita gizi buruk adalah pemberian diet tinggi protein
serta mencegah kekembuhan. Penderita gizi buruk tanpa komplikasi dapat berobat jalan
asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita
yang mengalami komplikasi seta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat
perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam
beberapa tahap.
1. Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa krisis, yaitu tindakan untuk
menyelamatkan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis
dengan pemberian intravena.
2. Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerluka
koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan
penyesuaian pemberian makanan. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet
tinggi kalori tinggi protein ini lebih kurang 7-10 hari.
Kader memantau pertumbuhan dan perkembangan balita gizi burik secara rutin di
posyandu dan pemberian PMT pemulihan. Bila kader menemui kesulitan dalam hal

tersebut, kader merujuk ke puskesmas untuk mencari tahu penyebab lain dari gizi buruk.
Bila sudah ditemukan adanya penyebab atau tidak gizi buruk, kader kembali memberikan
penyuluhan mengenai pemberian pola makan serta hidup bersih dalam rumah dan
lingkungannya. Kader juga harus mampu menjelaskan bagaimana cara pengolahan
makanan yang sehat dan bergizi dengan biaya yang terjangkau serta variasi dalam
pengolahan makanan.