Anda di halaman 1dari 23

Struktur dan Mekanisme Sistem Pernapasan

Josephine Claudia Sirait


102013396
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone : (021) 5694 2061 Email : jojo .claudia12 @gmail .com
Pendahuluan
Manusia dalam kesehariannya akan terus bernapas baik disadari maupun
tanpa disadari. Bernapas ini memiliki fungsi utama untuk memperoleh O 2 agar dapat
digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel. Proses
ini biasa dikenal dengan proses respirasi yang melibatkan keseluruhan proses yang
menyebabkan pergerakan pasif O2 dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang
metabolism sel, serta pergerakan pasif CO2 yang hasil metabolism dari jaringan ke
atmosfer. Sistem pernapasan mencakup paru paru dan sistem saluran bercabang
yang menghubungkan tempat pertukaran gas dengan lingkungan luar. Udara
digerakkan melalui paru oleh suatu mekanisme ventilasi, yang terdiri atas rongga
thoraks, otot interkostal, diafragma, dan komponen elastis jaringan paru. Sistem
pernapasan ikut berperan dalam homeostasis dengan mempertukarkan O2 dengan CO2
antara atmosfer dan darah. Darah mengangkut O 2 dann CO2 antara system pernapasan
dan jaringan.1,2
Struktur Makroskopis Saluran Pernapasan
Sistem pernapasan melibatkan rongga hidung, naso-, oro- dan bagian atas
laryngo-pharynx, larynx, trachea, bronchi dan cabang cabang pulmonal bronchi
tersebut. Jaringan paru sebagai kumpulan seluruh cabang pulmonal bronchi, berada
dalam rongga potensial, yakni cavum pleurae, terlindungi oleh dinding thorax.3
Saluran udara pernapasan dibagi menjadi saluran udara pernapasan bagian
atas, yang terdiri dari hidung, faring, dan laring dan saluran udara pernapasan bagian
bawah atau saluran napas.3
1

Saluran udara pernapasan bagian atas


Hidung dan Sinus Paranasalis
Hidung merupakan bagian paling atas dari sistema respiratorium dan terdiri
dari reseptor reseptor olfactorium. Sepertiga anterior rongga hidung dibagi menjadi
dua oleh septum nasi. Struktur struktur tersebut merupakan ruangan berbentuk baji
dan memanjang dengan basis di inferior yang besar dan sebuah apex di superior yang
sempit dan dipertahankan terbuka oleh suatu kerangka tulang yang terutama terdiri
dari tulang dan tulang rawan.4
Selain memiliki reseptor reseptor untuk penghidu (olfaktoria), cavitas nasi
menyesuaikan suhhu dan kelembaban udara yang dihirup melalui aktivitas suplai
darah yang banyak dan menjebak dan membuang partikel partikel asing tertentu dari
saluran napas dengan menyaring udara melalui rambut di dalam vestibulum dan
dengan menangkap benda benda asing dalam cairan mucosus yang banyak.
Normalnya cairan mucosus di dorong ke posterior oleh cilia pada sel sel epithelium
di dalam cavitas nasi untuk ditelan.4
Pharynx
Pharynx menghubungkan cavitas oris dan cavitas nasi di dalam regio capitis
yang menuju larynx dan esophagus di dalam regio cervicalis. Cavitas pharyngis
merupakan jalur bersama untuk udara dan makanan.4
Walaupun palatum molle merupakan bagian yang secara umum sebagai bagian
atap cavitas oris, struktur tersebut juga berhubungan dengan pharynx. Palatum molle
meleoropharyngeumsterior palatum durum dan merupakan jenis katup getar yang
dapat menganyum ketas (elevasi) untuk menutup isthmus oropharyngeum dan
memisahkan nasopharynx dari oropharynx serta menganyun ke bawah (mendepresi)
untuk menutup isthmus oropharyngeum dan memisahkan cavitas oris dari
oropharynx.4
Larynx
Larynx terdiri dari suatu kerangka tulang rawan yang melindungi systema
respiratorium inferior. Cavitas laryngis berlanjut ke bawah dengan trachea, dan di atas
membuka ke pharynx segera di posterior. Larynx merupakan sebuah sphincter
2

canggih untuk sistem respiratorium inferior dan memberikan mekanisme untuk


menghasilkan suara. Penyesuaian ukuran cavitas centralis laryngis disebabkan oleh
perubahan dalam ukuran rima glotidis, rima vestibuli, dan aditus laryngis. Perubahan
tersebut dihasilkan dari kerja musculi dan mekanisme laryngealis.Pada saat menelan,
pergerakan dramatis ke atas dan ke depan dari larynx memfasilitasi penutupan aditus
laryngis dan bukaan esophagus.4
Saluran udara pernapasan bagian bawah
Batas saluran udara pernapasan bagian atas dan saluran udara pernapasan bagian
bawah adalah pinggir bawah kartilago krikoidea. Saluran udara pernapasan bagian
bawah dimulai dari ujung trakea sampai bronkiolus terminalis trakea, yang
panjangnya antara 10-12 cm , dibentuk oleh sekitar 20 lapis kartilago yang berbentuk
huruf Cdan berakhir ketika bercabang dua di trakea. Bagian yang tidak berkartilago
disebut trakea membranasea dan berada di sebelah posterior. Pada ketinggian vertebra
torakalis ke 4 atau setinggi sambungan antara manubrium dengan iga kedua kanan,
trakea bercabang dua di karina menjadi bronkus utama kanan dan bronkus utama kiri.
Trakea adalah struktur fibroelastik yang kaku. Kartilago hialin berbentuk setengah
cincin yang saling menyambung mempertahankan bentuk lumen trakea. Bagian dalam
trakea dibatasi oleh epitel kolumnar bersilia. Di belakang trakea berjalan esofagus.
Cincin trakea ke-2, 3, dan 4 dilewati oleh istmus tirois di sebelah anterior. Trakea
menerima pasokan darah dari cabang-cabang aa.tiroidea inferior dan bronkial. Di atas
tempat masuknya bronkus utama, kedua ujung kartilago bertemu membentuk cincin
yang sempurna, tidak lagi berbentuk huruf C melainkan berbentuk huruf O.2,5
Saluran napas bronkus (jamak=Bronki)
Saluran napas bronki yang digolongkan sebagai conducting airways, adalah
bagian dari saluran napas yang tidak memungkinkan terjadinya pertukaran gas.
Bagian ini sering pula disebut sebagai central airways.2
Bronkus utama kanan lebih pendek, lebih lebar, dan lebih vertikal letaknya
daripada yang kiri. Oleh karena itu benda asing yang terhirup lebih cenderung masuk
ke bronki kanan dan terus ke lobus kanan tengah dan lobus bawah bronki.3
Bronkus utama kiri memasuki hilus dan terbagi menjadi bronkus lobus superior dan
inferior. Bronkus utama kanan bercabang menjadi bronkus ke lobus atas sebelum
3

memasuki hilus dan begitu masuk hilus terbagi menjadi bronki lobus medial dan
inferior.2,5
Tiap bronkus lobus bercabang menjadi bronki segmental. Tiap bronkus segmental
memasuki sebuah segmen bronkopulmonalis. Tiap segmen bronkopulmonalis
berbentuk piramid dengan apeks ke arah hilus. Segmen merupakan unit struktural
lobus yang memiliki bronkus segmental, arteri, dan sistem limfatikus sendiri.2,5
Saluran napas intrapulmonal
Saluran napas yang berkartilago disebut bronkus sedangkan yang tidak
berkartilago disebut sebagai bronkiolus. Dinding bronkus besar maupun bronkus kecil
mengandung kelenjar lendir submukosal. Bronkiolus paling ujung distal disebut
bronkiolus terminalis. Tiga sampai lima bronkiolus terminalis membentuk lobulus.
Bagian paru yang terletak di sebelah distal bronkiolus terminalis disebut asinus.
Asinus dianggap sebagai satuan unit respirasi paru.2
Paru-paru
Paru-paru memiliki area permukaan alveolar kurang lebih seluas 40 m 2 untuk
pertukaran udara. Tiap paru memiliki apeks yang mencapai ujung sternal costae ke-1,
permukaan kostovertebral yang melapisi dinding dada, basis yang terletak di atas
diafragma dan permukaan mediastinal yang menempel dan membentuk struktur
medialstinal di sebelahnya.2,5
Ada dua buah paru, yaitu pau kanan dan kiri. Paru kanan mempunyai tiga
lobus dan paru kiri mempunyai dua lobus. Lobus paru terbagi lagi menjadi beberapa
segmen. Paru kanan mempunyai 10 segmen sedangkan paru kiri mempunyai 8
segmen.2
Bronki dan jaringan parenkim paru-paru mendapat pasokan darah dari
a.bronkialis cabang-cabang dari aorta torakalis desendens, V. Bronkialis, yang juga
berhubungan dengan v. Pulmonalis, mengalirkan darah ke v. azigos dan v.
Hemiazigos. Alveoli mendapat darah deoksigenasi dari cabang-cabang terminal a.
Pulmonalis dan darah yang teroksigenasi mengalir kembali melalui cabang-cabang v.
Pulmonalis. Dua v. pulmonalis mengalirkan darah kembali dari tiap paru ke atrium
kiri jantung.2,5
4

Persarafan paru-paru pada pleksus pulmonalis yang terletak di pangkal tiap


paru. Pleksus ini terdiri dari serabut simpatis (truncus simpatikus) dan serabut
parasimpatis (dari n.vagus). Serabut eferen dari pleksus mempersarafi otot-otot
bronkus dan serabut aferen diterima dari membran mukosa bronkioli dan alveoli.2,5
Alveolus
Alveolus dibentuk dan dibatasi oleh dinding alveolus yang dibentuk oleh dua
macam sel, yaitu sel alveolar tipe I atau pneumonosit tipe I dan sel alveolar tipe II
atau pneumonosit tipe II yang juga disebut sebagai granular pnemocyte.Kedua macam
sel ini saling berhubungan secara erat. Sel pneumonosit skuamosa disebut tipe I,
sedangkan pneumonosit kuboid disebut tipe II, walau sebetulnya yang merupakan sel
progenitor epitel alveoli adalah sel tipe II. Pertukaran gas menembus dinding
pneumonosit I. tugas pnemonosit II adalah menghasilkan surfaktan. Pada paru
terdapat lebih kuarng 300 juta gelembung alveoli dengan diameter setiap gelembung
lebih kurang 0,3 mm. surfaktan yang dihasilkan oleh sel alveolar tipe II membantu
pengembangan paru.1,2,5
Selain penyusun yang di atas, saluran pernapasan juga disusun oleh struktur
lainnya seperti otot-otot pelindung saluran pernapasan seperti otot-otot yang
melindungi dinding dada, leher, dan otot-otot yang membantu pernapasan. Dinding
toraks dibentuk oleh tulang, otot, serta kulit. Tulang yang membentuk dinding dada
toraks adalah: tulang iga (12 buah), vertebra torakalis (12 buah), Sternum (1buah),
Clavikula (2 buah), Scapula (2 buah).1
Otot pembatas rongga dada terdiri dari otot ekstremitas superior yang terdiri dari M.
pektoralis mayor, M. pektoralis minor, M. serratus anterior, M. subklavius. Otot
anterolateral abdominal, terdiri dari M. abdominal oblukus eksternus, M. rektus
abdominis. Otot toraks

intrinsic, terdirir dari

M. interkostalis eksterna, M.

interkostalis interna, M. sternalis, M. toraksis transverses.2


Selain sebagai pembentuk dinding dada, otot skelet juga berfungsi sebagai otot
pernapasan. Menurut kegunaannya, otot-otot pernapasan dibedakan menjadi otot
untuk inspirasi, mencakup otot inspirasi utama dan tambahan, serta otot untuk
ekspirasi tambahan. Otot inspirasi utama, terdiri dari M. interkostalis eksternus, M.
interkatilaginus parasternal, Otot diafragma. Otot inspirasi tambahan yang sering juga
5

disebut sebagai otot bantu napas, yaitu: M. strenokleidomastoideus, M. skalenus


anterior, M. skalenus medius, M. skalenus posterior.5
Saat napas biasa, untuk ekspirasi tidak diperlukan kegiatan otot, cukup dengan
daya elastic paru saja udara di dalam paru akan keluar saat ekspirasi. Namun, ketika
ada serangan asma, sering diperlukan active breathing, dalam keadaan ini, untuk
ekspirasi diperlukan kontribusi kerja otot-otot berikut; M. interkostalis interna, M.
interkartilaginus parastrernal, M. rektus abdomins, M. oblikus abdominis eksternus.
Otot-otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur pernapasan saat berbicara,
bernyanyi, batuk, bersin, dan untuk mengedan saat buang air besar serta saat bersalin.5
Diafragma dalah suatu septum berupa jaringan muskulotendineus yamg
memisahkan rongga toraks dengan rongga abdomen. Dengan demikian, diafragma
menjadi dasar dari rongga toraks. Ada tiga aperture pada diafragma, yaitu: Hiatus
aortikus yang dilalui oleh aorta desenden, vena azigos dan duktus torasikus; Hiatus
esophagus yang dilalui oleh esophagus; Aperture yang satu lagi dilalui oleh vena kava
inferior.5
Persarafan diafragma
Saraf motoris: seluruh saraf motoris berasal dari n. Frenikus (C3, 4, 5). Kontraksi
diafragma adalah mekanisme utama inspirasi. Saraf sensoris: bagian perifer diafragma
mendapat serabut sensoris dari n. interkostalis bawah. Saraf sensoris bagian sentral
berasal dari n. frenikus.5
Pleura
Pleura dibentuk oleh jaringan yang berasal dari mesodermal. Pembungkus ini
dapat dibedakan menjadi pleura viseralis yang melapisi paru dan pleura parietalis
yang melapisi dinding dalam hemitoraks. Pada hilus paru, kedua lapisan pleura ini
berhubungan. Hubungan ini bergantung longgar di atas hilus dan disebut ligamentum
pulmonale . Adanya ligamentum ini memungkinkan peregangan vv. pulmonalis dan
pergerakan struktur hilus selama respirasi. Diantara kedua pleura tadi, terbentuk ruang
yangdisebut rongga pleura yang sebenarnya tidak berupa rongga tetapi merupakan
ruang potensial. Pada keadaan normal, rongga pleura berisi cairan pleura dalam
jumlah yang sangat sedikit (0,1-0,2 mL/kg.BB). Jadi hanya berupa lapisan cairan
pleura setebal 10-20 m yang menyelaputi kedua belah pleura. Meskipun sangat tipis,
cairan ini dapat memisahkan lapisan pleura viseralis dengan pleura parietalis agar
6

tidak saling bersinggungan atau berlengketan. Pleura parietalis sensitif terhadap nyeri
dan raba (melalui n. Interkostalis dan n.frenikus). Pleura viseralis hanya sensitif
terhadap regangan (melalui serabut afferen otonom dari pleksus pulmonalis).5
Struktur Mikroskopis Sistem Pernafasan
Pada sistem pernapasan, secara histologi, dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian
Konduksi yang berfungsi sebagai penghubung antara bagian luar dengan bagian
respirasi di distal. Bagian konduksi ini mencakup rongga hidung, faring, laring,
trakea, dan sistem bronkiolus yang berawal dengan percabangan bronkus
(ekstrapulmonal dan intrapulmonal) dan percabangan bronkiolus terminalis. Bagian
Respirasi dimana pada bagian repirasi ini terjadi pertukaran gas oleh darah. Gas yang
bertukar disini adalah oksigen dan karbondioksida. Bronkiolus respiratorius, duktus
alveolares, dan alveoli merupakan bagian dari bagian repirasi ini bersama-sama
merupakan bagian terbesar dari volume paru.6
Hidung
Hidung ini ditutupi kulit yang dilapisi rambut yang sangat halus, dengan
kelenjar sebasea besar-besar. Bagian dalamnya dilapisi 4 jenis epitel. Epitel berlapis
gepeng kulit berlanjut ke dalam melalui nares ke dalam vestibulum, dimana sejumlah
rambut kaku dan besar menonjol ke saluran udara. Rambut kasar ini diduga
membantu menahan partikel-partikel debu yang besar dalam udara yang dihirup.
Beberapa milimeter ke dalam vestibulum, epitel berlapis gepeng berubah menjadi
epitel kolumnar atau kuboid tanpa silia. Kemudian berlanjut menjadi epitel bertingkat
kolumnar bersilia, yang menutupi sisa dari rongga hidung, kecuali daerah kecil di
dinding dorsal, yang dilapisi epitel olfaktorius sensoris.6,7
Bagian dalam hidung yang berguna sebagai alat penghidu atau penciuman
disusun oleh epitel olfaktorius. Pada epitel ini terdapat kemoreseptor penghidu yang
merupakan suatu daerah khusus dari membran mukosa yang terdapat pada
pertengahan cavum nasi dan pada permukaan konka nasalis superior. Epitel
olfaktorius terbagi menjadi 3 jenis sel yaitu sel olfaktorius, sel sustenkular atau
penyokong, dan sel basal.6,7
Sel olfaktorius adalah neuron bipolar, yang tersebar merata di antara sel-sel
sustentakular atau sel penyokong. Intinya bulat dan menempati zona lebih rendah dari
7

yang berasal dari sel-sel penyokong. Pada bagian apikalnya menyempit menjadi
juluran-juluran halus, yang meluas keatas ke permukaan epitel, dan tempat
berakhirnya agak melebar membentuk bulbus olfaktorius. Bentuknya sedikit
menonjol di atas permukaan sel-sel penyokong dan mengandung badan-badan basal
dari 6-8 silia olfaktoria yang memancar. Pada bagian basal sel olfaktorius meruncing
menjadi juluran merupakan akson dari sel saraf. Mereka menembus lamina basal ke
dalam jaringan ikat dibawahnya, tempat berhubungan dengan lainnya membentuk
fesikel-fesikel akson tanpa mielin. Kemudian melewati lempeng kribosa dari tulang
etmoid membentuk fila olfaktorius yang tampak secara makroskopik memasuki dan
bersinaps membentuk N.I (Nervous Olfaktorius).6
Terdapat pula lamina propria dari mukosa olfaktoria yang menutupi jaringan
ikat padat dan membentuk periosteum dari lempeng kribriformis. Ia mengandung
sedikit pigmen, sel limfoid, dan pleksus kapiler darah luas. Pada bagian yang lebih
dalam, terdapat juga pleksus vena besar dan banyak juga terdapat pembuluh limfe.
Lamina prorpia mengandung kelenjar olfaktoria Bowman, kelenjar tubulo-alveolar
yang bercabang, terdiri atas sel-sel serosa piramidal dengan granul sekresi pucat.
Mereka terus mensekresikan cairan berair yang agaknya penting untuk melarutkan
odoran dari udara.6
Faring
Merupakan ruangan dibelakang kavum nasi yang menghubungkan traktus
pencernaan dan traktus respiratorius. Dibagi menjadi 3 jenis yaitu nasofaring,
orofaring, dan laringofaring. Dinding laringofaring ini tersusun atas otot skelet dan
sebagian besar tersusun atas epitel belapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Nasofaring
terdapat muara dari saluran yang menghubungkan rongga hidung dan telinga tengah
yang disebut osteum faringeum tuba auditiva. Pada orofaring tersusun atas epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan terletak di belakang rongga mulut dan
permukaan belakang lidah. Semakin keatas akan menjadi epitel mulut, dan semakin
ke bawah menjadi epitel oesophagus.6
Laring
Merupakan organ berongga dan terletak diantara faring dan trakea. Fungsinya
adalah untuk membentuk suara dan menutup trakea sewaktu menelan untuk mencegah
8

masuknya makanan dan liur ke dalam saluran napas dan paru. Dindingnya dibentuk
oleh tulang rawan tiroid dan krikoid serta sepotong tulang rawan fibroelastis tipis,
yaitu epiglotis. Sewaktu menelan, epiglotis tertekan kedepan oleh pangkal lidah,
menutup laring dan merupakan permukaan licin bagi bolus makanan memasuki
oesofagus. Ada 2 otot yang mengatur pergerakan pada laring yaitu muskulus intrinsik
dan muskulus ekstrinsik. Muskulus ekstrinsik mengikat laring pada tulang hioid,
mengangkatnya sewaktu deglutasi. Sedangkan muskulus intrinsik berhubungan
dengan tulang rawan tiroid dan krikoid dan apabila berkontraksi akan mengubah tensi
pita suara sehingga mempengaruhi perubahan fonasi. Epiglotis dan pita suara terusun
atas epitel berlapis gepeng. Bagian lainnya dari laring disusun oleh epitel bertingkat
bersilia, dan arah lecutan silia ke arah faring, menggeser partikel asing, bakteri, dan
mukus ke arah luar.6
Trakea
Trakea disusun oleh sederetan keping tulang hialin yang berbentuk C dan
mengelilingi bagian ventral dan lateral dari trakea, bagian ini disebut pars
kartilagenia. Cincin tulang rawan yang tidak utuh ini dipisahkan oleh celah-celah
yang dijembatani jaringan ikat-fibroelastis. Susunan demikian membuat trakea leluasa
bergerak, dan kegunaan cincin-cincin tulang rawan berguna dalam menahan tekanan
dari luar yang dapat menutup jalan napas. Di luar tulang rawan terdapat lapis jaringan
ikat padat dengan banyak serat elastin. Dinding posteriornya tidak dilengkapi oleh
tulang rawan. Sebagai gantinya terdapat pita tebal dari otot polos yang berbentuk
melintang, ujungnya berbaur dengan lapis jaringan ikat padat di luar tulang rawan
tadi, bagian ini disebut sebagai pars membranasea. 6,7
Bronkus
Dari trakea akan bercabang menjadi 2 cabang utama yaitu bronki primer atau
bronki utama. Mereka berjalan ke bawah dan luar, bercabang menjadi bronki lobaris.
Paru kiri terdiri atas lobus superior dan lobus inferior, sedangkan paru kanan terdiri
atas lobus superior, medius, dan inferior. Jadi terdapat 2 bronki lebar di kiri dan 3
buah di kanan. Mereka akan bercabang lagi menjadi bronki segmental menuju
berbagai segmen bronkopulmonar dalam masing-masing paru. Bronki segmental ini
pun akan berlanjut bercabang membentuk bronki subsegmental.6

Bronki primer memiliki struktur yang kurang lebih mirip dengan trakea.
Namun setelah memasuki paru, cincin tulang rawan dindingnya digantikan lempenglempeng tulang rawan hialin tidak teratur yang tersebar mengelilingi lingkaran
tabung. Karena bronki intrapulmonar itu silindris dan bagian posteriornya tidak
mendatar seperti pada trakea dan bronki ekstrapulmonal. Semakin ke distal, lempenglempeng tulang rawan semakin berkurang jumlahnya sampai menghilang sama sekali
pada bronki subsegmental yang berdiameter kurang lebih 1 mm. Dengan
berkurangnya tulang rawan, semakin banyak ditemukan otot polos yang tersusun
seperti berkas-berkas yang saling menganyam, seperti berjalan melingkar.6
Epitel yang berada di bronkus pun ternyata tidak berbeda jauh dengan yang
ada di trakea yaitu terdiri atas epitel kolumnar bersilia dengan banyak sel goblet dan
juga kelenjar submukosa. Jumlah kelenjar ini juga semakin berkurang dan hilang pada
tingkat bronkiolus. Tinggi epitel ini akan berangsur menurun dan berganti menjadi
epitel kuboid bersilia pada bronkiolus dan kuboid rendah di bronkiolus terminalis.6,7
Bronkiolus
Merupakan generasi percabangan keduabelas sampai kelima belas dari pohon
bronkus. Tidak ada lempengan tulang rawan pada dindingnya dan juga tidak
ditemukan kelenjar pada bagian lamina proprianya, hanya ada sedikit sel goblet pada
epitel di segmen awalnya. Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel
bertingkat silindris bersilia, yang semakin memendek dan makin sederhana sampai
menjadi epitel selapis silindris bersilia atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis
yang lebih kecil. Pada epitel di bronkiolus juga mengandung sel clara yang
permukaannya tidak ditutupi mikrovili dan sitoplasma apikalnya mengandung sedikit
granul sekresi padat di bagian atasnya (apexnya) yang berguna untuk menyekresi
protein yang melindungi lapisan bronkiolus terhadap polutan oksidatif dan inflamasi.
Di dekat permukaan bebas, sel clara berhubungan dengan sel-sel didekatnya dengan
zonula occludens. Pada bronkiolus ini juga memperlihatkan daerah spesifik yang
disebut badan neuroepitel. Pada badan ini mengandung banyak sekali granul
sekretorik dan menerima ujung saraf kolinergik. Fungsi dari badan neuroepitel ini
belum diketahui, namun badan-badan ini mungkin merupakan kemoreseptor yang
bereaksi terhadap perubahan komposisi gas dalam jalan napas. Selain itu juga ikut
berperan pada proses pemulihan sel-sel epitel jalan napas yang mengalami cedera.6,7
10

Bronkiolus Respiratorius
Pada bagian ini adalah bagian peralihan dari bagian konduksi ke bagian
respirasi di paru. Mukosa bronkiolus respiratorius secara sturktural identik dengan
mukosa bronkiolus terminalis kecuali dindingnya yang dikelilingi oleh banyak
alveolus tempat terjadinya pertukaran gas. Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi
oleh epitel kuboid bersilia dan juga sel clara, namun pada muara alveolus, epitel
bronkiolus menyatu dengan sel-sel alveolus gepeng. Makin ke arah distal di sepanjang
bronkiolus, jumlah alveolus semakin bertambah dan jarak diantaranya semakin
memendek. Di antara alveolus, epitel bronkiolusnya terdiri atas epitel kuboid bersilia;
akan tetapi silia tidak dapat dijumpai di bagian yang lebih distal. Otot polos dan
jaringan ikat elastis terdapat di bawah epitel bronkiolus respiratorius.6,7
Duktus Alveolaris
Makin ke distal jumlah muara alveolus ke dalam dinding bronkiolus semakin
banyak sampai semua dindingnya ditempati muara tersebut, dan saluran napas
tersebut dinamakan duktus alveolaris. Duktus ini dan alveolus dilapisi oleh sel
alveolus gepeng yang sangat halus. Dalam lamina propria yang mengelilingi tepian
alveolus dimana terdapat anyaman sel otot polos. Berkas otot polos mirip sfingter ini
tampak sebagai tombol di antara alveoli yang berdekatan. Otot polos tidak lagi
dijumpai pada ujung distal duktus alveolaris.6,7
Duktus alveolaris bermuara ke dalam atrium yang berhubungan dengan sakus
alveolaris. Dua atau lebih sakus alveolaris berasal dari setiap atrium. Banyak serat
elastin dan retikulin membentuk membentuk jalinan rumit yang mengelilingi muara
atrium, sakus alveolaris, dan alveoli. Serat-serat elastin memungkinkan alveolus
mengembang sewaktu inspirasi dan berkontraksi secara pasif selama ekspirasi. Seratserat ini berfungsi sebagai penunjang yang mencegah pengembangan yang berlebihan
dan pengrusakan pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar.6,7
Alvoelus
Alveolus adalah penonjolan (evaginasi) mirip kantung bergaris tengah lebih
kurang 200 m, dari bronkiolus, duktus alveolaris, dan sakus alveolaris. Alveoli
adalah bagian terminal dari percabangan bronkus, merekalah yang memberi paru
struktur sponsnya. Didalam struktur mirip mangkuk ini berlangsung pertukaran
11

oksigen dan CO2 antara udara dan darah. Struktur dinding alveolus dikhususkan untuk
memudahkan dan memperlancar difusi antara lingkungan luar dan dalam. Umumnya
setiap dinding terletak diantra dua alveolus bersebelahan dan karenannya disebut
sebagai septum atau dinding interalveolus. Satu septum interalveolus terdiri atas dua
lapis epitel gepeng tipis, dan mengandung kapiler, fibroblast, serat elastin dan
retikulan, makrofag. Kapiler dan matriks jaringan ikat membentuk intertisium.
Didalam intertisium dari septum interalveolus terdapat jaringan kapiler yang paling
luas dalam tubuh. Lebih kurang 300 juta alveoli yang terdapat dalam paru sangat
memperluas permukaan dalam untuk pertukran gas, yang diperkirakan mencapai lebih
kurang 140 m2. Septum interalveolus terdiri dari lima jenis sel utama: sel endotel
kapiler, sel alveolus tipe 1 (gepeng), sel alveol tipe 2 (septal, alveoli besar), sel
intersisial, termasuk fibroblast dan sel mast, dan makrofag alveolar.1,6-7
Sel endotel sangat tipis dan mudah dikacaukan dengan sel alveolar tipe 1.
Pelapis endotel itu utuh dan tidak bertingkat. Ciri paling mencolok pada sitoplasma
bagian gepeng dari sel adalah banyaknya vesikel pinositotik.6
Sel tipe I, juga disebut sel alveolus gepeng, adalah sel yang sangat tipis yang
melapisi permukaan alveolus. Sel tipe 1 merupakan 97% dari permukaan alveolus.
Fungsi utama sel ini adalah mengadakan sawar dengan ketebalan minimal yang
mudah dilalui gas.1,6
Sel tipe II, juga disebut sel alveolar besar ditemukan terselip diantara sel
alveolar tipe 1. Kedua jenis sel ini melekat melalui taut kedap dan desmosom. Sel tipe
2 berbentuk agak kuboid yang biasanya berkelompok 2 atau 3 sepanjang permukaan
alveolus pada tempat pertemuan dinding alveolus dan membentuk sudut. Sel ini, yang
tempat diatas membrane basal adalah bagian dari epitel karena mempunyai asal yang
sama dengan sel tipe 1 yang melapisi dinding alveolus. Sel ini mirip dengan sel
sekresi biasa, mereka memiliki mitokondria, RE kasar, kompleks golgi yang baik dan
mikrofili pada permukaan apical bebasnya.1,6
Pleura
Pleura adalah membrane serosa yang membungkus paru. Ia terdiri atas dua
lapisan, parietal dan visceral yang saling berhubungan didaerah hilum. Kedua
membrane itu terdiri atas sel mesotel yang bertempat diatas jaringan ikat halus yang
12

mengandung serat elastin dan kolagen. Dalam keadaan normal rongga pleura ini
mengandung sedikit cairan bekerja sebagai bagian pelumas, memungkinkan
permukaan satu terhadap yang lainnya secara halus selama gerakan bernapasan.6
Mekanisme Respirasi
Dalam fisiologi, pernafasan memiliki makna yang lebih luas. Respirasi
internal atau seluler mengacu kepada proses metabolisme intrasel yang berlangsung di
dalam mitokondria, yang menggunakan O 2 dan menghasilkan CO2 selama penyerapan
energy dari molekul nutrient. Kuosien pernapasan yaitu perbandungan CO 2 yang
dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi, ervariasi bergantung pada jenis makanan
yang dikonsumsi. Jika yang digunakan adalah karbohidrat, Kuosien Pernapasan
adalah 1; yaitu untuk setiap molekul O2 yang dikonsumsi, dihasilkan satu molekul
CO2 : C6H12O6 + 6O2 menghasilkan 6CO2 + 6H2O + ATP. Untuk pemakaian lemak,
kuosien pernapasan adalah 0,7; untuk protein 0,8.1
Sedangkan respirasi eksternal mengacu kepada keseluruhan rangkaian
kejadian yang terlibat dalam pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan
sel tubuh. Pernapasan eksternal itu sendiri terdiri dari empat langkah:1
1. Udara secara bergantian bergerak masuk-keluar paru, sehingga dapat terjadi
pertukaran antara atmosfer(lingkungan eksternal) dan kantung udara(alveolus)
paru. Pertukaran ini dilaksanakan oleh kerja mekanis pernapasan, atau
ventilasi.kecepatan ventilasi diatur sedemikian rupa, sehingga aliran udara antara
atmosfer dan alveolus disesuaikan dengan kebutuhan metabolic tubuh menyerap
O2 dan mengeluarkan CO2.
2. Oksigen dan CO2 dipertukarkan antara udara di alveolus dan darah di dalam
kapiler pulmonalis melalui proses difusi.
3. Oksigen dan karbondioksida diangkut oleh darah antara paru dan jaringan.
4. Pertukaran Oksigen dan Karbon Dioksida terjadi antara jaringan dan darah
melalui proses difusi melintasi kapiler sistematik.
Tapi kenyataannya, system pernapasan tidak melakukan keempat langkah
diatas, system ini hanya terlibat dengan ventilasi dan pertukaran O2 dan CO2 antara
paru dan darah. System sirkulasi menjalankkan proses pernapasan berikutnya.
13

System pernapasan juga melakukan fungsi nonrespirasi lainnya sebagai


berikut:1
1. Menyediakan jalan untuk mengeluarkan air dan panas. Udara atmosfer yang
dihirup dilembabkan dan dihangatkan oleh jalan napas sebelum udara tersebut
dikeluarkan. Pelembaban udara yang dihirup ini penting dilakukan agar dinding
alveolus tidak mongering. Oksigen dan CO2 tidak dapat berdifusi melewati
membrane yang kering.
2. Meningkatkan aliran balik vena.
3. Berperan dalam memelihara keseimbangan asam-basa normal dengan mengubah
jumlah CO2 penghasil asam yang dikeluarkan.
4. Memungkinkan kita berbicara, menyanyi, dan vokalisasi lainnya.
5. Mempertahankan tubuh dari invasi bahan asing.
6. Mengeluarkan, memodifikasi, mengaktifkan, atau menginafktifkan berbagai
bahan yang melewati sirkulasi paru. Semua darah yang kembali ke jantung dari
jaringan harus melewati paru sebelum dikembalikan ke sirkulasi sistemik. Paru,
dengan demikian, memiliki letak yang unik untuk secara parsial atau total
menyingkirkan bahan-bahan tetentu yang sudah ditambahkan kedalam darah
ditingkat jaringan sebelum bahan-bahan itu mencapai anggota tubuh lain melalui
system arteri.
7. Hidung, bagian system pernapasan, berfungsi sebagai organ penghidu.
Respirasi merupakan proses dari pertukaran udara di dalam tubuh. Ada 3
langkah dasar dari proses respirasi, yaitu: (1) ventilasi; (2) respirasi eksternal; dan (3)
respirasi internal.8
Ventilasi atau bernapas adalah inhalasi (inspirasi) dan ekshalasi (ekspirasi)
udara, serta melibatkan pertukaran udara antara atmosfer dan alveoli pada paru.
Respirasi eksternal adalah pertukaran udara antara alveoli paru dengan darah di
kapiler paru yang melewati membran respirasi. Respirasi internal adalah pertukaran
udara antara darah di kapiler sistemik dengan sel tubuh. Pada tahap ini darah

14

kehilangan O2 dan memperoleh CO2. Di sel, reaksi metabolisme yang menggunakan


O2 dan menghasilkan CO2 selama pembentukkan ATP disebut respirasi seluler.8
Udara masuk ke dalam paru ketika tekanan udara di dalam paru lebih rendah
daripada tekanan udara di atmosfer. Udara keluar dari paru ketika tekanan udara di
dalam paru lebih tinggi daripada tekanan udara di atmosfer.8
Inhalasi
Menghirup napas disebut inhalasi. Sesaat sebelum inhalasi, tekanan udara
dalam paru sama dengan tekanan udara di atmosfer, yaitu sekitar 1 atm atau 760
mmHg. Agar udara masuk ke dalam paru, tekanan di dalam alveoli harus menjadi
lebih rendah daripada tekanan atmosfer. Kondisi ini dapat terwujud dengan cara
memperbesar ukuran paru.8
Agar bisa inhalasi, paru harus mengembang, yang meningkatkan volum paru
dan menurunkan tekanannya menjadi lebih rendah daripada tekanan atmosfer.
Langkah pertama untuk mengembangkan paru dalam kondisi inhalasi normal dan
tenang melibatkan kontraksi dari otot inhalasi utama, yaitu difragma dan interkostalis
eksternus.8
Otot inhalasi yang paling penting adalah difragma, otot skelet berbentuk
kubah yang membentuk lantai dari rongga dada. kontraksi dari dafragma
mengakibatkannya

menjadi

lebih

datar,

merendahkan

kubahnya.

Hal

ini

meningkatkan diameter vertikal dari rongga dada. Dalam kondisi inhalasi normal dan
tenang, difragma menurun sekitar 1 cm, memproduksi perbedaan tekanan sekitar 1-3
mmHg dan inhalasi sekitar 500 mL udara. Pada pernapasan kuat, diafragma mampu
menurun hingga 10 cm, yang memproduksi perbedaan tekanan sekitar 100 mmHg
dan inhalasi sekitar 2-3 liter udara. Kontraksi dari diafragma selama pernapasan
tenang mengakibatkan peningkatan 75% volume dada.8
Otot inhalasi yang paling penting lainnya adalah interkostalis eksternus.
Ketika otot-otot ini berkontraksi, mereka mengangkat tulang iga. Hal ini
menyebabkan peningkatan pada diameter anteroposterior dan lateral rongga dada.
Kontraksi

dari

muskuli

interkostalis

eksternus

selama

pernapasan

tenang

mengakibatkan peningkatan 25% volume dada.8

15

Selama pernapasan tenang, tekanan antar dua pleura di rongga pleura, disebut
tekanan intrapleura, selalu subatmosferik. Sesaat sebelum inhalasi tekanannya sekitar
756 mmHg. Volume dari rongga pleura ikut meningkat ketika diafragma dan muskuli
interkostalis eksternus berkontraksi, sehingga tekanan intrapleura berkurang menjadi
sekitar 754 mmHg. Selama ekspansi dari thoraks, pleura parietal dan visceral tetap
menempel erat karena tekanan subatmosferiknya sehingga paru juga ikut tertarik
dengannya.8
Ketika volume paru meningkat dengan cara ini, tekanan di dalam paru, disebut
tekanan intra pulmo, turun dari 760 mmHg menjadi 758 mmHg. Karena udara selalu
bergerak dari daerah dengan tekanan lebih tinggi ke daerah dengan tekanan lebih
rendah, inhalasi pun terjadi. Udara tetap bergerak ke dalam paru selama perbedaan
tekanan tetap ada. Selama inhalasi dalam dan kuat, otot-otot inspirasi tambahan juga
ikut berpartisipasi dalam peningkatan ukuran rongga dada. Otot-otot inspirasi
tambahan antara lain m.sternocleidomastoideus yang mengangkat sternum; mm.
scalenus yang mengangkat iga pertama dan kedua; dan m.pektoralis minor yang
mengangkat iga ketiga hingga kelima. Karena proses inhalasi selalu melibatkan
kontraksi otot-otot, proses ini disebut sebagai proses yang aktif.8
Ekshalasi
Mengeluarkan napas, disebut ekshalasi, juga berkaitan dengan perbedaan
tekanan, tetapi pada arah yang berlawanan: tekanan dalam paru lebih besar daripada
tekanan di atmosfer. Ekshalasi normal dan tenang adalah proses yang pasif karena
tidak ada kontraksi otot-otot dalam prosesnya. Sebagai gantinya, ekshalasi adalah
hasil dari daya recoil dari dinding dada dan paru.8
Ekshalasi mulai ketika otot-otot inspirasi relaks. Ketika diafragma relaks,
kubahnya bergerak ke atas karena elastisitasnya. Ketika mm interkostalis eksternus
relaks, tulang iga akan turun. Gerakan ini mengurangi diameter vertikal, lateral, dan
anteroposterior dari rongga dada, sehingga mengurangi volume paru. Sebagai
gantinya, tekanan intrapulmo meningkat menjadi 762 mmHg. Udara kemudian
bergerak menuju tekanan yang lebih rendah, yaitu keluar.8,9
Ekshalasi menjadi aktif hanya ketika pernapasan kuat. Otot-otot ekshalasi
(mm.interkostalis internus, mm.serratus anterior dan mm.rektus abdominis)
16

berkontraksi sehingga meningkatkan tekanan di daerah abdominal dan thoraks.


Kontraksi dari mm.rektus abdominis menggerakkan iga bagian inferior ke bawah dan
menekan organ-organ viseral, sehingga memaksa diafragma ke atas. Kontraksi dari
mm.interkostalis eksternus menarik iga ke bawah. Walaupun tekanan intrapleura
selalu dibawah tekanan intrapulmo, ia mampu lebih tinggi dari tekanan atmosfer
selama ekshalasi dengan sangat kuat, seperti pada batuk.8,9
Ada 3 faktor lain selain perbedaan tekanan udara yang mempengaruhi
kecepatan aliran udara dan kemudahan ventilasi, yaitu: tegangan permukaan dari
cairan alveolar, compliance paru, dan resisten jalan napas. Agar dapat terjadi inhalasi
maka paru harus dapat mengembang dengan baik. Pada paru terdapat surfaktan yang
dihasilkan oleh sel epitel tipe 2. Surfaktan inilah yang membantu pemgembangan paru
sehingga dapat terjadi inhalasi. Selain itu, dengan adanya daya recoil paru
(kemampuan paru untuk mengembang), sangat membantu paru mengembang saat
udara memasuki paru. Adanya daya recoil ini karena serat elastin yang ada pada paru
itu sendiri. Kemampuan paru untuk mengembang juga sangat dippengaruhi oleh
resistensi jalan napas. Resisstensi ini meningkat biasanya karena adanya kontraksi
dari otot polos yang ada di bronkiolus yang menyebabkan bronkokonstriksi sehingga
udara keluar dari paru saat ekhalasi dan begitu juga sebaliknya.8
Transport dan Difusi O2 dan CO2
Unit respirasi terdiri dari bronkiolus respiratorik, duktus alveolaris, atrium, dan
alveolus. Terdapat sekitar 300 juta unit pernafasan di kedua paru. Dinding alveolus
sangat tipis, dan didalam dinding ini terdapat jaringan solid kapiler kapiler yang
saling berhubungan; aliran darah di dinding alveolus digambarkan sebagai lembaran
darah yang mengalir. Pertukaran gas melalui membrane semua bagian paru, tidak
terus menerus di alveolus. Membrane- membrane ini secara kolektif disebut sebagai
membrane pernafasan / respiratorik, atau membrane paru.8,9
Membrane respirasi dibagi menjadi beberapa lapisan. Pertukaran oksigen dan
karbon dioksida antara darah dan udara alveolus memerlukan difusi melalui lapisan-

lapisan pernafasan berikut ini.8


Satu lapisan cairan yang meliputi alveolus dan mengandung surfaktan.
Epitel alveolus, yang terditi dari sel sel epitel tipis.
Membrane basal epitel.
Ruang interstisium tipis antara epitel alveolus dan membrane kapiler.

17

Membrane basal kapiler yang menyatu dengan membrane basal epitel dibeberapa

tempat.
Membrane endotel kapiler.
Banyak faktor yang menentukan seberapa cepat suatu gas melewati membrane
pernafasan. Factor factor penentu mencakup yang berikut 8
Ketebalan membrane pernafasan. Lajur difusi menembus membrane bebanding

terbalik dengan ketabalan membrane.


Luas permukaan membrane pernafasan. Jika terdapar envisema, banyak alveoli akan
menyatu disertai larutnya dinding alveolus, hal ini sering menyebabkan

berkurangnya luas permukaan total higga seperlimanya.


Koefisien difusi. Koifisien difusi untuk perpindahan masing masing gas melalui
membrane pernafasan bergantung pada kelarutan gas di membrane dan, berbanding

terbalik dengan akar kuadrat berat molekul.


Perbedaan tekanan antara dua membrane pernafasan. Perbedaan antara tekanan
persial gas di alveoli dan gas didarah berbanding lurus dengan lajur pemindahan gas
menembus membrane.

Oksigen dan karbon dioksida dibawa di dalam tubuh oleh suatu campuran difusi dan
aliran besar. Aliran besar, yang dibentuk akibat perbedaan tekanan cairan total, penting pada
sebagian besar jalan napas dan dalam membawa darah yang mengandung gas-gas tersebut di
antara kapiler paru dan jaringan. Difusi, yang disebabkan oleh perbedaan tekanan parsial,
penting pada beberapa millimeter terakhir jalan napas, melewati membrane alveolar-kapiler
dan diantara kapiler jaringan dan mitokondria.9
Transport dan difusi oksigen dalam darah
Sekitar 97% oksigen diangkut ke jaringan dalam keadaan terikat secara kimiawi ke
hemoglobin. 3% sisanya diangkut ke jaringan dalam cairan plasma dan sel. Hb berikatan
dengan oksigen dalam jumlah besar jika PO2 tinggi dan kemudian membebaskan O2 jika
kadar PO2 rendah. Ketika darah melewati paru dengan PO2 darah meningkat menjadi 95
mmHg, Hb menyerap banyak oksigen. Sewaktu melewati kapiler jaringan dengan PO 2 turun
menjadi sekitar 40 mmHg, Hb membebaskan sejumlah besar oksigen. Oksigen bebas ini
kemudian berdifusi ke dalam sel jaringan.8,9
Kurva disosiasi oksigen-Hb memperlihatkan persen saturasi Hb yang diplotkan
sebagai fungsi PO2. Kurva disosiasi oksigen-Hb menunjukkan peningkatan progresif

18

persentase Hb yang terikat ke oksigen sewaktu PO2 darah meningkat, yang dinamai persen
saturasi Hb.8
Bentuk sigmoid kurva disosiasi oksigen-Hb terjadi karena daya ikat oksigen ke Hb
yang semakin kuat dengan semakin banyaknya oksigen yang terikat. Setiap molekul Hb dapat
mengikat 4 molekul oksigen. Setelah satu molekul oksigen terikat, afinitas Hb untuk molekul
kedua meningkat, demikian seterusnya. Perhatikan bahwa afinitas untuk oksigen tinggi di
paru dengan nilai PO2 sekitar 95 mmHg dan rendah di jaringan perifer dengan nilai PO 2
adalah sekitar 40 mmHg.8,9
Jumlah maksimal oksigen yang diangkut oleh Hb adalah sekitar 20 mL oksigen per
100 mL darah. Pada orang normal, setiap 100 mL darah mengandung sekitar 15 gr Hb, dan
setiap gram Hb dapat berikatan dengan sekitar 1,34 mL oksigen ketika saturasinya 100%.
Namun, jumlah total oksigen yang terikat oleh Hb darah arteri normal adalah sekitar 97%,
sehingga disetiap 100 mL darah terangkut sekitar 19,4 mL oksigen. Hb dalam darah vena
yang meninggalkan jaringan perifer memiliki saturasi oksigen sekitar 75% sehingga jumlah
oksigen yang diangkut oleh Hb darah vena adalah sekitar 14,4 mL oksigen per 100 mL darah.
Karena itu, dalam keadaan normal diangkut sekitar 5 mL oksigen ke jaringan per 100 mL
darah.8
Pada kondisi basal, jaringan membutuhkan sekitar 5 mL oksigen dari setiap 100 mL
darah. Agar 5 mL oksigen dibebaskan, PO2 harus turun menjadi sekitar 40 mmHg. Kadar PO 2
jaringan dalam keadaan normal tidak mencapai 40 mmHg karena oksigen yang dibutuhkan
oleh jaringan pada keadaan tersebut tidak dibebaskan dari Hb; oleh karena itu, Hb
menetapkan kadar PO2 jaringan di batas atas sekitar 40 mmHg.8
Saat olahraga berat, pemakaian oksigen meningkat hingga 20 kali normal. Hal ini
dapat dicapai dengan sedikit penurunan PO2 jaringan (turun hingga ke tingkat 15-25 mmHg)
karena curamnya kurva disosiasi dan meningkatnya aliran darah jaringan akibat
berkurangnya PO2 (yaitu peningkatan kecil PO2 menyebabkan sejumlah besar oksigen
dibebaskan.8

Transpor dan difusi CO2 dalam darah


Dalam keadaan istirahat, sekitar 4 mL CO2 diangkut dari jaringan ke paru dalam setiap
100 mL darah. Sekitar 70% CO2 darah diangkut dalam bentuk ion bikarbonat, 23% dalam
ikatan dengan Hb dan protein plasma, dan 7% dalam keadaan larut dalam cairan darah. Di
19

jaringan sel, PCO2 sebesar 45 mmhg sedangkan di kapiler darah PCO2 sebesar 40 mmhg.
Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan CO2 berdifusi ke dalam kapiler darah dan dibawa
menuju alveolus untuk dikeluarkan melalui proses ekspirasi.8
Keseimbangan Asam - Basa
Istilah keseimbangan asam basa merujuk kepada regulasi tepat konsentrasi ion
hidrogen (H+) bebas (yaitu, tidak terikat) dalam cairan tubuh. Untuk menunjukkan
konsentrasi suatu bahan kimia, simbolnya dikurung oleh tanda kurung persegi [ ]. Karena itu,
[H+] menunjukkan konsentrasi H+. Asam adalah kelompok khusus bahan yang mengandung
hidrogen yang terdisosiasi atau terpisah. Sementara itu, basa adalah suatu bahan yang dapat
berikatan dengan H+ bebas dan menyingkirkannya dari larutan. Basa kuat dapat mengikat H +
lebih mudah daripada basa lemah.1
pH H2O murni adalah 7,0 yang dianggap secara kimiawi sebagai larutan netral.
Terjadi disosiasi H2O dalam jumlah amat kecil menjadi ion hidrogen dan ion hidroksil (OH -).
Larutan dengan pH kurang dari 7 mengandung [H +] lebih tinggi daripada H2O murni dan
dianggap sebagai asam. Sebaliknya larutan dengan nilai pH lebih besar daripada 7 memiliki
konsentrasi [H+] lebih rendah dan disebut basa atau alkali.1
Asidosis dan Alkalosis Dalam Tubuh
pH darah arteri normalnya adalah 7,45 dan vena darah vena adalah 7,35 untuk pH
rata-rata 7,4. Terjadi asidosis jika pH darah turun di bawah 7,35 dan alkalosis jika pH di atas
7,45. Meskipun titik referensi untuk menentukan status asam basa tubuh bukan pH yang
secara kimiawi netral yaitu 7,0 tetapi pH normal plasma yaitu 7,4. Karena itu pH 7,2
dianggap asam meskipun dalam ilmu kimia pH 7,2 dianggap basa.1
Hanya kisaran pH yang sempit yang memungkinkan kehidupan, karena bahkan
perubahan kecil pada [H+] menimbulkan efek dramatik pada fungsi sel normal. Konsekuensi
utama fluktuasi [H+] diantaranya:1
1. Perubahan eksitabilitas sel saraf dan otot sebagai manifestasi klinis utama gangguan
pH. Penigkatan [H+] atau asidosis adalah depresi susunan saraf pusat (SSP). Pasien
mengalami disorientasi dan kemudian meninggal dalam koma. Sebaliknya penurunan
pH [H+] atau alkalosis adalah eksitabilitas berlebihan sistem saraf dimulai dari saraf

20

tepi dan kemudian SSP.Saraf perifer menjadi sangat peka dan melepaskan sinyal
meskipun tidak ada rangsangan normal.
2. Konsentrasi ion hidrogen menimbulkan pengaruh nyata pada aktivitas enzim. Karena
enzim adalah protein maka pregeseran keseimbangan asam basa tubuh mengganggu
pola normal aktivitas metabolik yang dikatalis oleh enzim enzim ini.
3. Perubahan [H+] mempengaruhi kadar K+ tubuh. Dalam keadaan normal, sel sel
tersebut cenderung mensekresikan K+ daripada H+. Jika lebih banyak H+ dieliminasi
ginjal, maka jumlah K+ yang diekskresikan akan berkurang. Retensi K+ yang terjadi
dapat mempengaruhi fungsi jantung, salah satu efek merugikan gangguan ini.
Asidosis Respiratorik
Asidosis respiratorik terjadi akibat retensi abnormal CO2 karena hipoventilasi.
Karena CO2 yang keluar dari paru lebih sedikit dari normal maka peningkatan pembentukan
dan penguraian H2CO3 yang terjadi mengakibatkan peningkatan [H+].1
Hal ini diakibatkan oleh penyakit paru, depresi pusat pernapasan oleh obat-obatan,
gangguan saraf atau otot yang mengurangi kemampuan bernapas. Maka, tindakan
kompensasi bekerja untuk memulihkan pH ke normal adalah dapar kimiawi segera menyerap
kelebihan H+ dan ginjal akan mencoba menahan semua HCO3- yang difiltrasi dan
menambahkan HCO3- baru ke plasma sambil secara bersamaan mensekresi dan mengekskresi
lebih banyak H+.1
Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik selalu ditandai oleh penurunan [HCO3-] plasma sementara CO2
normal sehingga terbentuk rasio asidotik 10/1. Masalah dapat timbul karena pengeluaran
cairan kaya HCO3- yang berlebihan dari tubuh atau karena akumulasi asam nonkarbonat. 1
Asidosis metabolik disebabkan oleh diare berat, diabetes melitus, olahraga berat atau
gagal ginjal berat (uremik). Kecuali pada asidosis uremik, asidosis metabolik dapat
dikompensasi oleh mekanisme pernapasan dan ginjal serta dapar kimiawi. Kompensasi itu
berupa penyangga menyerap kelebihan H+, paru mengeluarkan lebih banyak CO2 penghasil
H+ dan ginjal mengekskresikan H+ lebih banyak dan menahan HCO3- lebih banyak. 1
Alkalosis Respiratorik

21

Alkalosis respiratorik terjadi karena pengeluaran berlebihan CO2 dari tubuh akibat
hiperventilasi. Jika ventilasi paru meningkat melebihi laju produksi CO2 maka CO2 yang
keluar akan terlalu banyak. Akibatnya H2CO3 yang terbentuk berkurang dan [H+] menurun. 1
Alkalosis respiratorik disebabkan oleh demam, rasa cemas, keracunan aspirin, yang
akhirnya merangsang ventilasi secara berlebihan tanpa mempertimbangkan O 2,CO2 atau H+ di
cairan tubuh. Di samping itu, alkalosis respiratorik terjadi karena mekanisme fisiologik di
tempat yang tinggi. Tindakan kompensasi bekerja untuk menggeser pH kembali adalah sistem
dapar kimiawi membebaskan H+ untuk mengurangi keparahan alkalosis dan jika situasi
berlanjut selama beberapa hari, maka ginjal melakukan kompensasi dengan menahan H + dan
mengekskresikan HCO3- lebih banyak. 1
Alkalosis Metabolik
Alkalosis metabolik adalah penurunan [H+] plasma akibat defisiensi relatif asam
asam nonkarbonat. Gangguan asam basa ini berkaitan dengan pengingkatan [HCO 3-] yang
pada keadaan tak terkompensasi tidak disertai perubahan [CO2]. 1
Penyebab alkalosis metabolik adalah muntah berat dan pemakaian antasida
berlebihan. Tindakan kompensasi bekerja dengan sistem dapar kimiawi segera membebaskan
H+, ventilasi berkurang sehingga CO2 penghasil H+ tertahan di cairan tubuh dan jika keadaan
menetap beberapa hari maka ginjal akan menahan H + dan mengekskresikan lebih banyak
HCO3- di urin. 1
Keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran H+ sangat penting untuk
mempertahankan keseimbangan asam basa dalam batas batas sempit yang memungkinkan
hidup. Penyimpangan pH lingkungan cairan internal menyebabkan gangguan eksitabilitas
neuromuskulus,

perubahan

aktivitas

metabolik

yang

dikontrol

oleh

enzim

dan

ketidakseimbangan K+ dapat menyebabkan aritmia jantung. Efek efek ini mematikan jika
pH berada di luar kisaran 6,8 sampai 8,0. 1

Penutup
Mekanisme pernapasan melibatkan banyak struktur mulai dari hidung sebagai
pintu utama masuknya udara hingga alveolus yang merupakan tempat pertukaran Oksigen

22

dan karbondioksida. Dan jika ada gangguan maka fungsi dari system pernapasan tidak akan
berjalan dengan baik.
Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke - 6. Jakarta: EGC; 2012.
h. 410-32.
2. Mescher AL. Histologi dasar junqueira. Edisi ke 12. Jakarta: EGC; 2012. h. 292 307.
3. Gunardi S. Anatomi system pernapasan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2007. h. 1-101.
4. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AW. Grays dasar dasar anatomi. Jakarta: EGC; 2012.
h. 551-70.
5. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2002.h.1-22.
6. Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC : 2002. h.629-45.
7. Eroschenko VP. Atlas histology difiore dengan korelasi fungsional. Edisi ke - 11.
Jakarta: EGC; 2010. h.290-5.
8. Guyton & Hall. Buku saku Fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2010. h.293-4,296-7.
9. Tortora GJ, Derrickson BH. Principles of anatomy and physiology. 12nd edition.
Asia : John wiley & sons ;2009. h.874 905.
10. Ward JPT, Ward J, Leach RM, Wiener CM. At a glance system respirasi. Edisi ke- 2.
Jakarta : Penerbit Erlangga; 2008. h.10-27, 48-9.

23

Anda mungkin juga menyukai