Anda di halaman 1dari 7

Gagal Jantung Kronik dan Hipertensi

pada Pasien dengan Keluhan Sering Merasa Sesak


Jennifer Crystalia
102013462 / F6
MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jalan Arjuna Utara No. 6
Jakarta 11510
crystaliajennifer@yahoo.com
Pendahuluan
Latar Belakang
Makalah yang berjudul Gagal Jantung Kronik dan Hipertensi pada Pasien dengan Keluhan
Sering Merasa Sesak dilatarbelakangi oleh berbagai kasus kardiovaskuler yang memiliki
beragam karakteristik keluhan dan memiliki angka prevalensi yang sangat tinggi di
Indonesia.
Tujuan
Pembuatan makalah ini diharapakan dapat memberikan pengetahuan mengenai penyakit
gagal jantung kronik yang meliputi etiologi, patofisiologi, gejala, dan tatalaksananya.
Rumusan Masalah
Laki-laki usia 60 tahun dengan keluhan sering sesak bila beraktivitas, batuk kering, tidak
disertai demam dan nyeri dada, serta merasa nafas sering tersengal-sengal terutama saat
berjalan agak jauh sejak 6 bulan yang lalu.
Analisis Masalah
Laki-laki usia 60 tahun dengan keluhan sering sesak bila beraktivitas,
batuk kering, tidak disertai demam dan nyeri dada, serta merasa nafas
sering tersengal-sengal terutama saat berjalan agak jauh sejak 6 bulan
yang lalu.

Etiologi
Epidemiologi
Gambaran klinis
Patofisiologi

Anamnesis
Pemeriksaan fisik dan
penunjang
Differential &working
diagnosis

Penatalaksanaan
Komplikasi
Pencegahan
Prognosis

Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diperoleh, hipotesis yang didapat adalah pasien
menderita gagal jantung kronik.
Pembahasan
Anamnesis
Sebelum menegakkan diagnosis, diperlukan data dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Anamnesis ditanyakan identitas diri pasien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang (RPS), riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit keluarga (RPK),
dan riwayat sosial. Pada identitas diri pasien ditanyakan nama, usia, alamat, dan pekerjaan.
Adapun keluhan utama adalah keluhan yang membuat pasien datang ke dokter. Pada kasus ini
pasien mengeluh rasa nyeri, sehingga perlu ditanyakan onset penyakit, lokasi, kualitas
(karakteristik nyeri), durasi, frekuensi, waktu (biasanya muncul saat kapan), factor yang
memperberat dan memperingan gejala, serta gejala lain yang menyertai keluhan.

Perlu

ditanyakan juga riwayat obat yang diminum pasien, seperti nama obat, dosis, cara pemberian,
dan frekuensi penggunaan. Lalu carilah informasi RPD dengan menanyakan apakah pasien
pernah mengalami penyakit ini sebelumnya, apakah pasien pernah dioperasi sebelumnya, dan
apakah pasien pernah menderita penyakit lain sebelumnya, misalnya diabetes, hipertensi,
hepatitis, asma, dll. Untuk RPK, tanyakan apakah di keluarga pasien ada yang mengalami
penyakit-penyakit, seperti hipertensi, dll. Kemudian tanyakan juga riwayat pribadi dan
sosialnya yang berupa kebiasaan gaya hidup orang tersebut. Kebiasaan tersebut meliputi
olahraga dan makanan, seperti frekuensi olahraga dan asupan makanan setiap hari. 1
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pasien ini sakit berat dan kesadarannya compos mentis. Pada pemeriksaan
TTV, didapatkan tekanan darah 120/90, nadi 100x/ menit, nafas 22x/ menit, dan suhu afebris.
Pada pemeriksaan auskultasi, terdengar suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-. Adapun
bunyi jantung 1 dan bunyi jantung 2 murni regular, murmur -, gallop -. Selain itu, terdapat
edema pada kaki kanan dan kiri.
Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan EKG, ditemukan gelombang Q patologis pada V1 sampai V3.

Differential diagnosis
Diagnosis banding pada kasus ini ialah gagal jantung akut (Acute Heart Failure) dan jantung
koroner.
Etiologi
Gagal jantung adalah suatu sindroma klinik yang kompleks karena kelainan structural dan
fungsional jantung yang mengganggu kemampuan ventrikel untuk diisi dengan darah atau
untuk mengeluarkan darah. Gagal jantung terjadi jika curah jantung tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan tubuh akan O2.

Adapun gagal jantung memiliki gejala yang khas

berupa sesak nafas dan lelah karena kerusakan jantung secara fungsional atau structural
tersebut. Gagal jantung menjadi sering pada popuilasi pasien yang bertahan dari miokard
infark dengan kerusakan persisten pada otot jantung. Gagal jantung dapat mengganggu
kemampuan ventrikel untuk menerima dan mengeluarkan darah sehingga gejala yang muncul
berupa sesak nafas dan lelah yang menyebabkan bendungan pada paru dan edema perifer.
Gagal jantung terdiri dari berbagai macam tipe, tapi pada kasus ini hanya akan dibahas
mengenai perbedaan gagal jantung akut dan kronik. Gagal jantung akut ditandai dengan
edema pulmonal dan memerlukan terapi segera (kasus urgensi).

Contoh gagal jantung akut

adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis, trauma atau infark miokard
luas. Curah jantung yang menurun secara tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah
tanpa disertai edema perifer. Contoh gagal jantung kronis adalah kardiomiopati dilatasi.
Kongesti perifer sangat mencolok tetapi tekanan darah masih terpelihara dengan baik. 2
Epidemiologi
Risiko pada laki-laki lebih besar dari pada perempuan.

Pada penelitian di Eropa dan

Amerika Utara, prevalensi gagal jantung terjadi pada 2% populasi penduduk dan meningkat
seiring dengan bertambahnya usia, sementara pada penduduk berusia lebih muda (di bawah
40 tahun), hanya sedikit yang menderita gagal jantung. 3
Patofisiologi
Pada saat curah jantung tidak mencukupi kebutuhan tubuh akan oksigen, terjadi kompensasi
dengan 2 mekanisme utama yakni system simpatis dan system rennin-angiotensin-aldosteron
(RAA). Aktivitas simpatis terjadi sebagai reaksi terhadap penurunan curah jantung yang
dipersepsi oleh baroreseptor. Peningkatan aktivitas simpatis menyebabkan peningkatan
3

kontraksi otot jantung dan frekuensi denyut jantung melalui stimulasi reseptor adrenergic
beta 1 di jantung. Akibatnya terjadi peningkatan curah jantung. Pada system RAA dimulai
dengan sekresi rennin oleh sel jukstaglomerular di ginjal sebagai reaksi kurangnya perfusi ke
ginjal. Sekresi rennin menghasilkan angiotensin II yang memilki efek sebagai vasokonstriktor
dan produksi aldosteron di korteks adrenal. Kedua efek ini akan meningkatkan preload
jantung sehingga tekanan pengisian ventrikel (preload) meningkat dan meningkatkan curah
jantung (menurut hokum Frank-Starling) sebagai langkah kompensasi.
Namun, mekanisme kompensasi ini tidak berjalan lama dan malah memperburuk keadaan
jantung. Hal yang akan terjadi adalah hipertrofi dinding ventrikel (untuk meningkatkan
kontraktilitas miokard). Tekanan yang tinggi pada dinding ventrikel yang berlebihan ini
memicu apoptosis sel jantung dan proliferasi jaringan ikat (fibrosis) sehingga kontraktilitas
jantung menurun. Proses ini disebut remodeling jantung. Penurunan kontraktilitas jantung
turut menyebabkan curah jantung makin menurun. Dengan demikian terjadi dekompensasi
jantung. 2
Manifestasi klinis
Manifestasi gagal jantung yang utama adalah sesak nafas dan rasa lelah yang membatasi
kemampuan melakukan kegiatan fisik. Selain itu terdapat retensi cairan yang menyebabkan
kongesti paru dan edema perifer.
Untuk menegakkan diagnosis gagal jantung, diperlukan kriteria Framingham yang meliputi
kriteria mayor dan kriteria minor.
Kriteria mayor :
1. Paroksismal nocturnal dispnea
2. Distensi vena leher
3. Ronki paru
4. Kardiomegali
5. Edema paru akut
6. Gallop S3
7. Peningkatan tekanan vena jugularis
4

8. Refluks hepatojugular
Kriteria minor:
1. Edema ekstremitas
2. Batuk malam hari
3. Dispnea deffort
4. Hepatomegali
5. Efusi pleura
6. Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal
7. Takikardia (>120 menit)
Diagnosis gagal jantung ditegakkan jika ditemukan minimal 1 kriteria major dan 2 kriteria
minor. 4
Menurut New York Heart Association (NYHA), gradasi keparahan gagal jantung terbagi
menjadi 4 kelas berdasarkan jumlah aktivitas fisik untuk menimbulkan gejala-gejalanya,
yaitu:
Kelas 1 : Tidak ada limitasi aktivitas fisik. Tidak ada sesak nafas, rasa lelah, atau palpitasi
dengan aktivitas fisik biasa
Kelas 2 : Sedikit limitasi aktivitas fisik, timbul rasa lelah, palpitasi, dan sesak nafas dengan
aktivitas fisik biasa, tetapi nyaman sewaktu istirahat.
Kelas 3: Aktivitas fisik sangat terbatas sebab aktivitas fisik kurang dari biasa sudah
menimbulkan gejala, tetapi nyaman sewaktu beristirahat
Kelas 4: Gejala-gejala sudah ada sewaktu istirahat dan aktivitas fisik sedikit saja dapat
memperberat gejala. 2
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Untuk menegakkan diagnosis gagal jantung, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang,
antara lain rontgen thorax, elektrokardiogram (EKG), ekokardiografi, dan kateterisasi
5

jantung. Rontgen thorax dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan lain dari sesak nafasnya,
misalnya efusi pleura, pneumothorax, keganasan paru atau pneumonia. Adanya edema
pulmoner dapat mendukung diagnosis gagal jantung walaupun belum terlalu kuat.
Elektrokardiogram dapat dipakai untuk mendeteksi aritmia dan memberikan bukti miokard
infark atau hipertrofi ventrikel.
Ekokardiografi dapat dipakai untuk melihat gerakan jantung meskipun pada pasien obesitas
atau pasien dengan gangguan jalan nafas kurang memperlihatkan gambar yang memuaskan.
Kateterisasi jantung dapat dijadikan alat ukur tekanan di dalam jantung, estimasi cardiac
output, dan deteksi kelainan katup. 3
Pada scenario ini, pemeriksaan yang baru dilakukan hanya EKG dan ditemukan adanya
gelombang Q patologis. Untuk itu perlu dibahas gelombang yang normal terlebih dahulu.
Pada kertas EKG, terdapat garis horizontal yang merupakan waktu (1 kotak kecil = 1 mm =
0,04 detik) dan garis vertical merupakan voltase/amplitude (1 kotak kecil = 1 mm = 0,1
miliVolt). Pada rekaman EKG standar dibuat dengan kecepatan 25 mm/detik, kalibrasi biasa
dilakukan dengan 1 miliVolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm.
Gelombang Q patologis merupakan defleksi negative dengan syarat durasi gelombang Q
lebih dari 0,04 detik dan dalamnya harus minimal sepertiga tinggi gelombang R pada
kompleks QRS yang sama. 5
Tatalaksana
Untuk mengatasi gagal jantung, terdapat terapi non-farmakologik dan terapi farmakologik.
Terapi non farmakologik terdiri dari :
1. Diet : Pasien gagal jantung dengan diabetes, dislipidemia atau obesitas harus diberi diet
yang sesuai untuk menurunkan gula darah, lipid darah atau berat badannya. Asupan NaCl
harus dibatasi menjadi 2-3 g Na/hari, atau < 2 g/hari untuk gagal jantung sedang sampai
berat.
2. Merokok: harus dihentikan
3. Aktivitas fisik: Olahraga teratur seperti berjalan atau bersepeda dianjurkan untuk pasien
gagal jantung yang stabil (NYHA kelas 2 dan 3) dengan intensitas yang nyaman bagi pasien.
4. Istirahat: Dianjurkan untuk gagal ginjal akut atau tidak stabil
5. Bepergian: Hindari tempat-tempat tinggi dan tempat-tempat yang sangat panas atau
lembab, dan gunakan penerbangan-penerbangan pendek
Di samping itu, ada obat-obat yang harus dihindari seperti AINS dan coxib, antagonis
kalsium (non-dihidropiridin dan dihidropiridin kerja singkat), dan kortikosteroid. 2
6

Komplikasi
Pencegahan

Prognosis
Kesimpulan
Daftar Pustaka
1. Anamnesis
2. Farmako
3. Fuster V, Walsh RA, ORourke RA, Poole-Wilson P. Hursts: the heart. 12 th Ed. USA: Mc
Graw Hill; 2008.p.691-761.
4. Papdi
5. Dharma S. Pedoman praktis sistematika interpretasi EKG. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010.h.7,15-8.