Anda di halaman 1dari 61
ISSN 2086 ‐ 7352 JURNAL KONSTRUKSIA VOLUME 1 NOMER 1 APRIL 2010 ANALISIS KETAHANAN GEMPA
ISSN 2086 ‐ 7352
JURNAL
KONSTRUKSIA
VOLUME 1 NOMER 1
APRIL 2010
ANALISIS KETAHANAN GEMPA DINAMIS PADA GEDUNG
DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
AKIBAT PERATURAN SNI 03‐1726‐ 2002
Haryo K. Buwono
PENGARUH KADAR SILIKA (SiO 2 ) PADA AGREGAT HALUS
TERHADAP PERMEABILITAS BETON
Nadia/Ahmad Ghani Ramdhon
PENCEGAHAN PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN
ANTARA DUA BREAKWATER DENGAN SISTEM SAND BY
PASSING
Aripurnomo Kartohardjono
ANALISIS PRODUKTIFITAS TENAGA KERJA PADA
PEKERJAAN BETON
Trijeti/Okerda
KORELASI PENERAPAN ILMU TEKNIK, ILMU EKONOMI
DAN KEAHLIAN TEKNIK DALAM PROBLEMATIK PROYEK
KONSTRUKSI
Yul Achyar Alfa
TEKNIK SIPIL – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Volume 1  Nomor 1  Halaman 1 – 55  April 2010

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomor 1 April 2010

JURNAL

ISSN 2086 7352

KONSTRUKSIA

REDAKSI

Penanggung Jawab

: Ir. Aripurnomo Kartohardjono, DMS, Dipl.TRE.

Pemimpin Redaksi

: Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Dewan Redaksi

: Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, MSc., PHD. DR. Ir. Rusmadi Suyuti, ME. DR. Ir. Saihul Anwar, M.Eng.

Staf Redaksi

: Ir. Nadia, MT. Ir. Trijeti, MT.

Seksi Umum

: Ir. Saifullah Imam Susandi

Disain Kreatif

: Ir. Haryo Koco Buwono, MT.

Terbit

: Per Semester ( Dua Kali Setahun )

Alamat Redaksi

: Jurnal Konstruksia Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.10510

Ilustrasi cover: Tower BTS Rev 72 Bekasi

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomor 1 April 2010

JURNAL

ISSN 2086 7352

KONSTRUKSIA

Volume 1 Nomor 1 April 2010

ISSN 2086 ‐ 7352 KONSTRUKSIA Volume 1 Nomor 1 April 2010 Diterbitkan oleh: Teknik Sipil Fakultas

Diterbitkan oleh: Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomor 1 April 2010

JURNAL

ISSN 2086 7352

KONSTRUKSIA

PENGANTAR REDAKSI

Dengan mengucap syukur yang mendalam seiring terbitnya Jurnal Ilmiah Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang kami beri nama JURNAL KONSTRUKSIA. Jurnal ini sedianya akan terbit setiap semester guna suasana akademik dalam hal ini kebutuhan tulisan Dosen, Mahasiswa dan masyarakat Konstruksi untuk menuangkan informasi yang bermanfaat bagi perkembangan Ketekniksipilan di Indonesia.

Pada edisi ini, cukup mewakili semua bidang keilmuan di Teknik Sipil, mulai dari Struktur yang dengan tema perubahan peraturan gempa yang berdampak pada konstruksi yang telah terbangun, bidang Manajemen Konstruksi, berkaitan dengan korelasi teori dan praktek dalam proyek dan Bidang Kepelabuhanan tentang teknologi san by passing. Serta masih banyak yang lain tentang teknologi bahan konstruksi.

Embrio dari pemunculan jurnal ini tidak lepas juga dari semangat Jurusan Sipil UMJ untuk meningkatkan mutu dosen dan akreditasi dari periode ke periode berikut dengan sungguh‐sungguh. Namun embrio jurnal ini mungkin masih banyak kekurangan disana‐sini, karena masih dalam proses pembelajaran bagi kami. Semoga tetap sustain dari waktu ke waktu. Amiin

Jakarta, April 2010

Pemimpin Redaksi

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomor 1 April 2010

ISSN 2086 7352

JURNAL

KONSTRUKSIA

DAFTAR ISI

Redaksi Pengantar Redaksi Daftar Isi

ANALISIS KETAHANAN GEMPA DINAMIS PADA GEDUNG DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGGUNAKAN SNI 03‐1726‐2002………………………………………… 1 – 10

PENGARUH KADAR SILIKA (SiO 2 ) PADA AGREGAT HALUS TERHADAP PERMEABILITAS BETON

11 – 22

PENCEGAHAN PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN ANTARA DUA BREAKWATER, DENGAN SYSTEM SAND BYPASSING ………

23 – 31

ANALISA PRODUKTIFITAS TENAGA KERJA PADA PEKERJAAN BETON

33 – 44

KORELASI PENERAPAN ILMU TEKNIK, ILMU EKONOMI DAN KEAHLIAN TEKNIK DALAM PROBLEMATIK PROYEK KONSTRUKSI ………………………………………………………… 45 – 55

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomor 1 April 2010

JURNAL

ISSN 2086 7352

KONSTRUKSIA

Kriteria Penulisan

1. Jurnal KONSTRUKSIA. Menerima naskah ilmiah dari ilmuwan/akademisi dan praktisi bidang teknik atau yang terkait, bias berupa hasil penelitian,studi kasus, pembahasan teori dan resensi buku, serta inovasi‐ inovasi baru yang belumpernah dipublikasikan.

2. Jurnal KONSTRUKSIA terbit berkala tiap semester, pada bulan April dan Januari.

3. Naskah ilmiah hendaknya ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang baik dan benar. Penulis setuju mengalihkan hak ciptanya ke Redaksi Jurnal KONSTRUKSIA Teknik Sipil UMJ, jika dan pada saat naskah diterima dan diterbitkan.

4. Naskah tidak akan dimuat, jika mengandung unsur SARA, politik, komersial, Subyektifitas yang berlebihan, penonjolan seseorang yang bersifat memuji ataupun merendahkan.

5. Naskah/tulisan hendaknya lengkap memuat :

a. Judul

b. Nama Penulis (tanpa gelar) dan alamat email

c. Nama Lembaga atau institusi tempat penulis beraktifitas

d. Abstrak dan kata kunci dalam Bahasa Indonesia dan Inggris,

panjang abstrak tidak lebih dari 200 kata

e. Isi Naskah (pembahasan), penutup (kesimpulan), daftar pustaka dan lampiran (jika ada)

6. Naskah /artikel diketik pada kertas HVS ukuran A4 dan dengan format margin kiri, kanan, atas dan bawah 30 mm, serta harus diketik dengan jenis huruf Arial dengan font 10 pt (kecuali judul), satu spasi. Judul ditulis miring (italic), jumlah halaman 7‐10.

7. Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk print out dan soft copy (CD).

Alamat redaksi :

Jurnal KONSTRUKSIA TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA Jl. Cempaka Putih tengah 27 – Jakarta Pusat. Telp. 42882505, Fax. 42882505 Email. konstruksia@gmail.com

Analisis Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono)

ANALISIS KETAHANAN GEMPA DINAMIS PADA GEDUNG DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGGUNAKAN SNI 03-1726-2002

oleh : Haryo Koco Buwono Dosen Tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadyah Jakarta email: haryokoco@yahoo.com

ABSTRAK: Aspek perencanaan yang harus ditinjau salah satunya adalah memperhitungkan kemampuan struktur terhadap gempa. Di Indonesia saat ini terdapat 2 peraturan yang kedua-duanya masih berlaku yaitu Peraturan Bangunan Tahan Gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-1989. Peraturan ini menjadi menarik ketika ada klaim bahwa peraturan tahun 1989 menjadikan konstruksi tidak aman ketika diberlakukan peraturan baru. Kasus yang dipakai disini adalah menggunakan bangunan eksisting Depatemen Perindustrian dan Perdagangan Jl. MI Ridwan No. 5 Jakarta Pusat. Alat bantu hitung adalah SAP 2000 versi 11. Perencanaan dengan Gempa sistem Statis dan Dinamis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Volume pembesian yang dihasilkan peraturan SNI 03-1726- 1989, menunjukkan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan peraturan tahun 2002. Hasil tersebut mematahkan klaim tentang peraturan 1989 tersebut.

Kata Kunci: Peraturan, Gempa, SNI 03-1726-1989, SNI 03-1726-2002

ABSTRACT: Aspects of planning that must be reviewed one of them is the ability to take into account the structure of the earthquake. In Indonesia today there are 2 rules that are both still valid ie Earthquake Resistant Building Regulations SNI SNI 03-1726-1989 and 03-1726-1989. This regulation becomes interesting when there are claims that the 1989 regulations do not make the construction of security when the new rules apply. The case used here is to use the existing building Depatemen Industry and Trade Jl. MI Ridwan No. 5 Jakarta Pusat. Calculate the tool is SAP 2000 version 11. Earthquake Planning with Static and Dynamic systems. Results obtained from this study is the volume produced iron SNI 03-1726-1989 regulations, indicate the number more than the rules in 2002. The results of the break claims regarding The 1989 regulations.

Keywords: Regulation, Earthquake, SNI 03-1726-1989, SNI 03-1726-2002

LATAR BELAKANG

Perencanaan struktur gedung tentu tidak lepas dari batasan-batasan atau peraturan- peraturan yang melekat yaitu peraturan pembebanan, ketahanan gempa, konstruksi/struktur dan lain-lain. Pada saat ini Peraturan Gempa SNI 03-1726-1989 sudah lebih dari 10 tahun dan oleh para perencana bangunan gedung sudah dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan periodik pengetahuan tentang kegempaan. Periode Gempa periode 500 tahunan menjadi sulit diterapkan untuk peraturan tahun 1989, maka dengan peraturan tahun 2002 ini diharapkan mampu menjawab tantangan perkembangan informasi tentang ilmu gempa dikaikan dengan konstruksi. Probabilitas 10% selama 50 tahun dapat diukur sebagai umur konstruksi.

Seperti dilansir pada peraturan gempa tahun 2002, bahwa makin panjang periode ulang suatu gempa, makin besar pengaruhnya terhadap konstruksi. Disamping itu pula dalam peraturan baru (2002) telah dilengkapi dengan jenis tanah yang lebih spesifik dibandingkan peraturan 1989. Seharusnya bila ditinjau dari itu semua, maka telah terjadi degradasi konstruksi untuk peraturan lama (1989) dengan peraturan 2002. Namun harus ada pendekatan peraturan 1989 dengan peraturan SNI 03-1726-2002 yaitu:

1 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

1. Faktor reduksi gempa (R), menurut peraturan tahun 1989 dinyatakan R = 6 sedangkan R = 8,5 untuk peraturan baru.

2. Faktor jenis tanah peraturan lama (1989) digunakan tanah lunak sedangkan 2002 digunakan tanah sedang.

3. Gedung eksisting yang telah berjalan sesuai umurnya harus disesuaikan dengan peraturan 2002.

BANGUNAN YANG DITINJAU SEBAGAI KASUS

Bangunan yang digunakan sebagai sample untuk penelitian ini adalah bangunan Gedung Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jl. MI Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat dengan perincian sebagai berikut:

1.

2. Tinggi total bangunan

Jumlah lantai

: 12 lantai

: 55,20 meter

3. Panjang bangunan

: 66 meter

4. Lebar bangunan

: 26 meter

5. Fungsi gedung

: Perkantoran

6. Lantai atap

: Ruang Mesin

7. Wilayah Gempa

: 4 untuk SNI 03-1726-1989

8. Wilayah Gempa

: 3 untuk SNI 03-1726-2002

9. Jenis Tanah

: Lunak (SNI 03-1726-1989)

10. Jenis tanah

: Sedang (SNI 03-1726-2002)

10. Jenis tanah : Sedang (SNI 03-1726-2002) Gambar 1. Denah Kasus analisis Gambar 2. Tampak Bangunan

Gambar 1. Denah Kasus analisis

: Sedang (SNI 03-1726-2002) Gambar 1. Denah Kasus analisis Gambar 2. Tampak Bangunan Gedung tersebut secara

Gambar 2. Tampak Bangunan

Gedung tersebut secara struktural telah teruji dengan menggunakan SNI 03-1726-1989.

2 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisis Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono)

IDENTIFIKASI MASALAH

Masalah yang ada dalam perencanaan struktur gedung menurut SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-2002 yaitu tingkat efisiensi terhadap volume beton bertulang dan besi yang digunakan tanpa mengurangi keandalan struktur terhadap ketahanan gempa.

BATASAN MASALAH

1. Perencanaan pada bangunan utama meliputi:

a. Perhitungan rekayasa gempa

b. Perhitungan struktur beton bertulang

2. Untuk bangunan pelengkap yang akan dibahas adalah perhitungan struktur tangga beton bertulang.

3. Tingkat efisiensi yang dihitung adalah berdasarkan perbandingan volume besi tulangan yang digunakan menurut SNI 1989 dan SNI 2002, dengan dimensi struktur, mutu beton dan mutu besi tulangan yang sama dengan hanya meninjau struktur atas.

PERUMUSAN MASALAH

Secara garis besar tata cara perencanaan struktur gedung bertingkat dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Perencanaan awal bangunan yang terdiri dari, perencanaan dimensi bangunan, panjang dan lebar dan yang tak kalah pentingnya adalah tinggi bangunan akibat adanya core wall dan bangunan tangga.

2. Analisa beban-beban yang terjadi, antara lain: Beban mati, beban hidup, beban gempa statis dan beban gempa dinamis didasarkan dari 2 peraturan gempa yang ditinjau.

3. Perencanaan struktur yang ditinjau untuk perbandingan hasil volume, adalah:

perencanaan pelat, balok, kolom, core wall dan tangga.

MAKSUD DAN TUJUAN

Penelitian ini memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui keandalan akibat klaim tentang bangunan yang dihitung menggunakan peraturan SNI 03-1726-1989 akibat adanya peraturan SNI 03-1726-2002.

2. Mengetahui serviceability dan safety dari peraturan SNI 03-1726-1989 dengan

peraturan SNI 03-1726-2002.

LANDASAN TEORI

Seiring dengan pesatnya ilmu dan teknologi, struktur saat ini sudah mampu dianalisis secara 3 dimensi dengan metode elemen hingga yang mencakup degree of freedom akibat perilaku struktur tersebut. Degree of freedom (derajat kebebasan) yang terwakili adalah 3 sistem translasi dan 3 sistem rotasi.

Berdasarkan arah pembebanan gempa, maka saat mendesign dengan sistem gempa statis digunakan arah sejajar lebar bangunan dan sejajar panjang bangunan serta rotasi sejajar tinggi bangunan. Menurut peraturan gempa 1989, kedua gempa yang saling tegak lurus ini dikombinasikan secara linier sebagai berikut:

100%*EQx ± 30%EQy atau 30%*EQx ± 100%EQy

3 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Sedangkan menurut peraturan baru kombinasi tersebut harus memiliki besaran yang sama pada kedua sisinya yaitu harus dikalikan 100% untuk EQx maupun EQy artinya sesuai model SRSS (Square Root of the Sum of Square sebagai langkah antisipatis kritis bangunan akibat efek gempa.

Analisis dinamis yang digunakan sebenarnya ada 2 type yaitu Respon spektrum (Response Spectra) dan Sejarah Waktu (Time History). Perhitungan respon spektrum pada sebuah gedung yang tidak beraturan akibat pembebanan nominal rencana, sebaiknya dilakukan dengan analisis ragam spektrum sebagai dasar gempa rencana. Penjumlahan ragam respon untuk struktur gedung yang tak beraturan ini memiliki waktu getar alami yang berdekatan, maka diperlukan pendekatan dengan sistem CQC (complete quadratic combination). Bila jarak antara waktu getar alami melebihi dari 15% maka diperkenankan menggunakan sistem SRSS.

Pengaruh P-delta pada perencanaan adalah sangat perlu diperhatikan. P-Delta efek adalah momen guling orde kedua akibat lendutan besar yang memperbesar simpangan bangunan. Simpangan yang besar akan berpengaruh pada nilai P-delta-nya. Jika rasio simpangan antara tingkat dan tinggi tingkat tidak melebihi 1%, maka efek P-delta cukup kecil. Kontribusi P-delta pada bangunan tinggi dan bangunan dengan rasio kekakuan dibanding berat hasilnya kecil, maka efek P-delta menjadi besar. Menurut peraturan, pengaruh P- delta harus diperhitungkan untuk struktur gedung yang lebih besar dari 10 lantai (tingkat) atau 40 meter.

Dalam perencanaan telah diterima sebagai suatu kenyataan bahwa secara ekonomis tidaklah layak bila gedung dirancang sekuat-kuatnya, agar mampu menahan beban layan gempa yang sebesar-besarnya. Namun sebagai perencana haruslah memperhatikan faktor ekonomis dan kemampuan layan sebuah konstruksi. Bangunan yang kaku (daktail) tidak identik dengan layak sebagai bangunan yang mempu menerima dinamis beban akibat gempa. Kesepakatan layan gedung terhadap gempa adalah mempunyai kemampuan menyimpang paling sedikit 4 kali dari simpangannya pada leleh pertama (sehingga faktor daktilitasnya tertunjuk 4) tanpa harus kehilangan energi yang berarti. Berikut ini adalah perbedaan dari peraturan gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-

2002:

dari peraturan gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726- 2002: Gambar 3. Wilayah Gempa Berdasar SNI 03-1726-1989

Gambar 3. Wilayah Gempa Berdasar SNI 03-1726-1989

4 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisis Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono)

Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono) Gambar 4. Koefisien Dasar Gempa berdasar wilayah gempa

Gambar 4. Koefisien Dasar Gempa berdasar wilayah gempa 1989

Gambar 4. Koefisien Dasar Gempa berdasar wilayah gempa 1989 Gambar 5. Wilayah Gempa Berdasar SNI 03-1726-2002

Gambar 5. Wilayah Gempa Berdasar SNI 03-1726-2002

gempa 1989 Gambar 5. Wilayah Gempa Berdasar SNI 03-1726-2002 Gambar 6. Respons Spectrum berdasar wilayah gempa

Gambar 6. Respons Spectrum berdasar wilayah gempa 2002

5 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Tabel resume antara peraturan gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-2002

 

Unsur

SNI 03-1726-1989

SNI 03-1726-2002

Gempa rencana dengan periode ulang Daktilitas Elastik penuh Parsial Penuh Jenis Tanah Tanah Keras Tanah sedang Tanah Lunak Wilayah Gempa

200 tahun

500 tahun

1,0

1,0

2,0

1,5 5,0

4,0

5,3

2 kgf/cm 2 = 200 kPa

Su 100 kPa

---

0,5 kgf/cm 2 = 50 kPa Lihat Gambar 3 Lihat Gambar 4

50 Su < 100 kPa

Su < 50 kPa Lihat Gambar 5 Lihat Gambar 6

Respon

spektrum

gempa

rencana

INPUT GEMPA DINAMIS DAN STRENGTH REDUCTION

SNI 2002 untuk analisis ragam respon spectrum, nilai ordinatnya dikalikan faktor I/R, dimana I adalah faktor keutamaan, sedangkan R adalah faktor reduksi gempa representatif.

sedangkan R adalah faktor reduksi gempa representatif. Gambar 7. Faktor keutamaan Struktur (I) Gambar 8. Faktor

Gambar 7. Faktor keutamaan Struktur (I)

gempa representatif. Gambar 7. Faktor keutamaan Struktur (I) Gambar 8. Faktor Reduksi gempa Representatif (R) 6

Gambar 8. Faktor Reduksi gempa Representatif (R)

6 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisis Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono)

ANALISA PERHITUNGAN STRUKTUR

1.

PEMBEBANAN

a. Beban Mati Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu struktur yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan. Untuk beban tersebut akan dihitung berdasarkan tabel dibawah ini :

No.

MATERIAL

BEBAN MATI

1.

Baja

7.850

kg/m 3

2.

Beton Bertulang

2.400

kg/m 3

3.

Pasir

2.200

kg/m 3

4.

Finishing lantai per cm tebal

24

kg/m²

b. Beban Hidup Beban hidup yang digunakan sesuai dengan Peraturan Pembebanan Indonesia. Beban Hidup untuk berbagai fungsi ruang adalah seperti tertera dalam Tabel 2.

 

BEBAN

KOEFISIEN BEBAN HIDUP

FUNGSI RUANG

HIDUP

ANALISA

ANALISA

(Kg/m²)

FRAME

BEBAN GEMPA

Pelayanan Umum

400

0,9

0,50

c. Beban Gempa Pada prinsipnya, beban horizontal (beban gempa) secara lebih detail dijelaskan dalam butir 1.8.

Beban gempa ialah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu Analisis Dinamis Respon Spektrum, maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.

Pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana, dapat dilakukan dengan metoda analisis ragam spektrum respons dengan memakai Spektrum Respons Gempa Rencana menurut wilayah gempa 3, yang nilai ordinatnya dikalikan faktor koreksi I/R. Dalam penelitian pada sebuah kasus di Gedung Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jl. MI Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat, ini memiliki nilai I = 1,0 dan R = 8,5, maka rasio I/R =

0,117.

Mengacu pada perencanaan Gedung Beton Indonesia SNI 03 2847 2002, yang menyatakan bahwa strength reduction harus digunakan sebagai berikut:

1. Bending/Tension = 0,80

2. Compression (T) = 0,65

3. Compression (S)

= 0,70

4. Shear

= 0,60

7 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Gempa Wilayah III 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 0.2 0.6 0.75 1
Gempa Wilayah III
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0
0.2
0.6 0.75
1
1.25
1.5 1.75
2
2.25 2.5
2.75
3
T
C

Gambar 9. Gempa Wilayah 3 yang sudah tereduksi

d. Beban Angin Struktur ini tidak direncanakan secara khusus terhadap beban angin, karena persyaratan beban gempa untuk bangunan struktur ini lebih menentukan / dominan dari pada beban angin.

e. Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan dihitung berdasarkan atas Peraturan Perencanaan yang berlaku. Untuk struktur ini, elemen struktur direncanakan sesuai

persyaratan kekuatan (Design Strength) pada kombinasi beban batas seperti

diuraikan

berikut ini :

 

Required

Strength

<

Design Strength

U

<

Ø x (Nominal Strength)

Dimana :

 

U

=

Required Strength (Kuat Perlu)

Ø

=

Strength Reduction Factor (Faktor Reduksi Kekuatan)

1.

U

= 1,2 D + 1,6 L

2.

U

= 1,05 (D + L R + E)

 

1,05 (D + L R ± E X ± 30 % E Y )

b. = 1,05 (D + L R ± E Y ± 30 % E X )

a. U

=

U

Salah satu check terhadap analisis perhitungan balok menggunakan analisa sebagai berikut ini. Besarnya gaya momen yang terjadi pada struktur balok yaitu 1033kg.m/m maka :

Mu = Ø * As * fy * (d a/2)asumsi lengan momen

(

)

(

)

As = 2.31 cm² jadi digunakan D16 200 mm As yg terjadi sebesar 12.0576 cm²/m

8 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisis Ketahanan Gempa Dinamis Pada Gedung (Haryo Koco Buwono)

As min = A * (1.4 / Fy) = 25 cm * 100 cm * 0.0036 = 9 cm²/m As maks = ρ maks * A = 0.0157 * 25 cm * 100 cm = 39.25 cm² Asmin < As yang digunakan < As maks (Disain ok)

Lendutan yang terjadi pada salah satu kolom sebesar 0.0518 cm

yang terjadi pada salah satu kolom sebesar 0.0518 cm Gambar 10. Hasil Analisis sederhana menggunakan PCACOL

Gambar 10. Hasil Analisis sederhana menggunakan PCACOL untuk penggambaran detail kolom hitungan

kesimpulan : gaya momen dan gaya normal yang terjadi masih didalam kapasitas kekuatan dinding box girder dengan tulangan D16 200 mm.

2. HASIL ANALISA Hasil analisa struktur gedung secara keseluruhan yang ditinjau didapatkan bahwa hasil volume pembesian (tulangan) yang diperhitungkan dengan peraturan SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-2847-2002 dari analisa dinamis didapatkan hasil sebagai berikut:

9 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

1. Volume balok berdasarkan peraturan gempa 1989 menyatakan lebih banyak dibandingkan peraturan tahun 2002.

2. Volume pelat lantai untuk peraturan 2002 lebih banyak dibandingkan peraturan 1989.

Tabel perbandingan Hasil Penulangan Maksimum :

Elemen

Volume Pokok (kg/m 3 )

Volume Sengkang (kg/m 3 )

SNI 03-1726-

SNI 03-2847-

SNI 03-1726-

SNI 03-2847-

1989

2002

1989

2002

Balok

1053,67

968,61

301,88

299,02

Kolom

1416,68

787,76

178.39

175.68

KESIMPULAN

1. Hasil dari volume yang dapatkan dari SNI 03-1726-1989 lebih tinggi dibandingkan dengan SNI 03-1726-2002, sebagai contoh Balok SNI 1989 untuk tulangan pokoknya sebesar 1053,67 kg/m 3 , sedangkan utuk SNI 2002 didapatkan 968,61 kg/m 3 .

2. Peraturan SNI 03-1726-1989 menunjukkan lebih boros dibandingkan peraturan baru SNI 03-1726-2002. Hal ini dikarenakan peraturan lama menggunakan sistem CQC sedang peraturan baru menggunakan sistem yang lebih fleksibel yaitu dapat menggunakan CQC atau SRSS.

3. Berarti peraturan lama (SNI 03-1726-1989) masih dapat digunakan, artinya gedung yang telah terhitung menggunakan SNI 03-1726-1989 tidak gagal konstruksi setelah menggunakan peraturan SNI 03-1726-2002

PUSTAKA

1. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SNI 03-2847-2002, 2002

2. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI 03-1726-1989, 1989

3. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI 03-1726-2002, 2002

4. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, PPIUG-1983, 1983

5. Agha Riwayat, Perbandingan Perencanaan Struktur Gedung Terhadap Ketahanan Gempa menurut SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-2002, Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2005

10 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

PENGARUH KADAR SILIKA (SiO 2 ) PADA AGREGAT HALUS TERHADAP PERMEABILITAS BETON

oleh :

Nadia Dosen Tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadyah Jakarta email: nd9788@yahoo.co.id

Ahmad Ghani Ramdhon Alumni Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta

ABSTRAK: Bahan additive Silika (SiO2) merupakan salah satu senyawa yang sangat berpengaruh pada proses hidrasi Beton, sehingga dapat mempengaruhi Kuat Tekan maupun Permeabilitasnya. Campuran Beton yang utama merupakan campuran yang terdiri dari Agregat halus (Pasir)+ Agregat kasar (Split/Kerikil) + Semen + Air + Bahan additive. Umumnya Bahan Silika yang ditambahkan pada Beton berupa bahan additive. Sedangkan Pasir setelah diteliti dari beberapa jenis, ternyata Pasir mengandung Silika dalam jumlah yang bervariasi. Sehingga perlu penelitian, apakah kandungan Silika pada Agregat Halus (Pasir) berpengaruh terhadap Beton, dan seberapa besar pengaruhnya. Penelitian dilakukan pada campuran beton normal, dimana agregat halus (pasir) yang digunakan mengandung unsur Silika (SiO2) sebesar 13,12% (rendah < 20%), 35,09% (sedang 20%-40%) dan 50,40% (tinggi >50%) dan beton telah melalui umur rendaman 28 hari. Penelitian dilakukan dalam hal permeabilitasnya, dengan maksud supaya dapat diketahui kerapatan atau porositas beton pada campuran yang dipengaruhi oleh kandungan Silika pada agregat halusnya. Pengukuran dilakukan pada nilai koefisien permeabilitasnya. Nilai koefisien permeabilitas yang diperoleh adalah 1,55x10 -7 cm /det untuk kadar SiO2 = 13,12%, 1,17x10 -7 cm /det untuk kadar SiO2 = 35,09% dan 8,11x10 -8 cm /det untuk kadar SiO2 = 50,40%. Dari hasil penelitian yang diperoleh, ternyata makin tinggi kandungan Silika pada Pasir, semakin rendah nilai koefisien permeabilitasnya.

Kata Kunci: SiO2, pasir, beton, koefisien permeabilitas.

ABSTRACT: Additive Silica (SiO2) is one of the compounds have great influence on concrete hydration process, which can affect the Compressive Strength and permeability. Concrete is a mixture comprising primarily a mixture of fine aggregates (Sand) + coarse aggregates (Split / Gravel) + Cement + Water + additive materials. Silica materials are generally added to the concrete form of additive materials. While the sands upon validation of some kind, apparently containing Silica Sand in varying amounts. So that the necessary research, whether the silica content in Fine Aggregate (Sand) effect on concrete, and how big influence. The study was conducted on normal concrete mixtures, where the fine aggregate (sand) used contain elements of Silica (SiO2) of 13.12% (low <20%), 35.09% (currently 20%

The

-40%) and 50.40%

study was conducted in terms of permeability, with the intention to be known density or porosity of concrete to be influenced by a mixture of silica content in fine aggregate. Measure the value of permeability coefficient.Permeability coefficient values obtained were 1.55 x10-7 cm / sec for the

content of SiO2 = 13.12%, 1.17 x10-7 cm / sec for the content of SiO2 = 35.09% and 8.11 x10-8 cm / s for rateSiO2 = 50.40%. From the research results obtained, it was the higher content of silica in the sand,

the

(high> 50%) and concrete have gone through the age of 28 days immersion.

lower

the

permeability

coefficient.

Keywords: SiO2, sand, concrete, permeability coefficient

11 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

LATAR BELAKANG

Struktur mikro beton menjadi salah satu bidang yang sedang popular untuk diteliti. Proses hidrasi semen, hubungan antara pori-pori di dalam beton, zona pertemuan antara agregat dengan pasta semen adalah struktur mikro yang berpengaruh pada struktur beton secara makro, misalnya kekuatan maupun durabilitas beton

Bahan additive Silika (SiO 2 ) merupakan salah satu senyawa kimia yang memiliki peranan penting di dalam terjadinya proses hidrasi semen, sehingga akhirnya semen dapat mengeras. Ketika air ditambahkan ke dalam campuran semen, proses kimiawi yang disebut hidrasi akan berlangsung. Senyawa kimia di dalam semen akan bereaksi dengan air dan membentuk komponen baru Banyak penelitian mengenai penambahan zat additive yang memiliki kadar SiO 2 cukup besar, yaitu seperti silica fume atau fly ash. Hal tersebut ternyata terbukti dapat membantu mengurangi porositas (rongga-rongga) pada beton, sehingga permeabilitas betonnya menjadi kecil.

Permeabilitas beton ini merupakan sifat beton yang paling penting agar beton memiliki ketahanan terhadap serangan material dari luar. Secara umum ketahanan beton akan bertambah bila permeabilitasnya berkurang. Sifat permeabilitas beton ini sendiri ada dua macam, yaitu permeabilitas terhadap udara dan permeabilitas terhadap zat cair. Dengan kata lain penelitian mengenai permeabilitas beton ini menunjukkan seberapa besar kemudahan beton dalam menerima serangan material dari luar, baik berupa gas maupun zat cair.

Selain semen, bahan-bahan penyusun beton yang lain adalah air, batu kerikil dan pasir. Dan dari semua bahan penyusun beton tersebut pasir dan batu kerikil merupakan agregat yang memiliki kandungan SiO 2 sebagai mineral pembentuknya. Jika dilihat dari ukuran butirannya, pasir berukuran lebih kecil dibandingkan dengan batu kerikil, maka lebih besar kemungkinan untuk kandungan kimia didalamnya akan mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan, terutama senyawa kimia SiO 2 .

Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya penelitian ini. yaitu penelitian yang mengkaji mengenai seberapa besar pengaruh kandungan senyawa SiO 2 dalam pasir pada saat berlangsungnya proses hidrasi, terhadap nilai permeabilitas yang dihasilkan.

Identifikasi Masalah

Agregat halus (pasir) setelah diperiksa dilaboratorium, terdapat kadar SiO 2 yang jumlahnya bervariasi tergantung darimana pasir itu berasal. Setelah diteliti, kadar SiO 2 yang ada didalam pasir, dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu Pasir dengan kadar Sio 2 tinggi (> 40 %), sedang (20 % - 40 %) dan rendah (< 20 %). Oleh karena itu, kondisi ini akan diteliti bagaimana dan seberapa besar pengaruh pasir dengan kadar Silika dalam 3 kategori ini dapat mengurangi permeabilitas beton.

12 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

Pembatasan Masalah

1. Agregat halus (pasir) dengan ukuran butiran < 5 mm terdiri dari :

Pasir Mundu dengan kadar SiO 2 tinggi (50,40 %) -----

Pasir Cileungsi kadar SiO 2 sedang (35,09 %) -----(20% s / d 40%)

Pasir dengan kadar SiO 2 rendah (13,12 % ) --------------- -< 20%

> 40 %

2. Agregat kasar (split) yang digunakan adalah batu split dari Cileungsi Bogor (dengan

ukuran butiran < 25 mm).

3. Semen yang digunakan adalah semen PCC Tiga Roda.

4. Bahan admixture yaitu Platicizer CP-100 produksi PT. Fosroc.

5. Air yang digunakan adalah air PDAM.

6. Untuk perhitungan Mix Design menggunakan ketentuan SK-SNI-T-15-1990-03.

7. Rencana mutu beton standar yang dipakai adalah K300.

8. Persyaratan penetrasi air dan uji permeabilitas sesuai DIN 1045 dan DIN 1048.

9. Pengujian beton berbentuk persegi dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 12 cm.

10. Pengujian permeabilitas beton dilakukan pada umur 28 hari

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan kadar SiO 2 dalam pasir terhadap nilai permeabilitas beton.

2. Untuk menentukan agregat halus (pasir) yang akan digunakan dalam pembuatan beton, terutama untuk beton yang langsung berhubungan dengan air.

Bahan dan Permeabilitas Beton

Sifat yang penting atau utama yang harus dimiliki beton adalah kuat tekan. Semakin padat beton berarti semakin berkurang porositas (lubang pori yang terbentuk) pada beton, porositas yang tinggi akan membuat beton rapuh atau dapat dipastikan memiliki kuat tekan yang kecil. Hal ini juga berarti membuat beton akan mudah untuk dilalui air, atau dapat dinyatakan bahwa permeabilitas beton tersebut tinggi. Sifat permeabilitas ini ada dua macam, yaitu permeabilitas terhadap udara dan permeabilitas terhadap zat cair .

Secara umum sifat permeabilitas beton terhadap zat cair sangatlah penting, terutama untuk struktur yang akan berhubungan langsung dengan air. Maka untuk mengetahui dan mengukur permeabilitas beton perlu dilakukan pengujian permeabilitasnya. Dari data yang dihasilkan oleh uji permeabilitas ini dapat ditentukan koefisien permeabilitas, yaitu suatu angka yang menunjukkan kecepatan rembesan fluida dalam suatu zat .

Untuk mengetahui dan mengukur permeabilitas beton perlu dilakukan pengujian. Uji permeabilitas ini terdiri dari dua macam, yaitu uji aliran (flow test) dan uji penetrasi (penetration test). Uji yang pertama digunakan untuk mengukur permeabilitas beton terhadap air bila ternyata air dapat mengalir melalui sampel beton. Uji penetrasi digunakan jika dalam percobaan permeabilitas tidak ada air yangmengalir melalui sampel.

13 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Dari data yang dihasilkan oleh uji permeabilitas ini dapat ditentukan koefisien permeabilitas, suatu angka yang menunjukkan kecepatan rembesan fluida dalam suatu zat.

Pada uji aliran, koefisien permeabilitas dihitung dengan Rumus Darcy ,

K

dl Q

dh

A t

Pada uji penetrasi, Rumus yang dipakai adalah

d v 2 K  2 Th
d v
2
K 
2 Th

Angka pori beton, v, dihitung dengan menggunakan Rumus :

Agregat Beton

v

w

100 /

g



w c

/

  w c  /  100    36,15 
  w c  /  100    36,15 

100

36,15



Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar atau beton. Berat jenis agregat normal berkisar antara 2,5 sampai 2,7. Agregat ini kira-kira menempati sebanyak 60% - 70% dari volume mortar atau beton. Pemilihan agregat merupakan bagian yang sangat penting karena karakteristik agregat akan sangat mempengaruhi sifat-sifat mortar atau beton

Faktor penting yang perlu diperhatikan adalah gradasi atau distribusi ukuran butir agregat. Apabila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang seragam, dapat menimbulkan volume pori lebih besar. Tetapi jika ukuran butirnya bervariasi, maka volume pori menjadi kecil. Hal ini disebabkan butir yang lebih kecil akan mengisi pori di antara butiran yang lebih besar. Agregat sebagai bahan penyusun beton diharapkan memiliki kemampatan yang tinggi, sehingga volume pori dan kebutuhan bahan pengikat lebih sedikit

Selain itu, agregat juga memiliki unsur-unsur kimia yang dapat bereaksi jika saling bercampur satu sama lain.

Semen

Semen merupakan bahan ikat yang penting dalam campuran beton.

Susunan kimianya terdiri dari:

Batu kapur yang mengandung CaO

14 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

Lempung yang mengandung komponen SiO 2 (silica); Al 2 O 3 (alumina); Fe 2 O 3 (oksida besi).

Dipasaran, terdapat ber-macam-2 type semen, salah satunya adalah type semen PCC yang mutunya sebanding dengan semen yang sering digunakan (type I)

Plasticizer

adalah bahan additive pada campuran beton, yang digunakan untuk mengubah sifat-sifat beton agar mudan dikerjakan (workability) tanpa menambah air.

Air

Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen sehingga terjadi reaksi kimia yang menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya proses pengerasan pada beton, serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan.

Air yang memenuhi persyaratan air minum merupakan air yang memenuhi syarat untuk bahan campuran beton.

Tinjauan Pustaka

Ketika bahan-bahan penyusun beton telah tercampur menjadi suatu adukan beton, maka pada adukan tersebut terjadi proses pengerasan karena adanya proses hidrasi atau terjadi reaksi kimiawi antara air dengan semen dan agregat yang berlangsung dari waktu ke waktu. Hal tersebut menyebabkan kekerasan beton terus bertambah sejalan dengan waktu

Diketahui setelah adukan beton dituang ke dalam cetakan, terjadi proses hidrasi, dan dihasilkan produk berupa calsium-silicate-hydrate (C-S-H). Sisa kapur bebas umumnya melemahkan campuran beton. Maka penambahan Silika pada campuran, dapat bereaksi dengan kapur bebas dan menghasilkan C-S-H, sehingga campuran menjadi bertambah kuat.

Reaksi pengikatan kapur bebas dalam beton dengan SiO 2 secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

Ca(OH) 2 +2SiO 2 +H 2 O

3CaO.2 SiO 2 .3H 2 O

Kapur bebas

Silica

Air

(C-S-H) Mengeras

Pada penelitian yang pernah dilakukan terhadap suatu campuran beton dan Silica fume (> 92% SiO 2 ), serta Fly ash (> 40,4% SiO 2 ), dapat mengurangi porositas beton (permeabilitas) dan sekaligus meningkatkan daya lekat antara pasta semen dan agregat. Dari penelitian yang pernah dilakukan juga, diketahui bahwa kandungan SiO 2 akan mengurangi penggunaan semen dan menambah kuat tekan beton

15 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Penambahan abu sekam dengan kadar SiO 2 > 80% diperoleh hasil peningkatan kuat tekan beton sebesar 29%, dan rembesan (permeabilitas) berkurang, yang berarti beton menjadi lebih kedap air

Meningkatnya kuantitas C-S-H, senyawa utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan property semen, mengakibatkan ikatan yang dihasilkan oleh semen dengan agregat semakin kuat dan ruang-ruang kosong yang awalnya terisi oleh air dan partikel- partikel semen larut, digantikan dengan diganti dengan C-S-H sehingga porositas beton berkurang. Peristiwa inilah yang memberikan kontribusi utama bagi peningkatan kuat tekan sejalan dengan berkurangnya permeabilitas beton dengan betambahnya umur hidrasi (Lea, 1970; Mehta, 1986; Neville and Brooks, 1998)

Kerangka Berfikir

Berdasarkan landasan teori tersebut, maka dapat diketahui bahwa beton dengan kandungan senyawa SiO 2 yang semakin besar dapat menghasilkan kuat tekan yang semakin meningkat dan menurunkan permeabilitas beton.

Hal tersebut berdasarkan teori-teori yang menyatakan bahwa dengan kandungan SiO 2 yang semakin besar dalam beton yang bergabung dengan reaksi hidrasi semen dengan air, akan menghasilkan persenyawaan yang disebut C-S-H, jadi dengan betambahnya senyawa C-S-H, maka peluang terisinya rongga-rongga oleh senyawa C-S-H tersebut semakin besar, sehingga dapat membuat nilai porositas dan permeabilitasnya semakin kecil.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan suatu eksperimen (percobaan) dilaboratorium, yang diuji pada saat umur perawatan 28 hari.

Pengujian beton dilakukan terhadap 3 kategori dibawah, dimana masing-masing kategori terdiri dari 4 sample. Kategori pasir tersebut yaitu :

Pasir dengan kadar SiO 2 tinggi (> 40%)

Pasir dengan kadar SiO 2 sedang (20% s / d 40%)

Pasir dengan kadar SiO 2 rendah (< 20%)

Tempat dan Waktu Penelitian

Pengujian kadar SiO 2 dalam pasir dilakukan di Laboratorium Afiliasi UI Departemen Kimia, FMIPA UI, Kampus UI Depok.

Pelaksanaan pembuatan sampel beton dilakukan di Laboratorium Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta di jalan Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.

16 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

Pengujian permeabilitas beton dilakukan di Laboratorium Departemen Perindustrian Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung.

Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah mencari nilai koefisien permeabilitas dari masing- masing sampel beton yang di uji, dengan menggunakan jenis pasir yang berbeda kadar SiO 2 nya.

Untuk peralatan maupun persyaratan-persyaratan yang digunakan mengacu pada peraturan-peraturan konstruksi yang digunakan di Indonesia, yaitu :

Standar SK-SNI-T-15-1991-03 dalam perencanaan mix design beton.

Persyaratan standar uji permeabilitas, menggunakan standar Jerman DIN 1045 dan DIN 104

Peralatan

Pada pelaksanaan penelitian, diperlukan berbagai peralatan untuk kelancaran uji coba, serta untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.

1. Peralatan yang digunakan dalam pengujian permeabilitas beton:

2. Satu set alat uji permeabilitas.

3. Mesin uji tekan, untuk membelah benda uji setelah melalui uji permeabilitas.

Tes Permeabilitas

Garis besar tes permeabilitas ini adalah mempercepat masuknya air ke dalam beton dengan memberikan tekanan tertentu. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat kemudahan beton untuk dapat dilalui air.

Data berupa variabel-variabel yang didapat dari hasil pengujian permeabilitas, selanjutnya dapat digunakan untuk mencari nilai koefisien permeabilitasnya, yaitu berdasarkan Formulasi Darcy yaitu,

k

dl Q

dh

A t

17 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

HASIL dan ANALISA PENELITIAN

Hasil Pengujian Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian permeabilitas beton, yang mana tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kadar SiO 2 yang terkandung di dalam pasir dapat mempengaruhi nilai permeabilitas beton. Pengujian permeabilitas beton ini dilakukan pada sampel beton berbentuk kubus dengan ukuran panjang 20 cm, lebar 20 cm, dan tinggi 12 cm, dengan kadar SiO 2 pasir yang berbeda, pengujian ini dilakukan setelah sampel beton tersebut melalui masa perawatan / rendaman / curing time selama 28 hari, dimana

Untuk sampel beton 1, yaitu sebanyak 4 buah dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 13,12%.

Untuk sampel beton 2, yaitu sebanyak 4 buah dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 35,09%.

Untuk sampel beton 3, yaitu sebanyak 4 buah dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 50,40%.

Dari pengujian permeabilitas didapatkan hasil berupa nilai penetrasi / kedalaman rembesan air, yaitu seperti berikut ini :

Untuk sampel beton 1, dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 13,12% diperoleh nilai penetrasi rata-rata sebesar 4,4 cm.

Untuk sampel beton 1, dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 35,09% diperoleh nilai penetrasi rata-rata sebesar 3,2 cm.

Untuk sampel beton 1, dengan persentase kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 50,40% diperoleh nilai penetrasi rata-rata sebesar 2,2 cm.

Dari hasil yang didapat terlihat bahwa semakin tinggi kadar SiO 2 dalam pasir, semakin rendah nilai penetrasinya, yang berarti semakin sedikit air yang dapat menembus ke dalam pori-pori beton.

Analisa Pengujian Permeabilitas

Analisa tabel untuk kategori kadar SiO 2 rendah. Hasil pengujian permeabilitas beton untuk sampel beton yang menggunakan pasir Cianjur dengan kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 13,12 % dan telah melalui masa curing 28 hari.

TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA
TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA
TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA
TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA
TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA
TEKANAN PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml) RATA- SYARAT (kg/cm 2 ) 6/12-08 CIANJUR.AGR RATA

TEKANAN

PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml)

RATA-

SYARAT

(kg/cm 2 )

6/12-08 CIANJUR.AGR

RATA

STANDAR

 

1 - B

2 - B

3 - B

4 - B

(ml)

DIN 1045

1.0

10

6

8

5

7.3

3.0

25

30

27

20

25.5

7.0

32

35

40

30

34.3

PENETRASI

3.0
(cm)

4.0

6.0 4.5

4.4 <5 cm

18 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

Perhitungan koefisien permeabilitas

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Rata-rata

Keterangan

Sampel 1

Keterangan Sampel 1
 

K.

Permeabilitas (cm/det)

9.72882E-08

1.41879E-07

2.4322E-07

1.36812E-07

1.51854E-07

Analisa tabel untuk kategori kadar SiO 2 sedang. Hasil pengujian permeabilitas beton untuk sampel beton yang menggunakan pasir Cileungsi dengan kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 35,09% dan telah melalui masa curing 28 hari.

TEKANAN

PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml)

RATA-

SYARAT

(kg/cm 2 )

6/12-08 CILEUNGSI

 

RATA

STANDAR

1 - B

2 - B

3 - B

4 - B

(ml)

DIN 1045

1.0

15

14

10

12

12.8

3.0

28

30

25

28

27.8

7.0

35

40

30

38

35.8

PENETRASI

(cm)

2.9 3.5

2.5

4.0

3.2 <5 cm

Perhitungan koefisien permeabilitas beton

Keterangan

Sampel 1

Keterangan Sampel 1

Penetrasi (cm)

2.900

3.500

2.500

Tekanan Air (gr/cm 2 )

7000.000

7000.000

7000.000

Masa Jenis Air (gr/cm 3 )

1.000

1.000

1.000

Perc.Grafitasi (cm/det 2 )

980.665

980.665

980.665

P/(ρ.g)

7.138

7.138

7.138

Total Air Permeable (cm 3 )

35.000

40.000

30.000

Luas Penampang (cm 2 )

400.000

400.000

400.000

Total Waktu (det)

345600.000

345600.000

345600.000

Total Waktu (det) 345600.000 345600.000 345600.000 4.000 3.225 7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665
4.000 3.225 7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 35.750 400.000 400.000
4.000
3.225
7000.000
7000.000
1.000
1.000
980.665
980.665
7.138
7.138
38.000
35.750
400.000
400.000
345600.000
345600.000
7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 35.750 400.000 400.000 345600.000 345600.000

K. Permeabilitas (cm/det)

1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 35.750 400.000 400.000 345600.000 345600.000 K. Permeabilitas (cm/det)

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Rata-rata

(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 1.02862E-07 1.41879E-07 7.60064E-08 1.5404E-07
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 1.02862E-07 1.41879E-07 7.60064E-08 1.5404E-07
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 1.02862E-07 1.41879E-07 7.60064E-08 1.5404E-07
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 1.02862E-07 1.41879E-07 7.60064E-08 1.5404E-07
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 1.02862E-07 1.41879E-07 7.60064E-08 1.5404E-07

1.02862E-07

1.41879E-07

7.60064E-08

1.5404E-07

1.16841E-07

Analisa tabel untuk kategori kadar SiO 2 tinggi. Hasil pengujian permeabilitas beton untuk sampel beton yang menggunakan pasir Mundu dengan kadar SiO 2 dalam pasir sebesar 50,40% dan telah melalui masa curing 28 hari.

19 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

TEKANAN

PEREMBESAN AIR KEDALAM BETON (ml)

RATA-

SYARAT

(kg/cm 2 )

 

6/12-08 MUNDU

 

RATA

STANDAR

1 - B

2 - B

3 - B

4 - B

(ml)

DIN 1045

1.0

11

14

12

16

13.3

3.0

27

26

31

30

28.5

7.0

35

32

42

38

36.8

PENETRASI

(cm)

2.6 1.8

2.0 2.3

2.2 <5 cm

Perhitungan permeabilitas beton

Keterangan

Sampel 1

Keterangan Sampel 1

Penetrasi (cm)

2.600

1.800

2.000

Tekanan Air (gr/cm 2 )

7000.000

7000.000

7000.000

Masa Jenis Air (gr/cm 3 )

1.000

1.000

1.000

Perc.Grafitasi (cm/det 2 )

980.665

980.665

980.665

P/(ρ.g)

7.138

7.138

7.138

Total Air Permeable (cm 3 )

35.000

32.000

42.000

Luas Penampang (cm 2 )

400.000

400.000

400.000

Total Waktu (det)

345600.000

345600.000

345600.000

Total Waktu (det) 345600.000 345600.000 345600.000 2.300 2.175 7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665
2.300 2.175 7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 36.750 400.000 400.000
2.300
2.175
7000.000
7000.000
1.000
1.000
980.665
980.665
7.138
7.138
38.000
36.750
400.000
400.000
345600.000
345600.000
7000.000 7000.000 1.000 1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 36.750 400.000 400.000 345600.000 345600.000

K. Permeabilitas (cm/det)

1.000 980.665 980.665 7.138 7.138 38.000 36.750 400.000 400.000 345600.000 345600.000 K. Permeabilitas (cm/det)

Sampel 2

Sampel 3

Sampel 4

Rata-rata

(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 9.22211E-08 5.83729E-08 8.51272E-08 8.85728E-08
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 9.22211E-08 5.83729E-08 8.51272E-08 8.85728E-08
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 9.22211E-08 5.83729E-08 8.51272E-08 8.85728E-08
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 9.22211E-08 5.83729E-08 8.51272E-08 8.85728E-08
(cm/det) Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Rata-rata 9.22211E-08 5.83729E-08 8.51272E-08 8.85728E-08

9.22211E-08

5.83729E-08

8.51272E-08

8.85728E-08

8.10038E-08

Dari data yang didapat terlihat bahwa hampir seluruh beton yang di uji telah memenuhi syarat standar untuk beton kedap air, yaitu kedalaman penetrasi air yang tidak melebihi atau kurang dari 5 cm. Syarat standar yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah syarat standar Jerman yaitu DIN 1045.

Analisa grafik hasil pengujian permeabilitas

Kedalaman Pentrasi (cm)

Hasil Uji Permeabilitas

7.00

6.00

Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji
Kedalaman Pentrasi (cm) Hasil Uji Permeabilitas 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Benda Uji

5.00

4.00

3.00

2.00

1.00

0.00

Benda Uji 1

0.00 Benda Uji 1

Benda Uji 2

Benda Uji 3

Benda Uji 4

0.00 Benda Uji 1 Benda Uji 2 Benda Uji 3 Benda Uji 4 Cianjur (SiO2 13,12%)
0.00 Benda Uji 1 Benda Uji 2 Benda Uji 3 Benda Uji 4 Cianjur (SiO2 13,12%)

Cianjur (SiO2 13,12%)

Cileungsi (SiO2 35,09%)

Mundu (SiO2 50,40%)

3.00

2.90

2.60

4.00

6.00

4.50

3.50

2.50

4.00

1.80

2.00

2.30

4.00 6.00 4.50 3.50 2.50 4.00 1.80 2.00 2.30
35,09%) Mundu (SiO2 50,40%) 3.00 2.90 2.60 4.00 6.00 4.50 3.50 2.50 4.00 1.80 2.00 2.30
35,09%) Mundu (SiO2 50,40%) 3.00 2.90 2.60 4.00 6.00 4.50 3.50 2.50 4.00 1.80 2.00 2.30

Gambar 1. Grafik perbandingan penetrasi hasil pengujian permeabilitas berdasarkan data laboraturium B4T Bandung.

20 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pengaruh Kadar Silika (SiO2) Pada Agregat Halus (Nadia)

K adar S iO2 (% ) Vs P enetras i R ata-R ata (C m)
K adar S iO2 (% ) Vs P enetras i R ata-R ata (C m)
4.60
4.40
y
=
-4.3558x 2 - 3.1345x
+
4.8612
4.20
R 2
=
1
4.38
4.00
3.80
3.60
3.23
3.40
3.20
3.00
2.80
2.60
2.18
2.40
2.20
2.00
1.80
1.60
1.40
1.20
1.00
10%
15%
20%
25%
30%
35%
40%
45%
50%
55%
Kadar S iO2 Dalam Pas ir
Penetras i A ir (C m)

Gambar 2. Grafik perbandingan penetrasi rata-rata hasil pengujian permeabilitas berdasarkan data laboraturium B4T Bandung.

 Analisa grafik perbandingan Koefisien Permeabilitas rata-rata dengan kadar SiO 2 berbeda 0.00000016 1.54800E-07
 Analisa grafik perbandingan Koefisien Permeabilitas rata-rata dengan kadar
SiO 2 berbeda
0.00000016
1.54800E-07
0.00000015
y = -2.18384E-07x 2 - 5.90458E
-08x + 1.66306E-07
Koefisien Permeabilitas Rata-rata (cm/det)
R 2
= 1.00000E+00
0.00000014
0.00000013
1.18697E-07
0.00000012
0.00000011
0.0000001
0.00000009
0.00000008
8.10735E-08
0.00000007
10.00%
15.00%
20.00%
25.00%
30.00%
35.00%
40.00%
45.00%
50.00%
55.00%
Kadar SiO 2 Dalam Pasir(%)

Gambar 3. Grafik perbandingan koefisien permeabilitas rata-rata

21 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Hasil penelitian permeabilitas pada kubus-kubus beton, yang terbagi menjadi tiga kategori kadar SiO 2 , yang diuji pada umur perawatan 28 hari.

Grafik tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata Koefisien Permeabilitas dari ketiga kategori kadar SiO 2 berbeda mengalami penurunan seiring dengan lebih banyaknya kadar SiO 2 dalam yang terkandung dalam pasir,

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Makin tinggi kandungan SiO 2 dalam Agregat halus (Pasir), makin kecil Nilai Koefisien Permeabilitas beton, sehingga permeabilitas atau rembesannya kecil.

2. Perubahan nilai koefien permeabilitas beton dapat digambarkan berupa grafik lengkung kuadrat

3. Beton yang menggunakan pasir dengan kadar SiO 2 lebih besar akan memiliki nilai kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beton yang menggunakan pasir dengan kandungan SiO 2 yang lebih kecil.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Alvan, Syahreza. Pengaruh Penambahan Zat Aditif Terhadap Permeabilitas Beton Dan Kuat Tekan Beton. Sumatera Utara : e-USU Respository, 2005. [2] Badan Standardisasi Nasional, 2004, Standar Nasional Indonesia Semen Portland Komposit (SNI 15-7064-2004) [3] Dajan, Anto. Pengantar Metode Statistik. Jakarta : LP3ES, 1986. [4] Departemen Pekerjaan Umum. LPMB. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. SK SNI T-15-1990-03. Cetakan Pertama, Bandung : DPU Yayasan LPMB, 1991. [5] Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Petra. Rancang Bangun Alat Uji Permeabilitas Beton. http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/. Dimensi Teknik Sipil Vol. 6, NO. 2, September 2004. [6] Mulyono, Tri. TEKNOLOGI BETON. Yogyakarta : Andi, 2003. [7] Murdock, L.J.,K.M.Brook, dan Stephanus Hendarko. Bahan dan Praktek Beton. Jakarta : Erlangga, 1991. [8] Nugraha, Paul, dan Antoni. Teknologi Beton Dari Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi. Yogyakarta : Andi, 2007. [9] Rochman, Abdul. Tinjauan Kuat Tekan Dan Permeabilitas Beton Dengan Bahan Tambah Dari Abu Sekam Padi. Semarang : Journal JTPTUMS, 27 April 2006. [10] Salalin, Karyawan, I. M. A., Perbandingan Kuat Tekan dan Permeabilitas Beton Yang Menggunakan Semen Portland Pozzolan Dengan Menggunakan Semen Portland Tipe I. Seminar dan Pameran HAKI : 2007. [11] Special Blended Cement, http://suramadu.com/219.83.87.82/v06, 3 Maret 2008.

22 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pencegahan Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono)

PENCEGAHAN PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN ANTARA DUA BREAKWATER, DENGAN SYSTEM SAND BYPASSING

oleh:

Aripurnomo Kartohardjono Dosen Tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadyah Jakarta email: kartohardjonoari@yahoo.com

ABSTRAK: Pendangkalan alur pelayaran yang terletak diantara dua breakwater, merupakan fenomena alam yang biasa terjadi, sehingga upaya mengatasinya harus menggunakan solusi yang tepat agar alur pelayaran dapat berfungsi sebagaimana mestinya dengan biaya yang memadai. Upaya pencegahan pendangkalan yang disebabkan oleh sedimen transport yang datang dan masuk ke alur pelayaran harus dipindahkan agar tidak terjadi pengendapan, dalam hal ini dibahas dengan menggunakan sistem sand by passing. Material yang masuk melalui breakwater diupayakan agar dapat terus berlalu dan tidak mengendap di alur, tentunya dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas material sedimen.

KATA KUNCI: Breakwater, Alur, Sand Bypassing

ABSTRACT: The shallow navigation channel is located between two breakwater, is a common natural

phenomenon, so that efforts to overcome it must use the correct solution to the cruise line can function properly with the appropriate fee. Efforts to prevent silting caused by sediment transport coming into the navigation channel and must be moved so that precipitation does not occur, in this case is discussed

by using the system by passing

Materials that go through the breakwater strived to continue to be

passed and no sediment in the groove, of course, with attention to quality and quantity of sedimentary

material.

sand.

KEYWORD: Breakwater, Groove, Sand Bypassing

PENDAHULUAN

Alur yang terletak pada dua breakwater umumnya terdapat pada alur pelayaran akses menuju ke pelabuhan yang terdapat pada pelabuhan pelabuhan banyak di dunia. Sand by passing adalah pasir yang melewati suatu konstruksi dengan gerakan hidraulik atau mekanik dari daerah akresi ke wilayah downdrift erosi, melintasi penghalang (break- water). Gerakan hidrolik dapat mencakup gerakan alam serta gerakan yang disebabkan oleh manusia (pengerukan).

Pengendalian fenomena alam yang terjadi di alur masuk pelabuhan adalah masuknya sediment atau material dasar laut ke alur pelayaran. Pengendalian masuknya sediment dimaksud dapat menggunakan sistem sand by passing. A Sand Bypass System is a permanent solution to sand erosion and littoral drift problems affecting river mouths and navigation channels worldwide. It is described as the artificial transport of littoral drift across tidal entrances to help prevent accretion, on the updrift side, control downdrift erosion and maintain navigation channels. (Sumber: Encora COASTAL PORTAL, The COASTAL PORTAL is hosted and developed by the Flanders Marine Institute (VLIZ))

Pengendalian dengan sistem sand bypassing pada alur pelabuhan perlu diperhatikan secara kualitas maupun kuantitas material sedimen. Apabila material sedimentasi masih memadai dan memungkinkan untuk dipindahkan (sand by passing) dengan system pompa maka kapasitas pompa atau debit pompa yang akan dioperasikan harus seimbang dengan

23 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

material yang masuk yang diakibatkan oleh adanya sedimentasi. Pengoperasian pompa harus dilakukan secara terus menerus setiap hari, dengan penjagaan oleh operator selama mesin pompa dioperasikan. Pembuatan sand trap lebih dianjurkan dalam hal penggunaan system ini, sehingga mesin pompa seakan-akan memelihara kondisi sand trap yang ada terhadap datang material pasirnya.

sand trap yang ada terhadap datang material pasirnya. Gambar 1. Foto Alur Pelayaran Gambar 2. Diagram

Gambar 1. Foto Alur Pelayaran

datang material pasirnya. Gambar 1. Foto Alur Pelayaran Gambar 2. Diagram Alur Pelayaran Penggunaan system ini

Gambar 2. Diagram Alur Pelayaran

Penggunaan system ini menggunakan biayanya yang relatif kecil karena sistemnya yang sederhana dibandingkan harus dilaksanakan secara pengerukan yang menggunakan kapal keruk. Telah banyak pelabuhan-pelabuhan yang menggunakan sistem sand by passing, seperti: The Tweed River entrance is located on the southeast coast of Australia, yang berada pada area yang mempunyai wave energi yang tinggi dan longshore sediment transport rata 500.000 m 3 per tahun, Mansfield Pass Texas Coast, di Palm Beach, Florida.

Sand bypassing pada umumnya terjadi dengan dua cara, yaitu pertama, peralatan dan perpipaan pemompaan dapat dibangun bahwa pasir di transfer dari sisi updrift, dan di deposito sebagai lumpur pasir dan air di sisi downdrift (lihat foto). Tergantung pada laju pertambahan di sisi updrift, peralatan ini dapat terus berjalan, atau atas dasar disesuaikan dengan kebutuhan.

24 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pencegahan Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono)

Metode kedua melibatkan pengerukan atau penggalian pasir dari sisi updrift, menggunakan kapal keruk, dan penempatan bahan ini di sisi downdrift oleh mengeruk (transport based), atau dengan truk serta peralatan berat lainnya (transportasi material berbasis transportasi).

Selain itu digunakan sebagai mekanisme untuk mengembalikan ke pola alam, (sediment transport), sand bypassing digunakan sebagai metode untuk menjaga alur navigasi/pelayaran bebas dari sedimentasi yang berlebihan dalam upaya untuk mengurangi kebutuhan perawatan pengerukan yaitu dengan membuat sand-trap di alur pelayaran, yang selanjutnya dari sandtrap dimaksud di pompakan material (pasir) dan air ke sisi down drift.

Kondisi di Indonesia yang dapat dilaksanakan dengan system ini antara lain adalah pelabuhan di Pulau Baai, Bengkulu, karena kondisi alamnya yang memadai untuk penyelesaian dengan sistem sand bypassing. Pelabuhan Pulai Baai, Bengkulu merupakan pelabuhan yang strategis, di pantai timur Pulau Sumatera, yang berhubungan langsung dengan Samudra Hindia. Pelabuhan Bengkulu sangat penting artinya bagi daerah pesisir timur Sumatera, mengingat ada batas yang memisahkan antara pesisir timur Sumatera dan bagian tengah atau barat. Pemisahnya adalah bukit Barisan yang membujur sepanjang Sumatera bagian utara hingga selatan yang merupakan benteng pemisah. Sehingga keberadaan pelabuhan di sisi timur Sumatera merupakan kondisi yang strategis. Namun biaya yang harus dikeluarkan untuk memelihara alur pelayaran agar dapat disinggahi kapal kapal berbobot 150.000 DWT merupakan tantangan tersendiri agar tercipta kondisi yang seimbang antara pendapatan terhadap pengeluaran.

Pelabuhan Pulau Baai merupakan pelabuhan yang sangat vital untuk mengangkut dan mengatarkan beberapa komoditi dan barang kebutuhan, yang masuk maupun keluar Bengkulu atau pesisir barat Sumatere. Pengguna jasa yang melakukan kegiatannya melalui pelabuhan Pulau Baai, berasal dari 9 kabupaten/kota disekitar ibu kota Propinsi Bengkulu. Komoditi yang biasanya diekspor dan diimport diantara lain adalah batubara, crude palm oil (CPO), kopi, jahe, sayur-mayur, karet, cangkang sawit, penumpang, bahan bakar minyak (BBM), biji besi dan kakao.

Alur pelayaran Pulau Baai, merupakan alur pelayaran yang dilindungi oleh break-water sepanjang 600 meter menjulur ke arah lautan Hindia. Pendangkalan terjadi karena kondisi hydrodynamic, dengan adanya ombak/gelombang yang bertransformasi melalui pantai, sehingga menimbulkan wave set up dan longshore currents, yang akan menyebabkan pergerakan atau transportasi dari sedimen dasar laut (pasir). Hal ini yang menimbulkan atau menjadikan sebagai proses littoral transport.

Pendangkalan alur pelayaan yang terjadi tiap tahunnya mencapai 800.000 meter kubik, dan kondisi saat ini kedalaman hanya -3,5 LWS dengan lebar 25 meter, dan penyelesai an masalahnya adalah apa layak diterapkan pengerukan dengan menggunakan sistem sand bypassing.

25 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

SEDIMEN TRANSPORT SECARA UMUM

Pergerakan sedimen di dasar laut terjadi apabila adanya kekuatan pergeseran antar partikel yang cukup besar, atau terjadinya tegangan geser, antar material dasar perairan dengan gerakan air. Gerakan-gerakan ini dapat disebabkan oleh arus atau gelombang kecepatan orbital atau kombinasi keduanya, yang terakhir merupakan situasi yang paling penting. Parameter yang relevan untuk deskripsi transpor sedimen sepanjang garis pantai atau di daerah pesisir.

Oleh karena itu sebagai berikut:

o

Kondisi gelombang di lokasi dan variasi mungkin atas situs ditambah daerah sebelah;

o

Kondisi saat ini serta variasi ini atas wilayah tersebut;

o

Kondisi air-tingkat, pasang yaitu, gelombang badai dan gelombang set-up;

o

Keadaan Kontur yang bervariasi di dasar perairan;

o

Karakteristik sedimen atas wilayah tersebut;

o

Sumber dan material sedimen, seperti sungai, pengikisan pantai atau karena arus pasang surut.

Hubungan antara gaya hidrodinamika dan respon morfologi pantai tersebut direalisasikan melalui transportasi sedimen. Sedimen transport ini dapat terjadi baik sebagai bedload atau sebagai partikel yang melayang. Meskipun upaya pemodelan menunjukkan bahwa material yang melayang adalah lebih penting dalam zona surfing, khususnya di bawah kondisi energi tinggi, masih ada konsensus tentang hal ini, sebagian karena bedload sangat sulit diukur dalam kondisi di lapangan.

Distribusi sedimen pada gumpalan/pusaran air dapat terjadi sebagai proses difusi yang pada umumnya terjadi ketika dasar perairan yang datar atau sebagai proses konvektif bahwa sedimen tersuspensi dan mengangkat ke atas dalam paket yang koheren misalnya karena vortex shedding dari riak pada dasar perairan. Dalam kedua kasus, distribusi vertikal endapan di gumpalan air dapat diperkirakan dengan rumus:

endapan di gumpalan air dapat diperkirakan dengan rumus: dimana: w s = kecepatan jatuh sedimen, c

dimana: w s = kecepatan jatuh sedimen, c = konsentrasi sedimen, z = ketinggian di atas dasar perairan dan merupakan koefisien difusi eddy mewakili skala turbulen mixing. Persamaan ini memprediksi bahwa dalam situasi negara stabil, fluks ke bawah sedimen (WSC) harus diimbangi oleh fluks ke atas diberikan oleh produk dari gradien konsentra si dan difusi sedimen.

oleh produk dari gradien konsentra si dan difusi sedimen. LITTORAL TRANSPORT Littoral transport adalah istilah yang

LITTORAL TRANSPORT

Littoral transport adalah istilah yang digunakan untuk transport non-kohesif sediment, i.e terutama pasir, di zona litoral sepanjang garis pantai terutama disebabkan oleh gaya akibat gelombang pecah. Litoral transport juga disebut longshore transport atau littoral drift.

26 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pencegahan Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono)

Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono) Gambar 3. Variasi dalam litoral transport dengan paparan

Gambar 3. Variasi dalam litoral transport dengan paparan gelombang dan sudut insiden gelombang.

Littoral transportasi sering di asumsikan bahwa garis pantai hampir lurus dengan kontur kedalaman hampir paralel. Asumsi ini sering diberlakukan, terutama jika bagian dari pantai yang tidak terlalu panjang dan jika transisi bertahap antara bagian tersebut diasumsikan. Dalam keadaan ini, litoral transport dapat diuraikan sebagai berikut.

Ketika gelombang mendekati kemiringan garis pantai, refraksi cenderung mengubah arah gelombang sehingga mereka hampir sejajar dengan garis pantai. Pada saat yang bersamaan, ketika mendekati zona breaker, mereka mengalami shoaling, yang berarti bahwa mereka menjadi lebih curam dan lebih tinggi. Akhirnya, ombak pecah. Selama proses gelombang pecah, sekumpulan turbulensi menyebabkan beberapa sedimen dasar laut yang akan di bawa ke suspensi. Sedimen ini yang melayang, ditambah beberapa sedimen lainnya di dasar laut, kemudian dilakukan sepanjang garis pantai oleh aliran longshore, yang telah maksimal di dekat garis pecah. Kedua moda angkutan transportasi disebut sebagai suspended transport dan bed load, masing-masing. Jumlah gaya-gaya tersebut adalah litoral drift.

27 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Gambar 4. Pemodelan Sand Bypass
Gambar 4. Pemodelan Sand Bypass

Gambar 4. Pemodelan Sand Bypass

Gambar 4. Pemodelan Sand Bypassing

Sebuah contoh aplikasi yang sedang berkembang saat ini, yang ditemukan prinsip desain teknik pesisir diterapkan pada system sand bypass. System jaringan dirancang untuk mengurangi erosi pantai yang disebabkan apabila saluran navigasi/pelayaran dikeruk yang terganggu oleh gerakan sediment transport dekat pantai. System bypass, atau sand transport seperti ini, yang kadang mereka sebut, yaitu memiliki kapal keruk tetap yang ditempatkan di salah satu sisi alur navigasi/pelayaran. Seperti pasir yang bergerak sepanjang pantai (garis), dikumpulkan oleh plant dan ditransfer melalui downcoast pelabuhan.

Sebuah contoh aplikasi yang sedang berkembang saat ini, yang ditemukan prinsip desain teknik pesisir diterapkan pada system sand bypass. System jaringan dirancang untuk mengurangi erosi pantai yang disebabkan apabila saluran navigasi/pelayaran dikeruk yang terganggu oleh gerakan sediment transport dekat pantai. System bypass, atau sand transport seperti ini, yang kadang mereka sebut, yaitu memiliki kapal keruk tetap yang ditempatkan di salah satu sisi alur navigasi/pelayaran. Seperti pasir yang bergerak sepanjang pantai (garis), dikumpulkan oleh plant dan ditransfer melalui downcoast pelabuhan.

Studi menunjukkan bahwa pengerukan dan break-water channel, menyebabkan erosi yang tidak alami sepanjang bermil-mil pantai. Namun, transformasi (perpindahan) pasir jarang manfaat lebih dari satu mil dari garis pantai yang berdekatan dan memotong alur navigasi. Alasan kekurangan kinerja ditunjukkan dalam contoh berikut.

28 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pencegahan Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono)

Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono) Gambar 5. Hasil Pelabuhan Tanpa kinerja Perbaikan Alur

Gambar 5. Hasil Pelabuhan Tanpa kinerja Perbaikan Alur

Asumsikan garis pantai longshore pasir per tahun sejumlah 1 juta meter kubik - enam ratus ribu kubik meter sedimennya bergerak dari utara ke selatan, didorong oleh angin utara, dan empat ratus ribu meter kubik pergerakan bergerak berlawanan arah didorong oleh angin dari selatan . Rasio ini mewakili total longshore drift untuk kebanyakan garis pantai.

Pompa pasir digunakan untuk menyediakan pengeboran dengan kapasitas debit tertentu dan tekanan untuk pemompaan pasir, silt lumpur. Pompa pasir sentrifugal dikembangkan oleh suatu perusahaan melalui aplikasi situs dan prasarana di tingkat mahir dari segi performa teknis atau dalam pelestarian lingkungan hidup, dan mencapai tingkat produk yang dapat diterima oleh dunia luar. Pompa ini memiliki dua jenis drive, dan drive belt electromotion. Produk baru dapat didesain dan disediakan sesuai dengan kebutuhan khusus pelanggan.

Salah satu contoh spesifikasi teknik menunjukan bahwa untuk volume sedimentasi di P. Baai, Bengkulu sebesar 800.000 m 3 apabila menggunakan pompa model SB 8x6x14, yang mempunyai discharge 320 m 3 /h, dan daya angkat hingga 40 meter maka diperhitungkan bahwa sedimen pasir akan habis selama : 10 bulan dalam satu tahun, dengan rincian sebagai berikut:

- Operasional 10 jam per hari (mulai jam 07.00 hingga jam 17.00);

- Maka dapat memompa 10 x 320 m 3 = 3.200 m 3 per hari

- 1 bulan (25 hari) = 25 x 3.200 m 3 = 80.000 m 3

- Untuk 800.000 m 3 akan terselesaikan pada 800.000:80.000 = 10 bulan.

29 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010 Gambar 6. Hasil pemompaan pasir secara periodik Tabel

Gambar 6. Hasil pemompaan pasir secara periodik

Tabel SAND PUMP TECHNICAL PARAMETERS:

Model

Flow

Lift

Power

Speed

Efficiency

SB8×6-14

320m 3 /h

40m

75KW

1480r/min

65%

SB8×6-13

240m 3 /h

35m

55KW

1480r/min

64%

SB8×6-12

216m 3 /h

30m

45KW

1470r/min

64%

SB6×5-14

200m 3 /h

40m

55KW

1480r/min

62%

SB6×5-13

180m 3 /h

35m

45KW

1470r/min

60%

SB6×5-12

160m 3 /h

30m

37KW

1460r/min

62%

SB5×4-14

120m 3 /h

40m

37KW

1460r/min

56%

SB5×4-13

90m 3 /h

40m

30KW

1460r/min

56%

SB4×3-12

60m 3 /h

20m

11KW

1450r/min

54%

SB4×3-11

40m 3 /h

20m

7.5KW

1450r/min

49%

Salah satu contoh pompa yang dapat diletakan pada salah satu sisi breakwater di Pulau Baai, Bengkulu.

pada salah satu sisi breakwater di Pulau Baai, Bengkulu. Gambar 7. Pompa Sand Bypass Penelitian dan

Gambar 7. Pompa Sand Bypass

Penelitian dan invetigasi lebih lanjut perlu dilaksanakan, agar terjadi keseimbangan antara sedimen yang masuk ke alur pelayaran P. Baai dan besarnya pompa untuk memindahkan pasir.

30 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Pencegahan Pendangkalan Alur Pelayaran (Aripurnomo Kartohardjono)

PUSTAKA

1. Bambang Triatmojo, TEKNIK PANTAI, EDISI KE DUA, Beta Offset 1999

2. Ir. R.J. de Heer, Dredging and Dredging Equipment, IIHE Delft, 1991

3. The International Association of Ports and Harbors (IAPH), GUIDELINES FOR SAFETY AND ENVIRONMENTAL PROTECTION OF PORTS, Nagoya Japan, 1981

4. http://www.divingthegoldcoast.com, Gold Coast Seaway 2010

5. www.lesmp.vic.gov.au/sand_bypass_system.php,SAND BYPASSING SYSTEM, 2010

6. www.dredgingtoday.com,The Canaveral Harbor Federal Sand Bypass Project,

2010

31 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisa Produktifitas Tenaga Kerja (Trijeti/Okerda)

ANALISA PRODUKTIFITAS TENAGA KERJA PADA PEKERJAAN BETON

oleh :

Trijeti Dosen Tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadyah Jakarta email: t3jeti@yahoo.co.id

Okerda Alumni Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Jakarta

ABSTRAK: Produktivitas dikatakan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai / keluaran (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan / masukkan (input). Bagi pemilik bangunan, output bisa berarti sebagai biaya persatuan keluaran (output) yang dihasilkan. Untuk kontraktor dapat berarti jumlah atau persentase biaya yang didapatkan dari pemilik berada diatas dari biaya pembangunan. Untuk mengetahui produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan beton perlu dilakukan pengukuran. Pengukuran produktivitas secara langsung menggunakan analisa kerja dengan mengambil sampel pekerjaan balok beton.

Kata Kunci: Produktivitas, sumber daya, analisa kerja.

ABSTRACT: Productivity is said as a comparison between the results achieved / output (output) with the overall resources used / entered (input). For building owners, the output means as the cost of unity can be output (output) generated. For the contractor can mean the number or percentage of costs above was obtained from the owner of the construction costs. To determine the productivity of labor in the measurement of concrete work needs to be done. Direct productivity measurement using the sample analysis taking a job working with concrete blocks.

Keywords: Productivity, resources, job analysis

LATAR BELAKANG

Proyek konstruksi semakin kompleks dan kendala waktu yang semakin ketat, mengakibatkan banyak perubahan dalam penyelenggaraan proyek menuju tingkat yang lebih baik dan menguntungkan. Untuk menyelenggarakan proyek, salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu keberhasilannya adalah tenaga kerja. Kegiatan untuk memenuhi kebutuhan konstruksi membutuhkan kemampuan teknis, manajemen, tenaga kerja dan peralatan untuk mengatasi masalah atau kendala tsb.

Masalah yang dihadapi oleh pemilik dan pelaksana konstruksi adalah jadwal pelaksanaan yang lambat, kualitas sumber daya yang kurang, terus meningkatnya biaya dan system manajemen yang kurang memberikan semua control yang dibutuhkan. Salah satu alat yang penting disemua tingkatan organisasi dan perusahaan, termasuk perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi adalah pengukuran produktivitas dalam suatu periode waktu.

Pengelolaan dari sumber daya yang terpenting seperti tenaga kerja, peralatan secara efektif dan efisien merupakan faktor yang terpenting dalam pelaksanaan konstruksi. Semakin banyak pengelolaan akan memberikan hasil dan keuntungan yang lebih memuaskan baik bagi pemilik maupun bagi pelaksana konstruksi. Proses nilai tambah yang dihasilkan oleh sumber daya manusia dapat memberikan dampak bagi peningkatan

33 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

hasil yang diinginkan. Untuk mewujudkan proses nilai tambah tersebut, diperlukan suatu pengukuran produktivitas yang sekaligus juga berfungsi sebagai evaluasi terhadap pemanfaatan sumber daya yang dipakai.

Maksud dan tujuan

Untuk mengetahui dan memberikan gambaran pengukuran produktivitas dalam pelaksanaan pekerjaan balok beton.

Kajian Pustaka

Kata produktivitas pertama kali didefinisikan sebagai kemampuan untuk menciptakan, kemudian dijabarkan secara sederhana sebagai hubungan antara output dan pekerja- pekerja yang mengahsilkan output tersebut. Secara umum produktivitas dikatakan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input).

Formula Produktivitas dinyatakan :

output / input

Bagi pemilik bangunan, output bisa berarti sebagai biaya persatuan keluaran (output) yang dihasilkan. Untuk kontraktor dapat berarti jumlah atau persentase biaya yang didapatkan dari pemilik berada diatas dari biaya pembangunan. Pada umumnya untuk mengatur hasil guna (efektivitas) dengan keahlian manajemen, pekerja-pekerja, material, peralatan dan ruang kerja yang ditetapkan untuk menghasilkan tujuan produksi dan pembangunan dengan biaya layak terendah.

Berdasarkan tingkatannya produktivitas dibagi menjadi :

Produktivitas makro (nasional) = produk domestic nasional / tenaga kerja

Produktivitas sektoral = produk domestic bruto sektoral / tenaga kerja pd sector ybs.

Produktivitas mikro = nilai tambah / masukkan yang dipakai

Produktivitas individu :

Prod. Tenaga kerja = jml produk yg dihasilkan / jml tenaga kerja

o

o

Jika dinyatakan dalam jam kerja maka, Prod. Tenaga kerja = jml produk yg dihasilkan / jml jam kerja tenaga kerja

o Prod. Tenaga kerja produksi = nilai tambah / jml tenaga kerja produksi Berdasarkan faktoral produktivitas dibagi menjadi :

Total factor productivity (produktivitas total) = keluaran / semua masukkan

Produktivitas multifactor = keluaran / beberapa masukkan

Produktivitas parsial :

o

Produktivitas bahan baku = keluaran / bahan baku

o

Produktivitas energi = keluaran / energi yg digunakan

Faktor-faktor produktivitas yaitu : sikap mental, pendidikan, ketrampilan, manajemen, tingkat penghasilan dan kesejahteraan, lingkungan dan iklim kerja, sarana dan teknologi, kesempatan berprestasi. Sedangkan variabel-variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan dapat dikelompokkan menjadi : kondisi fisik lapangan dan sarana bantu; supervisi, perencanaan & koordinasi ; komposisi kelompok kerja; kerja lembur;

34 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisa Produktifitas Tenaga Kerja (Trijeti/Okerda)

ukuran besar proyek; kurva pengalaman (learning curve); pekerja langsung versus subkontraktor; kepadatan tenaga kerja.

Pengukuran produktivitas menunjukkan perbandingan-perbandingan yang dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu :

Perbandingan antara hasil pelaksanaan sekarang dengan hasil pelaksanaan sebelumnya yang menunjukkan adanya peningkatan atau tidak

Perbandingan hasil pelaksanaan antara satu unit dengan unit lain. Tetapi pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian yang relative.

Perbandingan antara hasil pelaksanaan antara satu unit dengan target yang ingin dicapai pada masa yang akan dating. Untuk melakukan pengukuran produktivitas, langkah-langkah yg dilakukan :

Menghitung tingkat produktivitas

Mengumpulkan data untuk bahan perhitungan

Menyajikan dan menganalisa data

Menetapkan sasaran yang akan diukur, apakah jenis kegiatan atau unit kerja atau pekerja tanpa terikat pada jenis kegiatan.

Pengamatan

aktivitas

pekerjaan

dikelompokkan

dalam

klasifikasi

bekerja

dan

tidak

bekerja.

Klasifikasi bekerja atau dianggap bekerja adalah :

Membawa atau memegang material

Berpartisipasi dalam pekerjaan fisik yang aktif termasuk :

mengukur, menghampar, membaca gambar, menulis pesanan dan memberi instruksi ; memegang tali pengukur atau alat bantu kerja ; mengoperasikan mesin atau alat-alat

Membahas pekerjaan yang dikerjakan atau yang akan dikerjakan. Sedangkan aktifitas yang dianggap tidak bekerja :

Menunggu pekerja lain untuk menyelesaikan pekerjaan

Berbicara tanpa melakukan pekerjaan

Menunggui mesin yang beroperasi otomatis, kecuali terlibat langsung

Berjalan-jalan tanpa tujuan. Aktivitas-aktivitas dalam pelaksanaan konstruksi dikategorikan tiga bagian :

Kerja efektif : mengecat dinding, memasang sambungan , mengangkut material, membuat campuran dll.

Kerja kontributif : mengukur, mengembalikan alat bergerak dalam area 3 10 m.

Kerja yang tidak efektif : berjalan dengan tangan kosong atau bergerak diluar 10 m tanpa mendukung pekerjaan, mengoreksi kesalahan dan berbicara mengenai sesuatu diluar pekerjaan yang dilakukan.

Pengukuran produktivitas secara langsung menggunakan analisa kerja dengan gambaran sebagai berikut :

35 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Analisa Kerja (Work study)

 
 
 
 
 
 

Analisa metode

 

Pengukuran waktu kerja

 
 
 
 
 

Memperbaiki metode produksi

 

Mengukur efektifitas tenaga kerja manusia

 
 
 
Menghasilkan pemakaian lebih efektif terhadap material,

Menghasilkan pemakaian lebih efektif terhadap material,

 

Menghasilkan peningkatan, perencanaan pengawasan,

 
peralatan, tenaga manusia

peralatan, tenaga manusia

  peralatan, tenaga manusia tenaga kerja

tenaga kerja

  peralatan, tenaga manusia tenaga kerja

Produktivitas ukur

peralatan, tenaga manusia tenaga kerja Produktivitas ukur Produktivitas yang lebih baik melalui perbaikan  Work

Produktivitas yang lebih baik melalui perbaikan

Work Study :

Tujuan utama adalah membantu manajemen dalam penggunaan secara optimal sumber daya dasar (tenaga kerja & bahan yg tersedia) : memilih pekerjaan ; mencatat pengamatan secara langsung; memeriksa data secara bertahap ; mengembangkan metode pekerjaan yg dianggap paling ekonomis ; mengukur banyaknya kegiatan dalam satu pekerjaan; merumuskan secara jelas & rinci metode yg dipilih ; dengan metode baku & waktu standar dihitung produktivitas tenaga kerja yang bersangkutan

Analisa metode :

Memberikan gambaran yang sebenarnya produktivitas melalui metode kerja dengan memusatkan perhatian pada efisiensi kerja. Bentuknya bisa berupa bagan, diagram, pemotretan, rekaman video yang memiliki keuntungan : komunikasi antara pimpinan dan pekerja dapat ditingkatkan, pengambilan keputusan lebih mudah diidentifikasikan; pelatihan tenaga kerja & keamanan kerja lebih mudah ; dapat menevaluasi penampilan aktivitas pelaksanaan kerja.

Pengukuran waktu kerja :

Dilakukan untuk mengurangi waktu-waktu yang tidak efektif dalam pelaksanaan kegiatan, dengan cakupan sbb : pengambilan contoh kegiatan ; analisa waktu standar; melakukan taksiran waktu standar yg diukur dari estimator yg berpengalaman pada pekerjaan sejenis ; analisa taksiran dari kegiatan yg diuraikan atas elemn-elemen ; sistem waktu gerak yg ditetapkan sebelumnya.

Analisa Waktu :

Teknik pelaksanaan sbb ; mengumpulkan/mencatat semua keterangan kegiatan ; memuat uraian tertulis yg lengkap mengenai metode pelaksanaan ; mempelajari rincian kerja ; mengukur/mencatat waktu yg diperlukan tenaga kerja; menetapkan kecepatan efektif; menghitung waktu yg diamati; menetapkan kelonggaran yg diberikan terhadap waktu.

36 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisa Produktifitas Tenaga Kerja (Trijeti/Okerda)

Selanjutnya kumpulkan data dasar pengukuran kerja ; pilih unsur-unsur waktu dasar ; hilangkan waktu kosong; tetapkan waktu standar efektif. Waktu dasar unsur kegiatan = waktu yg diukur x (100 / tingkat prestasi yg dicapai)

Langkah-langkah pengukuran :

Persiapan :

-Pemilihan sample -Peralatan

pengukuran : Persiapan : -Pemilihan sample -Peralatan Pengamatan : -Pelaksanaan Pekerjaan -Uraian unsur

Pengamatan :

-Pelaksanaan Pekerjaan -Uraian unsur pekerjaan

: -Pelaksanaan Pekerjaan -Uraian unsur pekerjaan Pengumpulan Data : -Pengukuran waktu -Pengukuran kapasitas

Pengumpulan Data :

-Pengukuran waktu -Pengukuran kapasitas / volume kerja

: -Pengukuran waktu -Pengukuran kapasitas / volume kerja PENGOLAHAN DATA Pengolahan data volume kerja Penentuan
PENGOLAHAN DATA
PENGOLAHAN DATA
PENGOLAHAN DATA

PENGOLAHAN DATA

PENGOLAHAN DATA
PENGOLAHAN DATA
waktu -Pengukuran kapasitas / volume kerja PENGOLAHAN DATA Pengolahan data volume kerja Penentuan metode kerja jika
waktu -Pengukuran kapasitas / volume kerja PENGOLAHAN DATA Pengolahan data volume kerja Penentuan metode kerja jika
Pengolahan data volume kerja Penentuan metode kerja jika metode yg ada belum baku Pengolahan data
Pengolahan data volume kerja
Penentuan metode kerja jika metode yg
ada belum baku
Pengolahan data ukuran waktu
Waktu standar setiap unsur
Waktu standar setiap kegiatan
waktu Waktu standar setiap unsur Waktu standar setiap kegiatan PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA 37 | K o

PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

37 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Contoh Pengukuran Produktivitas

Contoh pengukuran produktivitas diambil pada pekerjaan beton. Kualifikasi pekerja memiliki ketrampilan yang diharapkan seperti : Kualitas pendidikan pekerja dan pengawas lapangan, masa kerja efektif di lapangan, memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan, memiliki kekuatan fisik dan mental yang baik. Peralatan yang digunakan : Stopwatch, formulir pencatatan data. Pengambilan data dengan penyebaran sample dan test kecukupan data. Rumus yang digunakan dalam mengontrol kecukupan data :

2

N’ =

40 √ N ∑ x 2 – ( ∑ x ) 2 ∑ x

dimana : N’ = jumlah data tambahan , x = data ;

N = jumlah data yang diukur

contoh : fabrikasi sengkang pada kegiatan mengukur dengan data waktu (detik) :

maka ,

15” ; 18” ; 17” ; 17” ; 17” N’ = 40 √ 5. 84
15” ; 18” ; 17” ; 17” ; 17”
N’ =
40
√ 5. 84 2 –
84 2
84

2

= 5,44

1. Perhitungan Balok :

√ 5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40
√ 5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40

40

25

5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25
5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25
5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25
5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25
5. 84 2 – 84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25

316

84 2 84 2 = 5,44 1. Perhitungan Balok : 40 25 3  16 

10 - 10

Panjang balok

= 240 cm

Jumlah sengkang

= 25 buah

Ukuran sengkang

= 20 x 35 cm

Volume beton

= 0,25 x 0,4 x 2,4 = 0,24 m 3

a. Fabrikasi Tulangan Balok Utama = 969,92 " = 16,17 ' :

Dikerjakan 2 orang untuk :

o

Mengukur

= 20,116 x 6

= 120,696 "

o

Memotong

= 32,956 x 6

= 197,736 "

Dikerjakan 2 orang untuk :

 

o

Transportasi

= 95,266 x 2

= 190,532 "

38 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Analisa Produktifitas Tenaga Kerja (Trijeti/Okerda)

Dikerjakan 3 orang untuk :

o

Membengkokkan

 

= 76,826 x 6

= 460,956 "

b. Fabrikasi sengkang Balok

= 2333,144 "= 38,89 ' :

Dikerjakan 2 orang untuk :

 

o

Mengukur

= 20,116 x 25

= 502,9 "

o

Memotong

= 19,402 x 25

= 485,05 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

 

o

Transportasi

= 34,444 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

 

o

Membengkokkan

 

= 52,43 x 25

= 1310,75 "

c. Pemasangan Tulangan Balok

= 4134 "

= 68,9 '

:

Dikerjakan 2 orang untuk :

 

o

Transportasi

= 93,5 x 2

= 187 "

o

Meletakkan

= 121,88 x 3

= 365,64 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

 

o

Mengikat

= 83,032 x 2

= 166,064 "

o

Persiapan sengkang

 

= 119,02 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

o Pemasangan sengkang

= 131,869 x 25 = 3296,725 "

d. Fabrikasi Bekesting Balok

= 1807,302 " = 30,12 ' :

Dikerjakan 1 orang untuk :

o

Mengukur

= 64,628 x 3

= 193,884 "

o

Memotong

= 253,316 x 3

= 759,948 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

 

o

Menyambung

= 525,798 "

o

Checking

= 327,672 "

e. Pemasangan Bekesting Balok

= 502,437 " = 8,37 "

:

Dikerjakan 3 orang untuk :

o

Persiapan

= 54,784 x (0,6 / 0,5)

= 65,741 "

o

Meletakkan

= 243,506 "

Dikerjakan 2 orang untuk :

 

o

Menyambung

= 83,246 "

o

Checking

= 109,944 "

f. Pengecoran Balok

dengan Pompa Beton = 613,33" = 10,22 ' :

Dikerjakan 1 orang untuk :

 

o

Beton tahu

= 17,334 x 10

= 173,34 "

Dikerjakan 1 orang untuk :

o

Persiapan

Dikerjakan 12 orang untuk :

o Pengecoran

g. Pelepasan Bekesting

= 390,336" = 6,51' :

Dikerjakan 2 orang untuk :

= 267,928 "

= 156,42 x 1,1 = 172,062 "

o

Persiapan

= 26,46 "

o

Melepas penguat

= 102,46 x 3

= 307,38 "

39 | K o

n s t

r u k

s

i

a

Jurnal Konstruksia Volume 1 Nomer 1 April 2010

Dikerjakan 1 orang untuk :

o

Membongkar

= 56,496 "

Berdasarkan waktu standar untuk tiap kegiatan dan volume pekerjaan maka produktivitas dapat diukur.

TABEL PRODUKTIVITAS

KEGIATAN

PEKERJA

UNIT VOL.

UNIT WAKTU

PRODUKTIVITAS

ORANG

detik

vol / th

th / vol

 

PABRIKASI TULANG UTAMA BALOK

 

Mengukur &

         

2

13,56 kg

53,072

919,81

0,0011

Memotong

Tansportasi

2

13,56 kg

95,266

512,42

0,0020

Membengkokkan

3

13,56 kg

76,826

637,62

0,0015

 

PABRIKASI SENGKANG BALOK

 

Mengukur &

         

2 1,206 kg

39,518

109,86

0,0091

Memotong

Tansportasi